Blog Archives

Khutbah Jumat Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

20150322_110839Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran
Oleh : Abu Muas Tardjono

Khotib Jumat di Masjid Al Fajr, Jl. Cijagra Raya No. 39 Bandung pada Jumat tanggal 1 Mei 2015

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumullah.
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, rezeki dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Allah SWT telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat jum’at yang berbahagia.
Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak, kecuali taqwa

Jamaah shalat jum’at yang berbahagia.

Suatu saat, tatkala Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang sudah masuk Islam. Digambarkan karena begitu sangat banyaknya jumlah orang dalam rombongan tersebut, jika saja orang melihat maka sangat mungkin mereka mengira yang dilihatnya adalah pasukan orang-orang musyrikin, tapi ternyata yang memimpin rombongan tersebut adalah Abu Dzar Ra.

Melihat kehadiran rombongan yang dipimpin Abu Dzar Ra, Rasul pun menyambut mereka dengan menyatakan: “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah” dan “Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah”. Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasul Saw menyatakan: “Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar”.

Jika Rasul Saw yang menyatakan hal tersebut, tentu merupakan jaminan kebenaran apa yang telah dinyatakannya. Pertanyaannya, kenapa Rasul Saw harus menyatakan demikian secara khusus kepada Abu Dzar Ra? Jawabnya, tidak lain karena Abu Dzar Ra memiliki prinsip bahwa: “Kebenaran itu tidak boleh bisu, kebenaran yang bisu bukanlah sebuah kebenaran”.
Diakui atau tidak, prinsip yang telah teguh dijadikan prinsip hidup sosok sahabat Rasul yang satu ini, kini, sudah mulai pudar, lentur dan luntur oleh sebagian para penegak kebenaran seiring kehidupan yang hedonisme yang telah mengelilinginya. Padahal, menurut Abu Dzar Ra, kebenaran harus berbicara, tampak dan dinyatakan serta tidak boleh dipendam atau disembunyikan.

Hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi kita, karena saat ini tidak sedikit mereka yang membisu untuk menyatakan kebenaran, sehingga fungsi Al Qur’an sebagai Al Furqon (pembeda) mana yang haq dan mana yang bathil (QS. Al Baqarah,2:185) kini sudah sangat kabur karena bisunya orang-orang yang berilmu untuk menyatakan kebenaran.

Terkait dengan kehidupan dunia pers, diakui atau tidak, tidaklah mudah dinafikan oleh siapa pun juga, betapa besar keberpihakan media khususnya pers dalam membentuk opini publik. Kini, sejalan dengan kebebasan pers telah mengantarkannya bermunculannya pers-pers yang semakin menunjukkan keberpihakan. Betapa pun upaya tersembunyi, tapi orang awam dengan mudah membaca arah keberpihakan sebuah pers.

Hal ini tentu saja sangat tidak sejalan dengan nilai dan norma ajaran Islam. Paling tidak, ada beberapa hal yang harus diperjuangkan dan diwujudkan oleh pers dalam pandangan Islam, di antaranya:

Pertama, pers sebagai media social control, harus “mau” dan “berani” mengungkap dan menyatakan kebenaran dan kebathilan.

Menyatakan dengan tegas yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Allah SWT berfirman: “Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wa quuluu qaulan sadiidaa” (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”(QS. Al Ahzaab, 33:70). “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim: 27)

Kedua, pers sudah seharusnya tidak “membisukan kebenaran”. Para awak pers hendaknya mau belajar dari salah seorang sahabat Rasul Saw, Abu Dzar Ra, yang memiliki prinsip bahwa : “Kebenaran itu tidak boleh bisu, karena kebenaran yang bisu itu bukanlah kebenaran”.

Ketiga, hendaknya pers tidak menyelimuti kebathilan sehingga keberadaan pers hanya berfungsi pengungkap informasi dengan memutarbalikkan fakta yang ada, sehingga nilai dan norma yang ada menjadi kabur karenanya. Garis pemisah antara yang hak dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram hilang pula dengan sendirinya.

Seperti yang pernah disinyalir Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Kelak akan tiba kepada manusia suatu masa, tahun-tahun yang penuh dengan kepalsuan. Di mana si pembohong dipercayai, sedang yang benar malah didustakan. Si pengkhianat mulai dipercaya, sedang yang tadinya dipercaya malah berkhianat. Sementara itu, orang-orang yang tidak mengerti apa-apa malah mulai berbicara urusan ummat” (HR. Ibnu Majah).

Keempat, sebuah pers tidak boleh terjebak menjadi media syaithani yang berupaya yuwaswisu fii shuduurinnaas (membisikkan kejahatan)) ke dalam diri manusia (QS. An Naas:5) menyebarkan isu-isu dengan kebathilan yang sesat dan menyesatkan, dengan memanfaatkan “permainan” bahasa dan sajian yang menarik sehingga kebathilan terkemas sangat rapi terkesan seperti hak.

Pola inilah yang senantiasa diupayakan iblis dalam upaya menyesatkan manusia, Allah SWT berfirman: “Wa idz zayyana lahumusy syaithaanu a’maalahum” (Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka” (QS. Al Anfaal, 8:48). Syaithan menampakkan kepada pihak musuh bahwa perbuatan mereka itu baik padahal sebenarnya adalah tipuan semata.

Dalam firman-Nya pula: “Syetan menjadikan ummat-ummat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk) (QS. AN Nahl, 16: 63). “Iblis berkata: “Ya Allah Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al Hijr, 15: 39)

Kelima, pers dalam pandangan Islam, harus menjadi “Media Profetik” berfungsi pengemban amanah pesan-pesan Ilahi, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar” (QS. Ali Imran: 104; 110) dan tawashau bilhaq (Saling berwasiat dalam kebenaran (QS. Al Ashr:9), termasuk menumbuhkan nilai-nilai kritis masyarakat pembaca terhadap informasi yang disajikan media pers.

Ditempuh dengan watawashau bis-shabrr, dalam bentuk pendekatan yang tidak distruktif, tapi dengan control social yang konstruktif. Atau dalam bahasa Islam, dengan “Hikmah” (ungkapan dan pernyataan yang tegas dan benar-benar membedakan yang hak dan yang bathil), dan al mau’izah al hasanah (nasihat) yang baik dan bijak (QS. An Nahl:125).

Keenam, pers dalam pandangan Islam, harus independen, tidak berpihak kecuali pada kebenaran Ilahi yang mutlak. Berfungsi sebagai media pendidik ummat.

Tidak menjadi pers dagang, pers industry yang menjual berita untuk kepentingan pemilik modal, penguasa, partai politik tertentu atau kepentingan bisnis komersial dengan mengangkat pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh tertentu dengan tidak mempedulikan lagi betapa pernyataan-pernyataan tersebut akan membingungkan bahkan menyesatkan masyakarat.

Tapi yang terpenting laku untuk dijual. Atau mengangkat masalah-masalah yang menjurus kepada mengikisan nilai-nilai aqidah dan atau menjurus amoral dengan memanfaatkan kecenderungan manusia ke arah itu (QS. Al Imran:14), terutama remaja.

Adalah menjadi sebuah keniscayaan, salah satu tugas pers harus turut serta meluruskan ketimpangan-ketimpangan yang berkembang di masyarakat, bukan malah ikut berperan langsung atau tidak langsung memperkenalkan berbagai bentuk kemaksiatan yang sedikit banyaknya akan menjerumuskan masyarakat ke lembah kehidupan yang hina jauh dari ridha Allah SWT.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.
Kembali pada teladan yang dicontohkan Abu Dzar Ra, bagi beliau bahwa kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran, kebenaran itu harus terungkap walaupun untuk mengungkapkan kebenaran itu beliau harus menebusnya dengan nyawa sekalipun.

Wahai, para penegak kebenaran, siapkah menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil dengan siap menerima berbagai macam risikonya?

Bagi para ‘Ulama sebagai panutan ummat, apakah tidak ikut andil dalam kesesatan jika tidak sedikit ummat yang akhirnya tersesat karena diamnya atau tidak beraninya para ‘Ulama untuk menyatakan sesat dari sebuah aliran sesat yang ada?

Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu membimbing kita dalam kita menjalani kehidupan dunia ini, sehingga dapat istiqamah di atas agama-Nya yang mulia serta berpijak di atas manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dengan satu harapan, mendapatkan kesudahan terbaik dalam hidup ini (husnul khatimah) dan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya yang dipenuhi dengan kenikmatan
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Rabb kami, Janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku ini diatas agama-Mu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 232 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)
رَبّنَآ ءَاتِنَا فِى الدّنْيَ حَسَنَةً وَ فِى اْلَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النّارِ، وَ الْحَمْدُ لِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ
وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

Assalamualaikum Wr. Wb.
SUMBER :
Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran
Oleh : Abu Muas Tardjono

araDiedit untuk Khotbah Jumat/Tausyiyah
oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA
http://arasitusislam.com/
https://arozakabuhasan.wordpress.com/
http://arozakabuhasan.blogspot.com/

KHUTBAH JUMAT IBLIS LAKNATULLAH

IBLIS LAKNATULLAH

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumullah
Puja dan puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, rezeki dan kesehatan kepada kita.
Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, sehingga kita bisa hadir dan berkumpul bersama di masjid Al-Fajr ini untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu kewajiban melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.
Shalawat serta salam semoga selamanya tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.


Hadirin Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah;

Bahwa Allah Subhananhu wa Ta’ala menciptakan fitrah dalam diri manusia, yaitu dapat mengetahui  , serta mengenal Fujur atau kefasikan kebathilan.    dan mengenal kebenaran atau Al-Haq         Firman Allah Swt. (QS. Asy-Syams 91:8-10) :

 

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا              

8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.                                                                            

9.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,                                                                                                           10.  Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.             (QS.Asy-Syams 91:8-10)

Mampukah atau tidak seseorang untuk memilih yang benar atau yang haq, padahal yang benar itu jelas benarnya. Ataukah seseorang karena iman yang tipis, karena tergoda oleh bisikan iblis, akhirnya justru memilih jalan fujur/kefasikan, jalan yang sesat , jalan yang akan mencelakainya, yaitu jalan kesuatu tempat yang sangat  hina dengan kesakitan yang tiada terhingga, suatu penderitaan yang sangat amat pedih yaitu siksaan di neraka, padahal jalan fujur jalan fasik, jalan yang salah itu jelas kefujurannya, jelas kefasikannya, jelas dan sadar bahwa itu jalan salah..

Hadirin Rohimakumullah.   

Kenapa seseorang cenderung untuk memilih jalan yang sesat, jalan fujur, kefasikan? Jawabnya tidak lain karena iman yang tipis. yang mau mengikuti tipu daya bisikan iblis.  Tipu daya yang menyesatkan dari iblis beserta pengikut-pengikutnya,  teman-temannya, konco-konconya, yang terdiri dari bangsa jin dan manusia. akan berusaha segala daya untuk mengajak manusia menjadi pengikutnya. Manusia terpengaruh tidak beriman atau imannya tipis akan terpedaya oleh ajakannya yang memandang ajakannya itu lebih indah. 

Dalam surat 28:15 “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhan) nya” tetapi manusia cenderung lebih suka mengikuti ajakan setan tersebut. 

Kita semua mengetahui, bahwa iblis dilaknat oleh Allah Swt. Dan manusia yang sadar, tentunya tidak akan mau mengikuti jejak iblis. Tetapi pernahkan kita berfikir tentang kesalahan yang dilakukan iblis sehingga ia dilaknat oleh Tuhan? Mudah-mudahan dengan kisah ini nanti kita bisa mengukur diri kita masing-masing, apakah kita termasuk penentang iblis, atau jangan-jangan tanpa kita sadari, kita malahan termasuk ke dalam kelompok orang yang mendukung iblis.                             .

Suatu ketika iblis yang pada waktu itu tinggal di surga, dipanggil menghadap Rabb, Tuhan sekalian alam. Allah berfirman, “Hai Iblis! Aku telah menciptakan seorang manusia dari tanah yang Kuberi nama Adam. Sujudlah engkau sekarang padanya!”                                        .
Namun iblis spontan menolak, ia lalu mengemukakan 3 alasan atas penolakannya itu.                                      .

Yang pertama, kata Iblis, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku sujud kepada Adam, bukankah asal usulku lebih baik dari pada Adam? Bukankah Engkau ciptakan aku dari api yang jelas-jelas lebih mulia dibandingkan dengan tanah? Mestinya, Adamlah yang harus sujud kepadaku, bukan sebaliknya?”

 

Salahkah alasan iblis ini ??
Kalau kita lihat disekitar kita, banyak orang yang membangga-banggakan asal-usul keturunannya, merasa sombong dengan darah birunya, ataupun memandang rendah seseorang hanya lantaran orang itu orang biasa. Salahan bila orang seperti ini kita sebut sebagai pendukung iblis? Bukankah yang dilakukannya itu merupakan perwujudan dari alsan iblis?

Yang kedua, kata iblis, “Ya Tuhan, aku berada disini telah ribuan tahun. Jelas aku lebih senior dari pada Adam yang baru saja Engkau ciptakan.

Bukankah seharusnya yang lebih yunior tunduk pada yang lebih senior?” Mestinya Adamlah yang harus sujud kepadaku, bukan sebaliknya!” Salahkah alasan iblis ini?

Sekarang ini, banyak orang yang gengsi tidak mau menerima pendapat yang disampaikan kepadanya, hanya semata-mata karena pendapat itu disampaikan oleh yang lebih muda. Salahkah bila orang seperti ini kita sebut dengan pendukung iblis? Bukankah hal ini sebenarnya merupakan perwujudan dari alasan iblis?

Yang ketiga, kata iblis, “Ya Tuhan, kesetiaanku pada-Mu, telah berabad-abad terbukti tidak pernah luntur, sedangkan Adam belum tentu ia dapat selalu setia kepada-Mu seperti aku.

 

Lalu kenapa aku yang harus sujud kepada Adam, mestinya Adamlah yang pantas sujud kepadaku!”

 

Salahkah alasan iblis ini?
Kita banyak melihat orang yang suka mengungkit-ungkit kembali jasa-jasa yang pernah dilakukannya, kalau bukan karena “dia” ataupun merasa dirinyalah yang paling loyal.

 

Salahkah bila orang seperti ini kita sebut sebagai pendukung iblis? Bukankah yang dilakukannya itu sebenarnya merupakan perwujudan dari alasan iblis?

Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah ini. Yang paling utama adalah, apapun dalih yang kita berikan tetap saja intinya sama, Yaitu  à  membangkang  pada Allah adalah kesalahan fatal!


Mudah-mudahan kita tidak mengikuti jejak iblis, yaitu pandai berdalih dengan seribu satu macam argument yang kelihatannya logis untuk membenarkan pembangkangan yang kita lakukan terhadap ” Aturan Main ” yang telah dibuat-Nya.

 

Allah telah jelas-jelas menegaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa” ayat 13 dan 14,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

13. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.

 

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا

وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

14. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Jamaah Jumat rohimakumullah  

 “Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,  

  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya

يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا

dan Itulah kemenangan yang besar.  وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya,  وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ

niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya;  يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا

dan baginya siksa yang menghinakan.    وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

 

    Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman: (QS. Al A’la : 16-17).

 

   بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى


“Tetapi kamu (orang-orang) kafir lebih memilih kehidupan duniawi.

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.  

 

Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana.

Demikian  kisah IBLIS LAKNATULLAH. Iblis yang pada dasarnya hanya kafir 1 (satu) perintah Allah. Namun karena kesombongannya, karena iblis menganggap perintah Allah itu salah, iblis yang menganggap pendapatnya yang paling benar yang didukung kesetiaannya dan pengabdiannya yang tiada terhingga sebelum Adam diciptakan.      

Bagaimana pada zaman kini, banyak akal manusia yang ingkar bukan hanya satu ayat, bahkan aturan Allah dipermainkan dan dipersalahkan.

Semoga Allah melindungi kita semua   dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan dari iblis beserta pengikut-pengikutnya,  teman-temannya, konco-konconya, yang terdiri dari bangsa jin dan manusia.

Semoga kita diberikan hidayah serta kekuatan oleh Allah Swt. untuk menerima dan menyampaikan yang hak itu adalah hak; yang bathil itu adalah bathil.

 اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،

 وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَ لْأََحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَا تِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ  وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامَا

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ ِِللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ.

 

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَنِ

 وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,

 يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ  وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

 

Assalamualaikum Wr. Wb.


SUMBER :

Buku SENTUHAN KALBU

 http://who-want-the-truth.blogspot.com/


 Di edit untuk Khutbah Jumat

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN

 

MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN

KH. Athian Ali M. Da`i, MA

Menyembunyikan Kebenaran

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

 “Innal ladziina yaktumuuna maa anzalallaahu minal kitaabi wa yasytaruuna bihii tsamanan qaliilan ulaa-ika maa ya’kuluuna fii buthuunihim illaan naara wa laa yukallimuhumullaahu yaumal qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum ‘adzaabun aliim”

(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah daripada Kitab dan mereka menukarnya dengan harga sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam perut mereka melainkan api, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak menyucikan mereka (dari dosa), dan bagi mereka azab yang sangat pedih)(Al Baqarah, 2:174)

Allah SWT menurunkan risalah Islam kepada manusia mulai dari Nabi Adam As. hingga Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk kitab-kitab suci dan suhuf-suhuf. Semua risalah ini diturunkan tidak lain hanya untuk kemaslahatan manusia untuk membimbing manusia agar hidupnya senantiasa dalam ridha-Nya. Allah SWT sama sekali tidak punya kepentingan apakah risalahnya itu akan ditaati atau tidak, manusia diberi hak penuh untuk memilih mentaati atau mengkufuri.

Namun demikian, di awal ayat 174 surah Al Baqarah, Allah SWT memperingatkan: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah daripada Kitab dan menukarnya dengan harga yang murah”, peringatan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pasti akan ada manusia baik pada masa lalu, kini maupun pada masa mendatang pasti akan ada manusia yang berusaha menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah. Jika ada manusia yang benar-benar mencoba menyembunyikan kebenaran tersebut, maka alangkah luar biasa besarnya dosa manusia itu.

Kata, “Yaktumuuna” (Menyembunyikan) dalam arti sesuatu itu sudah ada terlebih dulu, lalu sesuatu itu dicoba disembunyikan, tentu dengan maksud agar orang lain tidak tahu tentang sesuatu itu. Dalam konteks ayat ini sesuatu tersebut adalah “Kebenaran yang datang dari Allah”. Ada sebuah kebenaran yang datang lalu disembunyikan, tidak disampaikan sebagaimana mestinya bahkan dengan sengaja ditutup-tutupi. Konotasi “Menyembunyikan” juga bisa diartikan ada sebuah rekayasa perlawanan, seolah-seolah yang datang bukan kebenaran yang dimaksud. Misalnya, yang datang kebenaran A tapi yang dimunculkan B sebagai sebuah rekayasa.

Jika kita perhatikan, di sepanjang zaman para rasul selalu dihadapkan dengan keberadaan manusia-manusia semacam ini, sehingga akhirnya tidak ada kitab suci sebelum Al Qur’an yang bisa dipertahankan kesuciannya, bisa karena disembunyikan dalam arti dihilangkan atau tidak disampaikan, atau jika tidak dihilangkan dan tidak disampaikan lalu diubah-ubah sesuai dengan hawa nafsu mereka. Maksud mereka bertindak demikian karena tidak menginginkan orang lain melaksanakan ajaran yang diturunkan Allah. Mereka sesat tapi tidak pula ingin sesat sendirian, sehingga mereka berupaya ingin juga sesat berjamaah. Oleh karenanya, ketika Allah SWT menurunkan Al Qur’an, Allah SWT tidak lagi menyerahkan kepada manusia untuk menjaganya (Al Hijr: 9), maka Al Qur’an dari mulai turun hingga kiamat nanti tetap dijamin kesuciannya.

Realitanya, kini, kebenaran yang datang dari Allah yang ada dalam Al Qur’an masih tetap ada, tapi sengaja disembunyikan dalam arti tidak disampaikan. Semua dengan mudah dapat memahami isi Al Qur’an, permasalahannya, orang-orang yang memahami ayat-ayat Al Qur’an itu tidak semuanya menyampaikan, disimpan dan dibiarkan sehingga seolah-olah tidak ada kebenaran dalam Al Qur’an. Ayat ini tentu sangat relefan dengan kondisi yang ada di negeri kita, sebagian dari para pendakwah tidak menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang ada dalam Al Qur’an, apalagi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara nyaris kebenaran Al Qur’an tersembunyi terus.

Hal ini sebenarnya tidak ada bedanya denga orang-orang terdahulu, dalam arti mereka tidak bisa menghilangkan Al Qur’an, tapi mereka tidak mengungkap ayat-ayat Al Qur’an, mengangkat kebenaran-kenenaran yang boleh jadi bertentangan dengan kebathilan yang sedang dinikmati oleh mereka yang berkuasa. Mereka mencoba menutupi kebenaran ayat-ayat Al Qur’an lewat bahasa-bahasa ciptaan akal mereka. Mereka bungkus bahasa-bahasa verbal mereka dengan menyatakan bahwa Al Qur’an sudah tidak relefan untuk kehidupan masa kini. Hukum potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, rajam atau cambuk bagi pezina adalah bertentangan dengan Hak-Hak Azasi Manusia.

Nyaris, kita tidak mendengar lagi dakwah tentang hukum potong tangan, qishah, rajam atau cambuk, jarang kita mendengar dakwah tentang wajibnya seorang muslim menegakkan syariat Islam dalam kehidupan, seperti halnya mendakwahkan wajibnya melaksanakan shalat dalam kehidupan padahal shalat hanya merupakan bagian dari syariat Islam. Disadari atau tidak, para ulama atau para kiai, telah menyembunyikan apa yang Allah turunkan. Mungkin sudah tidak ada yang mau membahas lagi perihal ayat-ayat jihad, karena takut dituduh teroris, radikal dan lain sebagainya.

Bagi seorang mu’min sudah seharusnya memiliki keyakinan bahwa kebenaran mutlak hanya datang dari Allah, kebenaran yang sudah tidak bisa didiskusikan atau ditinjau kembali baik dimengerti atau pun tidak dimengerti oleh akal fikiran kita. Sedangkan kebenaran yang disampaikan oleh manusia masih perlu kita kritisi, sehingga kalau kita dihadapkan kebenaran dari manusia yang nyata-nyata bertentangan dengan kebenaran mutlak yang datang dari Allah, pasti salah.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan, “Dan mereka menukarnya dengan harga yang murah”. Allh SWT Mahatahu apa yang menjadi tujuan mereka menyembunyikan kebenaran tersebut, mereka menyembunyikan kebenaran untuk membeli sesuatu dengan harga yang murah, yakni kenikmatan dunia. Allah SWT menyatakan, bahwa dengan mengorbankan kenikmatan akhirat demi kepentingan dunia adalah sesuatu yang sangat murah dan hina. Padahal, kenikmatan dunia jika bisa dia miliki seluruhnya itu masih tergolong harga murah kalau dibandingkan dengan kebenaran ilahi yang tak ternilai harganya.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan, paling tidak, ada “empat” ancaman bagi orang-orang menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah dan menjualnya dengan harga yang murah. Pertama, tindakan mereka tersebut tak ubahnya dengan menyiapkan bara api neraka sepenuh perut mereka. Dengan kata lain, Allah mengancam mereka akan menjadi penghuni neraka Jahannam. Kedua, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Jika kita analogikan dengan seseorang yang tidak mau berbicara dengan orang lain, artinya yang bersangkutan dalam kondisi sedang marah atau kesal terhadap pihak lainnya. Tidak mungkin seseorang mumutuskan komunikasi dengan  tidak mau bicara kecuali dia sedang marah. Gambaran ini tentu lebih sangat terasa jika Allah SWT telah mengancam bahwa nanti di akhirat Allah tidak akan berbicara sama sekali, hal ini tentu menggambarkan kemurkaan Allah yang sangat luar biasa terhadap mereka yang menyembunyikan kebenaran Ilahi. Ketiga, Allah SWT tidak akan pernah mensucikan mereka dari kekufuran dan dosa yang mereka perbuat. Keempat, bagi mereka siksa yang teramat pedih.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, ada tiga kelompok manusia yang tidak akan pernah diajak berbicara oleh Allah di hari kiamat dan tidak akan disucikan dari kekufuran dan dosa mereka, dan Allah tidak akan pernah melihat mereka, mereka juga akan mendapat siksa yang teramat pedih. Ketiga kelompok tersebuat adalah, “Manula” yang gemar berzina, penguasa yang suka berdusta, dan keluarga yang sombong yang tidak mau minta tolong kepada yang lain.

Berbicara kondisi orang-orang kafir nanti di akhirat, Allah SWT berfirman: “Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kejahatan kami telah mengalahkan diri kami dan kami adalah kaum yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya, maka jika kami kembali (kepada kekafiran) sesungguhnya kami adalah orang yang zalim. Allah berfirman: “Terhinalah kamu di dalamnya. Dan janganlah kamu berkata-kata kepada-Ku” (QS. Al Mu’minuun, 23:106-108). Terlepas dari kalimat terakhir yang ada dalam ayat dimana Allah SWT menyatakan: “Dan janganlah kamu berkata-kata kepada-Ku”, artinya sempat terjadi dialog antara Allah dengan orang-orang kafir. Para ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dalam ayat 174 surah Al Baqarah bahwa Allah tidak akan mau berbicara dengan mereka dalam rangka menyenangkan hati mereka. Tapi jika Allah berbicara sekaligus mengecam, hal itu bahkan membuat mereka semakin menderita.

Perbedaan mencolok akan bisa kita lihat jika kita simak ayat 17-18 surah Thaahaa: “Dan apakah yang ada di tangan kananmu wahai Musa? Musa berkata: “Ini adalah tongkatku; aku bertelekan padanya dan dengannya aku menggugurkan (daun kayu) untuk kambingku, dan bagiku ada keperluan lain padanya”. Gambaran dialog pada ayat ini adalah gambaran dialog kasih sayang, karena Allah SWT pasti Mahatahu akan apa yang ada di tangan Nabi Musa As, dan untuk apa maslahat tongkat tersebut. Numun pertanyaan Allah dengan jawaban yang rinci dari Nabi Musa As hanyalah semata-mata dialog yang dibangun untuk menjalin hubungan kasih sayang antara Allah SWT sebagai Al Khalik dengan Nabi Musa As sebagai makhluk.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Dikirim oleh: Tardjono Abu Muas) http://new.drisalah.com/

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: