Monthly Archives: May 2013

Para Ulama Ahlul Hadits

Advertisements

Said Bin Zaid Satu Dari Sepuluh Shahabat Yang Di Jamin Masuk Surga

Said Bin Zaid Satu Dari Sepuluh Shahabat Yang Di Jamin Masuk Surga

sahabatnabiNama, nasab dan kelahirannya

Said bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qotha bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai. Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’ab bin Luai. Dia mempunyai nama julukan yaitu Abu A’war, dia termasuk dari orang-orang muhajirin (yang berhijrah pertama kali). Beliau di lahirkan di Makkah pada tahun 22 sebelum hijrah.

Sekelumit kisah ayahanda beliau

Ayahandanya bernama Zaid bin Amr, seorang yang berjalan diatas kelurusan fitrah yang Allah telah tetapkan atasnya. Dia menjauhkan diri dari berbagai peribadahan kepada berhala, ini terjadi sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Fitrahnya yang lurus itu mendorongnya untuk mencari agama yang benar, Diapun pergi ke Negri Syam mencari agama yang lurus tersebut. Di sana dia mendapati agama Yahudi dan Nashrani, akan tetapi ia membenci kedua agama itu, dan mengatakan: “Ya Allah sesungguhnya aku berada di atas agama Ibrahim” Namun ia tidak menemukan ajaran Ibrahim sebagaimana mestinya, dan tidak ada seorangpun yang mengajarinya tentang syariat Ibrahim.

Diriwayatkan dari Asma’ bin Abi Bakar radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku melihat Zaid bin Amr bin Nufail berdiri dan menyandarkan punggungnya ke Ka’bah dan berkata: “Wahai penduduk Quraisy, tidak ada seorangpun dari kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku,..”.

Beliau mencela sesembelihan orang-orang Quraisy, beliau berkata: “Domba itu, Allah Ta’ala yang menciptakannya, yang untuknyalah Allah menurunkan hujan, menumbuhkan (rerumputan) di bumi, kemudian kalian menyembelihnya dengan menyebut selain namaNya (Allah)”.

Allah Ta’ala telah bersaksi melalui lisan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga manusia bahwa Zaid bin Amr beriman kapada nabi yang akan di utus kepada mereka yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di riwayatkan bahwa Zaid bin Amr berkata kepada ‘Amir bin Rabi’ah: “Jika umurmu panjang, maka sampaikan salamku kepadanya (nabi yang di utus nanti -red), aku merasa bahwa aku wahai ‘Amir, tidak sempat bertemu dengannya, jika engkau mendapatinya maka sampaikan salamku kepadanya”. Maka ‘Amir bercerita: “Ketika aku masuk Islam, maka akupun menceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentangnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, dan mendoakannya, kemudian berkata: “Sungguh aku melihatnya di surga..”.

Iman Ahmad meriwayatkan bahwa Sa’id bin Zaid berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya ayahku (Zaid) seperti yang engkau lihat dan engkau dengar tentangnya, seandainya ia bertemu denganmu tentunya dia akan beriman, apakah aku boleh memohonkan ampun baginya?, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ya, mohonkan ampunan baginya, sesungguhnya dia di bangkitkan sebagai satu umat”.

Zaid bin Amr bin Nufail wafat diatas kelurusan fitrah, dengan menganut agama Ibrahim.

Masuk islamnya Sa’id bin Amr

Beliau masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Darul Arqom, yang beliau jadikan maskas dakwah waktu itu, beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang pertama masuk islam, yaitu setelah tiga belas orang shahabat mendahuluinya. Keislaman beliau dengan perantaraan dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Keutamaan beliau

Tidak di ragukan lagi bahwa Sa’id bin Zaid adalah seorang shahabat yang mempunyai banyak keutamaan, dan diantara keutamaan beliau adalah:

1. Beliau termasuk orang yang pertama masuk islam, dan keislaman beliau sebelum keislaman Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma.

2. Beliau adalah termasuk sepuluh orang yang di berikan kabar gembira masuk surga. Imam at-Tirmizi meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ustman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman binAuf di surga, sa’ad bin Abi Waqas di surga, Sa,id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah di surga”.(Bab Manaqib Abdurrahman bin Auf az-Zahiri radhiyallahu ‘anhu).

3. Beliau mempunyai doa yang di kabulkan Allah Ta’ala, diriwayatkan bahwa Arwa binti Uwais menemui Marwan bin Hakam (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Madinah), dan mengadukan permasalahannya dengan Sa’id bin Zaid, dan mengatakan: “Dia(Sa’id) telah mendhalimiku, dan dia merampas hakku, (Sa’id adalah tetangga Urwah di daerah al-‘Aqiq), maka Sa’id berkata: “Apa?!, aku mendhalimi Arwa terhadap haknya!, demi Allah aku telah memberikan kepadanya enam ratus depa dari tanah milikiku, dan ini aku lakukan karena aku mendengar hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil dengan dhalim sejengkal tanah (milik orang lain -red), maka Allah akan pikulkan baginya tujuh lapis bumi pada hari kiamat”. Berdilah engkau wahai Arwa, dan ambilah (tanah) yang engkau akui bahwa itu milikmu”. maka Arwapun berdiri, dan dia masih menutupi kebenaran terhadap hak Sa’id, maka Sa’id berkata: “Ya Allah seandainya dia seorang yang dhalim, maka butakanlah matanya, dan bunuhlah ia pada tanah tersebut, dan jadikanlah kuburannya di sumurnya”. Maka tidak lama berselang waktu dari hari itu, butalah mata Urwah, kemudian dia berjalan di tanahnya tersebut, yang mana tanah itu tidak rata, maka iapun terjatuh ke dalam sumur, yang ia mati karenanya, dan sumur di jadikan sebagai kuburan baginya”.

4. Beliau adalah seorang shahabat yang mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wafat beliau

Para ahli sejarah berkata bahwa Sa’id bin Zaid wafat di daerah al-‘Aqiq, ia di mandikan oleh Sa’ad bin Abi Waqas, dan di shalatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum.

Amr bin Ali berkata: “Bahwa Sa’id wafat pada tahun 51 H, yang nama umur beliau ketika itu tujuh puluh tahunan lebih, beliau di kebumikan di Madinah, (pada saat akan di kuburkan -red) Sa,ad bin Abi Waqas dan Abdullah bin Umar masuk kedalam kuburnya”.

[Sumber: Diterjemahkan dan diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab Siyar A’lami Nubala jilid 1/124-143, kitab Siarus Salafis Shalihin jilid 1/242-248, dan Sunan Abi Daud]

Saad bin Amir al-Jumahi

Saad bin Amir al-Jumahi

http://myteam.eramuslim.com/indexx.php?view=_tokohbiografi-detail&id=3

Gambar

 

Saad bin Amir al-Jumahi memeluk Islam sebelum kejatuhan Khaibar iaitu pada bulan Safar, 7 Hijrah. Di kalangan sahabat namanya tidak terlalu menonjol. Namun begitu sejarah kehidupan Saad penuh dengan contoh teladan. Beberapa kejadian dalam kehidupan Saad dapat mengungkapkan mengenai ketinggian peribadinya. Dalam aspek kepimpinan adalah yang paling menonjol. Sebagai pemimpin umat beliau memiliki beberapa sifat yang terpuji.

 

 

Pertama, Saad tidak memandang jawatan sebagai harta perhiasan dunia yang perlu dikejar serta dibanggakan. Sewaktu Umar bin Khattab menjadi khalifah, Saad dilantik sebagai Gabenor Homs. Sejak awal lagi, dia keberatan untuk menerima perlantikan itu. Katanya kepada Amirul Mukminin, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah!”. Mendengar jawapan itu Umar berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak mahu melepaskan kamu! Apakah kamu hendak membebankan amanah dan khilafah di atas bahuku, kemudian kamu meninggalkan aku?”. Akhirnya dengan rasa berat dia menerima juga perlantikan itu.

 

 

Kedua, tanggungjawab terhadap amanah merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh Saad. Dengan itu dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin, termasuk kewangan. Dia beusaha pula mengendali serta menjelaskan sikapnya kepada isterinya. Sebaik saja perlantikan dibuat, Saad dan isterinya berangkat ke Kota Homs. Khalifah membekalkannya wang secukupnya serta keperluan hidupnya yang lain.

 

Suatu ketika apabila kedudukan Saad telah agak kukuh, isterinya mengemukakan satu permintaan. Dia ingin membeli pakaian, perabot rumah tangga menggunakan sebahagian harta yang dikumpulkan. Melihat keinginan isterinya itu, Saad berkata “Mahukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rancanganmu itu? Kita berada di satu negeri yang sangat pesat dengan urusan jual beli yang menguntungkan. Lebih baik kita serahkan harta kita sehingga keuntungan yang besar akan selalu kita perolehi!”.

 

 

Mendengar janji yang sangat menarik itu, isterinya menerima cadangan itu dan menyerahkan wang kepada Saad. Waktu terus berlalu. Setiap kali si isteri bertanya mengenai wang simpanannya, Saad menyatakan keadaannya baik dan berjalan lancar. Bahkan urusniaga dari sehari ke sehari semakin bertambah dan banyak keuntungan yang diperolehi. Kerana Saad selalu memberi jawapan demikian, pada satu hari isterinya bertanya kepada salah seorang sahabat yang mengetahui kedudukan hal yang sebenar. Setelah didesak, akhirnya sahabat itu memberitahu bahawa Saad telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah SWT.

 

 

Mendengar itu, berlinanglah air mata si isteri kerana Saad telah mengurangkan modal untuk ‘perniagaan’ tersebut dan dia tidak mungkin akan ‘mendapat semula’ wang itu. Melihatkan kekecewaan isterinya, Saad berkata, “Bukankah kamu tahu bahawa di dalam syurga itu terdapat banyak gadis cantik bermata jeli hingga seandainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi ini maka akan terang benderanglah seluruh permukaannya dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar  matahari dan bulan. Oleh itu mengorbankan dirimu demi mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka untuk mendapatkan dirimu”.

 

 

Ketiga, Saad bukanlah jenis pegawai yang menafkahkan hartanya sekadar sebagai simbolik sedangkan sebenarnya dia berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Pengorbanannya sebagai seorang pemimpin begitu besar dan harga dirinya begitu tinggi sehingga Umar sendiri pun terkejut mendengar mengenai kehidupan runah tangga Saad.

 

Suatu ketika Umar mengirim wakil ke Homs untuk meninjau keadaan pemerintahan di sana. Ketika wakil itu kembali ke Madinah, Umar meminta senarai penduduk Homs yang tergolong dalam kategori fakir miskin. Sewaktu Umar meneliti laporan itu, dia ternampak nama Saad dimasukkan sebagai orang yang perlu mendapat bantuan kerana kemiskinannya. Umar bertanya kepada wakil itu, “Betulkah gabenor kamu ini miskin?”. Jawab mereka, “Benar, ya Amirul Mukminin. Demi Allah di rumahnya selalu tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)!”.

 

 

Mendengar jawapan itu, menitislah air mata Umar. Dia menyuruh wakilnya menyerahkan uncang berisi wang untuk bekal kehidupan Saad. Sewaktu menerima kiriman daripada Umar itu, Saad mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!”. Dia terus memanggil isterinya dan mengarahkannya supaya membahagikan wang itu kepada fakir miskin.

 

 

Keempat, Saad sentiasa bersifat berlapang dada terhadap pelbagai kritikan yang datang daripada rakyatnya. Sebenarnya memang sebelum kedatangan Saad pun, penduduk Homs sudah terkenal sebagai golongan yang banyak menuntut itu dan ini. Homs pada ketika itu dikenali sebagai Kuwaifah (Kufah kecil) kerana penduduknya yang mirip dengan orang Kufah, iaitu senang melapor kepada pemerintah pusat akan kelemahan yang dianggap ada pada gabenor mereka.

 

 

Suatu ketika Umar datang ke Homs. Kesempatan itu digunakannya untuk mendapatkan pandangan rakyatnya. Dalam satu majlis dia mempersilakan rakyat menyampaikan rasa tidak puas hati terhadap pemimpin mereka. Tanpa berselindung sedikit pun mereka mengemukakan empat rungutan kepada khalifah iaitu (1) gabenor baru keluar dari rumah setelah matahari tinggi, (2) tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari, (3) dalam sebulan ada sehari tidak datang ke pejabat sehari penuh dan (4) kadangkala gabenor jatuh pengsan di hadapan umum.

 

 

Umar menerima kritikan itu dan kemudian mempersilakan Saad mengajukan pembelaannya. Saad berkata, “Mengenai tuduhan mereka bahawa saya tidak hendak keluar sebelum matahari tinggi, maka demi Allah, sebetulnya saya tidak hendak menyebutkannya…keluarga kami tidak memiliki pembantu. Oleh itu setiap pagi terpaksa saya membantu membuat adunan roti terlebih dahulu untuk keluarga saya. Sesudah adunan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudian saya berwuduk untuk solat Dhuha. Sesudah itu saya berangkat ke tempat bertugas.”

 

Mengenai kritikan kedua, saya telah membahagi waktu saya. Siang hari untuk melayani masyarakat dan malam hari untuk bertaqarrub ilallah.

 

 

Mengenai kritikan ketiga, seperti yang telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pelayan atau pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ini. Saya mencucinya sebulan sekali. Bila mencucinya saya menunggu kering terlebih dahulu. Selepas itu barulah saya dapat pergi melayani masyarakat.

 

 

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, ‘Mahukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sihat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau oleh tusukan duri sekalipun…’

 

 

“Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar kerana takut akan siksa Allah dan saya berasa berdosa kerana pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT…!”

 

 

Saad mengakhiri kata-katanya dengan titisan air mata di kedua belah pipinya. Mendengar alasan Saad itu, Umar pun tidak dapat menahan rasa terharunya. Di peluknya gabenor itu sambil berkata, “Alhamdulillah kerana dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset”.

 

 

Sumber: http://www.haluan.org.my/v3/index.php/saad-bin-amir-al-jumahi.html

 

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: