Blog Archives

Khutbah Jumat Karakteristik Penghuni Surga

KaligrafiIslam_copralah

Karakteristik Penghuni Surga

http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/09/21/karakteristik-penghuni-surga/

KHUTBAH PERTAMA

Mukaddimah khutbah-1

Kaligrafi__2_

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati Alloh ‘Azza wa Jalla,

Alloh ‘Azza wa Jalla menciptakan jin dan manusia untuk suatu hikmah yang sangat agung yaitu untuk beribadah hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla  semata. Alloh ‘Azza wa Jalla  berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali  hanya untuk beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Sebab itu, barang siapa hidup di alam dunia ini dalam keadaan menyadari dan mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidup dan maksud diciptakannya dia—yaitu untuk mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan melaksanakan ibadah hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla– maka kebahagiaan, keselamatan, dan kemenangan adalah balasan baginya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.(QS- al-Baqoroh [2]: 25)

Akan tetapi, sebaliknya, orang-orang yang membangkang terhadap perintah Robb-Nya, tidak mau tunduk kepada Dzat yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini seluruhnya, maka kesengsaraan adalah balasan yang setimpal baginya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, mem­peroleh adzab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. al-Mulk [67]: 6)

Dunia adalah darul bala’ yaitu tempat ujian dan ladang beramal, sedang akhirat adalah darul jaza’, tempat menuai hasil dari apa yang ia usahakan ketika hidup di dunia. Maka berbahagialah orang-orang yang mengerti dan memahami hakikat hidup di dunia ini dan menjadikannya sebagai tempat persinggahan sementara saja, bukan tempat peraduan terakhir sehingga ia terlena dengannya dan memuaskan hawa naf sunya serta lupa akan kampung akhirat. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل

“Jadilah engkau hidup di dunia ini, seperti orang as-ing atau seorang penyeberang jalan.” (HR. al-Bu-khori: 5/2358)

Al2520Hambra2520in2520Granada2520-2520Spain25202528dome_002Maka berbahagialah orang-orang yang diselamatkan dirinya di dunia ini, dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, karena ia segera akan menjemput ampunan dan surga Alloh ‘Azza wa Jalla yang luasnya seluas langit dan bumi. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) am­punan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan rosul-wsul-Nya. Itu­lah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Hadid [57]: 21)

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla

Sungguh telah banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang indahnya surga dan penghuninya. Di antaranya Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, ‘sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Robb mereka. (QS. Muhammad [47]: 15)

Adapun beberapa sifat penghuni surga, Alloh ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan dalam banyak ayat-Nya. Diantaranya adalah sebagaimana yang Alloh ‘Azza wa Jalla sifatkan dalam firman-Nya:

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

1Ka'bahDan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan me-maafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari-pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbua­tan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. All Imron [3]: 133-135)

Maka dari ayat di atas, kita mengetahui sebagian karakteristik para penduduk surga, dan yang pertama mereka adalah: ألْمتّقِين yaitu orang-orang yang bertaqwa.

Mereka adalah orang-orang yang menjaga dirinya dari adzab Alloh ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-perintah-Nya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dengan mengharap pahala, dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud dari ke­taatan dan merasa takut akan ditimpakan adzab Alloh ‘Azza wa Jalla kepada-Nya.

Sebaik-baik pengertian taqwa adalah apa yang didefinisikan oleh Tholq bin Habib, beliau mendefinisikan taqwa adalah:http://maktabahabiyahya.files.wordpress.com/2012/09/new-picture-33.png?w=398&h=138

“Taqwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla di atas cahaya Alloh ‘Azza wa Jalla dengan berharap pahala-Nya, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla di atas ‘cahaya Alloh ‘Azza wa Jalla dengan takut atas adzab-Nya.

Maka taqwa adalah ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla yang di bangun di atas ilmu dan ittiba’ (mengikuti) kepada sunnah-sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

zikrullahJama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.

Sifat yang kedua di antara karakteristik pen­duduk surga adalah: الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء yaitu orang-orang yang mengeluarkan infaqnya dari apa-apa yang ia diperintah untuk mengeluarkannya, semisal zakat dan sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya, demikian juga infaq dalam jihad dan selainnya. Mereka mengeluarkan infaqnya baik ketika lapang mau­pun sempit, keadaan lapang tidak membuat me­reka rakus dan tamak, dan keadaan sempit tidak membuatnya bakhil untuk mengeluarkan zakat yang merupakan kewajibannya.

Lalu sif at berikutnya adalah:وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ  yaitu merekalah orang-orang yang mampu me­nahan dan meredam amarahnya dan ia tidak dengki kepada selainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

orang yang kuat“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, melainkan (orang yang kuat adalah) orang yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Muslim: 4/2014)

لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَاْ بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لَأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

(Berkata Habil,) “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Alloh, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. al-Ma’idah [5]: 28)

Dan dalam firman Alloh artinya sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Orang mukmin adalah orang yang selalu berbuat baik kepada manusia yang lain, berlaku baik dan berakhlak mulia kepada manusia, bahkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud: 4/220)

Dan dalam ayat tersebut juga terdapat isyarat bahwa memberikan maaf itu terpuji apabila timbulnya dari orang yang ia ingin berbuat baik setelahnya. Akan tetapi, memaafkan orang yang justru bila dimaafkan akan bertambah kesewenang-wenangannya, maka hal ini tidak terpu­ji. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. asy-Syuro [42]: 40)

KaligrafiIslam_coprmohdKHUTBAHKEDUA

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla

Kemudian sifat dan karakteristik penduduk surga yang selanjutnya adalah:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imron [3]: 135)

Salah satu karakter penduduk surga adalah apabila ia berbuat dosa baik karena lalai maupun karena mengikuti hawa nafsunya maka ia segera kembali ingat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, lalu ia bertaubat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dengan taubat yang sebenarnya, bukan malah terus-menerus menceburkan diri dalam kehinaan dan kesengsaraan dunia sebelum kesengsaraan di hari pembalasan, karena setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah bertaubat darinya.setiap manusia pernah salah

“Setiap bani Adam adalah pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah bertaubat darinya.” (HR. at-Tirmidzi: 4/569)

Akhirnya, kita berdo’a kepada Alloh &&, se-moga kita senantiasa ditetapkan jalannya di atas kebenaran, mengetahui yang benar adalah benar lalu kita diberi taufiq untuk mengikutinya dan mengetahui yang batil adalah kebatilan dan kita diberi kekuatan untuk meninggalkannya, dan semoga amal ketaatan yang selama ini kita kerjakan itu pulalah yang akan menjadi akhir dan penutup dari kehidupan kita di dunia yang fana ini, sehingga kehidupan ini ditutup dengan husnul khotimah yang kita berharap balasan baik dan surga Alloh Jfe kelak pada hari pembalasan. Aamiin.

Doa khutbah jumat

Reposted by ara  ara

CARA MENGUBAH PERILAKU

muhammad1

Cara Mengubah Perilaku

https://arozakabuhasan.wordpress.com

Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Tugas utama Rasulullah SAW adalah mengubah umat manusia menjadi insan ‘abid, saleh, dan mushlih (mampu melakukan perbaikan). Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Alquran dan hadis, serta membina keterampilan umat (QS al-Jumuah 62 : 2).

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Beliau telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik sebagaimana disabdakan, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR Al Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at-Taubah 9 : 100). Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

100. orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

 

 

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup kita dalam kerangka ibadah kepada-Nya (lihat QS adz-Dariyat 51:56). Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam QS al-An’am 6 : 162.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

 

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada (HR Ahmad dan Turmudzi) dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan kita saat digoda iblis (QS al-A’raf 7 :21).

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

 

21. dan Dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,

 

Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam QS az-Zumar ayat 39:1-2 dan al-Bayyinah ayat 98 : 5 . Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.’’(HR Bukhari).

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ.

 إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

 

1. kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

 [1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

 

Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya seraya bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kamu sekalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘apakah syirik kecil itu?’ Beliau menjawab, ‘riya’.” (HR Ahmad).

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat.
Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kelima, Rasulullah mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.
Abu Abdurrrahman as-Sulami berkata, “Sahabat-sahabat Nabi yang membacakan Alquran kepada kami meriwayatkan bahwa mereka mempelajari 10 ayat dari Nabi dan belum mengambil 10 ayat yang lainnya sebelum memahami dan mengamalkannya. Lalu mereka berkata, “Kami mengetahui dulu ilmunya, lalu mengamalkannya.’’ ( HR Ahmad dan lainnya).

Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Ahzab 33:21 sebagai teladan beliau berada di atas akhlak yang agung (QS al-Qalam 68 : -34).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

  وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.
Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plinplan lalu berkata, bila manusia baik, maka kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’(HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Beliau selalu berbicara dengan setiap orang sesuai dengan kondisi mukhothob.

Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu.
Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban untuk menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun menggambar agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah.

Sumber:Republika

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: