Biarkan Syiah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 2 dari 26 —

Biarkan Syi’ah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya

Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain

(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)

 

Prolog

Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu

terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa

sallam, para sahabatnya, istri-istrinya dan orang-orang yang senantiasa setia

mengikuti jalannya hingga hari akhir nanti.

Enam tahun yang silam di salah satu pesantren terbesar di Indonesia, penulis

menjadi salah satu peserta dauroh yang diadakan oleh Jami’ah Islamiyah

Madinah. Kebetulan ada suatu kisah yang tidak terlupakan hingga detik ini.

Seperti biasanya, sebelum pelajaran dimulai, para dosen (baca: masyayikh)

mengabsen peserta dauroh satu persatu. Hingga sampai ke suatu nama, dosen

tersebut mengernyitkan dahinya dan terheran-heran, nama itu adalah

Ayatullah Khomeini, (kebetulan dia salah seorang teman akrab penulis di

pesantren). Dosen itu bertanya, “Kamu sunni (termasuk golongan ahlus

sunnah)?”, dengan tenangnya peserta itu menjawab, “Iya”, “Mengapa kamu

pakai nama dedengkot Syiah?”, “Karena bapak ana ngasih nama seperti itu”,

sahutnya. Setelah dialog singkat itu sang dosen minta agar teman kami

tersebut mengganti namanya.

Penulis -dengan lugunya- berkata dalam hati, “Memangnya kenapa sich nggak

boleh pakai nama tokoh Syi’ah tersebut? Masa gitu saja dipermasalahkan! Toh

dia juga salah satu pejuang besar dunia?!”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan; setahun kemudian penulis diberi

kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menuntut ilmu di kota

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tepatnya di Jami’ah Islamiyah. Di

situlah wawasannya mulai terbuka sedikit demi sedikit, pengetahuannya

tentang kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka kepada agama

Islam sedikit demi sedikit mulai bertambah. Hingga terbelalaklah matanya

tatkala mengetahui hakikat kelompok Syi’ah. Dan hilanglah sudah keheranheranan

dia enam tahun yang silam, mengapa sang dosen pengajar dauroh itu

begitu ‘ngotot’-nya minta agar peserta Ayatullah Khomeini mengganti

namanya.

Maka, dalam rangka menyampaikan ilmu walaupun hanya sedikit, juga

berhubung semakin menjamur dan larisnya ajaran itu di tanah air kita, penulis

merasa berkewajiban untuk menyampaikan sedikit dari apa yang diketahuinya

tentang agama yang satu ini. Tulisan ini ditranskrip, diterjemahkan dan

diringkas dari sebuah ceramah ilmiah dalam suatu kaset yang berjudul

“Waqafat Ma’a Du’at at-Taqrib” (Beberapa renungan beserta para da’i

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 3 dari 26 —

penyeru persatuan antara Ahlusunnah dengan Syi’ah) yang disampaikan oleh

Syaikh Abdullah as-Salafy. Kaset ini bukan hanya membawakan fakta dari

perkataan-perkataan ulama klasik Syi’ah saja, tapi juga membawakan fakta

dari perkataan-perkataan ulama kontemporer mereka yang suaranya sempat

terekam dalam kaset, dan jatuh ke tangan Ahlusunnah1. Kami ucapkan kepada

para pembaca yang budiman, Selamat menikmati!

FAKTA PERTAMA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai

Ahlul Bait (keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi

(menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا(32)وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(33)

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika

kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga

berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah

perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah

kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu

dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai

ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

 

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para

sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah)

juga meyakini bahwa t idak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah

1 Perkataan-perkataan ulama klasik mereka kami sebutkan dengan referensinya beser ta nomor

jilid dan halamannya. Bagi yang menginginkan bukti otentik fakta-fakta ter sebut bisa merujuk

ke kitab Ulama asy-Syi’ah Yaqulun, Watsaiq Mushawwarah Min Kutub asy-Syi’ah, yang

diterbitkan oleh Markaz Ihya Turots Alul Bait. Adapun perkataan-perkataan ulama

kontemporer mereka jika terdapat dalam suatu kaset, maka kami seb utkan dengan kata-kata,

“Dengar lah perkataan fulan…” Suara asli mereka bisa didengarkan dalam kaset Waqafat Ma’a

Du’at at-Taqr ib.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 4 dari 26 —

terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang

mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak

seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari

kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan

selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah

subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh

mereka.

Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan

kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer mereka Al

Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97. Kata-kata Rafidhah

berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal mengapa

mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:

1. Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.

2. Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat

Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).

Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka

dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari

para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam

diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan!

Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan)

yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.

Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui

hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di

bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apaapa

yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam

rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang

akan datang hingga hari kiamat.

Al Kulainy dalam kitabnya al-Kaafi -yang mana ini merupakan kitab yang

paling shahih menurut Rafidhah-, dia telah mengkhususkan di dalamnya babbab

yang menguatkan sikap ekstrem tersebut. Contohnya: di jilid I, hal 261,

dia berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan

apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang

tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam

halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka

mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-

Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit

dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku

mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”

Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam

mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali

dengan kemauan mereka sendiri.”

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 5 dari 26 —

Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang Syi’ah, klaim mereka para

imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta ini semau mereka;

mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga menyembuhkan orang

yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat milik para

imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak mereka.

Al-Kulainy di jilid I, hal 470 meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bashir

bahwa ia bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Apakah kalian pewaris

nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Benar!” Lantas aku

bertanya lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pewaris para nabi

mengetahui apa yang mereka ketahui?” “Benar!”, jawabnya. Aku kembali

bertanya, “Mampukah kalian menghidupkan orang yang sudah mati dan

menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit kusta?”

“Ya, dengan izin Allah”, sahutnya.”

Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita

bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui

pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah

bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya

Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka

berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan

memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari

berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai

hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan

kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang

Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah

membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.

Berkata al-Kasany dalam kitabnya ‘Ilm al-Yaqin fi Ma’rifati Ushul ad-Din jilid

II, hal 597, “Semua makhluk diciptakan untuk mereka (para imam), dari

mereka, karena mereka, dengan mereka dan akan kembali kepada mereka.

Karena -tanpa diragukan lagi- Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia

dan akhirat hanya untuk mereka. Dunia dan akhirat untuk mereka dan milik

mereka. Para manusia adalah budak-budak mereka!”

Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan

bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk

menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari

yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah

mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”

Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah

al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji,

derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh

bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 6 dari 26 —

Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 dengan ‘gagahnya’ berdusta dengan

perkataannya, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata

kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah

yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling

besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya

akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk

berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan

(timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga),

dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu

adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan

selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa!

Ya Allah, saksikanlah 3x!”

Na’udzubillah…

Dengarlah Basim al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang

Rafidhah untuk pergi ke kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta

kesembuhan darinya, berihram dan thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai

yang berada di bawah kubah putih di kota Najaf! Wahai Ali! Barang siapa

yang berziarah ke kuburanmu dan meminta kesembuhan darimu niscaya dia

akan sembuh!”

Di dalam kitab Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah

berkata: Konon Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku

adalah hati Allah yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku

adalah mata Allah yang melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah

tangan Allah.”

Na’uzubillah dari ghuluw ini!

Dengarlah Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia

melekatkan kepada Ali sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-

khutbahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-

hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku.

Aku-lah penguasa hisab, aku pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi

(distributor) surga dan neraka dengan perintah Robb-ku. Akulah yang

menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan. Akulah yang

memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai. Akulah yang

menyimpan ilmu, akulah yang meniupkan tiupan pertama yang

mengguncangkan alam, akulah sang petir, akulah shaihah. Aku adalah Al

Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Akulah asma al-husna yang para

hamba diperintahkan untuk berdoa dengannya. Akulah yang memiliki

sangkakala dan yang membangkitkan manusia dari dalam kubur. Akulah

penguasa hari kebangkitan. Akulah yang menyelamatkan Nuh, yang

menyembuhkan Ayub. Akulah yang menegakkan langit dengan perintah

Tuhanku. Akulah si pemegang keputusan yang tidak dapat diubah, hisab para

makhluk berada di tanganku. Para makhluk menyerahkan urusannya

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 7 dari 26 —

kepadaku. Akulah yang mengokohkan gunung-gunung yang menjulang tinggi,

yang memancarkan mata air, dan yang menciptakan alam semesta. Akulah

yang membangkitkan para mayat, yang menurunkan kuburan. Akulah yang

memberi cahaya matahari, bulan dan bintang. Akulah yang membangkitkan

hari kiamat, yang mengetahui hal yang telah lalu dan yang akan datang.

Akulah yang membinasakan para raja lalim terdahulu dan yang melenyapkan

negeri-negeri. Akulah yang menciptakan gempa, yang membuat gerhana

matahari dan bulan. Aku pula yang menghancurkan fir’aun-fir’aun dengan

pedangku ini. Akulah yang ditugasi Allah untuk melindungi orang-orang lemah

dan Allah perintahkan mereka taat kepadaku.”

 

Dalam kitab Kasyf al-Yaqin Fi Fadhail Amir al-Mu’minin karya Hasan bin Yusuf

bin al- Muthahhir al-Hilly (hal 8) disebutkan, Akhthab Khawarizm

meriwayatkan dari Abdulloh bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah shallallahu

‘alaihi wa sallam bersabda: Tatkala Allah ciptakan Adam dan Dia tiupkan ruh-

Nya ke dalamnya, Adam bersin lantas mengucapkan, “Alhamdulillah!” Maka

Allah mewahyukan padanya, “Engkau telah memuji-Ku wahai hamba-Ku, demi

kekuatan dan keagungan-Ku kalau bukan karena dua hamba yang akan

Kutempatkan mereka di dunia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu wahai

Adam!” Serta merta Adam bertanya, “Mereka berdua dari keturunanku?”,

“Betul wahai Adam. Angkatlah kepalamu dan lihatlah!” Maka Adam

mengangkat kepalanya, dan ternyata telah tertulis di atas ‘Arsy, “Tidak ada

yang berhak disembah selain Allah, Muhammad nabi kasih sayang dan Ali

penegak hujjah. Barang siapa yang mengetahui hak Ali maka dia akan suci

dan bahagia, dan barang siapa yang taat kepadanya meskipun dia berbuat

maksiat kepada-Ku akan Kumasukkan ke dalam surga. Aku bersumpah demi

kepekerkasaan-Ku; barang siapa yang tidak taat kepada Ali meskipun dia taat

kepada-Ku, niscaya akan Kumasukkan ke dalam neraka!”

Lihatlah wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan

kepada Ali di atas ketaatan kepada Allah!!!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 33): Pengarang buku Masyariq al-Anwar telah meriwayatkan dengan

sanadnya kepada al-Mufadhal bin ‘Amr: Aku pernah bertanya kepada Abu

Abdillah ‘alaihis salaam tentang perihal sang imam; bagaimana ia bisa tahu

apa yang ada di penjuru bumi, padahal ia berada di rumah yang tertutup?

Lantas ia menjawab,

“Wahai Mufadhal, sesungguhnya Allah telah menciptakan

di dalam diri mereka 5 ruh:

1. Ruh kehidupan, yang dengannya dia bisa memukul dan naik.

2. Ruh kekuatan, yang dengannya dia bisa bangkit.

3. Ruh syahwat, yang dengannya dia bisa makan dan minum.

4. Ruh keimanan, yang dengannya dia memerintahkan dan berbuat

adil.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 8 dari 26 —

5. Ruh kudus, yang dengannya dia mengemban kenabian. Jika Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, berpindahlah ruh kudus ke

tubuh sang imam, maka dia t idak akan pernah lalai dan lengah.

Dengan ruh itulah dia bisa melihat apapun yang ada di penjuru

dunia. Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang tersembunyi

dari sang imam. Dia bisa mengetahui semua yang ada di langit

semesta, sekecil dan selirih apapun dia. Barang siapa yang tidak

memiliki sifat-sifat ini, maka dia bukanlah seorang imam!”

Na’udzubillah dari ghuluw ini!!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 30), Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku

bersama Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api dan akulah yang

menjadikan api itu dingin serta menyelamatkan. Aku juga bersama Nuh di

kapalnya lantas akulah yang menyelamatkan dia dari ketenggelaman. Aku

juga bersama Musa, lantas aku ajarkan Taurat kepadanya. Aku jugalah yang

menjadikan Isa berbicara saat dia masih dalam buaian, kemudian kuajarkan

Injil padanya. Akulah yang bersama Yusuf di dalam sumur, lantas

kuselamatkan dia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama

Sulaiman di atas permadani, kemudian aku hembuskan angin baginya.”

Lantas apa yang tersisa untuk Allah?! Na’udzubillah dari ghuluw ini!!

Ziarah Makam Husain Lebih Utama Dari Haji Ke Baitullah

Dalam kitab Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid I, hal 371) dan

di dalam kitab al-Mazar karangan al-Mufid (hal 58) disebutkan: Dari Yunus bin

Dzobyan, berkata Abu Abdillah, “Barang siapa yang ziarah ke makam Husain

pada malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Idul Fitri dan malam hari

Arafah dalam satu tahun, niscaya Allah akan tuliskan baginya pahala 1000

ibadah haji yang mabrur, 1000 ibadah umrah yang diterima dan akan

dikabulkan baginya 1000 doa yang berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan

dia di dunia dan akhirat.”

Bahkan menurut orang-orang Rafidhah, para penziarah makam Husain itu lebih

utama daripada orang-orang yang berada di padang Arafah. Dalam kitab

Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid X,hal 361) dan kitab Tahdzib

al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid VI, hal 42) disebutkan: Dari Ali bin

Asbath, dari sebagian sahabat-sahabat kami, dari Abu Abdillah ‘alaihi salam

bahwa dia ditanya, “Benarkah Allah mendahulukan ‘menengok’ para peziarah

makam Ali bin Husain ‘alaihi salam sebelum ‘menengok’ orang-orang yang

berada di padang Arafah?”, “Betul” jawabnya. Lantas dia kembali ditanya,

“Bagaimana itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Karena di antara orang-orang

yang berada di padang Arafah terdapat anak-anak hasil perzinaan, adapun

para penziarah makam Husain seluruhnya suci tidak ada satupun anak hasil

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 9 dari 26 —

perzinaan.” (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang Syi’ah suci

dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut’ah) sendiri mereka

anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling utama?!! (-pen).

Na’udzubillah!

Dalam kitab Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid V, hal 372)

disebutkan: Dari Zaid asy-Syahham, dar i Abu Abdillah ‘alaihi salam berkata,

“Barang siapa yang ziarah makam Abu Abdillah (Husain) ‘alaihis salam pada

hari ‘Asyura sedang dia mengetahui hak-haknya, seakan-akan dia telah

menziarahi Allah di ‘Arsy-Nya.”

Na’udzubillah dari ghuluw dan kesesatan ini!

FAKTA KEDUA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Al

Quran.

Semua umat Islam telah berijma’ bahwasanya kitab Allah selalu terjaga dari

pengubahan, penambahan ataupun pengurangan. Ia terjaga dengan penjagaan

Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami

benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

 

Para ulama besar Ahlusunnah telah menegaskan bahwa barang siapa yang

meyakini di dalam Al Quran terdapat tambahan atau kekurangan, maka

sesungguhnya ia telah dianggap keluar dari agama Islam (murtad). Akidah ini

sudah amat sangat masyhur dan mutawatir di kalangan Ahlusunnah, sampaisampai

tidak lagi dibutuhkan seseorang untuk mendatangkan dalil-dalil

tentangnya. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Lum’ah al-I’tiqad (hal 19),

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam, bahwa barang siapa

yang mengingkari satu surat, atau satu kata, atau satu huruf dari Al Quran

yang telah disepakati, maka sesungguhnya dia telah kafir.”

Syi’ah dan Keyakinan Mereka Tentang Tahrif (distorsi, pengubahan) Al

Quran

Ulama-ulama Syi’ah yang paling menonjol yang berpendapat bahwa Al Quran

telah mengalami distorsi adalah: Al-Kulainy, al-Qummy, al-Mufid, ath-

Thobarsy, al-Kaasyany, al-Jazairy, al-Majlisy, al-’Amily, al-Khuu’iy, dan masih

banyak yang lainnya.

Pertama:

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 10 dari 26 —

Mari kita mulai dari al-Kulainy pengarang kitab al-Kaafi, kitabnya yang paling

terpercaya di kalangan orang-orang Rafidhah. Pengarang berkata dalam jilid

II, hal 634, ((Dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah ‘alaihis salam ia berkata,

“Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu

‘alaihi wa sallam terdiri dari 17.000 ayat”)). Padahal sepengetahuan kita

ayat-ayat Al Quran hanya berjumlah 6.000 ayat lebih sedikit. Riwayat kedua

disebutkan dalam (jilid I, hal 228). Riwayat ketiga disebutkan dalam (jilid I,

hal 228).

Riwayat keempat disebutkan dalam jilid I, hal 229: ((Dari Abu Bashir, dari Abu

Abdillah ia berkata, “Sesungguhnya yang berada di tangan kami adalah

mushaf Fathimah. Tahukah kalian apa itu mushaf Fathimah?” Aku bertanya,

“Apa itu mushaf Fathimah?” Ia menjawab, “Mushaf Fathimah tebalnya tiga

kali lipat Al Quran kalian. Demi Allah tidak ada satu huruf pun dari Al Quran

kalian, disebutkan di dalam mushaf Fathimah!”)).

Kedua:

Di antara ulama Rafidhah yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami

distorsi; Ali bin Ibrahim al-Qummy yang berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal

36): ((Di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Kalian

adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada

yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

(QS. Ali Imran:110). Berkata Abu Abdillah kepada yang membaca ayat ini,

“Umat yang terbaik, lantas membunuh amirul mukminin Hasan dan Husain

bin Ali ‘alaihima salam??” Lantas ada yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya

ayat tersebut diturunkan wahai putra Rasulullah?” Dia menjawab,

“Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan: (Kalian para imam terbaik yang

dilahirkan untuk manusia)”)).

Ketiga:

Ni’matullah al-Jazairy dalam jilid II, hal 363.

Keempat:

Al-Faidl al-Kaasyaany salah seorang ahli tafsir mereka yang tersohor dan

pengarang Tafsir ash-Shafy, berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 49),

((Kesimpulan yang dapat diambil dari berita-berita ini dan riwayat-riwayat

lainnya yang berasal dari ahlul bait ‘alaihis salam bahwasanya Al Quran yang

ada di hadapan kita ini t idaklah sempurna, sebagaimana yang diturunkan

kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi di dalamnya

terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Di

dalamnya ada yang diubah dan banyak pula yang telah dihapus; seperti nama

Ali dari berbagai ayat, lafadz aalu (keluarga) Muhammad shallallahu ‘alaihi

wa sallam, nama-nama kaum munafikin dan hal-hal lainnya. Juga Al Quran

tersebut tidak sesuai dengan susunan yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya

shallallahu ‘alaihi wa sallam)).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 11 dari 26 —

Kelima:

Ahmad bin Manshur Ath-Thabarsy dalam kitabnya al-Ihtijaj (jilid I, hal 55)

telah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tatkala menceritakan

kisah-kisah yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam Al Quran, Allah telah

menyebutkan secara terang-terangan nama para pelaku dosa tersebut. Akan

tetapi para sahabat telah menghapus nama-nama tersebut, jadilah kisah-kisah

itu disebutkan tanpa nama-nama pelakunya.

Keenam:

Berkata Muhammad bin Baqir Al Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid

89, hal 66): ((Bab distorsi dalam ayat-ayat Al Quran, sehingga tidak sesuai lagi

dengan apa yang diturunkan oleh Allah)).

Ketujuh:

Muhammad bin Muhammad an-Nu’man yang dijuluki al-Mufid dalam kitabnya

Awaail al- Maqaalaat (hal 91).

Kedelapan:

Abul Hasan Al ‘Aamily dalam muqaddimah kedua dari kitab tafsirnya Mira’ah

al-Anwar wa Misykaah al-Asraar (hal 36) menyatakan, ((Ketahuilah,

sesungguhnya Al Haq yang kita tidak bisa elakkan -berdasarkan kabar-kabar

yang mutawatir ini dan lainnya- bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita,

telah diubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan

sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk menyampaikan Al

Quran telah menghapus banyak kata-kata dan ayat-ayat)).

Kesembilan:

Abul Qasim al-Khuu’iy (Ulama kontemporer syiah) dalam kitabnya al-Bayan

(hal 236).

Dengarlah Adnan al-Waa’il yang memberikan contoh salah satu distorsi yang

dialami Al Quran: ((Ketika turun ayat (yang artinya) “Hai para rasul,

sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu tentang Ali. Dan jika tidak

kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak

menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia.”

(QS Al Maaidah: 67)).

FAKTA KETIGA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para

sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummahatul mu’minin.

Keutamaan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tingginya

kedudukan serta derajat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui

oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama

Islam secara dharurah. Ini disebabkan karena melimpahnya dalil-dalil yang

menunjukkan hal tersebut, baik dari Al Quran maupun As Sunnah. Sekarang

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 12 dari 26 —

bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi

barangkali kami akan menyebutkan sebagian saja:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

م  حمد  ر  سو ُ ل اللَّهِ  والَّذِي  ن مع ه َأشِداءُ  عَلى اْل ُ كفَّارِ  ر  ح  ماءُ بين  ه  م ت  را  ه  م  ركَّعًا  سجدًا

يبتغو َ ن َف  ض ً لا مِ  ن اللَّهِ  ورِ  ض  وانًا سِيما  ه  م فِي  و  جوهِهِ  م مِ  ن َأَثرِ الس  جودِ َ ذلِ  ك مَثُل  ه  م فِي

الت  و  راةِ  ومَثُل  ه  م فِي اْلأِنجِيلِ َ ك  ز  رعٍ َأ  خ  ر  ج  ش ْ طَأه َفآ  ز  ره َفا  ست غَل َ ظ َفا  ست  وى  عَلى  سوقِهِ

ي عجِ  ب الزرا  ع لِيغِي َ ظ بِهِ  م اْل ُ كفَّا  ر  و  ع  د اللَّه الَّذِي  ن آمنوا  و  عمُِلوا الصالِ  حاتِ مِن  ه  م م غفِ  رًة

 وَأ  جرًا  عظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia

adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama

mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan

keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas

sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang

mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu

menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu

menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati

orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan

kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara

mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29)

Ayat yang mulia ini mencakup seluruh sahabat karena mereka semua bersama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menguatkan apa yang telah lalu: hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan

Muslim; dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari dari Abu Sa’id dia berkata:

((Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan

Abdurrahman bin ‘Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar

hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian

memaki salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari

kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat

menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah

seorang dari mereka.” Hadits ini juga mencakup seluruh sahabat, karena

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki

salah seorang dari sahabatku.”

Syi’ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi

wa sallam

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 13 dari 26 —

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 245) disebutkan, ((Dari Hanan, dari

bapaknya, dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, ia berkata, “Sesungguhnya para

manusia telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa

sallam kecuali hanya tiga orang.” Lantas aku bertanya: “Siapakah tiga orang

itu?” Dia menjawab: “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan

Salman al-Farisy.”)).

Ash-Shafy dalam tafsirnya (jilid V, hal 28) berkata, ((Dari Abdurrahman bin

Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya

orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk

itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat

dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25). Dia

berkata, “fulan dan fulan”, yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu

Bakar sholat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia

menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala

itu)). Na’udzubillah dari kedustaan ini!

Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi’ah yang tanpa tedeng aling-aling

melaknat Ash Shiddiq, ((Para ulama Syi’ah telah bersaksi bahwa ada riwayatriwayat

valid yang kevalidannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu

Bakar, hal tersebut karena adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari

pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga

tidak sholatnya dia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah

melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh

melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu

Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar

dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak

rela dengan dilaknatnya mereka! Kebencian-kebencian umat ini…)).

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an-

Nu’maniyah (jilid I, hal 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan

tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)).

Berkata Zainudin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila

Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 129), ((Sebenarnya Umar itu telah

menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman)).

Dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah milik Ni’matullah al-Jazairy (jilid I, hal

81) disebutkan, ((Telah disebutkan dalam r iwayat-riwayat khusus bahwasanya

syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas digiring ke

padang mahsyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di

depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120

belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan terheran-heran syaitan itu

mendekat lantas bertanya, “Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 14 dari 26 —

hingga siksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan

para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu

kebinasaan.” Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang

dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu’minin Umar

bin Khattab radhiallahu ‘anhu! Qaatalahumulloh! -pen) kepada si syaitan,

“Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin

Abi Thalib.”)).

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang Rafidhah terhadap amirul

mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu; apa yang disebutkan oleh

Zainuddin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq

at-Taqdim (jilid III, hal 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan

seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan

tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)).

Belum puas Rafidhah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama

dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang-orang

yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan,

serta suka main rebana.

Dengarlah bagaimana Hasan ash-Shaffar berbangga karena Rafidhah-lah yang

telah membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu, ((Sesungguhnya Syiah-lah yang

telah membunuh Utsman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat

mereka)).

Al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al -Anwar (jilid XXX, hal 237) berkata,

((Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar,

penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri

dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka amat sangat banyak untuk

disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya)).

Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III, hal 20) surat an-Nahl:

وين  هى  عنِ اْلَف  ح  شاء  واْل  من َ كرِ  واْلب غيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”

(QS. An Nahl: 90)

Al-’Ayasyi berkata: Al- Fahsyaa (perbuatan keji) yaitu yang pertama

(maksudnya Abu Bakr), al-Munkar (kemungkaran) yaitu yang kedua

(maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghy (permusuhan) yaitu yang ketiga

(maksudnya: Utsman bin Affan).

Semoga Allah meridhai seluruh shahabat.

Bahkan al-Majlisy dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al-Qummy

dalam firman Allah ta’ala,

ُق ْ ل َأ  عو ُ ذ بِ  رب اْلَفَلقِ

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 15 dari 26 —

“Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq.”

Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon

perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya, lantas kawah itu

minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka

jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni

kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking

panasnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam

orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun

enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nomor pertama, kedua,

ketiga dan keempat. Nomor pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua

maksudnya Umar, yang ketiga Utsman dan yang keempat Mu’awiyah

radhiallahu ‘anhum.

Al-Majlisy berkata dalam (jilid XXX, hal 237), ((Keterangan tentang dua orang

Arab badui yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak

pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun)). Wa la haula wa la quwwata

illa billah!

Belum cukup Rafidhah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga

‘menyerang’ Ummahatul Mukminin. Berkata Ja’far Murtadho dalam bukunya

Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana

(keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian,

bahwa isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir

sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah ‘Aisyah. Hasyim al-Bahrany berkata

dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV, hal 358) surat at-Tahrim, ((Berkata

Syarafuddin an-Najafy, “Diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihis salam bahwa

dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 ض ر  ب اللَّه مَث ً لا لِلَّذِي  ن َ كَف  روا ا م  رَأ  ت نوحٍ  وا  م  رَأ  ت ُلوطٍ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang

kafir.” (QS. At Tahrim: 10)

Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya

demo terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuka

rahasianya)).

Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan

untuk ‘Aisyah dan Hafshah dan berkata, “Allah membuat istri Nuh dan istri

Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah

pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat.”

Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina

(na’udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia

maksud adalah ‘Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah.

Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai ‘Aisyah. Tatkala

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 16 dari 26 —

‘Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, “Kamu itu tidak boleh

safar kecuali dengan mahram.” Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan

fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)).

Berkata Muhammad al-‘Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII, hal 286) surat Ali

Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu ‘anhu ia

berkata, “Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya

Allah berfirman,

َأَفإِ ْ ن ما  ت َأ  و ُقتِ َ ل ان َقَلبت  م  عَلى َأ  عَقابِ ُ ك  م

“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).”

(QS. Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah

diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni

‘Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak

mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa

billah!

Belum cukup al-Majlisy sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya

Bihar al-Anwar (jilid XXXII, hal 286), ((Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia

berkata, Aku mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata di dalam firman

Allah,

مَث ُ ل الَّذِي  ن ات  خ ُ ذوا مِ  ن  دونِ اللَّهِ َأ  ولِياءَ َ ك  مَثلِ اْلعن َ كبوتِ ات  خ َ ذ  ت بيتًا  وإِنَّ َأ  و  ه  ن اْلبيوتِ

َلبي  ت اْلعن َ كبوتِ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan

selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya

rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba.” (QS. Al Ankabut: 41). Labalaba

itu adalah al-Humaira (Aisyah-pen). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba?

karena dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah;

begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah

kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah

dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan

terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang laba-laba yang lemah!))

FAKTA KEEMPAT: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai

Ahlusunnah.

Tuhan Orang Syi’ah Beda Dengan Tuhan Ahlusunnah

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 278), ((Sesungguhnya kami (kaum Syi’ah) tidak pernah bersepakat

dengan mereka (Ahlusunnah) dalam menentukan Allah, nabi maupun imam.

Sebab mereka (Ahlusunnah) mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 17 dari 26 —

yang menunjuk Muhammad sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai pengganti

Muhammad sesudah beliau wafat. Kami (kaum syi’ah) tidak setuju dengan

Tuhan model seperti ini, juga kami tidak setuju dengan model nabi yang

seperti itu. Sesungguhnya Tuhan yang memilih Abu Bakar sebagai pengganti

nabi-Nya, bukanlah Tuhan kami. Dan nabi model seperti itu pun bukan nabi

kami!)). Na’udzubillah dari kekufuran dan kesesatan ini!!!

Pengertian an-Naashib Dalam ‘Kamus’ Rafidhah

An-Nawaashib mufradnya naashib. Definisinya menurut Ahlusunnah adalah:

Orang-orang yang mengalahkan serta melaknat Ali dan keluarganya.

Sedangkan definisinya versi orang-orang Syi’ah: An-Nawashib adalah

Ahlusunnah yang mencintai Abu Bakar, Umar dan para sahabat Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya radhiallahu ‘anhum.

Husain Aal ‘Ushfur ad-Darraz al-Bahrany dalam kitabnya al-Mahasin an-

Nafsaniyah Fi Ajwibati al-Masail al-Khurasaniyah (hal 147) berkata, ((Beritaberita

yang bersumber dari para imam ‘alaihis salam menjelaskan bahwa yang

dimaksud dengan an-Nashib adalah yang biasa dipanggil dengan julukan

Sunni)). Dia juga berkata, ((Tidak perlu lagi dipermasalahkan bahwa yang

dimaksud dengan an-Nashibah adalah Ahlusunnah)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

II, hal 306-307), ((Adapun orang Nashibi, kondisi dan hukum-hukum yang

berkaitan dengan mereka bisa dijelaskan dalam dua hal: Pertama, siapakah

yang dimaksud dengan an-Nashib yang diceritakan dalam berbagai riwayat

mereka itu lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Yang juga

mereka itu kafir dan najis menurut ijma’ para ulama imamiyah… Dan telah

diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di antara ciri khas

orang-orang Nawashib adalah: mendahulukan selain Ali atasnya)). Perkataan

orang satu ini menunjukkan bahwa setiap yang mendahulukan kepemimpinan

Abu Bakar, Umar dan Utsman sebelum kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu,

maka dia adalah Nashibi menurut versi orang-orang Rafidhah; padahal orangorang

Nashibi itu menurut mereka lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan

Majusi, bahkan dianggap kafir dan najis!!! Na’udzubillah!!

Kaum Rafidhah Menghalalkan Harta dan Nyawa Ahlusunnah

Berkata Yusuf al-Bahrany dalam kitabnya al-Hadaaiq an-Naadhirah Fii Ahkaam

al-‘Itrah ath- Thaahirah (jilid XII, hal 323), “Sesungguhnya anggapan bahwa

an-Nashib itu muslim, dan juga anggapan bahwa agama Islam tidak

membolehkan untuk mengambil harta mereka, ini semua tidak sesuai dengan

ajaran kelompok yang benar (maksudnya Syi’ah –pen) mulai dari dahulu

sampai sekarang, yang mana mereka itu mengatakan bahwa an-Nashib itu

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 18 dari 26 —

kafir dan najis serta boleh diambil hartanya bahkan dibenarkan untuk

dibunuh.”

Dalam kitab Wasail asy-Syi’ah karangan al-Hur al-’Amily (jilid XVIII, hal 463)

disebutkan, ((Berkata Dawud bin Farqad, Aku bertanya kepada Abu Abdillah

‘alaihis salam, “Apa pendapatmu tentang an-Nashib?” Dia menjawab, “Halal

darahnya (nyawanya -pen) tapi aku bertaqiyyah (Lihat maksud dari istilah

taqiyyah di epilog dari tulisan ini -pen). darinya. Seandainya engkau bisa

membunuhnya dengan cara meruntuhkan suatu tembok atasnya atau kamu

tenggelamkan dia, supaya tidak ketahuan bahwa kamulah pembunuhnya,

maka lakukanlah!”)). Aku bertanya lagi, “Lantas bagaimana dengan

hartanya?” Dia menjawab, “Musnahkanlah hartanya semampumu!”)).

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 285) disebutkan, ((Dari Abu Hamzah,

Aku bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Sebagian kawan-kawan kami

memfitnah dan menuduh yang tidak-tidak terhadap siapa saja yang

menyelisihi mereka?” Dia menjawab, “Lebih baik engkau tinggalkan

perbuatan itu! Demi Allah wahai Abu Hamzah sesungguhnya seluruh manusia

adalah anak-anak pelacur kecuali para pendukung kita!!”)). Yang dia maksud

adalah: bahwa semua manusia adalah anak-anak hasil perzinaan kecuali

orang-orang Syi’ah (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang

Syi’ah suci dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut’ah)

sendiri mereka anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling

utama?!! -pen). Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Orang-Orang Rafidhah Mengkafirkan Golongan Ahlusunnah

Al-Faidl al-Kasyany dalam kitabnya Minhaj an-Najah (hal 48) berkata, “Barang

siapa yang mengingkari keimaman salah seorang dari mereka (yakni para

imam yang dua belas) maka sesungguhnya dia itu sama dengan orang yang

mengingkari kenabian seluruh para nabi.”

Berkata al-Maamaqaany dalam kitabnya Taudhih al-Maqaal (jilid I, hal 208),

“Kesimpulan yang dapat diambil dari kitab-kitab, bahwa setiap yang tidak

bermazhab itsna ‘asyar (syi’ah) akan diterapkan baginya hukum orang kafir

dan musyrik di akhirat.”

Dengarlah orang-orang Rawafidh yang terang-terangan melaknat para ulama

Islam seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Samahah asy-Syaikh Abdul

Aziz bin Baz rahimahumullah: “Ini syeikh Bin Baz, kalian anggap dia itu

syaikh?! Wahai orang-orang yang najis!, orang-orang yang kotor!, wahai para

pengikut Ibnu Taimiyyah si anjing itu! Wahai para pengikut Bin Baz al-

Munafiq si buta mata dan hati! Semoga Allah melaknat dia!!! Semoga Allah

melaknat dia!! Anjing kalian ikuti?!, kalau bukan karena kalian binatang

niscaya kalian tidak akan mengikuti binatang, babi seperti Bin Baz!!!)). Wa

laa haula wa laa quwwata illa billah.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 19 dari 26 —

Keyakinan Rafidah Mengenai Al-Mahdi Yang Dinanti-nantikan

Ahlusunnah meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan muncul seorang dari

ahlul bait, Allah kokohkan dengannya agama Islam, dia berkuasa tujuh tahun,

memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan

kesewenang-wenangan dan kezaliman. Bumi menumbuhkan tumbuhtumbuhannya,

langit menurunkan hujannya, harta melimpah ruah tanpa

batas.

Adapun Rafidhah, maka telah terjadi kontradiksi dalam keyakinan mereka

tentang al-Mahdi; terkadang mereka mengingkari lahirnya al-Mahdi

sebagaimana yang dikatakan oleh al-Kulainy dalam kitabnya Ushul al-Kafi

(jilid I, hal 505), Ibnu Baabawaih al-Qummy dalam kitabnya Kamaal ad-Din Wa

Tamaam an-Ni’mah (hal 51), juga al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar

(jilid 50, hal 329), bahwa al-Mahdi tidak akan dilahirkan, sebab harta warisan

ayah al-Mahdi yang bernama al-Hasan al-’Askary sudah terlanjur dibagi-bagi.

Akan tetapi terkadang mereka mengatakan bahwa al-Mahdi telah dilahirkan,

akan tetapi dia masih bersembunyi di suatu tempat yang bernama gua as-

Saamuroi, dan akan muncul kelak di akhir zaman untuk membantu Syi’ah dan

membunuhi musuh-musuh mereka dari kalangan Ahlusunnah.

Agar kerancuan itu lenyap, akan kita sebutkan perbedaan-perbedaan antara

Mahdinya orang Islam dengan Mahdi yang diklaim oleh orang Rafidhah.

Pertama, Mahdinya orang Islam bernama Muhammad bin Abdullah, karena

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Namanya (al-Mahdi -pen) sama

dengan namaku, dan nama bapaknya (al-Mahdi -pen) juga sama dengan nama

bapakku.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzy, serta dishahihkan oleh al-Albany

dalam Misykaat al-Mashabih). Adapun Mahdi yang diakui oleh orang Rafidhah

bernama Muhammad bin al-Hasan al-‘Askary sebagaimana yang disebutkan

oleh al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah (jilid III, hal 226).

Kedua, Mahdinya orang Islam belum dilahirkan hingga sekarang dan dia akan

dilahirkan di akhir zaman. Adapun mahdinya orang Rafidhah sesungguhnya

telah dilahirkan pada tahun 255 H. Berkata al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-

Ghummah (jilid III, hal 236), “Al-Mahdi lahir pada malam pertengahan

Sya’ban tahun 255 H, lantas tatkala berumur lima tahun dia masuk gua as-

Samuroi di Irak. Dan sekarang dia masih hidup.” Jadi sejak tahun itu sampai

hari ini mahdi khurafatnya orang Rafidhah sudah berumur 1168 tahun!!!

Ini syaikh mereka Abdul Hamid al-Muhajir berusaha keras untuk membuktikan

adanya al-Mahdi khurafat mereka, “Manusia itu bisa saja hidup ribuan tahun,

ditambah lagi kita tidak mengetahui umur yang disebutkan dalam Al Quran.

Sedangkan umur 70 tahun, 60 tahun, 80 tahun, itu semua umur alami. Umur

itu tidak ada yang tahu panjangnya kecuali Allah. Mungkin saja seseorang

hidup seumuran Nuh. Nuh hidup 3000 tahun. Ilmu mutakhir membuktikan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 20 dari 26 —

bahwa tidak ada suatu hal yang menghalangi panjangnya umur seseorang,

seandainya Allah menghendaki. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini,

karena Allah menciptakanmu tidak hanya untuk hidup 60 tahun kemudian

kamu mati, seandainya jika memang belum ada sebab-sebab kematian. Para

ilmuwan berkata: Seandainya manusia selalu berada di atas metode ilmiah

yang tepat di dalam makannya, minumnya, pakaiannya, tidurnya dan

bangunnya, niscaya dia bisa hidup ribuan tahun!”

Ketiga, Mahdinya orang Islam dari keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

keturunan al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, adapun mahdi yang diklaim oleh

Rafidhah itu keturunan al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.

Keempat, Mahdinya orang Islam tinggal selama 7 tahun, adapun Mahdi yang

diklaim oleh Rafidhah tinggal selama 70 tahun.

Kelima, Mahdinya orang Islam memenuhi bumi dengan keadilan setelah

sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Adapun Mahdinya orang Rafidhah,

sesungguhnya dia akan membunuhi orang-orang Islam musuh-musuh Rafidhah,

bahkan dia akan menghidupkan kembali ash-Shiddiq dan al-Faaruq; Abu Bakar

dan Umar radhiallahu ‘anhuma, kemudian menyalib keduanya, juga

mencambuk Aisyah dengan cambukan had. Sebagaimana disebutkan dalam

kitab ar-Raj’ah karangan Ahmad al-Ahsaa’iy (hal 161).

Bahkan Mahdinya Rafidhah banyak melakukan pembunuhan di muka bumi ini

terutama orang-orang Quraisy. Sampai-sampai mereka berkata: bahwasanya

al-Mahdi akan membunuh dua pertiga dari penduduk bumi.

Demi Allah, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pekerjaan al-Masih ad-

Dajjal! Bahkan dalam Bihaar al-Anwar (jilid 52, hal 354) disebutkan, ((Telah

diriwayatkan dari Abu Ja’far ‘alaihis salam bahwa dia berkata: Hingga

kebanyakan manusia berkata: “Dia bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad,

seandainya dia dari keluarga Muhammad, niscaya dia itu akan bersikap lemah

lembut.”)).

Keenam, Mahdinya orang Islam menegakkan syariatnya Nabi Muhammad

shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun mahdinya yang diklaim Rafidhah dia

akan menegakkan hukum keluarga Dawud, bahkan akan menyeru Allah dengan

nama Ibraninya. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Ushul al-Kaafi

(jilid I, hal 398).

Ketujuh, Mahdinya orang Islam Allah turunkan dengannya hujan, lantas bumi

menumbuhkan tetumbuhannya. Adapun Mahdinya Rafidhah maka akan

menghancurkan Ka’bah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi bahkan akan

menghancurkan semua masjid (yang ada di muka bumi -pen). Sebagaimana

yang disebutkan oleh ath-Thusy dalam kitabnya al-Gharib (hal 472).

Kedelapan, Mahdinya orang Islam memerangi Yahudi dan Nasrani, sampai

agama betul-betul menjadi milik Allah semata, dan dia beserta nabi Isa akan

membunuh Dajjal. Adapun Mahdinya orang-orang Rafidhah maka dia akan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 21 dari 26 —

berdamai dengan orang Yahudi dan Nasrani, lantas menghalalkan darah orang

Islam dan membalas dendam terhadap mereka. Sebagaimana diterangkan al-

Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid 52, hal 376).

Dengan demikian hilanglah ketidakjelasan perbedaan antara dua mahdi. Dan

tidak mungkin Mahdinya orang Islam dengan Mahdinya orang Rafidhah itu satu.

Fakta Kelima: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Hari

‘Asyura.

Pada hari ‘Asyura orang-orang Islam menunaikan ibadah puasa, dalam rangka

mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Kitab-kitab orang Rafidhah juga

memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura, akan tetapi anehnya orangorang

Rafidhah sendiri mengingkari puasa tersebut, bahkan menuduh bahwa

orang-orang kerajaan Umawi-lah yang membuat-buat riwayat-riwayat palsu

yang menghasung puasa ‘Asyura.

Setiap tahun, pada hari-hari bulan Muharam, terutama tanggal sepuluh,

orang-orang Rafidhah melakukan perbuatan-perbuatan ‘aib yang memalukan;

mulai dari memakai pakaian hitam, mengadakan majelis-majelis Al

Husainiyah, mengadakan ceramah-ceramah dan perkumpulan-perkumpulan

yang diselingi dengan pelaknatan terhadap Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan

anaknya Yazid serta kepada bani Umayyah secara keseluruhan. Juga mereka

menganiaya diri mereka sendiri dan memukuli diri mereka dengan rantai dan

pedang. Serta masih banyak penyelewengan-penyelewengan syariat lainnya,

yang mana itu semua dengan dalih mengungkapkan rasa bela sungkawa dan

berkabung atas kematian Husain radhiallahu ‘anhu.

Dengarlah syaikh mereka Abdul Hamid al-Muhajir yang melegalisir aksi orangorang

Rafidhah pada hari ‘Asyura, “Jangan kalian dengar orang yang berkata

bahwa memukul-mukul kepala dengan rantai, menampar dan menangis itu

haram, sesungguhnya mereka itu tidak paham agama Islam. Pada asalnya

sesuatu itu diharamkan seandainya membahayakan, kalau membahayakan

baru bisa dikatakan haram, dan ini tidak ada hubungannya dengan memukul-

mukul kepala dan memukul-mukul kaki, siapa bilang itu haram?

Mengharamkan sesuatu butuh dalil, karena pada asalnya segala sesuatu itu

hukumnya halal!!”

Inilah ulama kita yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang

mengingkari bid’ah-bid’ah dan kemungkaran-kemungkaran Rafidhah pada

hari-hari ‘Asyura dengan perkataannya, “Orang yang menjadikan hari ‘Asyura

sebagai hari penebusan dosa dan hari berkabung, sebagaimana orang-orang

Rafidhah yang pada hari itu mereka memukul-mukul dada-dada dan tubuh-

tubuh mereka serta memukul-mukul diri mereka dengan besi, mencaci maki

dan melaknat. Ini semua merupakan sebagian dari kebodohan, kesesatan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 22 dari 26 —

serta kebid’ahan mereka yang tercela. Kita memohon kepada Allah

keselamatan dari itu semua. Niyahah (ratapan), memukul-mukul pipi, serta

merobek-robek pakaian, tetap merupakan perbuatan mungkar, kapan saja

dan di mana saja sampai pun pada hari di mana Husain terbunuh, atau di saat

musibah apapun. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari

perbuatan itu dan bersabda, ‘Tidak termasuk dari golongan kami: orang-

orang yang memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian serta menyeru

dengan seruan jahiliyah.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‘Allah melaknat ash- Shaliqah, al-Haliqah serta asy-Syaqqah.’ Ash-Shaliqah:

adalah orang yang meraung-raung ketika terjadi musibah, al-Haliqah: yang

menggundul rambutnya, asy-Syaqqah: yang merobek-robek pakaiannya. Ini

semua merupakan kemungkaran, na’udzubillah!. Orang-orang Rafidhah

memperbolehkan aksi-aksi tersebut dengan dalih bahwa itu ungkapan

dukungan terhadap ahlul bait dan sebagai ungkapan kesedihan. Padahal

dengan aksi-aksi tersebut mereka telah menyakiti diri mereka sendiri dan

menjadikan Allah murka terhadap perbuatan buruk tersebut, sebab aksi itu

telah menyelisihi syariat dan merupakan bid’ah yang mungkar.”

Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan orang-orang yang selalu

mencekoki masyarakatnya setiap tahun dengan perasaan dendam dan dengki

terhadap Ahlusunnah, dengan dalih bahwa Ahlusunnah-lah yang telah

membunuh Husain. Padahal kitab-kitab Syi’ah dipenuhi riwayat-riwayat yang

membuktikan bahwa orang Syia’h Kufah-lah yang telah mengkhianati Husain

radhiallahu ‘anhu, sebagaimana sebelumnya mereka telah berkhianat kepada

saudara dan bapaknya.

Dalam kitab Maqtal al-Husain karya Abdul Razak al-Mukrim (hal 175)

disebutkan: ((Bahwa Husain radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya

merekalah yang telah mengkhianatiku, lihatlah surat-surat yang berasal dari

Kufah ini! Sesungguhnya merekalah yang telah membunuhku!”)). Hal yang

senada disebutkan dalam kitab Muntaha al-Aamal Fi Tarikh an-Nabiy wa al-

Aal (jilid I, hal 535).

Bahkan referensi Syi’ah yang tersohor Muhsin al-Amin dalam A’yaan asy-Syi’ah

(jilid I, hal 32) berkata, “Kemudian 20.000 penduduk Irak yang telah

membai’at Husain mengkhianatinya dan meninggalkannya, padahal tali bai’at

masih tergantung di leher mereka. Kemudian mereka membunuh al-Husain.”

Dalam kitab al-Ihtijaj karangan ath-Thabarsy (hal 306) disebutkan, ((Bahwa

Ali bin Husain yang dikenal dengan julukan Zainal Abidin berkata: “Wahai para

manusia, demi Allah tahukah kalian bahwa sesungguhnya kalian-lah yang

telah menulis surat terhadap bapakku, lantas kalian tipu dia?! Kalian telah

berjanji dan membai’at bapakku lantas kalian bunuh dan terlantarkan dia?!

Celakalah kalian atas apa yang telah kalian lakukan. Bagaimana kelak kalian

bisa memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau kelak

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 23 dari 26 —

berkata, ‘Kalian telah membunuh keluargaku dan kalian rusak kehormatanku,

sesungguhnya kalian bukanlah dari golongan kami!’”)).

Dalam kitab Maqtal al-Husain karangan Murtadha ‘Ayyad (hal 83) dan dalam

kitab Nafs al-Mahmum karangan ‘Abbas Al Qummy (hal 357) disebutkan,

((Tatkala Imam Zainal Abidin rahimahullah lewat dan melihat orang Kufah

menangis dan meratap (berkabung atas meninggalnya Husain), beliau

membentak mereka seraya berkata, “Kalian meratapi diri kami??! Lantas

siapakah yang membunuh kami? (kalau bukan kalian?? –pen)”)). Hal yang

senada disebutkan dalam kitab al-Ihtijaj karya ath-Thabarsy (hal 304).

Dengarlah ulama kita Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang

menerangkan kejadian yang sebenarnya tentang Husain radhiallahu ‘anhu,

juga menerangkan sikap Ahlusunnah terhadap fitnah tersebut: “Tatkala

Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu mendengar berita tentang kemungkaran-

kemungkaran yang dilakukan oleh Yazid bin Mu’awiyah, beliau keluar dari

Mekkah menuju Irak, dengan tujuan menyatukan kalimat kaum muslimin di

atas kebaikan serta menegakkan syariat Islam. Sebagian saudara-saudaranya

dari para sahabat telah menasihatinya agar tidak pergi, tapi beliau berijtihad

untuk berangkat. (Tatkala mendengar keberangkatan al-Husain) Ubaidullah

bin Ziyad mengutus pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’id bin Abi Waqqas,

hingga terjadilah peperangan antara dua pihak. Orang-orang yang bersama

Husain saat itu sedikit sekali yaitu keluarga dia. Maka terbunuhlah Husain

dan banyak korban berjatuhan dari orang-orang yang bersamanya di suatu

tempat yang bernama Karbala. Ubaidullah bin Ziyad telah bersalah karena

perbuatannya, sebenarnya Husain sudah berkehendak pulang dan

meninggalkan fitnah, atau pergi ke Yazid, atau pergi ke daerah sekitar. Akan

tetapi pasukan tersebut terus memerangi dia sampai akhirnya membunuh dia

dan membunuh siapa saja yang berusaha untuk melindungi dia. Hingga

terbunuhlah Husain dalam keadaan terzalimi dan tidak bersalah. Maka

terjadilah musibah besar yang membuka pintu keburukan yang besar!

nas’alullah al-’afiyah!”

Mereka (Ubaidullah dkk) telah berbuat salah dengan perbuatan mereka

tersebut, semoga Allah meridhai Husain dan memberi rahmat kepadanya,

kepada kita serta kepada semua kaum Muslimin. Semoga Allah membalas

orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan balasan yang

setimpal. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan-kejahatan Rafidhah

dan perbuatan-perbuatan mereka yang hina, serta Allah kembalikan mereka

ke pangkuan Islam dan petunjuk.

Epilog

Para pembaca yang budiman, setelah kita melakukan ‘pengembaraan’ dari

satu referensi ke referensi yang lain yang berada di perpustakaan kelompok

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 24 dari 26 —

Syi’ah, penulis ingin menarik perhatian para pembaca kepada dua perkara

penting yang erat kaitannya dengan pembahasan kita kali ini.

Dua hal itu adalah:

Pertama- Kami rasa setiap yang membaca makalah ini akan bisa langsung

menarik kesimpulan betapa sesatnya kelompok yang satu ini, bahkan dia bisa

mengatakan bahwa yang menganut keyakinan tersebut di atas tidak lagi bisa

dianggap beragama Islam. (Bahkan ada salah seorang awam yang tatkala

membaca awal makalah ini, tidak bisa mengeluarkan kata-kata kecuali hanya:

“Ini kelompok dholal (sesat) banget sich!”).

Yang ingin kami jelaskan di sini: Sedemikian sesatnya kelompok Syi’ah ini,

masih ada -sampai detik ini- orang-orang yang berusaha dengan gigihnya untuk

menyatukan antara Syi’ah dan Ahlusunnah di bawah satu payung, dan

mengatakan bahwa perbedaan kita dengan Syi’ah hanyalah seperti perbedaan

antara empat mazhab Ahlusunnah; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Entah

karena mereka tidak tahu kesesatan Syi’ah atau karena pura-pura tidak tahu.

Wallahua’lam… Kalau tidak tahu kenapa berbicara, bukankah orang yang tidak

tahu sebaiknya diam saja? Kalaupun tahu kenapa tidak menerangkan hakikat

kelompok Syi’ah itu kepada pengikutnya??

Berikut penulis bawakan statemen-statemen pembesar kelompok pergerakan

ini yang terang-terangan berusaha menyatukan antara Ahlusunnah dan Syi’ah

(Silahkan baca: ibid hal: 238-268, dan al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah Fa’rifuha,

karya Abu Ibrahim bin Sulthan al-’Adnani, hal: 68-71)

Mari kita mulai dengan perkataan pendiri kelompok ini Hasan al-Banna

rahimahullah, “Ketahuilah bahwa Ahlusunnah dan Syi’ah semuanya termasuk

kaum muslimin, mereka disatukan dengan kalimat La ilaaha illAllah wa anna

Muhammadan Rasulullah (Padahal syahadat orang Syi’ah mereka tambahi

dengan: wa anna ‘aliyyan waliyyullah washiyyu rasulillah wa khalifatuhu bila

fashl. Silahkan lihat cover buku Tuhfah al-’Awaam Maqbul, karya as-Sayyid

Mandzur Husain -pen), ini adalah inti aqidah, Sunah dan Syi’ah sepakat di

dalamnya, dan di atas kesucian. Adapun perkara khilaf antara keduanya,

maka itu termasuk perkara-perkara yang bisa kita dekatkan antara

keduanya.” (Dzikrayat La Mudzakkirat hal 249-250).

Umar at-Tilmisani rahimahullah berkata dalam suatu makalah dia asy-Syi’ah

Wa as-Sunnah, “Usaha penyatuan antara Syi’ah dan Sunnah merupakan

kewajiban para ahli fikih zaman ini.” (Majalah ad-Da’wah al-Mishriyyah edisi

105, Juli 1985 M). Dalam kitabnya yang lain disebutkan, “Syi’ah itu suatu

kelompok yang kira-kira mirip dengan empat mazhab dalam Ahlusunnah…

Memang di sana ada berbagai perbedaan, akan tetapi mungkin untuk

dihilangkan, seperti: nikah mut’ah, jumlah istri seorang muslim -dan itu

terdapat di sebagian sekte kelompok mereka- dan lain sebagainya. Yang mana

perbedaan-perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadikan perpecahan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 25 dari 26 —

antara Sunnah dan Syi’ah.” (Al-Mulham al-Mauhub Hasan al-Banna, Umar

Tilmisani).

Berkata Dr. Muhammad al-Ghazali rahimahullah, “Betul, saya termasuk orang

yang berkepentingan dalam usaha penyatuan antara mazhab-mazhab Islam.

Saya selalu bekerja keras dan terus-menerus di Kairo. Saya berteman dengan

Muhammad Taqy al-Qummy, Muhammad Jawad Mughniyah, dan ulama-ulama

besar Syi’ah yang lain.” (Mauqif ‘Ulama al-Muslimin hal 21-23).

Bahkan tatkala gembong Syi’ah abad ini Ayatullah al-Khomeini (orang yang

‘merestui’ pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar (Karena dia merestui

buku Tuhfah al-’Awaam Maqbul, as-Sayyid Mandzur Husain, yang di dalamnya

terdapat doa shanamai quraisy, yang dipenuhi dengan cacian dan laknatan

kepada ash-Shiddiq dan al-Faruq)) berhasil melakukan revolusi di Iran, tokohtokoh

organisasi pergerakan ini berbondong-bondong mengucapkan selamat

dan bahkan mendukung kepemimpinannya:

Berkata Al Maududi rahimahullah, “Sesungguhnya revolusi al-Khomeini adalah

revolusi yang islami, dipelopori oleh jama’ah islamiyah dan para pemuda

yang dididik dalam tarbiyah islamiyah di kancah pergerakan Islam. Maka

seluruh kaum muslimin dan gerakan-gerakan Islam berkewajiban untuk

mendukung revolusi ini dengan dukungan yang sebesar-besarnya, serta

bekerjasama dengan mereka di segala aspek.” (Asy-Syaqiqani, hal 3. dan

Mauqif Ulama al-Muslimin, hal 48).

Fathi Yakan rahimahullah berkata, “Dan di dalam sejarah Islam baru-baru ini,

terdapat bukti atas perkataan yang kami ucapkan. Bukti itu adalah:

percobaan revolusi islami yang ada di Iran; percobaan yang diperangi oleh

setiap kekuatan kafir di muka bumi ini, dan masih terus diperangi, karena

revolusi ini islami dan tidak memihak ke timur maupun ke barat.” (Abjadiyat

at-Tashawwur al-Haraki Li al-’Amal al-Islami, hal 148).

Bahkan at-Tandzim ad-Dauly Lijama’ati al-Ikhwan al-Muslimin (Organisasi

Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin) telah menerbitkan memorandum

yang berisi, “Dengan ini, Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul

Muslimin menyeru setiap pemimpin organisasi pergerakan Islam di Turki,

Pakistan, India, Indonesia, Afghanistan, Malaysia, Philipina dan organisasi

Ikhwanul Muslimin di negeri-negeri Arab, Eropa dan Amerika untuk mengirim

utusan mereka guna membentuk suatu delegasi yang akan diberangkatkan ke

Teheran dengan menggunakan pesawat khusus. Dengan tujuan untuk

menemui al-Imam Ayatullah al-Khomeini, dalam rangka menekankan

dukungan pergerakan Islam yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin, Hizb as-

Salamah Turki, al-Jama’ah al-Islamiyah di Pakistan, al-Jama’ah al-Islamiyah

di India, Jama’ah Partai Masyumi di Indonesia, Angkatan Belia Islam Malaysia,

al-Jama’ah al-Islamiyah di Philipina. Pertemuan itu merupakan salah satu

tanda kebesaran Islam dan kemampuannya untuk mencairkan perbedaan-

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 26 dari 26 —

perbedaan ras, kebangsaan dan mazhab…” (Majalah al-Mujtama’ al-

Kuwaitiyah, edisi 434, 25/2/1979).

Wahai para pembaca yang budiman, apakah perbedaan itu berhasil dicairkan

dengan cara menundukkan setiap perbedaan pendapat di bawah Al Quran dan

As Sunnah, atau dengan cara diam dan pura-pura cuek dengan segala macam

bentuk perbedaan, entah itu klaim bahwa Al Quran tidak sempurna,

pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar, atau tuduhan yang dilontarkan

kepada Ummul Mu’minin Aisyah bahwa dia telah berzina, serta dosa-dosa

besar lainnya???!! Allahulmusta’an wa ‘alaihit tuklan…

Kedua- Barangkali ada di antara kita -setelah membaca makalah inisemangatnya

berkobar untuk menasihati orang-orang Syi’ah, entah itu di

Madinah atau di kampungnya. Bisa jadi -dan itu memang sudah terjaditatkala

kita ungkapkan fakta-fakta tersebut di atas, mereka akan menjawab,

“Itu semua tidak ada dalam ajaran Syi’ah!” Kalau itu jawaban mereka apa

langkah kita selanjutnya?

Perlu diketahui bersama, bahwa orang Syi’ah mempunyai suatu ’senjata’ yang

bernama taqiyyah (Silahkan lihat: Min ‘Aqaid asy-Syi’ah, Abdullah bin

Muhammad as-Salafy, hal: 32-33). Salah seorang ulama kontemporer mereka

mendefinisikan taqiyyah dengan perkataannya, “Taqiyyah adalah

mengucapkan atau berbuat sesuatu yang tidak engkau yakini, dengan tujuan

untuk melindungi diri dan harta dari marabahaya, atau agar harga dirimu

terjaga.” (Asy-Syi’ah Fi al-Mizan, Muhammad Jawad Mughniyah, hal 48).

Al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi (hal 482-483) menyebutkan, ((Abu Abdilah

berkata, “Wahai Abu Umar, sesungguhnya 9/10 agama kita terletak di dalam

taqiyyah, barang siapa yang tidak bertaqiyyah maka dia dianggap tidak

mempunyai agama!!”)).

Jadi orang-orang Syi’ah menganggap bahwa taqiyyah itu hukumnya wajib.

Maka kalau ada di antara mereka yang mengingkari fakta-fakta ini, ketahuilah

bahwa mereka sedang bertaqiyyah alias berbohong. Wallahua’lam, semoga

bermanfaat! dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan…

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi

ajmain.

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Selasa, 20 Muharram 1426 H.

Disebarkan di Maktabah Abu Salma al-Atsari atas izin muslim.or.id

Hak cipta berada di tangan penulis dan webmaster muslim.or.id

Risalah ini dapat disebarluaskan dan diprint/dicetak selama tidak untuk komersial dan hanya

dibagikan gratis

Posted on 5 April 2012, in EBOOK, KAJIAN, KHUTBAH JUMAT, LAIN-LAIN and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: