Monthly Archives: Mei 2012

KHUTBAH JUMAT : KIAMAT 2012

March 31, 2009
Khutbah Jumat 16
Filed under: Kumpulan Khutbah Jumat — samiranshamir @ 8:41 am

KIAMAT TAHUN 2012

Kaum Muslimin raahimakumullah
Banyak sekali media yang melansir berita sekitar telah dekatnya hari kiamat. Internetpun tengah dibanjiri tulisan senada. Bahkan sangat ironis ketika tersebar informasi bahwa tahun 2012, dunia akan kiamat, tepatnya tanggal 21 Desember 2012. Hal ini dikaitkan dengan penemuan ironis pada suku Maya. Sebuah suku yang ditemukan di Mexico. Kebudayaan kuno suku ini dikenal atas kemampuannya di ilmu matematika dan astronomi. Mereka dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Mereka mencipta penanggalan hingga 5.126 tahun. Ketika peta astronomi mereka dipindahkan ke kalender Gregorian, yang digunakan secara standar sekarang, waktu perhitungan bangsa Maya berhenti pada 21 Desember 2012. Meskipun para ahli berusaha meredam skenario kiamat ini sebagai salah satu ramalan bohongan lagi, tapi banyak sekali orang berpengaruh yang meramalkan adanya kemungkinan bencana besar pada tanggal tersebut. Salah satunya adalah Patrick Geryl, pekerja laboratorium berusia 53 tahun yang hidup di Belgia, keluar dari pekerjaannya dua tahun lalu setelah ia menabung sejumlah uang yang cukup digunakan sampai tahun 2012. Ia sekarang sedang mengumpulkan persediaan yang jika di daftar, mencapai 11 halaman lebih.

Geryl bukanlah satu2nya orang yang berpikir demikian, jika anda goggling (google mania), “2012 the end of the world” akan ada sekitar 700.000 hit untuk anda klik. Lebih dari 6500 video telah diposting di YouTube. Ribuan buku juga menulis mengenai hal itu, mengikuti sukses buku Daniel Pinchbeck: “2012: The Return of Quetzalcoatl,” yang terjual ribuan kopi tiap bulannya semenjak dirilis bulan Mei tahun lalu. Hampir seluruh ajaran agama meyakini adanya kiamat. Kiamat merupakan sebuah keniscayaan bagi banyak pemeluk agama (apapun), yang berarti ras manusia akan mengalami kepunahan.

Kiamat pertama
Skenario kiamat pertama menurut sains terjadi di Bumi. Bumi terdiri dari lapisan-lapisan. Lapisan terdalam adalah inti yang bentuknya solid dan cair. Lapisan berikutnya adalah mantel yang terdiri dari silikat, campuran silikon dan air. Mantel adalah lapisan tempat panas bumi berada. Panas ini berputar didalam mantel dan bisa menggerakkan crust (kerak bumi) sehingga terjadilah gempa. Kiamat terjadi di Bumi ketika sistem gravitasi yang ada menjadi kacau oleh aliran panas bumi di lapisan mantel. Saat itulah muncul pergerakan lempeng bumi yang ditandai dengan terjadinya gempa. Saat terjadi gempa, orang akan sangat sulit sekali berjalan, hal ini disebabkan pada saat terjadinya gempa sebenarnya gravitasi tidak lagi seragam di daerah gempa. Sedangkan dalam kondisi normal, gravitasi dalam kondisi seragam di setiap permukaan bumi. Pengaruh gaya gravitasi ini memang sangat besar, sehingga bila terjadi gempa dengan skala yang luar biasa, maka efek yang dihasilkan akan sangat besar pula.

Dengan skenario kiamat bumi seperti itu gunung pun bisa tercungkil atau dengan kata lain, terangkat dan terbalik.
Mengenai waktu tepatnya kapan kiamat terjadi hanya Allah yang tahu. Hanya saja Allah juga telah memerintahkan dan membuka pintu seluas-luasnya bagi manusia untuk belajar dan mencari tahu tentang misteri alam semesta. Apalagi Allah maha pemurah, maha pengasih, maha memberi, pastilah sinyal-sinyal tentang kiamat akan disampaikan. Bagi manusia yang telah diberi kepakaan tertentu, akan merasakan dan melihat sinyal-sinyal gaib tersebut.

Kiamat Kedua
Setelah kiamat di Bumi, skenario berikutnya yang dijelaskan secara fisika adalah kiamat tata surya. Hal ini terjadi karena ukuran Matahari yang semakin membesar “memakan” planet-planet di dekatnya seperti Merkurius, Venus dan Bumi. Fenomena ini yang disebut tadi sebagai Red Giant. Dan prosesnya tidak lama, mungkin sekitar 3 menit.
Matahari yang tergolong dalam keluarga bintang dapat membesar ketika bahan bakarnya, yaitu Hidrogen habis. Bahan bakar itu dibutuhkan untuk melakukan reaksi fusi nuklir yang menghasilkan cahaya dan atom-atom berat. Dan Hidrogen itu jumlahnya terbatas di permukaan matahari. Saat Hidrogen habis, inti matahari mengecil dan terus mengecil dan kian masif bentuknya. Sementara bagian terluar matahari yang lebih bersifat loose akan terus membesar sehingga menjadi Red Giant.

Apabila perkembangannya mencapai titik maksimal, maka matahari akan meledak dan terjadilah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Supernova. Bagian-bagian yang terbuang akan mejadi debu – debu kosmik, cikal bakal bintang dan planet yang baru.

Debu – debu kosmik tersebut akan berkumpul dan membentuk awan molekul raksasa. Awan raksasa berputar sehingga bagian pusatnya membentuk bola (Nebula). Perputaran yang semakin cepat akan mengakibatkan bagian pusat semakin solid dan bagian luar terlempar. Bagian dalam inilah yang akan membentuk bintang dan bagian terluar akan membentuk gugusan planet.

Fenomena ini tentu akan mebangkitkan sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. yaitu kiamat ini sebenarnya tidak berbeda dengan penciptaan, karena kiamat justru akan membawa penciptaan. Setelah terjadinya penghancuran maka akan lahir sistem baru, seperti hal nya ketika matahari baru saja kehabisan bahan bakar kemudian meledak dan tata surya menjadi runtuh maka setelah itu akan terbentuk sistem bintang dan planet baru, terlihat seperti suatu siklus.

Menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.

Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik. Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia. ”Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat mengalami gangguan yang berarti,” ujar Sri.
Langkah antisipatif

Dari Matahari, miliaran partikel elektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam waktu empat hari, Dampak dari serbuan partikel elektron itu di kutub magnet Bumi berlangsung selama beberapa hari. Selama waktu itu dapat dilakukan langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Dalam mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, Lapan tengah membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini beroperasi penuh sejak Januari 2009.

Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu Dephankam, TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Saat ini pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio. PLN agar melakukan langkah antisipatif dengan melakukan pemadaman sistem kelistrikan agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Untuk itu, sosialisasi harus dilakukan pada masyarakat bila langkah itu akan diambil. Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai sistem navigasi disarankan menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.

Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa, dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati ionosfer sehingga menimbulkan delai propagasi pada sinyal GPS. Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tak berfungsi lagi. Saat ini Lapan telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi untuk menghadapi gangguan tersebut untuk komunikasi radio HF.

Yang pasti, manusia masih sangat kesulitan untuk dalam menyingkap tabir datangnya hari kiamat . Apalagi Allah telah berfirman

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaaha, 15)

Beberapa hadis nabi tntang tanda tanda hari kiamat akan segera datang adalah
1. Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari)
2. Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat (diambil Allah), kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)
3. Belum akan tiba kiamat sehingga merajalela ‘Alharju’. Para sahabat lalu bertanya, “Apa itu ‘Alharju’, ya Rasulullah?” Lalu beliau menjawab,”Pembunuhan… pembunuhan…” (HR. Ahmad)
4. Belum akan tiba kiamat melainkan matahari akan terbit dari Barat. Jika terbit dari Barat maka seluruh umat manusia akan beriman. Pada saat itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Saat akan tiba kiamat, jaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api. (HR. Attirmidzi) : Ini berarti rotasi bumi dipercepat

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

HAMZAH BIN ABDUL MUTHTHALIB Radhiallahu ‘Anhu

HAMZAH BIN ABDUL MUTHTHALIB Radhiallahu ‘Anhu
Jumat, 09 Oktober 09
Nasab dan Kedudukan Beliau
Beliau adalah seorang tokoh, pahlawan, singa Allah, Abu Umarah, Abu Ya’la Al-Qurasyi, Al-Hasyimi, Al Makki, kemudian Al Madani, Al Badri, dan Asy Syahid.
Beliau adalah paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saudara sesusuan Nabi.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah terlindungi dan Hamzah akan melindunginya. Oleh karena itu, mereka menghentikan penyiksaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiallahu ‘anhu
Hamzah bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu masuk Islam di akhir tahun keenam dari nubuwah (kenabian). Menurut pendapat mayoritas ulama, beliau masuk Islam pada bulan Dzul Hijjah.
Diantara sebab keislaman beliau adalah karena suatu hari Abu Jahal melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala di Shafa, lalu dia mencaci maki dan melecehkan beliau, namun beliau hanya diam saja. Kemudian dia memukul kepala beliau dengan menggunakan batu hingga luka dan darah pun mengalir dari luka itu. Kemudian dia berbalik menuju kumpulan orang-orang Quraisy di dekat Ka’bah dan mengobrol bersama mereka.
Seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jad’an yang berada di sana melihat apa yang dilakukan Abu Jahal terhadap beliau. sementara Hamzah yang baru pulang dari berburu sambil menenteng busurnya, lewat di sana. Maka budak perempuan itu mengabarkan apa yang telah dilakukan Abu Jahal seperti yang dilihatnya.
Sebagai pemuda Quraisy yang paling terpandang dan menyadari harga dirinya, Hamzah langsung meradang. Dia beranjak pergi dan tidak berhenti menemui seorang pun, dengan satu tujuan mencari Abu Jahal. Jika sudah ketemu, dia akan menghajarnya. Tatkala sudah masuk masjid, dia berdiri di dekat kepala Abu Jahal lalu berkata, “Wahai orang yang berpantat kuning, apakah engkau berani mencela anak saudaraku, padahal aku berada di atas agamanya ?!” seketika itu dia memukul kepala Abu Jahal dengan tangkai busur hingga menimbulkan luka yang menganga. Orang-orang dari Bani Makhzum (kampung Abu Jahal) bangkit berdiri, begitu pula yang dilakukan orang-orang dari Bani Hasyim (kampung Hamzah).
Abu Jahal pun berkata, “Biarkan saja Abu Ammarah (Hamzah), karena memang aku telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang menyakitkan.
Riwayat-Riwayat Tentang Beliau
Abu Ishaq berkata: Diriwayatkan dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali, ia mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Panggilah Hamzah !” aku menjawab, “Siapa itu penunggang unta merah?” Hamzah berkata, “Dia adalah Utbah bin Rabi’ah.” Pada saat itu Hamzah berduel dengan Utbah lalu ia berhasil membunuhnya.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar wanita-wanita Anshar menangisi suami mereka yang meninggal, maka beliau bersabda, ‘Tetapi kenapa tidak ada yang menangisi Hamzah? Tiba-tiba wanita-wanita itu datang dan menangisi Hamzah hingga beliau bersabda, ‘Suruhlah agar mereka tidak menangisi lagi orang yang mati setelah ini.”
Diriwayatkan dari Jabir secara marfu’, dia berkata, “Hamzah adalah pemimpin para syuhada’, sosok yang berani menghadapi pemimpin yang zhalim, yakni dengan memerintah pemimpin itu, melarangnya hingga ia dibunuh.”
Kisah Terbunuhnya Hamzah dan Taubatnya Sang Pembunuh
Diriwayatkan dari Ja’far bin Amru bin Umayyah Adh-Dhamri, dia berkata, “Aku dan Ubaidullah bin Adi bin Al Khiyar pernah keluar untuk berperang pada zaman Mu’awiyah. Lalu kami melewati Himsh. Tiba-tiba ada Wahsyi di situ. Ibnu Adi lalu berkata, ‘Akankah kita bertanya kepada Wahsyi tentang cara dia membunuh Hamzah?’ setelah itu kami keluar menemuinya dan bertanya tentang hal itu. Dia kemudian berkata kepada kami, ‘Kalian berdua akan mendapatkan jawabannya di depan halamannya di atas tikarnya. Dulu dia seorang pemabuk walaupun sekarang kalian mendapatinya dalam keadaan sehat. Kalian juga akan bertemu dengan seorang pria Arab’.
Kami kemudian mendatanginya, dan ternyata dia orang tua berkulit hitam seperti burung gagak, berada di atas tikarnya. Dia berteriak. Lalu kami mengucapkan salam kepadanya. Dia mengangkat kepalanya kepada Ubaidullah bin Adi seraya berkata, ‘Demi Allah kamu adalah anak Adi, apakah kamu anak Al Khiyar?’ dia menjawab, ‘Ya’. Setelah itu dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihatmu sejak aku mencela ibumu, As-Sa’diyah, yang menyusuimu di Dzi Thuwa. Ketika itu dia berada di atas untanya, lalu tampaklah kedua kakimu’. Kami berkata, ‘Kami sebenarnya datang menemuimu agar engkau menceritakan kepada kami cara membunuh Hamzah’. Dia berkata, ‘Aku akan bercerita kepada kalian tentang apa yang pernah aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu aku menjadi budak Jubair bin Muth’im. Pamannya yang bernama Thu’aimah bin Adi terbunuh pada perang Badar. Lalu dia berkata kepadaku, “Jika kamu bisa membunuh Hamzah maka kamu merdeka”.
Aku mempunyai sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk melempar dan jarang sekali tidak mengenai sasaran. Lantas aku keluar bersama anggota pasukan lainnya. Ketika mereka sudah bertemu di medan perang, aku mengambil tombak dan keluar untuk mencari Hamzah hingga akhirnya aku menemukannya sedang berada di tengah kerumunan pasukan layaknya unta Auraq (yaitu unta yang berwarna antara debu dan hitam) menghantam musuh dengan pedangnya yang tajam hingga merenggut nyawa. Demi Allah, saat itu aku telah bersiap-siap membidiknya. Tiba-tiba Siba’ bin Abdul Uza Al Khuza’I mendahuluiku. Ketika dia dilihat oleh Hamzah, dia berkata, ‘Datanglah kepadaku wahai anak pemotong kemaluan wanita’. Kemudian dia dibunuh oleh Hamzah. Demi Allah, dia tidak meleset sedikit pun. Aku sama sekali belum pernah melihat sesuatu yang lebih cepat jatuhnya dari pada kepala Siba’.
Aku kemudian berusaha membidikkan tombakku, hingga ketika aku anggap sudah tepat, maka aku melepaskannya hingga akhirnya mengenai bagian bawah perutnya dan tembus sampai kedua kakinya. Hamzah pun jatuh dan menggelepar. Aku lantas membiarkan tombah itu tetap menancap, hingga ketika dia telah meninggal, aku mendekatinya dan aku mengambil kembali tombakku. Setelah itu aku kembali ke kamp,lalu duduk didalamnya, dan saat itu aku tidak lagi mempunyai kepentingan lain.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah, aku lari ke Tha’if. Ketika utusan Tha’if keluar untuk masuk Islam, seakan-akan bumi menjadi sempit bagiku. Aku berkata, ‘Larilah ke Syam atau Yaman atau negeri yang lain’. Demi Allah, pada saat itu aku kebingungan. Tiba-tiba seorang pria berkata, ‘Demi Allah, Muhammad tidak memerangi orang yang masuk ke dalam agamanya. Aku pun pergi hingga ke Madinah untuk menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lantas bersabda, “Kamu Wahsyi?” aku menjawab, “Benar”. Beliau bersabda, “Duduklah! Ceritakan kepadaku cara engkau membunuh Hamzah?”. Aku lalu menceritakan peristiwa tersebut, seperti yang aku ceritakan kepada kalian berdua. Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan perlihatkan wajahmu dihadapanku, aku tidak ingin melihat wajahmu”. Sejak itu aku menjauhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebisa mungkin hingga beliau meninggal dunia.
Ketika orang-orang Islam keluar memerangi Musailamah, aku ikut berperang bersama mereka dengan membawa tombak yang pernah digunakan untuk membunuh Hamzah. Ketika kedua kubu sudah bertemu, aku melihat Musailamah yang sedang menenteng pedang ditangan. Demi Allah aku tidak mengenalnya. Tiba-tiba ada seorang sahabat Anshor mendatanginya dari arah lain. Masing-masing kami bersiap-siap untuk menyerangnya, hingga ketika sudah merasa tepat membidiknya, aku langsung melemparkan tombak tersebut hingga mengenainya. Pria Anshor itu kemudian menimpalinya dengan hujaman pedang. Tuhan kamu lebih tahu siapa diantara kami yang yang membunuhnya. Jika aku yang membunuhnya, berarti aku telah membunuh orang yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku telah membunuh manusia yang paling buruk’.”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Ketika perang Uhud, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas Hamzah dan meratapinya seraya berkata, ‘Jika bukan karena Shafiyyah merasa kasihan kepadanya, aku sudah membiarkan jasadnya hingga Allah akan mengumpulkannya dari dalam perut binatang buas dan burung’. Jasadnya kemudian dikafani dengan selimut yang jika digunakan untuk menutupi bagian kepalanya maka kakinya akan terlihat dan jika bagian kakinya yang ditutup maka kepalanya yang terlihat. Dia tidak penah membaca shalawat atas salah seorang syuhada. Beliau lantas berkata, ‘Aku adalah saksi bagi kalian’. Jasad ketiga pahlawan tersebut kemudian dikubur bersama-sama dalam satu liang lahad. Lalu ada yang berkata, ‘Siapa diantara mereka yang lebih banyak membaca Al-Qur’an maka dia yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam liang lahad’. Setelah itu mereka dikafani dengan satu kain kafan.”
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abu waqqash, dia berkata, ‘Hamzah berperang pada waktu perang Uhud di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dua pedang, seraya berkata, ‘Aku adalah singa Allah’.”
Sumber :
• Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala’ I/179-182, edisi terjemah, cet. Pustaka Azzam.
• Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri. Hal 137-138 edisi teremah cet. Pustaka Al-Kautsar

KHUTBAH JUMAT : MENJADI MANUSIA BERUNTUNG


KHOTBAH JUMAT

MATERI
MENJADI MANUSIA BERUNTUNG

Masjid Al-Fajr
Bandung

SUMBER:
Berbagai sumber

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh :
H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA
https://arozakabuhasan.wordpress.com/
2012-05-04

KHOTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّهُمَّ صَلِّى عَلىَ مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحـْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102)
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
أَمَّا بَعْدُ؛
Kaum muslimin jamaah jumat masjid Al-Fajr rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, nikmat rezeki dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah itu Allah Swt. telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berada dalam kebersamaan untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia. Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak kecuali TAQWA.
Tidak ada pula derajat kemuliaan yang pantas disematkan kepada seseorang kecuali derajat ketaqwaan… Inna akramakum indallahi atqakum… Dengan taqwa kepada Allah inilah kita berupaya menjalani kehidupan sehari-hari kita.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Setiap kita, tahu, dan menyaksikan betapa pesatnya dan canggihnya perkembangan teknologi, seiring dengan lajunya zaman yang kian modern. Semua ini karena semakin hebatnya akselerasi pemikiran manusia dalam hal ilmu duniawi, akibatnya fenomena seperti ini memotivasi banyak orang, para petinggi bangsa untuk menerjunkan anak-anaknya berlaga di arena tandang modernisasi yang dikira akan dapat mengatasi persoalan hidup.

Hadirin semoga dirahmati Allah. Sebagai seorang muslim tentu kita merasa prihatin, mengingat pemikiran banyak manusia ini menyebabkan jauhnya dari agama, terbukanya pintu kejahatan dan kemaksiatan yang mengundang kemarahan dan kebencian Allah Swt. sebagai akibat tidak seimbangnya pengetahuan agama pada dirinya, sehingga seseorang tidak mendapat keberuntungan.

Beberapa firman Allah
10:17 12:23 23:1 23:117 28:82 30:38 62:10 87:14 91:9

10:17. … Sesungguhnya, Tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.
12:23. …. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
23:1 Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
23:117 … Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.
28:82… Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)”.
30:38 Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung.
62:10 10. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
87:14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
91:9 Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Kita mesti sadar bahwa syaithon adalah para fuqoha dalam bidang kejahatan, mereka selalu mengitimidasi kita dengan sesuatu yang menjadikan kita jauh dari Allah, jauh dari tuntunan agama.

Allah berfirman,
“Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqoroh: 268).

Begitu pula orang-orang kafir sebagai sekutu para syaithon itu, menarik perhatian kaum muslimin agar menyibukkan diri dengan gemerlapnya ilmu duniawi guna menjauhkan aqidahnya, akhlaqnya, moralnya dari petunjuk Allah.

Allah berfirman,
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS Al Baqoroh: 212).

Kita tidak boleh terlena dengan memandang sebelah mata kenyataan ini, agar kaum muslimin tahu bahwa tidak ada kemuliaan, tidak ada kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan berpegang teguh terhadap agama Allah, kembali padaNya, dan membela agamaNya.

Apa yang tengah kita rasakan dari semakin bejatnya moral, hilangnya kewibawaan bangsa, kehinaan serta eksploitasi orang-orang kuffar adalah dampak dari kurangnya perhatian ummat Islam sendiri terhadap agamanya. Keyakinan yang melemah dan terkikisnya semangat untuk membelanya. Kita hendaknya waspada untuk keselamatan diri kita.

Allah berfirman,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya-lah kamu minta pertolongan.” (QS An Nahl: 53).

Oleh karena itu hendaknya segenap kaum muslimin kembali memurni-kan akidah, membangun kembali kehidupan yang baru dengan kembali kepada Allah, mendalami agama Allah dan membelanya sehingga mendapatkan petunjuk dalam mengarungi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta dapat mengatasi setiap persoalan-persoalan dalam ridho-Nya. Jangan pernah kita berputus asa dari Petunjuk dan Hidayah Allah.

Allah berfirman,
“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? …” (QS Al An’aam: 122).
Cahaya di sini adalah cahaya wahyu (Al Qur’an), sedang gelap gulita adalah kebodohan, kekufuran, dan kesesatan. (Tafsir Al Qur’anul Azhim 2/183).
Allah juga berfirman,
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al Baqoroh: 269).

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Maasyiral muslimin rahimakumullah…

satu ayat yang semoga menjadi pelajaran dan bahan renungan bersama, yaitu sebagaimana Firman Allah (QS. Al-An`am : 6)

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا ءَاخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri…” (QS Al An’aam: 6).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita berdoa, memohon kepada Allah Swt. :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمِعِيْنَ

 Ya Allah peliharakan iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dalam setiap langkah kehidupan kami dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.
 Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.
 Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang dengan syukur itu Engkau tambah-tambah nikmat-Mu. Hindarkan kami dari sifat kufur, agar kami terhindar dari siksa Mu yang amat pedih.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ
 Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan.
 Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
 Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampunan.
 Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.
 Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki.
 Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangan.

بَارَكَ اللهُ فِى القُرآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَايَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ والذِّكرِ الحَكِيم, اِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيم فَاستَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم

Assalamualaikum Wr. Wb.

PEMIMPIN ITU PELAYAN


Pemimpin Itu Pelayan
http://www.ikadi.or.id/index.php?
Jumat, 13 April 2012 Admin
| Print |
SocButtons v1.4

Prof KH Achmad Satori Ismail

Yahya bin Aktsam berkata, “Pada suatu malam aku menginap di rumah Amirulmukminin al-Makmun. Aku terbangun di tengah malam karena rasa haus yang sangat, maka aku pun bangkit (mencari air). Tiba-tiba Amirulmukminin berkata, “Wahai Yahya, apa gerangan yang terjadi?” Aku menjawab, “Demi Allah, aku sangat haus wahai Amirulmukminin.”

Lalu, Khalifah Makmun bangun seraya membawa seteko air untukku. Aku berkata, “Wahai Amirulmukminin, mengapa tidak kau suruh pembantu atau budak saja?” Beliau menjawab, “Tidak.” Karena bapakku meriwayatkan hadis dari bapaknya dan dari kakeknya dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Hadis tersebut di atas terdapat juga dalam kitab Al-Mawahib al-Laduniyah karangan al-Qastholani dan Syarah Az-Zarqani, juz 4, hlm 117-118. Kendati hadis ini lemah sanadnya, dikuatkan oleh beberapa hadis lain yang hampir serupa dan juga isinya tidak bertentangan dengan jiwa ajaran Islam yang memerintahkan kita untuk memberikan jasa sebanyak mungkin kepada manusia.

“Amalan yang paling dicintai Allah setelah yang fardu adalah memasukkan kegembiraan di hati Muslim.” (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas).

Ibnu al-Mubarok meriwayatkan dari Abi Syureih bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kegembiraan pada hati Muslim, melapangkan kesedihannya, membayar utangnya, atau memberi makan untuk menghilangkan rasa laparnya.” (Syu’abul Iman lil Baihaqi).

Sebaik-baik manusia adalah yang paling berjasa kepada orang lain. Uwais al-Qarni berkata, “Dalam perjalananku pernah melewati seorang pendeta, lalu aku bertanya, ‘Apakah derajat pertama yang harus dilewati seorang murid (pencari jalan tazkiyatunnafs)?’ Dia menjawab, ‘Mengembalikan semua hak orang dan meringankan punggung dari beban karena amalan seorang hamba tidak akan naik saat masih banyak hal-hal yang membebani dan menyusahkan orang lain. Tugas utama penguasa sebagai pelayan rakyat terfokus dalam dua hal, yaitu hirosatuddin dan siyasatuddunya (melindungi agama mereka dan mengatur urusan dunia.’” (Al-Ahkam as-Sulthoniyah, juz I, hlm 3).

Pelayanan bidang pertama berupa menjamin setiap warga negara agar memahami ajaran agamanya masing-masing, mampu mengamalkannya dengan baik, dan melindungi agama mereka dari berbagai bentuk kesesatan. Sedangkan, siyasatuddunya berupa pelayanan terhadap rakyat agar bisa hidup layak sebagai manusia yang bermartabat.

Tuntutan inilah yang mendorong Umar bin Khattab RA sering berkeliling malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Saat ada yang mengeluh kekurangan pangan, ia menolongnya dan memanggul karung gandum sendiri.

Dalam kesempatan lain Umar pernah berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?”

Bila semua penguasa ataupun pemimpin di dunia menjadi pelayan rakyat atau anggotanya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, akan tegaklah keadilan dan umat manusia pun berada dalam kesejahteraan.

Sumber:Republika.

CARA MENGUBAH PERILAKU

Cara Mengubah Perilaku
Rabu, 07 Maret 2012 Admin
| Print |
SocButtons v1.4

Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail


Tugas utama Rasulullah SAW adalah mengubah umat manusia menjadi insan ‘abid, saleh, dan mushlih (mampu melakukan perbaikan). Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Alquran dan hadis, serta membina keterampilan umat (QS al-Jumuah: 2).

Beliau telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik sebagaimana disabdakan, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR Al Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at-Taubah: 100). Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab.

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup kita dalam kerangka ibadah kepada-Nya (lihat QS adz-Dariyat 56). Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam QS al-An’am ayat 162.

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada (HR Ahmad dan Turmudzi) dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan kita saat digoda iblis (QS al-A’raf 201).

Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam QS az-Zumar ayat 1 dan al-Bayyinah ayat 5. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.’’(HR Bukhari).

Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya seraya bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kamu sekalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘apakah syirik kecil itu?’ Beliau menjawab, ‘riya’.” (HR Ahmad).

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat.
Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kelima, Rasulullah mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.
Abu Abdurrrahman as-Sulami berkata, “Sahabat-sahabat Nabi yang membacakan Alquran kepada kami meriwayatkan bahwa mereka mempelajari 10 ayat dari Nabi dan belum mengambil 10 ayat yang lainnya sebelum memahami dan mengamalkannya. Lalu mereka berkata, “Kami mengetahui dulu ilmunya, lalu mengamalkannya.’’ ( HR Ahmad dan lainnya).

Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Ahzab:21 sebagai teladan beliau berada di atas akhlak yang agung (QS al-Qalam: 4).

Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.
Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plinplan lalu berkata, bila manusia baik, maka kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’(HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Beliau selalu berbicara dengan setiap orang sesuai dengan kondisi mukhothob.

Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu.
Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban untuk menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun menggambar agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah.

Sumber:Republika

KHUTBAH JUMAT : PEMIMPIN DAN KEPERCAYAAN


Pemimpin dan Kepercayaan
Senin, 30 April 2012 Admin
http://ikadi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=781:pemimpin-dan-kepercayaan&catid=41:tafakkur&Itemid=72
| Print |
SocButtons v1.4

Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA
Al-Imam al-Bukhary meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abdurrahman bin Samurah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
«يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا»
“Wahai Abdurrahman jangan meminta kepemimpinan (jabatan). Jika engkau mendapatkannya dengan meminta, engkau akan disandarkan kepadanya, tetapi jika engkau mendapatkannya tanpa meminta engkau akan dibantu
memikulnya.” (HR al-Bukhari)

Berdasarkan kepercayaan rakyatnya, pemimpin ada tiga macam: Yang pertama pemimpin yang sudah dipercaya sebelum memimpin, sehingga dia memimpin berkat kredibilitas yang sudah dimiliki tanpa direkayasa;
yang kedua pemimpin yang mengusahakan kepercayaan agar dapat memimpin;
yang ketiga pemimpin yang tidak peduli dengan kepercayaan rakyatnya.

Pemimpin Tirani
Jenis ketiga adalah pemimpin terburuk. Mungkin aneh bagaimana seseorang dapat memimpin tanpa mendapat kepercayaan? Pada kenyataannya sejarah banyak mencatat munculnya pemimpin model begini. Realitasnya bahkan ada bermacam bentuk untuk pemimpin tanpa modal kepercayaan:

Yang pertama adalah pemimpin bertangan besi, alih-alih meraih kepercayaan dan kepuasan rakyat mereka menjadikan rasa takut sebagai sandaran kekuasaan. Raja Nero dari Roma, Hitler, Mussolini, Stalin dan seterusnya adalah contoh-contoh pemimpin yang tidak peduli apakah rakyat percaya kepada mereka atau tidak. Ada yang lebih penting dari kepercayaan rakyat, yaitu doktrin besar yang mereka angkat, atau ambisi besar yang mereka inginkan.

Yang kedua adalah pemimpin yang selain bertangan besi, juga bersandar pada doktrin agama yang mengagungkan penguasa. Dalam al-Qur’an Fir’aun dan Namrudz adalah dua contoh yang paling sering disebut. Sejarah mencatat penguasa-penguasa tirani jenis ini banyak bermunculan terutama sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Mereka bahkan sering meminta perlakuan seperti Tuhan, ditaati secara mutlak, diyakini kekuataannya yang luar biasa, diagungkan dengan berbagai cara, dan kekuasaan yang abadi sampai mati. Dalam beberapa dinasti peradaban Mesir kuno diyakini oleh rakyatnya bahwa raja-raja Mesir adalah dewa-dewa.

Yang ketiga adalah pemimpin yang dipilih hanya berdasarkan doktrin. Pemimpin jenis ini muncul dalam sistem teokrasi di mana penguasa dianggap wakil Tuhan. Seperti penguasa-penguasa Romawi Barat pada Masa Kegelapan Eropa, yang merupakan pendeta-pendeta Gereja Katholik. Sampai sekarang Gereja Katholik masih meyakini kesakralan otoritas politik gereja, sehingga loyalitas penganut Katholik selalu mendua antara loyalitas kepada negaranya dan loyalitas kepada Vatikan.

Allah berfirman tentang mereka:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka (Ahlul Kitab) menjadikan rabb-rabbii dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” (QS at-Taubah: 32)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzy dan ath-Thabrany dari Adiy bin Hatim r.a, beliau adalah seorang sahabat Nabi yang sebelumnya beragama Nasrani. Beliau berkata, “Aku datang kepada Nabi Muhammad SAW, sedang di leherku ada salib dari emas.”

Nabi SAW bersabda, “Wahai Adiy buang berhala itu dari lehermu.”
Lalu kubuang salib itu. Sampai aku mendatangi beliau, pada saay beliau membaca surat Bara’ah (at-Taubah), sampai pada ayat: ““Mereka (Ahlul Kitab) menjadikan rabb-rabbii dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”[1] Sampai beliau selesai.
Aku berkata,“Kami tidak menyembah mereka.”

Beliau berkata. “Bukankah mereka mengharamkan yang Allah halalkan, dan menghalalkan yang Allah haramkan, lalu kalian mengikutinya?”
Aku berkata, “Benar.”
Beliau bersabda “Itulah bentuk penyembahan mereka.”

Mirip dengan teokrasi Katholik Roma, sistem politik Iran juga menjadikan doktrin agama sebagai sandaran kekuasaan. Pada awalnya ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak mengakui seorang pemimpin pun selain 12 imam keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib, tetapi setelah berabad-abad imam ke-12 tidak kunjung muncul, Khomeini memunculkan doktrin baru bernama Wilayatul Faqih. Khomeini mengatakan bahwa kepemimpinan imam bisa digantikan oleh kepemimpinan seorang faqih yang dipilih oleh ulama-ulama Syi’ah yang memiliki kapasitas tertentu yang dinamakan sebagai para “ayatullah.” Di Iran tak seorang pun boleh berpendapat beda dengan “Wali Faqih” yang menjadi pemimpin tertinggi negara itu. Siapapun yang berani menentang Wali Faqih minimal berhadapan dengan penjara, atau lebih buruk dari itu. Pada saat ini peran Wali Faqih tersebut dipegang oleh “Ayatullah” Ali Khamanei.

Dalam masalah loyalitas, para penganut madzhab Syi’ah Itsna Asyariyyah lebih tegas dari pada penganut Katholik, karena Vatikan biasanya tidak memiliki kebijakan politik praktis. Sedangkan penganut Syi’ah Ja’fariyyah atau Itsna Asyariyyah yang umumnya mengimani doktrin wilayatul faqih mereka selalu berpihak pada kepentingan dan sikap-sikap politik Iran. Sehingga mereka yang bukan warga negara Iran selalu menghadapi masalah dengan kepentingan politik lokal jika berseberangan dengan kepentingan politik Iran.
Dalam keyakinan Ahlus Sunnah masalah kepemimpinan bukanlah masalah aqidah yang ditentukan dengan wahyu.

Masalah kepemimpinan adalah pilihan manusia berkaitan dengan kapasitas dan kredilibilitas seseorang. Nabi Muhammad SAW tidak menentukan secara definitif siapa pemimpin umat Islam setelahnya. Kaidah dan pedoman dalam masalah ini adalah firman Allah tentang sifat orang-orang beriman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ
“… dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka..” (QS Syura : 38)

Islam hanya mengenal satu sumber Kebenaran Mutlak yaitu Allah SWT. Dan Allah hanya menjamin enam Kebenaran Mutlak dalam enam Rukun Iman. Tidak ada yang harus diimani secara mutlak di luar enam pondasi tersebut. Tidak ada yang berhak ditaati secara mutlak selain Sang Pencipta.
Diriwayatkan dalam as-Shahihain, bahwa Nabi Muhammad SAW mengutus sebuah pasukan dan memilih salah seorang dari mereka menjadi amir (pimpinan) mereka. Di dalam perjalanan terjadi perselisihan antara mereka. Lalu sang amir memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu menyalakannya. Sang amir memerintahkan semua anah buahnya untuk terjun ke dalam api yang mereka nyalakan. Seraya berkata, “Bukankah Nabi telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku?”
Mereka menjawab, “Iya.”
Sang Amir berkata,“Aku perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya!”
Sontak seluruh pasukan bingung. Sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya kita mengikuti Nabi agar selamat dari api (neraka), bagaimana mungkin kita sekarang harus masuk ke dalamnya?!”
Mereke terus berbeda pendapat, sampai api tersebut padam. Ketika mereka kembali kepada Rasulullah SAW dan mengadukan masalah mereka kepada beliau. Nabi SAW bersabda, “Jika mereka memasuki api tersebut, mereka tidak akan keluar dari situ.” Lalu Nabi Muhammad SAW mengajarkan prinsip ketaatan yang benar dengan sabdanya:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Ketaatan hanyalah wajib dalam hal kebaikan.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Pemimpin Kredibel
Itu semua tentang pemimpin yang tidak peduli tentang pentingnya kredibilitas dan rasa saling percaya antara pemimpin dan yang dipimpin. Sedangkan pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang kredibel dan terpercaya sebalum dia menjadi pemimpin. Di hadits Abdurrahman bin Samurah yang disebutkan diatas, Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar seorang muslim seyogyanya tidak meminta jabatan pemimpin.
Seseorang yang menginginkan jabatan kepemimpinan sebelum diberi amanah tersebut biasanya belum terlihat kapasitasnya, atau belum dirasakan urgensi pengangkatannya sebagai pemimpin. Karena manusia pada kondisi normal mesti mencari dan membutuhkan pemimpin yang layak. Siapa pun yang memiliki kemampuan dan kapasitas memimpin jika tampak dan muncul di tengah lingkungan yang memerlukan pemimpin secara otomatis akan dijadikan pemimpin.
Menemukan sosok pemimpin yang kredibel merupakan “fardlu kifayah” dan kewajiban kolektif yang mesti dilakukan komunitas manusia di mana pun dan kapan pun. Kesalahan dalam memilih pemimpin selalu berakibat fatal dan berbuntut panjang.
Pada kondisi normal masyarakat memilih orang yang paling kapabel dan kredibel untuk menjadi pemimpinnya. Tetapi sayangnya kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Sering terjadi masyarakat tertipu dengan rekayasa orang-orang yang menginginkan kekuasaan untuk kepentingan tertentu.

Pemimpin Populer
Pada saat kredibilitas tidak muncul secara alami, maka orang cenderung melihat popularitas seseorang. Tentu saja resiko kesalahan dalam memilih pemimpin dengan kriteria ini sangat besar. Karena yang populer belum tentu baik dan layak. Sejak Machiavelli mengarang kitab Il Principe (Sang Pangeran), dunia politik praktis semakin diwarnai orang-orang licik dan culas. Kejujuran dan moral menjadi barang sulit dan langka di dunia politik.
Tetapi hal itu bukan berarti kelicikan dan kepura-puraan menjadi kartu As dalam kancah politik praktis. Ketika masyarakat semakin berpendidikan dan berwawasan baik, semakin sulit rekayasa politik hipokrit dapat diterima.
Politik rekayasa dan manipulasi menjadi ampuh dalam dua model masyarakat; masyarakat polos dan lugu, atau masyarakat licik dan penuh kecurangan. Pada masyakat pertama, orang yang berpura-pura jujur dan baik dapat dengan mudah diterima. Pada jenis kedua senjata yang dipakai adalah permainan interes (kepentingan) dan serangan. Sedangkan masyarakat yang cerdas tetapi menjunjung tinggi moral, rekayasa dan manipulasi tidak ampuh untuk meraih kepercayaan mereka.
Adalah kewajiban umat Islam dan bangsa Indonesia untuk semakin menyehatkan dan mencerdaskan kehidupan politik jika tidak ingin bangsa ini luluh karena gagal memilih pemimpin yang sholeh yang dapat membawa mereka menuju masa depan yang lebih baik. HadanaLlahu wa iyyakum ajma’in. (fij)

________________________________________
[1]QS at-Taubah: 32

KHUTBAH JUMAT : JABATAN DAN AMANAT

Jabatan dan Amanat
Oleh Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA.
http://www.ikadi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=774

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّشَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مَنْ بَعَثَهُ اللهُ هَادِياً وَمُبَشِّراً وَنذِيرْاً ، وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُنِيرْاً. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: أَيّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)
Pada kesempatan mulia ini mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Mungkin di hari dan waktu lain kita cukup sulit untuk mengalokasikan waktu khusus dalam mengkondisikan keimanan kita, maka pada saat yang sangat mulia ini kita optimalkan waktu yang sebentar ini untuk kembali kepada Allah Swt, meningkatkan iman dan takwa kita.

Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Godaan maha besar berupa wanita, seorang istri seorang pejabat tinggi di Mesir yang mengajak berbuat tidak senonoh pernah dihadapkan kepada Nabi Yusuf As. Namun ketahanan mental dan kesucian jiwa beliau, disamping petunjuk serta perlindungan Allah Swt, akhirnya bisa selamat dari godaan itu. Allah Swt berfirman:

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦ‌ۖ وَهَمَّ بِہَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَـٰنَ رَبِّهِۦ‌ۚ ڪَذَٲلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَ‌ۚ إِنَّهُ ۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ (٢٤)

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf: 24).

Perlindungan Allah yang diterima Nabi Yusuf As tersebut, lantaran sifat dan sikapnya yang cenderung shalih dan taat akan hak-hak Ilahiah. Sikap dan sifat Yusuf As itu pula yang menghantarkannya kegerbang kemuliaan dirinya didunia dan akhirat. Firman Allah Swt:

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ ٱئۡتُونِى بِهِۦۤ أَسۡتَخۡلِصۡهُ لِنَفۡسِى‌ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ ۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٌ۬ (٥٤)

“Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku“. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.(QS. Yusuf: 54).

Kedudukan tinggi yang diberikan kepada Nabi Yusuf As adalah menteri keuangan. Beliau menjalankan tugasnya dengan dua modal kriteria, yaitu;pertama, hafidh (kecakapan menjaga), amanah, jujur dan dipercaya. Kedua, ‘alim (kemampuan intelektual), cerdik pandai, memiliki pengetahuan handal dalam menjalankan tugas-tugas.

قَالَ ٱجۡعَلۡنِى عَلَىٰ خَزَآٮِٕنِ ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ۬ (٥٥)

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.(QS. Yusuf: 55).

Dua sifat tersebut merupakan pilar penyangga kesuksesan dalam setiap pekerjaan Yusuf As. Perkataan beliau “jadikanlah aku bendaharawan negara“tidak lain dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan serta membantu mengatasi krisis yang melanda bangsa saat itu, disamping itu beliau memahami betul akan beratnya pangkat dan jabatan. Beliau memilih jabatan itu karena ketulusan hati dan kebersihan jiwa, bukan karena mencari popularitas diri atau menimbun kekayaan atau ambisi kekuasaan. Sebab ternyata dengan dua sifat itu, beliau mampu mengeluarkan negara dan bangsa dari krisis yang menyengsarakan. Lantaran itulah Allah tak segan-segan mamberikan kepadanya tamkin (posisi yang kuat) dalam sebuah pemerintahan. Firman Allah Swt:

وَكَذَٲلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلۡأَرۡضِ يَتَبَوَّأُ مِنۡہَا حَيۡثُ يَشَآءُ‌ۚ نُصِيبُ بِرَحۡمَتِنَا مَن نَّشَآءُ‌ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٥٦) وَلَأَجۡرُ ٱلۡأَخِرَةِ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ (٥٧)

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir ini. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala diakhirat itu lebik baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa.” (QS. Yusuf: 56-57).

Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Jabatan dalam pandangan Islam bukanlah kehormatan, melainkan mas’uliyah (tanggung jawab) dan mandat yang berarti butuh pengorbanan bukan mumpung-isme (manipulasi kesempatan). Sebab tugas adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, dihadapan Allah. Oleh karenanya setiap pemimpin ataupun pemegang amanat haruslah orang yang mempunyai dua sifat diatas; hafidzun dan ‘alim, yaitu sosok yang mampu menjaga kekayaan dan hasil bumi negara untuk kemaslahatan umat dan bangsa dan sekaligus mempunyai kemampuan memberdayakan secara proporsional SDA dan SDM yang dimiliki.

Dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 128, Allah menjelaskan tentang sifat kepemimpinan Rasulullah Saw yang merupakan prototype bagi setiap orang yang diembani amanat memimpin bangsa dan negara. Allah Swt berfirman:

لَقَدۡ جَآءَڪُمۡ رَسُولٌ۬ مِّنۡ أَنفُسِڪُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡڪُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (١٢٨)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Adapun sifat-sifat yang tersebut dalam ayat tadi adalah:

Pertama, ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum”, berat beban atas Rasul dari apa yang dirasakan umatnya. Beban yang dirasakan oleh rakyat hendaknya menjadi beban moral pemimpin bangsa sebagai rasa kepedulian yang mendalam terhadap berbagai permasalahan dan problematika bangsa. Ia senantiasa memikirkan nasib bangsa dan negara sebelum memikirkan diri, dan kelompoknya.

Kedua, “harisun ‘alaihim”, pemimpin yang menginginkan kebaikan bagi rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempunyai keinginan dan tekad yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, bukan sebaliknya, pemimpin yang memikirkan kemakmuran diri dan keluarga serta kroni-kroninya.

Ketiga, ”roufur rahim”, pemimpin yang santun dan kasih. Sifat rahmat (kasih sayang dan lemah lembut) hendaknya diwujudkan dalam sikap dan prilaku setiap muslim, sehingga seluruh alam bisa merasakan misi keislamannya. Setiap pemimpin pada level manapun, hendaknya berprilaku rahmat, kasih sayang, lemah lembut, baik pernyataan maupun sikapnya. Bukan sebaliknya, sikap dan pernyataannya membuat bingung, stres rakyat dan kontraproduktif.

Fenomena kekerasan, kerusuhan, keributan, baik di level elit politik maupun di level massa, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kriteria diatas. Sehingga umat tidak terombang-ambing dalam ketidakmenentuan dan ambisi pribadi.

Kita berdo’a semoga Allah tidak memberikan kepemimpinan kepada seorang yang tidak merasa takut kepada Allah dan tidak mengasihi kita,“Allahumma la tusallith ‘alaina man la yakhofuka wala yarhamuna”, Amiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: