VALENTINE`S DAY = VIRUS AQIDAH


Abu Muas Tardjono
Valentine’s Day=Virus Aqidah??

Oleh : Abu Muas Tardjono

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisaa’, 4 : 115)

Ayat di atas menggambarkan betapa besar kasih-sayang Allah terhadap kita sebagai manusia ciptaan-Nya dengan memberikan peringatan yang cukup tegas agar kita tidak terjerembab ke dalam lembah kehinaan, neraka jahannam tempatnya. Di balik peringatan itu, sebenarnya Allah SWT telah memberikan jalan kebebasan kepada manusia untuk bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Paling tidak, ada “dua” jalan yang bisa ditempuh manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, yakni jalan lurus (keselamatan) atau jalan yang sesat.

Setiap jalan hidup yang ditempuhnya, tentu terdapat risiko atau konsekuensi tersendiri baik di dunia maupun di akhirat, dan tidak terkecuali dalam memilih budaya atau tradisi. Bila ia memilih jalan hidup yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka insya Allah akan diridhai-Nya. Namun, bila sebaliknya atau sekadar ikut-ikutan maka akan mendapat murka-Nya (An Nissa’ 4 : 115).

Demikian pula, budaya ikut-ikutan yang tak jelas rujukannya tak lepas juga membawa konsekuensi tersendiri bagi pelakunya, sebagaimana firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (Al Israa’, 17 : 36).

Dalam kaitan fenomena perayaan datangnya satu hari yang mereka namakan dengan “Valentine’s Day”, tentu kita sebagai muslim layak pula mengetahui apa dan siapa Valentine’s Day itu dan bagaimana hukumnya bila ummat Islam ikut-ikutan merayakannya ? Kisahnya, Valentine’s Day yang biasa dirayakan pada bulan Februari jelas-jelas bukan budaya atau tradisi Islam. Ia berasal dari – dan dibudayakan oleh orang-orang Nasrani.

Ia yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari adalah suatu perayaan yang dilakukan untuk menghormati Santo Valentino yang dihukum mati pada tahun 270 Masehi. Suatu hari dimana orang yang sedang mabuk asmara secara tradisi saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah, demikianlah sekilas sejarah Valentine’s Day.

Adapun, Santo Valentino sendiri adalah nama seorang pendeta kristen yang dianggap sebagai pelindung orang yang bercinta. Dia dihukum mati karena melanggar peraturan yang dibuat Emperior Claudius II Ghoticus. Sang Empirior melarang para pemuda berstatus bujangan untuk menikah. Bahkan dia menganggap tentara yang masih lajang jauh lebih berprestasi ketimbang yang sudah beristri.

Hal ini tentu sangat tidak disetujui oleh Santo Valentino, tanpa sepengetahuan penguasa ia menikahkan pemuda-pemudi. Tak lama kemudian akibat perbuatannya itu, pendeta tersebut dipenggal di Roma pada tahun 270 M (sumber lain 268M) dan ia dikuburkan di tepi jalan Flaminta. Anehnya, pihak gereja malah menobatkan ia sebagai pahlawan bercinta.

Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari selalu dikaitkan dengan hari ‘kasih sayang’. Benarkah ia merupakan hari yang menyebarkan kasih-sayang ? Ternyata, bila diteliti lebih lanjut, Valentine’s Day adalah sebuah upacara keagamaan Romawi yang menyembah Dewa Lupercus (Dewa kesuburan padang rumput dan hewan ternak). Juga dihubungkan dengan penyembahan Dewa Faunus yang konon dianggap sebagai dewa alam semesta dan pemberi wahyu yang dilaksanakan di bukit Falentine.

Ritual upacaranya, dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing. Lantas dua orang pemuda dibawa ke sebuah altar, sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan di kening mereka dan mereka harus tertawa. Setelah itu darah di kening dibersihkan dengan kain wool yang dicelupkan ke dalam susu. Kemudian mereka dibagi menjadi dua kelompok dan berlari ke arah yang berlawanan mengelilingi bukit dan tembok kota Falentine. Mereka mencambuki wanita yang dijumpai guna mengembalikan kesuburannya. Namun anehnya, para wanita dengan senang hati menerima cambukan tersebut.

Baru pada masa Kaisar Constantin (280-337M) upacara tersebut mendapat tambahan. Kaisar pertama pemeluk agama Nasrani ini memberi peluang kepada gereja untuk memberi pengaruhnya. Upacara tambahannya dimulai dengan pesan-pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis dan diletakkan dalam sebuah jambangan kemudian diambil oleh para pemuda.

Setelah itu mereka berpasangan dan berdansa dan diakhiri dengan tidur bersama yang lengkap dengan perzinahannya. Pada tahun 494 M, dewan gereja yang dipimpin Paus Galsium I mengubah upacara Lupercalia itu dari tanggal 15 Februari menjadi 14 Februari yang pada tahun 496 M ditetapkanlah sebagai Valentine’s Day sekaligus untuk menghormati Santo Valentino.

Bertitik tolak pada uraian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa, pertama, Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi kuno menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kemusyrikan. Kedua, yang biasa dilaksanakan 15 Februari tersebut pada tahun 495 M oleh Paus Galsium I diganti menjadi 14 Februari. Ketiga, masyarakat dunia menerima, lantas “hari” itu disebarluaskan dengan dalih “hari kasih sayang” yang kini telah tersebar di berbagai negeri yang mayoritas penduduknya Islam.

Kini, permasalahannya telah jelas bahwa Valentine hanyalah tradisi Nasrani yang bila kita telusuri ternyata berakar dari kebudayaan Romawi purba. Lantas, benarkah Valentine itu adalah hari menyebarkan kasih-sayang dan menyatakan cinta ? Memang, sangat memprihatinkan bila kita rasakan ! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta-kasih. Padahal, dalam Islam, ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas dan kemuliaan, sebagaimana firman-Nya dalam, ( Al Baqarah, 2 : 165; At Taubah, 9 : 24; Al Fat-h, 48 : 29; dan Al Midah, 5 : 54).

Kelicikan musuh Islam untuk menipu ummat Islam memang sangat luar biasa, karena mereka menghalalkan segala cara. Valentine’s Day yang berbau syirik tersebut bisa terbungkus dan terpoles rapi hingga diminati dan digandrungi oleh sebagian kecil generasi muda Islam yang tidak memiliki Furqon. Invasi pemikiran (Ghazwul fikri) yang gencar ini tidak luput mendapat dukungan penyebarannya melalui media cetak dan elektronik. Keduanya ikut memromosikan Valentine’s Day kepada para pembaca dan pemirsanya.

Untuk itulah penting bagi kita menghindarkan dan menjauhkan diri dari taqlid buta, agar tidak terpedaya oleh musuh-musuh Islam dan hanyut dalam peniruan yang membabi buta kepada mereka tentang hal yang membahayakan aqidah dan tidak bermanfaat. Diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Hudzri, bersabda Rasulullah Saw:: “Sungguh kamu akan mengikuti sunnah (acara-cara tradisi, sikap, kebiasaan) orang-orang sebelum kamu selangkah demi selangkah hingga mereka masuk lubang biawak pun kamu akan memasukinya. Para sahabat bertanya, “Yahudi dan Nasrani?” “Lalu siapa lagi”, jawab Rasulullah Saw.(HR. Bukhari-Muslim)

Kini layaklah kiranya, bila masalah ini agaknya menjadi permasalahan penting bagi ummat, khususnya generasi muda Islam. Dalam arti bahwa masalah ini mendesak dicarikan jalan keluar. Betapa tidak, karena taqlid buta yang merasuki jiwa generasi muda muslim dan menegakkan dienullah. Untuk itu, kita tidak boleh terkecoh dengan kemasan Valentine’s Day yang tidak lain merupakan piranti efektif musuh-musuh Islam untuk menjauhkan, menggerogoti aqidah dan mengoyak akhlak serta tali ikatan generasi muda Muslim dengan Rabb-nya. Kini, jelaslah bahwa Valentine’s Day merupakan budaya asing (non-Islam).

Mengikutinya berarti ikut serta menghidupkan dan melestarikan budaya Jahiliyyah yang nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia tergolong kaum itu” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Pertanyaannya, akan relakah putra-putri kita, generasi muda Muslim kita digerogoti aqidah dan dicabik-cabik akhlaknya serta dijauhkan tali ikatannya dengan Rabb-nya ?. Padahal, Allah telah mengingatkan kita melalui firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (At Tahriim, 66 : 6)
Wallahu a’lam bish-shawab

Posted on 5 Februari 2012, in KAJIAN, LAIN-LAIN, SITUSARA and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: