Ibnu Daqiq Al-’ied Rahimahullah, Pensyarah ‘umadatul Ahkam (wafat 702 H)

Ibnu Daqiq Al-’ied Rahimahullah, Pensyarah ‘umadatul Ahkam (wafat 702 H)

Nama:
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha’idi al-Maliki asy-Syafi’i, banyak menulis kitab dan dia juga pensyarah (pemberi keterangan) Arbai’in Nawawi.
Kelahirannya:
Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625, dekat Yanbu’, Hijaz.

guru-gurunya:
Ia mendengar hadits dari Ibnul Muqir, akan tetapi ia ragu mengenai cara pengambilan ilmu/hadits tersebut. Ia menyampaikan (hadits) dari Ibnu al-Jumaizi, Sabth as-Salafi, al-Hafizh Zakiyuddin, dan sejumlah kalangan. Sementara di Damaskus dari Ibnu Abdid Da’im dan Abul Baqa’ Khalid bin Yusuf.
Murid-muridnya:

Di antara murid-muridnya adalah Qadhi ‘Alauddin al-Qaunawi, Qadhi ‘Ilmuddin bin al-Akhna’i, al-Hafizh Quthbuddin al-Halabi dan sekelompok ulama lain selain mereka, dan beliau banyak mencetak ulama.
Karya Tulisnya:
Ia menulis Syarh al-Umdah, kitab al-Ilmam, mengerjakan al-Imam fi al-Ahkam, yang seandainya selesai tulisannya niscaya mencapai 15 jilid, dan beliau juga berkarya dalam kitab-kitab mengenai ilmu-ilmu hadits.

Kedudukan llmiahnya:
Ia salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa bergadang (untuk shalat malam atau menelaah ilmu), senantiasa dalam kesibukan, tenang, berwibawa lagi wara’. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.

Ia memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai ushul dan ma’qul, serta ahli mengenai ilat-ilat manqul (hadits). Menjabat sebagai qadhi di negeri Mesir beberapa tahun hingga meninggal dunia. beliau sangat berhati-hati dalam masalah bersuci dan air.

Al-Hafizh Quthbuddin mengatakan, “Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya, dan termasuk orang yang tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan sejawatnya. Tahu mengenai dua madzhab, imam mengenai dua prinsip madzhab, hafidz dan seksama dalam hadits dan ilmu-ilmunya. Ia dijadikan perumpamaan mengenai hal itu. Ia adalah simbol (maskot) dalam hafalan, keseksamaan dan ketelitian, sangat besar rasa takutnya, senantiasa berdzikir, dan tidak tidur malam kecuali sedikit.

Ia menghabiskan sebagaian besar malamnya dengan bergadang, di antaranya untuk menelaah, membaca al-Qur’an, dzikir, dan tahajjud, sehingga hal tersebut menjadi kebiasaannya. Seluruh waktunya diisi dengan suatu yang berguna. Ia banyak belas kasih kepada orang-orang yang sibuk lagi banyak berbuat kebajikan kepada mereka.
Wafatnya:

Beliau rahimahullah wafat pada tahun 702 H di Kairo, dalam usia tujuh puluh tujuh tahun.
(Sumber: Biografi Ulama Ahli Sunnah, dikutip dari Tadzkiratul Huffazh dengan sedikit tambahan dari kitab lain. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

Posted on 18 Januari 2013, in BIOGRAFI - KISAH SAHABAT - ULAMA, LAIN-LAIN, SITUSARA, TOKOH and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d blogger menyukai ini: