KHUTBAH IDUL FITRI : MUHASABAH DI HARI YANG FITRI

KHUTBAH IDUL FITRI 1432H

MATERI

MUHASABAH DI HARI YANG FITRI

SUMBER:

Oleh: KH. ATHIAN ALI M.DA`I LC, MA

Masjid Al-Fajr
Bandung

Di edit ulang untuk Khutbah Idul Fitri 1432H

Oleh :

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA
https://arozakabuhasan.wordpress.com/
2011-08-31

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
إِنَّ الْحَمْدَ للَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، ونستغفره ونؤمن به ونتوكل عليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Allahu Akbar 9 x Walillahilhamd-
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.
Ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh dan sangat meletihkan, perjalanan yang mendaki, menurun, berliku dan penuh dengan berbagai rintangan. Di tengah perjalanan ia mencoba berhenti sejenak, duduk di bawah sebuah pohon yang rindang, untuk kemudian ia mencoba merenung dan bertanya pada dirinya sendiri: “Sudah berapa jauhkah perjalanan yang telah dilaluinya ? Dan masih berapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhnya ?” Yang terpenting bagi musafir tadi untuk ditanyakan kepada dirinya adalah: “Apakah selama ini ia telah menempuh jalan yang benar ataukah ia telah melangkah di jalan yang sesat ? Sehingga sebenarnya ia tidak akan pernah sampai kepada titik tujuan yang menjadi cita-citanya !

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia,
Bila saja tamsil musafir tadi kita coba ibaratkan ke dalam kehidupan kita, maka tidak ada salahnya, bahkan tepat sekali rasanya, bila di hari yang sangat mulia dan berbahagia ini, di tengah-tengah suasana hati dan lidah kita yang sejak semalam tidak mau berhenti dari bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir, kita mencoba merenung, bertafakkur dan bertadzakkur, dalam upaya untuk ber-“Muhasabah an nafs”. (mengintrospeksi diri) kita masing-masing: “Sudah berapa jauhkah perjalanan hidup yang telah kita lalui ? Dan masih berapa jauh lagi perjalanan hidup yang harus kita lalui ?

Namun yang paling penting kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah, sebagaimana yang ditanyakan musafir tersebut pada dirinya: “Apakah selama sekian tahun hidup di alam dunia ini, kita telah menempuhnya dengan jalan yang benar ? Atau, Na’udzubillah, kita telah menempuhnya dengan jalan yang sesat ? Sehingga apa yang menjadi “Hadaf Asasi” (titik tujuan terakhir) dari perjalanan hidup kita yaitu mencapai “Mardhatillah” (Ridha Allah SWT) masih harus kita pertanyakan kembali kepada diri kita masing-masing!

الله اكبر3 x الله اكبر ولله الحمد
Hamba-Hamba Allah Yang Berbahagia
Untuk melengkapi renungan kita di pagi hari ini, izinkanlah saya mengajak hadirin dalam renungan yang lain. Sekian belas tahun sekian puluh tahun yang lalu, kita telah sama-sama mengikrarkan dua kalimat syahadat :
“Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah”. Dua kalimat yang sangat pendek dan singkat sekali, untuk mengucapkan hanya memerlukan waktu beberapa detik saja. Dua kalimat yang paling pertama diperjuangkan Rasulullah Saw di dalam upaya beliau (lewat bimbingan wahyu Illahi) menghijrahkan manusia “Minaljahiliyyah ilal Islam” (dari alam jahiliyah ke alam Islam) “Minadz dzulumati ilan nuur” (dari kegelapan ke alam yang terang benderang) “Minadh dholaal ilal hudaa” (dari kesesatan ke dalam kehidupan penuh petunjuk), di mana selama tiga belas tahun (dari tempo risalah dua puluh tiga tahun), Rasulullah Saw berjuang di Makkah memekikkan dua kalimat syahadat ke telinga orang-orang kafir pada saat itu.

Namun sejarah kemudian mencatat, betapa selama “tiga belas” tahun Rasulullah Saw terbukti belum berhasil sepenuhnya membuat lidah kaum musyrikin Makkah mengucapkan dua kaliamat tersebut. Timbul mungkin pertanyaan di dalam benak kita masing-masing: “Mengapa begitu sulit orang-orang musyrik pada waktu itu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat ?” Padahal dua kalimat tersebut berbahasa Arab, bahasa mereka sendiri, yang bukan orang Arab saja paling hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk pandai mengucapkannya!
Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Namun yang menjadi masalah sebenarnya bukan hanya sekadar lidah mereka, tapi justru hati dan keyakinan merekalah yang berat untuk mengikrarkan dua kalimat tersebut. Sebab mereka memahami dan menyadari betul akan makna yang terkandung di balik dua kalimat tersebut. Mereka menyadari betul, bahwa pernyataan “Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan kecuali Allah) di samping mengandung pengertian “Laa ma’buuda illallah” (mengesakan Allah sebagai Zat satu-satunya yang berhak diibadahi) juga berarti “La hukma illallah” (mengesakan Allah dari segi hukum dan aturan yang ditetapkan-Nya).

Mereka menyadari sepenuhnya, bila dua kalimat tersebut diikrarkan, maka apa saja yang mereka Tuhankan saat itu harus dibuang jauh-jauh dari keyakinan mereka, untuk kemudian menggantinya dengan keyakinan hanya kepada Allah SWT. Mereka menyadari betul bila dua kalimat tersebut diikrarkan, itu berarti segala macam aturan hidup dan hukum yang sebelumnya mereka jalankan harus segera dicampakkan dari kehidupan, untuk kemudian menggantinya dengan aturan dan hukum yang datang dari Allah SWT. Inilah yang membuat baik lidah lebih-lebih hati mereka sangat berat untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,
Sebagai seorang mu’min tentunya kita meyakini, bahwa “dua” kalimat syahadat yang diikrarkan seorang sebagai pernyataan diri masuk Islam, mengundang konsekuensi bagi yang bersangkutan untuk “Aslama – Islam”, tanpa mengundang lagi akalnya untuk mempermasalahkan, mengapa sesuatu itu halal atau haram, sunnah atau wajib, kendati tidak menutup ruang bagi akalnya mencari hikmah di balik perintah dan larangan Allah SWT. Allah SWT telah mengingatkan kita akan hal ini di antaranya dalam firman-Nya :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah sesat dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahzaab: 36).

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan; “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur : 51).

Suatu hal yang penting digarisbawahi dalam hal ini, bahwa hukum-hukum Allah berkenaan dengan wajib dan haram, seperti wajibnya shalat dan haramnya zinah, riba dan sebagainya dari perkara yang tergolong ke dalam kategori dosa besar bagi yang melalaikan atau melakukannya. Demikian pula dengan hukum-hukum yang berkenaan dengan masaah perdata dan pidana, seperti nikah, thalak, waris, korupsi, membunuh dan sebagainya, yang telah ditetapkan Al Qur’an dan Sunnah dengan dalil-dalil qath’i, yang secara mudah dapat dipahami setiap orang. Maka pengingkaran terhadap seluruh atau sebagaian dari hukum-hukum tersebut berakibat kufurnya seseorang (QS. Al Baqarah : 85)

Maka di ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman itu hanyalah semata-mata mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa “sedikit pun” memiliki “keraguan” akan keimanan yang telah dinyatakan langsung lewat firman Allah SWT (Al Qur’an) maupun firman-Nya yang dibahasakan, dicontohkan dan diikrarkan Rasulullah Saw (As Sunnah).

Tidak cukup sekadar pengakuan saja, tapi ia pun siap membuktikan keimanannya dengan berupaya mencelup dirinya dengan nilai-nilai illahi, sampai pada tingkat kesiapan untuk mengorbankan yang termahal bagi dirinya, yakni harta dan jiwa raganya (QS. Al Hujuraat: 15).

Siapa pun tentunya tidak beralasan untuk meragukan keimanan iblis, dalam arti tidak mungkin mengkufuri keberadaan atau sampai salah dalam mengimani Zat Allah karena ia langsung berdialog dengan Allah SWT. Bahkan konon menurut Imam Al Ghazali dalam Minhaj Al ‘Aabidiin, sebelum dilaknat, iblis dan keturunannya sempat hidup dalam keimanan selama 80.000 tahun.

Allah SWT kemudian menyatakan gugurnya keimanan iblis dan melaknatnya hanya karena ia mengkufuri satu aturan Allah, yakni perintah-Nya agar sujud (hormat) kepada Adam (manusia), karena logika sesatnya menyatakan, kali ini Allah membuat aturan yang salah, semestinya manusia yang diciptakan dari tanah yang harus hormat kepadanya yang diciptakan dari bahan yang lebih mulia yakni api.

Jika Iblis dinyatakan gugur keimanannya dan dilaknat Allah SWT hanya karena mengkufuri satu aturan Allah SWT, maka bagaimana dengan mereka yang menyatakan beriman lalu mengkufuri sekian aturan Allah SWT ?

Secara implisit Al Qur’an mengkufurkan mereka yang walaupun sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat, namun “Kufur” (menolak) terhadap seluruh atau sebagian hukum Allah SWT, dan atau menolak melaksanakan hukum Allah SWT sedang mereka berwenang melaksanakannya (QS. Al Maa-idah ; 44). Namun bila seseorang tidak melaksanakan hukum Allah SWT di tengah-tengah keyakinannya akan hukum tersebut, maka ia tidak dapat dihukumkan kafir, tapi dihukumkan dzalim ( QS. Al Maa-idah : 45) atau fasik (QS. Al Maa-idah : 47).

Dihukumkan dengan dzalim, karena sikap dan perbuatannya tersebut bertentangan dengan keadilan. Sebab, tidak ada hukum yang dapat dijamin keadilannya oleh semua pihak dalam berbagai situasi dan kondisi sepanjang masa, kecuali hukum yang ditetapkan Al Khalik pencipta manusia, alam semesta dan segala isinya Yang Mahatahu apa yang maslahat bagi makhluk ciptaan-Nya. Sedang dihukumkan dengan fasik, karena sebagai makhluk ia telah menyimpang dari aturan Al Khalik, hal mana membuat dirinya keluar dari lingkaran ibadah dan ketataan kepada Allah SWT.
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.
Kini tiba giliran bagi kita untuk merenung dan bertanya kepada diri masing-masing: “Setelah sekian belas atau sekian puluh tahun kita mengikrarkan dua kalimat syahadat, apakah kita telah konsekuen mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai yang terkandung di balik dua kalimat tersebut ?” Rasa-rasanya kita memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat secara jujur menjawab pertanyaan tersebut. Dan sementara pertanyaan itu sendiri belum mampu kita jawab sejujur-jujurnya, idzinkanlah saya mengajak hadirin dalam renungan yang lain.

Kaum muslimin Rahimakumullah,
Setiap hari (baik di kala shalat maupun di luar shalat seperti juga di pagi hari ini) berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali lidah kita mengucapkan “Allahu Akbar”. Dengan kalimat ini kita berikrar, bahwa tidak ada yang patut kita “Akbar” (Agung) kan kecuali Allah, baik sederajat apalagi melebihi Allah SWT. Benarkah itu ? Tidakkah kita pernah meng-“Akbar”-kan akal dan hawa nafsu kita sendiri ? Sehingga kita sudah tidak merasa takut lagi dengan ancaman Allah karena melanggar aturan dan hukum-Nya, namun begitu sangat takut untuk melanggar aturan ciptaan akal kita sendiri !

Sebagai mu’min sepatutnya kita meyakini, bahwasanya konsekuensi keimanan kepada Allah SWT seharusnya mengantarkan kita mencintai Allah di atas cinta kita kepada dunia dengan segala isinya. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah” (QS.Al Baqarah 165) dan firman-Nya: “Katakanlah: “Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khwatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS. At Taubah : 24).

Ini berarti seorang mu’min hanya akan mencintai yang dicintai Allah SWT dan membenci semua yang dibenci Allah SWT. Ia hanya akan mencintai istri atau suami, orangtua atau anak, jika istri atau suami, orangtua atau anak patut untuk dicintai Allah SWT. Ia hanya akan berusaha memperoleh rezeki dengan cara yang dicintai Allah SWT dan ia siap kehilangan peluang memperoleh jabatan bila ia harus memperolehnya dengan jalan yang dibenci Allah SWT. Ia bahkan rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, perasaan, harta bahkan nyawanya demi Allah yang dicintainya! Mu’min seperti inilah yang benar-benar telah meng”Akbar”kan Allah.

Seandainya, sekali lagi andaikata yang terjadi kebalikan dari itu semua ! Seseorang siap menghalalkan yang diharamkan Allah demi memenuhi nafsunya, apakah itu tidak berarti yang bersangkutan telah meng-“Akbar”-kan hawanafsunya ? Jika demikian, di mana letak keserasian antara pernyataan “Allahu Akbar” yang senantiasa kita kumandangkan khususnya di saat shalat, dengan kenyataan hidup kita sehari-hari di luar shalat ?
Hamba-hamba Allah Yang Mulia
Di setiap shalat kita juga berikrar, “Hanya kepada-Mu ya Allah kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan”, Benarkah itu ? Benarkah kita tidak pernah mengabdi setiap detik dari kehidupan kita kecuali semata-mata hanya mengharap ridha Allah ? Dengan kata lain, setiap detik kita jalani kehidupan ini sesuai dengan syariat (jalan hidup) yang telah ditetapkan Allah SWT. Alangkah indahnya ikrar ini, mencerminkan bagaimana warna hidup seorang muslim yang sesungguhnya.

Hamba-hamba Allah Yang Mulia
Di setiap shalat kita juga berikrar, “Hanya kepada-Mu ya Allah kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan”, Benarkah itu ? Benarkah kita tidak pernah mengabdi setiap detik dari kehidupan kita kecuali semata-mata hanya mengharap ridha Allah ? Dengan kata lain, setiap detik kita jalani kehidupan ini sesuai dengan syariat (jalan hidup) yang telah ditetapkan Allah SWT. Alangkah indahnya ikrar ini, mencerminkan bagaimana warna hidup seorang muslim yang sesungguhnya. Hanya saja apakah sudah cocok ikrar tersebut dengan realita kehidupan kita sehari-hari ? Benarkah shalat dan segala bentuk ibadah selama ini benar-benar kita lakukan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah SWT ? Benarkah setiap detik dari kehidupan, baik dalam bentuk sikap, ucapan dan perbuatan, semuanya kita lakukan hanyalah “lillahi ta’ala ?”

Sebagai seorang suami, kita berjuang mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup istri dan sanak keluarga dengan cara yang halal. Dan selaku pimpinan tertinggi dalam rumah tangga, kita berjuang mewarnai kehidupan keluarga dengan “Ruh Al Islam” (nilai-nilai Islam) seirama dengan perintah Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka jahannam” (QS. At Tahrim : 6).

Sebagai seorang istri, kita penuhi kewajiban mendampingi suami, mendidik anak dan mengurus rumah tangga, ikhlas karena Allah SWT semata. Sebagai orangtua, kita bimbing putra-putri kita agar fitrah iman dan Islam yang mereka bawa sejak lahir tidak tercemari berbagai bentuk kesyirikan, kekufuran dan atau kemunafikan sebagai respon kita terhadap peringatan Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa kita selaku orangtua dapat menjadi penyebab utama berubahnya fitrah iman dan Islamnya putra-putri kita menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Yang karenanya di akhirat anti, seorang akan dituntut di hadapan Allah SWT, perihal tanggungjawabnya dalam mendidik putra-putrinya, sebelum ia dituntut dari tanggung jawabnya berbuat “Ihsan” (baik) terhadap kedua orangtuanya.

Sebagai seorang anak, kita mengabdi kepada Allah SWT dengan berbuat baik kepada kedua orangtua, karena kita sadar dan meyakini sepenuh hati peringatan Allah SWT lewat sabda Rasul-Nya : “Bahwasanya ridha Allah SWT kepada kita dalam menelusuri kehidupan di alam dunia yang fana ini dan di alam baqa nanti, barulah dapat kita capai di antaranya dengan ridhanya kedua orangtua, dan Allah SWT akan murka kepada kita oleh sebab murkanya kedua orangtua” (HR. Thabrani).

Sebagai seorang dosen atau guru kita mengajar. Sebagai seorang murid kita menutut ilmu. Sebagai seorang karyawan kita bekerja. Sebagai anggota masyarakat kita mengabdi. Sebagai pimpinan kita melaksanakan kewajiban-kewajiban kita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang “Marhamah” (sejahtera) dan “Baldatun thayyibah wa rabbun ghafuur” (Negara yang aman, damai dan sentausa dalam ridha Allah SWT) semua itu kita lakukan semata-mata ikhlas mencari ridha Allah SWT ! Benarkah itu semua hadirin ?

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia
Andaikata seluruh pertanyaan yang kita ajukan kepada diri kita masing-masing dalam renungan di pagi hari ini, kita jawab dengan “Benar”, maka Alhamdulillah, sebab dengan demikian cocoklah sudah antara ucapan yang kita ikrarkan dengan realita kehidupan kita sehari-hari. Namun, andaikata pertanyaan-pertanyaan tersebut terpaksa harus kita jawab secara jujur dengan: “Belum benar” atau bahkan “Tidak benar”, maka idzinkanlah saya mengingatkan diri sendiri, dan mudah-mudahan pula dapat menjadi “Tazkirah” (petingatan) bagi hadirin sekalian, akan peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya (lain yang di hati, lain yang diucapkan dan lain pula yang diperbuat). Betapa besarnya rasa benci dan murka Allah bilamana kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya” (Q.S. Ash Shaaf: 2-3)
الله اكبر3 x الله اكبر ولله الحمد
Hadirin Rahimakumullah
Pada akhir khutbah ini, idzinkanlah saya mengajak hadirin bermuhasabah dan bertafakkur. Kehidupan di alam dunia ini suatu saat akan berakhir, dengan memasuki fase ketiga dari empat fase yang telah, sedang dan akan kita jalani (Q.S. Al Baqarah, 2 : 28). Entah kapan saat itu terjadi, kita akan meninggalkan alam dunia yang fana ini menuju kehidupan di alam Barzah. Diawali saat sakratal maut dengan dibukanya hijab alam ghaib (Q.S. Qaaf, 50 : 22). Pada saat itu, masing-masing kita akan dijemput rombongan Malaikat. Jika calon almarhum seorang hamba Allah yang saleh, maka yang menjemputya rombongan Malaikat “Ath Thoyyibiin” yang datang dan menyapa calon almarhum dengan ucapan “Salaamun ‘alikum” (keselamatan atasmu) “udkhulul jannata bimaa kuntum ta’maluun” (kami datang untuk menjemput dan mengantarkan kamu sampai ke syurga nanti, oleh sebab amal perbuatan yang telah kau lakukan” (Intisari Q.S. An Nahl, 16 : 32).

Allahu Akbar ! Alangkah indahnya saat perpisahan ruh dan jasad seperti itu. Kebahagiaan seperti apalagi yang diharapkan seorang mu’min selain menggapai syurga dan berjumpa dengan “Kekasihnya” Allah SWT yang ia cintai di atas cinta dia kepada dunia dengan segala isinya. Ya Allah, sekiranya hamba dapat menjemput kematian dengan cara seperti itu, maka kapan pun juga hamba siap menghadap kehadirat-Mu. Karena hamba-Mu yang dho’if ini tidak mungkin siap menghadapi sakratul mautnya orang-orang kafir dan fasik yang digambarkan dengan turunnya rombongan Malaikat yang langsung menggelar siksa sakratul maut dengan memukul wajah dan punggung calon almarhum. Begitu tidak tertahannya siksa yang sangat dahsyat itu sehingga yang bersangkutan berkeinginan agar ruhnya segera terpisah dari jasad. Ia mengira dengan itu siksa yang teramat pedih itu akan berakhir. Padahal sebagaimana yang dinyatakan Malaikat padanya, siksaan sakratul maut tersebut hanyalah awal dari azab yang akan terus dialami di alam Barzah sampai Neraka Jahannam.(Al An’aam, 6 : 93; Al Anfaal, 8 : 50)

Allahu Akbar , Na’udzu billah min dzaalik. Ya Allah, jangan biarkan hamba mengakhiri hidup di dunia dengan “Su-ul khaatimah” seperti itu. Bimbinglah hamba dengan nur hidayah-Mu agar hamba-Mu ini dapat mengakhiri hidup ini kelak dengan “Husnul Khaatimah”.
Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah SWT

Akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang Rahman dan Rahim :

Posted on 9 Agustus 2012, in KHUTBAH IDUL FITRI-IDUL QURBAN-GERHANA, KHUTBAH JUMAT, SITUSARA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: