Category Archives: EBOOK

HUKUM SHOLAT JUM’AT PADA HARI RAYA (IDUL FITRI /ADHA)

HUKUM SHOLAT JUM’AT PADA HARI RAYA (IDUL FITRI /ADHA)
Sumber : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=685&Itemid=47

Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi

1. Pendahuluan

Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada tahun ini (2009), Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2009. Di sinilah mungkin di antara kita ada yang bertanya, apakah sholat Jumat masih diwajibkan pada hari raya? Apakah kalau seseorang sudah sholat Ied berarti boleh tidak sholat Jumat? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu dengan melakukan penelusuran pendapat ulama, dalil-dalilnya, dan pentarjihan (mengambil yang terkuat) dari dalil-dalil tersebut.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Jumat yang jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa :

“Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih, bahwa shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jumat. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, gugur Jumatnya. Demikian menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, bagi penduduk kampung wajib shalat Jumat. Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Menurut ‘Atha`, zhuhur dan Jumat gugur bersama-sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.”

Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Disebutkannya bahwa,”Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat,”Jika berkumpul hari raya dan Jumat, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya….”

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa dalam masalah ini terdapat 4 (empat) pendapat :

Pertama, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.

Kedua, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.

Ketiga, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.

Keempat, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.

2. Pendapat Yang Rajih
Kami mendapatkan kesimpulan, bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, rahimahullah. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut:
Hukum Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

Hukum Kedua, bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut, lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat.

Hukum Ketiga, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib melaksanakan shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkan zhuhur.

Hukum Keempat, mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat, tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat.
Keterangan mengenai masing-masing hukum tersebut akan diuraikan pada poin berikutnya, Insya Allah.

2.1. Keterangan Hukum Pertama
Mengenai gugurnya kewajiban shalat Jumat bagi mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya, dalilnya adalah hadits-hadits Nabi SAW yang shahih, antara lain yang diriwayatkan dari Zayd bin Arqam RA bahwa dia berkata : “Nabi SAW melaksanakan shalat Ied (pada suatu hari Jumat) kemudian beliau memberikan rukhshah (kemudahan/keringanan) dalam shalat Jumat. Kemudian Nabi berkata,’Barangsiapa yang berkehendak (shalat Jumat), hendaklah dia shalat.” [Shallan nabiyyu shallallaahu ‘alayhi wa sallama al ‘iida tsumma rakhkhasha fil jumu’ati tsumma qaala man syaa-a an yushalliya falyushalli] (HR. Al Khamsah, kecuali At Tirmidzi. Hadits ini menurut Ibnu Khuzaimah, shahih).

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah RA bahwa Nabi SAW bersabda : “Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa berkehendak (shalat hari raya), cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat.” [Qad ijtama’a fii yawmikum haadza ‘iidaani, fa man syaa-a ajza-a-hu minal jumu’ati, wa innaa mujammi’uun] (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim juga meriwayatkan hadits ini dari sanad Abu Shalih, dan dalam isnadnya terdapat Baqiyah bin Walid, yang diperselisihkan ulama. Imam Ad Daruquthni menilai, hadits ini shahih. Ulama hadits lain menilainya hadits mursal).

Hadits-hadits ini merupakan dalil bahwa shalat Jumat setelah shalat hari raya, menjadi rukhshah. Yakni, maksudnya shalat Jumat boleh dikerjakan dan boleh tidak. Pada hadits Zayd bin Arqam di atas (hadits pertama) Nabi SAW bersabda “tsumma rakhkhasha fi al jumu’ati” (kemudian Nabi memberikan rukhshash dalam [shalat] Jumat). Ini menunjukkan bahwa setelah shalat hari raya ditunaikan, shalat hari raya menjadi rukhshah (kemudahan/keringanan).

Menurut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, rukhshah adalah hukum yang disyariatkan untuk meringankan hukum azimah (hukum asal) karena adanya suatu udzur (halangan), disertai tetapnya hukum azimah namun hamba tidak diharuskan mengerjakan rukshshah itu.

Jadi shalat Jumat pada saat hari raya, menjadi rukhshah, karena terdapat udzur berupa pelaksanaan shalat hari raya. Namun karena rukhshah itu tidak menghilangkan azimah sama sekali, maka shalat Jumat masih tetap disyariatkan, sehingga boleh dikerjakan dan boleh pula tidak dikerjakan. Hal ini diperkuat dan diperjelas dengan sabda Nabi dalam kelanjutan hadits Zayd bin Arqam di atas “man syaa-a an yushalliya falyushalli” (barangsiapa yang berkehendak [shalat Jumat], hendaklah dia shalat). Ini adalah manthuq (ungkapan tersurat) hadits. Mafhum mukhalafah (ungkapan tersirat) dari hadits itu -dalam hal ini berupa mafhum syarat, karena ada lafazh “man” sebagai syarat- adalah “barangsiapa yang tidak berkehendak shalat Jumat, maka tidak perlu shalat Jumat.”

Kesimpulannya, orang yang telah menjalankan shalat hari raya, gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh menunaikan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

Mungkin ada pertanyaan, apakah gugurnya shalat Jumat ini hanya untuk penduduk kampung/desa (ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah) –yang di tempat mereka tidak diselenggarakan shalat Jumat– sedang bagi penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) —-yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat– tetap wajib shalat Jumat ?

Yang lebih tepat menurut kami, gugurnya kewajiban shalat Jumat ini berlaku secara umum, baik untuk penduduk kampung/desa maupun penduduk kota. Yang demikian itu karena nash-nash hadits di atas bersifat umum, yaitu dengan adanya lafahz “man” (barangsiapa/siapa saja) yang mengandung arti umum, baik ia penduduk kampung maupun penduduk kota. Dan lafazh umum tetap dalam keumumannya selama tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan (takhsis) keumumannya, maka tetaplah lafazh “man” dalam hadits-hadits di atas berlaku secara umum.

2.2. Keterangan Hukum Kedua
Bagi mereka yang sudah shalat hari raya, mana yang lebih utama (afdhal), menunaikan shalat Jumat ataukah meninggalkannya ? Pada dasarnya, antara azimah (hukum asal) dan rukhshah kedudukannya setara, tak ada yang lebih utama daripada yang lain, kecuali terdapat nash yang menjelaskan keutamaan salah satunya, baik keutamaan azimah maupun rukhshah.

Namun dalam hal ini terdapat nash yang menunjukkan keutamaan shalat Jumat daripada meninggalkannya. Pada hadits Abu Hurayrah RA (hadits kedua) terdapat sabda Nabi “innaa mujammi’uun” (Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat). Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi SAW menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah, yakni boleh dikerjakan dan boleh tidak, akan tetapi Nabi Muhammad SAW faktanya tetap mengerjakan shalat Jumat. Hanya saja perbuatan Nabi SAW ini tidak wajib, sebab Nabi SAW sendiri telah membolehkan untuk tidak shalat Jumat. Jadi, perbuatan Nabi SAW itu sifatnya sunnah, tidak wajib.

2.3. Keterangan Hukum Ketiga
Jika orang yang sudah shalat hari raya memilih untuk meninggalkan shalat Jumat, wajibkah ia shalat zhuhur ? Jawabannya, dia wajib shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkannya.

Wajibnya shalat zhuhur itu, dikarenakan nash-nash hadits yang telah disebut di atas, hanya menggugurkan kewajiban shalat Jumat, tidak mencakup pengguguran kewajiban zhuhur. Padahal, kewajiban shalat zhuhur adalah kewajiban asal (al fadhu al ashli), sedang shalat Jumat adalah hukum pengganti (badal), bagi shalat zhuhur itu. Maka jika hukum pengganti (badal) -yaitu shalat Jumat- tidak dilaksanakan, kembalilah tuntutan syara’ kepada hukum asalnya, yaitu shalat zhuhur. Yang demikian itu adalah mengamalkan Istish-hab, yaitu kaidah hukum untuk menetapkan berlakunya hukum asal, selama tidak terdapat dalil yang mengecualikan atau mengubah berlakunya hukum asal.

Dengan demikian, jika seseorang sudah shalat hari raya lalu memilih untuk meninggalkan shalat Jumat, maka ia wajib melaksanakan shalat zhuhur.

2.4. Keterangan Hukum Keempat

Mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk tetap menunaikan shalat Jumat. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Dengan kata lain, rukhshah untuk meninggalkan shalat Jumat ini khusus untuk mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya. Mereka yang tidak melaksanakan shalat hari raya, tidak mendapat rukhshah, sehingga konsekuensinya tetap wajib hukumnya shalat Jumat.

Dalilnya adalah hadits Abu Hurayrah (hadits kedua) dimana Nabi SAW bersabda “fa man syaa-a, ajza-a-hu ‘anil jumu’ati” (Maka barangsiapa yang berkehendak [shalat hari raya], cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi). Ini adalah manthuq hadits. Mafhum mukhalafahnya, yakni orang yang tak melaksanakan shalat hari raya, ia tetap dituntut menjalankan shalat Jumat.

Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam ketika memberi syarah (penjelasan) terhadap hadits di atas berkata : “Hadits tersebut adalah dalil bahwa shalat Jumat -setelah ditunaikannya shalat hari raya– menjadi rukhshah. Boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Tetapi (rukhshah) itu khusus bagi orang yang menunaikan shalat Ied, tidak mencakup orang yang tidak menjalankan shalat Ied.”

Jadi, orang yang tidak melaksanakan shalat hari raya, tidak termasuk yang dikecualikan dari keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat. Yang dikecualikan dari keumuman nash itu adalah yang telah shalat hari raya. Maka dari itu, orang yang tidak shalat hari raya, wajib atasnya shalat Jumat.

3. Meninjau Pendapat Lain
3.1. Pendapat Imam Syafi’i

Pada dasarnya, Imam Syafii tetap mewajibkan shalat Jumat yang jatuh bertepatan pada hari raya. Namun beliau menetapkan kewajiban tersebut hanya berlaku bagi penduduk kota (ahlul madinah/ahlul amshaar). Adapun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi) yang datang ke kota untuk shalat Ied (dan shalat Jumat), sementara di tempatnya tidak diselenggarakan shalat Jumat, maka mereka boleh tidak mengerjakan shalat Jumat.

Sebenarnya Imam Syafi’i berpendapat seperti itu karena menurut beliau, hadits-hadits yang menerangkan gugurnya kewajiban shalat Jumat pada hari raya bukanlah hadits-hadits shahih. Sehingga beliau pun tidak mengamalkannya. Inilah dasar pendapat Imam Syafi’i. Menanggapi pendapat Imam Syafi’i tersebut, Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam berkata : “Asy Syafi’i dan segolongan ulama berpendapat bahwa shalat Jumat tidak menjadi rukhshah. Mereka berargumen bahwa dalil kewajiban shalat Jumat bersifat umum untuk semua hari (baik hari raya maupun bukan). Sedang apa yang disebut dalam hadits-hadits dan atsar-atsar (yang menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah) tidaklah cukup kuat untuk menjadi takhsis (pengecualian) kewajiban shalat Jumat, sebab sanad-sanad hadits itu telah diperselisihkan oleh ulama. Saya (Ash Shan’ani) berkata,’Hadits Zayd bin Arqam telah dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah…maka hadits tersebut dapat menjadi takhsis (pengecualian)…”

Dengan demikian, jelaslah bahwa Imam Syafi’i tidak menilai hadits Zayd bin Arqam tersebut sebagai hadits shahih, sehingga beliau tidak menjadikannya sebagai takhsis yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat. Beliau kemudian berpegang kepada keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat pada semua hari (QS Al Jumu’ah ayat 9), baik hari raya maupun bukan. Tapi, Imam Ash Shan’ani menyatakan, bahwa hadits Zayd bin Arqam adalah shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

Dalam hal ini patut kiranya ditegaskan, bahwa penolakan Imam Syafi’i terhadap hadits Zayd bin Arqam tidaklah mencegah kita untuk menerima hadits tersebut. Penolakan Imam Syafi’i terhadap hadits Zayd bin Arqam itu tidak berarti hadits tersebut –secara mutlak– tertolak (mardud). Sebab sudah menjadi suatu kewajaran dalam penilaian hadits, bahwa sebuah hadits bisa saja diterima oleh sebagian muhaddits, sedang muhaddits lain menolaknya. Dalam kaitan ini Imam Taqiyuddin An Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah Juz I berkata : “…(kita tidak boleh cepat-cepat menolak suatu hadits) hanya karena seorang ahli hadits tidak menerimanya, karena ada kemungkinan hadits itu diterima oleh ahli hadits yang lain. Kita juga tidak boleh menolak suatu hadits karena para ahli hadits menolaknya, karena ada kemungkinan hadits itu digunakan hujjah oleh para imam atau umumnya para fuqaha… ”

Maka dari itu, kendatipun hadits Zayd bin Arqam ditolak oleh Imam Syafi’i, tidak berarti kita tidak boleh menggunakan hadits tersebut sebagai dalil syar’i. Sebab faktanya ada ahli hadits lain yang menilainya sebagai hadits shahih, yakni Imam Ibnu Khuzaimah, sebagaimana penjelasan Imam Ash Shan’ani. Jadi, beristidlal dengan hadits Zayd bin Arqam tersebut tetap dibenarkan, sehingga hukum yang didasarkan pada hadits tersebut adalah tetap berstatus hukum syar’i.

3.2. Pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah
Imam Malik dan Abu Hanifah tetap mewajibkan shalat Jumat, baik bagi penduduk kota (ahlul madinah/ahlul amshaar), maupun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi). Ibnu Rusyd menjelaskan argumentasi kedua Imam tersebut : “Imam Malik dan Abu Hanifah berkata, ‘Shalat hari raya adalah sunnah, sedang shalat Jumat adalah fardhu, dan salah satunya tidak dapat menggantikan yang lainnya. Inilah yang menjadi prinsip asal (al ashlu) dalam masalah ini, kecuali jika terdapat ketetapan syara’, maka wajib merujuk kepadanya…”

Dari keterangan itu, nampak bahwa Imam Malik dan Abu Hanifah juga tidak menerima hadits-hadits yang menerangkan gugurnya shalat Jumat pada hari raya. Konsekuensinya, beliau berdua kemudian berpegang pada hukum asal masing-masing, yakni kesunnahan shalat Ied dan kewajiban shalat Jumat. Dasar pendapat mereka sebenarnya sama dengan pendapat Imam Syafi’i. Namun demikian, beliau berdua memberikan perkecualian, bahwa hukum asal tersebut dapat berubah, jika terdapat dalil syar’i yang menerangkannya.

Atas dasar itu, karena terdapat hadits Zayd bin Arqam (yang shahih menurut Ibnu Khuzaimah) atau hadits Abu Hurayrah RA (yang shahih menurut Ad Daruquthni), maka sesungguhnya hadits-hadits tersebut dapat menjadi takhsis hukum asal shalat Jumat, yakni yang semula wajib kemudian menjadi rukhshah (tidak wajib).

Dengan demikian, yang berlaku kemudian adalah hukum setelah ditakhsis, bukan hukum asalnya, yakni bahwa shalat Jumat itu menjadi rukhshah bagi mereka yang menunaikan shalat hari raya, dan statusnya menjadi tidak wajib. Inilah pendapat yang lebih tepat menurut kami.

3.3. Pendapat ‘Atha bin Abi Rabah
‘Atha bin Abi Rabbah berpendapat bahwa jika hari Jumat bertepatan dengan hari raya, maka shalat Jumat dan zhuhur gugur semuanya. Tidak wajib shalat apa pun pada hari itu setelah shalat hari raya melainkan shalat ‘Ashar.

Imam Ash’ani menjelaskan bahwa pendapat ‘Atha` tersebut didasarkan pada 3 (tiga) alasan, yaitu :
Pertama, berdasarkan perbuatan sahabat Ibnu Zubayr RA sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud, bahwasanya : “Dua hari raya (hari raya dan hari Jumat) telah berkumpul pada satu hari yang sama. Lalu dia (Ibnu Zubayr) mengumpulkan keduanya dan melakukan shalat untuk keduanya sebanyak dua rakaat pada pagi hari. Dia tidak menambah atas dua rakaat itu sampai dia mengerjakan shalat Ashar.” [‘Iidaani ijtama’aa fii yawmin waahidin, fajamma’ahumaa fashallahumaa rak’atayni bukratan lam yazid ‘alayhaa hattaa shallal ‘ashra]

Kedua, shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) pada hari Jumat, sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal) bagi shalat Jumat. Maka dari itu, jika hukum asal telah gugur, otomatis gugur pulalah hukum penggantinya.

Ketiga, yang zhahir dari hadits Zayd bin Arqam, bahwa Rasul SAW telah memberi rukhshah pada shalat Jumat. Namun Rasul SAW tidak memerintahkan untuk shalat zhuhur bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat.

Demikianlah alasan pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Imam Ash Shan’ani tidak menerima pendapat tersebut dan telah membantahnya. Menurut beliau, bahwa setelah shalat hari raya Ibnu Zubayr tidak keluar dari rumahnya untuk shalat Jumat di masjid, tidaklah dapat dipastikan bahwa Ibnu Zubayr tidak shalat zhuhur. Sebab ada kemungkinan (ihtimal) bahwa Ibnu Zubayr shalat zhuhur di rumahnya. Yang dapat dipastikan, kata Imam Ash Shan’ani, shalat yang tidak dikerjakan Ibnu Zubayr itu adalah shalat Jumat, bukannya shalat zhuhur.

Untuk alasan kedua dan ketiga, Imam Ash Shan’ani menerangkan bahwa tidaklah benar bahwa shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal). Yang benar, justru sebaliknya, yaitu shalat zhuhur adalah hukum asal, sedang shalat Jumat merupakan penggantinya. Sebab, kewajiban shalat zhuhur ditetapkan lebih dahulu daripada shalat Jumat. Shalat zhuhur ditetapkan kewajibannya pada malam Isra’ Mi’raj, sedang kewajiban shalat Jumat ditetapkan lebih belakangan waktunya (muta`akhkhir). Maka yang benar, shalat zhuhur adalah hukum asal, sedang shalat Jumat adalah penggantinya. Jadi jika shalat Jumat tidak dilaksanakan, maka wajiblah kembali pada hukum asal, yakni mengerjakan shalat zhuhur.

4. Kesimpulan
Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat, hukumnya adalah sebagai berikut :
Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya (Ied), gugurlah kewajiban shalat Jumat atasnya. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak. Namun, disunnahkan baginya tetap melaksanakan shalat Jumat.

Kedua, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib atasnya melaksanakan shalat zhuhur. Tidak boleh dia meninggalkan zhuhur.

Ketiga, adapun orang yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya shalat Jumat. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Tidak boleh pula dia melaksanakan shalat zhuhur.

Demikianlah hasil pentarjihan kami untuk masalah ini sesuai dalil-dalil syar’i yang ada. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh. Cetakan Kedua. Beirut : Darul Bayariq. 417 hal.

Ad Dimasyqi, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi’i. 1993. Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah). Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 554 hal.

Ash Shan’ani, Muhammad bin Ismail Al Kahlani. Tanpa Tahun. Subulus Salam. Juz II. Bandung : Maktabah Dahlan. 224 hal.

Ash Shiddieqi, T.M. Hasbi. 1981. Koleksi Hadits Hukum (Al Ahkamun Nabawiyah). Jilid IV. Cetakan Kedua. Bandung : PT. Alma’arif. 379 hal.

An Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah. Juz Ketiga (Ushul Fiqh). Cetakan Kedua. Al Quds : Min Mansyurat Hizb Al Tahrir. 492 hal.

———-. 1994. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah. Juz Pertama. Cetakan Keempat. Beirut : Darul Ummah. 407 hal.

Ibnu Khalil, ‘Atha`. 2000. Taisir Al Wushul Ila Al Ushul. Cetakan Ketiga. Beirut : Darul Ummah. 310 hal.

Ibnu Rusyd. 1995. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Juz I. Beirut : Daarul Fikr. 399 hal.

Raghib, Ali. 1991. Ahkamush Shalat. Cetakan Pertama. Beirut : Daar An Nahdhah Al Islamiyah.132 hal.

Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah). Jilid 2. Cetakan Ketujuhbelas. Terjemahan oleh Mahyuddin Syaf. Bandung : PT. Al Ma’arif. 229 hal

Syirbasyi, Ahmad. 1987. Himpunan Fatwa (Yas`alunaka fi Ad Din wa Al Hayah). Terjemahan oleh Husein Bahreisj. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 598 hal.
Last Updated ( Tuesday, 24 November 2009 )

< Pr

Advertisements

KHUTBAH JUMAT : IMAN MENURUT ALLAH

20121003-Iman-Syarat diterima suatu amalan
KHUTBAH JUMAT

MATERI

IMAN MENURUT ALLAH

SUMBER:
Bulletin Majelis Ta`lim
Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Edisi 7/THN IV/1427H/2006M
MARHABAN YAA RAMADHAN
Oleh KH. Athian Ali M. Da`i, MA

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah oleh :

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA
https://arozakabuhasan.wordpress.com/
2012-10-03

KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وِمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
اَشْهَدُ اَنْ لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّهُمَّ صَلِّى عَلىَ مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحـْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (3:102)
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 4:1
أَمَّا بَعْدُ؛
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang telah memberikan limpahan kenikmatan yang tidak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita; kenikmatan yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitung-hitungnya; Kita bersyukur atas segala Karunia-Nya terutama nikmat Iman, Nikmat Islam, nikmat Rezeki dan Kesehatan

Sholawat serta salam semoga Allah curahkan selalu kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., kepada keluarga dan sahabatnya serta kepada kita dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman., Amin Ya Robbal Alamin.

Jamaah sekalian Rohimakumullah
Bulan Ramadhan, bulan mulia yang penuh berkah semoga Allah memuliakan dan memberikan berkah kepada kita. Bulan Ramadhan bulan rahmat semoga Allah merahmati kita semua, dan Ramadhan sebagai bulan ampunan semoga PERMOHONAN AMPUNAN KITA Allah Swt. mengampuni kita semua.

Kita bersyukur kepada Allah bahwa kita semua masih diberikan kesempatan mengikuti peluang menjadi manusia yang predikatnya tertinggi dihadapan Allah Swt. yaitu muttaqin predikat menjadi manusia bertaqwa; semoga sisa Ramadhan menjadikan kita bertambah semangat, mengingat janji-janji atau pahala yang Allah berikan demikian banyak dalam bulan mulia penuh barokah ini.
Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Menjelang Ramadhan atau dalam suasana Ramadhan, kita selalu diingatkan oleh para khotib / da`i bahwa puasa / shiyam merupakan bulan Tarbiyah / pendidikan, bulan memperbanyak membaca dan mengkaji al-Qur’an, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh, bulan dimana segala amal kebajikan dilipatgandakan dan amal keburukan dan maksiat dimaafkan, bulan segala do’a dikabulkan, dan derajatnya ditinggikan yang diharapkan menjadikan dirinya bisa meraih predikat takwa dengan melaksanakan ibadah shaum/puasa. firman Allah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. 2 : 183)

Hadirin semoga dirahmati Allah.
Seruan ayat di atas dikhususkan atau ditujukan hanya bagi orang-orang beriman. Ini bermakna bahwa amal ibadah atau perbuatan tidak ada arti apa-apa jika dilakukan tidak berdasarkan iman. Betapapun mulianya amal perbuatan seseorang, kalau dilakukan tanpa dasar iman, tanpa niat semata-mata ingin mencapai ridha Allah, maka sia-sialah amalnya itu.

Seruan yang hanya ditujukan kepada orang-orang beriman ini, hendaknya bisa menjadi bahan renungan bagi kita, bahan renungan sepanjang tahun, sepanjang hayat dikandung badan; karena seseorang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jika tanpa landasan iman, maka amalan itu menjadi sia-sia artinya tidak akan diterima oleh Allah Swt.
Allah berfirman (QS An Nur 24:39),
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ
الظَّمْئَانُ مَآءً حَتَّى إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. … (Q.s. an Nur 24:39).
 Maksudnya bahwa orang-orang kafir , karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapat balasan dari Allah di akhirat, walaupun di dunia mereka nebgira akan mendapat balasan atas amal mereka itu.
 Kafir menurut kamus umum Bahasa Indonesia (Purwadarminta, Balai Pustaka 1976) = (orang yang) tidak percaya kepada Allah. Sedang Iman = yakin percaya kepada Allah, mis tidak bertentangan dengan ilmu, harus disertai dengan ihsan. ihsan = baik/kebaikan/perbuatan baik
Karena itu perintah dimaksud hanya untuk orang beriman saja, bukan kepada orang yang tidak percaya kepada Allah.
Betulkah seseorang termasuk beriman, Firman Allah QS Al Hujurat 49:14
 قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

14. orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat 49 : 14)

Ayat ini bermakna bahwa seseorang yang mengaku berimanitu, belum tentu beriman menurut Allah; apalagi bagi seseorang yang ucapannya, sikap dan perilakunya telah tampak jelas menunjukkan kekufuran dengan menolak sebagian kecil/besar aturan dan Hukum Allah.

Ciri orang-orang / seseorang yang beriman menurut Allah adalah (QS. 49:15)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat 49:15)

Cukup jelas kriteria beriman ini, hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita, karena seseorang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jika tanpa landasan iman, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah. Kita pada umumnya kecewa berat, apabila kita sudah bekerja keras, namun ternyata tidak memperoleh apa-apa dari kerja keras kita, begitu pula dalam ibadah seharusnya kita menghindari perbuatan sia-sia seperti ini.

Karenanya pengakuan keimanan seseorang perlu pembuktian, dimana dengan iman, dia siap melaksanakan aturan dan hukum Allah, baik yang berkaitan dengan Hablum Minallah maupun hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk Allah terutama dengan sesama manusia termasuk diantaranya mau menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Disamping itu kita diwajibkan pula untuk mencintai saudara-saudara kita seiman, seperti kita mencintai diri kita sendiri. Rasulullah Saw. Mengingatkan kita yang mengaku mu`min dengan menyatakan “tidak beriman”. Tidak beriman seseorang diantara kalian sampai dia bisa mencintai saudaranya sesama mu`min seperti cinta dia pada dirinya sendiri.  disini ada ukurannya yaitu sampai dia bisa mencintai saudaranya tadi seperti cinta dia pada dirinya sendiri.

Demikian pula Rasulullah Saw. mengingatkan kita (sabdanya) :
“Tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa (Islam), seseorang yang tidur dengan nyenyak (perut kenyang) sementara dia biarkan saudara-saudara yang lain tidak bisa tidur karena menahan lapar”. Subhanallah, demikian mulia ajaran Islam demikian agungnya Ahlakul karima Rasulullah Saw.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Maasyiral muslimin rahimakumullah…

Keimanan kita kepada Allah, cinta kita kepada Allah, menyebabkan kita hanya mencintai semua yang dicintai oleh Allah dan membenci semua yang dibenci oleh Allah termasuk membenci orang-orang yang memerangi orang-orang yang menegakkan aturan dan hukum Allah.

Bahwa amal ibadah atau perbuatan tidak ada arti apa-apa jika dilakukan tidak berdasarkan iman. Betapapun mulianya amal perbuatan seseorang, kalau dilakukan tanpa dasar iman, tanpa niat semata-mata ingin mencapai ridha Allah, maka sia-sialah amalnya itu.

Jama’ah Jum’at yang berbahagia, Demikianlah khutbah yang kami sampaikan. Semoga dapat mendorong kita untuk giat menuntut ilmu agama, kemudian istiqamah mengamalkannya. Dan semoga iman kita terus meningkat dan terpeliharah, menuju takwa kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, sampai kita menghadap-Nya dalam keadaan Islam.
Mari kita berdoa : اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah (kesalahan-kesalahan) kami.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Ya Allah, bantulah kami dalam berdzikir dan bersyukur serta beribadah kepada-Mu dengan baik, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ وَنَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَعُوْذُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ
Ya Allah, sesungguhnya kami memuji-Mu, meminta tolong kepada-Mu, dan memohon petunjuk dari-Mu, kami berlindung dan bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan segala kebaikan, kami bersyukur atas semua nikmat-Mu, kami tidak mengingkari-Mu, kami berlepas diri dari siapa pun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu shalat dan sujud kami, dan hanya kepada-Mu kami berusaha dan bergegas, kami sangat mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya azab-Mu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

رَبَّنَااغْفِرْلَنَاذُنُوْبَنَاوَاِسْرَافَنَافِى اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَاوَنْصُرْنَاعَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah Pendirian kami, tolong kami terhadap kaum kafir (Ali Imran 147)
رَبَّنَالاَتُزِغْ قُلُوْبَنَابَعْدَ اِذْهَدَ يْتَنَا وَهَبْ لَنَامِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَجَعَلْنَا لِلْمُتَّقِنَ اِمَامًا
رَبَّنآاَ اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الاخِرَةِحَسَنَةً وَقِنَاعَذَابَ النَّارِْ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

AMIN YA ROBBAL ALAMIN.

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ
وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu?

http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 1 dari 43 —
Mungkinkah
Syi’ah dan Sunnah Bersatu ?
Penulis:
Syaikh Muhibbuddin Al Khatiib
Alih Bahasa:
Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA
ð‹qþa@óà܎@ìic@òjnØß@
http:dear.to/abusalma
Pustaka Muslim
http://www.muslim.or.id
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 2 dari 43 —
Muqaddimah
الحم  د للهِ، وال  صلاُة وال  سلام على رسولِ اللهِ أما بعد:
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta Allah, shalawat dan
salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasul termulia, keluarga dan
seluruh sahabatnya. Wa Ba’du.
Seruan kepada taqriib (pendekatan) antara agama Syi’ah Imamiyyah
Itsna ‘Asyariyah dengan selain mereka dari kalangan Ahlusunnah, Zaidiyyah
dan Ibadiyyah yang gencar di kumandangkan pada tahun-tahun terakhir ini
telah menarik perhatian banyak orang untuk mengkaji permasalahan ini secara
ilmiah. Dan shohibul fadhilah, penulis besar Islam Sayyid Muhibbuddin Al
Khathiib telah melakukan pengkajian ini melalui buku-buku utama sekte Syi’ah
guna mencari sarana taqriib ini dalam buku-buku tersebut. Dan terbukti bagi
beliau bahwa terwujudnya taqriib adalah suatu hal yang mustahil. Hal ini
dikarenakan para penggagas agama Syi’ah tidak menyisakan satu sarana pun
untuk terjadinya taqriib tersebut. Mereka telah menegakkan agama Syi’ah di
atas pilar-pilar yang bertentangan dengan syari’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam dan yang diserukan oleh para sahabat beliau, serta agama terang
benderang nan bercahaya yang beliau wariskan, sehingga tiada orang yang
menyeleweng darinya melainkan orang yang benar-benar binasa.
Karena berbagai nukilan yang disebutkan dalam karya tulis ini
langsung diambil dari buku-buku utama sekte Imamiyyah Itsna ‘Asyariyah,
dengan disertai nomor halaman, serta penjelasan tentang edisi penerbitannya,
sehingga tidak mungkin ada orang yang dapat mengingkarinya, maka kami
merasa perlu untuk mempersembahkannya kepada seluruh manusia. Agar
hidup orang yang hidup di atas penjelasan dan binasa orang yang binasa di
atas penjelasan, dan hanya Allah lah yang menjadi pembela bagi orang-orang
yang telah mendapat petunjuk.
Jeddah, 14 Rajab 1380 H
Muhammad Nashif
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 3 dari 43 —
Mustahil Terjadinya Pendekatan Antara Islam dan Syi’ah
Prinsip-prinsip Dasar Ajaran Sekte Syi’ah Al Imamiyyah Mustahil
Terjadi Pendekatan Antaranya Dengan Prinsip-prinsip Islam Dengan Berbagai
Aliran dan Kelompoknya
Mendekatkan pemikiran, kepercayaan, metodologi dan tekad umat
Islam merupakan salah satu tujuan syariat Islam, dan termasuk salah satu
sarana bagi terwujudnya kekuatan, kebangkitan dan perbaikan mereka.
Sebagaimana hal itu merupakan kebaikan bagi tatanan masyarakat dan
persatuan umat Islam di setiap masa dan negara. Setiap seruan kepada
pendekatan semacam ini -bila benar-benar bersih dari berbagai kepentingan,
dan pada perinciannya tidak berdampak buruk yang lebih besar dibanding
kemaslahatan yang diharapkan- maka wajib hukumnya atas setiap muslim
untuk memenuhinya, serta bahu membahu bersama seluruh komponen umat
Islam guna mewujudkannya.
Beberapa tahun terakhir, seruan semacam ini ramai dibicarakan
orang. Kemudian berkembang hingga sebagian mereka terpengaruh
dengannya, hingga pengaruhnya sampai ke Universitas Al Azhar -suatu
lembaga pendidikan agama Islam paling terkenal dan terbesar yang dimiliki
oleh Ahlis Sunnah, yang menisbatkan dirinya kepada empat Mazhab Fikih
(yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Oleh karenanya Al Azhar
mengemban misi “pendekatan” tersebut dalam lingkup yang lebih luas daripada
misi yang ia emban dengan tak kenal lelah sejak masa Sholahuddin Al Ayyubi
hingga sekarang ini. Oleh karenanya Universitas Al Azhar keluar dari lingkup
tersebut kepada upaya mengenal berbagai Mazhab lainnya, terutama Mazhab
“Syi’ah Al Imamiyyah Al Itsna ‘Asyariyah”. Dalam hal ini, Al Azhar masih berada
di awal perjalanan. Oleh karenanya, permasalahan penting ini amatlah perlu
untuk dikaji, dipelajari, dipaparkan oleh setiap muslim yang memiliki
pengetahuan tentangnya, dan digali segala hal yang berkaitan dengannya serta
segala dampak dan risiko yang mungkin terjadi.
Dikarenakan berbagai permasalahan dalam agama amatlah rumit,
maka penyelesaiannya pun haruslah dengan cara yang bijak, cerdas dan tepat.
Dan hendaknya orang yang mengkajinya pun benar-benar menguasai segala
aspeknya, menguasai ilmu agama, bersifat obyektif dalam setiap pengkajian
dan kesimpulan, agar solusi yang ditempuh -dengan izin Allah- benar-benar
membuahkan hasil yang diinginkan dan mendatangkan berbagai dampak
positif. Hal pertama yang menjadi catatan kami pada perkara ini -juga dalam
setiap perkara yang berkaitan dengan berbagai pihak- ialah: bahwa salah satu
faktor terkuat bagi keberhasilannya ialah adanya interaksi dari kedua belah
pihak atau seluruh pihak terkait.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 4 dari 43 —
Kita contohkan dengan perkara pendekatan antara Ahlusunnah
dengan Syi’ah, telah dicatat bahwa guna merealisasikan seruan kepada
pendekatan antara kedua paham ini didirikanlah suatu lembaga di Mesir, yang
didanai oleh anggaran belanja negara yang berpaham Syi’ah. Negara dengan
paham Syi’ah ini telah memberikan bantuan resmi tersebut hanya kepada kita,
padahal mereka tidak pernah memberikan hal tersebut kepada bangsa dan
penganut pahamnya sendiri. Mereka tidak pernah memberikan bantuan ini
guna mendirikan “Lembaga Pendekatan” di kota Teheran, atau Kum, atau Najef
atau Jabal ‘Amil, atau tempat-tempat lain yang merupakan pusat pengajaran
dan penyebaran paham Syi’ah1.
Dan dari berbagai pusat pengajaran dan penyebaran paham Syi’ah
tersebut -pada beberapa tahun terakhir ini- beredar berbagai buku yang
meruntuhkan gagasan solidaritas dan pendekatan, sampai-sampai menjadikan
bulu roma berdiri. Di antara buku-buku tersebut adalah buku (Az Zahra) dalam
tiga jilid, yang diedarkan oleh ulama’ kota Najef. Pada buku tersebut, mereka
mengisahkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu
ditimpa suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan selain dengan air mani
kaum laki-laki!!? Buku tersebut berhasil didapatkan oleh Ustadz Al Basyir Al
Ibrahimi, ketua ulama’ Al Jazair pada kunjungan pertamanya ke Irak.
Kebutuhan jiwa najis yang telah mencetuskan kekejian mazhab semacam ini
kepada “Seruan Pendekatan” lebih mendesak dibanding kebutuhan kita
sebagai Ahlusunnah kepada seruan semacam ini.
Bila perbedaan paling mendasar antara kita dengan mereka berkisar
seputar dakwaan mereka bahwa mereka lebih loyal kepada Ahlul Bait (Ahlul
Bait ialah karib kerabat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam -pent)
dibanding kita, dan tentang anggapan bahwa mereka menyembunyikan –
bahkan-menampakkan- kebencian dan permusuhan kepada para sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang di atas pundak merekalah agama
Islam tegak. Sampai-sampai mereka berani mengucapkan perkataan kotor
semacam ini tentang Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu.
Maka obyektivitas sikap mengharuskan agar mereka lebih dahulu mengurangi
kebencian dan permusuhan mereka kepada para imam generasi pertama umat
Islam dan agar mereka bersyukur kepada Ahlusunnah atas sikap terpuji mereka
kepada para Ahlul Bait, dan atas sikap mereka yang tidak pernah lalai dari
menunaikan kewajiban menghormati dan memuliakan mereka (Ahlul Bait),
kecuali kelalaian kita dari penghormatan kepada Ahlul Bait yang berupa
menjadikan mereka sebagai sesembahan yang diibadahi bersama Allah,
1 Bantuan semacam ini sepanjang sejarah telah mereka lakukan berulang kali, dan berkat para da’i yang mereka
utus dengan misi inilah, selatan Irak berubah dari negeri Sunni yang terdapat padanya minoritas Syi’ah menjadi
negeri Syi’ah yang padanya terdapat minoritas kaum Sunni. Dan pada masa Jalaluddin As Suyuthi, ada seorang da’i
Syi’ah yang datang dari Iran ke Mesir, dan orang inilah yang diisyaratkan oleh As Suyuthi dalam kitabnya yang
berjudul “Al Hawi Lil Fatawi” , cet Percetakan Al Muniriyyah jilid 1 Hal. 330. Disebabkan oleh da’i asal Iran tersebutlah
As Suyuthi menuliskan karyanya yang berjudul “Miftahul Jannah Fil I’itisham Bissunnah.”
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 5 dari 43 —
sebagaimana yang dapat kita saksikan pada berbagai kuburan mereka yang
berada di tengah-tengah penganut paham Syi’ah yang hendak diadakan
pendekatan antara kita dan mereka.
Interaksi haruslah dilakukan oleh kedua belah pihak yang hendak dibangun
toleransi dan pendekatan antara keduanya. Tidaklah ada interaksi melainkan
bila antara positif dan negatif (pro dan kontra) dapat dipertemukan, dan bila
berbagai gerak dakwah dan upaya pewujudannya tidak hanya terfokus pada
satu pihak semata, sebagaimana yang terjadi sekarang ini.
Kritikan kami tentang keberadaan lembaga pendekatan tunggal yang
berpusatkan di ibu kota negeri Ahlusunnah, yaitu Mesir ini, dan yang tidak
diiringi oleh pusat-pusat kota negeri Mazhab Syi’ah, padahal berbagai pusat
penyebaran paham Syi’ah gencar mengajarkannya, dan memusuhi paham lain,
berlaku pula pada upaya memasukkan permasalahan ini sebagai mata kuliah di
Universitas Al Azhar, selama hal yang sama tidak dilakukan di berbagai
perguruan Syi’ah.
Adapun bila upaya ini -sebagaimana yang sekarang terjadi- hanya dilakukan
pada satu pihak dari kedua belah pihak atau berbagai pihak terkait, maka tidak
akan pernah berhasil, dan tidak menutup kemungkinan malah menimbulkan
interaksi balik yang tidak terpuji.
Termasuk cara paling sederhana dalam mengadakan pengenalan ialah dimulai
dari permasalahan furu’ sebelum membahas berbagai permasalahan ushul
(prinsip)!. Ilmu Fikih Ahlusunnah dan Ilmu Fikih Syi’ah tidaklah bersumberkan
dari dalil-dalil yang disepakati antara kedua kelompok. Syariat fikih menurut
empat Imam Mazhab Ahlusunnah tegak di atas dasar-dasar yang berbeda
dengan dasar-dasar syariat fikih menurut Syi’ah. Dan selama tidak terjadi
penyatuan dasar-dasar hukum ini sebelum menyibukkan diri dengan berbagai
permasalahan furu’, dan selama tidak ada interaktif antara kedua belah pihak
dalam hal ini, pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka miliki,
maka tidak ada gunanya kita menyia-nyiakan waktu dalam permasalahan furu’
sebelum terjadi kesepakatan dalam permasalahan ushul. Yang kita maksudkan
bukan hanya ilmu ushul fikih, akan tetapi ushul/dasar-dasar agama kedua belah
pihak dari akar permasalahannya yang paling mendasar.
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 6 dari 43 —
Taqiyyah Dalam Agama Syi’ah
Permasalahan Taqiyyah
Penghalang pertama bagi terwujudnya solidaritas yang benar lagi
tulus antara kita dan mereka ialah apa yang mereka sebut dengan At
Taqiyyah2. Taqiyyah adalah suatu keyakinan dalam agama yang membolehkan
bagi mereka untuk berpenampilan di hadapan kita dengan penampilan yang
menyelisihi hati nurani mereka. Dengan demikian orang yang lugu dari
kalangan kita (Ahlusunnah) akan tertipu dengan penampilan mereka yang
mengesankan ingin mengadakan solidaritas dan pendekatan, padahal
sebenarnya mereka tidaklah menginginkan, juga tidak rela, dan tidak akan
menerapkan hal itu, kecuali bila hal itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja
(yaitu pihak Ahlusunnah), sedangkan pihak lain tetap berada dalam
kenyelenehannya tidak bergeser sedikit pun walau hanya satu rambut (yaitu
Syiah). Walaupun para pelaku peran “Taqiyyah” dari mereka berhasil
meyakinkan kita bahwa mereka telah maju beberapa langkah mendekat
dengan kita, maka sesungguhnya masyarakat Syi’ah seluruhnya; pemuka
mereka dan masyarakat awamnya akan tetap terpisah dari para pemeran
sandiwara ini, dan tidak akan pernah menerima apapun apa yang dikatakan
oleh para perwakilan yang telah memerankan peranan mereka.
Di antaranya hadits yang mereka yakini bahwa Imam kelima mereka,
yaitu Muhammad Al Baqir meriwayatkan suatu hadits yang di antara bunyinya:
“At Taqiyyah ialah kebiasaanku dan kebiasaan bapak-bapakku,
dan tidak beriman orang yang tidak bertaqiyyah.” (Al Ushul Minal
Kafi, bab: At Taqiyyah jilid: 2 hal: 219).
Syaikh ahli hadits mereka Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin
Babuyah Al Kummi telah menyebutkan dalam sebuah risalahnya yang berjudul
Al I’tiqadaat:
“Bertaqiyyah wajib hukumnya, barang siapa yang
meninggalkannya, maka ia bagaikan orang yang meninggalkan
sholat.” Ia juga berkata: “Bertaqiyyah wajib hukumnya, dan tidak
boleh dihapuskan hingga datang sang penegak keadilan (imam
mahdi -pent), dan barang siapa yang meninggalkannya sebelum
2 At Taqiyyah ialah seseorang menampakkan sikap yang tidak sesuai dengan isi batinnya. Mereka dalam hal ini
berdalilkan dengan beberapa hadits, di antaranya hadits yang mereka sebut-sebut dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu
‘anhu yang pada hadits ini -menurut anggapan mereka- beliau berkata: “At Taqiyyah termasuk amalan seorang
mukmin yang paling utama, dengannya ia menjaga diri dan saudaranya dari tindakan orang-orang jahat.” (Baca:
Tafsir Al Askari, hal: 162 Pustaka Ja’fary, India).
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 7 dari 43 —
ia datang, maka ia telah keluar dari agama Allah Ta’ala, dan dari
agama Al Imamiyyah, serta menentang Allah, Rasul-Nya dan
para Imam.” (Baca risalah Al I’tiqadaat, pasal At Taqiyyah,
terbitan Iran tahun: 1374 H).
Celaan Terhadap Al Quran
Sampai pun Al Quran Al Karim, yang semestinya menjadi rujukan
penyatu antara kita dan mereka dalam upaya pendekatan diri kepada
persatuan, akan tetapi ternyata prinsip-prinsip agama mereka tegak di atas
penakwilan ayat-ayatnya dan memalingkan artinya kepada pemahaman yang
tidak pernah dipahami oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam , dan kepada pemahaman yang tidak pernah
dipahami oleh para imam kaum muslimin semoga Allah merahmati mereka- dari
generasi yang padanya diturunkan Al Quran.
Bahkan salah seorang ulama terkemuka kota Najef, yaitu Haji Mirza
Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thobarsy, seorang figur yang mereka
agungkan sampai-sampai ketika ia wafat pada tahun 1320 H, mereka
menguburkannya di kompleks pemakaman Al Murtadhowi di kota Najef, di
singgasana kamar Banu Al Uzma binti Sultan An Nashir Lidinillah, yang berupa
teras kamar yang menghadap ke Kiblat yang terletak di sebelah kanan setiap
orang yang masuk ke halaman Al Murtadhowi dari pintu kiblat di kota Najef Al
Asyraf. Suatu tempat paling suci bagi mereka. Ulama kota Najef ini pada tahun
1292 H di saat ia berada di kota Najef di sisi kuburan yang dinisbatkan kepada
Imam Ali -semoga Allah memuliakan wajahnya- menuliskan sebuah buku yang
ia beri judul: “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab.” (Makna
judul buku ini: “Keterangan Tuntas Seputar Pembuktian Terjadinya
Penyelewengan Pada Kitab Tuhan Para Raja” -pent). Ia mengumpulkan
beratus-ratus nukilan dari ulama-ulama dan para mujtahid Syi’ah di sepanjang
masa yang menegaskan bahwa Al Quran Al Karim telah ditambah dan
dikurangi.
Buku karya At Thobarsy ini telah diterbitkan di Iran pada tahun 1289
H, dan kala itu buku ini memancing terjadinya kontroversi. Hal ini karena dahulu
mereka menginginkan agar upaya menimbulkan keraguan tentang keaslian Al
Quran hanya diketahui secara terbatas oleh kalangan tertentu dari mereka, dan
tersebar di beratus-ratus kitab-kitab mereka, dan agar hal ini tidak dikumpulkan
dalam satu buku yang dicetak dalam beribu-ribu eksemplar dan akhirnya dibaca
oleh musuh mereka, sehingga buku tersebut menjadi senjata atas mereka yang
dapat disaksikan oleh setiap orang. Tatkala para tokoh mereka menyampaikan
kritikan ini, penyusun kitab ini menentang mereka, dan kemudian ia menuliskan
kitab lain yang ia beri judul: Raddu Ba’dhis Syubhaat ‘An Fashlil Khithab Fi
Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab (Makna judul buku ini: Bantahan Terhadap
Sebagian Kritikan Kepada kitab “Keterangan Tuntas seputar pembuktian
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 8 dari 43 —
terjadinya penyelewengan pada kitab Tuhan para raja”. -pent). Ia menuliskan
pembelaan ini pada akhir hayatnya, yaitu dua tahun sebelum ia wafat.
Sungguh kaum Syi’ah telah memberikan penghargaan kepadanya
atas jasanya membuktikan bahwa Al Quran telah mengalami penyelewengan,
yaitu dengan menguburkannya di tempat istimewa dari kompleks pemakaman
keturunan Ali di kota Najef. Dan di antara hal yang dijadikan bukti oleh tokoh
kota Najef ini bahwa telah terjadi kekurangan pada Al Quran, ialah pada hal:
180, ia menyebutkan satu surat yang oleh kaum Syi’ah disebut dengan nama
“Surat Al Wilayah”, pada surat ini ditegaskan kewalian sahabat Ali:
يأيها الذي آمنوا آمنوا بالنبي والولي اللذين بعثناهما يهديانكم إلى ال  صراط المستقيم …إلخ
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah engkau dengan seorang nabi
dan wali yang telah Kami utus guna menunjukkan kepadamu jalan yang
lurus…dst.” 3
Demikianlah surat Syi’ah, gaya bahasanya buruk, lucu lagi tidak fasih,
ditambah lagi kesalahan fatal dalam ilmu nahwu, membuktikan bahwa itu
adalah surat non Arab, hasil rekayasa orang-orang non Arab Persia yang
dungu, sehingga mereka mempermalukan diri sendiri dengan menambahkan
surat ini. Inilah “Al Quran” yang dimiliki kaum Syi’ah, terdapat kesalahan,
dengan gaya bahasa non Arab dan menyalahi ilmu nahwu! Adapun Al Quran
milik kita –Ahlusunnah wal Jama’ah- adalah Al Quran dengan bahasa Arab
yang nyata tidak ada kesalahan, sarat dengan rasa manis, dan keindahan, bak
sebuah pohon yang penuh dengan buah, dan akarnya menghunjam ke dalam
bumi, sebagai petunjuk bagi orang yang beriman, penyembuh, sedangkan
orang-orang yang tidak beriman telinga mereka tuli dan mata mereka buta.
Dan seorang yang dapat dipercaya, yaitu Ustadz Muhammad Ali
Su’udy -beliau adalah kepala tim ahli di Departemen Keadilan di Mesir, dan
salah satu murid terdekat Syaikh Muhammad Baduh- berhasil menemukan
“Mushaf Iran” yang masih dalam bentuk manuskrip yang dimiliki oleh orientalis
Brin, kemudian beliau menukil surat tersebut dengan kamera. Di atas teks
3 Kelanjutan surat ini -sebagaimana dapat anda lihat pada halaman selanjutnya- sebagai berikut: “Seorang Nabi dan
wali sebagian mereka dan sebagian lainnya adalah sama, sedangkan Aku adalah Yang Maha Mengetahui dan Yang
Maha Mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji Allah, mereka akan mendapatkan surga yang
penuh dengan kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka
mendustakan ayat-ayat Kami, sesungguhnya mereka akan mendapatkan kedudukan yang besar dalam neraka
Jahanam. Bila diseru kepada mereka: Manakah orang-orang yang berbuat lalim lagi mendustakan para rasul: apa
yang menjadikan mereka menyelisihi para rasul?? melainkan dengan kebenaran, dan tidaklah Allah akan
menampakkan mereka hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sedangkan Ali
termasuk para saksi.”
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 9 dari 43 —
Arabnya terdapat terjemahan dengan bahasa Iran (Persia), persis seperti yang
dimuat oleh At Thobarsy dalam bukunya: “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab
Rabbil Arbaab.”
Surat ini juga dapat ditemukan dalam buku mereka yang berjudul
“Dabistan Mazahib” dengan bahasa Iran (Persia), hasil karya Muhsin Fani Al
Kasymiri, buku ini dicetak di Iran dalam beberapa edisi. Surat palsu ini juga
dinukilkan oleh seorang pakar sekaligus orientalis yang bernama Noldekh
dalam bukunya “Tarikh Al Mashohif” (Sejarah Mushaf-mushaf) jilid: 2 hal: 102,
dan yang dipublikasikan oleh Harian Asia-Prancis pada tahun 1842 M, pada
hal: 431-439.
Sebagaimana tokoh kota Najef ini berdalil dengan surat Al Wilayah
atas terjadinya perubahan pada Al Quran, ia juga berdalil dengan riwayat yang
termaktub pada hal: 289, dari kitab “Al Kafi” (Judul lengkap Kitab ini ialah: Al
Jami’ Al Kafi, karya Abu Ja’far Ya’qub Al Kulaini Ar Razi) edisi tahun 1287 H,
Iran -kitab ini menurut mereka sama kedudukannya dengan “Shohih Bukhori”
menurut kaum Muslimin. Pada halaman tersebut dalam kitab Al Kafi termaktub
sebagaimana berikut:
“Beberapa ulama kita meriwayatkan dari Sahl bin Ziyad, dari
Muhammad bin Sulaiman, dari sebagian sahabatnya, dari Abu
Hasan ‘alaihis salaam -maksudnya Abu Hasan kedua, yaitu Ali
bin Musa Ar Ridha, wafat pada thn 206- ia menuturkan: “Dan
aku berkata kepadanya: Semoga aku menjadi penebusmu, kita
mendengar ayat-ayat Al Quran yang tidak ada pada Al Quran
kita sebagaimana yang kita dengar, dan kita tidak dapat
membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda, maka
apakah kami berdosa? Maka beliau menjawab: Tidak, bacalah
sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat
nanti akan datang orang yang mengajari kalian.”
Tidak diragukan bahwa ucapan ini merupakan hasil rekayasa kaum
Syi’ah atas nama imam mereka Ali Bin Musa Ar Ridha. Walau demikian ucapan
ini merupakan fatwa bahwa penganut Syi’ah tidak berdosa bila membaca Al
Quran sebagaimana yang dipelajari oleh masyarakat umum dari Mushaf
Utsmani, kemudian orang-orang tertentu dari kalangan Syi’ah akan saling
mengajarkan kepada sebagian lainnya hal-hal yang menyelisihi Mushaf
tersebut, berupa hal-hal yang mereka yakini ada atau pernah ada pada mushafmushaf
para imam mereka dari kalangan Ahlul Bait (keturunan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam ).
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 10 dari 43 —
Teks Lengkap Surat Al Wilayah
Pada buku aslinya, di halaman ini dimuat (Surat Al Wilayah) yang berhasil
diperoleh dengan kamera dari salah satu Mushaf Iran, dan pada setiap kata
terdapat terjemahannya dalam bahasa Persia:
يأيها الذين آمنوا آمنوا بالنبي وبالولي الذين بعثناهما يهديانكم إلى صراط مستقيم #
نبي وولي بعضهما من بعض وأنا العليم الخبير # إن الذين يوفون بعهد الله لهم
جنات النعيم # والذين إذا تليت عليهم آياتنا كانوا بآياتنا مكذبين # إن لهم في
جهنم مقاما عظيما إذا نودي لهم يوم القيامة أين الظالمون المكذبون للمرسلين # ما
خالفهم المرسلين إلا بالحق وما كان الله ليظهرهم إلى أجل قريب وسبح بحمد ربك
وعلي من الشاهدين#
“Seorang Nabi dan wali sebagian mereka dan sebagian lainnya
adalah sama, sedangkan Aku adalah Yang Maha Mengetahui
dan Yang Maha Mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang
memenuhi janji Allah, mereka akan mendapatkan surga yang
penuh dengan kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang bila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka
mendustakan ayat-ayat Kami, sesungguhnya mereka akan
mendapatkan kedudukan yang besar dalam neraka Jahanam.
Bila diseru kepada mereka: Manakah orang-orang yang
berbuat lalim lagi mendustakan para rasul: apa yang
menjadikan mereka menyelisihi para rasul?? melainkan dengan
kebenaran, dan tidaklah Allah akan menampakkan mereka
hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu, sedangkan Ali termasuk para saksi.”
Al Quran yang mereka yakini, dan yang mereka rahasiakan di
kalangan mereka, dan tidak dipublikasikan, dalam rangka menerapkan ideologi
At Taqiyyah, seandainya seluruh ulama-ulama besar Syi’ah tidak meyakini
bahwa Al Quran telah di selewengkan, mustahil mereka menyifati penulis buku
yang memuat dua ribu hadits yang membuktikan penyelewengan Al Quran
dengan berbagai sifat yang terpuji, misalnya ucapan mereka: semoga Allah
menyucikan ruhnya, atau dia adalah imam para ahli hadits, Seandainya mereka
meyakini selain ini, niscaya mereka akan ramai-ramai membantahnya, atau
menentangnya, atau memvonisnya sebagai ahli bid’ah atau orang kafir karena
masih adakah keislaman bagi orang yang mengatakan bahwa Al Quran telah
mengalami penyelewengan?! Upaya perbandingan antara Al Quran tersebut
dengan Al Quran yang telah diketahui oleh setiap orang dan menyebar luas dan
yang termaktub pada Al Mushaf Al Utsmani, adalah alasan yang mendorong
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 11 dari 43 —
Husain bin Muhammad Taqi An Nury At Thobarsy untuk menuliskan bukunya
yang berjudul: “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab.” 4
Apapun perihalnya, bukan hanya An Nury At Thobarsy pemuka para
imam ahli hadits dan rijal (biografi ulama’) seorang yang menyatakan bahwa Al
Quran telah diselewengkan, didapatkan ada imam-imam (Syi’ah) terkemuka
lainnya yang sekelas dengannya menyatakan hal yang sama, misalnya Al
Kulainy, penulis buku Al Kafi dan Ar Raudhah, Al Kummi penulis buku tafsir
yang disebut oleh An Najasyi dalam buku Rijalun Najasy pada hal: 183: “Ia
memiliki kredibilitas tinggi (tsiqah) dalam hal hadits dan kuat hafalannya, dapat
dipercaya dan benar mazhabnya”, dan juga Syaikh Mufid yang dinyatakan oleh
An Najasyi dalam Rijalun Najasy hal: 284: “Keahliannya dalam hal ilmu fikih,
riwayat, kredibilitas (tsiqah) dan ilmu secara umum telah diketahui oleh setiap
orang”, dan ia juga dipuji oleh sayyid Muhsin Al Amin dalam bukunya “A’ayanus
Syi’ah” jilid 1/237, dan juga Al Kasyy, Al Ardubily, dan juga Al Majlisy.
Seandainya seluruh tokoh terkemuka kaum Syi’ah tidak meyakini
terjadinya penyelewengan pada Al Quran, mustahil mereka memuji orang yang
telah menuliskan sebuah buku yang menyebutkan dua ribu hadits yang
membuktikan penyelewengan Al Quran dengan berbagai pujian ini, misalnya
mereka menyebutnya dengan: Semoga Allah menyucikan jiwanya, atau dia
adalah imam para ahli hadits. Seandainya mereka meyakini kebalikannya,
niscaya mereka membantahnya, atau mencelanya, atau memvonisnya sebagai
ahli bid’ah atau mengafirkannya… karena apakah yang masih tersisa setelah
seseorang meyakini bahwa Al Quran telah diselewengkan?
Walaupun kaum Syi’ah berusaha untuk mengesankan bahwa mereka
berlepas diri dari buku An Nuri At Thobarsy dalam rangka menerapkan ideologi
At Taqiyyah, akan tetapi buku tersebut memuat beratus-ratus nukilan dari
ulama’ mereka yang terdapat pada buku-buku mereka yang terpercaya. Suatu
hal yang membuktikan dengan pasti bahwa mereka meyakini dan beriman
dengan adanya penyelewengan. Hanya saja mereka tidak menginginkan
terjadinya kontroversi seputar keyakinan mereka tentang Al Quran.
Dengan demikian, ada dua Al Quran: yang pertama Al Quran yang
telah menyebar luas dan diketahui oleh setiap orang, dan yang kedua: Al Quran
khusus yang tersembunyi, yang di antara isinya ialah surat Al Wilayah. Dan
dalam hal ini mereka mengamalkan pesan yang mereka rekayasa atas nama
4 Salah seorang ulama’ terkemuka Syi’ah Agha Buzurk At Thohrany, penulis ensiklopedia Syi’ah yang telah masyhur
“Az Dzari’ah Ila Tashonif As Syi’ah” menuturkan dalam bukunya: “Thobaqaat A’alaam As Syi’ah”, bagian kedua dari
juz pertama, yang lebih dikenal dengan judul: “Nuqaba’ Al Basyar Fi Al Qarni Ar Rabi’ ‘Asyar”, pada hal: 544,
cetakan Pustaka Al Ilmiah Najef 1375 H-1956 M, ia berkomentar tentang An Nury At Thobarsy: “Ia adalah pemuka
para imam ahli hadits dan rijal (biografi ulama’) pada generasi terakhir, dan termasuk ulama’ terkemuka Syi’ah, dan
tokoh Islam terkemuka pada abad ini.”
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 12 dari 43 —
salah seorang imam mereka, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha: “Bacalah
sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang
orang yang mengajari kalian!!”
Di antara ayat yang menurut kaum Syi’ah telah dihapuskan dari Al Quran ialah
ayat:
وجعلنا عليا صهرك
“Dan Kami jadikan Ali sebagai menantumu.”
Mereka beranggapan bahwa ayat ini telah dihapuskan dari surat ْ أََ
حْ ْ َ
َ Mereka tidak merasa malu dengan anggapan ini! Padahal mereka
mengetahui bahwa surat ح ْ َ
ْ َ  أََ adalah surat Makkiyyah (Surat Makkiyyah ialah
surat yang diturunkan semasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam masih berada
di kota Makkah dan sebelum berhijrah ke kota Madinah) sedangkan yang
menjadi menantu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam kala itu ialah Al ‘Ash bin
Al Rabi’ Al Umawi, ia pernah dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
dari atas mimbar masjid Nabawi As Syarif, tatkala sahabat Ali radhiallahu ‘anhu
berencana menikahi anak wanita Abu Jahl sebagai madu bagi istrinya Fatimah
radhiallahu ‘anha. Oleh sebab itulah Fatimah mengadukan suaminya Ali bin Abi
Tholib kepada ayahnya yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam . (Pujian
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada menantunya Al ‘Ash bin Al Rabi’ Al
Umawi ini diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim. -pent)
Dan bila sahabat Ali adalah menantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam karena menikahi salah seorang putri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
Salam, maka Allah ta’ala telah menjadikan sahabat Utsman bin Affan juga
sebagai menantu Beliau karena telah menikahi dua putrinya, dan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya ketika istri keduanya (Ummu
Kultsum) meninggal dunia:
لو كانت لنا ثالثة لزوجناكها
“Seandainya aku memiliki anak wanita ketiga, niscaya akan aku nikahkan
engkau dengannya.” (Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Atsir dalam kitabnya
Usudul Ghobah 1/749 & 1458 -pent).
Tokoh mereka yang bernama Abu Manshur Ahmad bin Ali bin Abi
Tholib At Thobarsy -salah seorang syaikh Ibnu Syahruasyub wafat thn 588 H
dalam bukunya: “Al Ihtijaj ‘Ala Ahli Al Lijaaj” menyebutkan bahwa sahabat Ali
pada suatu hari berkata kepada salah seorang zindiq (kaum sesat) -ia tidak
menyebutkan namanya-: “Adapun sikapmu yang tidak peduli dengan firman
Allah ta’ala:
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 13 dari 43 —
 وإِ ْ ن خِ ْ فت  م َألاَّ ت ْ قسِ ُ ط  وا فِي اليتامى َفانكِ  ح  وا ما َ طا  ب َل ُ ك  م مِ  ن الن  ساءِ
“Dan bila kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap wanita yatim (bila kamu
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu suka.” (QS. An
Nisa: 3)
Tidak ada kaitan antara berbuat adil kepada anak-anak yatim dengan
menikahi wanita, dan tidaklah setiap wanita itu yatim. Ayat yang sebenarnya
ialah apa yang telah aku kemukakan kepadamu, bahwa kaum munafik5 telah
menghapuskan berbagai perintah dan kisah dari Al Quran yang terletak antara
firman Allah tentang anak-anak yatim hingga firman Allah tentang menikahi
wanita, sebanyak lebih dari sepertiga Al Quran!?
Tidak diragukan bahwa kisah ini bagian dari kedustaan mereka atas
nama sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, dengan bukti beliau sendiri tidak pernah
mengumumkan sepanjang masa kepemimpinannya atas kaum muslimin
sepertiga Al Quran yang telah dihapuskan dari tempat ini, dan tidak juga
memerintahkan kaum muslimin untuk menuliskannya kembali, atau
mempelajari dan mengamalkan kandungannya.
Dan tatkala pertama kali buku “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab
Rabbil Arbaab” terbit dan beredar di tengah-tengah kaum Syi’ah dan lainnya di
Iran, Nejef dan negri lainnya kurang lebih delapan puluh tahun silam –
sedangkan buku ini penuh dengan puluhan bahkan ratusan kisah-kisah palsu
atas nama Allah dan hamba-hamba pilihan-Nya semacam ini- kaum misionaris;
musuh-musuh Islam bergembira dan segera menerjemahkannya ke berbagai
bahasa mereka. Fenomena ini disebutkan oleh Muhammad Mahdi Al Ashfahani
Al Kazhimi pada jilid 2 hal: 90 dari bukunya yang berjudul: “Ahsanul Wadi’ah”,
yang merupakan penyempurna buku: “Raudhatul Jinan.”
Ada dua teks yang jelas dalam buku yang sederajat dengan Shohih
Bukhori menurut mereka, yaitu buku “Al Kafi” karya Al Kulaini, teks pertama
pada hal: 54, edisi thn 1278 H di Iran, yaitu, “Dari Jabir Al Ju’fi, ia menuturkan:
Aku pernah mendengar Abu Ja’far ‘alaihissalaam berkata: Tidaklah ada
5 Yang dimaksudkan oleh Abu Manshur At Thobarsy dengan sebutan munafik ialah para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengumpulkan teks-teks Al Quran, dan yang diamalkan oleh sahabat Ali bin
Abi Tholib sepanjang masa khilafahnya. Seandainya kisah palsu yang ia rekayasa dalam bukunya “Al Ihtijaaj ‘Ala
Ahli Al Lijaj” atas nama sahabat Ali benar-benar diucapkan oleh sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, maka ini merupakan
pengkhianatan beliau terhadap agama Islam, sebab ia menyimpan sepertiga Al Quran yang hilang dan ia tidak
berusaha memunculkannya, tidak juga mengamalkannya tidak juga memerintahkan masyarakat untuk
mempelajarinya, minimal semasa khilafahnya, padahal tidak ada alasan yang menghalanginya untuk melakukan hal
itu. Ia menyembunyikan bagian dari Al Quran sebanyak ini dalam keadaan rela dan tanpa paksaan merupakan
kekufuran, bila ucapan ini benar-benar beliau yang menuturkannya. Dari sini anda dapat mengetahui bahwa Abu
Manshur At Thobarsy penulis buku “Al Ihtijaaj ‘Ala Ahli Al Lijaj” dengan bukunya ini telah mencela sahabat Ali sendiri,
dan ia menyebutnya telah berkhianat dan kafir, sebelum ia mencela sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang lain dan menyifati mereka dengan kemunafikan.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 14 dari 43 —
seseorang yang mengaku telah menghafal Al Quran semuanya sebagaimana
tatkala diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, dan tidaklah ada
orang yang berhasil mengumpulkan dan menghafalnya secara utuh
sebagaimana ketika diturunkan selain Ali bin Abi Tholib dan para imam
setelahnya.” Setiap orang Syi’ah yang membaca kitab “Al Kafi” ini -yang
kedudukannya bagaikan Shohih Bukhori menurut Ahlusunnah- pasti mengimani
teks ini.
Adapun kita Ahlusunnah, maka kita berkeyakinan: Sesungguhnya kaum
Syi’ah telah berdusta atas nama Al Baqir Abu Ja’far rahimahullah dengan bukti
sahabat Ali radhiallahu ‘anhu sendiri selama masa khilafahnya -padahal beliau
berada di kota Kuffah- tidak pernah beramal selain dengan Mushaf yang telah
dikumpulkan dan disebar luaskan serta ditetapkan untuk diamalkan di seluruh
penjuru -sebagai karunia dari Allah ta’ala- oleh khalifah Utsman radhiallahu
‘anhu, hingga zaman kita dan hingga hari kiamat. Seandainya sahabat Ali
radhiallahu ‘anhu memiliki mushaf lain, -sedangkan ia adalah seorang khalifah
dan penguasa, di seluruh wilayah kekuasaannya tidak ada yang berani
menentangnya- niscaya ia akan mengamalkannya, dan memerintahkan kaum
muslimin untuk menyebar luaskan dan mengamalkannya. Dan seandainya ia
memiliki mushaf lain, sedangkan ia menyembunyikannya dari kaum muslimin,
maka ia adalah seorang pengkhianat terhadap Allah, Rasul-Nya dan agama
islam!!
Sedangkan Jabir Al Ju’fi yang mengaku mendengar ucapan keji tersebut
dari Imam Abi Ja’far Muhammad Al Baqir, walaupun dianggap berkredibilitas
tinggi (dapat dipercaya) menurut mereka, akan tetapi sebenarnya ia telah
dikenal oleh imam kaum muslimin sebagai pendusta. Abu Yahya Al Himmani
berkata: Aku mendengar Abu Hanifah berkata: Aku tidak pernah melihat dari
orang-orang yang pernah aku temui seorang pun yang lebih utama dibanding
‘Atha’, dan tidak seorang pun yang lebih pendusta dibanding Jabir Al Ju’fi.
(Silahkan baca makalah saya yang dimuat di Majalah Al Azhar hal: 307, edisi
thn 1372 H).
Dan teks yang lebih nyata dustanya dibanding teks pertama dari Abu
Ja’far yang terdapat pada buku “Al Kafi” ini, ialah teks dari anak beliau Ja’far As
Shodiq rahimahullah ta’ala dan yang juga dimuat dalam Shohih Bukhori mereka
“Al Kafi” hal: 57, edisi 1278 H Iran:
“Dari Abi Bashir, ia menuturkan: Aku pernah masuk menemui Abu
Abdillah (Ja’far As Shodiq)……hingga Abu Abdillah berkata: “Dan
sesungguhnya kami memiliki Mushaf Fatimah ‘alaihas salaam …ia
menuturkan: Aku pun bertanya: Apa itu Mushaf Fatimah? Ia
menjawab: Mushaf seperti Al Quran kalian itu tiga kali lipat
(tebalnya), dan sungguh demi Allah tidaklah ada padanya satu
huruf pun dari Al Quran kalian.”
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 15 dari 43 —
Teks-teks orang-orang Syi’ah yang dipalsukan atas nama imam-imam
Ahlul Bait ada sejak zaman dahulu, karena telah dibukukan oleh Muhammad
bin Ya’qub Al Kulaini Ar Razi dalam bukunya “Al Kafi” lebih dari seribu tahun
yang lalu, dan teks-teks tersebut ada jauh-jauh hari sebelumnya; dikarenakan ia
menukilkan teks tersebut dari pendahulunya, para tokoh pendusta para arsitek
pendiri paham Syi’ah.
Semasa Spanyol berada di bawah kekuasaan Bangsa Arab dan Islam,
Imam Abu Muhammad ibnu Hazm beradu argumentasi dengan para pendeta
Nasrani melalui teks-teks kitab mereka, dan beliau membuktikan kepada
mereka bahwa kitab mereka telah mengalami penyelewengan dan bahkan kitab
aslinya telah hilang. Maka para pendeta tersebut balik berdalil atas beliau
bahwa kaum Syi’ah telah menetapkan bahwa Al Quran juga mengalami
penyelewengan. Mendengar jawaban yang demikian, Ibnu Hazm menjawab
mereka bahwa anggapan kaum Syi’ah tidak dapat dijadikan sebagai bukti atas
Al Quran tidak juga atas kaum muslimin, karena kaum Syi’ah tidak termasuk
kaum muslimin. Silahkan baca “Al Fishol Fi Al Milal wa An Nihal” karya Ibnu
Hazm, jilid 2 hal: 78 dan juz 4 hal: 182, edisi pertama Al Kairo.
Satu fakta berbahaya yang kami merasa perlu untuk mengingatkan
pemerintahan-pemerintahan Islam: bahwa prinsip paham Syi’ah Al Imamiyyah
Al Itsna ‘Asyariyyah yang dikenal juga dengan Al Ja’fariyyah berdiri di atas
keyakinan bahwa seluruh pemerintah islam sejak wafatnya Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Salam hingga saat ini -terkecuali tahun-tahun kepemimpinan Ali bin
Abi Tholib radhiallahu ‘anhu- merupakan pemerintahan yang tidak syar’i (tidak
sah), dan tidak boleh bagi seseorang yang berpaham Syi’ah untuk memiliki
rasa loyal dan ikhlas dalam hatinya kepada mereka. Mereka berkewajiban
untuk selalu memusuhi mereka dan mewaspadai mereka! Hal ini karena
mereka beranggapan bahwa kekuasaan pemerintahan tersebut, yang telah lalu,
dan yang ada sekarang serta yang akan datang merupakan kekuasaan hasil
rampasan. Penguasa yang sah dalam paham Syi’ah dan ideologi mereka
hanya ada pada para imam dua belas semata, baik mereka langsung yang
menjalankan kepemimpinan atau tidak. Adapun selain mereka yang memegang
kepemimpinan, semenjak Abu Bakar, dan Umar hingga para kholifah
setelahnya hingga saat ini, apapun jasanya untuk agama Islam, dan apapun
perjuangannya dalam menebarkan agama Islam dan menegakkan kalimat Allah
di muka bumi, dan memperluas negeri Islam, maka sebenarnya mereka itu
adalah para penentang dan perampas kekuasaan hingga hari Kiamat!
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 16 dari 43 —
Celaan Syi’ah Kepada Sahabat Nabi
Al Jibtu & At Thoghut: Abu Bakar & Umar
Oleh karena itulah kaum Syi’ah senantiasa mengutuk sahabat Abu
Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum dan setiap orang yang menjadi
penguasa dalam sejarah Islam selain sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu
‘anhu. Sungguh mereka telah berdusta atas nama Imam Abul Hasan Ali bin
Muhammad bin Ali bin Musa, bahwa beliau telah membenarkan para
pengikutnya menjuluki Abu Bakar dan Umar dengan sebutan “Al Jibtu & At
Thoghut.” (Al Jibtu dan At Thoghut ialah segala sesuatu yang disembah atau
menjadikan manusia menyeleweng dari agama Allah. -pent).
Disebutkan dalam kitab Al Jarhu wa At Ta’dil (Al Jarhu wa At Ta’dil ialah
salah satu disiplin ilmu hadits yang membahas tentang kredibilitas dan biografi
para perawi hadits dan tarikh. -pent) terbesar dan terlengkap yang mereka
miliki, yaitu buku “Tanqih Al Maqal Fi Ahwal Ar Rijaal” karya pemimpin sekte
Ja’fariyyah Ayatullah Al Mamaqani, pada juz 1 hal: 207, edisi Pustaka Al
Murtadhowiyyah, Najef tahun 1352 H ada suatu kisah yang dinukilkan oleh
Syaikh besar Muhammad Idris Al Hilli pada akhir kitab “As Sara’ir” dari kitab
“Masa’il Ar Rijal Wa Mukatabaatihim” kepada Maulana Abil Hasan Ali bin
Muhammad bin Ali bin Musa ‘alaihissalaam dari sebagian pertanyaan
Muhammad bin Ali bin ‘Isa, ia berkata: Aku menulis surat kepadanya
menanyakan perihal seseorang yang memusuhi keluarga Nabi, apakah ketika
mengujinya diperlukan kepada hal-hal lain selain sikapnya yang lebih
mendahulukan Al Jibtu & At Thoghut? Maksudnya ia mendahulukan dua orang
pemimpin dan sekaligus dua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
dan dua pembantu kepercayaan beliau, yaitu Abu Bakar dan Umar radhaiallahu
‘anhuma. Kemudian jawabannya datang sebagai berikut: “Barang siapa yang
meyakini hal ini, maka ia adalah seorang yang memusuhi keluarga Nabi.”
Maksudnya: cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai orang yang
memusuhi keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam , bila ia mendahulukan
Abu Bakar dan Umar (dibanding sahabat Ali bin Abi Tholib) dan meyakini
keabsahan kepemimpinan mereka berdua.
Kata-kata “Al Jibtu” dan “At Thoghut” senantiasa digunakan oleh kaum
Syi’ah dalam bacaan doa mereka yang disebut dengan “Doa Dua Berhala
Quraisy”. Yang mereka maksudkan dari dua berhala dan dari kata “Al Jibtu” dan
“At Thoghut” ialah Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Doa ini
disebutkan dalam kitab mereka yang berjudul “Mafatihul Jinaan” hal: 114,
kedudukan kitab ini bagaikan kitab “Dalaa’ilul Khairaat” yang telah menyebar
luas di tengah-tengah berbagai negeri Islam. Bunyi doa ini sebagai berikut:
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 17 dari 43 —
“Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad, dan kutuklah dua berhala, dua
sesembahan, dua tukang sihir Quraisy dan kedua anak wanita
mereka berdua……”!!6 Yang mereka maksud dengan kedua anak
wanita mereka ialah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Ummul
Mukminin Hafshah semoga Allah meridhai mereka dan seluruh
sahabat.
Hari Pembunuhan Al Faruq Sebagai Hari ‘Ied Terbesar
Kebencian mereka kepada tokoh yang berhasil memadamkan api kaum
majusi di Iran dan yang berhasil mengislamkan nenek moyang penduduknya,
yaitu Sayyidina Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu tiada batas, sampaisampai
mereka menamakan pembunuhnya, yaitu Abu Lulu’ah Al Majusi –
semoga kutukan Allah menimpanya- dengan sebutan: “Baba Syuja’uddin”
(Ayah Sang Pemberani). Ali bin Muzhohir -salah seorang tokoh merekameriwayatkan
dari Ahmad bin Ishaq Al Kummi Al Ahwash, Syaikh kaum Syi’ah
dan pemuka mereka, bahwa hari pembunuhan Umar bin Al Khatthab adalah
hari ‘ied terbesar, hari kebesaran, hari pengagungan, hari kesucian terbesar,
hari keberkahan, dan hari hiburan.
Dimulai dari sahabat Abu Bakar, Umar -semoga Allah meridhoi
keduanya- Sholahuddin Al Ayyuby rahimahullah dan seluruh tokoh yang telah
berhasil menundukkan berbagai dinasti dunia, dan memasukkannya ke
pangkuan agama Allah, dan yang telah memerintahnya dengan nama Islam
hingga hari kita ini -seluruh mereka itu menurut ideologi Syi’ah- para penguasa
perampas, lalim dan termasuk penghuni neraka; karena kepemimpinan mereka
tidak sesuai dengan syariat, sehingga mereka tidak berhak menerima loyal,
kepatuhan, dan dukungan dalam kebaikan dari kaum Syi’ah, kecuali sebatas
tuntutan penerapan ideologi At Taqiyyah dan sebatas upaya menarik simpati
mereka dan menyembunyikan kebencian kepada mereka.
6 Doa ini juga dimuat dalam buku “Tuhfatul Awam Maqbul” yang memuat tanda tangan Ayatullah Al Khumaini,
Ayatullah Syariatmudari, Ayatullah Abul Qasim Al Khu’i, Sayyid Muhsin Al Hakim At Thobathoba’i……dll, padahal
dari mereka itu terdapat orang-orang yang dikatakan moderat, di antaranya Ayatullah Al Khu’i dan Sayyid Muhsin Al
Hakim.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 18 dari 43 —
Keyakinan Nyeleneh Syi’ah Tentang Imam Mahdi
Di antara prinsip dasar dalam ideologi mereka ialah: Bila suatu saat nanti Imam
Mahdi telah bangkit, yaitu Imam mereka yang ke dua belas, yang menurut
mereka saat ini sudah hidup dan sedang menanti saat
kebangkitannya/revolusinya agar mereka ikut andil bersamanya menjalankan
revolusi tersebut. Bila mereka menyebutkannya dalam buku-buku mereka,
mereka senantiasa menuliskan di sebelah nama, atau julukan atau
panggilannya dua huruf ( ) kependekan dari:
ع  جل الله فرجه
“Semoga Allah menyegerakan kebangkitannya.”
(Tatkala Imam Mahdi ini telah bangkit dari tidurnya yang amat panjang
yang telah melebihi seribu seratus tahun) Allah akan menghidupkan kembali
seluruh penguasa umat Islam yang telah lalu bersama-sama para penguasa
yang ada pada masa kebangkitannya terutama yang mereka sebut dengan Al
Jibtu & At Thoghut; Abu Bakar dan Umar dan para pemimpin setelah
keduanya!! Kemudian Imam Mahdi ini akan menghukumi mereka atas
perbuatan mereka merampas kekuasaan dari dirinya dan dari kesebelas nenek
moyangnya. Karena -menurut mereka- kekuasaan itu sepeninggal Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hak mereka semata sebagai karunia Allah
kepada mereka, dan tidak ada hak sedikit pun bagi selain mereka.
Dan setelah mengadili para thoghut tersebut, ia membalas mereka
semua, sehingga ia memerintahkan untuk membunuh dan memusnahkan
setiap lima ratus orang secara bersama-sama, hingga akhirnya ia genap
membunuh sebanyak 3000 penguasa Islam sepanjang sejarah. Hukuman ini
terjadi di dunia sebelum kebangkitan terakhir mereka, kelak di hari kiamat.
Kemudian setelah mereka semua mati serta binasa, terjadilah kebangkitan
terbesar, kemudian manusia masuk surga atau neraka. Surga bagi keluarga
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan setiap orang yang berkeyakinan
demikian ini tentang mereka dan neraka bagi setiap orang yang tidak termasuk
kelompok Syi’ah.
Kaum Syi’ah menamakan penghidupan kembali, pengadilan dan
pembalasan ini dengan sebutan “Ar Raj’ah”, dan hal ini merupakan bagian dari
ideologi kaum Syi’ah yang tidak seorang Syi’ah pun yang meragukannya. Saya
melihat sebagian orang yang berhati baik beranggapan bahwa ideologi
semacam ini telah ditinggalkan oleh kaum Syi’ah akhir-akhir ini. Sudah barang
tentu anggapan ini adalah salah besar dan menyelisihi realita, karena kaum
Syi’ah sejak dinasti As Shafawiyyah hingga sekarang lebih ekstrem dalam
meyakini ideologi-ideologi ini dibanding generasi sebelumnya. Mereka saat ini
terbagi menjadi dua kelompok: orang-orang yang meyakini ideologi-ideologi
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 19 dari 43 —
tersebut dengan utuh dan orang-orang yang berpendidikan modern sehingga
mereka menyeleweng dari berbagai khurofat ini kepada paham komunis.
Penganut paham komunis di Irak dan Partai Tawaddah (Partai Kasih Sayang)
di Iran, anggotanya ialah kaum Syi’ah yang telah menyadari kesalahan
berbagai dongeng palsu mereka, sehingga mereka menganut paham komunis
setelah sebelumnya menganut ajaran Syi’ah!!! Di masyarakat mereka tidak ada
kelompok atau partai yang moderat, kecuali orang-orang yang menerapkan
ajaran taqiyyah guna mencapai tujuan kelompok atau diplomasi atau partai atau
pribadi, padahal ia menyembunyikan selain dari yang ia nampakkan.
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 20 dari 43 —
Ideologi Ar Raj’ah dan Pembantaian 3000 Kaum Quraisy
Agar Anda memahami tentang ideologi Ar Raj’ah langsung dari buku
mereka yang tepercaya, saya akan sebutkan untuk Anda ucapan Syaikh sekte
Syi’ah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin An Nu’man, yang lebih
dikenal di kalangan mereka dengan sebutan “Syaikh Al Mufid” dalam bukunya
yang berjudul: “Al Irsyad Fi Tarikh Hujajillah ‘Alal ‘Ibaad”. Buku ini dicetak di Iran
dengan cetakan kuno, tidak disebutkan tahun terbitnya, dan dicetak dengan
tulisan tangan Muhammad bin Ali Muhammad Hasan (Demikian disebutkan
dalam buku aslinya, mungkin benarnya ialah: Muhammad Ali bin Muhammad
Hasan) Al Kalbabakati:
Al Fadhl bin Syazan meriwayatkan dari Muhammad bin Ali Al Kufi dari
Wahb bin Hafsh dari Abu Bashir, ia menuturkan: Abu Ja’far (yaitu Ja’far As
Shodiq) berkata: Akan diseru dengan nama Al Qaim (maksudnya: Imam
mereka ke-12 yang mereka yakini telah lahir lebih dari sebelas abad silam, dan
ia belum mati, karena ia akan bangkit dan mengadili), akan diseru dengan
namanya pada malam 23 dan ia akan bangkit pada hari ‘Asyura (tgl 10
Muharram), dan seakan-akan sekarang ini aku dapat melihat ia pada hari
kesepuluh bulan Muharram sedang berdiri antara Hajar Aswad dan Maqam
Ibrahim, Malaikat Jibril berada di sebelah kanannya sambil menyeru:
Berbaiatlah untuk Allah. Maka kaum Syi’ah berbondong-bondong dari segala
penjuru dunia yang telah dipendekkan untuk mereka hingga akhirnya mereka
semua dapat membai’atnya. Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa ia akan
berjalan dari Mekkah hingga tiba di Kuffah dan ia singgah di kota Nejef kita ini,
kemudian ia dari kota tersebut mengutus pasukannya ke berbagai penjuru
dunia.
Al Hajjal juga meriwayatkan dari Tsa’labah dari Abu Bakar Al Hadhrami
dari Abu Ja’far ‘alaihi salam (yaitu Muhammad Al Baqir) ia berkata: Seakanakan
aku menyaksikan Al Qa’im ‘alaihi salam sedang berada di Najef kota
Kuffah, ia datang dari kota Mekkah dengan diiringi oleh 5000 malaikat, Malaikat
Jibril di sebelah kanannya, Malaikat Mikail di sebelah kirinya, sedangkan kaum
mukminin di depannya, dan beliau mengutus pasukannya ke berbagai negeri.
Abdul Karim Al Ju’fi juga menuturkan, aku pernah berkata kepada Abu
Abdillah (yaitu Ja’far As Shodiq) berapa lama Al Qaim ‘alaihi salam akan
menguasai dunia? Beliau menjawab: Tujuh tahun, hari-harinya akan menjadi
panjang, sampai-sampai satu tahun kepemimpinannya sama halnya dengan
sepuluh tahun biasa, sehingga lama kepemimpinanya sama dengan tujuh puluh
tahun yang biasa kalian alami. Abu Bashir bertanya kepadanya: Semoga aku
menjadi tebusanmu, bagaimana cara Allah memanjangkan tahun? Ia
menjawab: Allah memerintahkan al falak agar berhenti dan tidak banyak
bergerak, dengan cara inilah hari dan tahun menjadi panjang. Bila masa
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 21 dari 43 —
kebangkitannya telah tiba, umat manusia selama bulan Jumadil Akhir dan
sepuluh hari dari bulan Rajab akan ditimpa hujan lebat yang tidak pernah
dialami oleh manusia, kemudian Allah menumbuhkan kembali daging dan
badan kaum mukminin dalam kuburan mereka, seakan-akan sekarang ini, aku
sedang menyaksikan mereka membersihkan tanah dari rambut-rambut mereka.
Abdullah bin Al Mughirah juga meriwayatkan dari Abu Abdillah (yaitu
Ja’far As Shodiq) ‘alaihissalaam ia menuturkan: Bila Al Qaim dari keturunan
(nabi) Muhammad telah bangkit, ia akan membangkitkan 500 orang dari orangorang
Quraisy, kemudian ia akan memenggal leher mereka, kemudian ia akan
membangkitkan 500 lainnya, kemudian memenggal leher mereka juga,
kemudian membangkitkan 500 lainnya, hingga ia melakukan hal itu sebanyak 6
kali. Aku pun bertanya: apakah jumlah mereka mencapai sebanyak ini? (Ia
merasa keheranan akan hal itu, karena Khulafa’ Ar Rasyidin, Dinasti
Umawiyyah, Abbasiyah dan seluruh penguasa umat Islam hingga zaman Ja’far
As Shadiq tidak sampai sebanyak itu, juga tidak sampai satu persennya) Ja’far
As Shodiq menjawab: Ya, dari mereka dan juga dari pengikutnya. Dan pada
riwayat lain: Sesungguhnya kekuasaan kita adalah kekuasaan terakhir, tidaklah
ada satu marga pun dari mereka melainkan pernah menjadi penguasa, agar
mereka tidak berkata bila telah menyaksikan perilaku kita: Bila kami berkuasa
niscaya kami akan berlaku seperti perilaku mereka.
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 22 dari 43 —
Bersama Datangnya Al Mahdi, Mushaf Yang Asli Akan Kembali
Jabir Al Ju’fi meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata: Bila telah
bangkit Al Qaim (sang penegak) dari keluarga Muhammad, ia akan mendirikan
pertendaan guna mengajarkan Al Quran yang asli sebagaimana kala
diturunkan7 sehingga Mushaf tersebut akan terasa sulit bagi orang yang telah
menghafal Al Quran (yaitu menghafal Al Qur’an yang telah disatukan oleh
Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, sebagaimana yang ada pada zaman Ja’far
As Shodiq), karena mushaf tersebut berbeda susunannya.
Abdullah bin Ajlan meriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihi salam, ia
berkata: Bila Al Qaim (sang penegak) dari keluarga Muhammad telah bangkit,
ia akan menghakimi manusia dengan hukum nabi Daud?!
Dan Al Mufaddhol bin Umar meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata:
Akan keluar bersama Al Qaim (sang penegak) ‘alaihi salam dari luar kota Kufah
27 laki-laki dari kaumnya Nabi Musa?! Dan tujuh orang dari Ahlul Kahfi, nabi
Yusya’ bin Nun, nabi Sulaiman, Abu Dujanah Al Anshary, Al Miqdad, dan Malik
Al Asytar, dan mereka akan berada di hadapannya sebagai para pembela dan
para hakim!!
Teks-teks ini dinukilkan secara utuh dan dengan penuh kehati-hatian dari
kitab salah seorang ulama’ terbesar mereka, yaitu Syeikhul Mufid, dan yang
diriwayatkan dengan rentetan sanadnya yang tidak diragukan lagi telah
dipalsukan atas nama Ahlul Bait, sehingga para pendusta tersebut yang telah
menjadi pengikut mereka merupakan musibah terbesar yang menimpa ahlul
Bait. Dan buku Syeikhul Mufid telah dicetak di Iran, dan salah satu edisi
kunonya tersimpan dan ada bersama kami.
******
7 Mengapa hal ini tidak pernah dilakukan oleh kakeknya, yaitu sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu selama ia
menjabat sebagai kholifah? Apakah cucunya yang ke dua belas lebih besar pengorbanannya demi Al Quran dan
agama Islam?
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 23 dari 43 —
Keyakinan Nyeleneh Syi’ah Tentang Sahabat Abu Bakar dan Umar
Abu Bakar & Umar Disalib Di Sebatang Pohon
Disebabkan ideologi “Ar Raj’ah” dan pengadilan para penguasa kaum
Muslimin merupakan bagian dari ideologi dasar kaum Syi’ah, tidak
mengherankan bila ulama mereka, yaitu Sayyid Al Murtadha, penulis buku
“Amaali Al Murtadha”, yang sekaligus saudara kandung As Syarif Ar Radhi
sang penyair dan sekutunya dalam pemalsuan tambahan kitab “Nahjul
Balaghah”, yang mungkin saja mencapai sepertiga kitab aslinya, yaitu setiap
bagian yang mengandung celaan dan kritikan kepada para sahabat. Sayyid Al
Murtadha ini berkata dalam bukunya “Al Masail An Nushairiyyah” bahwasanya
Abu Bakar dan Umar akan disalib di sebatang pohon pada hari tersebut, yaitu
pada masa Al Mahdi (Yaitu imam mereka kedua belas, yang mereka sebut
sebagai Al Qaim/penegak dari keluarga Muhammad), dan pohon tersebut
sebelum penyaliban dalam keadaan hijau nan segar, dan akan menjadi kering
seusai penyaliban!!?
Sepanjang masa, seluruh tokoh dan ulama sekte Syi’ah bersikap hina
semacam ini terhadap kedua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
sekaligus dua orang kepercayaan beliau Abu Bakar dan Umar -semoga Allah
senantiasa meridhoi keduanya, menerangi kuburnya, dan menyejukkan tempat
persemayamannya- dan dari seluruh tokoh, para khalifah, penguasa, pemimpin,
pejuang dan penjaga agama Islam, semoga Allah senantiasa meridhai mereka,
dan melimpahkan balasan yang terbaik kepada mereka atas jasanya kepada
agama Islam dan umatnya.
Dan saya pernah mendengar langsung dari da’i mereka -yang kala itu
menjadi pengurus “Lembaga Pendekatan” dan sebagai donaturnya- mengaku
kepada sebagian orang yang tidak berkesempatan untuk mengkaji
permasalahan ini bahwa berbagai ideologi ini hanya ada pada masa silam,
sedangkan sekarang ini semuanya telah berubah. Pengakuan ini nyata-nyata
dusta dan merupakan penipuan, karena buku-buku yang diajarkan di berbagai
lembaga pendidikan mereka mengajarkan ini semua, dan menganggapnya
sebagai prinsip-prinsip sekte dan pokok-pokok utama ajarannya. Buku-buku
yang dipublikasikan oleh ulama’ Najef, Iran, dan Jabal Amil pada zaman ini
lebih jelek dibanding buku-buku mereka pada zaman dahulu, dan lebih keras
dalam meruntuhkan berbagai upaya pendekatan dan toleransi.
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 24 dari 43 —
Da’i Pendekatan “Al Khalisi” Mengingkari Keikutsertaan Abu
Bakar & Umar Dalam Bai’at Ridwan
Sekedar contoh nyata akan hal di atas (kedustaan pernyataan mereka
bahwa berbagai ideologi ini hanya ada pada masa silam, sedangkan sekarang
ini semuanya telah berubah –ed muslim), kita sebutkan salah seorang dari
mereka yang senantiasa mendengungkan di setiap pagi dan petang bahwa ia
adalah salah satu pemrakarsa persatuan dan pendekatan, yaitu Syaikh
Muhammad bin Muhammad Mahdi Al Khalisi, tokoh yang memiliki banyak
kolega di Mesir dan lainnya dari para penyeru “pendekatan” dan para tokoh
yang siang dan malam berupaya untuk menyosialisasikannya di antara
Ahlusunnah.
Tokoh penyeru terhadap persatuan dan solidaritas ini -semoga ia
mendapatkan balasan setimpal dari Allah- menafikan nikmat iman sekalipun
dari Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma!! Ia berkata pada bukunya
“Ihya’us Syari’ah Fi Mazhabis Syi’ah” jilid 1 hal: 63-64: “Dan bila mereka
berkata: Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk orang-orang yang ikut
andil dalam “Bai’atur Ridhwan” yang telah ditegaskan akan keridhaan Allah atas
mereka dalam Al Quran:
َلَق  د  رضِ  ي اللَّه  عنِ اُلم  ؤمِنِي  ن إذ يبايِع  ون  ك ت  ح  ت ال  ش  جرةِ
“Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membai’atmu
(berjanji setia kepadamu) di bawah pohon.” (QS. Al Fath: 18)
Maka kami jawab: Seandainya Allah berfirman:
لقد رضي الله عن الذين يبايعونك تحت الشجرة أو عن الذين بايعوك
“Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang yang sedang membai’atmu
(berjanji setia kepadamu) di bawah pohon” atau “telah membai’atmu” maka
pada ayat ini terdapat petunjuk akan keridhaan Allah kepada setiap yang
membai’at, akan tetapi karena Allah berfirman:
َلَق  د  رضِ  ي اللَّه  عنِ اُلم  ؤمِنِي  ن إذ يبايِع  ون  ك ت  ح  ت ال  ش  جرةِ
“Sungguh Allah telah ridha terhadap kaum mukminin yang membai’atmu
(berjanji setia kepadamu) di bawah pohon,” maka tidak ada petunjuk pada ayat
ini kecuali keridhaan terhadap orang-orang yang telah memurnikan
keimanannya”!?
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 25 dari 43 —
Makna dari ucapannya ini: bahwasanya Abu Bakar dan Umar
radhiallahu’anhuma belum memurnikan keimanannya?! Sehingga tidak dicakup
oleh keridhaan Allah?! Subhanallah¸ tentu ini adalah kedustaan yang amat
besar, semoga Allah senantiasa meridhai keduanya, dan melimpahkan
kepadanya kerahmatan dan keridhaan yang melimpah ruah, amiin.
Dan telah berlalu sebelumnya perkataan An Najafi (tokoh dari kota Najef
-pent) -semoga kecelakaan senantiasa menimpa kedua tangannya- penulis
buku (Az Zahra’) bahwa sayyidina Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu ditimpa
penyakit yang tidak dapat diobati melainkan dengan air mani kaum lelaki?! (Dan
kita katakan kepada orang ini, dalam pepatah dikatakan: “ia menuduhku
dengan penyakitnya sendiri, lalu ia lari bersembunyi”).
Inilah dua pemuka agama sekte Syi’ah yang hidup semasa dengan kami,
dan termasuk orang-orang yang senantiasa mengaku-ngaku memiliki loyalitas
tinggi terhadap agama Islam dan kaum Muslimin, dan andil besar dalam segala
hal yang mendatangkan kebaikan bagi keduanya. Bila semacam ini ucapan dua
orang pemuka agama sekte Syi’ah dalam tulisan-tulisannya yang telah
diterbitkan dan yang menjelaskan tentang ideologi keduanya tentang orang
terbaik dari kaum muslimin setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ,
yaitu Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma, atau minimal termasuk orang
yang terbaik dalam sejarah Islam, maka apakah yang akan kita harapkan dari
upaya toleransi dan ikut andil dalam upaya pendekatan antar berbagai mazhab.
Dan apakah mereka semua itu adalah murni barisan ke lima dalam tatanan
masyarakat muslim?
Di saat mereka menghinakan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam , para pengikut mereka (Tabi’in) dan seluruh pemimpin kaum
muslimin sepeninggal mereka serendah ini, padahal merekalah yang telah
membangun kekuasaan Islam dan mewujudkan dunia Islam ini. Pada saat yang
bersamaan, mereka -sekte Syi’ah- berkeyakinan tentang imam-imam mereka
berbagai keyakinan yang para imam tersebut pasti berlepas diri dari hal-hal
tersebut. Al Kulaini telah menuliskan dalam bukunya “Al Kafi” -buku ini bagi
mereka bagaikan kitab “Shahih Bukhori” bagi kaum muslimin- berbagai
karakteristik dan sifat kedua belas imam mereka. Karakteristik dan sifat-sifat
tersebut telah mengangkat derajat mereka dari manusia biasa hingga tingkatan
tuhan-tuhan bangsa Yunani kuno. Seandainya kita hendak menukilkan hal-hal
semacam ini dari buku “Al Kafi” dan buku-buku terpercaya mereka lainnya,
niscaya akan terkumpul satu jilid buku besar. Oleh karenanya, kami akan
cukupkan dengan menukilkan beberapa judul bab secara utuh dan dengan apa
adanya dari buku “Al Kafi”, di antaranya judul bab-bab tersebut ialah:
1. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Segala Ilmu Yang Turun
Kepada Para Malaikat, Nabi Dan Rasul (Al Kafi jilid 1/255, kitab Al
Hujjah).
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 26 dari 43 —
2. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Kapan Mereka Akan
Meninggal, Dan Bahwasanya Mereka Tidaklah Meninggal Melainkan
Atas Kehendak Mereka Sendiri. (Al Kafi jilid 1/258 kitab Al Hujjah).
3. Bab: Bahwasanya Para Imam Mengetahui Perihal Yang Telah Lalu Dan
Perihal Yang Akan Datang, Dan Sesungguhnya Tidak Ada Yang
Tersembunyi Bagi Mereka Sesuatu Apapun. (Al Kafi jilid 1/260, kitab Al
Hujjah).
4. Bab: Bahwasanya Para Imam Memiliki Seluruh Kitab, Dan
Mengetahuinya Dengan Segala Perbedaan Bahasanya. (Al Kafi jilid
1/227, kitab Al Hujjah).
5. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Orang Yang Pernah Menyatukan Al
Quran Secara Utuh Selain Para Imam, Dan Bahwasanya Mereka
Mengetahui Seluruh Ilmu Yang Terkandung Dalamnya. (Al Kafi jilid
1/228, kitab Al Hujjah).
6. Bab: Apa-Apa Yang Dimiliki Oleh Para Imam Dari Mukjizat Para Nabi.
(Al Kafi jilid 1/231, kitab Al Hujjah).
7. Bab: Bahwasanya Para Imam Bila Telah Berhasil Berkuasa, Mereka
Akan Berhukum Dengan Hukum Nabi Daud (?!) Dan Keluarga Daud 8
(?!)Dan Mereka Tidak Akan Pernah Meminta Persaksian/Bukti. (Al Kafi,
1/397, kitab Al Hujjah).
8. Bab: Bahwasanya Tidaklah Ada Sedikit pun Kebenaran Yang Ada di
Masyarakat Selain Yang Pernah Diajarkan Oleh Para Imam, Dan
Bahwasanya Segala Sesuatu Yang Tidak Diajarkan Oleh Mereka, Maka
Itu Adalah Bathil. (Al Kafi 1/399, kitab Al Hujjah).
9. Bab: Bahwasanya Bumi Seluruhnya Adalah Milik Para Imam. (Al Kafi
1/407, kitab Al Hujjah).
Di saat mereka meyakini tentang 12 imam mereka hal-hal yang tidak
pernah diakui oleh para imam tersebut, berupa pengetahuan tentang yang gaib,
dan bahwasanya kedudukan mereka di atas kedudukan manusia biasa
(Bahkan mereka meriwayatkan dari sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, bahwasanya
ia berkata, “Akulah yang telah menjadi tinggi kemudian menundukkan, dan
akulah yang menghidupkan dan mematikan, akulah yang pertama dan terakhir,
akulah yang nampak dan tersembunyi.” Sebagaimana disebutkan dalam buku
“Al Ikhtishash” karya Syeikhul Mufid, sudah barang tentu berbagai sifat ini
8 Nabi Daud ‘alaihissalam adalah salah seorang nabi-nabi Umat Yahudi. Bila Nabi Musa ‘alaihissalaam hidup
sekarang ini, ia akan beragama dengan agama Islam dan berhukum dengan hukum Islam, bukan dengan hukum
Taurat atau hukum nabi Daud -hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Al Baihaqy dllmengapa
para Imam sekte Syi’ah justru berhukum dengan hukum Nabi Daud?! Dan bila Nabi ‘Isa ‘alaihissalam
ketika turun kembali ke dunia kelak sebelum hari kiamat juga berhukum dengan hukum Al Quran, -sebagaimana
disebutkan dalam hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim- dan bukan dengan hukum nabi Daud, mengapa para
imam sekte Syi’ah justru berhukum dengan hukum keluarga Daud?! Bukankah ini merupakan indikasi kuat bahwa
sebenarnya sekte Syi’ah hendak menghidupkan agama nabi Daud ‘alaihi salam yaitu agama Yahudi di tengahtengah
masyarakat Islam??!! (pent-)
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 27 dari 43 —
tidaklah dimiliki oleh selain Allah subhanahu wa Ta’ala. Dan juga seperti
ucapan mereka, “Sesungguhnya para imam kami memiliki kedudukan yang
tidak dapat dicapai oleh para malaikat yang didekatkan, tidak juga nabi yang
telah diutus.”
Al Khumaini dalam bukunya: “Al Hukumah Al Islamiyyah” hal 52). Pada
saat yang bersamaan sekte Syi’ah mengingkari segala hal yang telah
diwahyukan Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari hal-hal gaib,
misalnya perihal penciptaan langit dan bumi, berbagai hal tentang surga dan
neraka. Hal ini telah dinyatakan dengan tegas dalam majalah “Risalatul Islam”
yang diterbitkan oleh “Lembaga Pendekatan” yang berpusatkan di Kairo.
Majalah ini memuat pada edisi ke-4, tahun ke-4, hal: 368, buah karya Kepala
Mahkamah Syari’at Syi’ah Tertinggi di Lebanon, -seorang figur yang mereka
anggap sebagai ulama’ mereka paling memikat tutur katanya- dengan tema:
“Sebagian Dari Ijtihad-ijtihad Syi’ah Imamiyyah”. Pada makalah ini, ia
menukilkan dari tokoh ahli ijtihad mereka yang bernama Syaikh Muhammad
Hasan Al Asytiyani, bahwasanya ia berkata dalam bukunya: “Bahrul Fawaid”
jilid 1, hal: 267: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bila
mengabarkan tentang hukum-hukum syariat, maksudnya: seperti hal-hal yang
membatalkan wudhu, berbagai hukum haidh dan nifas, maka wajib untuk
dipercayai dan diamalkan apa yang ia kabarkan. Dan bila ia mengabarkan
tentang hal-hal gaib, misalnya tentang penciptaan langit dan bumi, bidadari dan
istana di surga, maka tidak wajib untuk diimani, walaupun setelah kita tahu
akan keabsahan hadits tersebut dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ,
terlebih-lebih bila keabsahannya masih diragukan!?
Ya Allah, amat mengherankan! Mereka berdusta dengan menisbatkan
kepada para imam, bahwa mereka dapat mengetahui hal yang gaib, dan
mereka beriman dengannya, padahal penisbatan hal tersebut kepada para
imam tidak dapat dipastikan keabsahannya, di saat yang sama mereka
menghalalkan diri untuk mengingkari berbagai berita tentang hal gaib yang
telah terbukti keabsahannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam , serta
maknanya amat jelas nan tegas, misalnya ayat-ayat dan hadits-hadits shahih
tentang penciptaan langit dan bumi, berbagai perihal tentang surga dan neraka.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada setiap hadits yang
terbukti shahih tersebut tidaklah berkata-kata atas dasar hawa nafsunya, hadits
itu tiada lain kecuali wahyu yang telah diwahyukan kepadanya.
Setiap orang yang membandingkan antara berbagai hal yang
dinisbatkan kepada para imam mereka dengan hadits-hadits shahih dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang mengabarkan tentang hal gaib,
niscaya akan terbukti baginya bahwa hal-hal gaib yang terbukti benar
periwayatannya dari Rasulullah, baik dalam Al Quran atau hadits mutawatir nan
shahih tidaklah mencapai sebagian kecil dari hal-hal yang didakwakan oleh
sekte Syi’ah tentang kedua belas imam mereka, berupa ilmu gaib setelah
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 28 dari 43 —
terputusnya wahyu Allah dari penduduk bumi. Dan seluruh perawi hal-hal gaib
dari kedua belas imam tersebut telah dikenal di kalangan ulama’ ahli Al jarh wa
ta’dil (salah satu disiplin ilmu hadits yang membicarakan tentang kredibilitas
para periwayat hadits) dari kalangan Ahlusunnah sebagai para pendusta, akan
tetapi para pengikut mereka dari kalangan sekte Syi’ah tidak menggubris akan
kenyataan itu, dan tetap mempercayai segala riwayat mereka tentang hal-hal
gaib yang dimiliki oleh para imam.
Pada saat yang bersamaan pula majalah “Risalatul Islam” yang
diterbitkan oleh “Lembaga Pendekatan” memuat tulisan hakim Mahkamah
Syari’at Tertinggi di Lebanon, sekaligus mujtahid mereka, yaitu Muhammad
Hasan Al Asytiyani, yang mempropagandakan dan menyerukan anggapan tidak
wajibnya mempercayai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam hal-hal
gaib yang telah sah diriwayatkan darinya. Mereka hendak membatasi tugas
kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam hal-hal yang
membatalkan wudhu, hukum haid dan nifas serta berbagai perincian ilmu fikih
yang serupa dengannya. Akan tetapi mereka mengangkat martabat imam-imam
mereka dalam hal gaib melebihi martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Salam , padahal beliaulah yang mendapatkan wahyu, sedangkan para imam
mereka tidak pernah mengaku mendapatkan wahyu. Dengan demikian, kami
tidak tahu, pendekatan macam apakah yang mungkin dicapai antara kita
dengan mereka setelah kita mengetahui fakta ini?!
Di antara hal yang dapat kita cermati pada setiap fase sejarah sekte
Syi’ah dan sikap tokoh dan masyarakat umum mereka terhadap pemerintahan
Islam, bahwa pemerintahan Islam apa saja, bila dalam keadaan kuat dan
kokoh, mereka senantiasa menjilat kepada mereka sebagai penerapan ideologi
Taqiyyah guna mengeruk kekayaannya, serta meraih berbagai jabatan.
Kemudian bila pemerintah tersebut telah melemah atau diserang oleh musuh,
segera mereka berpihak kepada barisan musuh dan melawan pemerintah
islam. Demikianlah yang mereka lakukan pada akhir masa dinasti Umawiyyah,
tatkala Bani Abbasiyyah mengadakan pemberontakan. Bahkan revolusi Bani
Abbasiyyah terjadi berkat bujuk rayu sekte Syi’ah.
Kemudian mereka juga bersikap keji semacam ini dengan Dinasti Bani
Abbasiyyah, tatkala mereka terancam oleh serangan Holako Khan dan Bangsa
Mongolia para penyembah berhala terhadap Khilafah Islam, ibu kota kejayaan,
pusat kemajuan serta ilmu pengetahuannya.
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 29 dari 43 —
An Nushair At Thushi dan Ibnu Al Alqami Bersama Pasukan
Holako Khan dan Bangsa Mongol Para Penyembah Berhala
Setelah ahli filosof sekaligus ulama Syi’ah yang bernama An Nushair At
Thusi merangkaikan bait’-bait sya’ir guna menjilat kepada Khalifah Abbasiyah
Al Mu’tashim, tidak berapa lama ia berbalik, pada tahun 655 H ia bersekongkol
melawan sang khalifah dan menyegerakan runtuhnya kekuasaan umat Islam di
kota Baghdad, dan ia berada di barisan terdepan dari iring-iringan pasukan
pembunuh berdarah dingin Holako Khan!! Ia ikut serta menyaksikan
pemenggalan leher-leher kaum muslimin dan muslimat, baik muda ataupun
tua!! Ia juga rela dengan penenggelaman karya-karya ilmiah umat Islam di
sungai Dijlah (Tigris), hingga air sungai mengalir berwarna hitam dalam
beberapa siang dan malam akibat terkena tinta kitab-kitab manuskrip.
Dengannya sirnalah berbagai peninggalan sejarah Islam, yang mencakup
sejarah, adab, bahasa, syair, dan filsafat, terlebih-lebih ilmu-ilmu syariat dan
karya-karya tulis para imam terdahulu para generasi terkemuka, yang hingga
kala itu masih banyak di temukan, dan akhirnya ikut hancur bersama
kehancuran peninggalan lainnya pada petaka ilmu pengetahuan yang tidak
pernah terjadi sebelumnya9.
Dan ikut serta pula bersama Syaikh sekte Syi’ah Nushair At Thusi dalam
pengkhianatan besar ini dua orang sahabatnya: pertama, perdana menteri
Syi’ah yang bernama Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqami, dan kedua, penulis
buku yang beraliran mu’tazilah yang lebih ekstrem dalam berpegang dengan
paham Syi’ah, yang bernama Abdul Hamid bin Abi Al Hadid, ia adalah orang
kepercayaan Ibnu Al ‘Alqami. Orang kedua ini sepanjang hidupnya memusuhi
sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam , oleh karenanya ia
memenuhi buku karyanya yang merupakan syarah (penjabaran) dari buku
“Nahjul Balaghah” dengan berbagai kedustaan yang telah mencoreng muka
sejarah Islam. Dan hingga saat ini masih jua ada sebagian orang-orang yang
tidak memahami hakikat masa lampau agama Islam dan berbagai sekte
sempalan yang melekat kepadanya, sampai pun sebagian kaum cendekiawan
dan terpelajar. (Al ‘Allaamah Abdullah bin Al Husain As Suwaidi telah
menuliskan bantahan terhadap Ibnu Abi Al Hadid ini, dimana beliau menuliskan
sebuah buku dengan judul: As Sharim Al Hadid Fi Ar Rad ‘Ala Ibni Abi Al Hadid
)

 ا  أ  ا  د  ا 

 رم ا  ا ) sebanyak 1000 halaman, sebagaimana
disebutkan oleh Muhammad Zahid Al Kautsari dalam sebagian makalahnya).
9 Suatu kelaziman atas kita untuk mengisyaratkan di sini, bahwa cucu Holako Khan, yaitu Sultan Gazaan, tatkala
datang pada tahun 699 H untuk menguasai negeri Syam, yang menjabat sebagai perdana menterinya ialah cucu
pembela kekufuran At Thusi yang bernama Ashiluddin At Thusi. Gazaan melakukan berbagai kekejaman di kota
Damaskus, memerkosa, menumpahkan darah, dan mencuri kitab-kitab ilmu. Hingga akhirnya Allah ta’ala
memudahkan bagi Al Imam Al Mujahid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam memimpin umat Islam melawan diktator
ini, dan kemudian Allah melimpahkan kemenangan atas beliau pada peperangan Syaqhab yang telah masyhur dan
yang terjadi pada tahun 701 H.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 30 dari 43 —
Sesungguhnya Ibnu Al ‘Alqami yang telah membalas kelembutan
Khalifah Al Musta’shim dan, kedermawanan beliau sehingga ia dipilih menjadi
perdana menterinya, dengan pengkhianatan. Ia telah dikuasai oleh tabi’at
aslinya yaitu pengkhianat dan jiwa yang hina sehingga ia sampai hati
membalas buruk budi baik orang lain. Hingga saat ini sekte Syi’ah tak kunjung
henti menampakkan rasa gembira dan merasa girang dengan permusuhan
yang berhasil mereka lancarkan terhadap umat Islam pada petaka Holako Kan
yang telah menimpanya. Dan barang siapa yang hendak mengetahui hal ini,
silakan membaca biografi An Nushair At Thusi yang mereka tulis dalam setiap
buku-buku biografi karya mereka. Buku biografi terbaru yang mereka tulis ialah
buku “Raudhaat Al Jannaat” karya Al Khunisaari. Buku ini dipenuhi dengan
pujian kepada para penumpah darah dan para pengkhianat dan ungkapan
kegembiraan atas apa yang menimpa umat Islam kala itu, pelampiasan
dendam terhadap para korban petaka itu, baik para tokoh atau masyarakat
awam. Juga dipenuhi dengan ungkapan kegembiraan dengan pembantaian
yang menimpa kaum muslimin dan muslimat, sampai-sampai anak kecil dan
orang-orang tua renta. Suatu sikap yang musuh paling berbahaya dan binatang
paling buas pun akan merasa malu untuk menampakkan kegembiraannya atas
petaka tersebut.
Sub pembahasan ini telah terlanjur panjang lebar diutarakan, padahal
kami berusaha untuk meringkaskannya dengan menyebutkan beberapa nukilan
singkat dari berbagai buku rujukan terpercaya sekte Syi’ah. Dan kami akan
tutup sub pembahasan ini dengan menukilkan satu teks lain yang berkaitan
dengan masalah pendekatan, agar setiap muslim mengetahui bahwa
pendekatan dapat saja terlaksana dengan berbagai aliran dan mazhab lain,
sedangkan hal itu mustahil untuk terwujud bersama sekte Syi’ah secara
khusus. Hal ini merupakan pengakuan dari mereka sendiri, sebagaimana dalam
teks nukilan berikut ini:
Al Khunisaari -ia adalah seorang pakar sejarah sekte Syi’ah- menukilkan
dalam buku “Raudhaat Al Jannaat” hal: 579, edisi ke-2 Teheran tahun 1367 H,
tatkala ia menyebutkan biografi An Nushair At Thusi dengan panjang lebar, ia
menyebutkan bahwa di antara ucapannya yang benar-benar bagus dan yang
muncul dari sumber kebenaran dan penelitian, ialah ucapannya ketika ia
menentukan Al Firqah An Najiyyah (kelompok selamat dari neraka -pent) dari
ketujuh puluh tiga golongan, adalah kelompok Al Imamiyyah, ia berkata:
“Sesungguhnya aku telah mengkaji seluruh mazhab, dan aku
telah mengetahui seluruh prinsip dan perincian mereka,
kemudian aku dapatkan bahwa selain kelompok Imamiyyah
memiliki keserupaan tentang prinsip utama dalam keimanan,
walaupun ada beberapa perbedaan yang tidak berpengaruh
sedikit pun terhadap keimanan, baik mereka menetapkannya
atau mengingkarinya. Kemudian aku mendapatkan bahwa
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 31 dari 43 —
kelompok Al Imamiyyah menyelisihi prinsip-prinsip seluruh
kelompok. Kalaulah seandainya ada kelompok selain mereka
yang dianggap sebagai kelompok selamat, niscaya seluruh
kelompok tersebut adalah kelompok selamat (Al Firqoh An
Najiyyah). Ini membuktikan bahwa satu-satunya kelompok
selamat tiada lain adalah kelompok Al Imamiyyah.”
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 32 dari 43 —
Bagi Syi’ah, Dua Kalimat Syahadat Tidak Cukup Sebagai Bekal
Masuk Surga
Al Khunisari berkata Seusai menukilkan ungkapan di atas, sayyid
Ni’matullah Al Musawi berkata
“Dan penjelasannya sebagai berikut: Seluruh kelompok
bersepakat bahwa dua kalimat syahadat adalah sumber
keselamatan (dari neraka -pent), dengan dasar sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam :
من قال لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barang siapa yang bersaksi bahwa ‘tiada sesembahan yang
layak untuk disembah selain Allah’ niscaya ia akan masuk surga.”
Adapun kelompok Imamiyyah, mereka sepakat bahwa
keselamatan tidak akan terwujud selain dengan sikap loyal kepada
Ahlul Bait hingga imam kedua belas, dan berlepas diri dari seluruh
musuh-musuh mereka (maksudnya Abu Bakar, Umar hingga
manusia terakhir yang beragama Islam selain dari sekte Syi’ah,
baik penguasa atau rakyat biasa), sehingga kelompok ini
menyelisihi seluruh kelompok lain dalam hal ideologi ini yang
merupakan sumber keselamatan.”
Sungguh At Thusi, Al Musawi dan Al Khunisari telah benar!! Dan dalam
waktu yang bersamaan telah berdusta!!
Mereka benar bahwa seluruh kelompok memiliki kedekatan dalam hal
prinsip dan berselisih dalam hal sekunder, oleh karena itu amat dimungkinkan
untuk terjadinya solidaritas dan pendekatan antara berbagai kelompok yang
dasar ideologinya saling berdekatan. Sedangkan pendekatan ini mustahil untuk
terjadi bersama sekte Syi’ah Al Imamiyyah, karena mereka menyelisihi seluruh
umat Islam dalam hal prinsip, dan mereka tiada pernah rela dari umat Islam
hingga mereka semua mengutuk (Al Jibtu & At Thoghut) Abu Bakar dan Umar
radhiallahu ‘anhuma serta setiap muslim selain mereka hingga hari ini. Dan
hingga mereka berlepas diri dari setiap orang selain Syi’ah sampai pun putriputri
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang dinikahkan dengan Dzu An
Nurain Utsman bin Affan dan tokoh bani Umayyah sang pemberani nan mulia
yaitu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ yang telah disanjung oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam dari atas mimbar Masjid An Nabawi As Syarif dan di hadapan khalayak
umat Islam kala itu, yaitu tatkala sahabat Ali radhiallahu ‘anhu hendak menikahi
putri Abu Jahl, dan menjadikannya sebagai madu bagi putri pamannya
Fathimah radhiallahu ‘anha (Setiap wanita anak saudara ayah seseorang yang
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 33 dari 43 —
manapun disebut juga sebagai anak paman, oleh karena itu penulis menyebut
bahwa Fatimah radhiallahu ‘anha adalah sepupu sahabat Ali radhiallahu ‘anhu,
karena ia adalah putri saudara sepupunya) kemudian Fatimah mengadukannya
kepada ayahnya. Dan juga (Syi’ah tidak akan pernah rela -ed muslim) hingga
umat islam berlepas diri dari Imam Zaid bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain bin
Ali bin Abi Tholib, dan seluruh Ahlul Bait yang tidak sudi untuk tunduk di bawah
bendera Rafidhoh (Syi’ah Imamiyyah) dalam setiap ideologi mereka yang
berkelok-kelok, yang di antaranya ialah meyakini bahwa Al Quran telah
diselewengkan.
Dan sungguh mereka telah meyakini ideologi ini sepanjang masa dan
pada setiap generasi mereka, sebagaimana yang dinukilkan dan dicatatkan
oleh cendekiawan cemerlang sekaligus tokoh pujaan mereka, yaitu Haji Mirza
Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thobarsi dalam bukunya “Fashlul
Khithaab Fi Itsbaat Tahrif Kitaab Rabbil Arbaab”. Seorang tokoh yang telah
melakukan tindak kekejian dengan menuliskan setiap baris dari buku ini di sisi
kuburan seorang sahabat mulia pemimpin kota Kufah Al Mughirah bin Syu’bah
radhiallahu ‘anhu, yang dianggap oleh sekte Syi’ah sebagai kuburan sahabat
Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu.
Sesungguhnya sekte Syi’ah mensyaratkan kepada kita agar terwujud
toleransi dengan mereka dan agar mereka ridha dengan pendekatan kita
kepada mereka: hendaknya kita ikut serta bersama mereka mengutuk para
sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam , dan berlepas diri dari setiap
orang selain anggota sekte mereka, sampai pun putri-putri Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan anak cucu beliau, dan sebagai baris terdepan
dari mereka ialah Zaid bin Zainal ‘Abidin, dan setiap orang yang sejalan dengan
beliau dalam mengingkari perilaku mungkar sekte Rafidhah (Syi’ah Imamiyyah).
Inilah sisi jujur dari teks yang dinukil dari An Nushair At Thusi, dan yang
disetujui oleh Sayyid Ni’matullah Al Musawi dan Mirza Muhammad Baqir Al
Musawi Al Khunisari Al Ashbahani, dan tidak ada seorang syi’ah pun yang
menyelisihinya, baik dari kalangan yang dengan tegas menampakkan ideologi
taqiyyah atau yang menyembunyikannya.
Adapun sisi kedustaan mereka ialah pengakuan mereka bahwa sekedar
mengucapkan dua kalimat syahadat adalah sumber keselamatan di akhirat
menurut umat Islam selain sekte Syi’ah. Seandainya mereka berakal atau
memiliki pengetahuan, niscaya mereka mengetahui bahwa dua kalimat
syahadat menurut Ahlusunnah adalah pertanda masuknya seseorang ke dalam
Islam. Dan orang yang telah mengucapkannya -walaupun ia sebelumnya
adalah kafir harbi (Kafir Harbi ialah orang kafir yang menampakkan
permusuhan terhadap Islam dan umat Islam -pent)- berubah menjadi orang
yang dilindungi darah dan harta bendanya di dunia. Adapun keselamatan di
akhirat, maka keselamatan hanya tercapai dengan keimanan yang benar, dan
bahwasanya keimanan itu -sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mukminin
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 34 dari 43 —
Umar bin Abdul ‘Aziz- memiliki berbagai kewajiban, syariat, batasan-batasan,
dan sunnah-sunnah, barang siapa yang menjalankannya dengan sempurna,
maka ia telah mencapai kesempurnaan iman, dan barang siapa yang tidak
menjalankannya dengan sempurna, maka ia belum mencapai kesempurnaan
iman. Dan mempercayai keberadaan imam mereka yang kedua belas tidak
termasuk dari syariat iman, karena sebenarnya ia adalah figur rekaan yang
dinisbatkan dengan dusta kepada Al Hasan Al ‘Askari yang wafat tanpa
meninggalkan seorang anak pun, dan saudara kandungnya yang bernama
Ja’far mewarisi seluruh harta warisannya, dengan dasar karena ia tidak
meninggalkan seorang anakpun.
Marga Alawiyyin (Yang dimaksud dengan Alawiyyin ialah anak keturunan
sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu -pent) memiliki daftar keturunan
yang kala itu dipegang oleh seorang perwakilan dari mereka, sehingga tidaklah
dilahirkan seorang bayi pun dari mereka, melainkan akan dicatat padanya, dan
padanya tidak pernah terdaftar seorang anak pun bagi Al Hasan Al ‘Askari. Dan
marga Alawiyyin yang semasa dengan Al Hasan Al ‘Askari tidak pernah
mengetahui bahwa ia meninggalkan seorang anak laki-laki. Hakikat yang
sebenarnya telah terjadi adalah: tatkala Al Hasan Al ‘Askari wafat dalam
keadaan mandul, dan silsilah keimaman para pemuja mereka yaitu sekte
Imamiyyah terputus, mereka menghadapi kenyataan bahwa paham mereka
akan mati bersama kematiannya, dan mereka tidak lagi menjadi sekte
Imamiyyah, karena tidak lagi memiliki imam. Oleh karena itu, salah seorang
setan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair, salah seorang mantan
budak Bani Numair mencetuskan gagasan bahwa Al Hasan Al ‘Askari memiliki
anak laki-laki yang disembunyikan di salah satu terowongan ayahnya10, agar ia
dan para sekongkolnya dengan nama Imam tersebut dapat mengumpulkan
zakat dari masyarakat dan hartawan sekte Syi’ah! Dan agar mereka -walau
dengan berdusta- dapat meneruskan propaganda bahwa mereka adalah
pengikut para Imam.
Muhammad bin Nushair ini menginginkan agar dialah yang menjadi “Al
Bab (pintu penghubung)” terowongan fiktif tersebut, sebagai penyambung lidah
antara imam fiktif dengan pengikutnya, dan bertugas memungut harta zakat.
Akan tetapi kawan-kawannya para setan penggagas makar ini tidak menyetujui
keinginannya tersebut, dan mereka tetap bersikukuh agar yang berperan
sebagai “pintu/Al Bab” ialah seorang pedagang minyak zaitun atau minyak
samin. Pedagang ini memiliki toko kelontong di depan pintu rumah Al Hasan
10 Dan terowongan ayahnya -seandainya memang benar bahwa ayahnya memiliki terowongan- maka para pengikut
sekte Syi’ah tidak mungkin untuk memasukinya, karena terowongan tersebut berada di kekuasaan Ja’far saudara
kandung Al Hasan Al ‘Askari, dan ia meyakini bahwa saudara kandungnya yaitu Al Hasan tidak memiliki anak lelaki,
tidak di dalam terowongan fiktif tersebut juga tidak di luarnya. Dan bila ia bersembunyi di berbagai terowongan!!!
maka mana mungkin mereka dapat menemukannya…
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 35 dari 43 —
dan ayahnya, sehingga mereka dapat mengambil darinya segala kebutuhan
rumah tangga mereka. Tatkala terjadi perselisihan ini, pencetus ide ini (yaitu
Muhammad bin Nushair -pent) memisahkan diri dari mereka, dan mendirikan
sekte An Nushairiyah yang dinisbatkan kepadanya.
Dahulu kawan-kawan Muhammad bin Nushair memikirkan supaya
mereka mendapatkan cara untuk memunculkan figur “Imam Ke-12″ yang
mereka rekayasa, dan kemudian ia menikah dan memiliki anak keturunan yang
memegang tampuk Imamah sehingga paham Imamiyah mereka dapat
berkesinambungan. Akan tetapi terbukti bagi mereka bahwa munculnya figur
tersebut akan memancing pendustaan dari perwakilan marga Alawiyyin dan
seluruh marga ‘Alawiyyin serta saudara-saudara sepupu mereka para khalifah
dinasti Abbasiyyah dan juga para pejabat mereka. Oleh karenanya mereka
akhirnya memutuskan untuk menyatakan bahwa ia tetap berada di terowongan,
dan bahwasanya ia memiliki persembunyian kecil dan persembunyian besar,
hingga akhir dari dongeng unik yang tidak pernah didengar ada dongeng yang
lebih unik daripadanya, sampai pun dalam dongeng bangsa Yunani.
Mereka menginginkan dari seluruh umat Islam yang telah dikaruniai Allah
dengan nikmat akal sehat agar mempercayai dongeng palsu ini!! Agar
pendekatan antara mereka dengan sekte Syi’ah dapat dicapai?! Mana mungkin
terjadi, kecuali bila dunia Islam seluruhnya telah berpindah tempat ke (rumah
sakit jiwa) guna menjalani pengobatan gangguan jiwa!! Dan Alhamdulillah atas
kenikmatan akal sehat, karena akal sehat merupakan tempat ditujukannya
tugas-tugas agama, dan akal sehat -setelah nikmat iman yang benarmerupakan
kenikmatan terbesar dan termulia.
Sesungguhnya umat Islam berloyal kepada setiap orang mukmin yang
benar imannya, termasuk di dalamnya orang-orang saleh dari Ahlul Bait tanpa
dibatasi dalam jumlah tertentu. Kaum mukminin terdepan yang mereka loyali
ialah sepuluh sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Salam dengan surga. Seandainya sekte Syi’ah tidak melakukan
perbuatan kufur selain sikap mereka yang menyelisihi Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa Salam bahwa kesepuluh sahabat tersebut adalah penghuni surga, niscaya
ini cukup sebagai alasan untuk memvonis mereka kafir.
Sebagaimana umat Islam juga berloyal kepada seluruh sahabat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang di atas pundak merekalah agama Islam
tegak dan terbentuk dunia Islam, kebenaran dan kebaikan tumbuh subur di
bumi Islam dengan tumpahan darah mereka. Merekalah orang-orang yang
dengan sengaja sekte Syi’ah berdusta atas nama sahabat Ali dan anak
keturunannya, sehingga mereka beranggapan bahwa mereka itu adalah
musuh-musuh Ali dan anak-anaknya. Sungguh mereka telah hidup
berdampingan bersama sahabat Ali dalam keadaan saling bersaudara,
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 36 dari 43 —
mencintai, bahu-membahu, dan mereka pun mati dalam keadaan saling
mencintai dan bahu-membahu.
Amat tepat peyifatan tentang mereka yang Allah ta’ala sebutkan dalam
surat Al Fath, dalam Kitabullah yang tiada kebatilan baik dari arah depan
ataupun belakang. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang mereka:
َأشِ  داءُ  عَلى اْل ُ كفَّارِ  ر  ح  ماء بين  ه  م
“Mereka amat keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi sesama
mereka.” (QS. Al Fath: 29)
Dan pada firman-Nya dalam surat Al Hadid:
 ولِلَّهِ مِ  يرا ُ ث ال  س  ما  واتِ  واْلَأ  رضِ َلا ي  ستوِي مِن ُ كم م  ن َأنَف  ق مِن َقبلِ الَْفتحِ  وَقات َ ل ُأ  وَلئِ  ك َأ  ع َ ظ  م د ر  جًة م  ن
الَّذِي  ن َأنَفُقوا مِن ب  ع  د  وَقاتُلوا  و ُ كلا  و  ع  د اللَّه اْل  ح  سنى
“Padahal Allah-lah yang memiliki langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu
orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan
(Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada
masing-masing mereka balasan yang lebih baik.” (QS. Al Hadiid: 10)
Adakah mungkin Allah mengingkari janji-Nya?! Allah juga berfirman tentang
mereka pada surat Ali Imran:
ُ كنت  م  خير ُأمةٍ ُأ  خرِ  ج  ت لِلناسِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” (QS. Ali
Imran: 110)
******
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 37 dari 43 —
Di Antara Anak Ali bin Abi Tholib Adalah Abu Bakar, Umar &
Utsman
Di antara bentuk kasih sayang Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib kepada
saudara-saudaranya ketiga kholifah sebelumnya semoga Allah senantiasa
meridhoi mereka semua beliau wujudkan dengan memberi nama anak-anak
beliau setelah Al Hasan dan Al Husain dengan nama-nama mereka.
Di antara anak sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu ialah anak
lelaki yang ia beri nama “Abu Bakar”, dan lainnya diberi nama “Umar” dan
lainnya diberi nama “Utsman”. Beliau juga menikahkan putrinya Ummu Kultsum
yang terbesar dengan sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu 11. Dan
sepeninggal beliau, ia dinikahi oleh saudara sepupunya, yaitu Muhammad bin
Ja’far bin Abi Tholib, kemudian iapun meninggal sebelumnya, dan kemudian ia
dinikahi oleh saudara lelaki Muhammad, yaitu ‘Aun bin Ja’far, kemudian Ummu
Kultsum meninggal dunia sebagai istri beliau.
Al Kulaini (salah seorang pentolan Syi’ah -ed muslim) menyebutkan
sebuah hadits dari Zurarah dari Abu Abdillah ‘alaihissalaam perihal pernikahan
Ummu Kultsum, ia berkata: “Sesungguhnya itu adalah kemaluan yang telah
dirampas dari kami.” Silahkan baca Al Kafi dalam bab: Furu’ juz 2 halaman 141,
edisi India.
Bahkan At Thusi dalam bukunya, “Tahzibul Ahkaam” juz 2 halaman 380
menyebutkan bahwa Ummu Kultsum dan putranya yaitu Zaid bin Umar bin Al
Khatthab meninggal dunia dalam pada waktu yang sama, sehingga masingmasing
dari mereka berdua tidak saling mewarisi. Maka bagaimana sebagian
buku tersebut mengingkari fakta pernikahan, kemudian mendatangkan riwayatriwayat
murahan tentang jin perempuan atau mereka menyerahkan kepada
Umar bin Al Khatthab wanita lain yang menyerupainya!!
Dan sahabat Abdullah bin Ja’far (Ja’far dijuluki dengan Zil Janahain) bin
Abi Tholib menamakan salah seorang putranya dengan nama “Abu Bakar”, dan
menamakan anaknya yang lain dengan nama “Mu’awiyah”. Dan Mu’awiyah ini,
yaitu bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Tholib telah menamakan salah seorang
11 Di antara lelucon adalah: bahwa sebagian buku Syi’ah mengingkari pernikahan sahabat Umar bin Al Khatthab
dengan putri Ali Bin Abi Tholib. Bahkan mereka menyebutkan bahwa Ali dan keluarga menyerahkan kepada Umar
wanita lain yang dirubah wajahnya menyerupai Ummu Kultsum… Lelucon ini seperti dinyatakan dalam pepatah:
“Maksud hati mereka ingin meriasnya dengan celak, akan tetapi mereka malah menjadikan matanya buta!!”.
Sepeninggal Umar bin Al Khatthab setelah ditikam oleh Abu Lulu’ah Al Majusi, apakah saudara sepupunya
Muhammad bin Ja’far menikahi Ummu Kultsum yang sebenarnya ataukah menikahi wanita yang diubah wajahnya?!
Demikian juga tatkala Muhammad bin Ja’far meninggal, apakah saudara kandungnya yaitu ‘Aun menikahi Ummu
Kultsum ataukah wanita lain yang menyerupainya!?
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 38 dari 43 —
putranya dengan nama “Yazid”12. Hal ini beliau lakukan, karena beliau
mengetahui bahwa Yazid berperilaku baik nan terpuji, sebagaimana yang
dipersaksikan oleh Muhammad bin Ali bin Abi Tholib. (Muhammad bin Ali bin
Abi Tholib lebih dikenal dengan Muhammad bin Al Hanafiyyah -pent)
Seandainya sikap berlepas diri yang menjadi tuntutan sekte Syi’ah
sebagai tumbal terealisasinya “pendekatan” antara kita dengan mereka
mencakup seluruh tokoh-tokoh yang mereka kehendaki, niscaya orang pertama
yang berlaku salah ialah imam pertama mereka Ali bin Abi Tholib radhiallahu
‘anhu yang telah menamakan putranya dengan nama: Abu Bakar, Umar dan
Utsman. Dan lebih besar lagi kesalahan beliau di saat beliau menikahkan
putrinya dengan sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu. Demikian
juga Muhammad bin Al Hanafiyyah telah berdusta pada persaksiannya tentang
Yazid, yaitu tatkala datang kepadanya Abdullah bin Muthi’ salah seorang
tangan kanan Ibnu Zubair, kemudian ia mengaku bahwa Yazid biasa minum
khamer, meninggalkan sholat, dan melanggar hukum Al Quran, maka
Muhammad bin Ali bin Abi Tholib berkata kepadanya -sebagaimana
diriwayatkan dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah 8/233:
“Aku tidak pernah melihat apa yang kalian sebut-sebut itu, padahal
aku pernah hadir di majelisnya dan juga tinggal bersamanya. Yang
aku saksikan ia senantiasa rajin menunaikan sholat, berupaya
melakukan kebaikan, bertanya tentang ilmu fikih, dan senantiasa
berpegang teguh dengan sunnah…” Mendengar yang demikian,
Ibnu Muthi’ (dan kawan-kawannya -pent) berkata: “Sesungguhnya
ia berperilaku demikian, dalam rangka berpura-pura di
hadapanmu.” Maka Muhammad bin Al Hanafiyyah menjawab:
“Memangnya apa yang ia takutkan atau yang ia harapkan dariku,
sampai-sampai ia merasa perlu untuk berpura-pura khusyu’ di
hadapanku? Apakah ia memperlihatkan kepada kalian perbuatan
yang kalian sebut-sebut, yaitu berupa minum khamer?
Seandainya ia memperlihatkannya kepada kalian, maka kalian
adalah sekutunya! Dan bila ia tidak pernah memperlihatkannya
kepada kalian, maka tidak halal bagi kalian untuk bersaksi dengan
sesuatu yang tidak kalian ketahui.” Mereka pun menjawab: “Berita
ini bagi kami adalah benar, walaupun tidak kami saksikan sendiri.”
Maka Maka Muhammad bin Al Hanafiyyah menjawab: “Allah tidak
menerima metode semacam ini dari orang yang hendak bersaksi,
oleh karenanya Allah berfirman:
12 Analisa ini perlu dikaji ulang; karena belum terbukti bahwa Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far bin Abi Tholib
menamakan putranya dengan sebab mengharapkan agar anaknya menjadi seperti Yazid bin Mu’awiyyah bin Abi
Sufyan, Sedangkan nama Yazid kala itu telah dikenal di masyarakat Arab, diantaranya panglima perang sekaligus
sahabat mulia Yazid bin Abi Sufyan, paman Yazid bin Mu’awiyah.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 39 dari 43 —
إلاَّ من  شهِ  د بالح  ق وهم يعَلمون
“Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan benar, sedangkan
mereka benar-benar mengetahui.” (QS. Az Zukhruf: 86), dan aku
tidak ikut andil dalam urusan kalian sedikit pun.”
Bila demikian ini persaksian salah seorang putra Ali bin Abi Tholib
tentang Yazid, maka akan kita sembunyikan ke manakah fenomena ini bila kita
menuruti keinginan sekte Syi’ah dalam menyikapi beliau dan juga ayahnya
(yaitu sahabat Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu), dan juga kepada orang yang
lebih utama dari ayahnya dan juga lebih utama dibanding makhluk Allah
lainnya, maksud saya ialah sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Tholhah, Az
Zubair, Amr bin Al ‘Ash dan seluruh tokoh sahabat yang telah menjaga
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk kita. Sebagaimana mereka telah
mewujudkan dunia islam ini yang dengannya dan untuknya kita hidup, semoga
Allah senantiasa meridhoi mereka semua.
Sesungguhnya tebusan yang dituntut oleh sekte Syi’ah guna
merealisasikan “pendekatan” antara kita dan mereka terlalu mahal,
mengakibatkan kita kehilangan segala sesuatu serta tidak mendapatkan apaapa.
Dan hanya orang dungulah yang sudi untuk bertransaksi dengan orang
yang menginginkan darinya suatu perniagaan yang padanya ia nyata-nyata
merugi!!
Sesungguhnya loyalitas dan pelepasan diri (al bara’) yang merupakan
asas agama sekte Syi’ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh An Nushair At
Thusi, dan dikuatkan oleh Ni’matullah Al Musawi serta Al Khunisari tidak ada
penjabarannya selain perubahan agama Islam serta permusuhan terhadap para
tokoh yang di atas pundak merekalah negeri Islam berhasil ditegakan.
Sungguh mereka bertiga telah berdusta pada anggapan mereka bahwa
sekte mereka adalah satu-satunya sekte yang menyelisihi ajaran kelompok lain,
sesungguhnya sekte Isma’iliyyah menyerupai mereka. Sekte Isma’iliyyah
menyelisihi umat Islam dalam hal-hal yang juga diselisihi oleh sekte Syi’ah
Imamiyyah, selain pada hal penentuan sebagian figur keluarga/keturunan Nabi
(ahlul bait) yang mereka berloyal kepadanya.
Sekte Syi’ah Imamiyah berloyal kepada seluruh figur yang diloyali oleh
sekte Isma’iliyyah hingga pada Ja’far As Shadiq, dan kemudian mereka
berbeda tentang figur imam setelahnya.
Sekte Imamiyyah berloyal kepada Musa bin Ja’far beserta keturunannya,
sedangkan sekte Isma’iliyyah berloyal kepada Isma’il bin Ja’far beserta
keturunannya.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 40 dari 43 —
Sikap ekstrem yang ada pada sekte Isma’iliyyah semenjak masa Isma’il
dan setelahnya telah dijiplak oleh sekte Imamiyyah sejak masa dinasti As
Safawiyyah, sehingga mereka pun terjerumus ke dalam jurang di bawah
kepemimpinan Al Majlisi dan para kaki tangannya. Bila kelompok ekstrem dari
sekte Syi’ah pada zaman dahulu merupakan minoritas, akan tetapi setelah itu
hingga saat ini mereka menjadi mayoritas, mereka semua adalah ekstrem
Syi’ah Imamiyyah tanpa terkecuali. Fakta ini telah diakui oleh tokoh terkemuka
mereka dalam hal ilmu Al Jarh wa At Ta’dil, yaitu Ayatullah Al Maamiqaani pada
setiap kali ia menyebutkan biografi tokoh-tokoh ekstrem Syi’ah terdahulu. Ia
mengumandangkan pada setiap kesempatan untuk membahas permasalahan
ini dalam buku besarnya, bahwa: segala hal yang menjadi penyebab orangorang
ekstrem dianggap ekstrem, maka pada zaman ini menurut seluruh
penganut paham Syi’ah sebagai bagian dari hal-hal yang prinsip/mendasar
dalam paham Syi’ah!!
Dengan demikian, sikap ekstrem yang dahulu menjadi faktor pembeda
antara sekte Isma’iliyyah dengan Syi’ah, sekarang dengannya mereka bersatu,
tiada perbedaan antara mereka selain dalam hal figur-figur yang dituhankan
oleh masing-masing mereka, atau dianggap kedudukannya melebihi kedudukan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam . Beliau yang oleh sekte Imamiyyah melalui
lisan Muhammad Hasan Al Asytiyaani diperbolehkan untuk tidak dipercayai
dalam hal-hal gaib, misalnya tentang penciptaan langit dan bumi, dan
karakteristik Surga dan Neraka. Pada saat bersamaan mereka menisbatkan
kepada imam-imam mereka dan kepada imam mereka “kedua belas” berbagai
hal yang menjadikan mereka sederajat dengan berbagai sesembahan bangsa
Yunani Kuno.
Sesungguhnya pendekatan antara berbagai kelompok umat Islam
dengan berbagai kelompok sekte Syi’ah adalah suatu hal yang mustahil
tercapai, dikarenakan sekte Syi’ah menyelisihi seluruh umat Islam dalam hal
prinsip, sebagaimana yang telah diproklamirkan oleh An Nushair At Tushi Dan
dibenarkan oleh Ni’matullah Al Musawi dan Baqir Al Khunisari, dan juga
dibenarkan oleh setiap anggota sekte Syi’ah. Bila ini telah terjadi pada zaman
An Nushair At Thusi, maka hal ini sejak zaman Al Majlisi hingga sekarang
menjadi lebih parah dan lebih dahsyat!!.
Tidak diragukan lagi bahwa Sekte Syi’ah lah yang tidak rela dengan
adanya pendekatan, oleh karena itu mereka berkorban dan mengeluarkan dana
besar guna mempropagandakan “pendekatan” di negeri kita, sedangkan
mereka enggan dan tidak rela bila hal tersebut disuarakan atau berjalan walau
hanya selangkah di negeri Syi’ah, atau berpengaruh pada kurikulum sekolahsekolah
mereka.
Oleh karena itu upaya apa saja guna merealisasikan hal ini akan sia-sia
bak permainan anak-anak, tidak ada gunanya, kecuali bila sekte Syi’ah sudi
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 41 dari 43 —
untuk berhenti dari mengutuk Abu Bakar dan Umar -semoga Allah senantiasa
meridhoi keduanya-, serta tidak lagi berlepas diri dari setiap orang di luar
anggota sekte Syi’ah sejak wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam hingga
hari Kiamat. Dan juga bila sekte Syi’ah telah berhenti dari ideologi pengkultusan
para imam ahlul bait sampai-sampai melebihi martabat orang shaleh hingga
mencapai martabat sesembahan bangsa Yunani. Karena ini semua merupakan
tindak kejahatan terhadap agama Islam, dan perubahan arah agama Islam dari
jalur yang telah digariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan
para sahabatnya yang mulia, di antaranya oleh sahabat Ali bin Abi Tholib
beserta anak keturunannya semoga Allah senantiasa meridhoi mereka.
Bila Sekte Syi’ah tidak meninggalkan kejahatannya terhadap agama,
aqidah dan sejarah Islam ini, maka mereka akan terkucilkan bersama ideologi
mereka yang nyata-nyata menyelisihi seluruh prinsip umat islam, dan dijauhi
oleh seluruh umat Islam untuk selama-lamanya
Ada suatu fenomena yang telah kami isyaratkan sebelumnya pada
makalah ini secara singkat, yaitu sesungguhnya kaum komunis yang telah
merajalela di Irak dan yang tergabung dalam Partai Tawaddah (Partai Kasih
Sayang) di Iran yang memiliki peranan lebih besar bila dibanding peranan
mereka di negeri-negeri Islam lainnya, sebenarnya merupakan sempalan dari
sekte Syi’ah, sehingga kaum komunis di dua negeri tersebut terdiri dari
generasi muda sekte Syi’ah!! Mereka mendapatkan paham Syi’ah terlalu
tenggelam dalam khurafat, kehinaan, dan kedustaan yang tidak masuk akal,
sehingga mengakibatkan mereka mengingkari paham tersebut! Pada saat yang
bersamaan mereka mendapatkan organisasi-organisasi Komunis gencar
dijajakan oleh para penyerunya, dan menebarkan berbagai tulisan dalam
berbagai bahasa. Dan kaum komunis dalam menjajakan paham mereka
menempuh metode ilmiah dalam hal perekonomian, sehingga dengan mudah
mereka terperangkap dalam jeratnya. Seandainya kaum muda sekte Syi’ah
mengenal ajaran agama Islam dengan murni dan kemudian mereka mengajinya
tanpa dinodai oleh paham Syi’ah, niscaya mereka akan terlindung dari
terjerumus ke dalam jurang komunis tersebut.
Tatkala terjadi tragedi fitnah “Al Bab/pintu” di Iran sebelum seratus tahun
silam, dan Ali Muhammad As Syairazi mengaku sebagai pintu penghubung
kepada Al Mahdi yang mereka nanti-nantikan, kemudian ia secara bertahap
mengaku sebagai Imam Mahdi yang mereka nanti-nantikan, dan ia berhasil
merekrut pengikut dari kaum Syi’ah Iran. Pemerintah Iran kala itu lebih memilih
untuk mengasingkannya ke Azerbejan, dikarenakan Azerbejan adalah pusat
kaum Sunni dari para penganut mazhab Hanafi. Dikarenakan mereka adalah
kaum sunni, sehingga mereka memiliki kekebalan dari terjerumus ke dalam
jurang kenistaan, dan khurafat yang diilhami dari paham Syi’ah tersebut.
http://dear.to/abusalma
Maktabah Abu Salma al-Atsari
Mungkinkah Sunni dan Syiah bersatu? Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id
— 42 dari 43 —
Oleh karena kaum Syi’ah dengan mudah terpedaya dengannya dan
dengan mudah mereka memenuhi seruan “Al Bab” karenanya Pemerintah Iran
enggan untuk mengasingkannya ke negeri yang menganut paham Syi’ah,
disebabkan para penganut Syi’ah telah terdidik untuk menerima kepalsuan
semacam ini, sehingga akan semakin banyak pengikutnya dan semakin besar
fitnah tersebut.
Sebagaimana paham Syi’ah pada abad lalu telah menjadi biang
menyebarnya berbagai paham yang serupa dengannya, misalnya seruan
orang-orang yang mengaku sebagai “Al Bab” dan sekte “Baha’iyah”, demikian
juga paham Syi’ah pada zaman sekarang telah menjadi biang munculnya sikap
anti pati di tengah-tengah kaum terpelajar dari generasi mudah kaum Syi’ah
yang mulai sadar. Ini semua terjadi karena paham Syi’ah terlalu hina sehingga
tidak layak untuk diyakini oleh orang yang berakal sehat. Akibatnya mereka pun
murtad dari paham Syi’ah dan bergabung dengan kaum Komunis yang dengan
tangan terbuka menerima mereka. Sehingga dalam waktu singkat kaum
Komunis telah memiliki pengikut di Irak dan Iran, dan jumlah mereka jauh lebih
banyak bila dibanding dengan jumlah mereka di negeri-negeri islam lainnya
yang menganut paham sunni.
Inilah yang dapat kami paparkan pada kesempatan ini, sebagai upaya
kami untuk menjalankan kewajiban yang telah Allah letakkan pada bahu-bahu
umat Islam, berupa kewajiban memberikan nasihat kepada Allah, Rasul-Nya,
kalangan tertentu dari umat islam dan masyarakat umum mereka. Dan Allah
akan senantiasa menjaga agama-Nya dan negeri Islam dari upaya
penghancuran musuh dan makar mereka hingga hari Kiamat.
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat.
Disebarkan di Maktabah Abu Salma al-Atsari atas izin muslim.or.id
Hak cipta berada di tangan penulis dan webmaster muslim.or.id
Risalah ini dapat disebarluaskan dan diprint/dicetak selama tidak untuk komersial dan hanya
dibagikan gratis

Wali Alloh bukan Wali Setan

Wali Alloh bukan Wali Setan
1
@ @
Penulis:
Al-Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin
Firanda bin ‘Abidin as-Soronji, Lc.
(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
Disebarkan dalam bentuk Ebook di
Maktabah Abu Salma al-Atsari
http://dear.to/abusalma
Wali Alloh bukan Wali Setan
2
nggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada
umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya
yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang
memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orangorang
biasa. Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang
disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang
yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun
tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan.
Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu
bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun dia mampu
menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah)
maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di
Indonesia) sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang rusak
ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti
adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian
para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa
menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.
Ketahuilah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam
kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah Subhanahu
wa Ta’ala memiliki wali-wali dari golongan manusia dan
demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan
A
Wali Alloh bukan Wali Setan
3
manusia. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara
para wali Allah dan para wali syaithon.1 Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :
اللهُ ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور و الذين كفروا أولياؤهم
الطاغوت يخرجوم من النور إلى الظلمات ألئك أصحاب النار هم فيها خالدون
Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang
beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan
kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong
mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dar i
cahaya kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh : 256)
فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم. إنه ليس له سلطان على
الذين آمنوا وعلى رم يتوكلون. إنما سلطانه على الذين يتولونه و الذين هم به
مشركون
Jika engkau membaca Al-Qur ’an maka berlidunglah kepada Allah
dari (godaan) syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak ada
kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan
mereka bertawakal kepada Rob mereka. Hanyalah
kekuatannya terhadap orang-orang yang berwala’
1 Al-Furqon hal 25
Wali Alloh bukan Wali Setan
4
kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik.
(An-Nahl :98-100)
ومن يتخذ الشيطان وليا من دون الله فقد خسر خسرانا مبينا
Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain
Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata (An-
Nisa’ : 119)
الذين آمنوا يقاتلون في سبيل الله و الذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت
فقاتلوا أولياء الشيطان إن كيد الشيطان كان ضعيفا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orangorang
kafir berperang di jalan thogut. Maka perangilah para
wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu
lemah. (An-Nisa’ : 76)2
Mak wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang
merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan waliwali
syaithon, sebagaimana Allah dan Rosulullah
membedakannya.3
2 Lihat pula surat-surat Al-Maidah :51-56, Al-Kahfi : 44, Al-Kahfi : 50, Ali Imron : 173-175
3 Al-Ushul As-sittah hal 173
Wali Alloh bukan Wali Setan
5
Definisi wali
Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata
dari al-‘adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah almahabbah
(kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan). Sedangkan
arti al-‘adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du
(kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.4
Siapakah yang disebut wali Allah ?
Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan dekat dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut :
1. Dia harus ittiba’ (mengikuti) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam, menjalankan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
dan menjauhi larangan-larangan beliau. Berdasarkan f irman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله
Katakanlah :”Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku
maka Allah akan mencintai kalian” (Ali Imron :31)
4 Al-Furqon hal 31
Wali Alloh bukan Wali Setan
6
Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orangorang
yang mengaku mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala
(termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali
Allah). Jika dia benar mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam maka kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta.
2. Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras
kepada kaum kaf ir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut
dengan celaan orang-orang yang mencela, sesuai dengan f irman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه,
أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة
لائم
Wahai orang-orang yang beriman barang siapa dar i kalian yang
murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai
Allah yang bersifat lemah lembut kepada orang-orang mukmin,
yang bersifat keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di
jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang yang
mencela.(Al-Maidah : 54)
Wali Alloh bukan Wali Setan
7
3. Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan
hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, sesuai dengan
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ألا أن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون الذين آمنوا وكانوا يتقون
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih
(hati). (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertaqwa. (Yunus : 62,63)
Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun
tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.5
Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia
harus ma’sum (tidak pernah berbuat salah), dan tidak pula dia
harus menguasai seluruh ilmu syari’at. Bahkan boleh baginya
tidak mengetahui sebagian syari’at atau masih samar baginya
sebagian perkara agama. Oleh karena itu tidak wajib bagi
manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh
seorang wali Allah sehingga dia tidak menjadi seorang Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam, tetapi seluruh yang dikatakannya
dikembalikan kepada ajaran Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
Salam. Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak,
maka ditolak. Dan jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak
5 Al-Ushul As-Sittah hal 171,172
Wali Alloh bukan Wali Setan
8
dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam maka tawaquf.6
Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah. Adapun sikap
yang salah kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa
yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika
melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang
menyelisihi syari’at maka langsung mengeluarkan dia dar i
kewaliannya.7
Umar bin khottob Radhiyallahu ’anhu adalah contoh seorang wali
Allah, yang Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda
tentangnya :
قد كان فيما قبلكم من الأمم ناس محدثون فإن يكن من أمتي أحد فإنه عمر
Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang
muhaddatsun (yang mendapatkan berita ghoib atau sejenis
ilham dari Allah). Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang,
maka dia adalah Umar.8
إن الله ضرب الحق على لسان عمر و قلبه
Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan
pada hatinya.9
6 Al-Furqon hal 71, Al-Ushul As-Sittah hal 175
7 Al-Furqon hal 82
8 Riwayat Bukhori no 3469 dan Muslim no 2398
9 Riwayat Abu Dawud no 2962 dengan sanad yang hasan
Wali Alloh bukan Wali Setan
9
لو كان نبي بعدي لكان عمر
Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar.10
Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar
Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang wali Allah, bahkan beliau
mendapatkan ilham dari Allah. Namun hal ini tidak menunjukan
bahwa Umar Radhiyallahu ‘anhu harus ma’sum (terjaga dari
kesalahan). Kesalahan yang pernah beliau lakukan diantaranya
11:
a. Yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berumroh pada tahun
ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin –mereka
itu yang berbai’at di bawah pohon- dan Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa Salam telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum
musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin
tersebut untuk kembali ke Madinah pada tahun ini dan berumroh
pada tahun yang akan datang. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam
syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin
secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum
muslimin, sedangkan Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui
dengan maslahat yang ada di balik itu. Dan Umar Radhiyallahu
‘anhu termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu
10 Riwayat At-Thirmidzi no 3686, dengan sanad yang hasan
11 Al-Furqon hal 86,87
Wali Alloh bukan Wali Setan
10
berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :”Wahai
Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di
atas kebatilan ?”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
menjawab :”Benar”, lalu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata lagi
:”Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke
dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka
masuk ke dalam neraka?”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
menjawab :”Benar”. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata :”Kenapa
kita merendahkan agama kita?”, Nabi berkata :”Aku adalah
Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang
yang bermaksiat kepadanya.”, Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata
:”Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita kita akan
mendatangi baitulloh dan berthowaf ?”, Nabi berkata :”Benar”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata lagi:”Apakah aku
mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan
mendatanginya pada tahun ini?”, Umar Radhiyallahu ‘anhu
berkata :”Tidak”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata
:”Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.”
Umar pun mendatangi Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan
berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada
Rosulullah. Dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pun menjawab
sebagaimana jawaban Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam,
padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah Shallallahu
‘alaihi wa Salam. Dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah
orang yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari
Wali Alloh bukan Wali Setan
11
pada Umar Radhiyallahu ‘anhu, dan Umar Radhiyallahu ‘anhu
mengakui kesalahannya dan berkata :”Aku benar-benar akan
mengamalkannya”12
b. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam wafat, Umar
mengingkari kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Namun
tatkala Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata :”Sesungguhnya
dia telah wafat”, maka Umar Radhiyallahu ‘anhu pun
menerimanya.13
c. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memerangi orang-orang
yang enggan membayar zakat, maka Umar Radhiyallahu ‘anhu
berkata kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu :”bagaimana bisa
kita memerangi manusia, sedangkan Rosulullah bersabda :”Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka
bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah dan aku adalah Rosulullah. Apabila mereka
mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta
mereka, kecuali dengan haknya””, maka Abu Bakar Radhiyallahu
‘anhu berkata :”Bukanlah Rosulullah bersabda “kecuali dengan
haknya”?, sesungguhnya zakat termasuk haknya. Demi Allah
kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku
yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan
memerangi mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata
Umar Radhiyallahu ‘anhu :”Demi Allah tidaklah ada, kecuali aku
12 Riwayat Bukhori no 2732, 2732
13 Riwayat Bukhori no 1241, 1242
Wali Alloh bukan Wali Setan
12
melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk
memerangi (orang-orang yang enggan membayar zakat), maka
aku mengetahui bahwasanya dia adalah benar”14
Faidah yang bisa diambil dari kisah ini adalah 15:
a. Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat salah, bahkan
berkali-kali.
b. Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang
mendapat ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
c. Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih
mulia daripada wali Allah yang tidak ada karomahnya.
Sebagaimana Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu jelas lebih mulia
daripada Umar Radhiyallahu ‘anhu, namun dia tidak
mendapatkan ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
d. Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban
yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar Radhiyallahu ‘anhu
yang tetap melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
e. Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya
harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Salam yang ma’sum. Sebagaimana ucapan Umar
Radhiyallahu ‘anhu dikembalikan (ditimbang) oleh Abu Bakar
14 Riwayat Bukhori no 1399-1400
15 Disimpulkan dari Al-Furqon hal 85-88
Wali Alloh bukan Wali Setan
13
Radhiyallahu ‘anhu dengan Sunnah Nabi. Berkata Yunus bin
Abdil A’la As-Shodaf i : Saya berkata kepada Imam Syafi’i :
“Sesungguhnya sahabat kami –yaitu Al-Laits- mengatakan
:”Apabila engkau melihat sesorang bisa berjalan di atas
(Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum
engkau teliti keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah
sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”, lalu Imam Syafi’i
berkata :”Al-Laits masih kurang, bahkan kalau engkau melihat
sesseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara,
maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa
keadaan (amalan-amalan) orang trsebut apakah sesuai dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah”.16
Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa Aresto adalah wali
Allah karena Aresto adalah mentrinya Iskandar yang kafir
(karena tidak ada wali Allah dari orang kaf ir), yang sebagian
orang (diantaranya Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar
adalah Dzulqornain.17
f. Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau
perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali
kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana
Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak membantah Abu Bakar
Radhiyallahu ‘anhu dengan berkata :”Tapi saya kan wali, saya
16 Syarah Aqidah At-Tohawiyah
17 Al-Furqon hal 42
Wali Alloh bukan Wali Setan
14
kan mendapat ilham dar i Allah, saya kan dijamin masuk surga,
dan kalian harus mener ima perkataan saya”
g. Seorang wali harus mematuhi syari’at Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa Salam. Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus
mengikuti syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam
apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa
daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu
‘anhu berkata :”Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun
kecuali Allah mengambil per janjiannya, jika Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah diutus dan nabi tersebut masih
hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman
kepadanya dan menolongnya. Dan Allah memerintah Nabi
tersebut untuk mengambil per janjian kepada umatnya kalau
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah diutus dan mereka
(umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benarbenar
beriman kepadanya dan menolongnya.”18
h. Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan
mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali, sebagaimana yang
dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka
adalah wali-wali Allah. Sebagaimana firman Allah :
فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
18 Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Al-Furqon hal 92
Wali Alloh bukan Wali Setan
15
Dan janganlah kalian menyatakan diri-dir i kalian suci. Dia (Allah)
yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (An-Najm
: 32 )
Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat
maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah
melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Dan orang
yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Allah.19
Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia
harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan
kenikmatan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia
kehendaki dari kalangan para wali-Nya.20 Dan wali-wali Allah
tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah
yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain.21
Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama.
Contoh-contoh karomah para wali Allah 22:
1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya
namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh
19 Syarah Al-Ushul As-Sittah hal 170
20 Majalah As-Sunnah 03/III/1418 hal 25
21 Al-Furqon hal 69
22 Diringkas dari Al-Furqon hal 154-157
Wali Alloh bukan Wali Setan
16
dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail. Berkata
Urwah:”Mereka melihat malaikat mengangkatnya”23
2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng
yang kokoh, maka para musuhpun berkata :”Kami tidak akan
menyerah sampai engkau meminum racun”, lalu diapun
meminum racun namun tidak mengapa.24
3. Sa’ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan
do’anya. Dan dengan do’anya itulah dia berhasil mengalahkan
pasukan Kisro dan menguasai Iroq.25
4. Umar bin Khottob, pernah mengutus pasukan dan beliau
mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk
memimpin pasukan tersebut. Dan ketika Umar sedang
berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah,
gunung !, wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan pasukan
tersebut menemui Umar dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin,
kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :”Wahai
Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggungpunggung
kami ke gunung kemudian Allah memenagkan
kami”.26
5. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-
‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Lalu Al-Aswad bertanya
23 As-Siyar 2/224
24 Al-Furqon hal 154
25 Riwayat At-Thirmidzi no 3751 dan Ibnu Hibban no 2215
26 Riwayat Bukhori no 3198, dan Muslim no 1610
Wali Alloh bukan Wali Setan
17
kepada beliau :”Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah
Rosul Allah?”, lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”, lalu dia
bertanya lagi :”Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rosul Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu disiapkan api
dan beliau dilemparkan ke api. Namun mereka mendapatinya
sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin
dan keselamatan untuknya.27
6. Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau
mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu
sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya
hari –pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.28
7. Uwais Al-Qorni ketika wafat mereka menemukan di bajunya
ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan
mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir
yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan
kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.29
8. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahf i lalu turunlah
bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah
para malaikat yang turun karena bacaannya.30 Dan malaikat
pernah menyalami Imron bin Husain Radhiyallahu ‘anhu 31.
Salman Radhiyallahu ‘anhu dan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu
27 As-Siyar 4/8,9
28 Riwayat Al-Lalikai dalam Al-Karomat hal 165-166
29 Al-Furqon hal 157
30 Riwayat Bukhori no 5018
31 Riwayat Muslim no 1226
Wali Alloh bukan Wali Setan
18
makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang
ada pada piring tersebut bertasbih.32 Ubbad bin Busyr
Radhiyallahu ‘anhu dan Asid bin Hudlair Radhiyallahu ‘anhu
kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka
Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala
mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.33
9. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka
tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya.34 Dia bersama
seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah
menjadikan cayaha untuk mereka berdua.35
10. Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik
seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut
mengambil topinya, dan dia melihat kuburannya telah menjadi
seluas mata memandang.36
11. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara,
yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan
yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qur’an
maka dia menangis dengan air mata yang banyak. Dan jika dia
32 As-Siyar 2/348
33 Riwayat Bukhori no 3805
34 As-Siyar 4/195
35 As-Siyar 4/86
36 As-Siyar 5/60
Wali Alloh bukan Wali Setan
19
bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak
tahu dari manakah makanan tersebut.37
Siapakah wali-wali syaithon ?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ومن يعش عن ذكر الرحمان نقيض له شيطانا فهو له قرين
Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman,
kami adakan baginya syaithon yang menyesatkan, maka
syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
(Az-Zukhruf : 36)
هل أنبئكم من تترل الشيطان, تترل على كل أفاك أثيم, يلقون السمع وأكثرهم
كاذبون
Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah
syaithon-syaithon itu turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap
pendusta lagi banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran
(kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah
pendusta. (As-Syu’aro’ : 221,223)
37 As-Siyar 9/7
Wali Alloh bukan Wali Setan
20
Contoh-contoh tipuan syaithon
a. Abdullah bin Soyyad. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah
menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang hidup di zaman Nabi
yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam berkata kepadanya :”(Cobalah tebak) aku
menyembunyikan sesuatu (di hatiku)”. Ibnu Soyyad berkata
:”Ad-Dukh…Ad-Dukh..”. Padahal sesungguhnya Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Salam sedang menyembunyikan surat Ad-Dukhon.
Lalu Nabi berkata kepadanya :”Cih, engkau tidak mampu
melampaui kemampuanmu”38. Ibnu Soyyad hampir betul
menebak apa yang ada di hati Nabi, dan ini adalah suatu
keajaiban, namun dengan bantuan syaithon. Karena seorang
yang normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati
manusia, bahkan Nabi pun tidak mengetahui isi hati manusia
kecuali yang diberitahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para
sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) tidak mengetahui siapa-siapa
saja orang munaf ik yang ada bersama mereka. 39
38 Riwayat Bukhori no 1354, Al-Furqon hal 158
39 Hal ini sesuai dengan hadits tentang Usamah bin Zaid yang membunuh seorang kafir
yang ketika pedang Usamah telah di depan matanya tiba- tiba si kafir tersebut
mengucapka la ilaha illallah, namun Usamah tetap membunuhnya. Dan hal ini
dilaporkan kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu Rosulullah Shallallahu
‘alaihi wa Salam berkata kepada Usamah :”Apakah dia (yang terbunuh itu) telah
berkata la ilaha illallah dan kau membunuhnya ?”, Usamah menjawab :”Ya, Rosulullah,
dia mengatakani itu hanya karena takut akan senjataku”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam berkata :”Apakah sudah kau belah dadanya sehingga kau tahu ia berkata itu
Wali Alloh bukan Wali Setan
21
b.Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu
para syaithon yang memberitahukan kepadanya tentang
perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum muslimin
memeranginya mereka kawatir para syaithonnya akan
mengabarkan kepadanya apa yang mereka bicarakan tentang
dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh –pent). Namun
istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong
kaum muslimin.40
c.Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi,
memiliki syaithon-syaithon yang memberitahukan perkaraperkara
gho’ib kepadanya dan membantunya melakukan hal-hal
karena takut atau tidak ?”. Maka Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam terus
mengulang-ulang perkataannya hingga Usamah berangan-angan seandainya dia baru
masuk Islam pada hari itu. (Riwayat Bukhori). Hadits ini menunjukan bahwa Usamah
yang telah berjihad tidak mengetahui isi hati manusia. Dan ada isyarat dari Rosulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam agar para sahabat menilai seseorang dengan amalan
dzohirnya bukan amalan batin. Kalau para sahabat mengetahui isi hati manusia tentu
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak akan memrintahkan mereka untuk menilai
secar dzohir saja.
Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata :”Saya telah mendengar Umar bin Khottob
berkata :”Dahulu di masa Rosulullah , orang-orang diterima (dihukumi) menurut
keterangan wahyu, dan kini wahyu telah terputus. Maka kami akan bertindak
(menghukumi) kalian dengan perbuatan-perbuatan kalian yang dzohir (nampak)
bagi kami. Maka barang siapa yang menampakkan kebaikan kepada kami maka
kami percaya dan kami hargai, dan sama sekali bukan urusan kami mengenai
batinnya . Allah yang akan menghisabnya . Dan barang siapa yang menampakkan
keburukan kepada kami, maka kami tidak akan mempercayainya dan tidak kami
benarkan, walaupun dia berkata sesungguhnya batinnya adalah baik.”” (Riwayat
Bukhori)
40 Al-Furqon hal 159
Wali Alloh bukan Wali Setan
22
yang ajaib41. Diantaranya dia pernah meludah di sumur
sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.42
c.Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang
muncul dan mengaku sebagi nabi di Syam pada zaman khalifah
Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H). Al-Harits memiliki
kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya
dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam
bisa bertasbih jika dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah
melihat orang-orang dalam keadaaan berjalan dan naik kuda
terbang di udara, dia berkata : “Mereka adalah malaikat”,
padahal mereka adalah jin. Dan tatkala kaum muslimin
menangkapnya untuk dibunuh, maka ada orang yang
menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul
Malik berkata kepadanya :”Engkau tidak menyebut nama Allah”.
Lalu orang itu menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Alharits.
43
d. Lia ‘Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan
mengaku telah didatangi oleh Jibril. Keajaiban yang ada
padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan berbagai
penyakit. Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang
memberantas bid’ah dan kesyririkan.
41 Al-Furqon hal 159
42 Majalah As-Sunnah 03/III/1418
43 Al-Furqon hal 159
Wali Alloh bukan Wali Setan
23
Syubhat-syubhat
Syubhat pertama
Sesungguhnya Rosulullah diutus kepada manusia pada
umumnya namun tidak pada manusia-manusia yang khusus
yaitu para wali, dan para wali tersebut tidak butuh kepada Nabi,
mereka memiliki cara tersendiri untuk mencapai Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Nabi Musa tidaklah diutus
kepada Nabi Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib mengikuti
syari’at Musa.44
Jawab 45:
Perkataan ini sebagaimana perkataan kebanyakan para ahlul
kitab (Yahudi dan Nasrani) bahwasanya Rosulullah diutus
kepada orang-orang yang tuna aksara bukan kepada mereka.
Dan pendalilan dengan kisah antara Khidir dan Musa adalah
tidak tepat, sebab :
a. Bahwasanya Musa tidaklah diutus kepada Khidir (tetapi hanya
diutus untuk bani Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib
mengikuti Nabi. Adapun Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam
risalahnya umum untuk seluruh jin dan manusia. Bahkan jika
ada orang yang lebih mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa,
44 Al-Furqon hal 36
45 lihat jawaban ini dalam Al-Furqon hal 141-142
Wali Alloh bukan Wali Setan
24
dan Isa)46 bertemu dengan Nabi, maka dia wajib mengikuti
Nabi. Apalagi Khidir, tentu lebih wajib lagi.
Oleh karena itu Khidir berkata kepada Musa : “Aku diatas ilmu
yang diajarkan Allah kepadaku yang tidak kau ketahui dan
engkau di atas ilmu yang Allah mengajari engkau yang aku tidak
mengetahuinya”47. Dan tidak boleh bagi seorangpun yang
sampai kepadanya risalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
Salam untuk berkata sebagaimana perkataan Khidir ini.
b. Apa yang telah dilakukan oleh Khidir48 tidaklah menyelisihi
syari’at Musa. Musa tidaklah mengetahui sebab yang
membolehkan hal-hal itu. Dan ketika Khidir menjelaskan sebabsebab
tersebut Musa menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu
Abbas kepada Najdah Al-Harwari ketika dia bertanya kepada
Ibnu Abbas Radhiyallahu ’anhu tentang membunuh anak-anak
kecil: “Jika kamu mengetahui anak-anak tersebut sebagaimana
46 Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Ali Imron : 81 :”Dan (ingatlah)
tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:”Sungguh apa saja yang Aku berikan
kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rosul
yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh
beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnya”. Allah
berfirman :”Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang
demikian itu ?”, mereka menjawab :”Kami mengakui”. Allah ber firman :”Kalau begitu
saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.”
47 Riwayat Bukhori, no 74
48 Yaitu membocorkan kapal, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki tembok
yang akan runtuh, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al-Kahfi : 70-82
Wali Alloh bukan Wali Setan
25
yang diketahui oleh Khidir tentang anak kecil (yang dibunuhnya)
maka bunuhlah mereka, dan jika tidak maka jangan.”49
Syubhat kedua
Mereka (para wali syaithon) menganggap bahwa mereka
mendapat wahyu langsung dari Allah -sebagaimana yang
diserukan oleh Ibnu Arobi-, dan bahwasanya mereka lebih baik
dari para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui
perantara. Mereka berkata :”Kenabian telah berakhir dengan
wafatnya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, sedangkan
kewalian belum berakhir. Dan yang paling terakhir adalah yang
lebih baik dari yang sebelumnya”.
Jawab :
Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang sama sekali tidak
bersandar kepada dalil. Ketika dia mengetahui bahwa syari’at ini
sudah tidak bisa dirubah lagi hingga hari kiamat, (dan dia ingin
keluar dari syari’at) maka dia berkata :”Kenabian telah tertutup,
tetapi kewalian belum”, dan dia menganggap bahwa kewalian
lebih tinggi derajatnya dari pada kerosulan dan kenabian,
sebagaimana dia berkata :
مقام النبوة في برزخ فويق الرسول و دون الولي
49 Riwayat Muslim no 1812
Wali Alloh bukan Wali Setan
26
Kedudukan kenabian berada di alam barzakh, sedikit di atas
(kedudukan) Rosul dan dibawah (kedudukan) Wali
Hal ini tentunya pemutarbalikan syari’at. Seharusnya kenabian
lebih khusus dari kewalian dan kerosulan lebih khusus daripada
kenabian. Sehingga kedudukannya adalah kerosulan lebih tingi
daripada kenabian dan kenabian lebih tinggi daripada
kewalian.50 Berkata Imam Abul ‘Izz Al-Hanafi :”Maka siapakah
yang lebih kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah bata
emas dan memisalkan Nabi dengan bata perak, lalu dia
menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Nabi,… bagaimana bisa
samar kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?…..dan
kekufuran Ibnu “Arobi lebih parah dari kekufuran orang-orang
50 Ibnu Arobi juga berkata (dalam kitabnya “Fususul hukm”) :”Tatkala Nabi telah
memisalkan kenabian dengan sebuah dinding (yang tesusun) dari bata dan Nabi
melihat bahwa dinding tersebut telah sempurna kecuali tinggal satu bata lagi, dan
dialah sebagai bata yang terakhir (yang menutupi bata-bata (nabi-nabi) sebelumnya –
pent) (hanya saja Nabi tidak melihat tempat bata tersebut, sebagaimana Nabi ber kata :”
Satu tempat bata”). Adapun penutup para wali maka mereka bisa melihat tempat bata
ini, dia melihat dinding yang dimisalkan oleh Nabi dan dia melihat dirinya di dinding
yaitu di tempat dua bata, dirinya telah tercetak di tempat dua bata tersebut, sehingga
sempurnalah tembok itu. Yang menyebabkan dia melihat dinding itu ada dua tempat
bata (padahal Nabi melihatnya hanya ada satu tempat bata –pent) adalah karena
dinding terdiri dari bata perak dan bata emas. Bata perak adalah dzohirnya dan hukumhukum
yang diikuti, sebagaimana Nabi mengambil syari’at yang dzohir dari Allah yang
diikuti, karena Nabi melihat perkaranya sebagaimana adanya sehingga demikianlah dia
melihatnya. Padahal bagian dalam tempat bata itu adalah tempat bata emas, yang dia
(penutup para wali tersebut) mengambil dari sumber tambang yang malaikat yang
diutus kepada Nabi mengambil dari sumber tambang itu. Jika engkau memahami apa
yang kami isyaratkan maka engkau telah mendapatkan ilmu yang bermanfaat.” (Syarah
Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493)
Wali Alloh bukan Wali Setan
27
yang berkata : “Tidaklah kami beriman hingga kami diberikan
apa yang diberikan kepada Rosulullah” (Al-An’am : 124)”51
Syubhat ketiga
Kami tidak usah menjalankan syari’at karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah bersatu dengan kami para hambanya yang
sholih. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata dalam
hadits qudsi :
و ما يزال عبدي يتقرب ألي بالنوافل حتى أحبه, فإذا أحببته كنت سمعه الذي
يسمع به و بصره الذي يبصر يه ويده التي يبشط ا ورجله التي يمشي ا, ولئن
سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه
Dam hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya)
kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku
mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah
pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan
penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya
yang dia memukul dengannya, dan kakinya yang dia berjalan
dengannya, dan jika dia meminta kepada-Ku maka akan aku
51 Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493-494, Al-Furqon hal 110
Wali Alloh bukan Wali Setan
28
berikan, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka
aku akan melindunginya.52
Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya,
dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala
meluruskan (memberi petunjuk) kepada penglihatan,
pendengaran, tangan dan kakinya, sehingga apa yang dilakukan
oleh hamba tersebut selalu dibimbing oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Adapun makna yang batil di atas adalah tidaklah
mungkin, sebab :
– Ini merupakan aqidah wihdatul wujud (manunggaling kawulo
gusti) yang sesat karena bertentangan dengan ayat-ayat Al-
Qur’an yang muhkam (jelas) yang tidak bisa lagi dipalingkan lagi
maknanya.
– Barang siapa yang memperhatikan hadits ini dengan baik
maka dia akan faham tentang batilnya aqidah wihdatul wujud
ini. Dalam hadits ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan
adanya hamba (yang beribadah) dan ma’bud (yang diibadahi),
yang mendekat (bertaqorrub) dan yang didekati (ditaqorrubi),
yang dicintai dan yang mencintai, yang meminta dan yang
memberi, yang meminta perlindungan dan yang memberi
perlindungan. Maka hadits ini menunjukan adanya dua dzat
52 Riwayat Bukhori no 6502, dari hadits Abu Huroiroh.
Wali Alloh bukan Wali Setan
29
yang berbeda, yang satu bukan yang lainnya. Dan bukan pula
yang satu merupakan sifat atau bagian dari yang lainnya.
– Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si
wali semuanya adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada
makhluk yang baru tercipta yang sebelumnya belum ada (belum
tercipta). Maka tidak mungkin bagi siapa saja yang berakal
untuk memahami bahwa pencipta yang awal (yaitu Allah) yang
tidak ada sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi pendengaran,
penglihatan, tangan, dan kaki makhluk. Bahkan hal seperti
inipun sulit untuk dibayangkan kalaupun kita anggap benar.53
Perbedaan antara karomah wali Allah dan tipuan wali
syaithon
1. Bahwa karomah para wali tersebut disebabkan oleh keimanan
dan ketaqwaan. Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain
yang merupakan bantuan syaithon disebabkan oleh hal-hal yang
merupakan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rosulullah54. Jadi apabila di dalamnya mengandung unsur-unsur
yang disenangi oleh syaithon, baik itu kemusyrikan, kedzoliman,
atau kebid’ahan, maka jelas yang terjadi pasti bukan karomah.
2. Karomah tidak bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa
saja dan tidak bisa dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar
53 Al-Qowa’id Al-Mutsla hal 125
54 Al-Furqon hal 161
Wali Alloh bukan Wali Setan
30
biasa lain yang merupakan bantuan syaithon bisa dibatalkan
dengan bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi dan
lain-lain
3. Karomah tidak bisa dipelajari sehingga menjadi suatu ilmu
kedigdayaan yang baku. Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa
yang berasal dari syaithon bisa dipelajari.55 Sebagaimana
karomah-karomah yang telah dimiliki oleh para salaf, tidak ada
satu atsarpun yang menunjukan bahwa mereka pernah
mengajarkan karomah mereka kepada orang lain. Sebagaimana
Umar Radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak pernah mengajarkan
karomahnya kepada orang lain, kerena memang tidak bisa
diajarkan.
4. Karomah pada umumnya tidak bisa dilakukan terus menerus,
tetapi terjadi sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan
kehendak Wali yang mendapatkan karomah tersebut.
Pengetahuan tambahan :
1. Seluruh orang yang beriman adalah wali-wali Allah. Dan waliwali
yang paling mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi yang
paling mulia adalah para Rosul. Dan para Rosul yang paling
55 Majalah As-Sunnah 03/III 1418 H
Wali Alloh bukan Wali Setan
31
mulia adalah para Rosul yang lima (Ulul ‘Azmi), dan diantara
Ulul ‘Azmi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad.56
2. Persamaan dan perbedaan antara Mu’jizat dan karomah.
Persamaannya : Mu’jizat dan karomah sama-sama merupakan
hal yang ajaib yang luar biasa (yang tidak bisa dilkukan olah
orang biasa) yang Allah berikan kepada para hambanya.
Perbedaannya 57:
– Mu’jizat hanya berlaku pada para Nabi dan Rosul, adapun
karomah pada para wali.
– Mu’jizat diperoleh dengan kenabian, adapun karomah diperoleh
dengan ketaqwaan.
– Karomah kedudukannya lebih rendah daripada mu’jizat.
– Akibat dari mu’jizat adalah baik, adapun efek samping dari
karomah belum tentu.58
56 Al-Jadawil hal 19
57 Al-Jadawil hal 20
58 Keadaan orang-orang yang memiliki karomah :
– Bertambah derajatnya karena apa yang dilakukannya merupakan ketaatan dan yukur
kepada Allah
– Semakin rendah derjatnya karena dia menggunakan karomahnya untuk bermaksiat
kepada Allah. (Misalnya dia sombong dengan karomah yang pernah dia alami, atau
dia merasa telah ber taqwa dan yakin masuk surga dengan karomahnya itu).
– Tidak bertambah dan tidak pula berkurang kebaikan-kebaikannya. Jadilah
karomahnya seper ti perkara yang mubah. (Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 495)
Wali Alloh bukan Wali Setan
32
– Pemilik mu’jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orangorang
yang menyelisihinya, adapun pemilik karomah tidak
demikian.
3. Kita harus mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana
mu’tazilah yang mengingkari karomah dan berkata :”Kalau kita
mengakui karomah, maka akan sama wali dengan Nabi”, oleh
karena itu kami mengingkari karomah dan juga mengingkari
hakikat sihir. Namun ini tidaklah benar sebab orang yang
memiliki karomah tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang
Nabi.59
4. Dalam beribadah hendaknya kita berniat karena Allah bukan
karena untuk mencari karomah. Kita meminta kepada Allah agar
bisa istiqomah dalam hidup kita bukan mencari karomah.
Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i : “Jadilah engkau orang yang
mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah.
Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam
mencari karomah padahal Rob engkau mencari
keistiqomahanmu”. Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini
adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena
sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf
yang sholih, telah diberi karomat-karomat dan hal-hal yang luar
biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu)
senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan
mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara
59 Al-Jadawil hal 21 dan Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 494
Wali Alloh bukan Wali Setan
33
mereka ada yang hatinya prustasi dalam keadaan menuduh
dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak
mendapatkan karomah. Kalau mereka mengetahui rahasia hal
itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk
memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para
hambanya beristiqomah –pent) tentu perkara ini (mencari
karomah) adalah perkara yang rendah bagi mereka. 60
5. Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan Islam (biasanya
dicampur dengan dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau
mereka menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah
untuk beribadah kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini
adalah bid’ah sebab kenapa harus menggunakan tata cara dan
gerakan-gerakan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Allah
dan Nabi. Dan tidak ada dalil sama sekali bahwa dengan
bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan khusus yang mereka
lakukan bisa mengahasilkan tenaga dalam. Kalau mereka
mengatakan tujuan mereka untuk beribadah dan untuk
mempeoleh kekuatan, maka kita katakan bahwa mereka telah
melakukan kesyirikan sebab niat ibadah mereka selain untuk
Allah juga untuk hal yang lain.61
Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam yang ada menyelisihi
syari’at diantaranya :
60 Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 495
61 Majalah As-Sunnah hal 30
Wali Alloh bukan Wali Setan
34
– Latihannya harus menggunakan emosi, padahal Rosulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah melarang seseorang untuk
emosi, beliau bersabda :
لا تغضب فردد مرارا لا تغضب
“Janganlah engkau marah”, Rosulullah mengulanginya beberapa
kali “Janganlah engkau marah”
Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam) harus marah sebab
dengan marah tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh
mereka sehingga bisa memberi kekuatan untuk tenaga dalam
mereka. Sebagaimana sabda Rosulullah :
إن الشيطان يجري من بني آدم مجرى الدم
Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana
aliran darah. (Riwayat Bukhori)
– Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika
sedang memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama saja dengan
sengaja membuat diri menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan
hal ini tidak boleh dalam Islam, sebab Islam menganjurkan kita
untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa senantiasa
berdzikir kepada Allah.
– Kadang disertai dengan puasa mut ih (tidak boleh makan
kecuali yang putih-putih), yang ini tidak ada syari’atnya dalam
Islam. Atau untuk menjaga ilmunya dia harus menghindari
Wali Alloh bukan Wali Setan
35
pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal itu
dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam
tersebut. Dan ini berarti mengha“Janganlah engkau
mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
والله أعلم بالصواب
Maroji :
 Al-Furqon baina auliyaurrohman wa auliyaussyaithon,
karya Ibnu taimiyah, tahqiq Fawwaz Ahmad Zamarli, terbitan
Darul Kutub Al-‘Arobi
 Syarah Al-Ushul As-Sittah, karya Syaikh Utsaimin
 Al-Qowa’id Al-Mutsla, karya Syaikh Utsaimin, tahqiq Abu
Muhammad Asyrof bin Abdil Maqsud, terbitan Adlwa’ As-
Salaf.
 Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah, karya Abul ‘Izz Al-
Hanaf i, tahqiq Syaikh Al-Albani, terbitan Al-Maktab Al-Islami
 Majalah As-Sunnah 03/III/1418
 Al-Jadawil Al-Jami’ah

Biarkan Syiah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 2 dari 26 —

Biarkan Syi’ah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya

Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain

(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)

 

Prolog

Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu

terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa

sallam, para sahabatnya, istri-istrinya dan orang-orang yang senantiasa setia

mengikuti jalannya hingga hari akhir nanti.

Enam tahun yang silam di salah satu pesantren terbesar di Indonesia, penulis

menjadi salah satu peserta dauroh yang diadakan oleh Jami’ah Islamiyah

Madinah. Kebetulan ada suatu kisah yang tidak terlupakan hingga detik ini.

Seperti biasanya, sebelum pelajaran dimulai, para dosen (baca: masyayikh)

mengabsen peserta dauroh satu persatu. Hingga sampai ke suatu nama, dosen

tersebut mengernyitkan dahinya dan terheran-heran, nama itu adalah

Ayatullah Khomeini, (kebetulan dia salah seorang teman akrab penulis di

pesantren). Dosen itu bertanya, “Kamu sunni (termasuk golongan ahlus

sunnah)?”, dengan tenangnya peserta itu menjawab, “Iya”, “Mengapa kamu

pakai nama dedengkot Syiah?”, “Karena bapak ana ngasih nama seperti itu”,

sahutnya. Setelah dialog singkat itu sang dosen minta agar teman kami

tersebut mengganti namanya.

Penulis -dengan lugunya- berkata dalam hati, “Memangnya kenapa sich nggak

boleh pakai nama tokoh Syi’ah tersebut? Masa gitu saja dipermasalahkan! Toh

dia juga salah satu pejuang besar dunia?!”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan; setahun kemudian penulis diberi

kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menuntut ilmu di kota

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tepatnya di Jami’ah Islamiyah. Di

situlah wawasannya mulai terbuka sedikit demi sedikit, pengetahuannya

tentang kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka kepada agama

Islam sedikit demi sedikit mulai bertambah. Hingga terbelalaklah matanya

tatkala mengetahui hakikat kelompok Syi’ah. Dan hilanglah sudah keheranheranan

dia enam tahun yang silam, mengapa sang dosen pengajar dauroh itu

begitu ‘ngotot’-nya minta agar peserta Ayatullah Khomeini mengganti

namanya.

Maka, dalam rangka menyampaikan ilmu walaupun hanya sedikit, juga

berhubung semakin menjamur dan larisnya ajaran itu di tanah air kita, penulis

merasa berkewajiban untuk menyampaikan sedikit dari apa yang diketahuinya

tentang agama yang satu ini. Tulisan ini ditranskrip, diterjemahkan dan

diringkas dari sebuah ceramah ilmiah dalam suatu kaset yang berjudul

“Waqafat Ma’a Du’at at-Taqrib” (Beberapa renungan beserta para da’i

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 3 dari 26 —

penyeru persatuan antara Ahlusunnah dengan Syi’ah) yang disampaikan oleh

Syaikh Abdullah as-Salafy. Kaset ini bukan hanya membawakan fakta dari

perkataan-perkataan ulama klasik Syi’ah saja, tapi juga membawakan fakta

dari perkataan-perkataan ulama kontemporer mereka yang suaranya sempat

terekam dalam kaset, dan jatuh ke tangan Ahlusunnah1. Kami ucapkan kepada

para pembaca yang budiman, Selamat menikmati!

FAKTA PERTAMA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai

Ahlul Bait (keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi

(menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا(32)وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(33)

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika

kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga

berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah

perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah

kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu

dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai

ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

 

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para

sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah)

juga meyakini bahwa t idak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah

1 Perkataan-perkataan ulama klasik mereka kami sebutkan dengan referensinya beser ta nomor

jilid dan halamannya. Bagi yang menginginkan bukti otentik fakta-fakta ter sebut bisa merujuk

ke kitab Ulama asy-Syi’ah Yaqulun, Watsaiq Mushawwarah Min Kutub asy-Syi’ah, yang

diterbitkan oleh Markaz Ihya Turots Alul Bait. Adapun perkataan-perkataan ulama

kontemporer mereka jika terdapat dalam suatu kaset, maka kami seb utkan dengan kata-kata,

“Dengar lah perkataan fulan…” Suara asli mereka bisa didengarkan dalam kaset Waqafat Ma’a

Du’at at-Taqr ib.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 4 dari 26 —

terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang

mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak

seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari

kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan

selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah

subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh

mereka.

Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan

kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer mereka Al

Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97. Kata-kata Rafidhah

berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal mengapa

mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:

1. Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.

2. Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat

Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).

Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka

dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari

para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam

diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan!

Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan)

yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.

Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui

hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di

bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apaapa

yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam

rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang

akan datang hingga hari kiamat.

Al Kulainy dalam kitabnya al-Kaafi -yang mana ini merupakan kitab yang

paling shahih menurut Rafidhah-, dia telah mengkhususkan di dalamnya babbab

yang menguatkan sikap ekstrem tersebut. Contohnya: di jilid I, hal 261,

dia berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan

apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang

tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam

halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka

mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-

Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit

dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku

mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”

Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam

mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali

dengan kemauan mereka sendiri.”

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 5 dari 26 —

Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang Syi’ah, klaim mereka para

imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta ini semau mereka;

mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga menyembuhkan orang

yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat milik para

imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak mereka.

Al-Kulainy di jilid I, hal 470 meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bashir

bahwa ia bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Apakah kalian pewaris

nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Benar!” Lantas aku

bertanya lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pewaris para nabi

mengetahui apa yang mereka ketahui?” “Benar!”, jawabnya. Aku kembali

bertanya, “Mampukah kalian menghidupkan orang yang sudah mati dan

menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit kusta?”

“Ya, dengan izin Allah”, sahutnya.”

Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita

bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui

pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah

bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya

Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka

berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan

memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari

berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai

hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan

kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang

Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah

membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.

Berkata al-Kasany dalam kitabnya ‘Ilm al-Yaqin fi Ma’rifati Ushul ad-Din jilid

II, hal 597, “Semua makhluk diciptakan untuk mereka (para imam), dari

mereka, karena mereka, dengan mereka dan akan kembali kepada mereka.

Karena -tanpa diragukan lagi- Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia

dan akhirat hanya untuk mereka. Dunia dan akhirat untuk mereka dan milik

mereka. Para manusia adalah budak-budak mereka!”

Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan

bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk

menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari

yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah

mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”

Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah

al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji,

derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh

bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 6 dari 26 —

Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 dengan ‘gagahnya’ berdusta dengan

perkataannya, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata

kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah

yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling

besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya

akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk

berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan

(timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga),

dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu

adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan

selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa!

Ya Allah, saksikanlah 3x!”

Na’udzubillah…

Dengarlah Basim al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang

Rafidhah untuk pergi ke kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta

kesembuhan darinya, berihram dan thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai

yang berada di bawah kubah putih di kota Najaf! Wahai Ali! Barang siapa

yang berziarah ke kuburanmu dan meminta kesembuhan darimu niscaya dia

akan sembuh!”

Di dalam kitab Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah

berkata: Konon Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku

adalah hati Allah yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku

adalah mata Allah yang melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah

tangan Allah.”

Na’uzubillah dari ghuluw ini!

Dengarlah Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia

melekatkan kepada Ali sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-

khutbahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-

hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku.

Aku-lah penguasa hisab, aku pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi

(distributor) surga dan neraka dengan perintah Robb-ku. Akulah yang

menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan. Akulah yang

memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai. Akulah yang

menyimpan ilmu, akulah yang meniupkan tiupan pertama yang

mengguncangkan alam, akulah sang petir, akulah shaihah. Aku adalah Al

Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Akulah asma al-husna yang para

hamba diperintahkan untuk berdoa dengannya. Akulah yang memiliki

sangkakala dan yang membangkitkan manusia dari dalam kubur. Akulah

penguasa hari kebangkitan. Akulah yang menyelamatkan Nuh, yang

menyembuhkan Ayub. Akulah yang menegakkan langit dengan perintah

Tuhanku. Akulah si pemegang keputusan yang tidak dapat diubah, hisab para

makhluk berada di tanganku. Para makhluk menyerahkan urusannya

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 7 dari 26 —

kepadaku. Akulah yang mengokohkan gunung-gunung yang menjulang tinggi,

yang memancarkan mata air, dan yang menciptakan alam semesta. Akulah

yang membangkitkan para mayat, yang menurunkan kuburan. Akulah yang

memberi cahaya matahari, bulan dan bintang. Akulah yang membangkitkan

hari kiamat, yang mengetahui hal yang telah lalu dan yang akan datang.

Akulah yang membinasakan para raja lalim terdahulu dan yang melenyapkan

negeri-negeri. Akulah yang menciptakan gempa, yang membuat gerhana

matahari dan bulan. Aku pula yang menghancurkan fir’aun-fir’aun dengan

pedangku ini. Akulah yang ditugasi Allah untuk melindungi orang-orang lemah

dan Allah perintahkan mereka taat kepadaku.”

 

Dalam kitab Kasyf al-Yaqin Fi Fadhail Amir al-Mu’minin karya Hasan bin Yusuf

bin al- Muthahhir al-Hilly (hal 8) disebutkan, Akhthab Khawarizm

meriwayatkan dari Abdulloh bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah shallallahu

‘alaihi wa sallam bersabda: Tatkala Allah ciptakan Adam dan Dia tiupkan ruh-

Nya ke dalamnya, Adam bersin lantas mengucapkan, “Alhamdulillah!” Maka

Allah mewahyukan padanya, “Engkau telah memuji-Ku wahai hamba-Ku, demi

kekuatan dan keagungan-Ku kalau bukan karena dua hamba yang akan

Kutempatkan mereka di dunia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu wahai

Adam!” Serta merta Adam bertanya, “Mereka berdua dari keturunanku?”,

“Betul wahai Adam. Angkatlah kepalamu dan lihatlah!” Maka Adam

mengangkat kepalanya, dan ternyata telah tertulis di atas ‘Arsy, “Tidak ada

yang berhak disembah selain Allah, Muhammad nabi kasih sayang dan Ali

penegak hujjah. Barang siapa yang mengetahui hak Ali maka dia akan suci

dan bahagia, dan barang siapa yang taat kepadanya meskipun dia berbuat

maksiat kepada-Ku akan Kumasukkan ke dalam surga. Aku bersumpah demi

kepekerkasaan-Ku; barang siapa yang tidak taat kepada Ali meskipun dia taat

kepada-Ku, niscaya akan Kumasukkan ke dalam neraka!”

Lihatlah wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan

kepada Ali di atas ketaatan kepada Allah!!!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 33): Pengarang buku Masyariq al-Anwar telah meriwayatkan dengan

sanadnya kepada al-Mufadhal bin ‘Amr: Aku pernah bertanya kepada Abu

Abdillah ‘alaihis salaam tentang perihal sang imam; bagaimana ia bisa tahu

apa yang ada di penjuru bumi, padahal ia berada di rumah yang tertutup?

Lantas ia menjawab,

“Wahai Mufadhal, sesungguhnya Allah telah menciptakan

di dalam diri mereka 5 ruh:

1. Ruh kehidupan, yang dengannya dia bisa memukul dan naik.

2. Ruh kekuatan, yang dengannya dia bisa bangkit.

3. Ruh syahwat, yang dengannya dia bisa makan dan minum.

4. Ruh keimanan, yang dengannya dia memerintahkan dan berbuat

adil.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 8 dari 26 —

5. Ruh kudus, yang dengannya dia mengemban kenabian. Jika Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, berpindahlah ruh kudus ke

tubuh sang imam, maka dia t idak akan pernah lalai dan lengah.

Dengan ruh itulah dia bisa melihat apapun yang ada di penjuru

dunia. Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang tersembunyi

dari sang imam. Dia bisa mengetahui semua yang ada di langit

semesta, sekecil dan selirih apapun dia. Barang siapa yang tidak

memiliki sifat-sifat ini, maka dia bukanlah seorang imam!”

Na’udzubillah dari ghuluw ini!!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 30), Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku

bersama Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api dan akulah yang

menjadikan api itu dingin serta menyelamatkan. Aku juga bersama Nuh di

kapalnya lantas akulah yang menyelamatkan dia dari ketenggelaman. Aku

juga bersama Musa, lantas aku ajarkan Taurat kepadanya. Aku jugalah yang

menjadikan Isa berbicara saat dia masih dalam buaian, kemudian kuajarkan

Injil padanya. Akulah yang bersama Yusuf di dalam sumur, lantas

kuselamatkan dia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama

Sulaiman di atas permadani, kemudian aku hembuskan angin baginya.”

Lantas apa yang tersisa untuk Allah?! Na’udzubillah dari ghuluw ini!!

Ziarah Makam Husain Lebih Utama Dari Haji Ke Baitullah

Dalam kitab Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid I, hal 371) dan

di dalam kitab al-Mazar karangan al-Mufid (hal 58) disebutkan: Dari Yunus bin

Dzobyan, berkata Abu Abdillah, “Barang siapa yang ziarah ke makam Husain

pada malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Idul Fitri dan malam hari

Arafah dalam satu tahun, niscaya Allah akan tuliskan baginya pahala 1000

ibadah haji yang mabrur, 1000 ibadah umrah yang diterima dan akan

dikabulkan baginya 1000 doa yang berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan

dia di dunia dan akhirat.”

Bahkan menurut orang-orang Rafidhah, para penziarah makam Husain itu lebih

utama daripada orang-orang yang berada di padang Arafah. Dalam kitab

Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid X,hal 361) dan kitab Tahdzib

al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid VI, hal 42) disebutkan: Dari Ali bin

Asbath, dari sebagian sahabat-sahabat kami, dari Abu Abdillah ‘alaihi salam

bahwa dia ditanya, “Benarkah Allah mendahulukan ‘menengok’ para peziarah

makam Ali bin Husain ‘alaihi salam sebelum ‘menengok’ orang-orang yang

berada di padang Arafah?”, “Betul” jawabnya. Lantas dia kembali ditanya,

“Bagaimana itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Karena di antara orang-orang

yang berada di padang Arafah terdapat anak-anak hasil perzinaan, adapun

para penziarah makam Husain seluruhnya suci tidak ada satupun anak hasil

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 9 dari 26 —

perzinaan.” (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang Syi’ah suci

dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut’ah) sendiri mereka

anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling utama?!! (-pen).

Na’udzubillah!

Dalam kitab Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid V, hal 372)

disebutkan: Dari Zaid asy-Syahham, dar i Abu Abdillah ‘alaihi salam berkata,

“Barang siapa yang ziarah makam Abu Abdillah (Husain) ‘alaihis salam pada

hari ‘Asyura sedang dia mengetahui hak-haknya, seakan-akan dia telah

menziarahi Allah di ‘Arsy-Nya.”

Na’udzubillah dari ghuluw dan kesesatan ini!

FAKTA KEDUA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Al

Quran.

Semua umat Islam telah berijma’ bahwasanya kitab Allah selalu terjaga dari

pengubahan, penambahan ataupun pengurangan. Ia terjaga dengan penjagaan

Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami

benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

 

Para ulama besar Ahlusunnah telah menegaskan bahwa barang siapa yang

meyakini di dalam Al Quran terdapat tambahan atau kekurangan, maka

sesungguhnya ia telah dianggap keluar dari agama Islam (murtad). Akidah ini

sudah amat sangat masyhur dan mutawatir di kalangan Ahlusunnah, sampaisampai

tidak lagi dibutuhkan seseorang untuk mendatangkan dalil-dalil

tentangnya. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Lum’ah al-I’tiqad (hal 19),

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam, bahwa barang siapa

yang mengingkari satu surat, atau satu kata, atau satu huruf dari Al Quran

yang telah disepakati, maka sesungguhnya dia telah kafir.”

Syi’ah dan Keyakinan Mereka Tentang Tahrif (distorsi, pengubahan) Al

Quran

Ulama-ulama Syi’ah yang paling menonjol yang berpendapat bahwa Al Quran

telah mengalami distorsi adalah: Al-Kulainy, al-Qummy, al-Mufid, ath-

Thobarsy, al-Kaasyany, al-Jazairy, al-Majlisy, al-’Amily, al-Khuu’iy, dan masih

banyak yang lainnya.

Pertama:

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 10 dari 26 —

Mari kita mulai dari al-Kulainy pengarang kitab al-Kaafi, kitabnya yang paling

terpercaya di kalangan orang-orang Rafidhah. Pengarang berkata dalam jilid

II, hal 634, ((Dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah ‘alaihis salam ia berkata,

“Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu

‘alaihi wa sallam terdiri dari 17.000 ayat”)). Padahal sepengetahuan kita

ayat-ayat Al Quran hanya berjumlah 6.000 ayat lebih sedikit. Riwayat kedua

disebutkan dalam (jilid I, hal 228). Riwayat ketiga disebutkan dalam (jilid I,

hal 228).

Riwayat keempat disebutkan dalam jilid I, hal 229: ((Dari Abu Bashir, dari Abu

Abdillah ia berkata, “Sesungguhnya yang berada di tangan kami adalah

mushaf Fathimah. Tahukah kalian apa itu mushaf Fathimah?” Aku bertanya,

“Apa itu mushaf Fathimah?” Ia menjawab, “Mushaf Fathimah tebalnya tiga

kali lipat Al Quran kalian. Demi Allah tidak ada satu huruf pun dari Al Quran

kalian, disebutkan di dalam mushaf Fathimah!”)).

Kedua:

Di antara ulama Rafidhah yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami

distorsi; Ali bin Ibrahim al-Qummy yang berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal

36): ((Di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Kalian

adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada

yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

(QS. Ali Imran:110). Berkata Abu Abdillah kepada yang membaca ayat ini,

“Umat yang terbaik, lantas membunuh amirul mukminin Hasan dan Husain

bin Ali ‘alaihima salam??” Lantas ada yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya

ayat tersebut diturunkan wahai putra Rasulullah?” Dia menjawab,

“Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan: (Kalian para imam terbaik yang

dilahirkan untuk manusia)”)).

Ketiga:

Ni’matullah al-Jazairy dalam jilid II, hal 363.

Keempat:

Al-Faidl al-Kaasyaany salah seorang ahli tafsir mereka yang tersohor dan

pengarang Tafsir ash-Shafy, berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 49),

((Kesimpulan yang dapat diambil dari berita-berita ini dan riwayat-riwayat

lainnya yang berasal dari ahlul bait ‘alaihis salam bahwasanya Al Quran yang

ada di hadapan kita ini t idaklah sempurna, sebagaimana yang diturunkan

kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi di dalamnya

terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Di

dalamnya ada yang diubah dan banyak pula yang telah dihapus; seperti nama

Ali dari berbagai ayat, lafadz aalu (keluarga) Muhammad shallallahu ‘alaihi

wa sallam, nama-nama kaum munafikin dan hal-hal lainnya. Juga Al Quran

tersebut tidak sesuai dengan susunan yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya

shallallahu ‘alaihi wa sallam)).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 11 dari 26 —

Kelima:

Ahmad bin Manshur Ath-Thabarsy dalam kitabnya al-Ihtijaj (jilid I, hal 55)

telah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tatkala menceritakan

kisah-kisah yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam Al Quran, Allah telah

menyebutkan secara terang-terangan nama para pelaku dosa tersebut. Akan

tetapi para sahabat telah menghapus nama-nama tersebut, jadilah kisah-kisah

itu disebutkan tanpa nama-nama pelakunya.

Keenam:

Berkata Muhammad bin Baqir Al Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid

89, hal 66): ((Bab distorsi dalam ayat-ayat Al Quran, sehingga tidak sesuai lagi

dengan apa yang diturunkan oleh Allah)).

Ketujuh:

Muhammad bin Muhammad an-Nu’man yang dijuluki al-Mufid dalam kitabnya

Awaail al- Maqaalaat (hal 91).

Kedelapan:

Abul Hasan Al ‘Aamily dalam muqaddimah kedua dari kitab tafsirnya Mira’ah

al-Anwar wa Misykaah al-Asraar (hal 36) menyatakan, ((Ketahuilah,

sesungguhnya Al Haq yang kita tidak bisa elakkan -berdasarkan kabar-kabar

yang mutawatir ini dan lainnya- bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita,

telah diubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan

sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk menyampaikan Al

Quran telah menghapus banyak kata-kata dan ayat-ayat)).

Kesembilan:

Abul Qasim al-Khuu’iy (Ulama kontemporer syiah) dalam kitabnya al-Bayan

(hal 236).

Dengarlah Adnan al-Waa’il yang memberikan contoh salah satu distorsi yang

dialami Al Quran: ((Ketika turun ayat (yang artinya) “Hai para rasul,

sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu tentang Ali. Dan jika tidak

kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak

menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia.”

(QS Al Maaidah: 67)).

FAKTA KETIGA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para

sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummahatul mu’minin.

Keutamaan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tingginya

kedudukan serta derajat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui

oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama

Islam secara dharurah. Ini disebabkan karena melimpahnya dalil-dalil yang

menunjukkan hal tersebut, baik dari Al Quran maupun As Sunnah. Sekarang

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 12 dari 26 —

bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi

barangkali kami akan menyebutkan sebagian saja:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

م  حمد  ر  سو ُ ل اللَّهِ  والَّذِي  ن مع ه َأشِداءُ  عَلى اْل ُ كفَّارِ  ر  ح  ماءُ بين  ه  م ت  را  ه  م  ركَّعًا  سجدًا

يبتغو َ ن َف  ض ً لا مِ  ن اللَّهِ  ورِ  ض  وانًا سِيما  ه  م فِي  و  جوهِهِ  م مِ  ن َأَثرِ الس  جودِ َ ذلِ  ك مَثُل  ه  م فِي

الت  و  راةِ  ومَثُل  ه  م فِي اْلأِنجِيلِ َ ك  ز  رعٍ َأ  خ  ر  ج  ش ْ طَأه َفآ  ز  ره َفا  ست غَل َ ظ َفا  ست  وى  عَلى  سوقِهِ

ي عجِ  ب الزرا  ع لِيغِي َ ظ بِهِ  م اْل ُ كفَّا  ر  و  ع  د اللَّه الَّذِي  ن آمنوا  و  عمُِلوا الصالِ  حاتِ مِن  ه  م م غفِ  رًة

 وَأ  جرًا  عظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia

adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama

mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan

keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas

sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang

mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu

menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu

menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati

orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan

kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara

mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29)

Ayat yang mulia ini mencakup seluruh sahabat karena mereka semua bersama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menguatkan apa yang telah lalu: hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan

Muslim; dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari dari Abu Sa’id dia berkata:

((Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan

Abdurrahman bin ‘Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar

hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian

memaki salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari

kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat

menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah

seorang dari mereka.” Hadits ini juga mencakup seluruh sahabat, karena

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki

salah seorang dari sahabatku.”

Syi’ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi

wa sallam

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 13 dari 26 —

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 245) disebutkan, ((Dari Hanan, dari

bapaknya, dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, ia berkata, “Sesungguhnya para

manusia telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa

sallam kecuali hanya tiga orang.” Lantas aku bertanya: “Siapakah tiga orang

itu?” Dia menjawab: “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan

Salman al-Farisy.”)).

Ash-Shafy dalam tafsirnya (jilid V, hal 28) berkata, ((Dari Abdurrahman bin

Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya

orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk

itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat

dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25). Dia

berkata, “fulan dan fulan”, yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu

Bakar sholat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia

menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala

itu)). Na’udzubillah dari kedustaan ini!

Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi’ah yang tanpa tedeng aling-aling

melaknat Ash Shiddiq, ((Para ulama Syi’ah telah bersaksi bahwa ada riwayatriwayat

valid yang kevalidannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu

Bakar, hal tersebut karena adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari

pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga

tidak sholatnya dia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah

melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh

melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu

Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar

dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak

rela dengan dilaknatnya mereka! Kebencian-kebencian umat ini…)).

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an-

Nu’maniyah (jilid I, hal 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan

tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)).

Berkata Zainudin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila

Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 129), ((Sebenarnya Umar itu telah

menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman)).

Dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah milik Ni’matullah al-Jazairy (jilid I, hal

81) disebutkan, ((Telah disebutkan dalam r iwayat-riwayat khusus bahwasanya

syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas digiring ke

padang mahsyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di

depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120

belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan terheran-heran syaitan itu

mendekat lantas bertanya, “Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 14 dari 26 —

hingga siksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan

para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu

kebinasaan.” Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang

dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu’minin Umar

bin Khattab radhiallahu ‘anhu! Qaatalahumulloh! -pen) kepada si syaitan,

“Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin

Abi Thalib.”)).

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang Rafidhah terhadap amirul

mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu; apa yang disebutkan oleh

Zainuddin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq

at-Taqdim (jilid III, hal 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan

seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan

tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)).

Belum puas Rafidhah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama

dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang-orang

yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan,

serta suka main rebana.

Dengarlah bagaimana Hasan ash-Shaffar berbangga karena Rafidhah-lah yang

telah membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu, ((Sesungguhnya Syiah-lah yang

telah membunuh Utsman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat

mereka)).

Al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al -Anwar (jilid XXX, hal 237) berkata,

((Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar,

penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri

dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka amat sangat banyak untuk

disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya)).

Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III, hal 20) surat an-Nahl:

وين  هى  عنِ اْلَف  ح  شاء  واْل  من َ كرِ  واْلب غيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”

(QS. An Nahl: 90)

Al-’Ayasyi berkata: Al- Fahsyaa (perbuatan keji) yaitu yang pertama

(maksudnya Abu Bakr), al-Munkar (kemungkaran) yaitu yang kedua

(maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghy (permusuhan) yaitu yang ketiga

(maksudnya: Utsman bin Affan).

Semoga Allah meridhai seluruh shahabat.

Bahkan al-Majlisy dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al-Qummy

dalam firman Allah ta’ala,

ُق ْ ل َأ  عو ُ ذ بِ  رب اْلَفَلقِ

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 15 dari 26 —

“Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq.”

Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon

perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya, lantas kawah itu

minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka

jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni

kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking

panasnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam

orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun

enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nomor pertama, kedua,

ketiga dan keempat. Nomor pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua

maksudnya Umar, yang ketiga Utsman dan yang keempat Mu’awiyah

radhiallahu ‘anhum.

Al-Majlisy berkata dalam (jilid XXX, hal 237), ((Keterangan tentang dua orang

Arab badui yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak

pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun)). Wa la haula wa la quwwata

illa billah!

Belum cukup Rafidhah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga

‘menyerang’ Ummahatul Mukminin. Berkata Ja’far Murtadho dalam bukunya

Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana

(keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian,

bahwa isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir

sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah ‘Aisyah. Hasyim al-Bahrany berkata

dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV, hal 358) surat at-Tahrim, ((Berkata

Syarafuddin an-Najafy, “Diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihis salam bahwa

dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 ض ر  ب اللَّه مَث ً لا لِلَّذِي  ن َ كَف  روا ا م  رَأ  ت نوحٍ  وا  م  رَأ  ت ُلوطٍ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang

kafir.” (QS. At Tahrim: 10)

Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya

demo terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuka

rahasianya)).

Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan

untuk ‘Aisyah dan Hafshah dan berkata, “Allah membuat istri Nuh dan istri

Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah

pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat.”

Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina

(na’udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia

maksud adalah ‘Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah.

Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai ‘Aisyah. Tatkala

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 16 dari 26 —

‘Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, “Kamu itu tidak boleh

safar kecuali dengan mahram.” Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan

fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)).

Berkata Muhammad al-‘Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII, hal 286) surat Ali

Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu ‘anhu ia

berkata, “Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya

Allah berfirman,

َأَفإِ ْ ن ما  ت َأ  و ُقتِ َ ل ان َقَلبت  م  عَلى َأ  عَقابِ ُ ك  م

“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).”

(QS. Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah

diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni

‘Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak

mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa

billah!

Belum cukup al-Majlisy sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya

Bihar al-Anwar (jilid XXXII, hal 286), ((Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia

berkata, Aku mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata di dalam firman

Allah,

مَث ُ ل الَّذِي  ن ات  خ ُ ذوا مِ  ن  دونِ اللَّهِ َأ  ولِياءَ َ ك  مَثلِ اْلعن َ كبوتِ ات  خ َ ذ  ت بيتًا  وإِنَّ َأ  و  ه  ن اْلبيوتِ

َلبي  ت اْلعن َ كبوتِ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan

selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya

rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba.” (QS. Al Ankabut: 41). Labalaba

itu adalah al-Humaira (Aisyah-pen). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba?

karena dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah;

begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah

kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah

dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan

terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang laba-laba yang lemah!))

FAKTA KEEMPAT: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai

Ahlusunnah.

Tuhan Orang Syi’ah Beda Dengan Tuhan Ahlusunnah

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

I, hal 278), ((Sesungguhnya kami (kaum Syi’ah) tidak pernah bersepakat

dengan mereka (Ahlusunnah) dalam menentukan Allah, nabi maupun imam.

Sebab mereka (Ahlusunnah) mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 17 dari 26 —

yang menunjuk Muhammad sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai pengganti

Muhammad sesudah beliau wafat. Kami (kaum syi’ah) tidak setuju dengan

Tuhan model seperti ini, juga kami tidak setuju dengan model nabi yang

seperti itu. Sesungguhnya Tuhan yang memilih Abu Bakar sebagai pengganti

nabi-Nya, bukanlah Tuhan kami. Dan nabi model seperti itu pun bukan nabi

kami!)). Na’udzubillah dari kekufuran dan kesesatan ini!!!

Pengertian an-Naashib Dalam ‘Kamus’ Rafidhah

An-Nawaashib mufradnya naashib. Definisinya menurut Ahlusunnah adalah:

Orang-orang yang mengalahkan serta melaknat Ali dan keluarganya.

Sedangkan definisinya versi orang-orang Syi’ah: An-Nawashib adalah

Ahlusunnah yang mencintai Abu Bakar, Umar dan para sahabat Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya radhiallahu ‘anhum.

Husain Aal ‘Ushfur ad-Darraz al-Bahrany dalam kitabnya al-Mahasin an-

Nafsaniyah Fi Ajwibati al-Masail al-Khurasaniyah (hal 147) berkata, ((Beritaberita

yang bersumber dari para imam ‘alaihis salam menjelaskan bahwa yang

dimaksud dengan an-Nashib adalah yang biasa dipanggil dengan julukan

Sunni)). Dia juga berkata, ((Tidak perlu lagi dipermasalahkan bahwa yang

dimaksud dengan an-Nashibah adalah Ahlusunnah)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid

II, hal 306-307), ((Adapun orang Nashibi, kondisi dan hukum-hukum yang

berkaitan dengan mereka bisa dijelaskan dalam dua hal: Pertama, siapakah

yang dimaksud dengan an-Nashib yang diceritakan dalam berbagai riwayat

mereka itu lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Yang juga

mereka itu kafir dan najis menurut ijma’ para ulama imamiyah… Dan telah

diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di antara ciri khas

orang-orang Nawashib adalah: mendahulukan selain Ali atasnya)). Perkataan

orang satu ini menunjukkan bahwa setiap yang mendahulukan kepemimpinan

Abu Bakar, Umar dan Utsman sebelum kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu,

maka dia adalah Nashibi menurut versi orang-orang Rafidhah; padahal orangorang

Nashibi itu menurut mereka lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan

Majusi, bahkan dianggap kafir dan najis!!! Na’udzubillah!!

Kaum Rafidhah Menghalalkan Harta dan Nyawa Ahlusunnah

Berkata Yusuf al-Bahrany dalam kitabnya al-Hadaaiq an-Naadhirah Fii Ahkaam

al-‘Itrah ath- Thaahirah (jilid XII, hal 323), “Sesungguhnya anggapan bahwa

an-Nashib itu muslim, dan juga anggapan bahwa agama Islam tidak

membolehkan untuk mengambil harta mereka, ini semua tidak sesuai dengan

ajaran kelompok yang benar (maksudnya Syi’ah –pen) mulai dari dahulu

sampai sekarang, yang mana mereka itu mengatakan bahwa an-Nashib itu

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 18 dari 26 —

kafir dan najis serta boleh diambil hartanya bahkan dibenarkan untuk

dibunuh.”

Dalam kitab Wasail asy-Syi’ah karangan al-Hur al-’Amily (jilid XVIII, hal 463)

disebutkan, ((Berkata Dawud bin Farqad, Aku bertanya kepada Abu Abdillah

‘alaihis salam, “Apa pendapatmu tentang an-Nashib?” Dia menjawab, “Halal

darahnya (nyawanya -pen) tapi aku bertaqiyyah (Lihat maksud dari istilah

taqiyyah di epilog dari tulisan ini -pen). darinya. Seandainya engkau bisa

membunuhnya dengan cara meruntuhkan suatu tembok atasnya atau kamu

tenggelamkan dia, supaya tidak ketahuan bahwa kamulah pembunuhnya,

maka lakukanlah!”)). Aku bertanya lagi, “Lantas bagaimana dengan

hartanya?” Dia menjawab, “Musnahkanlah hartanya semampumu!”)).

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 285) disebutkan, ((Dari Abu Hamzah,

Aku bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Sebagian kawan-kawan kami

memfitnah dan menuduh yang tidak-tidak terhadap siapa saja yang

menyelisihi mereka?” Dia menjawab, “Lebih baik engkau tinggalkan

perbuatan itu! Demi Allah wahai Abu Hamzah sesungguhnya seluruh manusia

adalah anak-anak pelacur kecuali para pendukung kita!!”)). Yang dia maksud

adalah: bahwa semua manusia adalah anak-anak hasil perzinaan kecuali

orang-orang Syi’ah (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang

Syi’ah suci dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut’ah)

sendiri mereka anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling

utama?!! -pen). Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Orang-Orang Rafidhah Mengkafirkan Golongan Ahlusunnah

Al-Faidl al-Kasyany dalam kitabnya Minhaj an-Najah (hal 48) berkata, “Barang

siapa yang mengingkari keimaman salah seorang dari mereka (yakni para

imam yang dua belas) maka sesungguhnya dia itu sama dengan orang yang

mengingkari kenabian seluruh para nabi.”

Berkata al-Maamaqaany dalam kitabnya Taudhih al-Maqaal (jilid I, hal 208),

“Kesimpulan yang dapat diambil dari kitab-kitab, bahwa setiap yang tidak

bermazhab itsna ‘asyar (syi’ah) akan diterapkan baginya hukum orang kafir

dan musyrik di akhirat.”

Dengarlah orang-orang Rawafidh yang terang-terangan melaknat para ulama

Islam seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Samahah asy-Syaikh Abdul

Aziz bin Baz rahimahumullah: “Ini syeikh Bin Baz, kalian anggap dia itu

syaikh?! Wahai orang-orang yang najis!, orang-orang yang kotor!, wahai para

pengikut Ibnu Taimiyyah si anjing itu! Wahai para pengikut Bin Baz al-

Munafiq si buta mata dan hati! Semoga Allah melaknat dia!!! Semoga Allah

melaknat dia!! Anjing kalian ikuti?!, kalau bukan karena kalian binatang

niscaya kalian tidak akan mengikuti binatang, babi seperti Bin Baz!!!)). Wa

laa haula wa laa quwwata illa billah.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 19 dari 26 —

Keyakinan Rafidah Mengenai Al-Mahdi Yang Dinanti-nantikan

Ahlusunnah meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan muncul seorang dari

ahlul bait, Allah kokohkan dengannya agama Islam, dia berkuasa tujuh tahun,

memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan

kesewenang-wenangan dan kezaliman. Bumi menumbuhkan tumbuhtumbuhannya,

langit menurunkan hujannya, harta melimpah ruah tanpa

batas.

Adapun Rafidhah, maka telah terjadi kontradiksi dalam keyakinan mereka

tentang al-Mahdi; terkadang mereka mengingkari lahirnya al-Mahdi

sebagaimana yang dikatakan oleh al-Kulainy dalam kitabnya Ushul al-Kafi

(jilid I, hal 505), Ibnu Baabawaih al-Qummy dalam kitabnya Kamaal ad-Din Wa

Tamaam an-Ni’mah (hal 51), juga al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar

(jilid 50, hal 329), bahwa al-Mahdi tidak akan dilahirkan, sebab harta warisan

ayah al-Mahdi yang bernama al-Hasan al-’Askary sudah terlanjur dibagi-bagi.

Akan tetapi terkadang mereka mengatakan bahwa al-Mahdi telah dilahirkan,

akan tetapi dia masih bersembunyi di suatu tempat yang bernama gua as-

Saamuroi, dan akan muncul kelak di akhir zaman untuk membantu Syi’ah dan

membunuhi musuh-musuh mereka dari kalangan Ahlusunnah.

Agar kerancuan itu lenyap, akan kita sebutkan perbedaan-perbedaan antara

Mahdinya orang Islam dengan Mahdi yang diklaim oleh orang Rafidhah.

Pertama, Mahdinya orang Islam bernama Muhammad bin Abdullah, karena

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Namanya (al-Mahdi -pen) sama

dengan namaku, dan nama bapaknya (al-Mahdi -pen) juga sama dengan nama

bapakku.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzy, serta dishahihkan oleh al-Albany

dalam Misykaat al-Mashabih). Adapun Mahdi yang diakui oleh orang Rafidhah

bernama Muhammad bin al-Hasan al-‘Askary sebagaimana yang disebutkan

oleh al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah (jilid III, hal 226).

Kedua, Mahdinya orang Islam belum dilahirkan hingga sekarang dan dia akan

dilahirkan di akhir zaman. Adapun mahdinya orang Rafidhah sesungguhnya

telah dilahirkan pada tahun 255 H. Berkata al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-

Ghummah (jilid III, hal 236), “Al-Mahdi lahir pada malam pertengahan

Sya’ban tahun 255 H, lantas tatkala berumur lima tahun dia masuk gua as-

Samuroi di Irak. Dan sekarang dia masih hidup.” Jadi sejak tahun itu sampai

hari ini mahdi khurafatnya orang Rafidhah sudah berumur 1168 tahun!!!

Ini syaikh mereka Abdul Hamid al-Muhajir berusaha keras untuk membuktikan

adanya al-Mahdi khurafat mereka, “Manusia itu bisa saja hidup ribuan tahun,

ditambah lagi kita tidak mengetahui umur yang disebutkan dalam Al Quran.

Sedangkan umur 70 tahun, 60 tahun, 80 tahun, itu semua umur alami. Umur

itu tidak ada yang tahu panjangnya kecuali Allah. Mungkin saja seseorang

hidup seumuran Nuh. Nuh hidup 3000 tahun. Ilmu mutakhir membuktikan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 20 dari 26 —

bahwa tidak ada suatu hal yang menghalangi panjangnya umur seseorang,

seandainya Allah menghendaki. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini,

karena Allah menciptakanmu tidak hanya untuk hidup 60 tahun kemudian

kamu mati, seandainya jika memang belum ada sebab-sebab kematian. Para

ilmuwan berkata: Seandainya manusia selalu berada di atas metode ilmiah

yang tepat di dalam makannya, minumnya, pakaiannya, tidurnya dan

bangunnya, niscaya dia bisa hidup ribuan tahun!”

Ketiga, Mahdinya orang Islam dari keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

keturunan al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, adapun mahdi yang diklaim oleh

Rafidhah itu keturunan al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.

Keempat, Mahdinya orang Islam tinggal selama 7 tahun, adapun Mahdi yang

diklaim oleh Rafidhah tinggal selama 70 tahun.

Kelima, Mahdinya orang Islam memenuhi bumi dengan keadilan setelah

sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Adapun Mahdinya orang Rafidhah,

sesungguhnya dia akan membunuhi orang-orang Islam musuh-musuh Rafidhah,

bahkan dia akan menghidupkan kembali ash-Shiddiq dan al-Faaruq; Abu Bakar

dan Umar radhiallahu ‘anhuma, kemudian menyalib keduanya, juga

mencambuk Aisyah dengan cambukan had. Sebagaimana disebutkan dalam

kitab ar-Raj’ah karangan Ahmad al-Ahsaa’iy (hal 161).

Bahkan Mahdinya Rafidhah banyak melakukan pembunuhan di muka bumi ini

terutama orang-orang Quraisy. Sampai-sampai mereka berkata: bahwasanya

al-Mahdi akan membunuh dua pertiga dari penduduk bumi.

Demi Allah, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pekerjaan al-Masih ad-

Dajjal! Bahkan dalam Bihaar al-Anwar (jilid 52, hal 354) disebutkan, ((Telah

diriwayatkan dari Abu Ja’far ‘alaihis salam bahwa dia berkata: Hingga

kebanyakan manusia berkata: “Dia bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad,

seandainya dia dari keluarga Muhammad, niscaya dia itu akan bersikap lemah

lembut.”)).

Keenam, Mahdinya orang Islam menegakkan syariatnya Nabi Muhammad

shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun mahdinya yang diklaim Rafidhah dia

akan menegakkan hukum keluarga Dawud, bahkan akan menyeru Allah dengan

nama Ibraninya. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Ushul al-Kaafi

(jilid I, hal 398).

Ketujuh, Mahdinya orang Islam Allah turunkan dengannya hujan, lantas bumi

menumbuhkan tetumbuhannya. Adapun Mahdinya Rafidhah maka akan

menghancurkan Ka’bah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi bahkan akan

menghancurkan semua masjid (yang ada di muka bumi -pen). Sebagaimana

yang disebutkan oleh ath-Thusy dalam kitabnya al-Gharib (hal 472).

Kedelapan, Mahdinya orang Islam memerangi Yahudi dan Nasrani, sampai

agama betul-betul menjadi milik Allah semata, dan dia beserta nabi Isa akan

membunuh Dajjal. Adapun Mahdinya orang-orang Rafidhah maka dia akan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 21 dari 26 —

berdamai dengan orang Yahudi dan Nasrani, lantas menghalalkan darah orang

Islam dan membalas dendam terhadap mereka. Sebagaimana diterangkan al-

Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid 52, hal 376).

Dengan demikian hilanglah ketidakjelasan perbedaan antara dua mahdi. Dan

tidak mungkin Mahdinya orang Islam dengan Mahdinya orang Rafidhah itu satu.

Fakta Kelima: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Hari

‘Asyura.

Pada hari ‘Asyura orang-orang Islam menunaikan ibadah puasa, dalam rangka

mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Kitab-kitab orang Rafidhah juga

memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura, akan tetapi anehnya orangorang

Rafidhah sendiri mengingkari puasa tersebut, bahkan menuduh bahwa

orang-orang kerajaan Umawi-lah yang membuat-buat riwayat-riwayat palsu

yang menghasung puasa ‘Asyura.

Setiap tahun, pada hari-hari bulan Muharam, terutama tanggal sepuluh,

orang-orang Rafidhah melakukan perbuatan-perbuatan ‘aib yang memalukan;

mulai dari memakai pakaian hitam, mengadakan majelis-majelis Al

Husainiyah, mengadakan ceramah-ceramah dan perkumpulan-perkumpulan

yang diselingi dengan pelaknatan terhadap Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan

anaknya Yazid serta kepada bani Umayyah secara keseluruhan. Juga mereka

menganiaya diri mereka sendiri dan memukuli diri mereka dengan rantai dan

pedang. Serta masih banyak penyelewengan-penyelewengan syariat lainnya,

yang mana itu semua dengan dalih mengungkapkan rasa bela sungkawa dan

berkabung atas kematian Husain radhiallahu ‘anhu.

Dengarlah syaikh mereka Abdul Hamid al-Muhajir yang melegalisir aksi orangorang

Rafidhah pada hari ‘Asyura, “Jangan kalian dengar orang yang berkata

bahwa memukul-mukul kepala dengan rantai, menampar dan menangis itu

haram, sesungguhnya mereka itu tidak paham agama Islam. Pada asalnya

sesuatu itu diharamkan seandainya membahayakan, kalau membahayakan

baru bisa dikatakan haram, dan ini tidak ada hubungannya dengan memukul-

mukul kepala dan memukul-mukul kaki, siapa bilang itu haram?

Mengharamkan sesuatu butuh dalil, karena pada asalnya segala sesuatu itu

hukumnya halal!!”

Inilah ulama kita yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang

mengingkari bid’ah-bid’ah dan kemungkaran-kemungkaran Rafidhah pada

hari-hari ‘Asyura dengan perkataannya, “Orang yang menjadikan hari ‘Asyura

sebagai hari penebusan dosa dan hari berkabung, sebagaimana orang-orang

Rafidhah yang pada hari itu mereka memukul-mukul dada-dada dan tubuh-

tubuh mereka serta memukul-mukul diri mereka dengan besi, mencaci maki

dan melaknat. Ini semua merupakan sebagian dari kebodohan, kesesatan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 22 dari 26 —

serta kebid’ahan mereka yang tercela. Kita memohon kepada Allah

keselamatan dari itu semua. Niyahah (ratapan), memukul-mukul pipi, serta

merobek-robek pakaian, tetap merupakan perbuatan mungkar, kapan saja

dan di mana saja sampai pun pada hari di mana Husain terbunuh, atau di saat

musibah apapun. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari

perbuatan itu dan bersabda, ‘Tidak termasuk dari golongan kami: orang-

orang yang memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian serta menyeru

dengan seruan jahiliyah.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‘Allah melaknat ash- Shaliqah, al-Haliqah serta asy-Syaqqah.’ Ash-Shaliqah:

adalah orang yang meraung-raung ketika terjadi musibah, al-Haliqah: yang

menggundul rambutnya, asy-Syaqqah: yang merobek-robek pakaiannya. Ini

semua merupakan kemungkaran, na’udzubillah!. Orang-orang Rafidhah

memperbolehkan aksi-aksi tersebut dengan dalih bahwa itu ungkapan

dukungan terhadap ahlul bait dan sebagai ungkapan kesedihan. Padahal

dengan aksi-aksi tersebut mereka telah menyakiti diri mereka sendiri dan

menjadikan Allah murka terhadap perbuatan buruk tersebut, sebab aksi itu

telah menyelisihi syariat dan merupakan bid’ah yang mungkar.”

Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan orang-orang yang selalu

mencekoki masyarakatnya setiap tahun dengan perasaan dendam dan dengki

terhadap Ahlusunnah, dengan dalih bahwa Ahlusunnah-lah yang telah

membunuh Husain. Padahal kitab-kitab Syi’ah dipenuhi riwayat-riwayat yang

membuktikan bahwa orang Syia’h Kufah-lah yang telah mengkhianati Husain

radhiallahu ‘anhu, sebagaimana sebelumnya mereka telah berkhianat kepada

saudara dan bapaknya.

Dalam kitab Maqtal al-Husain karya Abdul Razak al-Mukrim (hal 175)

disebutkan: ((Bahwa Husain radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya

merekalah yang telah mengkhianatiku, lihatlah surat-surat yang berasal dari

Kufah ini! Sesungguhnya merekalah yang telah membunuhku!”)). Hal yang

senada disebutkan dalam kitab Muntaha al-Aamal Fi Tarikh an-Nabiy wa al-

Aal (jilid I, hal 535).

Bahkan referensi Syi’ah yang tersohor Muhsin al-Amin dalam A’yaan asy-Syi’ah

(jilid I, hal 32) berkata, “Kemudian 20.000 penduduk Irak yang telah

membai’at Husain mengkhianatinya dan meninggalkannya, padahal tali bai’at

masih tergantung di leher mereka. Kemudian mereka membunuh al-Husain.”

Dalam kitab al-Ihtijaj karangan ath-Thabarsy (hal 306) disebutkan, ((Bahwa

Ali bin Husain yang dikenal dengan julukan Zainal Abidin berkata: “Wahai para

manusia, demi Allah tahukah kalian bahwa sesungguhnya kalian-lah yang

telah menulis surat terhadap bapakku, lantas kalian tipu dia?! Kalian telah

berjanji dan membai’at bapakku lantas kalian bunuh dan terlantarkan dia?!

Celakalah kalian atas apa yang telah kalian lakukan. Bagaimana kelak kalian

bisa memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau kelak

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 23 dari 26 —

berkata, ‘Kalian telah membunuh keluargaku dan kalian rusak kehormatanku,

sesungguhnya kalian bukanlah dari golongan kami!’”)).

Dalam kitab Maqtal al-Husain karangan Murtadha ‘Ayyad (hal 83) dan dalam

kitab Nafs al-Mahmum karangan ‘Abbas Al Qummy (hal 357) disebutkan,

((Tatkala Imam Zainal Abidin rahimahullah lewat dan melihat orang Kufah

menangis dan meratap (berkabung atas meninggalnya Husain), beliau

membentak mereka seraya berkata, “Kalian meratapi diri kami??! Lantas

siapakah yang membunuh kami? (kalau bukan kalian?? –pen)”)). Hal yang

senada disebutkan dalam kitab al-Ihtijaj karya ath-Thabarsy (hal 304).

Dengarlah ulama kita Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang

menerangkan kejadian yang sebenarnya tentang Husain radhiallahu ‘anhu,

juga menerangkan sikap Ahlusunnah terhadap fitnah tersebut: “Tatkala

Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu mendengar berita tentang kemungkaran-

kemungkaran yang dilakukan oleh Yazid bin Mu’awiyah, beliau keluar dari

Mekkah menuju Irak, dengan tujuan menyatukan kalimat kaum muslimin di

atas kebaikan serta menegakkan syariat Islam. Sebagian saudara-saudaranya

dari para sahabat telah menasihatinya agar tidak pergi, tapi beliau berijtihad

untuk berangkat. (Tatkala mendengar keberangkatan al-Husain) Ubaidullah

bin Ziyad mengutus pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’id bin Abi Waqqas,

hingga terjadilah peperangan antara dua pihak. Orang-orang yang bersama

Husain saat itu sedikit sekali yaitu keluarga dia. Maka terbunuhlah Husain

dan banyak korban berjatuhan dari orang-orang yang bersamanya di suatu

tempat yang bernama Karbala. Ubaidullah bin Ziyad telah bersalah karena

perbuatannya, sebenarnya Husain sudah berkehendak pulang dan

meninggalkan fitnah, atau pergi ke Yazid, atau pergi ke daerah sekitar. Akan

tetapi pasukan tersebut terus memerangi dia sampai akhirnya membunuh dia

dan membunuh siapa saja yang berusaha untuk melindungi dia. Hingga

terbunuhlah Husain dalam keadaan terzalimi dan tidak bersalah. Maka

terjadilah musibah besar yang membuka pintu keburukan yang besar!

nas’alullah al-’afiyah!”

Mereka (Ubaidullah dkk) telah berbuat salah dengan perbuatan mereka

tersebut, semoga Allah meridhai Husain dan memberi rahmat kepadanya,

kepada kita serta kepada semua kaum Muslimin. Semoga Allah membalas

orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan balasan yang

setimpal. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan-kejahatan Rafidhah

dan perbuatan-perbuatan mereka yang hina, serta Allah kembalikan mereka

ke pangkuan Islam dan petunjuk.

Epilog

Para pembaca yang budiman, setelah kita melakukan ‘pengembaraan’ dari

satu referensi ke referensi yang lain yang berada di perpustakaan kelompok

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 24 dari 26 —

Syi’ah, penulis ingin menarik perhatian para pembaca kepada dua perkara

penting yang erat kaitannya dengan pembahasan kita kali ini.

Dua hal itu adalah:

Pertama- Kami rasa setiap yang membaca makalah ini akan bisa langsung

menarik kesimpulan betapa sesatnya kelompok yang satu ini, bahkan dia bisa

mengatakan bahwa yang menganut keyakinan tersebut di atas tidak lagi bisa

dianggap beragama Islam. (Bahkan ada salah seorang awam yang tatkala

membaca awal makalah ini, tidak bisa mengeluarkan kata-kata kecuali hanya:

“Ini kelompok dholal (sesat) banget sich!”).

Yang ingin kami jelaskan di sini: Sedemikian sesatnya kelompok Syi’ah ini,

masih ada -sampai detik ini- orang-orang yang berusaha dengan gigihnya untuk

menyatukan antara Syi’ah dan Ahlusunnah di bawah satu payung, dan

mengatakan bahwa perbedaan kita dengan Syi’ah hanyalah seperti perbedaan

antara empat mazhab Ahlusunnah; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Entah

karena mereka tidak tahu kesesatan Syi’ah atau karena pura-pura tidak tahu.

Wallahua’lam… Kalau tidak tahu kenapa berbicara, bukankah orang yang tidak

tahu sebaiknya diam saja? Kalaupun tahu kenapa tidak menerangkan hakikat

kelompok Syi’ah itu kepada pengikutnya??

Berikut penulis bawakan statemen-statemen pembesar kelompok pergerakan

ini yang terang-terangan berusaha menyatukan antara Ahlusunnah dan Syi’ah

(Silahkan baca: ibid hal: 238-268, dan al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah Fa’rifuha,

karya Abu Ibrahim bin Sulthan al-’Adnani, hal: 68-71)

Mari kita mulai dengan perkataan pendiri kelompok ini Hasan al-Banna

rahimahullah, “Ketahuilah bahwa Ahlusunnah dan Syi’ah semuanya termasuk

kaum muslimin, mereka disatukan dengan kalimat La ilaaha illAllah wa anna

Muhammadan Rasulullah (Padahal syahadat orang Syi’ah mereka tambahi

dengan: wa anna ‘aliyyan waliyyullah washiyyu rasulillah wa khalifatuhu bila

fashl. Silahkan lihat cover buku Tuhfah al-’Awaam Maqbul, karya as-Sayyid

Mandzur Husain -pen), ini adalah inti aqidah, Sunah dan Syi’ah sepakat di

dalamnya, dan di atas kesucian. Adapun perkara khilaf antara keduanya,

maka itu termasuk perkara-perkara yang bisa kita dekatkan antara

keduanya.” (Dzikrayat La Mudzakkirat hal 249-250).

Umar at-Tilmisani rahimahullah berkata dalam suatu makalah dia asy-Syi’ah

Wa as-Sunnah, “Usaha penyatuan antara Syi’ah dan Sunnah merupakan

kewajiban para ahli fikih zaman ini.” (Majalah ad-Da’wah al-Mishriyyah edisi

105, Juli 1985 M). Dalam kitabnya yang lain disebutkan, “Syi’ah itu suatu

kelompok yang kira-kira mirip dengan empat mazhab dalam Ahlusunnah…

Memang di sana ada berbagai perbedaan, akan tetapi mungkin untuk

dihilangkan, seperti: nikah mut’ah, jumlah istri seorang muslim -dan itu

terdapat di sebagian sekte kelompok mereka- dan lain sebagainya. Yang mana

perbedaan-perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadikan perpecahan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 25 dari 26 —

antara Sunnah dan Syi’ah.” (Al-Mulham al-Mauhub Hasan al-Banna, Umar

Tilmisani).

Berkata Dr. Muhammad al-Ghazali rahimahullah, “Betul, saya termasuk orang

yang berkepentingan dalam usaha penyatuan antara mazhab-mazhab Islam.

Saya selalu bekerja keras dan terus-menerus di Kairo. Saya berteman dengan

Muhammad Taqy al-Qummy, Muhammad Jawad Mughniyah, dan ulama-ulama

besar Syi’ah yang lain.” (Mauqif ‘Ulama al-Muslimin hal 21-23).

Bahkan tatkala gembong Syi’ah abad ini Ayatullah al-Khomeini (orang yang

‘merestui’ pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar (Karena dia merestui

buku Tuhfah al-’Awaam Maqbul, as-Sayyid Mandzur Husain, yang di dalamnya

terdapat doa shanamai quraisy, yang dipenuhi dengan cacian dan laknatan

kepada ash-Shiddiq dan al-Faruq)) berhasil melakukan revolusi di Iran, tokohtokoh

organisasi pergerakan ini berbondong-bondong mengucapkan selamat

dan bahkan mendukung kepemimpinannya:

Berkata Al Maududi rahimahullah, “Sesungguhnya revolusi al-Khomeini adalah

revolusi yang islami, dipelopori oleh jama’ah islamiyah dan para pemuda

yang dididik dalam tarbiyah islamiyah di kancah pergerakan Islam. Maka

seluruh kaum muslimin dan gerakan-gerakan Islam berkewajiban untuk

mendukung revolusi ini dengan dukungan yang sebesar-besarnya, serta

bekerjasama dengan mereka di segala aspek.” (Asy-Syaqiqani, hal 3. dan

Mauqif Ulama al-Muslimin, hal 48).

Fathi Yakan rahimahullah berkata, “Dan di dalam sejarah Islam baru-baru ini,

terdapat bukti atas perkataan yang kami ucapkan. Bukti itu adalah:

percobaan revolusi islami yang ada di Iran; percobaan yang diperangi oleh

setiap kekuatan kafir di muka bumi ini, dan masih terus diperangi, karena

revolusi ini islami dan tidak memihak ke timur maupun ke barat.” (Abjadiyat

at-Tashawwur al-Haraki Li al-’Amal al-Islami, hal 148).

Bahkan at-Tandzim ad-Dauly Lijama’ati al-Ikhwan al-Muslimin (Organisasi

Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin) telah menerbitkan memorandum

yang berisi, “Dengan ini, Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul

Muslimin menyeru setiap pemimpin organisasi pergerakan Islam di Turki,

Pakistan, India, Indonesia, Afghanistan, Malaysia, Philipina dan organisasi

Ikhwanul Muslimin di negeri-negeri Arab, Eropa dan Amerika untuk mengirim

utusan mereka guna membentuk suatu delegasi yang akan diberangkatkan ke

Teheran dengan menggunakan pesawat khusus. Dengan tujuan untuk

menemui al-Imam Ayatullah al-Khomeini, dalam rangka menekankan

dukungan pergerakan Islam yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin, Hizb as-

Salamah Turki, al-Jama’ah al-Islamiyah di Pakistan, al-Jama’ah al-Islamiyah

di India, Jama’ah Partai Masyumi di Indonesia, Angkatan Belia Islam Malaysia,

al-Jama’ah al-Islamiyah di Philipina. Pertemuan itu merupakan salah satu

tanda kebesaran Islam dan kemampuannya untuk mencairkan perbedaan-

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

Biarkan Sy iah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya @@Courtesy and Copyright http://www.muslim.or.id

— 26 dari 26 —

perbedaan ras, kebangsaan dan mazhab…” (Majalah al-Mujtama’ al-

Kuwaitiyah, edisi 434, 25/2/1979).

Wahai para pembaca yang budiman, apakah perbedaan itu berhasil dicairkan

dengan cara menundukkan setiap perbedaan pendapat di bawah Al Quran dan

As Sunnah, atau dengan cara diam dan pura-pura cuek dengan segala macam

bentuk perbedaan, entah itu klaim bahwa Al Quran tidak sempurna,

pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar, atau tuduhan yang dilontarkan

kepada Ummul Mu’minin Aisyah bahwa dia telah berzina, serta dosa-dosa

besar lainnya???!! Allahulmusta’an wa ‘alaihit tuklan…

Kedua- Barangkali ada di antara kita -setelah membaca makalah inisemangatnya

berkobar untuk menasihati orang-orang Syi’ah, entah itu di

Madinah atau di kampungnya. Bisa jadi -dan itu memang sudah terjaditatkala

kita ungkapkan fakta-fakta tersebut di atas, mereka akan menjawab,

“Itu semua tidak ada dalam ajaran Syi’ah!” Kalau itu jawaban mereka apa

langkah kita selanjutnya?

Perlu diketahui bersama, bahwa orang Syi’ah mempunyai suatu ’senjata’ yang

bernama taqiyyah (Silahkan lihat: Min ‘Aqaid asy-Syi’ah, Abdullah bin

Muhammad as-Salafy, hal: 32-33). Salah seorang ulama kontemporer mereka

mendefinisikan taqiyyah dengan perkataannya, “Taqiyyah adalah

mengucapkan atau berbuat sesuatu yang tidak engkau yakini, dengan tujuan

untuk melindungi diri dan harta dari marabahaya, atau agar harga dirimu

terjaga.” (Asy-Syi’ah Fi al-Mizan, Muhammad Jawad Mughniyah, hal 48).

Al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi (hal 482-483) menyebutkan, ((Abu Abdilah

berkata, “Wahai Abu Umar, sesungguhnya 9/10 agama kita terletak di dalam

taqiyyah, barang siapa yang tidak bertaqiyyah maka dia dianggap tidak

mempunyai agama!!”)).

Jadi orang-orang Syi’ah menganggap bahwa taqiyyah itu hukumnya wajib.

Maka kalau ada di antara mereka yang mengingkari fakta-fakta ini, ketahuilah

bahwa mereka sedang bertaqiyyah alias berbohong. Wallahua’lam, semoga

bermanfaat! dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan…

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi

ajmain.

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Selasa, 20 Muharram 1426 H.

Disebarkan di Maktabah Abu Salma al-Atsari atas izin muslim.or.id

Hak cipta berada di tangan penulis dan webmaster muslim.or.id

Risalah ini dapat disebarluaskan dan diprint/dicetak selama tidak untuk komersial dan hanya

dibagikan gratis

“ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN BERSATU SERTA PERINGATAN DARI PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 1 of 31 –

“ANJURAN UNTUK BERKASIH SAYANG DAN

BERSATU SERTA PERINGATAN DARI

PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN”

للشيخ الدكتورربيع بن هادي المدخلي حفظه اللهللهللهلله

Oleh :

Fadhilah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy

Alih Bahasa :

Abu Salma bin Burhan Al-Atsari

Korektor dan Editor :

Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc.

Judul Asli :

Al-Hatstsu ‘alal mawaddah wal I’tilaafi wat Tahdziru minal Furqoh

wal Ikhtilaafi

Penerbit :

Markaz Imam al-Albani

Amman Yordania

Download dari

Maktabah Abu Salma al-Atsari

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 2 of 31 –

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Amma Ba’du :

Berikut ini merupakan ceramah ilmiah seputar manhaj dan tarbiyah (pembinaan) yang bermanfaat, dengan izin Allah, yang disampaikan oleh Fadhilatus Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi –semoga Allah menjaga beliau dan menjadikan (ilmu)nya bermanfaat- di saat pertemuan yang mubarak (penuh berkah) yang dihadiri oleh para penuntut ilmu syar’i di Universitas Islam Madinah Munawarah, beberapa minggu yang lalu.

Ceramah ini sungguh mengandung mutiara-mutiara yang berharga dari nasehat-nasehat yang mengagumkan dan pengarahan-pengarahan yang sarat dengan manfaat, yang disampaikan di saat dan kondisi yang sangat tepat sekali –segala puji hanya milik Allah- sebagai petunjuk bagi jalannya dakwah salafiyyah yang mubarakah (penuh berkah) ini, yang pada masa-masa akhir ini telah terkontaminasi oleh sebagian pemikiran asing dan karakter/perangai yang jauh darinya! Semoga Allah membalas Syaikh Abu Muhammad Rabi’ bin Hadi –semoga Allah senantiasa menjaganya- dengan sebaik-baik ganjaran, atas upaya yang yang telah dipersembahkannya –dan apa yang akan beliau persembahkan- dalam menolong da’wah yang mulia ini dan jalan yang menentramkan ini.

Markaz Imam Albani sungguh memandang pentingnya menyebarkan1 ceramah bermanfaat yang penuh berkah ini –insya Allah agar manfaatnya semakin menyebar dan kebaikannya semakin besar. Allah Ta’ala berfirman : “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Demikianlah akhir seruan kami, segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.

Amman – Yordan 19 Sya’ban 1425 H.

1 Diperlukan beberapa perubahan dari ceramah ini yang berbentuk (format) suara menjadi transkrip tulisan dengan beberapa perubahan sebagian lafazh dan pembenaran sebagian ungkapan agar sesuai dengan makna yang dimaksudkan tanpa menyelisihi makna aslinya. Catatan kaki (footnote) dalam risalah ini merupakan tulisan dari Departemen Riset Ilmiyah Markaz Imam Albani, harap diperhatikan Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair al-Madkholi –Semoga Allah menjaganya- berkata :

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من

يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد

أن محمدا عبده ورسوله ،

_ ياأيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون _

ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحده وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا _

_ ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا

يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله _

_ ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

أما بعد :

، وشر الأمور محدثاا، وكل محدثة بدعة ، _ فإن أصدق الحديث كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد

وكل بدعة ضلالة ،وكل ضلالة في النار

Segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan pada-Nya, meminta pengampunan dari-Nya, dan memohon perlindungan dari buruknya jiwa-jiwa kami dan jeleknya amal-amal kami.

Barang siapa yang Allah telah menunjukinya maka tak ada seorangpun yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang Allah mengehendaki kesesatan atasnya maka tak ada seorangpun yang sanggup memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanyalah Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad ada hamba dan utusan-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran : 102)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu, yang darinya Ia menciptakan pasangannya, dan memperkembangbiakkan dari keduanya kaum lelaki dan wanita yang banyak, maka bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’ : 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-do sa kalian, dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Al-Ahzab : 70-71).

Amma Ba’du :

Sesungguhnya sebenar-benar suatu perkataan adalah perkataan Allah (Kitabullah) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka2.

Marhaban (Selamat datang) wahai saudaraku seislam, para penuntut ilmu yang mulia3, yang telah melakukan perjalanan jauh dari ujung dunia, dalam rangka meneguk ilmu syar’i yang memancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di tempat turunnya wahyu ini, kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang merupakan tempat kedua turunnya wahyu setelah Makkah Mukarramah, yang berangkat darinya panji-panji jihad dan futuh (ekspansi islam) untuk meninggikan kalimat Allah Tabaroka wa Ta’ala, dan untuk menyebarkan agama yang haq (benar) ini, serta untuk memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya, sebagaimana yang difirmankan Allah Tabaroka wa Ta’ala :

_ هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون _

“Dialah Allah yang mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang musyrik benci.” (Ash-Shaff : 9).

2 Ini adalah Khuthbatul Hajah yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memulai dengannya pada setiap khutbah jum’at dan khutbah nikah serta seremoni-seremoni lainnya yang serupa. Banyak para ulama turut menggunakan teks khutbah ini, yang masyhur dari mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu. Syaikh kami al-Imam al-Albany Rahimahullahu telah menyusun sebuah risalah tersendiri yang berjudul ‘Khutbatul Haajah allati kaana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yu’allimuha ashhaabahu’

3 Sanjungan semacam ini merupakan manhaj yang telah dijalani oleh ahlul ilmi dan ulama, yang mana mereka menyambut para penuntut ilmu dan pengajar sunnah nabi dengannya. Sebagaimana di dalam hadits Shofwan bin ‘Assal al-Muradiy Radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendatangi Nabi dan beliau saat itu berada di Masjid, beliau memakai jubah bergaris-garis berwarna merah, aku berkata kepada beliau : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu, lantas beliau menjawab : “Selamat datang wahai penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu itu dikelilingi oleh malaikat dan mereka menaunginya dengan sayap mereka, kemudian mereka menaiki satu sama lainnya hingga sampai ke langit dunia dikarenakan kecintaan mereka terhadap apa yang dicari oleh penuntut ilmu.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib (I/139-hadits:71). Maka hendaklah bergembira dengan bisyarah (kabar gembira) Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mana beliau bersabda : “ Jika datang seseorang kepada suatu kaum dan mereka mengucapakan : Marhaban (selamat datang), maka ia akan disambut dengan marhaban di hari perjumpaan dengan Rabb-nya…” (as-Silsilah as-Shahihah : 1189).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 5 of 31 –

Allah sungguh telah memenangkan agama ini melalui tangan (usaha) para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia dengan penuh keikhlasan4. Mereka membuka hati manusia dengan ilmu, petunjuk dan keimanan, mereka membuka benteng-benteng dan negeri dengan pedang kebenaran, dan mereka menolong agama Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala usaha yang mereka miliki, dengan setiap apa yang mereka sanggupi, baik dengan mengorbankan harta dan jiwa. Mereka adalah orang yang mengimplementasikan kehendak Allah terhadap agama ini, serta mereka adalah orang yang memuliakan dan memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya. Karena agama ini tegak di atas petunjuk dan ilmu, tidak tegak di atas hawa nafsu, kebodohan, kedunguan dan kekacauan – yang saat ini melanda banyak negeri!- yang bersumber dari orang-orang yang tidak menegakkan dakwah mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, namun menegakkan dakwah mereka di atas hawa nafsu – kecuali yang Allah Tabaroka wa Ta’ala selamatkan-.

Universitas Islam ini, -beserta segenap staf dan pendirinya- mengerti akan realita kaum muslimin di dunia Islam yang hidup dalam kebodohan dan jauh dari manhaj Allah yang haq –kecuali hanya sedikit saja-. Oleh karena itu didirikanlah Universitas ini di atas manhaj islam yang shahih (benar), yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihi Sholaatu was Salaam. Empat perlima mahasiswanya adalah dari anak-anak dunia islam (luar negeri), dan dan dua puluh persennya adalah anak-anak dari negeri Haramain Syarifain ini, supaya mereka dapat meneguk dari sumber ilmu yang murni ini dan agar setelah mendapatakan ilmu mereka kembali ke negeri mereka dan menyebarkan kebenaran ini. Ini adalah kebaikan, dan ini adalah petunjuk yang kalian mengetahuinya.

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم _

_ لعلهم يحذرون

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mer eka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mer eka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah : 122)

Ini adalah suatu kesempatan emas bagi kalian, maka pergunakanlah. Dan ambillah ilmu yang bermanfaat yang murni lagi bersih, yang bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena sumber-sumbernya masih banyak di sekitar kalian di kota ini, dan di universitas ini –segala pujian hanya milik Allah-.

4 “Yang Allah meridhainya dan mereka meridhai Allah” . Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung murka terhadap orang yang merendahkan mereka, atau mencela mereka, ataupun mengurangi kedudukan mereka. Diantara keistimewaan dakwah salafiyah yang mubarakah ini, beserta para ulamanya yang ikhlash dan da’inya yang jujur – walillahil hamdu-, adalah penghormatan, pemuliaan, dan pengagungan serta pembelaan mereka terhadap para Sahabat Nabi… Maka sungguhlah hina dina para pembuat fitnah!

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 6 of 31 –

Barangsiapa yang menghendaki kebenaran dan kebaikan bagi dirinya, keluarganya, kaumnya dan negerinya, maka hendaklah dia menyingsingkan lengan bajunya dan mengambil ilmu dari para ulama yang ada, yang mana mereka (para ulama) ini mengkhidmatkan diri mereka untuk mengajarkan kebenaran dan menyebarluaskannya, semoga Allah memberkahimu.

Belajarlah kalian dari sumber-sumber (referensi) yang menghimpun aqidah dan manhaj yang benar, bacalah kitab-kitab tafsir salafiyah, yang menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, atau dengan Sunnah Rasulullah, atau dengan pemahaman sahabat yang mulia, yang mana mereka hidup di zaman turunnya wahyu, dan mereka menyertai serta menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka mengetahui maksud-maksud al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk dijadikan rujukan dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah Rasulullah yang mulia ‘alaihi Sholaatu wa Salaam pernah bersabda, dan menceritakan tentang Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) :

من كان على ما أنا عليه وأصحابي

“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas (pemahaman)-ku dan sahabatku”

5 Pemahaman sahabat yang mulia tehadap agama Allah yang haq ini, yang mereka ambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ucapan, perbuatan, pendidikan dan pengarahan beliau ‘alaihi Sholaatu wa Salam, maka wajib kita jadikan sebagai referensi. Mereka adalah orang-orang mukmin yang dimaksudkan oleh firman Allah Tabaroka wa Ta’ala :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى _

_ ونصله جهنم وسآءت مصيرا

“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas atasnya petunjuk dan mengikuti jalannya selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’ : 115).

Ini adalah ancaman yang pedih bagi siapa saja yang menentang Allah dan rasul-Nya, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (para sahabat, ed.).

Perhatikanlah benar-benar perkara ini, dan bersemangatlah kalian untuk memahami jalannya orang-orang mukmin, yang mereka menyandarkan (pemahaman)-nya dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah

5 Syaikh hafizhahullahu mengisyaratkan kepada hadits iftiraq (perpecahan), yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3991-3993) dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab as-Sunnah (63-70), dan Syaikh kami, Imam Albani, telah menshahihkannya dengan riwayat yang beraneka ragam. Lihatlah ash-Shahihah (203,204,1492).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 7 of 31 –

Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan dari tazkiyah serta tarbiyah beliau terhadap mereka di atas al-Kitab dan al-Hikmah, semoga Allah memberkahimu.

Ini adalah kesempatan baik bagimu, fahamilah dari mereka (sahabat) agama Allah yang haq ini, dan berusahalah dengan segala kesungguhan kalian di dalam memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya dengan hujjah (argumentasi yang terang) dan burhan (keterangan yang jelas). Hendaklah kalian menuntut ilmu dari sumbernya yang asli, dari kitabkitab tafsir salafiy dan kitab-kitab aqidah salafiyah, yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang akan menjelaskan kepada kalian perbedaan antara jalannya orang-orang mukmin yang shadiq (jujur) dengan jalannya mubtadi’in (pelaku bid’ah) yang menyelisihi manhaj Allah yang haq. Mereka, yaitu orang-orang mukmin yang shadiq –demi Allah- adalah pengemban amanat ummat ini terhadap agama Allah Azza wa Jalla, terhadap keselamatan aqidah dan manhajnya, dan terhadap ketetapannya (ketsabatannya) di atas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Termasuk hal yang sudah kalian fahami adalah, bahwasanya merupakan suatu kewajiban atas kita untuk meneladani Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan keduanya, dan menggigitnya dengan gigi geraham, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menasehati sahabatnya dengan nasehat yang indah yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati menjadi bergetar, mereka meminta kepada beliau agar memberikan nasehat kepada mereka, mereka berkata :

يا رسول الله كأا موعظة مودع فأوصنا

“Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami”, lantas Rasulullah bersabda,

أوصيكم بتقوى الله  انتبهوا لهذا  لهذه الوصية  والسمع والطاعة ،وإنه من يعش منكم

فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم ب  سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، عضوا عليها بالنواجذ ،

وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة

“Aku menasehatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah…”, perhatikanlah wasiat ini! “ dan untuk tetap mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum msulimin, ed.), sesungguhnya barang siapa diantara kalian masih hidup akan melihat perselisihan yang amat banyak, maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus (ar-Rasyidin) lagi mendapat petunjuk (al-Mahdiyin), gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara yang

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 8 of 31 –

baru (muhdats) karena setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.

6” Nasehat ini mengandung wasiat untuk bertakwa kepada Allah, yang merupakan suatu keharusan darinya, dan tidaklah hal ini termanifestasikan melainkan hanya pada diri ulama yang jujur lagi shalih, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

_ إنما يخشى اللهَ من عباده العلماء _

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28).

Maka bertakwalah kalian kepada Allah Azza wa Jalla agar kalian dapat mencapai derajat ini (derajat ulama, ed.), dan belajarlah agar kalian dapat mencapai kedudukan mereka. Karena barang siapa yang mengetahui aqidah dan manhaj yang benar, hukum, adab dan akhlak yang berasal dari

Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka dialah orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya takwa itu dapat termanifestasikan melalui perkara-perkara ini seluruhnya.

Dari pengetahuan terhadap perkara ini –sebagaimana telah kami sebutkan-, akan menyebabkan seorang hamba dapat meraih ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan meraih khosyah (rasa takut) serta muroqobah (merasa diawasi Allah) pada setiap waktu dan tempat dan pada setiap situasi dan kondisi. Ini merupakan kedudukan yang paling agung – yaitu kedudukan ihsan- (sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril, ed.) :

أن تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu”

7. Tingkatan ihsan ini, menyebabkan manusia yakin bahwasanya Allah melihatnya, dan Allah mendengar setiap apa yang ia ucapkan, Allah mendengar setiap denyut nadi jantungnya dan getaran keinginannya, bahkan apa yang terbetik pada dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan mendengarnya, dan Dia melihat (mengawasi) di saat gerak dan diamnya.

Seorang mukmin sejati akan senantiasa mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan, dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengarkan apa yang ia katakan, dan Allah memiliki “(malaikat-malaikat pengawas) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (segala perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Infithar : 11-12).

Jika perasaan mulia ini terdapat di dalam jiwa seorang mukmin, maka ia akan memperoleh ketakwaan yang akan 6 Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, dan dishahihkan oleh Syaikh kami di dalam Zhilalul Jannah (24-34), lihatlah ash-Shahihah (934) karya beliau 7 Penggalan dari hadits Jibril ‘alaihi Salam yang diriwayatkan Bukhari (51) dan Muslim (8) dan selainnya.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 9 of 31 –

menjauhkan dirinya dari kemaksiatan, kesyirikan, kebid’ahan serta khurofat, dan dia akan mendapatkan kedudukan ihsan, dikarenakan dia selalu merasa diawasi oleh Allah, dan selalu merasa bahwa Allah melihat dirinya, tidak tersembunyi urusannya di sisi Allah sedikit maupun banyak, walaupun sekecil biji sawi.

Perasaan yang mulia ini akan menghantarkannya –insya Allah kepada takwa kepada Allah, tidak ada seorangpun dapat mencapai hal ini melainkan dengan mengetahui aqidah shahihah dan syariat yang benar dari perkara halal dan haram, dan mengetahui perintah dan larangan Allah serta janji dan ancaman dari kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka inilah yang berhak mendapatkan pujian Allah Tabaroka wa Ta’ala yang Ia berfirman tentang mereka,

_ إنما يخشى الله من عباده العلماء _

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28) dan firman-Nya,

_ يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات _

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (al-Mujaadalah : 11). Maka bersemangatlah kalian dalam di dalam meneladani mereka para ulama, yang menghimpun antara ilmu dan amal. Yang demikian ini merupakan buah dari ilmu yang benar dan takwa kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala serta muroqobah/merasa diawasi oleh-Nya. Hendaklah kalian juga – wahai saudara-saudaraku-, berusaha meraih keimanan yang yang bersih lagi murni, dan ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Karena telah berfirman Rabb kita Jalla Sya’nuhu :

والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا _

_ بالصبر

“___________

Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.” (al-Ashri : 1-3).

Keimanan yang bersih sesungguhnya dibangun di atas ilmu. Amal yang shalih tidak akan terpancar melainkan dari ilmu dan dakwah kepada Allah, yang tidak bisa dijalankan melainkan oleh ahlu ilmi. Bersabar atas setiap gangguan adalah suatu tuntutan bagi orang yang berilmu dan mengajar serta berdakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala –semoga Allah memberkahimu-.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 10 of 31 –

Maka jadilah kalian seperti mereka yang berilmu dan mengimani ilmu ini, yang menyeru kepada ilmu dan keimanan ini, dan bersabar atas gangguan dalam menyampaikan kebenaran dan kebaikan ini kepada manusia, karena merupakan suatu keniscayaan bagi seorang muslim yang

beriman ketika berdakwah kepada Allah akan menghadapi gangguan, yang terkadang belum terlintas di dalam benak mereka!

Seorang muslim sebenarnya tidak perlu aneh dengan hal ini, karena sesungguhnya sebaik-baik makhluk Allah telah diuji di jalan Allah dan di jalan dakwah kepada Allah, yaitu para Nabi dan Rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam, dan mereka telah diganggu lebih daripada kita, dan diuji dengan musuh yang lebih sengit permusuhannya dan lebih banyak ketimbang kita, dan inilah makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحون ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi kemudian orang-orang yang shalih, kemudian yang serupa dengan mereka.”8 Dan sabdanya pula : “Tidak ada seorangpun yang diuji sebagaimana diriku diuji di jalan Allah.”9

Barangsiapa yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, serta menyeru kepadanya, niscaya dia akan diuji –kecuali yang dikehendaki oleh Allah-. Maka persiapkan dirimu dengan kesabaran, karena

_ واصبر إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب _

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mer eka tanpa batas” (az-Zumar : 10), dan Allah telah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bersabar sebagaimana bersabarnya Ulul Azmi, Allah Yang Maha Suci berfirman kepada beliau :

_ فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل لهم _

“Bersabarlah dirimu sebagaimana ber sabarnya Ulul Azmi dari para rasul dan janganlah kamu meminta disegerakannya adzab bagi mer eka (kaum musyrikin)” (al-Ahqaf : 35).

Pada diri Rasulullah dan seluruh nabi Allah terdapat tauladan yang baik bagi kita. Rasulullah diperintahkan untuk meneladani para nabi sebelumnya dan berpedoman dengan petunjuk mereka. Dan kita diperintahkan untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan

bersabar sebagaimana sabarnya beliau ‘alaihi Sholatu wa Salam,

_ لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر _

8 Dikeluarkan oleh at-Turmudzi dan Ibnu Majah, serta dishahihkan oleh syaikh kami al-Imam al-Albani. Lihat ash-Shahihah (143,144).

9 Ash-Shahihah (2222).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari  – 11 of 31 –

“Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah bagi orang-orang yang mengharap Rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat.” (al-Ahzab : 21).

Suri tauladan yang baik begitu sempurna pada seluruh keadaan yang dimiliki oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tauladan pada aqidah beliau, maka kita harus beraqidah sebagaimana aqidah beliau. Tauladan pada ibadah beliau maka kita harus beribadah kepada Allah

dengan mengikhlaskan agama ini untuk-Nya dan ittiba’ (mencontoh) ibadah yang telah diajarkan Rasul yang mulia ‘alaihi Sholatu wa Salam. Tauladan pada akhlak beliau yang agung yang mana banyak para da’i yang menyeru kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan mayoritas para pemuda tidak

memilikinya bahkan sebagian besar pemuda –atau bahkan semuanyamelupakannya.

Padahal sesungguhnya Allah memuji Rasul-Nya ‘alaihi Sholatu wa Salam dengan pujian yang dalam dan sanjungan yang harum, firman-Nya :

_ وإنك لعلى خلق عظيم _

“Dan sesungguhnya padamu wahai Muhammad terdapat perangai yang agung” (al-Qolam : 4).

Seorang da’i yang menyeru ke jalan Allah, penuntut ilmu, pemberi pengarahan dan penasehat, mereka seluruhnya membutuhkan untuk menelusuri jejak Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam aqidah, manhaj dan akhlak beliau. Jika perkara ini terkumpul secara sempurna atau

mendekati kesempurnaan pada seorang da’i yang menyeru ke jalan Allah, maka akan berhasil dakwah ini insya Allah. Seorang da’i tersebut hendaknya menampulkan dakwah ini di dalam bentuk yang paling indah dan paling baik, semoga Allah memberkahimu.

Jika seorang da’i dalam urusan dakwahnya tidak memiliki akhlak yang mulia seperti sabar, hikmah, ramah dan lemah lembut atau perkara lainnya yang merupakan perkara urgen yang tercermin di dalam dakwah para rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam, maka yang demikian ini adalah kekurangan yang akan mencelakakan dakwahnya. Oleh karena itu, seorang da’i harus menyempurnakan (perangai) ini.

Banyak manusia terkadang lalai dari perangai ini! Hal ini jelas membahayakan dakwah salafiyah dan pengikutnya (yaitu salafiyin, pent.). Karena lalai dari akhlak ini dan mengedepankan dakwah ini kepada manusia dengan cara yang mereka benci, atau mereka anggap jelek dan mereka pandang menakutkan, dari perangai yang keras, kaku, gegabah atau yang semisalnya, akan merintangi jalannya dakwah sehingga manusia tidak mau menerimanya. Sesungguhnya perangai-perangai ini dibenci di dalam urusan dunia apalagi di dalam urusan agama. Oleh karena itu merupakan keharusan bagi penuntut ilmu untuk meniti jalan akhlak yang mulia dalam berdakwah. Demikian pula, seyogyanya anda wahai saudaraku, bercermin kepada atsar yang datang tentang cara berdakwah ke jalan Allah dengan mempelajari sirah (sejarah) Rasul, mempelajari akhlak, aqidah dan manhaj beliau.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 12 of 31 –

Sebagian manusia ada yang tidak menghiraukan aqidah dan manhaj Rasulullah, namun mereka mengikuti manhaj-manhaj dan aqidah-aqidah lainnya yang diada-adakan oleh Syaithan untuk orang-orang yang dihinakan Allah dari ahlul bid’ah dan ahli kesesatan. Ada pula manusia yang mencocoki dengan aqidah beliau saja namun menelantarkan manhaj! Ada pula manusia yang mencocoki aqidah dan manhaj beliau, namun perangai mereka menyia-nyiakan aqidah dan manhaj. Mereka memiliki kebenaran di sisi aqidah dan manhajnya yang benar, akan tetapi perangai dan uslub (cara) mereka di dalam berdakwah merusak dakwah itu sendiri dan membahayakannya.

Berhati-hatilah kalian dalam menyelisihi aqidah, manhaj dan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Wajib bagi kalian mempelajari bagaimana cara nabi ‘alaihis Sholatu was Salam menyeru manusia, dan teguklah taujihat (pengarahan) nabawi ini yang mengandung hikmah, kesabaran, kelembutan, sifat pemurah, sifat pemaaf, lemah lembut, kasih sayang, dan perangai lainnya. Ambillah (manhaj nabi dalam berdakwah ini, pent.) wahai saudaraku dan ketahuilah bahwa merupakan suatu keharusan mengimplementasikannya di dalam dakwah kita kepada manusia. Jangan ambil satu sisi dari Islam dan meninggalkan sisi lainnya, atau satu aspek dari metode dakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala namun meninggalkan aspek lainnya, karena hal ini akan membahayakan agama Allah Azza wa Jalla dan membahayakan dakwah ini dan orang-orangnya.

Demi Allah, tidaklah dakwah salafiyah ini tersebar di zaman ini –dan sebelumnya- melainkan melalui tangan (upaya) dari para ulama yang berilmu yang memiliki hikmah dan kelemah lembutan, yang meneladani metode Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka menerapkannya sekuat tenaga, semoga Allah senantiasa memberikan manfaat dengan keberadaan mereka, sehingga menyebar dakwah salafiyah ini ke seantero dunia, adalah dengan akhlak, ilmu dan hikmah mereka.

Namun akhir-akhir ini, kami melihat bahwa dakwah salafiyah semakin surut dan menyusut, hal ini tiada lain adalah karena telah hilangnya hikmah di tengah-tengah mereka (para ulama tersebut, ed.), bahkan turut hilang pula hikmah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum kelembutan, kasih sayang, akhlak, keramahan, dan kelemahlembutan beliau ‘alaihis Sholatu was Salam. ‘Aisyah pernah mencerca seorang Yahudi, lantas nabi bersabda kepadanya :

يا عائشة إن الله يحب الرفق في الأمر كله

“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu mencintai kelemahlembutan pada seluruh perkara”10. Hadits ini, jika ada seorang ‘alim menyebutkannya hari ini dalam rangka mengajak para pemuda kepada manhaj yang benar di

10 Hadits Riwayat Muslim (2165).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 13 of 31 –

dalam berdakwah kepada Allah, maka niscaya mereka akan berkata : ini tamyi’!!! (manhaj yang lunak). Akhlak-akhlak yang mulia ini jika disebutkan, seperti hikmah, ramah, lemah lembut, kasih sayang dan pemaaf, yang mana hal ini merupakan kebutuhan dakwah kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan merupakan aktivitas yang dapat memikat manusia kepada dakwah yang benar, maka dampak yang dihasilkannya adalah : masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Akan tetapi mereka –al-Mubaddilin (orang-orang yang senang merubah)-, mereka mempersembahkan at-Tanfir (menyebabkan manusia menjadi lari), sembari melupakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :

إن منكم منفرين ، يسروا ولا تعسروا ، وبشروا ولا تنفروا

“Sesungguhnya ada diantara kalian ini munaffirin (orang yang menyebabkan manusia menjadi lari, pent.)11” dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Permudahlah janganlah kalian persulit, berilah kabar gembira janganlah kalian menyebabkan mereka lari”12.

Wahai saudara sekalian, sungguh mereka tidak sadar! Demi Allah, Bahwa mereka telah menuduh Rasulullah sebagai mumayyi’ (orang yang lunak manhajnya, pent.) demikian pula para sahabat dan para ulama’ juga dituduh sebagai mumayyi’un. Dengan metode mereka yang tasyaddud (keras) dan bengis yang menghancurkan dakwah salafiyah ini, mereka secara tidak langsung telah menganggap Rasulullah yang menyeru kepada kelemahlembutan, hikmah dan kasih sayang sebagai mumayyi’, kami mohon ampunan kepada Allah!!!

Demi Allah! Mereka tidak menghendaki hal ini dan mereka tidak bermaksud begini! Akan tetapi mereka tidak sadar! Maka wajib bagi mereka –mulai sekarang- untuk memahami dampak dan akibat dari perbuatan semacam ini. Dan sesungguhnya kami –demi Allah- bersungguh-sungguh, mengobservasi, menulis, menasehatkan dan mengajak dengan kelemahlembutan ke jalan Allah Ta’ala namun mereka menganggap kami sebagai mumayyi’in, mereka tidak menginginkan kami mengucapkan kata hikmah, ramah dan lemah lembut. Kami telah melihat bahwa asy-Syiddah (kekerasan) telah menghancurkan dakwah salafiyah dan mengoyak-ngoyak salafiyin, lantas apa yang kita lakukan? Maka aku katakan –wahai saudaraku sekalian- : ketika kita melihat api menyala, apakah kita tinggalkan begitu saja sehingga semakin berkobar?! Ataukah kita mendatanginya dengan perkara ini (manhaj nabi yang lemah lembut, pent.) yang akan memadamkan kobaran api itu?! Maka aku terpaksa –dan ini adalah kewajibanku -dan aku telah mengatakannya sebelum ini-, bahkan aku menekankan kembali tatkala 11 Hadits Riwayat Bukhari (7159) dan Muslim (466) dari Abu Mas’ud al-Anshari 12 Hadits Riwayat Bukhari (69) dan Muslim (1732) dari Abu Musa al-Asy’ari

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari  – 14 of 31 –

kulihat kegoncangan dan bencana ini, aku katakan : Wajib atas kalian untuk berlemah lembut! wajib atas kalian bersikap ramah! Wajib atas kalian untuk saling bersaudara! dan wajib atas kalian saling menyayangi! Karena sesungguhnya kekerasan ini (sekarang) tertuju kepada ahlus sunnah sendiri, tatkala mereka meninggalkan ahlul bid’ah dan mereka tujukan perangai syiddah (kekerasan) yang membinasakan ini kepada ahlus sunnah, dan menyeruak ke dalamnya penganiayaan dan tindakan-tindakan batil lainnya yang zhalim! Maka jauhilah! Dan sekali lagi jauhilah jalan yang dapat membinasakan kalian ini dan menghancurkan dakwah salafiyyah dan salafiyin! Berdakwahlah kepada Allah Ta’ala dengan segenap kemampuan kalian dengan hujjah (keterangan yang jelas) dan burhan (argumentasi yang terang) di setiap tempat, dengan menukil firman Allah dan sabda Rasulullah, dan mohonlah pertolongan atas hal ini kepada Allah- kemudian

kepada ucapan para a`immatul huda (imam-imam yang lurus), yang mana keimaman dan kedudukan mereka di dalam Islam diterima baik oleh Ahlus Sunnah maupun ahlul bid’ah.

Aku nasehatkan kepada saudaraku yang akan pergi ke Afrika, atau ke Turki, atau ke India –atau selainnya- (dalam rangka berdakwah, ed.) untuk senantiasa bermodalkan dengan firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan dari para imam yang mereka hormati. Jika anda pergi ke Afrika, misalnya, anda katakan : Ibnu Abdil Bar berkata, Malik berkata, Fulan berkata –dimana banyak dan tidak sedikit manusia di sana memiliki aqidah yang rusak!-, jika anda mendatangi mereka dengan Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian kalian datangkan

perkataan para ulama, niscaya mereka akan mendengarkan perkataan anda dan mereka akan memperhatikan anda. Inilah hikmah! Namun, jika anda datang dengan perkataan dari diri anda sendiri maka akibatnya bisa jadi mereka tidak menerima satupun dari anda.

Anda juga harus memulai perkataan anda setelah dengan Firman Allah dan sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan perkataan para ulama, yang mana mereka (para ulama tersebut, pent.) memiliki kedudukan dan tempat di dalam diri manusia dan mereka tidak mampu mencela ulama tersebut maupun ucapan mereka.

Jika anda berkata : ‘Bukhari mengatakan ini dan itu’, maka sesungguhnya mereka menghormatinya. Sebagai contoh, misalnya kaum sufi di setiap tempat, mereka menghormati Bukhari dan Muslim, dan mereka juga menghormati kedua kitab mereka (shahihain, pent.) dan kedua imam tersebut, mereka juga menghormati Ahmad bin Hanbal, Auza’i, Sufyan ats-Tsuri dan selain mereka dari para ulama besar terdahulu. Dengan demikian, sesungguhnya hal ini dapat menjadi ikatan antara diri kita dengan mereka di dalam kebenaran, ada tempat-tempat untuk bertemu yang kita dapat menembus mereka dengan jalan ini. Dan hal ini adalah termasuk hikmah -wahai saudaraku-. Oleh karena itu tidaklah sepatutnya anda mengatakan kepada mereka –pertama kali- : ‘Ibnu Taimiyah berkata’, sembari menyebutnya imam, dikarenakan mereka masih

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 15 of 31 –

bodoh dan tidak mengenal beliau, dan sekiranya mereka mengetahuinya maka niscaya mereka akan membencinya disebabkan dari apa yang mereka dengar dari pembesar-pembesar mereka yang mana tidak menghendaki dan menginginkan beliau. Semoga Allah memberkahimu.

Katakan! : ‘Ibnu Taimiyah berkata’, di tengah-tengah salafiyin yang menghormati beliau. Namun janganlah anda katakan di tengah-tengah selain salafiyin : ‘Ibnu Taimiyah berkata’ atau ‘Ibnu Abdul Wahhab berkata’ –misalnya-, dikarenakan mereka masih jahil dan mereka dididik di tengahtengah ahlul bid’ah yang lari dari hal ini, dan syaikh-syaikh mereka menyebabkan mereka lari pula dari mereka (para ulama tersebut, pent.). Katakan kepada mereka nama-nama para Imam yang mereka mengakuinya dan menghormatinya, dikarenakan pemimpin dan syaikh mereka menjelekkan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahhab serta para ulama dan para imam dakwah, sebagaimana baru kusebutkan.

Janganlah anda mendatangi mereka dari pintu ini, karena hal ini tidaklah termasuk hikmah. Tapi, masuklah dari pintu : ‘Malik berkata’, ‘Sufyan ats-Tsauri berkata’, ‘al-Auza’i berkata’, ‘Ibnu ‘Uyainah berkata’, ‘Bukhari berkata’, ‘Muslim berkata dalam juz sekian halaman sekian’, dan yang semisalnya, maka anda akan diterima. Kemudian, jika mereka telah menerima anda, mereka nantinya akan menghormati Ibnu Taimiyah dan mengetahui bahwasanya beliau berada di atas kebenaran, mereka akan menghormati Ibnu Abdul Wahhab dan mengetahui pula bahwasanya beliau juga di atas kebenaran. Semoga Allah memberkahimu… demikianlah…!!!

Aku katakan : hal ini merupakan peringatan kepada perangai hikmah di dalam mendakwahi manusia ke jalan Allah Tabaroka wa Ta’ala. Termasuk diantara juga yaitu : janganlah kalian memaki jama’ah mereka,

_ ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم _

“Dan janganlah kalian memaki berhala- berhala yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am : 108).

Aku berkata : ketika aku berkunjung ke Sudan, aku beristirahat di Port Sudan, beberapa pemuda Ansharus Sunnah datang menyambutku dan mereka berkata : “Wahai Syaikh, kami menginginkan sesuatu dari anda”. Aku menjawab : “silakan”

Mereka berkata : “Berbicaralah apa yang anda kehendaki. Ucapkanlah:

Allah berfirman, Rasulullah bersabda. Dan celalah sekehendak anda segala kebid’ahan dan kesesatan, baik itu do’a kepada selain Allah, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan selainnya. Namun anda jangan menyebut kelompok ini dan itu!, dan jangan pula syaikh fulan! Janganlah anda menunjuk Tijaniyah bagian dari kelompok-kelompok (sesat, ed.)! Jangan pula Bathiniyah! Jangan pula pembesar-pembesar mereka. Akan tetapi, perbaikilah aqidah niscaya kebenaran yang anda bawa akan diterima.” Aku

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 16 of 31 –

berkata kepadanya : “Baiklah” lantas aku mengikuti cara ini dan kudapatkan manusia menerima dengan penerimaan yang luar biasa. Janganlah anda menduga wahai penuntut ilmu, bahwasanya termasuk kesempurnaan manhaj yang benar ini adalah harus memaki syaikh-syaikh mereka dan mencela mereka! Karena Allah Subhanahu berfirman :

_ ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم _ ،

“Dan janganlah kalian memaki berhala- berhala yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am : 108).

Jika anda memaki seorang syaikh! Atau anda katakan : (syaikh ini) sesat! Atau begini! Atau thoriqoh fulan (begini)! Maka metode ini menurut kami menyebabkan mereka lari darimu, anda telah berbuat salah, dan anda telah menjadikan manusia lari, kalau begitu anda adalah munaffirun

(sebagaimana dalam hadits yang telah berlalu, pent.).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman beliau berpesan :

يسرا ولا تعسرا وبشرا ولا تنفرا

“Permudahlah janganlah kalian persulit, dan berilah kabar gembira janganlah menyebabkan orang lari”13 Hal ini termasuk cara yang Taysir (mempermudah) dan tabsyir (memberikan berita gembira), tidak ada di dalamnya tanfir. Dan demi Allah, tidaklah aku memasuki masjid melainkan aku melihat wajah mereka berbinar-binar, dan aku tidak mampu keluar karena banyaknya orang yang datang menemuiku dan menyalamiku serta menyapaku. Kemudian ketika pembesar-pembesar sufiyah syaithaniyah melihat bahayanya dakwah yang benar ini, mereka berkumpul dan membuat maker serta merangkai kata sepakat untuk membantahku. Mereka mengumumkan tentang ceramahku di wilayah yang lebih luas. Kemudian kami berkumpul di wilayah tersebut, dan akupun berbicara, lantas berdiri seorang pembesar mereka dan mengomentari perkataanku, dan mulai membolehkan istighotsah, tawasul, dan berbicara tentang ta’thil (peniadaan) sifat Allah, dan dia berkata dan berkata… dan dia memperkuat kebatilannya dengan takwil-takwil yang rusak!

Setelah dia selesai –dan dia kehabisan dalil, dia hanya mendatangkan hadits-hadits dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu) dan mendatangkan ucapan-ucapan Asqorothiyyin (pengikut asyqrot, seorang filsuf, ed.)-. Aku berkata : Wahai jama’ah, kalian telah mendengar ucapanku, aku berkata :

Allah berfirman, Rasulullah bersabda, Ulama’ umat yang terkenal berkata, 13 Hadits riwayat Bukhari (4341) dan Muslim (2733).

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 17 of 31 –

dan orang ini datang dengan hadits palsu, dan aku tidak mendengar darinya al-Qur’an sedikitpun! Apakah kalian pernah mendengar : Allah berfirman begini tentang bolehnya istighotsah kepada selain Allah??! Tentang bolehnya tawasul??! Apakah kalian pernah mendengarkan ucapan ulama besar seperti Malik dan semisalnya tentangnya??! Kalian tidak pernah mendengarnya! Sesungguhnya yang kalian dengar (darinya) hanyalah hadits-hadits palsu dan lemah, dan perkataan-perkataan orang-orang yang kalian telah mengenalnya sebagai khurofiyun (penggemar khurofat, pent.)!

Tiba-tiba berdiri seorang khurofiy sembari memaki-maki dan mencela!

Lantas aku tersenyum, aku tidak membalas makiannya tidak pula celaannya, dan aku tidak mengucapkan sesuatupun ketika itu melainkan hanya : Semoga Allah memberkahimu! Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan! Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan! Semoga Allah

memberkahimu!. Kamipun berpisah, dan demi Allah yang tiada sesembahan yang haq kecuali Dia, ketika masuk waktu pagi –pada hari kedua- orang-orang sedang bercerita di masjid-masjid dan pasar-pasar bahwa kelompok sufi telah terkalahkan! Maka pelajarilah wahai saudara-saudara sekalian metode syar’iyah dan shahihah ini. Tujuan dakwah adalah menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus dan menanamkan kebenaran ke dalam hati manusia!

Wahai saudaraku, wajib atasmu untuk mempergunakan segala sarana yang kalian sanggupi dari sarana-sarana yang syar’i di dalam jalan dakwah kepada Allah. Bukanlah yang kita maksud adalah (ucapan) tujuan memperbolehkan segala cara! Hal ini termasuk metodenya Ahlul Bid’ah.

Dengan sebab kaidah tadi (yaitu, tujuan memperbolehkan segala cara, pent.)

mereka terjerumus kepada kedustaan, kerancuan, kelicikan dan kepicikan! Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam ‘Ali bin Harb al-Mushili : “Seluruh pengikut hawa nafsu itu selalu berdusta dan mereka tidak peduli”14. Hal ini semuanya bukanlah perangai kita, karena kita adalah ahlu shidqi (pemilik kejujuran) dan ahlu haqqi (pemilik kebenaran). Akan tetapi kita menghidangkan dakwah ini kepada manusia dalam bentuk yang bisa diterima setiap orang dan bisa menarik hati mereka. Semoga Allah memberkahi kalian.

Kemudian kami pergi ke Kasala –sebuah tempat di Sudan juga-, dan masya Allah, dakwah di sana sangat berkembang pesat dengan baik, segala puji hanya milik Allah. Kami sempat berceramah di sana dan semoga Allah menjadikan ceramah kami tersebut bermanfaat.

Kemudian kami pergi ke al-Ghizhorif, yaitu sebuah kota kecil di sana, kami berkeliling ke seluruh masjid di sana. Mereka berkata : tidak ada di kota ini kecuali satu masjid yang dikuasai Tijaniyah sedangkan kami tidak mampu menembusnya! Aku bertanya : kenapa? Mereka menjawab :

Mereka sangat fanatik sekali. Aku berkata : kita pergi menemui dan meminta izin kepada mereka, jika mereka mengizinkan kita berbicara maka 14 Al-Kifaayah (hal. 123) karya Imam al-Khathib al-Baghdadi

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 18 of 31 –

kita sampaikan, dan jika mereka melarang kita maka kita memiliki udzur di sisi Allah, serta tidak selayaknya kita menghadapi mereka dengan paksaan dan kekuatan. Semoga Allah memberkahimu. Kamipun tiba dan kami sholat bersama imam, setelah selesai akupun datang dan mengucapkan salam kepadanya, dan aku berkata kepadanya :

Apakah anda mengizinkan diri saya untuk menyampaikan beberapa patah kata bagi saudara-saudara kami di sini?, Ia berkata : Silakan. Maka akupun berbicara, aku menyeru mereka kepada Allah, kepada Tauhid, Sunnah dan kepada hal-hal lain dari perkara yang menyangkut ilmu. Dan aku mengkritik beberapa kesalahan yang ada, dan beberapa kesesatan, hingga aku sampai kepada hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang muttafaq ‘alaihi :

ثلاث من حدثك ن فقد أعظم على الله الفرية ، من قال إن محمدا رأى ربه فقد أعظم على الله

الفرية ، ومن قال إن محمدا يعلم ما في غد فقد أعظم على الله الفرية ،  وأسوق الآي في الأدلة

على هذا  ومن زعم أن محمدا لم يبلغ ما أنزل عليه فقد أعظم على الله الفرية

“Tiga hal, barang siapa yang berbicara dengan salah satu dari ketiganya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, yaitu barangsiapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Rabnya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, dan barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad mengetahui apa yang akan terjadi besok maka ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah, -dan akupun membawakan dalil-dalil tentang perkataan ini- serta barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad tidak menyampaikan apa yang diturunkan atasnya maka ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah”15.

Sang imam pun berdiri dan ia tampak gelisah, kemudian ia berkata :

Demi Allah, sesungguhnya Muhammad melihat Rabnya dengan kedua mata kepalanya! Aku menjawab : Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, adapun Aisyah, dia adalah manusia yang paling mengetahui tentang diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia berkata : “Barangsiapa yang menyangka bahwa Muhammad melihat Rabnya maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar terhadap Allah”. Jika sekiranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabnya ia pasti akan mengabarkannya kepada kita namun ia tidak mengabarkannya.

Maka dia mulai membuat gaduh dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, aku berkata kepadanya : Wahai saudaraku, tunggulah sebentar sampai aku menyelesaikan perkataanku, setelah itu anda boleh bertanya apa saja sesuka anda, jika aku mengetahui jawabannya maka aku akan menjawabnya dan jika aku tidak mengetahuinya maka aku akan berkata kepadamu, Allahu a’lam, akupun meninggalkannya dan kulanjutkan perkataanku. Aku tidak tahu apakah ia tetap tinggal ataukah pergi! Aku

benar-benar tidak tahu karena aku tidak menoleh kepadanya. Kemudian 15 Hadits riwayat Bukhari (4855) dan Muslim (177) dengan lafazh yang serupa http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 19 of 31 –

aku mendengar seorang lelaki berkata : “Demi Allah, perkataan orang ini adalah benar” (dengan logat Sudan, pent.), kemudian aku mendengar untuk kesekian kalinya ungkapan yang serupa dari selainnya dengan tambahan : “orang ini berkata dengan firman Allah dan sabda Rasulullah”. –Semoga Allah memberkahi kalian-. Sampai tiba adzan isya’, ceramahku telah selesai dan sholat akan ditegakkan, kemudian mereka menghendaki aku mengimami mereka! Maka aku menjawab : jangan, aku tidak layak jadi imam, Imam (rawatib) kalian yang layak mengimami, mereka berkata : Demi Allah sholatlah (jadi imam), aku menjawab : Baik, dan akupun mengimami mereka. Setelah selesai shalat aku menunggu, kemudian aku dan beberapa pemuda Ansharus Sunnah keluar bersama-sama, aku  bertanya kepada mereka : Kemana perginya imam? Mereka menjawab : Mereka mengusirnya! Aku bertanya kembali : Siapa yang mengusirnya? Mereka menjawab : Demi Allah, jama’ahnya sendiri.

Jika sekiranya seseorang datang dan membodohbodohkan Tijaniyah Mirghaniyah! Maka barangkali mereka akan membunuhnya, tidak hanya diusir saja. Namun jika anda datang dengan hikmah dan kelembutan, semoga Allah memberkahi kalian- maka niscaya Allah akan menjadikannya bermanfaat bagi mereka.

Persembahkanlah wahai saudaraku, ilmu yang bermanfaat, hujjah yang pasti dan hikmah yang berfaidah di dalam dakwahmu. Dan wajib atas kalian berakhlak dengan setiap akhlak yang indah dan mulia, yang mana hal ini dianjurkan oleh al-Kitab dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya hal ini merupakan upaya kemenangan dan keberhasilan.

Sesungguhnya para sahabat tidak menyebarkan Islam sehingga merasuk ke dalam hati manusia melainkan karena hikmah dan ilmu mereka, yang hal ini lebih banyak daripada dengan hunusan pedang. Akan tetapi, barangsiapa yang masuk ke dalam Islam karena di bawah naungan pedang mungkin tidak bisa tetap keimanannya. Namun orang-orang yang masuk ke dalam Islam dari jalan ilmu, hujjah dan burhan maka keimanannya tetap/istiqomah –dengan izin dan Taufiq Allah-. Wajib bagi kalian berpegang dengan jalan-jalan kebaikan ini, dan wajib bagi kalian bersungguh-sungguh di dalam ilmu dan di dalam dakwah kepada Allah. Kemudian aku mengingatkan kalian –wahai saudaraku- dari dua perkara ini :

Pertama : Untuk saling bersaudara diantara sesama Ahlus Sunnah seluruhnya. Maka wahai sekalian salafiyun, bangkitkan ruh kecintaan dan persaudaraan diantara kalian, dan aplikasikan apa yang diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang orang-orang mukmin yang “Bagaikan satu tubuh, satu dengan lainnya saling menguatkan”

16 dan mereka itu “Bagaikan tubuh yang satu, jika satu bagian mengeluh maka akan menyebabkan seluruh tubuh lainnya merasakan demam dan sakit”17.

16 Dikeluarkan Bukhari (481) dan Muslim (2586) dari Abu Musa al-Asy’ari

17 Dikeluarkan oleh Bukhari (6011) dan Muslim (2586) –dan lafazh ini dari Muslim- dari Nu’man bin Basyir

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 20 of 31 –

Jadilah seperti ini wahai saudaraku, jauhilah oleh kalian perbuatan yang dapat menghantarkan kepada perpecahan, karena sesungguhnya hal ini adalah perbuatan yang jelek lagi berbahaya dan penyakit yang parah.

Kedua : Jauhilah oleh kalian sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada permusuhan dan kebencian, serta perpecahan dan saling menjauh. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara ini, karena perkara ini telah menyebar akhir-akhir ini melalui tangan orang-orang yang Allah lebih mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Sehingga perkara ini menyebar, dan berkembang serta mengoyak-ngoyak para pemuda di negeri ini –baik di Universitas maupun selainnya- atau di seluruh antero dunia.

Mengapa?! Dikarenakan telah turun ke medan dakwah orang-orang yang bukan ahlinya, yang tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman. Dan boleh jadi ada musuh yang menyusup ke tengah-tengah salafiyun dalam rangka mengoyak-ngoyak dan memecah belah mereka. Perkara ini bukan hal yang mustahil –selamanya-, bahkan benar-benar terjadi. Semoga Allah memberkahi kalian. Bersemangatlah kalian dalam sikap saling bersaudara, dan jika muncul di antara kalian sesuatu hal yang tidak disukai, maka berusahalah melupakan masa lalu18 dan keluarkan lembaran putih yang baru sekarang.

Dan aku berkata kepada saudara-saudaraku sekalian : Orang-orang yang memiliki kekurangan maka tidak sepatutnya kita menyalahkannya dan mencercanya, dan orang-orang yang tersalah diantara kita, janganlah kita mencercanya, Semoga Allah memberkahi kalian, namun seyogyanya kita mengobatinya dengan kelembutan dan hikmah, kita obati dengan kecintaan dan kasih sayang serta dengan seluruh akhlak yang shalih, dengan dakwah yang benar hingga ia mau kembali, jika masih tertinggal dalam dirinya kelemahan, maka janganlah kita tergesa-gesa mengambil sikap terhadapnya, jika tidak maka demi Allah tidak akan tersisa seorangpun, tidak akan tersisa seorangpun (kecuali akan dicela semuanya, ed.)!

Sebagian manusia sekarang ini, mengusik salafiyin sampai-sampai ulama pun mereka sebut sebagai mumayyi’in! Saat ini, tidaklah tersisa di daerah manapun seorang alim –atau yang dekat dengannya- melainkan dirinya dicela dan dijelekkan! Hal ini –tentu saja- merupakan metodenya

Ikhwanul Muslimin dan Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlul Bid’ah itu, diantara senjata mereka adalah memprakarsai dalam menjatuhkan ulama, bahkan metode ini merupakan metode Yahudi Masoniyah yang mana jika mereka menghendaki untuk menjatuhkan suatu pemikiran maka mereka jatuhkan ulama atau pribadi individu-individunya!! Karena itu jauhilah

perangai yang jelek ini dan hormatilah para ulama.

Demi Allah, tidaklah ucapanku dicela dan tidaklah apa yang kita pegangi dimaki, melainkan untuk menghancurkan manhaj ini. Maka orang 18 Dimanakah gerangan orang-orang yang mau mengambil pelajaran?! Dimanakah gerangan orang-orang yang mau mengambil ibrah?! Dan dimanakah gerangan mereka yang mendengar perkataan ulama?! Dan dimanakah mereka yang mau mengikuti nasehat dan petunjuk para ulama?!!

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 21 of 31 –

yang membenci manhaj ini, ia akan berbicara (jelek) tentang ulamanya, dan barangsiapa yang membenci manhaj ini dan menginginkan kehancurannya, ia akan meniti jalan ini (yaitu celaan dan makian terhadap ulama, pent.), dan jalan ini terbuka bagi mereka –jalannya yahudi dan jalannya kelompok-kelompok sesat dari rofidhah dan selainnya. Rafidhah itu sebenarnya membenci Islam, mereka tidak mampu berbicara langsung (mencela) tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, oleh karena itu mereka berbicara (mencela) tentang Abu Bakr dan

Umar serta ulama ummat ini, mereka pada hakikatnya menginginkan hancurnya Islam. Demikian pula para pelaku bid’ah, jika mereka berbicara, mereka tidak langsung berbicara tentang Ahmad dan Syafi’i, namun mereka berbicara tentang Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah –dan yang semisal dengan keduanya- untuk menghancurkan manhaj ini. Dan

sekarang, ada manusia yang tumbuh di dalam barisan salafiyin, tidaklah kurasakan melainkan mereka memecahkan kepala para ulama! apa yang mereka inginkan?! Apa yang mereka kehendaki?! Seandainya mereka menghendaki Allah dan kampung akhirat, dan menghendaki menolong manhaj ini –dan mereka mencintai manhaj ini- maka demi Allah, seharusnya mereka membela ulama-ulamanya. Jangan kalian ambil ilmu agama dari mereka dan jangan pula kalian percayai mereka, semoga Allah memberkahi kalian-, maka waspadailah mereka dengan kewaspadaan penuh dan hendaklah kalian saling merapatkan (barisan) dan saling bersaudara diantara kalian. Aku tahu bahwa kalian bukan orang yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) dan tidaklah para ulama itu juga ma’shum –karena terkadang kami juga salah- Ya Allah, kecuali jika ada yang masuk ke dalam rafidhah mu’tazilah, jahmiyah ataupun kedalam hizbiyah (kepartaian) dari hizbi-hizbi lainnya, maka yang demikian ini harus disingkirkan. Adapun seorang salafiy yang berwala’ (memberikan loyalitas) kepada salafiyin dan mencintai manhaj salafi -semoga Allah memberkahi kaliandan membenci ahzab (kelompok-kelompok), bid’ah dan para pelakunya – serta tanda-tanda manhaj salafi ada pada dirinya-, kemudian ada kekurangan padanya dalam beberapa hal, maka kita berlemah lembut kepadanya, dan kita tidak meninggalkannya, namun menasehatinya, menggaulinya dan bersabar atasnya serta mengobatinya –semoga Allah memberkahi kalian-. Adapun orang yang mengatakan : Barang siapa yang salah maka ia binasa! Atas hal ini maka tidak pernah ada seorangpun (yang tidak binasa, pent.)!!! Oleh karena itu, anda lihat mereka, ketika mereka telah selesai dari para pemuda, mereka mulai menyerang para ulama. Ini adalah manhajnya Ikhwanul Muslimin yang telah masuk ke negeri ini, dan yang pertama kali mereka serang adalah menjatuhkan para ulama. Tapi justru mereka mulai membela Sayyid Quthb, al-Banna, al-Maududi dan selain mereka dari ahlul bid’ah, di sisi lain mereka menjatuhkan para ulama yang bermanhaj salafi http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 22 of 31 –

dan mensifati mereka sebagai agen, mata-mata atau ulama pemerintah…dan tuduhan-tuduhan lainnya19! Apakah tujuan mereka?! Tujuan mereka adalah menghancurkan manhaj salafi dan membangun kebatilan dan kesesatan di atas reruntuhannya. Dan orang-orang yang mencela sekarang ini, sesungguhnya mereka berkata tentang diri mereka : sesungguhnya mereka adalah

salafiyun, kemudian mereka mencela para ulama salafiyah! Apakah yang mereka inginkan? Apakah mereka menginginkan meninggikan bendera/panji Islam? Dan meninggikan bendera sunnah dan manhaj salafi?! Selamanya (tidak)! Selamanya (tidak)! Ini adalah indikasi dan petunjuk bahwasanya mereka adalah pendusta lagi penuduh –apapun yang mereka dakwakan terhadap diri mereka-. Maka aku mewasiatkan kepada kalian wahai saudarasaudaraku, dan aku tekankan kepada kalian untuk meninggalkan perpecahan. Wajib atas kalian saling bersaudara dan saling menolong dalam kebenaran. Wajib atas kalian menyebarkan dakwah ini –diantara pada thullab (penuntut ilmu) di Universitas dan selainnya- dengan cara yang shahih dan bentuk yang indah, tidak dengan bentuk yang buruk sebagaimana yang dijalani oleh mereka (mutasyaddidin, pent.)!

Kedepankan dakwah salafiyyah –sebagaimana telah kukatakan pada kalian dengan rupa yang elok : Allah berfirman, Rasulullah bersabda, sahabat berkata, berkata Syafi’i, Ahmad, Muslim dan selainnya dari para imam-imam islam yang mereka hormati dan agungkan serta mereka fahami ucapannya, semoga Allah memberkahi kalian, hal ini akan menolongmu sampai kepada batas yang jauh. Sungguh, kalian akan mendapatkan beberapa orang yang menentang, namun tidaklah setiap manusia akan menentang kalian. Bahkan kalian akan mendapatkan mayoritas manusia mau menerima dakwah kalian, baik di sini, di Universitas ini maupun ketika kalian telah pulang ke negeri kalian. Gunakanlah cara-cara yang memikat manusia kepada Kitabullah, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada manhaj salaf sholih, aqidah yang shahihah dan manhaj yang shahih.

Aku meminta kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala supaya Ia menuntun kami dan kalian kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya, dan supaya Ia menjadikan kita da’i-da’i yang yang mukhlish dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipu daya Syaithan baik dari golongan jin dan manusia. Aku memohon kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala agar Ia menyatukan hati kalian dan mempersatukan kalimat kalian dimanapun kalian berada dan kemanapun kalian pergi. Aku mohon kepada Allah semoga Ia mewujudkannya.

19 Diantaranya yang paling terakhir adalah tuduhan irja’ dan murji’ah!, kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan…

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari

– 23 of 31 –

Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Muhammad, keluarganya dan para Sahabatnya.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 24 of 31 –

TANYA JAWAB :

Pertanyaan 1 : Aku menjalankan usaha/pekerjaan pengiriman barang dagangan, apakah boleh bagiku mengirimkan barang dagangan salah seorang pedagang yang menjual semacam mushaf, parfum dan majalahmajalah ilmiah syar’iyah karya para ulama yang terkenal berpegang teguh dengan sunnah –baik yang telah lalu maupun kontemporer- tapi ada beberapa yang menyusup ke dalam barang dagangan ini dari sebagian buku-buku Ahli Bid’ah yang majhul (tidak dikenal)?

Jawaban : Aku memandang bahwa pengirimanmu terhadap kitab-kitab Ahli Bid’ah yang tidak dikenal termasuk tolong menolong dalam kejelekan dan dosa. Aku berpendapat janganlah kau mengirimkannya. Tinggalkan orang itu dan cari lainnya karena pintu-pintu rezeki masih terbuka. Kirimlah barang dagangan sayur-mayur atau kirimlah kebutuhan-kebutuhan lainnya dari perkara yang tidak mengandung syubuhat dan keharaman di dalamnya.

Pertanyaan 2 : Wahai Fadhilatus Syaikh, jika ada seseorang yang melakukan kesalahan yang wajib untuk ditahdzir, maka apakah mengharuskan menasehatinya dulu sebelum mentahdzir (memperingatkan) manusia darinya ataukah tidak harus?

Jawaban : Jika keburukannya telah menyebar, maka bersegeralah menasehatinya dan hal ini lebih bermanfaat namun jika dia mau menerima (maka alhamdulillah, ed.) dan jika tidak maka peringatkanlah ummat darinya. Mungkin dengan nasihat yang baik, mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menjadikan nasihat ini bermanfaat bagi orang itu, sehingga ia ruju’ (kembali) dari kebatilannya dan mengumumkan kesalahannya, Semoga Allah memberkahi kalian. Namun jika anda datang dengan menyodorkannya bantahan-bantahan saja, maka dia sulit untuk menerima! Maka gunakanlah wasilah (cara) yang akan meninggalkan bekas yang baik, karena dirimu ketika menasehati dirinya secara empat mata, dan anda tunjukkan sikap-sikap yang halus kepadanya, maka ia akan ruju’ (kembali) –insya Allah- dan mengumumkan kesalahannya (di depan publik, ed.). Hal ini terdapat kebaikan yang besar dan lebih bermanfaat daripada membantahnya. Oleh karena itu, sesungguhnya aku akan memberikan nasehat pertama kali kepadanya, kemudian sebagian orang yang dinasehati menerimanya dan sebagiannya lagi tidak. Maka, kita –saat itu- dengan terpaksa membantah dirinya.

إذا لم يكن إلا الاسنة مركب فما حيلة المضطر إلا ركوا

Jika tidak ada kecuali tombak sebagai kendaraan Maka tidak ada jalan lain bagi yang terpaksa kecuali menaikinya

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 25 of 31 –

Pertanyaan 3 : Wahai Fadhilatus Syaikh, kapankah kita menggunakan alliin (kelemah lembutan)? Dan kapan pula kita menggunakan syiddah (kekerasan) di dalam dakwah kepada Allah, dan di saat bermuamalah terhadap sesama manusia?

Jawaban : Hukum asal di dalam berdakwah adalah al-Liin (lemah lembut), ar-Rifq (ramah) dan al-Hikmah. Inilah hukum asal di dalam berdakwah. Jika anda mendapatkan orang yang menentang, tidak mau menerima kebenaran dan anda tegakkan atasnya hujjah namun dia menolaknya, maka saat itulah anda gunakan ar-Radd (bantahan). Jika anda adalah seorang penguasa –dan pelaku bi’dah ini adalah seorang da’i- maka luruskanlah ia dengan pedang, dan terkadang ia dihukum mati jika ia tetap bersikukuh dengan menyebarkan kesesatannya. Banyak para ulama dari berbagai macam madzhab memandang bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh Ahlul Bid’ah lebih berbahaya dari para perampok. Oleh karena itu ia harus dinasehati kemudian ditegakkan atasnya hujjah. Jika ia enggan maka diserahkan urusannya kepada hakim syar’i untuk dihukum, bisa jadi hukumannya ia dipenjara, atau diasingkan atau bahkan dibunuh.

Para ulama telah memutuskan hukuman terhadap Jahm bin Shofwan, Bisyr al-Marisi dan selainnya dengan hukuman mati, termasuk juga Ja’d bin Dirham. Ini adalah hukum para ulama bagi orang yang menentang dan tetap keras kepala menyebarkan kebid’ahannya, namun jika Allah memberikannya hidayah dan ia mau rujuk/taubat, maka inilah yang diharapkan.

Pertanyaan 4 : Sebagian pemuda berkata : “Sebagaimana kami bertaqlid kepada Syaikh Albani rahimahullahu dalam masalah hadits, maka demikian pula boleh bertaqlid terhadap para imam Jarh wa Ta’dil di zaman kita ini secara mutlak”, apakah perkataan ini benar?

Jawaban : Syaikh Albani –dan para ulama yang lebih besar dari beliau seperti Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa`i- maka orang yang meneliti perkataan dan pendapat mereka terhadap hadits ada dua golongan, yaitu : Adapun orang yang masih jahil dan tidak mungkin baginya menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits, maka dibolehkan bagi mereka bertaqlid. Adapun orang-orang yang mutamakkin (mampu dan kokoh ilmunya), penuntut ilmu yang qowiy (kuat), ‘alim mutamakkin (orang yang ilmunya mantap) yang mampu memilah antara yang shahih dan dha’if, dan dirinya memiliki kemampuan serta ahli dalam memilah-milah antara yang shahih dan dha’if, yang mempelajari biografi rijal (para perawi hadits), mempelajari ilal (cacat hadits), dan lain lain, yang kadang bisa jadi bersesuaian dengan imam tersebut atau menyelisihinya, sesuai dengan pembahasan ilmiah yang tegak di atas manhaj yang shahih dan metodenya Ahli Jarh wa Ta’dil. Taqlid di dalam masalah Jarh wa ta’dil, semoga Allah memberkahi kalian, adalah : Jika seandainya seorang manusia tidak memiliki kapabilitas ilmu,

dia mengambil ucapan Bukhari, Muslim, Abu Dawud (yang berkata) : Fulan

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 26 of 31 –

kadzdzab (pendusta), Fulan Sayyi`ul Hifzhi (memiliki hafalan yang buruk), Fulan wahin (lemah), Fulan matruk (ditinggalkan), Fulan begini, dan dia tidak mendapatkan seorangpun yang menolaknya, maka diambil perkataannya dikarenakan perkataannya merupakan khobar (berita)

bukanlah fatwa. Hendaklah dia menerima perkataannya karena ucapan tersebut merupakan khobar, sedangkan menerima khobar (berita) tsiqot (orang yang kredibel) merupakan perkara yang urgen yang tidak boleh tidak! Namun, jika ada seorang penuntut ilmu dan dia mendapatkan orang yang menyelisihi seorang ulama yang menjarhnya, kemudian dia temukan imam lainnya telah menyelisihinya dan memujinya, maka pada saat itu ia harus menjelaskan jarhnya. Tidak serta merta langsung diterima ucapan sang Jarih jika ada ulama lain yang menentang tajrih ini. Jika tidak ada seorangpun yang menentang maka diterima (tajrihnya), dan

jika ada yang menentang (jarh tersebut) maka haruslah menerangkan sebab-sebab jarh-nya, semoga Allah memberkahi kalian, dan perkara ini ada di dalam kitab-kitab mustholah dan kitab ulumul hadits. Perkara ini adalah sesuatu yang sudah ma’ruf (diketahui) oleh para penuntut ilmu, maka rujuklah Muqoddimah Ibnu ash-Sholah, Fathul Mughits dan Tadribur Rawi. Dan rujuklah kitab-kitab yang membahas perkara ini –yaitu Ulumul Hadits dan Ilmu Jarh wa Ta’dil-.

Pertanyaan 5 : Sebagaimana telah anda sebutkan, semoga Allah menjaga anda, apakah mereka (al-Mutasyaddun atau orang-orang yang ekstrim, pent.) memiliki jalan yang benar di dalam berdakwah kepada Allah, apakah mereka, yaitu para da’i yang melempar tuduhan kepada setiap orang dengan tuduhan tamyi’ tanpa ada kesalahan, berada di dalam barisan salafiyin? Kami mengharapkan anda memberikan contoh kepada kami?

Jawaban : Tidak ada yang perlu dicontohkan, namun hal ini memang ada dan kalian telah mengetahuinya! Perkara ini dapat kalian rasakan dan kalian pun mengetahuinya secara pasti. Tidak ragu lagi bahwa hal ini ada. Kita mohon kepada Allah agar Ia menghilangkan fitnah ini, karena sesungguhnya hal ini –demi Allah- telah membahayakan dakwah salafiyah dimana-mana, bukan hanya di sini, namun di seluruh penjuru dunia! Ini adalah madzhab baru yang tidak dikenal Ahlus Sunnah, yaitu menuduh Ahlus Sunnah dengan mumayyi’un –yaitu : mubtadi’ah- dan mematikan Ahlu Sunah itu sendiri.

Aku tidak menganggap mustahil bahwasanya ada diantara orang-orang asing yang menyusup ke dalam manhaj salafi dan salafiyin, karena hal ini suatu hal yang telah diketahui secara pasti termasuk cara-caranya Ahlul Hawa’ (pengikut hawa nafsu) yang mana mereka menyusup ke dalam barisan salafiyin. Yahudi pun juga menyusupkan ke dalam barisan kaum muslimin para penyusup yang menyesatkan. Dan pasti mereka juga berpakaian dengan pakaian salafi jika memang perkaranya berkaitan dengan salafiyin.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 27 of 31 –

Anda lihat banyak Ahlul Bid’ah mendakwakan diri mereka sebagai salafiyin, bahkan mereka mendakwakannya dengan semangat yang meluap-luap dan kekuatan. Mereka mempertahankannya dari anda, mereka adalah orangorang yang tak dapat anda percayai, -semoga Allah memberkahi anda-. Bahkan anda temui di dalam kaum muslimin –di seluruh dunia- adanya orang-orang yang meyelinap masuk dengan nama Islam, hal ini adalah perkara yang sudah dikenal, tetapi hanya orang-orang yang cerdik sajalah yang mengetahui mereka, yang mengetahui perihal mereka, sikap mereka dan tindakan mereka, dengan qarinah (indikasi/petunjuk) dalil. Semoga Allah memberkahi kalian memberi taufiq kepada kalian.

Pertanyaan 6 : Sebagian pemuda membagi para ulama salafiyin menjadi ulama syari’at dan ulama manhaj, apakah pembagian ini benar?

Jawaban : Ini salah! -Semoga Allah memberkahi kalian-, namun dengan spesialisasi hukumnya seseorang dapat mengetahui syari’at yang terkadang melebihi lainnya disebabkan perhatiannya terhadap manhaj serta apa yang menyelisihi manhaj tersebut beserta orang-orangnya. Dan ulama lainnya, ia memiliki perhatian dan pengetahuan, namun ia tidak memiliki spesialisasi dalam segala hal, terutama jika yang lainnya menyelisihinya –semoga Allah memberkahi kalian-.

Tinggalkan pemilahan seperti ini, karena asal pemilahan bersumber dari Ahlul Bid’ah, (yang membagi ulama menjadi) fuqoha’ (Ahli Fikih) yang faham waqi’ (realita) dan fuqoha’ yang tidak faham waqi’! ini adalah pemisahan baru yang sekarang ada di dalam barisan salafiyin, padahal

tidak sepatutnya ada. Mereka menghendaki mencela Ibnu Baz dan ulama-ulama yang ada.

Mereka berkata : ‘Para ulama itu tidak tahu waqi’!’ Jika mereka (Ahlul Bid’ah, pent.) berbicara tentang perkara kontemporer dan problematika yang dihadapi dan menimpa kaum muslimin yang terjadi saat ini, mereka berkata : ‘Para ulama itu tidak faham waqi’!!!’. Celaan ini adalah celaan yang sangat berbahaya, untuk mengaburkan manusia bahwa masalah ini adalah khusus

bagi mereka (yang sanggup menanganinya, ed.).

Pertanyaan 7 : Apakah boleh kita menghajr (mengisolasi/memboikot) orang-orang yang menyalami Ahlul Bid’ah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, harokiyin dan takfiriyin, mereka bermajlis dengan mereka dengan tetap mengakui bahwa mereka adalah mubtadi’, namun mereka menjauhkan manusia dari ilmu Jarh wa Ta’dil?

Jawaban : Bagaimana mereka bermajlis dengannya?? Apakah Salafiyun bermajlis dengan Ahlul Bid’ah?? Jika ditemukan ada seorang salafi yang kuat, dan ia mampu untuk menyampaikan dakwah kepada Ahlul Bid’ah dan kelompok-kelompok (lainnya) dengan hujjah dan burhan, mampu mempengaruhi mereka dan bukan mereka yang mempengaruhinya, maka ini merupakan kewajibannya supaya dia bercampur dengan mereka dalam rangka mendakwahi mereka, bukan dalam rangka makan dan minum bersama mereka, bukan pula untuk bermudahanah (menjilat/berpurahttp://

dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 28 of 31 –

pura), bukan pula untuk sesuatu dari urusan agama, bukan pula untuk menyetujui kebatilan mereka. Sesungguhnya dia berkumpul dengan mereka di masjid untuk mendakwahinya, berkumpul dengan mereka di pasar untuk mendakwahinya, dan pergi naik mobil, pesawat atau kereta api besertanya untuk mendakwahinya.

Dia berdakwah dan mau tidak mau dia harus bercampur dengan mereka, yang dia tak dapat terbebas dari mereka, karena Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’ adalah jauh lebih banyak, sedangkan salafiyun bagaikan rambut putih pada kerbau hitam, semoga Allah memberkahi kalian, maka mau tidak mau salafiyun berbaur dengan mereka, namun apakah kewajibannya?

Kewajibannya adalah, menyampaikan dakwah kepada Allah dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik. Jika orang ini berdiam diri di rumahnya dengan dalih menghajr Ahlul Bid’ah! Maka hal ini dapat mematikan dakwah!!

Contohnya, ada seorang manusia yang jahil dan pribadinya lemah, jika dia mendengar syubhat yang kecil saja dengan serta merta dia mengambilnya, maka sepatutnya orang ini menyelamatkan diri dari Ahlu Syubhat dan Ahlu Bid’ah, menjauhi mereka dan tidak bermajlis dengan mereka. Namun jika ada seseorang yang mengujimu dengan mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salamnya : wa ‘alayka as-Salam. Tapi, jika anda bermajlis dengan mereka, makan-makan dengan mereka, bercanda dengan mereka dan bercengkerama dengan mereka, maka anda dalam hal ini telah melakukan kesalahan! Karena apa yang anda kerjakan menyelisihi manhaj salafi dan sunnah.

Sekarang… saya –Rabi’ misalnya-, tidaklah diriku melihat seorang mubtadi’ kecuali aku akan lari darinya! Dan aku tidak tau kenapa!! Fulan, fulan atau fulan dari para penuntut ilmu –misalnya-, tidaklah dia melihat seorang mubtadi’ melainkan ia lari darinya! Dia tidak mau melihatnya atau

memandang wajahnya dari depan rumahnya melainkan ia menyembunyikan dirinya, jika ia melihatnya di suatu jalan, maka ia akan menghindar ke jalan yang lain. Yang demikian ini bukanlah jalannya salafi. Para sahabat dulu mereka menyebar diantara kaum kuffar di seluruh penjuru bumi, dan mereka menyebarkan agama Allah kepada mereka, semoga Allah memberkah kalian. Salafiyun sebelum kita, mereka juga menyebar -seperti para sahabat- di tengah-tengah Ahlul Bid’ah, mereka mempengaruhi Ahlul Bid’ah, dan masuklah beibu-ribu manusia ke dalam haribaan manhaj salafi. Maka barangsiapa yang memiliki pemahaman dan kepribadian yang kuat serta ilmu yang mantap, hendaknya dia menegakkan hujjah dan mendakwahi mereka dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik. Maka anda akan lihat pengaruh hal ini.

Adapun orang yang lemah, Demi Allah! janganlah dia bercampur sedikitpun dengan mereka, namun jika ia diuji dengan salam maka wajib atasnya menjawab salam, tidaklah mengapa ia melakukannya, jika tidak apa yang ia lakukan? Namun, janganlah ia becampur dan jangan pula bermajlis dengan mereka.

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 29 of 31 –

Pertanyaan 8 : Bagaimana cara bermua’amalah terhadap seseorang yang berpendapat : ‘Sesungguhnya fulan telah dikatakan mubtadi’ oleh ulama, namun dia hanya menyalahkannya saja dan tidak mengeluarkannya dari lingkaran Ahlus Sunnah’? Dan manhaj baru ini mulai tampak setelah wafatnya para ulama senior seperti Albani, Ibnu Baz dan al-Utsaimin –semoga Allah merahmati mereka semua-.

Jawaban : Iya, manhaj ini memang baru-baru ini berkembang. Kalian memiliki ilmu dari Jarh wa Ta’dil –perkataan yang tadi telah kami utarakan- : ada manusia menjarh seseorang dan ada manusia tidak menjarhnya, ada manusia yang memujinya dan membela orang yang dijarh ini, dan kita meminta kepada orang yang menjarh tafsir (penjelasan sebab jarhnya, pent.). Jika ia menjelaskan sebab-sebab jarhnya secara benar maka wajib mengikutinya, karena hal ini termasuk mengikuti yang benar dan membantah orang-orang yang tidak memiliki kebenaran dan orang itu menolak kebenaran.

Hakikat Jarh wa Ta’dil itu sendiri didapatkan di sini, mereka menjarh seseorang namun jarhnya tanpa disertai hujjah maka sungguh ucapannya tidak bernilai. Jika mereka menjarh dengan hujjah maka wajib bagi orang yang menyelisihi mereka (orang yang menjarh, pent.) ini untuk mengakui kebenaran dan kembali kepada al-Haq, dan dia mengambilnya dengan hujjah, semoga Allah memberkahi kalian. Betapa banyak orang-orang yang mendustakan kebenaran dan menolaknya. Dan hal ini sungguh merupakan perkara yang besar dan sangat berbahaya.

Dan demikianlah –sebagaimana telah kukatakan pada kalian-, inilah dia kaidah di dalam Jarh wa Ta’dil, yaitu dituntut orang yang menjarh penjelasan (tafsir) jarhnya dan bayyinah (keterangan) atasnya jika mereka tidak memiliki bayyinah, namun jika mereka memiliki bayyinah dan dalil,

maka ia menjadi hujjah dan mengikuti kebenaran, dan selesailah segala perkara.

Pertanyaan 9 : Semoga Allah memberi anda pahala, jika ada seorang ulama menghukumi seseorang bahwa ia adalah seorang mubtadi’, apakah dimutlakkan pula hukum ini terhadap pengikutnya yang mengikuti syaikhnya, mereka berdalih bahwa syaikh mereka hanya melakukan kesalahan biasa dan tidak perlu membid’ahkannya?

Jawaban : Dikembalikan pada pertanyaan pertama tadi, jika ulama tadi yang membid’ahkan orang ini memiliki hujjah atas tabdi’nya, maka wajib atas murid-muridnya dan setiap orang yang meneliti perkara ini mau mengambil kebenaran ini. Tidak boleh bagi mereka membelanya.

أسأل الله أن يؤلف بين قلوبكم ، أسأل الله أن يجمع كلمتكم على الحق ، أسأل الله أن يذهب عنكم

كيد الشيطان ، واجتهدوا  ماذا ستنتظرون من الدعاء – أبذلوا الأسباب أنتم  إي والله  أبذلوا

http://dear.to/abusalma

Maktabah Abu Salma al-Atsari – 30 of 31 –

الأسباب في استئصال شأفت الفرقة واسباا ، وفقكم الله ، وسدد خطاكم  حياكم الله  شوف

والله الأعداء فرحانين ، والله الدعوة السلفية توقفت ، والله  ضربت يا أخوان فاتقوا الله في أنفسكم

واتقوا الله في هذه الدعوة ، وابذلوا الأسباب التي تمحو هذه الأباطيل وهذه الفتن  بارك الله فيكم

حياكم الله

Aku memohon kepada Allah untuk mempererat hati kalian.

Aku memohon kepada Allah untuk mempersatukan kalimat kalian di atas kebenaran.

Aku memohon kepada Allah untuk menghilangkan tipu daya syaithan dari kalian.

Dan bersungguh-sungguhlah kalian untuk mewujudkan sebab-sebab (persatuan) ini, dan cabutlah sampai ke akar-akarnya sebab-sebab duri/luka perpecahan yang telah mendarah daging ini.

Semoga Allah menuntun kalian dan meluruskan langkah-langkah kalian –hayyakumullahu- Lihatlah musuh-musuh kalian bergembira! Sesungguhnya dakwah salafiyah dihentikan dan diganggu –wahai saudaraku sekalian-, maka bertakwalah kalian kepada Allah terhadap (perihal) diri-diri kalian, dan bertakwalah kepada Allah terhadap dakwah ini. Dan wujudkalah semua sebab-sebab yang dapat menumpas segala kebatilan dan fitnah ini.

Barokallahu fiikum wa Hayyaakumullahu.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: