Blog Archives

Dunia, Antara Harapan dan Pijakan

Dunia, Antara Harapan dan Pijakan  

KHUTBAH PERTAMA

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّهُمَّ صَلِّى عَلىَ مُحَمَّد  وَعَلَى آلِهِ وَصَحـْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا   أَمَّا بَعْدُ؛

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang telah memberikan limpahan kenikmatan yang tidak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita; kenikmatan yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitung-hitungnya;

 

Kita bersyukur atas segala Karunia-Nya terutama nikmat Iman, Nikmat Islam, nikmat Rezeki dan Kesehatan serta kesempatan beribadah sampai hari ini, termasuk saat ini kita hadir di masjid ini untuk melaksanakan perintah Allah  yaitu sholat Jumat; semoga Allah menerima niat dan ibadah kita, amin ya Robbal alamin.

 

Sholawat serta salam kita panjatkan, semoga Allah curahkan selalu kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., kepada keluarga dan sahabatnya serta kepada kita dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman., Amin Ya Robbal Alamin.

 

Jamaah sekalian Rohimakumullah

 Dunia menjadi ladang untuk beramal bagi orang beriman, akan tetapi, tidak jarang bagi orang yang ingkar, dunia adalah tempat menumpahkan segala kesenangan. Maka pada kHUTBAH kali ini, sedikit kita akan mendudukan dunia itu seperti apa dalam kaca mata syari’at.

 

Di dalam al-Qur’an Allah azza wa jalla berfirman:

 

﴿ مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعَاجِلَةَ عَجَّلۡنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصۡلَىٰهَا مَذۡمُومٗا مَّدۡحُورٗا ١٨ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ١٩ كُلّٗا نُّمِدُّ هَٰٓؤُلَآءِ وَهَٰٓؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّكَۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحۡظُورًا ٢٠ ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١﴾ [الإسراء: 18-21]

 

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, dan bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

 

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik.

 

kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

 

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”.  (QS al-Israa’: 18-21).

Didalam ayat ini Allah Swt menjelaskan tentang keadaan dua golongan serta akhir perjalanan keduanya.

 

Adapun orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia, maka Allah ta’ala akan memberi apa yang mereka inginkan, namun akhir perjalanan mereka diakhirat kelak adalah neraka Jahanam dalam keadaan hina dan merugi. Sebab mereka tidak pernah mengharap pahala Allah Shubhanahu wa ta’alla serta merasa takut akan adzab -Nya.

Sedangkan orang-orang yang menghendaki kehidupan akhirat lalu berusaha untuk ke arah itu, yaitu dengan mengerjakan amal sholeh dengan dibarengi keimanan pada hari akhir serta ganjaran yang banyak bagi siapa yang beriman pada -Nya, lantas beramal sholeh. Maka, mereka itulah yang mendapat tanda jasa dari Allah Swt. Lalu memperoleh apa yang diinginkan, diberi rasa aman dari segala yang menakutkan mereka pada hari kiamat, kemudian akhir dari segalanya adalah dimasukannya ke dalam surga dengan sebab rahmat serta karunia -Nya.

 

Selanjutnya, Allah ta’ala mengabarkan bahwasannya Allah Swt telah melebihkan sebagian hamba dengan yang lainnya didunia ini, dari sisi materi, rizki sedikit maupun banyak, kemudahan ataupun kesulitan, mendapat ilmu atau bodoh, akal sehat atau pandir, atau yang lainnya dari perkara dunia.

Kemudian Allah Swt menerangkan tentang akhirat yang lebih besar situasi serta kedudukan yang diberikan, dimana tidak sebanding sama sekali dengan nikmat yang ada didunia serta kesenangannya dari sisi manapun.

 

Perbedaan yang sangat jelas, antara orang yang berada ditengah-tengah kenikmatan, dalam istana surga nan tinggi, dengan berbagai jenis kenikmatan, kesenangan, dan kebahagian, dengan mereka yang dibolak-balik dalam neraka, diadzab dengan siksaan yang sangat pedih, karena kemurkaan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah ditetapkan baginya.

Maka, sungguh dua negeri ini, sangat berbeda keadaan dan situasinya, yang jika dihitung maka tidak ada seorangpun yang mampu untuk menghitungnya. [1]

 

Pelajaran yang bisa kita petik dari ayat-ayat ini:

  1. Barangsiapa yang menghendaki dunia, lalu berusaha untuk memperolehnya dan meninggalkan akhirat tanpa amalan sedikitpun. Maka sungguh dirinya akan diberi apa yang menjadi impiannya.

Namun, tatkala sudah saatnya kembali ke kampung akhirat, maka dirinya sudah tidak menjumpai bagiannya disisi Allah Swt. Hal ini, seperti yang -Dia tegaskan dalam firman -Nya yang lain:

﴿ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ٢٠ [ الشورى: 20 ]

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, maka Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat”.  (QS asy-Syuura: 20).

Hal senada juga dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam ayat -Nya yang lain:

﴿ مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٦ ﴾ [ هود: 15-16]

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”.  (QS Huud: 15-16).

 

Dalam sebuah hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallahu Saw. bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عيينه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له » [أخرجه الترمذي]

Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan berada dalam hatinya, dan memudahkan urusannya serta memberi dunia sedangkan ia tidak memintanya. Dan barangsiapa menjadikan dunia adalah tujuannya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan selalu menghantui dirinya, dicerai beraikan urusannya, dan tidak diberi harta kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya“. HR at-Tirmidzi no: 2465. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/300 no: 2005.

 

  1. Perbedaan hakiki ialah kelak di akhirat bukan seperti yang kita lihat di dunia ini. sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala melalui firman -Nya:

﴿ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١ [ الإسراء: 21 ]

“Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”.  (QS al-Israa’: 21).

 

Dalam ayat lain Allah ta’ala menjelaskan:

﴿ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ ٞ ٤ ﴾ [ الأنفال: 4 ]

“Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya”.  (QS al-Anfaal: 4).

Demikian pula di pertegas lagi dalam salah satu firmanNya:

 

﴿ وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ ٧٥ ﴾ [ طه: 75]

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)”. (QS Thahaa: 75).

 

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الجنة مائة درجة . كل درجة منها ما بين السماء والأرض . وإن أعلاها الفردوس . وإن أوسطها الفردوس . وإن العرش على الفردوس . منها تفجر أنهار الجنة . فإذا ما سألتم الله فسلوه الفردوس» [أخرجه ابن ماجه]

Surga itu mempunyai seratus tingkatan, dan pada tiap tingkatnya itu sejauh antara langit dan bumi, sesungguhnya surga yang paling tinggi ialah Firdaus, sedang yang berada ditengah-tengah juga Firdaus, adapun Arsy itu berada diatasnya surga Firdaus, dari situlah memancar mata air surga. Oleh karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah dimasukkan dalam surga Firdaus“. HR Ibnu Majah no: 4331. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah 2/436 no: 3496.

 

Dalam musnadnya Imam Ahmad dibawakan sebuah hadits dari Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْجَنَّةُ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ وَقَالَ عَفَّانُ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ  » [أخرجه أحمد]

Surga itu ada seratus lebih tingkatan dan antara satu tingkat dengan yang lainnya sejarak perjalanan seratus tahun”. Berkata Affan: “Seperti sejauh langit dan bumi“.  HR Ahmad 37/369 no: 22695.

 

Disebutkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya penduduk surga akan bisa saling melihat istana yang berada diatasnya. Seperti halnya mereka melihat bintang yang terang di ufuk timur maupun barat, disebabkan tingkatan yang masing-masing mereka peroleh”. Maka para sahabat berkomentar: “Wahai Rasulallah, barangkali itu kedudukannya para Nabi yang tidak mungkin bisa disamai oleh yang lain”. Nabi menjelaskan: “Bukan, Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan   –Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah serta mengimani para Rasul“. HR Bukhari no: 3256. Muslim no: 2831.

 

  1. Adalah neraka bertingkat-tingkat sebagaimana halnya surga juga bertingkat-tingkat. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta’ala:

 

﴿ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥ [ النساء: 145 ]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”.(QS an-Nisaa’: 145).

 

  1. Bahwa bagi orang yang menghendaki penghidupan akhirat lalu berusaha untuk meraihnya, maka Allah Shubhanahu wa ta’ala akan menganjarnya dengan balasan merengkuh dunia dan akhirat. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat -Nya:

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.  (QS an-Nahl: 97).

 

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِى الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِى الآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِى الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا » [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya Allah tidak akan mendhalimi kebaikan (yang pernah dikerjakan) seorang mukmin, Allah akan memberi balasan didunia dan menganjarnya diakhirat. Adapun orang kafir, maka mereka diberi makan dengan sebab kebajikan yang mereka kerjakan karena Allah ketika didunia, hingga jika sekiranya tiba giliranya diakhirat dirinya sudah tidak mendapati lagi balasan kebajikannya“.  HR Muslim no: 2808.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ   وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ   فَاسْتَغْفِرُوْهُ  إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّد. كَمَا صَلَيْتَ عَلَى آلِ ِإْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدِ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فَِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،  أَمّا بَعْدُ:

Hadirin Jamaah Masjid Al-Fajr Rohimakumullah
Mari kita memohon kepada Allah Swt.

Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepada-Mu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut adzab-Mu, karena adzab-Mu sangat pedih, karena itu ya Allah Rahmatilah kami dengan Kasih Sayang-Mu.

Ya Allah kami berlindung kepada MU dari kerasnya hati, anugerahkan kepada kami yang sejuk dan lembut.            اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ       إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, bersihkan amal kami dari riya, bersihkan lisan kami dari dusta, dan bersihkan mata kami dari khianat, sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.

Allahumma Ya Allah anugerahkan ketabahan, kesabaran kepada saudara-saudara kami yang saat ini lagi sakit, yang saat ini lagi mendapat cobaan dari berbagai musibah, termasuk saudara-saudara kami yang saat ini teraniayah/dizolimi di berbagai belahan bumi.                   Kami mohon kepada-Mu ya Allah agar kepada mereka semua Engkau berikan kesehatan, rezeki, serta kemudahan keluar dari berbagai kesulitan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

Ya Allah, ampunilah kami dan ampuni pula kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti kasih sayang mereka saat mendidik kami di waktu kecil.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإَِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ    وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Rabb, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ya Rabb, terimalah dari kami (amal dan doa kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Amin Ya Robbal Alamin.

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ     وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Sumber :   Dunia, Antara Harapan dan Pijakan

] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

2013 – 1435

 

posting – edited oleh :

10945547_10200350190073687_6761647511836910601_n

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20180309  Dunia, Antara Harapan dan Pijakan

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan/blogspot.com

[1] . Tafsir Syaikh Ibnu Sa’di hal: 430.

Advertisements

Tawakkal Kepada Allah

Tawakkal kepada Allah

Drs KH Fatchul Umam, MBA
Khutbah 16 Maret 2018, Masjid Al-Fajr

الحمد لله رب العالمين نحمده حمدا كثيرا {هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ}

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين

اللهم صل على سيدنا وحبيبنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

أما بعد فياأيها المسلمون الكرام

اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون.

قال الأعز الأكرم: بسم الله الرحمن الرحيم

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (آل عمران: 122)

Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

 

Ayat ini memerintahkan untuk bertawakkal kepada Allah, jangan mundur dari medan pertempuran. Tetapi berusahalah dengan seluruh strategi, kemudian bertawakkal. Perintah untuk bertawakkal banyak terdapat di berbagai ayat yang tersebar dalam al-Qur’an baik dalam suasana perang maupun damai.

Misalnya:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (آل عمران: 160)

( 160 )   Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (المائدة: 11)

( 11 )   Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (التوبة: 51)

( 51 )   Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ سورة (هود:123)

maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya.

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ (يوسف: 67)

( 67 )   Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (11) وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ (إبراهيم: 11، 12)

( 11 )   Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.

( 12 )   Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (التغابن 13)

( 13 )   (Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.

Tawakkal kepada Allah adalah tanda Iman seseorang. Tawakkal kepada Allah merupakan aktifitas ibadah kalbu seseorang. Makin besar dan kuat intensitas tawakkal kepada Allah menunjukkan kuatnya iman seseorang. Sebaliknya, rendahya kualitas tawakkal maka rendah pula iman seseorang.

Kita setiap hari secara berulang ulang menyatakan kesanggupan untuk ibadah dan tawakkal kepada Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Dalam alQur’an, Allah azza wa jalla menggabungkan tawakkal dengan iman, dengan islam, dengan taqwa, bahkan juga dengan hidayah. Hal ini jelas menandakan pentingnya aktitiftas ibadah di dalam kalbu  kita yang berupa tawakkal. Tawakkal adalah menggantungkan diri kita kepada Allah Swt untuk mencapai tujuan kita, menghilangkan kesulitan dengan melakukan usaha yang diizinkan oleh Syariah.

Karena itu setiap mukmin harus memahami benar bagaimana cara bertawakkal.

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ (المائدة23).

Dan kepada Allah maka bertawakkal-lah bila kamu sekalian beriman.

Apabila kita beriman dengan benar, maka yakinlah bahwa Allah akan menjaga kita, memberi pertolongan kepada kita, memberikan kemenangan kepada kita, melindungi kita dan menjauhkan kita dari perbuatan dosa.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ( الأنفال64).

( 64 )   Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق3).

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ ( يونس84). فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا (يونس85).

( 84 )   Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”.

( 85 )   Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim,

Siapa yang Menjaga? Allah. Siapa yang menolong? Allah

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (الأحزاب3).

( 3 )   dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Tatkala Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Namrud, dan sudah berada di atas api pembakaran, saat itu beliau tidak menemukan lagi cara apapun dan peralatan apapun untuk lari dari api pembakaran. Namun Nabi Ibrahim tidak putus hubungan dengan Allah, baik sebelumnya, ketika sedang di atas pembakaran ataupun sesudahnya. Beliau selalu membaca

حسبنا الله ونعم الوكيل،

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (آل عمران 173).

( 173 )   (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Ibnu Abbas Ra. Berkata حسبنا الله ونعم الوكيل adalah ucapan Nabi Ibrahim As ketika berada di atas api. Ayat 173 Ali Imran turun ketika Rasulullah Saw dan pasukan Muslimin berada di medan Uhud yang ketika itu ada orang Bani Khuza’ah yang memberi tahu agar waspada, hal ini menambah keimanan pasukan muslimin dan Nabi serta pasukannya mengucapkan Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Ibnu Mardawaih berkata: Bila kamu berada pada saat yang genting bacalah:

حسبنا الله ونعم الوكيل.

Bertawakkal saat keluar rumah, dicontohkan oleh Rasulullah Saw yaitu dengan membaca:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟ ” (سنن أبي داود)

Dari Anas bin Malik Ra bahwa Nabi Saw bersabda: Bila seseorang ketika keluar rumah membaca:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Maka dikatakan kepadanya: Engkau diberi hidayah, engkau dicukupi, engkau dijaga. Maka syetan-syetan menjauh darinya, syetan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana mungkin kamu akan mengganggu orang ini yang telah diberipetunjuk, dicukupi dan dijaga? (Sunan Abu Dawud).

Kosongkan hati kita dari ketergantungan kecuali kepada kekuatan Yang Maha perkasa dan Maha Bijaksana.

Janganlah bergantung kepada kekuatan yang lain, bergantunglah kepada Allah azza wa jalla. Sesungguhnya mereka yang bertawakkal kepada selain Allah pasti akan mengalami kerugian, Karena Allah lah yang Maha Kuat. Sedangkan orang yang perkasa, atau kekuatan apapun yang paling besar di muka bumi tidak akan bisa memberi manfaat atau memberi bahaya.

فَادْرَؤُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (آل عمران 168).

“Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dalam bidang apa kita bertawakkal kepada Allah? Urusan duniakah? Berjihad? Ibadah dan Keimanan? Mencari ilmu? Bertawakkal kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan dan perjuangan kita. Yaitu dalam ibadah, ketaatan kepada Allah dan dalam segara urusan yang mubah. Barangsiapa yang benar-benar tawakkal maka tentu dia akan mendapatkan apa yang dicarinya.

Tawakkal adalah tindakan dalam hati seseorang. Merupakan ibadah kalbu. Karena itu lepaskan ketergantungan kepada hal lain-lain kecuali hanya kepada Allah. Dan secara fisik kita terus berusaha dengan maksimum.

Perhatikan ketika tarikh Nabi Saw. Rasulullah Saw dengan ditemani Abu Bakar Ra berangkat hijrah. Beliau bertawakkal kepada Allah dengan sepenuh hati. Dan beliau secara jitu membuat strategi keberangkatan ke Madinah.

Mestinya berangkat ke arah utara, tetapi beliau berangkat ke selatan menuju Jabal Tsur untuk bersembunyi selama 3 hari. Saat itu perbekalan sudah disiapkan berupa kegiatan untuk menggembalakan ternak-ternak domba Abu Bakar ke daerah sekitar kaki gunung Tsur, sehingga bisa mengirimkan air susu, yang diperah langsung dari domba tsb, ke tempat persembunyian dengan mudah. Jejak kaki domba tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk menghapus jejak komunikasi ke gua Tsur.

Sebelum itu Rasulullah Saw telah berhasil mengelabui para pengepung di sekitar rumah beliau Saw, dengan menugaskan Ali bin Abi Tolib Ra untuk menyamar dengan baju Rasulullah Saw dengan segala gerak geriknya. Dan berhasil.

Itulah makna tawakkal yang sebenarnya. Hati bertawakkal dan secara fisik jasmani berusaha dengan maksimal mengikuti kaidah yang seharusnya, seraya menyerahkan diri kepada Allah. Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan oleh Umar Ra sbb:

وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ , تَغْدُو خِمَاصًا  وَتَرُوحُ بِطَانًا (سنن الترمذي)

Dari Umar bin Khattab Ra berkata. Rasulullah Saw bersabda: Apabila kamu sekalian benar-benar tawakkal kepada Allah,tentu Dia memberi riski kepada kamu sekalian, sebagaimana Allah memberi rizki kepada seekor burung yang terbang pagi hari dengan perut kosong, dan pulang pada sore hari dengan perutnya penuh makanan. Sunan Tirmidzi.

Bolehkah tawakkal kepada metode dan cara? Tidak jawabnya.

Coba perhatikan, bayi yang baru lahir. Ia belum bisa melihat, belum bisa bergerak, kecuali usaha untuk meraih ASI. Tanpa melihat, tanpa kemampuan apa apa, Allah Swt memberinya jalan untuk meraih ASI.

Sekali lagi tawakkal hanya kepada Allah Swt dengan usaha yang semestinya. Dan harus selalu berhusnudz dzann kepada Allah Swt. Bila ber-su’udz dzann, berarti tidak bertawakkal kepada Allah azza wa jalla

حسبنا الله ونعم الوكيل.  بارك الله لي ولكم

 

الحمد لله الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ  غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
اشهد أن لا الله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ونبيك محمد، وعلى آله وأصحابه، وذريته وخلفائه، وأزواجه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

{قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51)} [التوبة: 51]

عباد الله: إن الله وملائكته يصلون على النبي يآأيهالذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات يا مجيب الدعوات.

ربنا لاتؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا, ربنا ولاتحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا, ربنا ولاتحملنا ما لاطاقة لنابه, واعف عنا واغفرلنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِدَينا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

ربنا وآتنا ما وعدتنا على رسلك ولاتخزنا يوم القيامة إنك لاتخلف الميعاد.

رب هب لى حكما وألحقنى بالصالحين واجعل لى لسان صدق فى الآخرين واجعلنى من ورثة جنة النعيم.

ربنا أتمم لنا نورنا واغفر لنا إنك على كل شئ قدير

رب أنزلنى منزلا مباركا وأنت خير المنزلين مع الذين أنعمت عليهم من عبادك المقربين  برحمتك يا أرحم الراحمين.

 

 

 

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Tardjono`Khutbah Jumat di Masjid Al-Fajr Jumat 31 Maret 2017

Oleh : Abu Muas Tardjono

 

Suatu saat, tatkala Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang sudah masuk Islam. Digambarkan karena begitu sangat banyaknya jumlah orang dalam rombongan tersebut, jika saja orang melihat maka sangat mungkin mereka mengira yang dilihatnya adalah pasukan orang-orang musyrikin, tapi ternyata yang memimpin rombongan tersebut adalah Abu Dzar Ra.

Melihat kehadiran rombongan yang dipimpin Abu Dzar Ra, Rasul pun menyambut mereka dengan menyatakan: “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah” dan “Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah”. Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasul Saw menyatakan: “Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat  benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar”.

Jika Rasul Saw yang menyatakan hal tersebut, tentu merupakan jaminan kebenaran apa yang telah dinyatakannya. Pertanyaannya, kenapa Rasul Saw harus menyatakan demikian secara khusus kepada Abu Dzar Ra? Jawabnya, tidak lain karena Abu Dzar Ra memiliki prinsip bahwa: “Kebenaran itu tidak boleh bisu, kebenaran yang bisu bukanlah sebuah kebenaran”.

Diakui atau tidak, prinsip yang telah teguh dijadikan prinsip hidup sosok sahabat Rasul yang satu ini, kini, sudah mulai pudar, lentur dan luntur oleh sebagian para penegak kebenaran seiring kehidupan yang hedonisme yang telah mengelilinginya. Padahal, menurut Abu Dzar Ra, kebenaran harus berbicara, tampak dan dinyatakan serta tidak boleh dipendam atau disembunyikan.

Hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi kita, karena saat ini tidak sedikit mereka yang membisu untuk menyatakan kebenaran, sehingga fungsi Al Qur’an sebagai Al Furqon (pembeda) mana yang haq dan mana yang bathil, kini sudah sangat kabur karena bisunya orang-orang yang berilmu untuk menyatakan kebenaran.

Padahal, di awal ayat 185 surat Al Baqarah sangat jelas dan tegas dinyatakan: “Syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil qur-aanu hudal lin naasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaani” (Dalam bulan Ramadhan itu diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk (antara yang hak dan yang bathil).

Terkait dengan kehidupan dunia pers, diakui atau tidak, tidaklah mudah dinafikan oleh siapa pun juga, betapa besar keberpihakan media khususnya pers dalam membentuk opini publik. Kini, sejalan dengan kebebasan pers telah mengantarkannya bermunculannya pers-pers yang semakin menunjukkan keberpihakan. Betapa pun upaya tersembunyi, tapi orang awam dengan mudah membaca arah keberpihakan sebuah pers.

Hal ini tentu saja sangat tidak sejalan dengan nilai dan norma ajaran Islam. Paling tidak, ada beberapa hal yang harus diperjuangkan dan diwujudkan oleh pers dalam pandangan Islam, di antaranya:

 

Pertama, pers sebagai media social control, harus “mau” dan “berani” mengungkap dan menyatakan kebenaran dan kebathilan. Menyatakan dengan tegas yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Allah SWT berfirman: “Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wa quuluu qaulan sadiidaa” (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”(QS. Al Ahzaab, 33:70).

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim: 27)

 

Kedua, pers sudah seharusnya tidak “membisukan kebenaran”. Para awak pers hendaknya mau belajar dari salah seorang sahabat Rasul Saw, Abu Dzar Ra, yang memiliki prinsip bahwa : “Kebenaran itu tidak boleh bisu, karena kebenaran yang bisu itu bukanlah kebenaran”.

 

Ketiga, hendaknya pers tidak menyelimuti kebathilan sehingga keberadaan pers hanya berfungsi pengungkap informasi dengan memutarbalikkan fakta yang ada, sehingga nilai dan norma yang ada menjadi kabur karenanya. Garis pemisah antara yang hak dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram hilang pula dengan sendirinya.

Seperti yang pernah disinyalir Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Kelak akan tiba kepada manusia suatu masa, tahun-tahun yang penuh dengan kepalsuan. Di mana si pembohong dipercayai, sedang yang benar malah didustakan. Si pengkhianat mulai dipercaya, sedang yang tadinya dipercaya malah berkhianat. Sementara itu, orang-orang yang tidak mengerti apa-apa malah mulai berbicara urusan ummat” (HR. Ibnu Majah).

 

Keempat, sebuah pers tidak boleh terjebak menjadi media syaithani yang berupaya yuwaswisu fii shuduurinnaas (membisikkan kejahatan)) ke dalam diri manusia (QS. An Naas:5) menyebarkan isu-isu dengan kebathilan yang sesat dan menyesatkan, dengan memanfaatkan “permainan” bahasa dan sajian yang menarik sehingga kebathilan terkemas sangat rapi terkesan seperti hak.

 

Pola inilah yang senantiasa diupayakan iblis dalam upaya menyesatkan manusia, Allah SWT berfirman: “Wa idz zayyana lahumusy syaithaanu a’maalahum” (Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka” (QS. Al Anfaal, 8:48). Syaithan menampakkan kepada pihak musuh bahwa perbuatan mereka itu baik padahal sebenarnya adalah tipuan semata.

Dalam firman-Nya pula: “Syetan menjadikan ummat-ummat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk) (QS. AN Nahl, 16: 63). “Iblis berkata: “Ya Allah Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al Hijr, 15: 39)

 

Kelima, pers dalam pandangan Islam, harus menjadi “Media Profetik” berfungsi pengemban amanah pesan-pesan Ilahi, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar” (QS. Ali Imran: 104; 110) dan tawashau bilhaq (Saling berwasiat dalam kebenaran (QS. Al Ashr:9), termasuk menumbuhkan nilai-nilai kritis masyarakat pembaca terhadap informasi yang disajikan media pers.

Ditempuh dengan watawashau bis-shabrr, dalam bentuk pendekatan yang tidak distruktif, tapi dengan control social yang konstruktif. Atau dalam bahasa Islam, dengan “Hikmah” (ungkapan dan pernyataan yang tegas dan benar-benar membedakan yang hak dan yang bathil), dan al mau’izah al hasanah (nasihat) yang baik dan bijak (QS. An Nahl:125).

 

Keenam, pers dalam pandangan Islam, harus independen, tidak berpihak kecuali pada kebenaran  Ilahi yang mutlak. Berfungsi sebagai media pendidik ummat.

Tidak menjadi pers dagang, pers industry yang menjual berita untuk kepentingan pemilik modal, penguasa, partai politik tertentu atau kepentingan bisnis komersial dengan mengangkat pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh tertentu dengan tidak mempedulikan lagi betapa pernyataan-pernyataan tersebut akan membingungkan bahkan menyesatkan masyakarat.

Tapi yang terpenting laku untuk dijual. Atau mengangkat masalah-masalah yang menjurus kepada mengikisan nilai-nilai aqidah dan atau menjurus amoral dengan memanfaatkan kecenderungan manusia ke arah itu (QS. Al Imran:14), terutama remaja.

Adalah menjadi sebuah keniscayaan, salah satu tugas pers harus turut serta meluruskan ketimpangan-ketimpangan yang berkembang di masyarakat, bukan malah ikut berperan langsung atau tidak langsung memperkenalkan berbagai bentuk kemaksiatan yang sedikit banyaknya akan menjerumuskan masyarakat ke lembah kehidupan yang hina jauh dari ridha Allah SWT.

 

Kembali pada teladan yang dicontohkan Abu Dzar Ra, bagi beliau bahwa kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran, kebenaran itu harus terungkap walaupun untuk mengungkapkan kebenaran itu beliau harus menebusnya dengan nyawa sekalipun.

Wahai, para penegak kebenaran, siapkah menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil dengan siap menerima berbagai macam risikonya?

Bagi para ‘Ulama sebagai panutan ummat, apakah tidak ikut andil dalam kesesatan jika tidak sedikit ummat yang akhirnya tersesat karena diamnya atau tidak beraninya para ‘Ulama untuk menyatakan sesat dari sebuah aliran sesat yang ada?

Barakallahu lii walakum.

DOSA DAN BENCANA

Dosa Dan Bencana

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ  وَنَسْتَعِيْنُهُ   وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhannahu wa Ta’ala yang telah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang beriman, yang telah menunjuki kita shiratal mustaqim, jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.

Selanjutnya dari atas mimbar ini, perkenankanlah khotib menyampaikan wasiat, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala selama sisa umur yang Allah karuniakan kepada kita, dengan berusaha semaksimal mungkin menjauhi larangan-laranganNya dan melaksanakan perintah-perintahNya dalam seluruh aktivitas dan sisi kehidupan.

Sungguh kita semua, kelak akan menghadap Allah sendiri-sendiri untuk mempertanggung-jawabkan seluruh aktivitas yang kita lakukan sendiri-sendiri. Pada hari itu, hari yang tidak diragukan lagi kedatangannya, yaitu hari kiamat, tidak akan bermanfaat harta benda yang dikumpul-kumpulkan dan anak yang dibangga-banggakan. kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim, hati yang betul-betul bersih dari syirik sebagaimana firmanNya

dalam Surat Asy-Syu’aro 26 :  88-89:

tPöqtƒ Ÿw ßìxÿZtƒ ×A$tB Ÿwur tbqãZt/ ÇÑÑÈ žwÎ) ô`tB ’tAr& ©!$# 5=ù=s)Î/ 5OŠÎ=y™ ÇÑÒÈ

  1. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
  2. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini khotib akan menyampaikan materi DOSA dan BERCANA yaitu hubungan antara dosa  dan bencana yang menimpa umat manusia sebagaimana yang diterangkan di dalam Al-Qur’an.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: (QS Ar-Ruum 30 ayat 41 yang berbunyi):

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Allah juga berfirman (Surat An-Nahl ayat 112):

Artinya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”

“Ayat-ayat yang mulia ini memberi pengertian kepada kita bahwa Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana, Ia tidak akan menurunkan bala’ dan bencana atas suatu kaum kecuali karena perbuatan maksiat dan pelanggaran mereka terhadap perintah-perintah Allah”  

Hadirin …

Kebanyakan orang memandang berbagai macam musibah yang menimpa manusia hanya dengan logika berpikir yang bersifat rasional, terlepas dari tuntutan Wahyu Ilahi.

Misalnya terjadinya becana alam berupa letusan gunung berapi, banjir, gempa bumi, kekeringan, kelaparan dan lain-lain, dianggap sebagai fenomena kejadian alam yang bisa dijelaskan secara rasional sebab-sebabnya. Demikian dengan krisis yang berkepanjangan, yang menimbulkan berbagai macam dampak negatif dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga masyarakat tidak merasakan kehidupan aman, tenteram dan sejahtera, hanya dilihat dari sudut pandang logika rasional manusia.

Sehingga, solusi-solusi yang diberikan tidak mengarah pada penghilangan sebab-sebab utama yang bersifat transendental yaitu kemaksiatan umat manusia kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala Sang Pencipta Jagat Raya, yang ditanganNyalah seluruh kebaikan dan kepadaNya lah dikembalikan segala urusan.

Bila umat manusia masih terus menerus menentang perintah-perintah Allah, melanggar larangan-laranganNya, maka bencana demi bencana, serta krisis demi krisis akan datang silih berganti sehingga mereka betul-betul bertaubat kepada Allah.

Hadirin rahimakumullah

Marilah kita lihat keadaan di sekitar kita. Berbagai macam praktek kemaksiatan terjadi secara terbuka dan merata di tengah-tengah masyarakat. Perjudian marak dimana-mana, prostitusi demikian juga, narkoba merajalela, pergaulan bebas semakin menjadi-jadi, minuman keras menjadi pemandangan sehari-hari, korupsi dan manipulasi telah menjadi tradisi serta pembunuhan tanpa alasan yang benar telah menjadi berita setiap hari.

Pertanyaannya sekarang, mengapa segala kemungkaran ini bisa merajalela di tengah-tengah masyarakat 1yang mayoritas muslim ini? Jawabannya adalah tidak ditegakkannya kewajiban yang agung dari Allah Swt. yaitu amar ma’ruf nahi mungkar, secara serius baik oleh individu maupun pemerintah sebagai institusi yang paling bertanggung jawab dan paling mampu untuk memberantas segala macam kemungkaran secara efektif dan efisien, termasuk membersihkan aqidah ummat dari ajaran sesat menyesatkan yang demikian banyak disekeliling kita.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ.

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu ubahlah dengan lisannya, bila tidak mampu ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (Hadits shahih riwayat Muslim)

Namun kita sadari bahwa memberantas kemungkaran yang sudah merajalela tidak hanya dilakukan oleh individu-individu, karena kurang efektif dan kadang-kadang beresiko tinggi. Sehingga kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar itu bisa dilakukan secara sempurna dan efektif oleh pemerintah.

Apa itu mungkar ? KUBI Poerwadarminta :

  • Mungkar = Perbuatan durhaka (melanggar perintah Tuhan/Allah) à kemungkaran = keingkaran; kedurhakaan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

“Sesungguhnya kekuasaan mengatur masyarakat adalah kewajiban agama yang paling besar, karena agama tidak dapat tegak tanpa negara. Dan karena Allah mewajibkan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, menolong orang-orang teraniaya. Begitu pula kewajiban-kewajiban lain seperti jihad, menegakkan keadilan dan penegakan sanksi-sanksi atau perbuatan pidana. Semua ini tidak akan terpenuhi tanpa adanya kekuatan dan pemerintahan (As Siyasah Asy Syar’iyah, Ibnu Taimiyah: 171-173).

Hadirin, Apabila kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar itu tidak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka sebagai akibatnya Allah akan menimpakan adzab secara merata baik kepada orang-orang yang melakukan kemungkaran ataupun tidak à Larena itu menjaga kemurnian aqidah dari pengaruh ajaran sesat menyesatkan adalah tugas semua muslim, tugas kita semua.

Hadirin …. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dalam sebuah haditst Hasan riwayat Tarmidzi:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشَكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابَ لَكُمْ.

Artinya: “Demi Allah yang diriku berada di tanganNya! Hendaklah kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar  atau Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, lalu kalian berdo’a namun tidak dikabulkan”.

 

Demikian pula Allah menegaskan di dalam QS. Al-Maidah ayat: 78-79, bahwa salah satu sebab dilaknatnya suatu bangsa adalah bila bangsa tersebut meninggalkan kewajiban saling melarang perbuatan mungkar yang muncul di kalangan mereka.

Firman Allah : Artinya: “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat”

Yang dimaksud laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah Swt. Dengan demikian supaya bangsa ini bisa keluar dan terhindar dari berbagai krisis dalam kehidupan di segala bidang dan selamat dari beragam musibah dan bencana, hendaklah seluruh kaum muslimin dan para pemimpin atau penguasa  memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang perbuatan-perbuatan mungkar sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing untuk mentaati Allah Ta’ala dan menjauhi seluruh larangan-larangan dalam seluruh aspek kehidupan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Dalam khutbah kedua ini kesimpulan dari khutbah pertama.

  • Yang pertama, kemaksiatan manusia kepada Allah Rabbul ‘Alamin merupakan penyebab utama terjadinya berbagai musibah yang menimpa umat manusia baik itu berupa bencana alam maupun krisis di berbagai bidang kehidupan.
  • Yang kedua, satu-satunya jalan untuk terhindar dari segala musibah tersebut dan dapat menikmati kehidupan yang aman, tenteram, damai dan sejahtera adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dan RasulNya Muhammad Saw. dalam seluruh aspek kehidupan yang ada dengan penuh ketundukkan, kecintaan dan keikhlasan.
  • Yang ketiga, agar seluruh kaum muslimin dan Pemerintah secara sungguh-sungguh melaksanakan dan memerintahkan kepada yang ma’ruf dan memberantas segala yang mungkar.

Hadirin, saat ini saudara-saudara kita tengah melaksanakan rangkaian ibadah haji. Ucapan Talbiyah selalu dikumandang-kan :

Aku datang memenuhi panggilan Mu ya Allah

Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik Mu tidak ada sekutu bagi Mu

Yang mencerminkan ketulusan hati dalam memenuhi panggilan/perintah Allah, yang tidak sedikitpun tercemar oleh noda-noda kemungkaran, syirik, keduniaan. Semoga mereka menjadi haji mabrur/rah

Akhirnya marilah kita tutup khutbah Jum’at ini dengan berdo’a kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala :

Ya Allah pimpin dan bimbing kami semua agar selalu terpelihara dari godaan dunia dan bersih dari pengaruh budaya, aliran sesat menyesatkan (seperti aliran sesat syiah, ahmadiah dsb). Semoga kami semua selamanya hanya berpegang kepada Al-Quran dan Al-Hadist sebagai tuntunan.

Ya Allah anugerahkan kepada kami bangsa Indonesia agar menjadi penduduk dan negeri yang beriman dan bertakwa, agar Engkau  melimpahkan berkah dari langit dan bumi, bukan penduduk dan negeri yang mendustakan (ayat-ayat Engkau), agar kami dan bangsa kami terhindar dari siksa-Mu. (QS. Al-A`raaf 7:96)

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

والحمد لله رب العالمين.

بَارَكََ اللهََ لِيْ وَ لََكُمْ فيِِ الْْقُرْآنِِ الْْعَظِيْمِْ وَن َفََعَنِيْ وَإِِيَاكُُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْْلآيَاتِ     وَ الذِكْْرِِ الْْحَكِيْمِِ  أَقُُوْلُ قََوْلـِيِْ هَذَا وَأسْتَغْفِْرُ اللهََ لِي وَ لََكًُمْ
Assalamu`alaikum Wr. Wb

Sumber:

Judul asli : Hubungan Antara Dosa Dan Bencana Oleh: Muhammad Mukhlis

 

10945547_10200350190073687_6761647511836910601_nDiedit ulang untuk Khutbah Jumat/Tausiyah

Oleh

H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160909-Dosa dan Bencana Khutbah Jumat di Masjid Al-Fajr Bandung, Jumat 16 September 2016 (Imam Khotib A. Rozak Abuhasan)

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com/

 

Jalan ke Surga 5

Jalan ke Surga                                                                                                                                     (Akidah dan Kehidupan Bermasyarakat 5)                                                                                oleh : KH. Athian Ali M. Da`i , Lc, MA

 

09 athian aliKHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ  وَنَسْتَعِيْنُهُ   وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ   لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ   لاَشَرِ يْكَ لَهُ      وَ أَشْهَدُ أَنَّ   مُحَمَّدًا عَبْدُهُ   وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ  وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا.      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

 

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, rezeki dan kesehatan kepada kita.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw.

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah

 

Betapa tidak muda bagi seseorang untuk bisa menjaga proses perjalanan hidupnya untuk senantiasa dalam jalan yang diridhoi Allah Swt.

Kenapa, karena manusia belum tentu bisa selamat hanya bermodalkan iman dan amal shaleh semata.

 

Bekal iman dan amal shaleh belum bisa menjamin untuk dia tetap dalam keistiqomaannya. Masih sangat mungkin seseorang atau kita bisa keluar dari jalan-Nya disebabkan karena berbagai macam factor.

 

Untuk menjaga keistiqomahan agar tetap dijalan-Nya, maka kita harus bisa berupaya menciptakan dalam hidup kita ini ada orang-orang yang siap menegur kita pada saat kita baru mau keluar dari jalan-Nya. Inilah perlunya kita hidup saling mengingatkan dalam kebenaran, ada orang yang siap saling berwasiat dalam kebenaran.

 

QS Fushilat 41:30-35 : Allah menjelaskan bahwa orang yang dijamin oleh Allah akan selamat adalah mereka yang menyatakan Rabbunallah. Tuhan kami hanyalah Allah. Mereka betul-betul berprinsip dalam hidupnya itu bahwa Tuhannya hanyalah Allah. Kemudian Allah menjelaskan tsumas taqaamu, mereka beristiqomah. Jadi ada persyaratan dia harus istiqomah dalam prinsipnya tersebut.

Pengertian bahwa Tuhannya hanyalah Allah, bukan sekedar meyakini bahwa Allah itu ada atau Dzat-Nya itu ada.

  • Apa artinya kalau Allah diyakini ada kemudian tidak meyakini adanya aturan-aturan-Nya?
  • Apa artinya pula kalau dia meyakini Allah itu memiliki aturan, kalau dia tidak patuh melaksanakan aturan-Nya itu ?
  • Betulkah kita sudah menyatakan Rabbunallah?

 

Hadirin Rohimakumullah

Orang-orang yang akan selamat adalah mereka yang meyakini bahwa Allah-lah yang berhak mengatur hidup ini dan dengan aturan Allah itulah dia hidup dan hanya Allah-lah yang menjadi tujuan hidupnya. Orang yang istiqomah seperti inilah orang yang oleh Allah dijamin

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

“tatanazzalu `alaihimul malaaikati allaa takhafuu wa laa tahzanu”

 

Maka orang seperti inilah kelak akan diturunkan oleh Allah swt malaikat kepada dia untuk menyatakan :

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

allaa takhaafuu wa laa tahzanu, menenangkan hati dia, dia tidak ada lagi rasa takut, tidak ada rasa sedih menghadapi kehidupan ini  dan takut menghadapi kehidupan di akhirat nanti.

 

Wa absyiruu bil jannatil latii kuntum tuu`aduun, sampaikanlah kabar gembira tentang surga kepada mereka sesuai yang telah dijanjikan-Nya (QS. 41:30).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

 

Kabar gembira ini akan disampaikan oleh Malaikat saat seseorang menjelang sakratul maut (QS. An Nahl 16:32)

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٣٢﴾

  1. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam Keadaan baik[822] oleh Para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum[823], masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.

 

[822] Maksudnya: wafat dalam Keadaan suci dari kekafiran dan kemaksiatan atau dapat juga berarti mereka mati dalam Keadaan senang karena ada berita gembira dari Malaikat bahwa mereka akan masuk syurga.

[823] Artinya selamat sejahtera bagimu.

 

 

dan sebaliknya kondisi buruk bagi orang-orang yang tidak beriman maka saat sakratul maut dia akan didatangi para malaikat yang bengis-bengis  yang akan menyiksanya (QS Al An`am 6:93).

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ ﴿٩٣﴾

 

  1. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

 

 

 

  أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

 

Masjid Al-Fajr Bandung-MenaraKHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah shalat jum’at yang berbahagia.

Setiap Allah berbicara tentang surga dan kenikmatan yang akan kita peroleh, maka Allah menyatakan nuzulam min ghafuurir rahiim, sebagai anugerah dari Allah yang ghafuurir rahiim, itulah rahmat dari Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sebagaimana firman Allah, kita tidak akan pernah masuk surga kecuali hanya dengan Maha Pengampun dan Maha Pengasih Allah

 

Firman Allah Swt (QS 41:32)

نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾

  1. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Karena itu tidak ada ucapan yang lebih baik  yang kita ucapkan dalam hidup ini kecuali dengan kita mengajak orang untuk hidup bersama-sama di jalan Allah (dakwah). Jadi orang yang paling mulia di jalan Allah itu adalah orang yang mau berdakwah. Tugas dakwah adalah bukan hanya tugas seorang da`i  atau kiayi, melainkan tugas bagi setiap orang mukmin, wa `amala shaaliha, dan dia beramal shaleh.

 

Rasulullah saw bersabda :

Barangsiapa yang mengajak orang kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun (HR Muslim)

 

Janganlah kamu merasa rugi karena berbuat baik, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kamu walaupun sejuta orang tidak mau menghargai kebajikanmu, yang pasti Allah akan menghargainya.

 

Karenanya istiqomahnya seseorang dijalan yang benar yang di ridhoi Allah swt. merupakan salah satu yang dinyatakan oleh Dzu An Nuun dari lima kriteria (istiqomah, mujaahadah, muraqabah, dzikrul maut dan muhasabah) orang untuk masuk surga.

 

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.

Ya Allah, jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات     و الذكر الحكيم                                                        أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
Assalamu`alaikum Wr. Wb

fuui-Pemersatu Ulama dan Ummat* Dikutip dari Bulletin Majelis Ta`lim Forum Ulama Ummat Indonesia Edisi 4/Th.III/1426H/2006M Sabtu 22 Rajab 1426H / 27 Agustus 2005M

Judul : Akidah dan Kehidupan Bermasyarakat Bagian kelima

Oleh : KH Athian Ali M. Da`i Lc, MA

 

 

10945547_10200350190073687_6761647511836910601_nDiedit ulang untuk Khutbah Jumat/Tausiyah

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

 

20160805 Jalan ke Surga 5

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com/

https://alfajrbandung.wordpress.com/

 

 

 

Sampai Kapankah Kelalaian Ini

Sampai Kapankah Kelalaian Ini
2015+-+1-rightKHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ   لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ   لاَشَرِ يْكَ لَهُ      وَ أَشْهَدُ أَنَّ   مُحَمَّدًا عَبْدُهُ   وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumullah.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita.

Shalawat serta salam semoga tercurah selalu kepada junjungan kita Rasulullah terakhir Muhammad Saw.

Ayyuhal muslimun rahimakumullah!

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Taatlah padaNya, rasakanlah pengawasanNya dan jangan durhaka kepadaNya. Segeralah bertaubat dan memohon ampun kepadaNya.

Ibadallah!

Musibah terburuk yang menimpa jiwa manusia adalah kelalaian. Dan bencana terberat yang menimpa hati manusia adalah kekerasan.

Sudah barang tentu penyakit-penyakit seperti ini mempunyai banyak perkara yang bisa menjadi pemicunya. Semuanya bermuara pada perbuatan dosa dan maksiat. Inilah tabir terbesar yang menghalangi seseorang dari Sang Kekasih.

Dan tentu saja menghindari hal-hal yang bisa menjauhkan diri dari Sang Kekasih adalah wajib hukumnya. Karena pada dasarnya manusia itu lemah dan teledor, suka melakukan kesalahan, serta memiliki banyak musuh dari dalam dan dari luar yang selalu mendorong mereka untuk melampiaskan syahwat dan melakukan keburukan. Sehingga mereka selalu rentan terhadap ancaman bahaya.

Maka Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Mengasihi dan Menyayangi hambaNya menyiapkan sebuah benteng yang kuat bagi mereka untuk melindungi dirinya dari perbuatan dosa dan menghindarkannya dari kesalahan. Benteng itu adalah taubat, istigfar dan inabah (kembali ke jalan yang benar).

Ayyuhal ikhwah al-muslimun!

Kebiasaan orang-orang berbuat maksiat dan keasyikan mereka berbuat dosa adalah musibah besar yang sangat berbahaya bagi jiwa manusia, masyarakat, umat dan bangsa. Karena setiap bencana, malapetaka, musibah dan cobaan yang menimpa pribadi maupun kelompok dipicu oleh perbuatan dosa dan maksiat.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syuura :30)

Setiap muslim harus bersungguh-sungguh mulai memperbaiki dirinya dan mengubah arah hidupnya dan keluarganya, dari buruk menjadi baik, dari durhaka menjadi patuh, dari teledor dan lalai menjadi taubat dan taat. Ini jika kita menginginkan keadaan yang baik, kondisi yang stabil, dan situasi yang damai.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’du :11)

Bila manusia tidak mengetahui kapan ia akan didatangi ajal dan kapan ia akan dijemput maut, maka orang yang pintar dan bahagia ialah orang yang mendapat-kan kemudahan untuk melaju di jalur taubat, istiqomah dan keshalihan. Sehingga ia akan memperoleh kebaikan, keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan Akhirat.

Saudara-saudara seiman dan seakidah !

Sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap taubat merupakan kebutuhan yang mendesak dalam semua periode hidupnya. Karena taubat adalah jalan keselamatan dan sarana untuk mendapatkan keberuntungan. Sebab, Allah Swt mengaitkan keberuntungan dengan adanya taubat. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat seraya menjelaskan hasil akibatnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur :31)

Allah Subhanahu Wata’ala mengancam orang-orang yang enggan bertaubat sebagai orang-orang zhalim. Karena mereka tidak mengetahui hal tuhannya, buta terhadap aibnya sendiri dan tidak menyadari kerusakan amalnya. Allah berfirman:
وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat :11)

Ayyuhal mukminun! Allah Swt. memanggil kita semua dengan panggilan iman agar kita kembali ke pangkuan taubat dan bernaung di bawah pohon taat kepada Allah, jauh dari kesialan dosa dan maksiat. Juga supaya kesalahan-kesalahan kita dihapus dan kita dapat masuk ke dalam surga.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. At-Tahrim :8)

Kalau kita  perhatikan, sesungguhnya Allah Swt. mensyaratkan taubat yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam Surga adalah taubat yang nasuha.

Marilah kita simak penjelasan para ulama tentang pengertian taubat yang nasuhaa.

  • Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu dan Ubay bin Ka’ab mengatakan, “ Taubat nasuhaa yaitu bertaubat dari perbuatan dosa kemudian tidak kembali lagi sebagaimana air susu yang tidak pernah kembali ke dalam payudara.”
  • Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata, “Taubat nasuhaa ialah seseorang menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.”
  • Al-Kalbi berkata, “Taubat nasuhaa ialah engkau memohon ampun dengan lisan, menyesal dengan hati, dan menahan diri dengan badan.”
  • Muhammad bin Ka’ab berkata: “Taubat nasuhaa meliputi empat hal: istighfar (memohon ampun) dengan lisan, berhenti dengan badan, berniat untuk tidak mengulangi dengan hati, dan menjauhi pergaulan yang buruk.
  • Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya At-Tahrim menyatakan, “Maksudnya adalah taubat yang sungguh-sungguh dan mantap. Taubat semacam ini dapat menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, menghimpun apa yang tercerai-berai pada diri yang bersangkutan, dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan tercela yang pernah dikerjakannya.”

 

  • Al-Allamah Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata: “Taubat nasuhaa meliputi tiga hal:
  • Pertama: Mencakup segala macam dosa.
  • Kedua: Bertekad dan bersungguh-sungguh untuk meninggalkannya.
  • Ketiga: Membersihkan dari hal-hal yang bisa merusak kemurniannya

Dengan demikian, kita memiliki gambaran yang jelas tentang syarat-syarat taubat. Ternyata taubat itu memiliki nilai yang agung. Taubat bukan sekedar ucapan kosong atau kata-kata biasa yang keluar dari mulut tanpa pemahaman dan pembuktian makna yang dikandungnya. Taubat harus disertai dengan melengkapi syarat-syaratnya dan meniadakan hal-hal yang bisa menghalangi keabsahannya.

Ayyuhal ikhwah fillah! Taubat wajib dilaksanakan secara langsung dan segera. Karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan hal itu. Karena dosa dapat membinasakan dan menjauhkan pelakunya dari Allah, maka wajib dijauhi dan ditinggalkan. Baik dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak sesama manusia.

  • Jika seseorang melalaikan ibadah, ia harus mengqadha’nya,
  • jika ia mengambil hak milik orang lain secara zhalim, ia harus mengembalikannya.
  • Jika ia menggunjing saudaranya, ia harus meminta kehalalannya (meminta maaf).
  • Jika ia merampas harta benda atau hak milik orang lain secara batil, ia harus mengembalikan-nya kepada pemiliknya.

Karena  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya: (HR Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra.) bahwa

Barangsiapa yang menguasai hak milik saudaranya secara zhalim, baik berupa harta maupun kehormatan, hendaklah ia mendatanginya lalu meminta kehalalan-nya, sebelum hak milik itu diambil darinya pada saat tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki kebajikan maka sebagian dari kebajikannya diambil untuk diberikan kepada sahabatnya (pemilik hak itu). Dan jika tidak maka sebagian dari keburukan sahabatnya (pemilik hak itu) diambil, lalu dilimpahkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari, 2449, 6534, dan Ath- Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyin, 1326 )

Ikhwatal Islam! Allah Subhanahu Wata’ala telah bermurah hati kepada hamba-hambaNya dengan membuka pintu taubat seluas-luasnya, seberat apa pun kesalahannya dan sebesar apapun kekeliruannya. Kendati mereka telah melakukan dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, sesungguhnya tidak ada yang lebih besar dari pada kufur kepada Allah. Namun demikian Allah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Menerima taubat. Allah berfirman:
قُلْ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَنتَهُوا يُغْفَرْ لَهُم مَّاقَدْ سَلَفَ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :”Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu. (QS. Al-Anfal :38)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَفَلاَ يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ma’idah :74)

Betapa luasnya kesabaran Allah terhadap hamba-hambaNya. Dan betapa besar anugerah dan karuniaNya. Hal itu didukung oleh firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS.Thaha :82)
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ :110)

 

Wahai umat Islam! Sebesar apapun dosa yang dilakukan manusia, sesungguhnya ampunan Allah jauh lebih besar. Maka barangsiapa menyangka bahwa ampunan dan rahmat Allah tidak akan mencukupi dosa-dosanya, berarti ia telah berperasangka buruk kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun,

Allah telah memperingatkan sebagaimana firmanNya:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلاَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

  • Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  • Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An-Nisa’ :17-18)

Ibadallah! Sampai kapankah kelalaian ini ?

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah. (QS. Al-Hadid :16)

Wahai orang-orang yang suka meninggalkan apa yang diwajibkan oleh Allah, seperti shalat, puasa, zakat dan bersilaturrahim!

Wahai orang-orang yang suka melakukan apa yang diharamkan oleh Allah, seperti syirik, meninggalkan shalat, menumpahkan darah, merusak kehormatan, meminum minuman keras, mamakai narkoba, tak menjaga tali silaturrahim, durhaka kepada orang tua, dan asyik bermain dan bercanda.

Segeralah bertaubat sebelum  terkubur di dalam tanah dan terseret malapetaka. (QS. Az-Zumar :53-56)

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَآأُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ. أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَى عَلَى مَافَرَّطتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,

  • janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
  • Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan:”Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. Az-Zumar :53-56)

Ya Allah, anugerahilah kami taubat yang nasuhaa, lindungilah kami dari kelalaian, dan peliharalah kami dari perbuatan dosa dan maksiat.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

 
al-quran-2-250x205

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ    أَمَّا بَعْدُ

 

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.

Ibadallah! Marilah kita bertakwa kepada Allah Saw.  Marilah kita buka lembaran baru di dalam hidup kita! Marilah kita berjanji kepada diri kita sendiri! Dan kita semua yang ada di tempat suci ini, marilah kita bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Wahai umat Islam! Siapa yang ingin menuai sukses dalam menjalankan ibadah   harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Yaitu dengan cara bertaubat, memperbanyak istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga ia dapat memperoleh ampunan, rahmat, kemerdekaan dari Neraka

Marilah kita berdoa :
Ya Allah, anugerahilah kami taubat yang nasuhaa, lindungilah kami dari kelalaian, dan peliharalah kami dari perbuatan dosa dan maksiat.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ

وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ  وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

 

SUMBER :

Sampai Kapankah Kelalaian Ini
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkhutbah&id=251

Dikutip dari buku : [Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]

10945547_10200350190073687_6761647511836910601_nDiedit/reposting   untuk Khotbah Jumat/Tausyiyah

oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160719 Sampai Kapankah Kelalaian Ini
https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com/

MENJADI ORANG YANG PALING BERMANFAAT

alquranKHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ   لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ   لاَشَرِ يْكَ لَهُ      وَ أَشْهَدُ أَنَّ   مُحَمَّدًا عَبْدُهُ   وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumullah.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, rezeki dan kesehatan kepada kita.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw.

Jamaah shalat jum’at yang berbahagia.   

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata :

“Jadilah kamu manusia yang paling baik di sisi Allah. Jadilah kamu manusia yang paling jelek menurut diri sendiri. Dan jadilah kamu manusia yang bermanfaat di tengah-tengah manusia”

Insan berdayaguna artinya berdaya dan berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Nilai-nilai seseorang ditentukan oleh manfaat yang dirasakan oleh orang lain.

Orang sekeliling merasakan manfaat dari apa yang dikatakan atau diperbuat. Bukan malah merugikan orang lain, kehadirannya membawa racun yang berbisa terhadap kehidupan masyarakat. Sekecil apapun, insane yang berdaya guna mempunyai andil manfaat di tengah masyarakat. Keberadaannya senantiasa dinanti, menjadi unsure perubah dan kebaikan bagi masyarakat.

Orang yang berdayaguna tidak saja mendapatkan penghargaan dari manusia, misalnya citra diri, namun mendapatkan kedudukan khusus di sisi Allah swt.

Dalam H.R. Tirmidzi, Rasulullah Saw. Bersabda:

“Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam. Begitu pula ruangan dalamnya dapat dilihat dari luar”.

Ada seorang dari desa bertanya:

  • Ya Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu.
  • Rasulullah saw menjawab : “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan kepada kepada orang lain, membiasakan shaum dan melakukan shalat malam ketika manusia sedang terlelap tidur”.

Menurut hadits tersebut, kamar yang indah di surga ternyata

  • diperuntukkan bagi yang berdayaguna untuk orang lain.
  • Disebutkan untuk orang yang selalu berkata baik,
  • perkataannya tidak menyinggung orang lain,
  • perkataannya benar tidak mengandung kebohongan,
  • perkataannya memiliki arti dan berguna untuk orang lain,
  • perkataannya selalu mengandung manfaat dan menentramkan orang lain.
  • Perkataannya tidak sia-sia, tidak menghina, meremehkan, dan menjengkelkan orang lain.
  • Menurut hadits itu juga ternyata kamar yang indah itu untuk orang-orang yang suka memberi makan kepada orang lain.
    • Memberi makan dalam arti luas adalah memberikan kehidupan dan kesejahteraan.
    • Suka memberi makan, sikap mulia dan terhormat.
    • Orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang berhati bersih, berjiwa besar.
    • Hatinya tidak pernah hasud, jiwanya bersih ingin selalu membahagiakan orang lain.
    • Dia tidak rakus, tidak pula memiliki keinginan untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain.
    • Bahkan hatinya senantiasa memiliki kesadaran yang kuat untuk selalu berbagi, selalu member, selalu membahagiakan.
    • Hidup baginya bukan untuk bersenang-senang, namun untuk menyenangkan orang lain.
    • Kebahagiaan baginya adalah membahagiakan orang-orang yang ada disekelilingnya.

Hadirin Rohimakumullah

Para sahabat nabi saw adalah gambaran manusia yang paling memiliki manfaat untuk masyarakat sekitarnya. Mereka telah memberikan andil besar untuk kemajuan Islam dan umatnya. Tidak ada keraguan di hati mereka. Hidupnya digunakan untuk selalu berbagi, selalu membahagiakan.

  • Sahabat Utsman ra salah satu contohnya. Dia pernah menyiapkan satu kafilah dagang ke negeri Syam, berupa 200 unta berikut pelana dan tapalnya. 200 ons emas untuk disadaqohkan. Kemudian bersadaqoh 100 unta berikut pelana dan tapalnya dan kemudian dia datang membawa 1.000 dinar lalu dibagikannya di ruangan Rasulullah saw. Dia bersadaqoh hingga mencapai 900 unta dan 100 kuda disamping uang.
  • Begitupula Abdurrahman bin Auf, dia tak pernah ketinggalan untuk memberikan hartanya untuk perjuangan Islam.
  • Abubakar pernah bersadaqoh dengan seluruh hartanya, tidak menyisakan untuk keluarganya.
  • Umar Ibn Al Khattab bersadaqoh dengan setengah harta yang dimilikinya
  • `Abbad, Thalha, Sa`ad bin Ubadah dan Muhammad bin Muslamah.
  • Begitu juga kaum perempuan saat itu tak ketinggalan melakukan sodaqoh gelang, kalung, cincin, permata dan yang lainnya disumbangkan untuk kemajuan Islam dan umatnya. Saat itu tidak ada orang yang bakhil kecuali hanya orang munafik. (Musa Syarif, 1998:66-67). Oleh karenanya sangat nista jika ada orang yang berani menghina, merendahkan dan mencela para sahabat.

Rasulullah saw. Bersabda:

  • Manusia yang paling baik adalah yang hidup di zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.. (HR. Al Bukhari)
  • Janganlah kalian mencaci sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian infak dengan emas sebesar gunung Uhud itu tidak akan pernah sebanding dengan infak satu mud atau setengahnya dari sahabatku (HR. Al Bukhari)

  أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

IMAG0059KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ    أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.

Para sahabat Rasulullah saw  senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri. Mereka selalu mencintai bukan mengharap cinta. Mereka selalu member bukan ingin diberi. Semoga ini menjadi contah tauladan kita semua.

Akhirnya, mari kita berdoa:
Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa-jiwa kami semua ketakwaannya, dan sucikanlah jiwa kami (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yangx Mensucikannya,
(dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.

اللهم وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة وأسألك كلمة الحق في الرضا والغضب وأسألك القصد في الفقر والغنى

“Ya Allah, aku minta kepada-Mu rasa takut kepada-Mu di waktu sendirian maupun di hadapan orang lain, dan aku minta kepada-Mu ucapan yang benar dalam keadaan senang maupun marah, dan aku minta kepada-Mu kesederhanaan di waktu miskin maupun kaya.”[8]

  رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Wahai Rabb kami, Janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)

رَبّنَآ ءَاتِنَا فِى الدّنْيَ حَسَنَةً وَ فِى اْلَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النّارِ، وَ الْحَمْدُ لِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ

وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ  وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

Assalamualaikum Wr. Wb.

SUMBER :

Penulis: Amril Syaifa Yasin
Artikel Bulletin Da`wah No.36 Tahun XXXIX 7-9-2012

araDiedit  untuk Khotbah Jumat/Tausyiyah

oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160717 MENJADI ORANG YANG PALING BERMANFAAT

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

https://fuuindonesia.wordpress.com/

A. ROZAK ABUHASAN MBA – Google+

http://arozakabuhasan.blogspot.co.id/

MEMBENTUK MUSLIM SEJATI

 

Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ।

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ؛

Hadirin  yang dimuliakan oleh Allah Swt…
Izinkanlah saya berwasiat baik bagi diri saya pribadi, maupun bagi hadirin sekalian, untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan diri kita kepada Allah Swt.

 

Lebih dari 50 kali di dalam Al-Quran Allah Swt berfirman: Ittaqullâh, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah! Pengulangan yang teramat sering ini menunjukkan bahwa, takwa sangatlah penting artinya bagi setiap muslim. Karena hanya dengan takwa kepada Allah sajalah, kita akan dapat hidup bahagia, di dunia ini maupun di akhirat.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan sebuah materi tentang bagaimana kiat membentuk diri ini menjadi seorang muslim sejati?

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh…
Saat ini, banyak orang mengaku dirinya sebagai muslim. Data statistik dunia terakhir menunjukan ada 1,7 milyar lebih di dunia ini jumlah penduduk dunia yang beragama Islam. Tapi, dari sekian jumlah yang ada itu, sangat sedikit yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim. Selebihnya, mempunyai kepribadian terpisah (split personality). Orang semacam ini agamanya saja sebagai muslim, namun, perilaku, sikap, dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan keislamannya.

 

Kalau demikian adanya, bagaimana Islam dapat menjadi rahmah? Jika para pemeluknya tidak memahami, menghayati dan mengamalkan Islam? Persis seperti apa yan telah disinggung oleh rasulullah Saw:

Mari kita renungkan sabda Rasulullah
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ (سنن أبي داود: 3745)

  • Rasulululullah Saw bersabda: “suatu saat nanti kalian akan dikeroyoki oleh berbagai suku bangsa seperti mereka mengeroyoki makanan”.
  • Salah seorang bertanya: “Apakah kami saat itu minoritas ya Rasululullah?” “Tidak”, jawab Rasulullah, “bahkan kalian saat itu mayoritas, tetapi hanya bagai busa.
  • Allah hilangkan rasa takut di hati musuh-musuh kalian dan Allah tumbuhkan di dalam hati kalian kehinaan!
  • Lantas ada yang bertanya: “Kehinaan bagaimana ya Rasululullah?” Nabi pun menjawab: “cinta dunia dan takut mati”.

    Lihatlah kondisi masyarakat kita saat ini yang berada dalam keadaan lemah, hina, rendah diri, terbelakang, dan ditimpa berbagai krisis maupun perpecahan.

 

Di mana-mana kerusakan merajalela, kebodohan, dekadensi moral dan hal-hal negatif lainnya. Saat ini kita  mengalami krisis diberbagai aspek kehidupan, krisis multi dimensial!

Kondisi semacam ini tidak mungkin terus menerus dibiarkan. Siapapun yang merasa sebagai muslim yang memiliki ghirah (semangat) keislaman, tidak akan merelakan hal ini.

 

Agama kita bukan agama fardiyah (individual), tetapi agama pemersatu (ummatan wahidah), bahkan satu jasad. Jika sakit salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakannya.

 

Islam bukan hanya agama ibadah. Tetapi merupakan the way of  life (jalan hidup) yang paripurna, mengatur segala urusan dunia-akhirat. Agama Islam  mengajak kepada wihdah (persatuan), al-quwwah (kekuatan), al ‘izzah (harga diri), al-‘adl (keadilan), dan juga kepada jihad (perjuangan).
Maka, misi risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini bertujuan untuk memberikan hidayah (petunjuk) manusia pada agama yang haq, yang diridhoi Allah.

 

Fungsi Islam yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia ini, tidak mungkin terwujud, kecuali jika benar-benar diamalkan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian, atau mempunyai jati diri sebagai seorang muslim. Karenanya, semua itu pasti berawal dari diri, lalu keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Hadirin …………  Sebagaimana kita tahu, hidup merupakan suatu perjalanan dari satu titik ke titik yang lain, beranjak dari garis masa lalu, melewati masa kini, untuk menuju masa depan. Masa lalu adalah sebuah sejarah, masa kini adalah realita dan masa yang akan datang adalah cita-cita.

 

Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak akan membiarkan hidup ini sia-sia.

 

Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang muslim tidak akan pernah ditimpa kecuali kebaikan, apabila ditimpa kejelekan ia bersabar, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia bersyukur.”

Seorang Muslim seharusnya tidak akan pernah mengeluh menghadapi kehidupan, karena ia telah memiliki kepribadian yang utuh dalam menghadapi segala macam ujian hidup.

Untuk menjadi pribadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Islam, sudah semestinya memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, juga telah dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt dan rasul-Nya.

 

Nilai-nilai tersebut, jika disederhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat yang mesti melekat di dalam diri seorang muslim:

1. Salâmatul ‘aqîdah (Keyakinan yang benar)
Hidup di dunia ini bagai orang yang tengah mengadakan suatu perjalanan. Coba bayangkan, seandainya dalam suatu perjalanan tidak mengetahui arah mana yang akan anda tuju.   Di terminal bus, di dermaga, atau di bandara, anda terduduk sambil bertanya hendak kemanakah diri ini harus pergi?

 

Apa yang akan terjadi?

Sudah bisa dipastikan anda akan mudah tersesat. Mengapa? Karena tidak mempunyai keyakinan pasti untuk sampai kepada suatu tujuan.

Demikian halnya dengan perjalanan seorang muslim di dunia ini, dia harus mempunyai keyakinan yang lurus, sebagai sarat untuk dapat sampai kepada tujuannya.
Ada enam hal yang membuat seorang muslim yakin terhadap tujuan perjalanannya. Iman (yakin) kepada keberadaan Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari akhir, dan Qadla-Qadar.

 

  • Keyakinan terhadap Allah membuat Muslim selalu dalam keadaan optimis akan pertolongan-Nya.
  • Yakin terhadap Malaikat membuat seorang Muslim menyadari bahwa makhluk Allah yang paling taat ini, akan selalu mencatat segala amal perbuatannya kita di dunia ini, semoga amal perbuatan Muslim selalu dipenuhi dengan hal-hal positif.
  • Yakin terhadap kitab, membuat muslim selalu membaca panduan hidupnya setiap saat.
  • Yakin terhadap Rasul, membuat Muslim memantapkan langkahnya hidup di dunia, bahwa Allah tidak meninggalkannya tanpa pemandu perjalanan yang panjang ini.
  • Yakin terhadap hari akhir, membuat muslim tahu akan tujuan akhirnya.
  • Iman kepada qadla dan qadar bahwa ketentuan ada pada Aallah Swt.

 

  1. Shihhatul ‘Ibâdah (Ibadah yang benar)
    Apabila sudah yakin dengan perjalanan yang sedang dilakukan ini. Tinggal bagaimana harus melaluinya dengan baik, sehingga tidak tersesat.
  • Karenanya, ibadah adalah implementasi dari sebuah keyakinan. Yang perlu kita sadari adalah, bahwa ibadah dalam Islam bukanlah merupakan taklif (pembebanan), melainkan tasyrif (pemuliaan) dari Allah Swt. Ketika seorang manusia dijuluki oleh Allah ‘ibadullah, maka ia termasuk orang-orang yang dikasihi-Nya.

    Ibadah dalam Islam bukan hanya mencakup ritual keagamaan semata, semisal: shalat, zakat, puasa dan haji, tetapi semua lini kehidupan di dalam memakmurkan dunia ini yang tidak bertentangan dengan landasan Al-Quran dan Sunnah, semisal mencari nafkah secara halal, berhubungan baik dengan keluarga, menuntut ilmu dan lain

 

sebagainya. Sebagaimana firmannya:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الجمعة: 10)
“Jika shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.

Demikianlah, seorang Muslim harus memahami arti ibadah dengan benar. Ibadah yang benar lahir dari aqidah yang benar. Ibadah yang benar adalah ibadah yang membawa pengaruh bagi dirinya, orang lain dan melahirkan ketaqwaan.

3. Matînul Khulûq (Akhlaq yang kokoh)
Memang, menjadi orang baik itu sulit, namun mudah bagi yang memiliki tekad dan kemauan.

Awal dari segala sesuatu itu susah. Namun, jika sudah terbiasa, tidak akan pernah mengatakannya sulit.

Setelah beberapa kali mencobanya, anda sudah mulai terbiasa.   Demikianlah, ketika mulai berlatih mengendalikan diri, membiasakan dengan hal-hal yang baik, dan menjauhi sikap-sikap yang tidak berguna.

 

Semakin dibiasakan, perilaku itu keluar dengan sendirinya secara otomatis. Inilah yang disebut akhlaq, yaitu perilaku yang keluar secara otomatis, dan mencerminkan ekspresi diri seseorang di segala tempat dan waktu.

 

Jadi, akhlaq bukanlah perilaku kondisional, yang hanya diekspresikan pada waktu-waktu tertentu saja, tetapi memiliki akhlak yang komit, tidak fluktuatif, dan tidak berubah dalam kondisi bagaimana pun.

 

Allah Swt berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: 4)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”. (QS. Al-Qalam :4)

4. Tsaqôfatul Fikr (Wawasan pengetahuan yang luas)
Menjalani kehidupan di dunia ini tidak hanya sekedar mengandalkan keyakinan, ibadah dan akhlaq. Siapapun orangnya, ketika sedang melakukan perjalanan pasti membutuhkan pengetahuan tentang apa yang sedang ia tuju. Ketika hendak bepergian, tentu perlu  mencari informasi tentang kondisinya, cuacanya, transportasi, budayanya, makanannya, dan hal-hal lain yang perlu anda dipersiapkan sejak dini. Dengan informasi seperti itulah seseorang mampu mengira-ngira apa yang dapat dikerjakan sekarang, untuk persiapan nanti.

Begitu pula halnya dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Kita tentu butuh informasi-informasi yang diperlukan dalam melanjutkan perjalanan hidup.

Wawasan itulah yang akan memandu perjalanan hidup kita. Proses yang sedang kita  jalani dalam hidup ini juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang akan menjadi guru terbaik..

 

Allah Swt berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (الزمر: 9)
“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesunguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Karenanya, bagi seorang muslim, mencari ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban.

5. Quwwatul Badân (Tubuh yang kuat)
Persiapan jasmani sebaik mungkin untuk dapat melanjutkan perjalanan secara vit dam prima. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat.

 

Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Nabi bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ (مسلم وابن ماجه وأحمد)
“Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim, Ibnu majah dan Imam Ahmad)

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Namun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi.

  1. Al-Qudrah ‘ala al-Kasbi (Mampu mencari nafkah)
    Mengenai tentang bagaimana seharusnya menempuh perjalanan hidup ini. Sebagaimana seseorang yang sedang dalam perjalanan, harus mempunyai bekal.
  • Pertama, bekal persiapan untuk tujuan akhir nanti setelah sampai tujuan.
  • Yang kedua, bekal dalam perjalanan itu sendiri.

    Nah, begitu pula di dunia ini. Hidup di dunia adalah suatu perjalanan, tujuan kita adalah akhirat.

Namun, persiapan bekal untuk akhirat, tidak menutup kita untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan hidup di dunia ini untuk diri sendiri dan keluarga.

 

  • Rasulullah pernah mengingatkan kita untuk bisa menyeimbangkan antara keduanya. “Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan beramal buat akhiratmu, seakan-akan kau akan menemui ajal esok pagi.”

Agama kita melarang umatnya untuk bersikap santai, bermalas-malasan. Para sahabat mencontohkan, jika terdengar adzan maka mereka segera ke masjid, jika selesai melaksanakan kewajibannya maka mereka kembali bertebaran di muka bumi untuk kembali melanjutkan usahanya sambil berdoa,”Ya Allah, kami telah memenuhi panggilan-Mu dan telah melaksanakan apa yang telah Engkau wajibkan, sekarang kami menyebar (berusaha) sebagaima Engkau perintahkan, maka berilah kami rizki karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi Rizki.

  1. Nâfi’an li Ghairihi (Bermanfaat bagi lainnya)
    Banyak orang yang menyangka, bahwa keberhasilan adalah semata-mata kesuksesan yang diperoleh seseorang secara individu. Mungkin seseorang merasa bangga telah berhasil memperoleh gelar sarjana, majister, atau bahkan doktor. Atau merasa bangga telah memperoleh keuntungan bermilyar-milyar, masuk dalam kantong sendiri.
  • Benarkah itu yang disebut keberhasilan dalam pribadi seorang Muslim?

    Seorang muslim yang berhasil adalah yang mampu menjadi pelita bagi sekelilingnya. Ia mampu menerangi keluarga dan masyarakatnya, dengan sikap, perilaku, ilmu, harta, dan amal nyata.

 

Pantulan dirinya sebagai muslim benar-benar dirasakan, sehingga dapat menebar kesejukan orang-orang yang bersamanya. Sebaik-baik muslim adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

 

Relevan dengan sabda Rasulullah Saw:
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ (رواه أحمد)
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang selalu diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, adapun seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Ahmad)

8. Hârisan ‘ala waqtihi (Mampu mengatur waktu)
Dalam Al-Quran Allah SWT banyak bersumpah  dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Banyak masalah yang timbul, karena seseorang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik. Ia tidak bisa mencapai target dari rencana. Ia kehilangan beberapa momen penting, hanya karena waktu yang telah berlalu begitu saja di hadapannya. Untuk itu, pribadi Muslim hendaknya selalu siap dengan situasi dan waktu.               Ia dapat mengatur seberapa banyak waktu untuk beribadah mahdhah, dan untuk bermu’amalah. Semuanya perlu diatur sehingga seimbang.

Waktu adalah kehidupan, sehingga orang yang tidak bisa mengatur waktu akan kehilangan momen hidupnya, bahkan bisa tergilas dengan waktunya sendiri.

 

Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:
الوقت كالسيف فإن لم تقطع به فإنه قطعك!

“Waktu itu bagaikan sebilah pisau, jika tidak kamu gunakan untuk memotong, niscaya ia yang akan memotongmu!”
Sehingga seorang muslim tidak akan menjadi manusia yang merugi sebagaimana yang disinyalir QS.Al Ashr:1-3.

9. Munâzhzhoman fi syu’ûnihi (Mampu mengatur urusannya)
Hidup kita di dunia ini penuh dengan berbagai aktifitas yang luar biasa banyaknya. Karena itu, sebagai seorang muslim harus pandai untuk memilah dan memilih, mana saja aktifitas yang sesuai dengan pandangan hidupnya sebagai seorang muslim berdasarkan skala prioritas. Karena pada prinsipnya, tugas atau kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia.

10. Mujâhidan linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu)
Mujâhadatunnafs merupakan salah satu upaya yang mesti bagi setiap pribadi muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan kepada yang baik dan yang buruk.

Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya tekad dan kesungguhan. Karena hawa nafsu adalah sebesar-besarnya jihad di dalam Islam,

seperti apa yang telah dikatakan oleh Sayidina Ali Karamallahu wajhah sepulangnya dari peperangan Badar Al-Kubra yang dahsyat dengan mengatakan masih ada jihad yang lebih besar lagi daripada peperangan yang baru saja berlalu.

 

Nabi Saw mengatakan:
لا يؤمن أحدكم حتي يكون هواه تبعا لما جئت به (رواه احاكم)
“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)”. (HR. Hakim)

Demikianlah sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar menjadi muslim sejati sebagaimana yang digariskan oleh Al-Quran dan Sunnah.

 

Hal tersebut tidak akan kita miliki, kecuali dengan amal usaha yang sungguh-sungguh, melalui pendidikan dan pengarahan yang intensif secara berkesinambungan dan kontinyu, hingga akhir hayat kita.  Semoga Ramadhan ini dapat menempa kita semua menjadi muslim sejati menuju insan muttaqin.

 

Orang yang memiliki kesepuluh sifat ini, insya Allah dapat diandalkan dalam memikul Misi Risalah Islam. Dengan kesepuluh sifat ini, Islam akan benar-benar memancarkan rahmatan lil ‘alamin..
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الحمد لله الملك الوهاب، الجبارالتواب، الذي جعل الصلات مفتاحا لكل باب، فالصلاة والسلام علي من نظر الي جماله تعالي بلا سطر ولا حجاب وعلي جميع الآل والأصحاب وكل وارث لهم الي يوم المآب. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده. أما بعد.

Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan oleh Allah Swt…
Saat ini, ummat sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang dapat menyelamatkan mereka dari kebingungan, keterpecahan dan keterpurukan. Siapa lagi kalau bukan anda? Diharapkan kita semua menjadi orang yang dapat menyelesaikan masalah, bukan malah sebaliknya, menjadi orang yang bermasalah atau suka bikin masalah !?
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ

. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

MEMBENTUK MUSLIM SEJATI
Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.A

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160626 Membentuk Muslim Sejati

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com

 

Kehidupan Dunia Hanyalah Kesenangan Yang Menipu

20141130_083549KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ   لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ   لاَشَرِ يْكَ لَهُ      وَ أَشْهَدُ أَنَّ   مُحَمَّدًا عَبْدُهُ   وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin jamaah jumat rahimakumullah.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan, rezeki dan kesehatan kepada kita.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Allah SWT telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad Saw. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ikhwatal Iman rahimakumullah

Jamaah shalat jum’at yang berbahagia.         

Selanjutnya, izinkanlah khatib mengingatkan kita semua termasuk diri khotib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.  Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak, kecuali taqwa

Allah berfirman (QS Ar Ruum 30:24)  

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَ‌ٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿٢٤﴾

  1. 24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalny(QS Ar Ruum 30:24)

 

Dalam Surat Ali Imran 3:190

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾

QS 3:190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

 Dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa Allah mengingatkan pada setiap orang untuk mempergunakan akalnya.

Bahkan di surat Yunus 100 Allah menyatakan : dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Firman Allah (QS Yunus 10 : 100)

  1. dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

 

 Minimnya ilmu, tipisnya iman terkadang membuat seseorang tidak mau berfikir, tidak mau menggunakan akal yang dianugerahkan Allah.

Kuatnya dorongan hawa nafsu kerap kali menutup pintu hati seseorang untuk memahami hakikat kehidupan dunia yang sedang dijalaninya, sehingga akal yang dianugerahkan Allah tidak dipergunakan sama sekali.

 

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿٢٠﴾

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur, dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)

Jamaah sholat Jumat Rohimakumullah

Oleh sebab itu,  Allah Swt. mengingatkan orang-orang yang beriman agar berpegang teguh dengan agama yang mulia ini dan meninggal dunia sebagai pemeluknya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali meninggal dunia melainkan sebagai pemeluk agama Islam.” (Ali Imran: 102)

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ

 

 

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Masjid Al-Fajr Rahimakumullah,

Mari kita mempergunakan akal yang dianugerahkan Allah Swt. kepada kita. Jangan sampai kelak kita karena tidak mau mempergunakan akal maka termasuk orang yang rugi.

Salah satu ajaran yang perlu kita ketahui adalah ajaran sesat syiah dengan keyakinan taqiyahnya.

Syiah menganggap bahwa taqiyah adalah salah satu pokok ajaran agama. (Memandang Syiah dari Taqiyah hingga kesesatannya) Abu Zahra 1435H: hal. 6 – 7)

  • Barangsiapa meninggalkan taqiyah, sama hukumnya dengan meninggalkan shalat.
  • Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh dihapuskan sampai yang berwenang tampil,
  • Barangsiapa meninggalkannya sebelum ia tampil, ia telah keluar dari agama Allah dan dari agama Imamiah. Syiah mengambil dalil dari firman Allah Ali Imran 28 إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً “kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”.
  • Dokrin taqiyah juga dihubung-hubungkan dengan Muhammad Al Baqir yang dikenal juga dengan Abu Ja`far Imam yang kelima dengan ucapannya “Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada imannya seseorang yang tidak memiliki taqiyah”
  • Pemahaman taqiyah itu sampai pada batas dusta dan haram (dalam pengertian aqidahnya ditutupi, sampai berani bersumpah akan penyangkalan ke Syiahannya.
  • Taqiyah juga dapat diartikan sebagai kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam bathinnya tidaklah sama.
  • Menurut Syiah taqiyah wajib dilakukan, jadi taqiyah menjadi salah satu prinsip Syiah (dilakukan pura-pura kepada orang selain Syiah. Misal Al-Quran Syiah = Al-Quran Ahlussunnah. Syiah juga bertaqiyah mengakui pemerintahan Islam selain Syiah.

Taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran (hal.7)

  • Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada di dalam hatinya.
  • Digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah
  • Berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan
  • Digunakan disaat berada dalam kondisi mencemaskan.

Ciri-Ciri orang Munafik pengikut Syiah

(hal. 11-13 Memandang Syiah dari Taqiyah hingga kesesatannya) Abu Zahra 1435H:

  • Syiah tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Sayyidina Abubakar, Umar, Utsman dan mayoritas sahabat lainnya.
  • Kebanyakan penganut Syiah selalu membawa Turbah yaitu tanah (dari Karbala) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud bila mereka shalat tidak didekat orang lain (non Syiah). Jika didekat orang lain maka Turbah tersebut dapat diganti dengan selembar daun/kertas/kayu/sesuatu alasselain dari kain dan plastic dan sejenisnya.
  • Tidak mengerjakan shalat Jumat. Meskipun shalat Jumat bersama jamaah muslimin, penganut Syiah akan langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. à orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah padahal dia menyempurnakan shalat dhuhur empat raka`at, karena pengaut Syiah tidak meyakini  keabsahan shalat Jumat kecuali bersama Imam yang ma`shum atau wakilnya.
  • Tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali mengucapkan takbir dengan menolehkan wajah ke kanan dan ke kiri.
  • Jika penganut Syiah hadir dalam Majelis Taklim Ahlus Sunnah. Jikapun hadir hanya untuk meneliti ataupun mencari kelemahan umat Muslimin.
  • Kita akan melihat penganut Syiah banyak-banyak mengingat Ahlul Bayt, Sayyidina Ali, Fathimah, Hasan dan Husain r.a.(m)
  • Pada bulan Ramadhan penganut Syiah tidak langsung berbuka puasa setelah azan maghrib. Buka puasa baru jika bintang-bintang sudah Nampak dilangit / mega merah sudah menghilang. Dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam (seperti orang Yahudi berbuka puasa pada hari Sabat). Syiah tidak mengerjakan shalat tarawih, karena menganggap sebagai bid`ah.
  • Penganut Syiah tidak akan memegang dan membaca Al-Quran à kecuali jarang sekali sebagai bentuk taqiyah karena Al-Quran yang benar menurutnya adalah al-Quran yang berada ditangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.
  • Penganut Syiah berusaha sekuat tenaga untuk menanamkan dan menimbulkan fitnah antara muslim satu dengan muslim yang lain, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan muslimin. Penganut Syiah juga sering membuat pernyataan yang berhubungan dengan Al-Quran dan Al-Hadits yang bertujuan membuat bingung muslimin yang masih awwam.
  • Syiah juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau diperkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginan melakukan mut`ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syiah.
  • Orang-orang Syiah sangat antusias mendakwai orang tua yang memiliki anak perempuan, dengan harapan anak perempuannya juga ikut menganut Syiah, sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zinah mut`ah. à Pada hakikatnya ketika ada seorang ayah menerima agama Syiah, maka para pengikut Syiah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk di mut`ah setelah mereka berhasil meyakinkan b olehnya mut`ah. Hampir semua kemudahan, kelebihan dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syiah menjerat mereka bergabung dengan aga Syiah.

Adapun cirri-ciri yang lain adalah ketika menyebut para sahabat radhiallahu`anhum tidak ada rasa hormat, dan jika pun mereka mendengar ada para Imam dihina dan para hujjah Syiah seperti ayatollah Khumaini dan lainnya dihina maka kelihatan dari raut wajah dan mulut menandakan kemarahan.

 

Akhirnya, semoga Allah Swt.  membimbing kita dalam kita menjalani sisa umur kehidupan kita di dunia ini, sehingga dapat istiqamah di atas agama-Nya yang mulia serta berpijak di atas manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dengan satu harapan, mendapatkan kesudahan terbaik dalam hidup ini (husnul khatimah) dan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya yang dipenuhi dengan kenikmatan

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb, Janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِناَ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami ini diatas agama-Mu.”

(HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 232 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

رَبّنَآ ءَاتِنَا فِى الدّنْيَ حَسَنَةً وَ فِى اْلَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النّارِ، وَ الْحَمْدُ لِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالإِحْسَنِ

وَإِيْتَا ئِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ,

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُواللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ  وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

 

 

SUMBER :

Berbagai sumber

 

10945547_10200350190073687_6761647511836910601_nDi edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah                                                                                      Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

 

20160606 Kehidupan Dunia Hanyalah Kesenangan Yang Menipu (Taqiyah Syiah)

https://arozakabuhasan.wordpress.com/                                          http://arozakabuhasan.blogspot.com                                  

 

Ramadhan untuk meraih predikat taqwa

RAMADHAN UNTUK MERAIH PREDIKAT TAQWA

KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ  وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا

أَمَّا بَعْدُ

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang telah memberikan limpahan kenikmatan yang tidak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita; kenikmatan yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitung-hitungnya; Kita bersyukur atas segala Karunia-Nya terutama nikmat Iman, Nikmat Islam, nikmat Rezeki dan Kesehatan serta kesempatan beribadah dalam bulan Ramadhan sampai hari ini.

 

Sholawat serta salam semoga Allah curahkan selalu kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., kepada keluarga dan sahabatnya serta kepada kita dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman., Amin Ya Robbal Alamin.

 

Jamaah sholat tarawih sekalian Rohimakumullah

Bulan Ramadhan, bulan mulia yang penuh barokah;  bulan Ramadhan bulan rahmat dan Ramadhan sebagai bulan ampunan  semoga Allah memuliakan dan memberikan berkah serta merahmati kita semua;   serta semoga Allah mengampuni kita semua.  Amin Ya Robbal Alamin.

 

Hadirin Rohimakumullah

Tiada terasa hari demi hari demikian cepat berlalu, akankah Ramadhan ini akan kita jalani seluruhnya, dan apakah Ramadhan yang akan datang dapat kembali kita jumpai, tak seorang yang tahu hanya doa saja yang dapat kita mohonkan. Semoga Ramadhan ini dapat kita jalani seluruhnya, demikian pula semoga Ramadhan yang akan datang masih dapat kita jumpai, Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Ikhwatal Iman rahimakumullah… jamaah shalat tarawih yang berbahagia.

Ramadhan yang saat ini kita jalani, merupakan bulan Tarbiyah / pendidikan.  Allah mewajibkan puasa ini tidak lain agar kita bisa meraih taqwa.   firman Allah :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. 2 : 183)

Hadirin semoga dirahmati Allah.

Keutamaan takwa sangat sering kita dengar, antara lain firman Allah,

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (Q.s. ath Thalaq: 2).
Juga firman-Nya

,         وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Q.s. ath Thalaq: 4).

 

Firman Allah QS. Ath Thalaq ayat 5 :

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya. (Q.s. ath Thalaq: 5).

 

HADITS ARBA’IN NAWAWI 18 (PERBUATAN BAIK/TAKWA DAPAT MENGHAPUS DOSA)

 
عن أبي ذر جندب بن جنادة وأبي عبدالرحمن معاذ بن جبل رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ” اتق الله حيثما كنت , وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن ” رواه الترمذي , وقال : حديث حسن وفي بعض النسخ : حسن صحيح

 

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda :

 

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih)
  [Tirmidzi no. 1987]

 

 

 
Hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya segala amal kebajikan menghapus segala perbuatan dosa”. (QS. Huud : 114)

Sabda beliau “bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik” maksudnya bergaullah dengan manusia dengan cara-cara yang kamu merasa senang bila diperlakukan oleh mereka dengan cara seperti itu.

Ketahuilah bahwa yang paling berat timbangannya di akhirat kelak adalah akhlaq yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat kepadaku posisinya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaqnya diantara kamu”.

Akhlaq yang baik adalah sifat para nabi, para rasul dan orang-orang mukmin pilihan. Perbuatan buruk hendaklah tidak di balas dengan keburukan, tetapi dimaafkan serta dibalas dengan kebaikan.

 

Semoga ibadah Ramadhan kita tahun ini, di terima Allah dan kita mendapatkan predikat taqwa.

 

 

         أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah   yang berbahagia.

 

Pernahkah kita berpikir kalau ramadhan ini adalah ramadhan terakhir yang Allah taqdirkan buat kita, maka apa yang kita akan perbuat di dalamnya?
Seseorang yang tahu kalau hidupnya akan berakhir saat itu, pastinya dia akan menyiapkan segala bekalnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin.

Maka dia akan menjadikan ramadhannya kali ini menjadi ramadhan terbaik dan berkualitas dari sebelum-sebelumnya.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

 

 Mari kita berdoa :

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ وَنَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَعُوْذُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

Ya Allah, sesungguhnya kami memuji-Mu, meminta tolong kepada-Mu, dan memohon petunjuk dari-Mu, kami berlindung dan bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan segala kebaikan, kami bersyukur atas semua nikmat-Mu, kami tidak mengingkari-Mu, kami berlepas diri dari siapa pun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu shalat dan sujud kami, dan hanya kepada-Mu kami berusaha dan bergegas, kami sangat mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya azab-Mu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ

 

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِى اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَنْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

 

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah Pendirian kami, tolonglah kami terhadap kaum kafir (Ali Imran 147) 

رَبَّنَالاَتُزِغْ قُلُوْبَنَابَعْدَ اِذْهَدَ يْتَنَا وَهَبْ لَنَامِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ  اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ  اَعْيُنٍ وَجَعَلْنَا لِلْمُتَّقِنَ اِمَامًا

رَبَّنآاَ اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الاخِرَةِحَسَنَةً وَقِنَاعَذَابَ النَّارِْ.

  رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَاغَفَارُ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

AMIN YA ROBBAL ALAMIN.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

 

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

araDiedit ulang untuk Khutbah Jumat/Tausiyah

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160606 Ramadhan untuk meraih predikat taqwa

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com/

3 AMAL YANG PAHALANYA TIDAK TERPUTUS

13220967_883602848433147_2026128246319814121_nKHUTBAH PERTAMA

نَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ  وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا     أَمَّا بَعْدُ

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat iman, sehat dan kesempatan kepada kita.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Alhamdulillah kita dapat  melangkahkan kaki kita menuju masjid NURUL HIKMAH ini, berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, kemudian melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini. Semoga kehadiran ini kita dapat mengantarkan kita sebagai salah seorang yang dikatagorikan bertakwa oleh Allah Swt. dan dicatat sebagai amal ibadah

Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Melalui mimbar ini, khotib menyerukan kepada jama’ah semua termasuk diri khotib sendiri  untuk bertakwa. Bertakwa kepada Allah  Swt. dengan semurni-murninya. Takwa hanya kepada Allah tidak kepada yang lain.

Hadirin rohimakumullah.

3 AMAL YANG PAHALANYA TIDAK TERPUTUS

Ada sepasang suami istri yang alhamdulillah sangat kaya dan juga shaleh.

Mereka berulangkali berhaji. Setiap tahun juga mereka melakukan umrah. Berapa banyak harta yang mereka habiskan untuk Haji dan Umrah.

Seorang ulama berkata bahwa amal mereka itu bagus dan mendapat pahala. Hanya saja, jika mereka sudah meninggal, tentu mereka tak bisa melakukan Haji dan Umrah lagi. Pahalanya pun berhenti mengalir.

Nah, maukah saya beritahu amal-amal yang pahalanya akan terus mengalir meski bapak ibu sudah meninggal dunia? Ini dia:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa’ 40]

Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.

Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat dia meninggal, dia tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat seseorang mati, terputus amalnya selain 3 amal yang di atas.

Oleh karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke neraka jahannam.

SEDEKAH JARIYAH

Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu:

1) ilmu yang bermanfaat,

2) doa anak sholeh,

3) sedekah jariyah (wakaf),

4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan,

5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an,

6) berjuang dan membela tanah air,

7) membuat sumur,

8) membuat irigasi,

9) membangun tempat penginapan bagi para musafir,

10) membangun tempat ibadah dan belajar.

Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.

Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.

Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah:

Hadits riwayat Usman bin Affan ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)

ILMU YANG BERMANFAAT

Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.

Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.

Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.

Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala. Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.

Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.

Bagaimana jika kita bukan orang yang pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat, membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]

 

Rasulullah saw. bersabda:

عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي
Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

 

Image012KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، أَمّا بَعْدُ
 

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Amal ke-3 yang pahalanya tidak terputus adalah :

ANAK SHOLEH YANG MENDOAKANNYA

Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.

Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?

Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.

Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.

 

Hadirin Rohimakumullah.

  • Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kekuatan untuk mempertahankan iman dan berikan kesempatan kami untuk merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini.
  • Anugerahkan kami dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

 

  • Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang terdiri dari bangsa jin dan manusia yang merusak amal ibadah yang kami lakukan.

 

  • اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
  • Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

 

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات

و الذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
Assalamu`alaikum Wr. Wb

SUMBER

Dikutip dari : media-islam.or.id

ANNAS logoPenulis : – https://www.facebook.com/ANNAS.INDONESIA?fref=ts

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

logo_al_fajrOleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160527 3 AMAL YANG PAHALANYA TIDAK TERPUTUS

https://arozakabuhasan.wordpress.com/                                          http://arozakabuhasan.blogspot.com

http://alfajrbandung.wordpress.com/

 

 

 

Harga Iman (HARGA IMAN LEBIH DARI HARGA EMAS SEPENUH BUMI)

 

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.  مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.  أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ  وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ  وَاْلأَرْحَامَ    إِنَّ اللهَ   كَانَ    عَلَيْكُمْ  رَقِيبًا     أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat iman, sehat dan kesempatan kepada kita.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Alhamdulillah kita dapat  melangkahkan kaki kita menuju masjid NURUL HIKMAH ini, berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, kemudian melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini. Semoga kehadiran ini kita dapat mengantarkan kita sebagai salah seorang yang dikatagorikan bertakwa oleh Allah Swt. dan dicatat sebagai amal ibadah

Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Melalui mimbar ini, khotib menyerukan kepada jama’ah semua termasuk diri khotib sendiri  untuk bertakwa. Bertakwa kepada Allah  Swt. dengan semurni-murninya. Takwa hanya kepada Allah tidak kepada yang lain.

Hadirin rohimakumullah.

Marilah kita renungkan firman Allah Swt. (QS. At-Taubah 9:111)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَ‌ٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١١١﴾

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. (Q.S. At-Taubah: 111)

Demikian sebuah gambaran yang diberikan oleh Allah Swt. dalam ayat-Nya Yang Mulia tentang harga iman pada diri seorang mukmin. Jiwa dan harta orang-orang yang beriman akan ditukar dengan jannah (surga) di akhirat kelak yang nilainya, kenimatannya, keindahannya, kepuasannya, kebahagiannya tidak terhingga, tidak dapat diukur. Taman keindahan tanpa cela dengan kebahagiaan tanpa batas. Setiap jiwa orang yang memiliki iman, yaitu iman yang murni, iman hanya kepada Allah saja, dijanjikan jannah, itulah janji yang benar dari Allah  sebagaimana ayat diatas.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Firman Allah Swt   (QS. Ali Imran 3:91)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu). Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Q.S. Ali ‘Imran: 91)

Jelas sekali disebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka Allah tidak akan menerima tebusan dari orang-orang yang tidak beriman itu dengan emas sepenuh bumi sekalipun.

Bisa kita bayangkan harga emas 1 gram saja misalnya Rp.300.000,- Seorang dengan berat 50 kg saja = 50 x 1000 x rp.300.000 = Rp.15.000.000.000,- (limabelas milyar rupiah) . Lalu emas sepenuh bumi. Apa ada diantara kita yang bisa menghitung atau setidaknya membayangkan berapa berat bumi yang dipenuhi dengan emas?

Berapa harga iman; bahwa Allah Swt. tidak akan menerima tebusan dari orang-orang yang tidak beriman agar mereka dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Walaupun orang-orang kafir itu menebus dengan emas sepenuh bumi. Karena yang dapat menebus hal itu hanyalah iman. Dan hanyalah orang-orang mukmin yang memiliki iman yang bisa dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. à Nyatalah bahwa ternyata iman tidak dapat dibeli walaupun dengan emas sepenuh bumi.

Bahkan; jangankan dengan emas yang sepenuh bumi, tebusan manusia pun tidak dapat mengeluarkan seseorang yang tidak memiliki iman dari siksa neraka.

Firman Allah Swt. (QS. Al-Ma’arij 70:11-15),

يُبَصَّرُونَهُمْ ۚ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ﴿١١﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ﴿١٢﴾ وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ﴿١٣﴾ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ ﴿١٤﴾ كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ ﴿١٥﴾

  • Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya.
  • Dan isterinya dan sauradaranya. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).
  • Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya naar itu adalah api yang bergejolak.

(Q.S. Al-Ma’arij: 11-15)

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Itulah harga iman, mahal tidak terkira. Iman yang dengannya seseorang  bisa terbebas dari pedihnya siksa neraka dan yang dengan iman itu pulalah seseorang bisa menikmati kebahagiaan yang kekal nan abadi di dalam surga.

KH Athian Ali Moh. Da`i  selalu mengingatkan dalam taushiyyahnya yang saat ini telah berada ditahuk ke-13; selalu mengajak untuk bertanya pada diri sendiri : “Masihkan kita ini Islam menurut Allah”. Kita semua mengaku Islam. Kita semua mengaku beriman kepada Allah. Tetapi menurut Allah benarkah Islam dan Iman kita hanya kepada Nya ?

Hadirin rohimakumullah ………

Iblis karena ingkar dengan hanya satu ayat, yaitu tidak mau sujud kepada Adam maka ya kafir. Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan anak keturunan Adam hingga akhir zaman. Maka wajar bila orang-orang mukmin dan beriman  menjadi satu-satunya incaran setan-setan melalui tentara-tentaranya berbentuk jin dan manusia berusaha untuk merampas iman dari pemiliknya.

Methode Usaha  pertama

dengan  menumpas  orang-orang  beriman

  • melalui perang  dan pembantaian.
  • Bila tidak mungkin, pemurtadan menjadi pilihan berikutnya
  • Ajakan pindah agama
  • jebakan hutang budi maupun hutang uang,
  • pemerkosaan muslimah, hasutan dan sebagainya.

 

Metode kedua adalah metode terselubung.

  • Yaitu penyebaran pemikiran-pemikiran sesat yang bisa menguras iman secara optimal.
  • Paham-paham sekulerisme, humanisme, liberalisme, pluralisme
  • dan paham-paham menyesatkan lainnya gencar disebarkan.
  • Jebakan, ajakan melalui aliran-aliran sesat menyesatkan dan memasukkan unsur budaya dalam akidah sehingga iman menjadi ternoda, terkomtaminasi dengan kesyirikan.

Semua itu dijalankan untuk mencuri iman dari orang-orang mukmin, sebagaimana ajaran-ajaran sesat menyesatkan seperti Syiah, Ahmadiyah, nabi-nabi palsu dan banyak lagi (munurut MUI tidak kurang dari 300 aliran sesat yang ada di Indonesia).

Salah satu aliran sesat yang terpantau MUI dan sedang mencuri perhatian publik baru-baru ini adalah Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Gerakan tersebut telah terbukti menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan salah satu agama yang diakui di Indonesia, Islam.

Organisasi tersebut juga diketahui merupakan metamorfosis dari Al Qiyadah Al Islamiyah yang sudah dilarang kegiatannya sejak 2007 silam oleh Jaksa Agung.

 

Dengan metode ini, dihasilkanlah orang-orang yang mengaku muslim, tapi hati dan cara berpikirnya jauh lebih sesat dari cara berpikirnya orang-orang kafir.

Metode terakhir yang dilancarkan oleh setan adalah

  • pencurian iman sedikit demi sedikit dengan kemaksiatan. Sehingga iman senantiasa berkurang ketika seorang terperdaya oleh bujuk rayu setan yang bervariasi. Walaupun hasilnya tidak banyak, namun sedikit demi sedikit iman lama-lama juga menjadi habis. Sebab, iman memang akan terkikis oleh maksiat.
  • Sebagaimana dalam sebuah kaidah, “Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

20141130_083549`

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، أَمّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Iman sangat berharga. Harga iman tidak bisa dibandingkan dan tidak bisa ditukar dengan emas sepenuh bumi atau pun dengan seluruh manusia yang mendiami bumi dan bahkan tidak bisa disamakan nilainya dengan bumi dan seisinya.

Hak azasi yang paling tinggi pada diri seseorang adalah hak untuk mempertahankan iman selama hayat dikandung badan. Lebih baik mati dalam beriman, dari pada hidup bergelimang kemewahan dan keindahan tetapi dalam kekafiran, kemusyrikan. Iman hanya dapat dihargai dengan kenikmatan surga dan keridhaan Allah Swt.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

  1. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran 3:102)

Oleh karena itu :

  • Selamatkan diri kita, selamatkan anak istri kita, selamatkan saudara-saudara kita seiman dari segala ajaran faham kesesatan dan menyesatkan.
  • Akidah Syiah, merupakan induknya kesesatan dari seluruh aliran sesat yang ada. (Menurut Ketua ANNAS KH Athian Ali M. Da`I Lc, MA) bahwa Syiah : dilihat dari sisi akidah maupun syariah adalah sesat dan menyesatkan serta diluar Islam tegasnya Syiah bukan Islam. (sumber syiahindonesia.com)

 

  • Imam Syafi`i berkata : “Aku tidak pernah menemukan pengikut hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum Rafidha (Syiah)”(Munaaqib Asy-Syafi`i karya Al-Baihaqi 1/468 – Lembaran kajian Syakhshiyyah Islamiyyah FUUI edisi 17 Tahun XIISabtu 20 Safar 1436H / 13 Desember 2014.

 

  • Ibnu Taimiyyah berkata : “Syiah adalah kelompok yang paling bodoh” (Minhaaj As-Sunnah An-Nabawiyyah 2/65)

 

  • Semoga ummat Islam dimanapun berada (khususnya ummat Islam Indonesia)  tidak tertipu lagi ajakan dan rayuan pengikut Syiah. Syiah itu pembohong, pendusta, mengakunya Islam tetapi ternyata Syahadatnya beda dengan kita, Qurannya beda, cara sholat juga beda dan banyak lagi perbedaan termasuk nikah mut`ah/nikah kontrak yang tidak lain menghalalkan zinah.

Mari kita perkokoh iman kita, dengan cara memperhatankan iman agar tetap berada dalam diri kita hingga ajal menjemput.

Dan tidak ada yang lebih pantas untuk dipertahankan dengan konsekuensi apapun melebihi iman bahkan walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun.

 

Demikianlah  semoga  Allah Swt. memudahkan kita untuk mempertahankan dan meningkatkan iman yang berada dalam hati-hati kita. Amin…

Hadirin Rohimakumullah.

 

  • Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kekuatan untuk mempertahankan iman dan berikan kesempatan kami untuk merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini.
  • Anugerahkan kami dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

 

  • Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang terdiri dari bangsa jin dan manusia yang merusak amal ibadah yang kami lakukan.

 

  • اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
  • Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

 

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات

و الذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
Assalamu`alaikum Wr. Wb

SUMBER : Berbagai sumber

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

20160429 Harga Iman  (HARGA IMAN LEBIH DARI HARGA EMAS SEPENUH BUMI)

https://arozakabuhasan.wordpress.com/                                           http://arozakabuhasan.blogspot.com

Harga Iman

Harga Iman

KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan dan kesehatan kepada kita.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Allah SWT telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad shallallahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Melalui mimbar ini, kembali kami menyerukan kepada diri sendiri dan jama’ah Jum’at untuk bertakwa kepada Allah Swt. Kemudian tidak lupa dan tidak henti-hentinya pula marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah Allah Swt. berikan, utamanya nikmat iman yang sangat berharga.

Marilah kita renungkan firman Allah Swt. (QS. At-Taubah 9:111)
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَ‌ٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١١١﴾

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. (Q.S. At-Taubah: 111)

Demikianlah sebuah gambaran yang diberikan oleh Allah Swt. dalam ayat-Nya Yang Mulia tentang harga iman yang berada pada diri seorang mukmin. Jiwa dan harta orang-orang yang beriman akan ditukar dengan jannah (surga) di akhirat kelak. Taman keindahan tanpa cela dengan kebahagiaan tanpa batas. Setiap jiwa orang yang memiliki iman yang masuk jannah akan mendapat Ridha Allah Swt. Tiada lagi dosa dan kemurkaan terhadap apapun yang dilakukannya.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Firman Allah Swt di bawah ini menggambarkan lebih jelas lagi mengenai harga iman yang mungkin selama ini masih samar bagi kita semua (QS. Ali Imran 3:91)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu). Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Q.S. Ali ‘Imran: 91)

Jelas sekali disebutkan dalam ayat tersebut berapa harga iman; bahwa Allah  tidak akan menerima tebusan dari orang-orang yang tidak beriman agar mereka dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Walaupun orang-orang kafir itu menebus dengan emas sepenuh bumi. Karena yang dapat menebus hal itu hanyalah iman. Dan hanyalah orang-orang mukmin yang memiliki iman yang bisa dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Nyatalah bahwa ternyata iman tidak dapat dibeli walaupun dengan emas sepenuh bumi.
Jangankan dengan emas yang sepenuh bumi, tebusan manusia pun tidak dapat mengeluarkan seseorang yang tidak memiliki iman dari siksa neraka.

Firman Allah Swt. (QS. Al-Ma’arij 70:11-15),
يُبَصَّرُونَهُمْ ۚ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ﴿١١﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ﴿١٢﴾ وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ﴿١٣﴾ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ ﴿١٤﴾ كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ ﴿١٥﴾

Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya.
Dan isterinya dan sauradaranya. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).
Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya naar itu adalah api yang bergejolak.
(Q.S. Al-Ma’arij: 11-15)

Rasulullah Swt. juga bersabda,
Musnahnya dunia jauh lebih sepele bagi Allah dari terbunuhnya jiwa seorang mukmin dengan cara yang tidak hak. (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Itulah harga iman, mahal tidak terkira. Iman yang dengannya seseorang bisa terbebas dari pedihnya siksa neraka dan yang dengan iman itu pulalah seseorang bisa menikmati kebahagiaan yang kekal nan abadi di dalam surga. Dan bila diibaratkan, hati bagaikan sebuah rumah dan iman adalah barang berharga.

Maka hati orang kafir seperti rumah yang kosong melompong. Tidak memiliki satu harta pun yang berharga yang menarik untuk dicuri atau dirusak. Sedangkan hati orang mukmin pada umumnya, selain hati para Nabi, ibarat rumah yang berisi barang berharga dengan penjagaan yang berbeda-beda. Ada yang menjaganya dengan ketat dan ada yang melalaikannya bahkan tidak menjaganya sama sekali.

Maka wajar bila orang-orang mukmin dan iman yang dimilikinya menjadi satu-satunya incaran setan-setan melalui tentara-tentaranya berbentuk jin dan manusia berusaha untuk merampas iman dari pemiliknya.
Usaha pertama dengan menumpas orang-orang beriman
• melalui perang dan pembantaian.
• Bila tidak mungkin, pemurtadan menjadi pilihan berikutnya
• Ajakan pindah agama,
• jebakan hutang budi maupun hutang uang,
• pemerkosaan muslimah, hasutan dan sebagainya.
Semua itu dijalankan untuk mencuri iman dari orang-orang mukmin, sebagaimana ajaran-ajaran sesat menyesatkan seperti Syiah, Ahmadiyah dan banyak lagi.

Metode kedua adalah metode terselubung.
• Yaitu penyebaran pemikiran-pemikiran sesat yang bisa menguras iman secara optimal.
• Paham-paham sekulerisme, humanisme, liberalisme, pluralisme
• dan paham-paham menyesatkan lainnya gencar disebarkan.
Dengan metode ini, dihasilkanlah orang-orang yang mengaku muslim, tapi hati dan cara berpikirnya jauh lebih sesat dari cara berpikirnya orang-orang kafir.

Metode terakhir yang dilancarkan oleh setan adalah
• pencurian iman sedikit demi sedikit dengan kemaksiatan. Sehingga iman senantiasa berkurang ketika seorang terperdaya oleh bujuk rayu setan yang bervariasi. Walaupun hasilnya tidak banyak, namun sedikit demi sedikit iman lama-lama juga menjadi habis. Sebab, iman memang akan terkikis oleh maksiat.
• Sebagaimana dalam sebuah kaidah, “Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Iman sangat berharga. Harga iman tidak bisa dibandingkan dan tidak bisa ditukar dengan emas sepenuh bumi atau pun dengan seluruh manusia yang mendiami bumi dan bahkan tidak bisa disamakan nilainya dengan bumi dan seisinya. Iman hanya dapat dihargai dengan kenikmatan surga dan keridhaan Allah Swt.
Oleh karena itu sangatlah penting untuk mensyukuri nikmat iman tersebut.
• Selamatkan diri kita, selamatkan anak istri kita, selamatkan saudara-saudara kita seiman dari segala ajaran faham kesesatan dan menyesatkan.
• Akidah Syiah, merupakan induknya kesesatan dari seluruh aliran sesat yang ada. (Menurut Ketua ANNAS KH Athian Ali M. Da`I Lc, MA) bahwa Syiah : dilihat dari sisi akidah maupun syariah adalah sesat dan menyesatkan serta diluar Islam tegasnya Syiah bukan Islam. (sumber syiahindonesia.com)

• Imam Syafi`i berkata : “Aku tidak pernah menemukan pengikut hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum Rafidha (Syiah)”(Munaaqib Asy-Syafi`i karya Al-Baihaqi 1/468 – Lembaran kajian Syakhshiyyah Islamiyyah FUUI edisi 17 Tahun XIISabtu 20 Safar 1436H / 13 Desember 2014.

• Ibnu Taimiyyah berkata : “Syiah adalah kelompok yang paling bodoh” (Minhaaj As-Sunnah An-Nabawiyyah 2/65)

• Semoga ummat Islam dimanapun berada (khususnya ummat Islam Indonesia) tidak tertipu lagi ajakan dan rayuan pengikut Syiah. Syiah itu pembohong, pendusta, mengakunya Islam tetapi ternyata Syahadatnya beda dengan kita, Qurannya beda, cara sholat juga beda dan banyak lagi perbedaan termasuk nikah mut`ah/nikah kontrak yang tidak lain menghalalkan zinah.
Karena itu mensyukuri nikmat iman dengan cara memperhatankan iman agar tetap berada dalam diri kita hingga ajal menjemput. Insya Allah: Allah akan menambah nikmatnya kepada kita
Dan tidak ada yang lebih pantas untuk dipertahankan dengan konsekuensi apapun melebihi iman bahkan walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun.

Marilah kita yang hari ini hadir di masjid ini karena memiliki iman untuk :
• Mensyukuri nikmat iman dengan cara memperhatankan iman agar tetap hidup berada dalam diri kita hingga ajal menjemput. Insya Allah: Allah akan menambah nikmatnya kepada kita
• Dan tidak ada yang lebih pantas untuk dipertahankan dengan konsekuensi apapun melebihi iman bahkan walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun.
• Agar senantiasa mempertahankannya dan meningkatkannya. Menumbuh suburkan iman dengan memperbanyak amal ketaatan dan mempertahankannya dari gangguan setan dengan cara menjauhi berbagai amal kemaksiatan.

Demikianlah semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk mempertahankan dan meningkatkan iman yang berada dalam hati-hati kita. Amin…
Hadirin Rohimakumullah.

• Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

• Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.

• اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

• Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات
و الذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

Assalamu`alaikum Wr. Wb

SUMBER
Diadaptasi dari tulisan Ust. Taufik Anwar, “Target Final Setan”, Rubrik Ghiwayah Majalah Islam ar-risalah No. 92/Vol. VIII/8 Safar – Rabiul Awal 1430 H / Februari 2009 dan berbagai sumber lainnya.

ara

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah                                                                                                                     Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN MBA                                                                                                                                    20151002 Harga Iman                                                                                                                  https://arozakabuhasan.wordpress.com/                                                                                           http://arozakabuhasan.blogspot.com                                                                                                             http://arasitusislam.com/

Qurban dan Pendidikan Tauhid

Qurban dan Pendidikan Tauhid
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ … ُ
Hadirin Rohimakumulloh…
Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan. Itu berarti tidak ada tuhan selain Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun dan siapa pun yang pantas, yang berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan dan penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan Pemilik jagat raya, pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid, inti ajaran para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.
Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan salam tetap Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman nabiyyin yang dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan ummatnya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah terbaik yang tiada banding dan tiada tanding.
Dari kemarin gema takbir berkumandang memenuhi langit. Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,5 miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.

Hadirin Rohimakumullah
Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah rekam dalam surat QS. Ash Shafaat [37] : 100-113.
Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.
Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini sudah begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar, dan mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah kenabian.
Berapa lama di antara kita yang menanti kehadiran si buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12 tahun, atau mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai kehidupan keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari berlalu berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah. Namun Ibrahim tidak putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar.” (QS. Ash Shafaat [37] : 100-101)
Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan, melalui Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi laki-laki yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada peristiwa itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan dari dada Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di pangkuan. Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang tercurah bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun bagai dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan tawa bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.
Namun Allah punya rencana sendiri. Allah ingin menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu adalah cinta yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat dirindukan itu menjadi “pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha Agung?
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (TQS. Ash Shafaat [37] ; 102)
Hadirin Rohimakumullah
Perasaan seperti apakah yang menyelimuti Ibrahim saat mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya? Dapatkah kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika fisiknya sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada, Allah perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga. Atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.
Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap saat kita hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering lidah kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.
Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu yang kita cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan apa saja untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail’ kita. ‘Ismail’ kita adalah segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita menuju taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.
Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda, emas perhiasan, perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal, tunggangan atau kendaraan sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru. Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu billahi mindzalik!
Katakanlah: “Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (TQS. Al Ankabut [9] ; 24)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah agung ini adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda, yang tengah tumbuh dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang menantinya, Ismail telah menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya.
Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti apakah yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?
Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.
“Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat [37]: 102)
Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari adegan luar biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi setegar ini? Menu apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga dia bisa dengan rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan seperti apa yang bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah?
Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah sesuatu yang instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu membentuk bayi merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang tak berpenghuni, menjadi anak muda istimewa. Hajar telah suskes mentransformasikan kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang amat dicintainya. Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari, setiap detik, setiap saat.
Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini? Adakah mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita, hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.
Data-data yang tersaji tentang perilaku anak-anak muda kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA), misalnya, pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus tawuran.
Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada 2008 terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta pada 2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta jiwa.
Sementara itu, seks bebas juga marak di kalangan remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010 terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah umur 18 tahun.
Sementara berdasarkan data dari BKKBN tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19 tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas. Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya.
Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita? Kenapa ini bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak bermoral, dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?
Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan bernada kecaman seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan pemerintah berada? Apa yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak itu?
Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris tidak ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka? Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada anak-anak itu?
Bukankah di rumah kita telah menjadi para diktator bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada saat yang sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah melarang anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok yang masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil matanya tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.
Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada para siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin dengan kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan di luar kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah sibuk mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk kepentingan sendiri.
Para pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan kekuasaan, kekuasaan dan harta.
Teladan telah menjadi barang amat langka di negeri ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana, arif, santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap hari mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan manipulatif. Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan dengan sangat telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para pejabat di kursi-kursi kekuasaannya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kalau kita ingin memiliki anak seperti Ismail, maka dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS. Tentu saja, tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan seorang ibu seperti Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas bunda Hajar.
Pertanyaannya sekarang, seper berapa persenkah para bapak dan suami zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada tanda-tanda bunda Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang? Dimanakah kita bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan keluarga? Apakah di night club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain yang menjadi tempat pertemuan dengan jodoh kita?
Jangan pernah berharap di rumah kita akan hadir anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak mewarisi keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para bapak hanya memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah rupiah yang kita bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan halalkah kelebihan penghasilan di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri dalam bentuk nafkah, rumah, vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi, mobil, dan harta benda lain?
Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu. Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini, yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.
Meski demikian, ada hadits lain yang senada namun punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih. Hadits itu adalah hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah. Beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :
“Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda”. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu masih punya ibu?”. “Punya”, jawabnya. Rasulullah SAW,” Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya“. (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani).
Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah, hanya para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah telapak kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi para suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah Ibrahim yang hanif.
Di tangan para orang tua seperti inilah kelak akan lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang juga memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu menjadi “sesuai” di kemudian hari.
“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)
بنفسك إبدء, mulailah dari dirimu sendiri.
Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran antakampung. Tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun. Insya Allah, aamiin…

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ
Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

بَارَكََ اللهََ لِيْ وَ لََكُمْ فيِِ الْْقُرْآنِِ الْْعَظِيْمِْ وَن َفََعَنِيْ وَإِِيَاكُُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْْلآيَاتِ وَ الذِكْْرِِ الْْحَكِيْمِِ أَقُُوْلُ قََوْلـِيِْ هَذَا وَأسْتَغْفِْرُ اللهََ لِي وَ لََكًُمْ

Assalamu`alaikum Wr. Wb
SUMBER :
Wallahu a’lam bish shawab
Oleh, H. Edy Mulyadi, Ketua Korps Muballigh Jakarta (KMJ), Ketua Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia (Bakomubin)
araDiedit untuk khutbah jumat oleh : a. rozak abuhasan

Pesan Moral Idul Qurban

Khutbah Jumat: Pesan Moral Idul Qurban dan Ruhul Ukhuwwah

KHUTBAH PERTAMA:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ … ُ

Hadirin Rohimakumulloh…
Melalui khutbah ini, kami berwasiat kepada diri kami dan seluruh kaum Muslimin, hendaklah kita senantiasa menjaga dan berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah sambil terus berdoa agar diberi keistiqamahan dan diwafatkan dalam keadaan Islam.
Apabila kita ingin berbahagia, beruntung dan selamat dunia maupun akhirat maka marilah kita tingkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.
Hadirin Rohimakumullah
Kemarin, kita merayakan Hari Raya ‘Idul Qurban atau ‘Idul Adha. Tiga hari berturut-turut berikutnya kaum muslimin yang memiliki kelapangan rezeki disunatkan memotong hewan kurban, minimal kambing untuk satu orang, guna dibagi-bagikan kepada saudara-saudara kita yang berhak
Dalam suasana Idul Qurban, sementara di belahan bumi Indonesia yang lain saudara kita sebangsa sedang diselimuti berbagai musibah yang tak kunjung lepas, umat Islam dibangkitkan jiwa sosialnya untuk menggalang solidaritas, soliditas dan kesetiakawanan sosial, ukhuwwah islamiyah. Dengan bertumpuk masalah yang dihadapi hari-hari ini, umat Islam mendesak untuk bersatu. Dengan persatuan akan melahirkan kekuatan. Dengan persatuan yang didasari oleh nilai-nilai suci yang diserap dari keimanan dan ketakwaan, kita akan menang dalam perjuangan, seperti pada masa penjajahan fisik setengah abad yang lalu.
Dengan persatuan, kita memiliki modal untuk menghalau tantangan internal dan melawan musuh eksternal. Mustahil kita menjadi bangsa yang besar, jika kita berjiwa kerdil.

Imam Ali mengomentari krisis perpecahan umat Islam: “Aku heran kaum Muslimin bercerai berai dalam kebenaran, sedangkan musuh bersatu dalam kebatilan. Kekeruhan berjamaah (bersatu) itu masih lebih baik daripada bersih secara sendirian.”

Dalam kesempatan lain Khalifah Islam IV mengatakan, “Allah SWT tidak akan pernah memberikan kemuliaan kepada siapapun, bangsa manapun, dalam perpecahan, tidak kepada umat terdahulu tidak pula kepada umat di zaman akhir.”

Imam Syafi’i mengatakan: “Perkara batil terkadang bisa menang karena bersatu, sebaliknya kebenaran kadang-kadang menderita kekalahan, kelemahan dan kehinaan disebabkan perpecahan.”
Hadirin ………….
Momentum Idul Qurban menjadi pelajaran untuk memperkuat jalinan ukhuwwah Islamiyah dengan cara mempertebal kepekaan sosial kita, agar kita memperoleh hikmah, ibrah, pelajaran dari Hari Raya ‘Idul Adha ini.

Ruhul Qurban Wat Taqarrub Ilallah

‘Idul Adha, Hari Raya ini dinamakan pula ‘Idul Qurban’ karena dengan semangat jiwa sosial dan berkorban, kita akan menjadi hamba yang bertambah dekat kepada Allah SWT. Dekat dengan pertolongan-Nya. Dekat dengan petunjuk-Nya. Dekat dengan rahmat-Nya. Dan dekat dengan ridha-Nya. Manusia yang paling sengsara dalam kehidupan di dunia ini dan kelak di akhirat adalah manusia yang jauh dari hidayah Allah SWT. Jauh dari pertolongan-Nya. Jauh dari rahmat-Nya.

Oleh karena itu marilah kita tingkatkan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya. Dengan cara meningkatkan grafik keimanan dan ketakwaan kita. Semoga kita bisa mengambil hikmah ‘Idul Qurban.

Taqorrub ilallah (sandaran spiritual) hanya bisa dicapai dengan menegakkan shalat wajib, sunnat, shalat lail, melakukan puasa, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, aktif dalam majlis ta’lim. Dengan cara demikian, insya Allah komunikasi kita dengan Al-Khalik semakin akrab, dekat dan erat.

Adapun membangun kedekatan dengan orang lain dengan jalan memberi, berkurban pula, bukan menuntut. Berbeda dengan falsafah kehidupan orang Barat: Lakukan apa saja sesuka hatimu, yang penting jangan mengganggu kebebasan orang lain.
Dalam Islam diajarkan: apa yang bisa kamu kurbankan untuk kepentingan orang lain. Kepekaan sosial yang paling rendah adalah ‘salamatush shadr’ (selamat dada kita dari kebencian terhadap sesama). Dan solidaritas sosial yang paling tinggi adalah ‘al-Istar’ (mengutamakan orang lain melebihi dari dirinya sendiri, sekalipun dalam kesulitan).

Dengan mengulurkan tangan kepada orang lain secara ikhlas, di samping kehidupan kita akan menemui berbagai kemudahan, insya Allah akan mendatangkan pertolongan dari Allah SWT. Bahkan bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT adalah diukur dari kualitas kecintaannya kepada sesama.
وَاللَّهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ ماَكَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ
“Allah SWT pasti menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong orang lain.” (Hadits Qudsi).

”Barangsiapa yang mengeluarkan zakat hartanya Dia akan menghilangkan kejelekan dirinya.” (HR. Thabrani).
Hadirin Rohimakumullah
Islam adalah agama yang menempatkan dunia dalam posisi yang penting. Maka ada rukun (pilar) Islam yang bernama zakat dan haji, ibadah keduanya tidak bisa dikerjakan kecuali dengan harta. Fungsi dunia adalah ‘mazra’atul akhirah’ (ladang yang harus ditanami baik-baik agar bisa dipanen di akhirat), kata Imam Al-Ghozali. Akan tetapi beliau memperingatkan kita agar bersikap “zuhud” dalam menyikapi kekayaan dunia. Zuhud artinya tidak serakah, membatasi konsumsi sesuai keperluan.
ماَ ذِئْباَنِ جاَئِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهاَ مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Dua ekor serigala yang lapar dan dilepas ke dalam kumpulan kambing tidak lebih merusak dibanding kerusakan yang ditimbulkan akibat serakah terhadap harta dan kedudukan yang sangat merugikan agama itu.” (HR. Turmudzi).
Ruhun Nahr

‘Idul Qurban disebut juga ‘Idun Nahr’ artinya Hari Raya memotong korban binatang ternak. Ritual penyembelihan sebagai simbol/bentuk menyembelih nafsu hewani kita, agar tunduk kepada Allah SWT. Yang dinilai bukan daging, darah hewan kurban, tetapi motivasi berkurban.

Asal usulnya dimulai dari ujian Allah SWT kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya yang tercinta Ismail as. Nabi Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang besar. Semuanya dilalui dengan selamat. Beliau lulus ujian. Diuji untuk mempertahankan keimanannya sekalipun menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup. Pengorbanan yang dilakukan tidak sia-sia. Beliau ditolong langsung oleh Allah SWT. Karena agama ini milik-Nya. Siapa saja yang menodai agama Islam, berarti mengadakan konfrontasi langsung dengan-Nya. Api menjadi dingin, Ibrahim selamat atas restu Allah SWT.

Ujian terberat bagi Nabi Ibrahim adalah perintah mengorbankan putranya Isma’il, putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu. Sekalipun berat, berkat kerjasama antara Ibu, Anak dan Bapak dalam suasana dialogis yang menyejukkan, maka ujian berat itu sukses dijalani.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash Shoffat (37) : 102).
Hadirin Rohimakumullah
Dari jejaknya itu lahirlah Kota Suci Mekah, kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan sumur Zam-zam yang tidak pernah kering sejak 4000 tahun yang lalu sekalipun setiap hari dikuras airnya berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang telah teruji kesabarannya Ibunda Siti Hajar, ibu kandung Ismail as.

Dari sejarah Ibrahim, maka Tawaf, Sa’i, Wuquf di Arafah, melempar Jumrah, bermalam di Muzdalifah (Mina), memotong hewan Quran (al-Hadyu), menjadi rangkaian Ibadah Haji atau Umrah yang disyariatkan oleh Islam, setiap tahun tidak kurang 2 juta banyaknya umat Islam datang berhaji dari seluruh dunia.

Dari Ka’bah yang dibangun dua Nabi ayah dan anak, Ibrahim dan Ismail, maka tiap 5 waktu sehari semalam lebih dari 1 milyar umat Islam sedunia menghadap ke kiblat Ka’bah. Dakwah Islam menggetarkan umat manusia untuk memeluk Islam. Sehingga, Islam tidak saja berkembang di Mekah dan Madinah, tetapi merambah ke seluruh dunia. Berkat perjuangan Ibrahim yang tidak kenal lelah dalam menegakkan kalimat tauhid, kita rasakan nikmatnya hingga hari ini.

Sebagai mercusuar/magnit power Islam, Mekah dan Madinah memiliki kedudukan politik dan ekonomi yang penting dalam percaturan global. Seluruh dunia memandang Negara Timur Tengah sebagai negara petro dollar yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi dunia. Saudi Arabia, tempat Ka’bah dan Kota Suci Mekah dan Madinah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, Ismail dan Hajar merupakan pusat kemakmuran ekonomi.

Ruhut Takbir (Spirit Takbir)

‘Idul Qurban juga disebut ‘Idul Akbar (Hari Raya Paling Besar). Kalau pada Hari Raya ‘Idul Fithri kita disunnahkan mengumandangkan takbir mulai malam sampai shalat Idul Fithri selesai pada pagi hari, maka ‘Idul Adha ditandai dengan takbiran selama 4 hari. Ini berarti membangun kesadaran kita sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Besar. Betapa tidak berharga, sedikit dan kecil diri, ilmu, pengaruh, harta kekayaan dan jabatan kita.
Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah. Bukankah kita seringkali tidak kuasa mengendalikan mulut, telinga, tangan, pikiran, syahwat perut, nafsu biologis, dan hati kita dari kontaminasi dosa.
Al Hamdulillah.
Bersyukur atas nikmat dari Allah SWT yang tidak terhitung. Termasuk nikmat bisa berkurban. Bukan karena usaha kita semata, tetapi karunia dari-Nya.
Laa ilaaha illallah. Tiada ilah yang eksis di dunia ini kecuali Allah. Kita dianjurkan untuk memperbanyak ucapan tahlil, berarti kita dituntut mengukir sebanyak mungkin amal shalih karena dorongan iman dan taqwa. Kalimat tahlil yang kita hayati dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan digerakkan dengan seluruh anggota tubuh, semoga iman merasuk dan menghunjam di dalam jiwa kita.

Jika kita mengagungkan harta, jabatan, ilmu, pengaruh kita, maka saat itu Allah Yang Maha Besar kita pandang kecil. Seruannya kita persepsikan bagaikan suara yang berasal dari nun jauh di sana, terdengar sayup-sayup, suara serak-serak ………………… Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka[1334]. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.
Ingatlah Firman Allah
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah [syariat Allah SWT] dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? (QS. Ibrahim (14) : 28).
Hadirin Rohimakumullah
Ketika kita mengelola nikmat harta, posisi, ilmu, tidak melibatkan-Nya, maka nikmat itu berubah menjadi niqmah (kebinasaan). Semua itu tidak menambah kebaikan kita.

…(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Al-Anfal (8) : 53).

Besar harapan kita umat Islam Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia tetap dalam ikatan persaudaraan Islam (ribathul ukhuwwah). Semakin hari bertambah kokoh. Karena tantangan yang dihadapi semakin berat. Menuntut tergalangnya solidaritas, saling bergandengan tangan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan mendorong adanya pemerataan ekonomi dunia. Saling tawashou bilhaqqi, bishshabri, wabilmarhamah (saling menasihati dalam menetapi kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang).

Demikian pula, semoga tercipta suasana dialogis yang menyejukkan antara dua generasi. Generasi tua dan generasi muda. Dengan membuka dialog, akan terjadi proses regenerasi yang menyehatkan. Sehingga pewarisan nilai dan amal shalih tidak terjadi kemandekan. Demikianlah beberapa nilai education yang diserap dari Hari Raya Besar. Wallahu a’lam Bish Shawab.
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ , اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

بَارَكََ اللهََ لِيْ وَ لََكُمْ فيِِ الْْقُرْآنِِ الْْعَظِيْمِْ وَن َفََعَنِيْ وَإِِيَاكُُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْْلآيَاتِ وَ الذِكْْرِِ الْْحَكِيْمِِ أَقُُوْلُ قََوْلـِيِْ هَذَا وَأسْتَغْفِْرُ اللهََ لِي وَ لََكًُمْ

Assalamu`alaikum Wr. Wb
SUMBER :
Oleh Sholih Hasyim* http://www.hidayatullah.com
araDiedit untuk khutbah jumat oleh : a. rozak abuhasan

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: