DAKWA: MAKNA, METODE, DAN MEDIA

Dakwah: Makna, Metode, dan Media
http://zonaislam.net/?p=8094
Posted by admin


ISLAM adalah agama dakwah, yakni agama yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Umat Islam bukan saja berkewajiban meyakini, memahami, dan melaksanakan ajaran Islam, melainkan juga harus menyampaikan (tabligh) atau mendakwahkan atau menyampaikan kebenaran Islam terhadap orang lain.
Hal itu antara lain diisyaratkan dalam QS. Al-’Ashr:1-3, ”Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran”.

Jelas, dalam ayat tersebut iman dan amal saleh harus pula disertai dengan ”saling menasihati” yang dalam konteks ini adalah dakwah –menyeru atau mengajak orang lain kepada jalan Allah atau kebenaran Islam.
Kesadaran akan kewajiban beradakwah harus ada pada diri setiap Muslim. Berdakwah sama wajibnya dengan ibadah ritual seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Umat Islam (para pemeluk agama Islam) digelari Allah Swt sebagai umat pilihan, sebaik-baik umat (khairu ummah), yang mengemban tugas ’amar ma’ruf nahyi munkar — mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran (QS. 3:110). Jadi, aktivitas dakwah harus menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim.
“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” (QS. an-Nahl:125).

KHM Isa Anshary dalam bukunya, Mujahid Dakwah (1984) menegaskan, setiap Muslim adalah da’i (jurudakwah). Menjadi seorang Muslim, katanya, otomatis menjadi jurudakwah, menjadi mubalig, bila dan di mana saja, di segala bidang dan ruang. “Kedudukan kuadrat yang diberikan Islam kepada pemeluknya,” tulis Isa Anshary, “ialah menjadi seorang Muslim merangkap menjadi jurudakwah atau mubalig.” Nabi Saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat” dan “Katakanlah kebenaran itu walaupun rasanya pahit/berat” (H.R. Ibnu Hibban).
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran (kemaksiatan), maka cegahlah hal itu dengan tangannya (kekuasaan); jika tidak mampu, cegahlah dengan lisannya (ucapan); jika (masih) tidak mampu, maka cegahlah dengan hatinya, dan ini selemah-lemahnya iman” (H.R. Muslim).
MAKNA

Secara harfiyah, istilah dakwah berasal dari bahasa Arab da’a, yad’u, da’wah. Artinya mengajak, menyeru, memanggil, atau menganjurkan.
Dengan demikian, dakwah artinya ”mengajak” atau ”menyeru”, yakni mengajak atau menyeru ke jalan Allah Swt (QS. An-Nahl:125). Setiap perkataan, pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit ataupun implisit mengajak orang ke arah kebaikan, perbuatan baik, amal saleh, atau menuju kebenaran Islam, dapat disebut amaliah dakwah.

METODE
Secara umum, metode (thariqah) dakwah digambarkan dalam QS. An-Nahl:125 dan hadits tentang mengubah kemunkaran. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip M. Natsir dalam Fiqhud Da’wah (1987), ayat itu menunjukkan, dalam garis besarnya umat (objek dakwah) yang dihadapi seorang da’i dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka” (HR. Muslim).

1. Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan mereka.

2. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.

3. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya di antara kedua golongan tersebut. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.
Sebagian ulama mengartikan hikmah sebagai Al-Quran, As-Sunnah, hujjah (dalil), ucapan yang tepat dan benar (al-maqalah al-muhakkamah ash-shahihah) serta rasional.

Sebagian mufassir menafsirkan maw’izhah hasanah (nasihat yang baik) sebagai nasihat atau peringatan Al-Quran, perkataan yang lembut (al-qawl ar-raqiq), nasihat yang tertuju pada hati (perasaan) dengan lembut (tadkhulu ila al-qulub bi rifq), targhib (memberi dorongan untuk menjalankan ketaatan) dan tarhib (memberikan ancaman/peringatan agar meninggalkan kemaksiatan).
Sebahagian mufassir memberi makna jidal billati hiya ahsan (debat terbaik) sebagai berdebat dengan Al-Quran atau dengan kalimat Tauhid, cara yang lembut (layyin) dan lunak (rifq) –bukan dengan cara keras lagi kasar, tidak merendahkan atau menyerang peribadi lawan debat, bukan pula dengan jalan menghinakan (tardil) atau mencela (taqbih), tetapi berusaha meyakinkan lawan untuk sampai pada kebenaran dan menghancurkan kebatilan (Al-Wa’i, Edisi 47, July 2004).

PILIHAN: SARANA DAKWAH
Lazim dikemukakan, ada tiga jenis dakwah yang berkembang saat ini, yakni dakwah bil Lisan/bil qoul, dakwah bil qolam/bil kitabah, dakwah bil qudwah, dan dakwah bil hal.
1. Dakwah bil lisan yakni dakwah yang disampaikan dalam bentuk ceramah, pengajian, khutbah, atau penyampaian dan ajakan kebenaran dengan kata-kata (berbicara).
2. Dakwah bil hal dipahami sebagai dakwah yang dilakukan melalui aksi atau tindakan nyata, misalnya melalui aktivitas kelembagaan seperti ormas Islam, lembaga pendidikan Islami, lembaga sosial-ekonomi (BMT dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah –LAZIS), bakti sosial, dan sebagainya.
3. Dakwah bil qudwah, yakni dakwah melalui keteladanan sikap atau perilaku.
4. Dakwah bil qalam yakni dakwah yang disampaikan melalui tulisan yang diterbitkan atau dipublikasikan melaui media massa, buku, buletin, brosur, pamflet, dan sebagainya.

DAKWAH VIA MEDIA MASSA
Media massa saat ini seakan menjadi “pegangan kebenaran” karena pengaruhnya yang sangat besar bagi publik (audience). Menurut para ahli komunikasi massa, media membentuk bagi kita kesan/gambaran tentang dunia dan menceritakan kepada kita apa yang harus dipikirkan tentang kesan tersebut (The mass media form for us our image of the world and then tell us what to think about that image).
Hakikatnya, apa pun yang kita ketahui –atau kita kira kita ketahui—tentang kejadian di sekitar kita atau di belahan dunia mana pun datang pada kita melalui suratkabar, majalah, radio, atau televisi. Wajar jika media massa disebut sebagai “kekuatan keempat” (the fourth estate) yang mengatur atau mengendalikan pemikiran dan sikap kita (publik).

Media massa menjadi sebagai sarana komunikasi massa dan alat pembentuk opini publik. Oleh karena itu, para mubalig, aktivis dakwah, dan umat Islam pada umumnya –yang memang terkena kewajiban secara syar’i melakukan dakwah — harus mampu memanfaatkan media massa untuk melakukan dakwah. Informasi yang salah tentang Islam dan kaum Muslimin yang berkembang di media massa, menjadi tantangan terbesar dalam hal dakwah melalui media massa. Wallahu a’lam. (ASM. Romli/zonaislam.net).*

Posted on 11 Juli 2011, in KAJIAN, LAIN-LAIN and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: