Monthly Archives: April 2012

FUUI KELUARKAN FATWA SESAT SYI`AH

POSTING OLEH A. ROZAK ABUHASAN


FUUI keluarkan Fatwa sesat Syi`ah

Advertisements

Ukhuwwah Islamiyyah posting oleh A. Rozak Abuhasan


SYAKHSHIYYAH ISLAMIYYAH – FORUM ULAMA UMMAT INDONESIA


GHAZWUL FIKRI – PERANG PEMIKIRAN
20120414-Ghawzul Fikri
Oleh Tarjono Abu Muas
Posting oleh A. Rozak Abuhasan

Disadari atau tidak, kini kaum kuffar dan munafiqin secara gencar dan sistematis berupaya keras mengeleminasi Islam supaya tidak berkembang dan berupaya pula menghancurkan Islam dari dalam. Program “eliminasi dan penghancuran” ini terangkum dalam program “al-ghazwul fikri” (perang pemikiran) yang mereka rencanakan dengan penuh rekayasa.

selengkapnya:

KESIMPULAN DAN PERNYATAAN PERS MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2


Pernyataan Bersama Musyawarah 4ply
KESIMPULAN DAN PERNYATAAN PERS MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2
MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2
MASJID AL-FAJR BANDUNG JAWA BARAT AHAD 30 JUMADAL AWWAL 1433/22 APRIL 2012
“MERUMUSKAN LANGKAH STRATEGIS UNTUK MENYIKAPI PENYESATAN DAN PENGHINAAN PARA PENGANUT SYI`AH”

DIPOSTING OLEH A. ROZAK ABUHASAN

FATWA FORUM `ULAMA UMMAT INDONESIA MENGENAI SYI`AH


FATWA FORUM `ULAMA UMMAT INDONESIA MENGENAI SYI`AH
Fatwa FUUI 3ply

SELENGKAPNYA :

“MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA” AGENDA : MENGENAI SYI`AH

SELAMAT DATANG – AHLAN WA SAHLAN
PARA PESERTA “MUSYAWARAH `ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA”
AGENDA : MENGENAI SYI`AH
MASJID AL-FAJR BANDUNG JAWA BARAT
AHAD 30 JUMADAL AWAL 1433 / 22 APRIL 2012

posting A. ROZAK ABUHASAN

Lima Wasiat Abu Bakar

 

Lima Wasiat Abu Bakar

Sahabat Rasul SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berkata, ”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”
Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan pelita berupa taqwa. Dengan taqwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.
Kedua, berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh) . Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 14.
Ketiga, kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”
Keempat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan, orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.
Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati. Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat).
Demikian lima wasiat Abu Bakar. Semoga kita termasuk pemegang kuat lima pelita itu, sehingga dapat menyibak kegelapan dan mengantarkan kita ke kebahagiaan abadi di surga. Amin.

Sumber : blogspot http who-want-the-thruth.blogspot.com

BAGAIMANA RASULULLAH SAW MENGHADAPI SYAITAN

BAGAIMANA RASULULLAH SAW MENGHADAPI SYAITAN

http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/08/bagaimana-rasulullah-saw-menghadapi.html

Author: Choirul Fata | Posted at: 20:38 | Filed Under: tsaqafah |

 

Allah swt menciptakan malaikat, jin, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semuanya diciptakan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah swt. Hanya tunduk dan taat pada-Nya saja. Namun ada makhluk yang membangkang perintah-Nya sehingga Allah pun mengutuknya, dialah Iblis. Al Qur’an telah menjelaskan bahwa syaithan telah bersumpah utk menjadi musuh manusia setelah dikeluarkannya dia dari surga. Di dalam Surat Al A’raf:16-17, Iblis menjawab:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ {16} ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ {17}

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yg lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at)”

Maka Iblis dan bala tentaranya yaitu jin dan para syaitan akan menggoda manusia agar mereka ingkar pada jalan Tuhannya. Sehingga ada banyak teman untuk masuk neraka.

Ada beberapa kiat untuk menghadapi tipu daya syaitan, yaitu:

1. Selalu Memperbaharui Iman kapan dan dimana saja berada.
Senantiasa mengingat Allah dg menyebut nama-Nya pada saat kita melakukan segala sesuatu.
Sungguh syetan bersemayam dalam hati manusia. Saat manusia berdzikir kepada Alloh, syetan akan berlari. Namun, saat manusia lupa berdzikir, syetan datang kembali membisiki ke jalan kejahatan. Nabi memerintahkan untuk senantiasa memperbaharui iman. Sahabat bertanya bagaimana caranya? Nabi menjawab, perbanyaklah membaca, memahami dan mengamalkan laa ilaha illalloh.

Rosul dan sahabat saja, yang paling benar imannya, selalu memperbaharui iman mereka dengan berbagai cara. Senantiasa mengingat Allah dengan menyebut nama-Nya pada saat kita melakukan segala sesuatu. Tidak ada waktu yang tersisa, untuk memberikan kesempatan syetan menjegal kehidupan kita. Hadirkanlah selalu iman kapan dan dimana kita berada. Iman tidak hanya hadir di mesjid, namun ia hadir dimana-mana dalam aspek kehidupan.

Kita patut belajar dari kisah dialog antara pengembala kambing dengan Umar bin Khatab. Seorang pengembala sapi yang notabene memiliki tingkat intelektual yang relatif rendah, namun memiliki nuansa keimanan yang sangat tinggi. Saat pengembala dites keimananannya oleh sahabat Umar bin Khatam untuk dibeli kambingnya. Umar berkata, “Bilang saja kepada majikanmu, kambing dimakan serigala”. Pengembala pun berkata, “Dimana Alloh?”. Mendengar jawaban ini, Umar pun menangis.

2. Mentadabburi Al-Quran
Kiat kedua untuk memenangi pertarungan dengan syetan adalah mentadabrui al-Quran. Dalam berbagai ayat al-Quran, dikatakan bahwa merenungi dan menghayati al-Quran akan berkorelasi dengan penambahan iman dan otomatis syetan akan menjauh. Ketika berinteraksi dengan al-Quran, maka iman akan bertambah. Dan inilah yang membedakan antara orang beriman dengan munafiq. Orang iman akan bertambah imannya, sementara orang munafik bertambah penyakit nifaqnya, sampai mati dalam keadaan kafir.

At-Taubah 124

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”.

Jadi, merenungi Al-Quran merupakan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan makan dan minum. Saat tidak makan, bahaya ektrimnya adalah sakit. Sementara, kalau tidak tadabur al-Quran, konsekwensinya bukan hanya mati secara fisik namun juga hati nurani. Hati akan terkunci untuk menerima nasehat dan akhirnya mati dalam keadaan kafir. Qs Muhammad 24

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidaklah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Dalam kondisi hidup yang penuh dengan fitnah, diharuskan kita selalu mentadaburi al-Quran. Karena inilah sumber energi yang akan hadir untuk mengalahkan syetan. Imam Ahmad bin Hambal, seorang sholeh, saat diminta bantuan merukyah seseorang yang kesurupan jin. Sang Imam tidak bersedia datang. Ia cukup mengirimkan sandalnya. Dan syetan pun langsung lari.

3. Komitmen untuk Selalu Berjamaah dengan Orang-orang yang Benar dan Jujur
Kiat ketiga adalah berkomitem untuk selalu berjamaah dengan orang benar dan jujur dalam aqidah, ibadah dan akhlaq. Sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah 119.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar”

Orang yang sendirian akan relatif mudah terperangkap tipu daya syetan dan tenggelam dalam perbuatan haram. Awalnya coba-coba namun akhirnya menjadi kebiasaan. Saat syetan menggoda manusia, sebagian mereka saling mendukung kelompok lainnya, sehingga kalau manusia sendirian, maka syetan akan mudah menjadi pemenang.

Dalam islam, apa saja yang berjamaah, memiliki pahala yang besar, misalnya sholat berjamaah, makan berjamaah, bepergian berjamaah, dan lain-lain. Berjamaah akan memberikan kekuatan dan sinergi satu sama lain. Seorang mukmin akan kuat karena disebabkan saudaranya. Jangan bingung memilih ‘label’ jamaah. Karena dasar pemilihan jamaah berdasar tuntutan al-Quran dan Hadits bukan atas dasar label, namun berdasarkan kriteria yakni mereka yang benar dan jujur.

4. Memahami Islam secara Mendalam
Kita keempat adalah memahami islam dengan mendalam. Tidak mungkin orang bodoh akan memiliki iman kuat sehingga memenangi pertempuran dengan syetan. Dalam sebuah hadits,

“Barangsiapa dikehendaki Alloh baik, maka ia diberi pemahaman islam baik”. Syetan akan menyerah saat berhadapan orang yang berilmu (paham), karena seorang faqih akan mengetahui tipu daya syetan.

Ayat pertama al-quran yang turun menyeru tentang pemahaman (ilmu) bukan solan jihad, sholat, dan ibadah lainnya. Karena semua ibadah tidak akan diterima Alloh SWT kalau tidak didasari ilmu yang dimiliki. Jadi jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.

Jangan pernah bosan memahami islam, sebagai modal melawan syetan yang tidak pernah berhenti menggoda manusia sampai qiamat. Perbanyak kajian yang didasari kesadaran diri bahwa pertarungan dengan syetan tidak akan pernah berhenti. Dan semoga kita dimudahkan mencintai ilmu al-Quran, Sunah dan bersama orang-orang yang sholeh.

5. Hidup sederhana dan tidak cinta dunia.
Menghindari makan yg berlebih-lebihan meskipun makanan itu halal dan bersih karena Allah telah berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yg indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tdk menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 7:31)

Rasulullah SAW telah bersabda:
Sesungguhnya syaitan itu memasuki anak Adam seperti aliran darah, karena itu tahanlah jalannya syaithan itu melalui lapar. (HR Ahmad)

Oleh: Dyah Sudarsi

 

Harun Al-Rasyid Bukanlah Khalifah Yang Suka Foya-Foya

Harun Al-Rasyid Bukanlah Khalifah Yang Suka Foya-Foya!!
Selasa, 23 September 08

Banyak orang meyakini bahwa khalifah Bani ‘Abbas, Harun al-Rasyid adalah seorang yang suka hura-hura dan foya-foya, hidup dalam gelamour kehidupan.

Namun sebenarnya, tidaklah demikian. Harun al-Rasyid amat berbeda dari kondisi seperti itu sama sekali. Beliau adalah Abu Ja’far, Harun bin al-Mahdi, Muhammad bin al-Manshur, salah seorang khalifah Daulah Bani ‘Abbasiah di Iraq, yang lahir tahun 148 H.

Beliau menjadi khalifah menggantikan kakaknya, al-Hadi pada tahun 170 H. Beliau merupakan khalifah paling baik, dan raja dunia paling agung pada waktu itu. Beliau biasa menunaikan haji setahun dan berperang setahun. Sekalipun sebagai seorang khalifah, beliau masih sempat shalat yang bila dihitung setiap harinya mencapai seratus rakaat hingga beliau wafat. Beliau tidak meninggalkan hal itu kecuali bila ada uzur. Demikian pula, beliau biasa bersedekah dari harta pribadinya setiap harinya sebesar 1000 dirham.

Beliau orang yang mencintai ilmu dan para penuntut ilmu, mengagungkan kehormatan Islam dan membenci debat kusir dalam agama dan perkataan yang bertentangan dengan Kitabullah dan as-Sunnah an-Nabawiyyah.

Beliau berumrah tahun 179 H di bulan Ramadhan, dan terus dalam kondisi ihram hingga melaksanakan kewajiban haji. Beliau berjalan kaki dari Mekkah ke padang Arafah.

Beliau berhasil menguasai kota Hiracle dan menyebarkan pasukannya di bumi Romawi hingga tidak tersisa lagi seorang Muslim pun yang menjadi tawanan di kerajaan mereka. Beliau mengirimkan pasukannya yang kemudian menaklukkan benteng Cicilia, Malconia dan Cyprus, lalu menawan penduduknya yang berjumlah 16000 orang.

Harun al-Rasyid wafat dalam usia 45 tahun atau 46 tahun dalam perangnya di Khurasan tahun 193 H.

Semoga Allah merahmati Harun al-Rasyid.

Mujahid Bin Jabir, Pemimpin Ahli Tafsir Generasi Tabi’in

Mujahid Bin Jabir, Pemimpin Ahli Tafsir Generasi Tabi’in

Posted in Tabi’in | Comments Off

Telah dibaca 19 kali.

Print This Post

Nama, nasab dan kelahiran beliau rahimahullah

Beliau adalah Mujahid bin Jabir al-Makky Abul Hajjad al-Makhzumy al-Muqry, maula as-Saib bin Abi as-Saib. Beliau dilahirkan pada tahun 21 H, pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Dia meriwayatkan dari Ali, Sa’ad bin Abi Waqos, dan dari Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abas, Abdullah bin Zubair, dia juga meriwayatkan dari rofi’ bin khadij, ‘Aisyah, Umu Salamah Abu Hurairah, Suroqoh bin Malik, dan selain mereka.

Keutamaan beliau rahimahullah

Beliau adalah pemimpin ahli tafsir pada zaman tabi’in, sampai di katakan bahwa beliau adalah orang yang paling mengetahui tentang tafsir pada zamannya. Sungguh dia telah belajar tafsir kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga puluh kali, beliau rahimahullah berkata: “Aku telah menyodorkan(meminta tafsir secara rinci -red) kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga kali, berhenti di setiap ayat dan aku bertanya tentangnya, kepada siapa di turunkan, dan bagaimana kondisinya?. Ast-Tsauri berkata: “Jika datang tafsir dari Mujahhid maka cukuplah dia bagimu”. Ibnu Taimiyyah berkata: “ Oleh karena itulah Imam asy-Syafi’i, Bukhari, dan selain mereka berdua dari para ulama (manegambil tafsir mujahid -red) sebagai sandaran (rujukan -red)”.

Abu Hatim rahimahullahberkata, “Mujahid tidak mendengar (hadis) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, hadis yang diriwayatkannya dari ‘Aisyah mursal”. Abu Nu’aim rahimahullah berkata, “(Bahwa -red)Yahyah bin Qothan berkata: “Hadis-Hadis mursal dari Mujahid lebih aku sukai dari pada hadis-hadis mursal yang di riwayatkan oleh ‘Atha”. Qotadah rahimahullahberkata, “Mujahid orang yang paling pandai tentang tafsir diantara orang-orang yang masih hidup”. Ibnu Sa’id rahimahullah berkata, “(Mujahid) adalah orang yang terpercaya, ahli fiqih, pandai, dan banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban berkata, “Mujahid adalah seorang ahli fiqih yang wara’(menjauhkan diri dari yang diharamkan), ahli ibadah, dan mempunyai hafalan yang kuat”. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “para ulama bersepakat bahwa (Mujahid adalah) imam (ahli tafsir), yang (perkataannya) di jadikan sebagai dalil,yang mana ‘Abdullah ibnu Katsir belajar padanya”.
Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Jika datang tafsir dari Mujahhid maka cukuplah dia bagimu”. Maknanya bukan setiap apa yang disandarkan kepada Mujahid kita harus mengambilnya, karena Mujahid seperti yang lain dari para perawi, yang mana perkataan banyak dinukil dari mereka. Bisa jadi apa yang dinukil dari beliau adalah dha’if (lemah) yang tidak dapat dipercaya, oleh karena itu harus adanya penelitian tentang kebenaran sanad, dalam hal ini Mujahid seperti Ibnu Abbas terhadap apa yang di nisbatkan kepadanya.

Wafat beliau rahimahullah

Terdapat perbedaan pendapat tentang wafat beliau rahimahullah. Ada yang mengatakan bahwa beliau rahimahullah wafat pada tahun 102 H, ada yang mengatakan 103 H, sementara Yahyah al-Qothon berkata, “wafatnya pada tahun 104 H.

[Sumber: Diterjemahkan dan diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab مباحث في علوم القرآن karya Syaikh Manna’ al-Qaththan]

 

Hafshah bintu Sirin

Hafshah bintu Sirin

http://www.alsofwa.com

Posted in Tabi’in | Leave a comment

Telah dibaca 11 kali.

Print This Post

Nama dan nasabnya

Hafsoh binti Sirin, adapun ibunya adalah Shafiyyah, dia mempunyai kunyah Ummu Hudzail al-Anshari.

Kelahirannya 
Beliau rahimahallah dilahirkan pada masa kekhalifahan Ustman bin Afan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 31 H.

Ilmunya 

Semenjak kecilnya, ia sangat mencintai ilmu dan giat dalam menuntutnya. Dengan kesungguhannya tersebut, dia berusaha menimba ilmu dari para shahabat dan shahabiyat yang telah merasakan manisnya petunjuk kenabian, khususnya kepada ustadnya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Maka Allah Ta’ala mengaruniakan kepadanya ilmu yang luas tentang agama ini. Ia melahirkan banyak murid yang terkenal dengan keilmuan mereka, seperti Ayub as-Sikhtiyani, Qotadah bin Da’amah as-Sudusi, Hisyam bin Hassaan, Khalid al-Khadza dan selain mereka.

Diriwayatkan di dalam kitab Sifatush Sofwah (4/24), bahwa Ibnu Sirin jika ia kesulitan dalam bacaan al-Qur-an, ia mengatakan kepada muridnya: “Pergilah kalian kepada Hafshah dan tanyalah dia bagaimana cara membacanya.”

Ibadahnya

Hafsah seorang wanita yang gemar beribadah, dia masuk ke dalam masjidnya dan shalat padanya Dhuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh, dia tidak beranjak dari masjidnya sampai matahari meninggi. Ketika ia keluar dari masjid beliau berwudu dan beristirahat, hingga tiba waktu shalat berikutnya, yang dengannya ia pun kembali ke masjidnya. Dia juga adalah wanita yang banyak berpuasa dan banyak melakukan shalat(sunnah), ini semua beliau lalui selama tiga puluh tahun dari masa hidupnya,

Kata-kata sanjungan untuknya

Hisyam bin hasan berkata: “Aku telah melihat hasan dan Ibnu Sirin(Abdullah bin Sirin) namun aku tidak mendapati dari mereka yang lebih pandai dari Hafshah”.

Ibnu Abi Daud berkata: “Dua pemimpin wanita tabi’in mereka adalah Hafshah binti Sirin dan Amrah binti Abdurrahman dan setelah mereka berdua adalah Ummu Darda”. (Thabaqat al-Hanafiyah).

Diriwayatkan dari Iyas bin Mu’awiyah, dia berkata: “Aku tidak mendapati seorang yang lebih utama dari padanya(Hafshah binti Sirin).

Penggalan kisah Hafshah bersama anaknya yang tercinta

Ar-Royasyi berkata: “Ibnu ‘Aisyah berkata; dari Ibnu Amir, dari Hisyam, dia berkata: Hafshah binti Sirin berkata: “Anakku al-Hudzail sangat berbakti kepadaku, di antara baktinya dia membelahkan kayu untukku pada musim panas (dan menjemurnya -red), kemudian menyalakannya di musim dingin, agar tidak menyebabkan asap. Hafshah juga berkata: “Dia (anakku) memerah susu onta pada pagi hari, kemudian dia mendatangiku dan berkata: “Minumlah wahai ibu, karena sebaik-baik susu adalah yang berada pada kelenjar susu sejak malam harinya. Kemudian (dengan berjalannya waktu -red) dia wafat, maka Allah berikan kepadaku kesabaran, walaupun begitu, aku dapati rasa sesak pada dadaku, yang hampir aku tidak tenang dengannya, pada suatu malam akupun membaca ayat : “” ما عندكم ينفذ وما عند الله باق ولنجزين الذين صبروا أجرهم بأحسن ماكانوا يعملون ” maka rasa sesak tersebut hilang”. (المنتظم (7 /171)

Dari perkataan hikmahnya 

Hafshah binti Sirin adalah seorang wanita yang berilmu, dia mempunyai perkataan-perkataan yang penuh dengan hikmah, diriwayatkan bahwa dia berkata: “Wahai para pemuda manfaatkanlah masa mudamu, sesungguhnya aku tidak melihat amal perbuatan (dapat dikerjakan dengan baik -red) kecuali di masa muda”.

Wafatnya 

Hafshah binti Sirin wafat sekitar tahun 101 H, dia wafat pada umur tujuh puluhan yang dia habiskan untuk ilmu dan ibadah.

[Sumber: Diterjemahkan dan diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab Siyar A’lam an-Nubala jilid 4/107, dan dari http://basaer-online.com/basaer/family/74-sa3ada/1104-2011-09-02-12-55-29.html dengan tema حفصة بنت سيرين العابدة الباكية].

Share

MASJID-MASJID DI DUNIA

This slideshow requires JavaScript.

 

MASJID AL-FAJR, BANDUNG INDONESIA

Image003 Image004 Image005 Image006 Image007 Image012 Image013 Image019 Image020

Foto : HA. ROZAK ABUHASAN, MBA

Abu Hatim Ar-Razi Teladan Dalam Menuntut Ilmu

Abu Hatim Ar-Razi Teladan Dalam Menuntut Ilmu

http://www.alsofwa.com

Posted in Pasca Abad 3 H | Leave a comment

Telah dibaca 18 kali.

Print This Post

Nama dan nasab beliau

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mihron. Beliau mendapat julukan al-Imam, al-Hafidh, ahli hadis dan julukan lainnya.

Kelahiran Beliau

Beliau lahir pada tahun seratus sembilan puluh lima hijriah (195 H)

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu

Beliau rahimahullah berkata: “Aku menghitung panjangnya perjalanku dalam mencari hadis, lebih dari tiga ribu mil, aku berjalan berkali-laki dari Makkah ke Madinah, dari Bahrain menuju Mesir, dari Mesir ke Ramlah, dari Ramlah ke Baitul Maqdis dan ke Thabariah, dari Thabariyah menuju Damaskus, dari Damaskus menuju Himsha, dari Himsha menuju Anthakiya, dari anthakiya menuju Thursus, dari thursus kembali ke Himsha untuk mengambil hadis yang masih tertinggal dari hadis Abil Yaman, setelah aku mendengar hadis tersebut maka aku keluar dari Himsha menuju ke Bisan, dari Bisan menuju Rukoh, dari Rukoh aku menyeberangi sungai Efrat menuju Bagdad, akupun keluar (darinya) sebelum keluar dari Syam melalui Daerah Washitin, Dari Washitin menuju Kufah, semua itu aku lalui dengan berjalan kaki, dan ini adalah perjalan pertamaku dalam mencari hadis, sedangkan umurku pada waktu itu dua puluh tahun, aku berkeliling (mencari hadis) selama tujuh tahun”.

Kisah kesabaran beliau dalam menuntut ilmu

Beliau menceritakan tentang dirinya, beliau berkata: “Aku tinggal di Bashroh pada tahun 214 H selama delapan bulan, sebenarnya aku berniat tinggal padanya selama satu tahun, lalu habislah perbekalanku, maka akupun menjual bajuku yang aku pakai, helai demi helai. (setiap hari -red) Aku dan temanku berkeliling mendatangi para Syaikh(ulama), mendengarkan dari mereka (hadis -red) hingga sore hari, setelah temanku kembali kerumahnya, akupun kembali ke rumahku dengan tangan kosong (tanpa membawa makanan), akupun minum air untuk menghilangkan rasa lapar, keesokan harinya aku berkeliling kembali bersama temanku untuk mendengarkan hadis, sedangkan aku dalam keadaan sangat lapar, (seperti biasa -red) dia pulang ke rumahnya dan akupun pulang, sedangkan aku dalam keadaan lapar. Pada keesokan harinya dia datang kepadaku di waktu pagi dan berkata: “Ayo, berangkat bersama kami mendatangi Syeikh, maka aku menjawab: “Badanku sangat lemah”, dia bertanya: “Apa yang membuat badanmu menjadi lemah?”, aku menjawab: “Aku tidak bisa menyembunyikan kondisiku ini kepadamu, sungguh aku belum makan sejak beberapa hari. Maka dia berkata: “aku mempunyai sisa uang satu dinar, aku akan memberimu setengah dinar dan setengahnya kau gunakan untuk membayar sewa. Setelah itu kami pergi meninggalkan kota Bashrah.

Pujian ulama kepadanya

Tidak diragukan lagi bahwa Abu Hatim ar-Razi adalah seorang ulama besar yang mengorbankan jiwa dan hartanya dalam mencari hadis, tidak heran jika banyak pujian para ulama kepadanya. Diantara pujian ulama kepadanya adalah apa yang dikatakan oleh al-Hafidh Abdurahman bin Hirasy, dia berkata: “Abu Hatim adalah seorang yang amanah dan berpengetahuan luas (berilmu -red).
Abul Qosim berkata: “Abu Hatim adalah seorang imam, hafidh, yang kuat(riwayatnya).
Al-Khatib berkata: “Abu Hatim adalah salah satu dari para imam, al- Hafidh, yang kuat(hafalannya)…dia mulai mendengarkan hadis pada tahun dua ratus sembilan hijriyah (209 H).
Al-Khalil berkata: “Abu Hatim adalah orang yang mengetahui tentang perselisihan Shahabat, dan fikih Tabi’in, serta orang-orang yang setelahnya, aku mendengar kakekku dan beberapa orang selain beliau bahwa mereka mendengar Ali bin Ibrahim al-Qothani berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Abu Hatim, maka kami berkata kepadanya: “Bukankah engkau telah melihat Ibrahim al-Harbi dan Ismail al-Qadhi, maka dia berkata: “Aku tidak melihat (mereka) lebih sempurna dari Abu Hatim, dan tidak juga lebih mulia darinya”.

Karya tulis beliau

Beliau mempunyai banyak karya tulis, diantaranya adalah:
1.Tentang kesalahan imam Bukhari pada tarikhnya.
2.Kitab ‘Ilal Hadis.
3.Kitab Adab Syafi’i dan Manakibnya.
4.Kitab al-Jarhu Wa Ta’dil.
5.Kitab Marasil.
6.Kitab Tafir.

Wafat beliau

Berkata Abul Husain bin al-Munadi: “Al-Hafidh Abu Hatim meninggal pada bulan sya’ban pada tahun 277 H”. Diriwayatkan bahwa beliau hidup selama delapan puluh tiga tahun.

[Sumber: Diterjemahkan dan diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab Siyar A’lami Nubala jilid 13/247, kitab Siarus Salafis Shalihin jilid 4/1228, dan al-Maktabah asy-Syamilah] .

Bilal Bin Rabah Al Habasyi Radhiallahu ‘anhu (wafat 20 H)

Bilal Bin Rabah Al Habasyi Radhiallahu ‘anhu (wafat 20 H)

http://www.alsofwa.com                                                                                                                                                                                       Posted in Shahabat | Leave a comment

Print This Post

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil

Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.

Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”

AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

Diposting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’, yang bersumber dari : Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya, Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.

Share

Related posts:

  1. Zaid Bin Tsabit Radhiallahu ‘anhu (wafat 45 H)
  2. Tangisan Bilal Bin Rabah Rhu, Muazin Rasulullah Saw
  3. Khalifah Utsman Bin ‘affan Radhiallahu ‘anhu (wafat 35 H)
  4. Mu’adz Bin Jabal Radhiallahu ‘anhu (wafat 18 H)
  5. Abdullah Bin ‘umar Radhiallahu ‘anhu (wafat 72 H)
KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: