Blog Archives

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Tardjono`Khutbah Jumat di Masjid Al-Fajr Jumat 31 Maret 2017

Oleh : Abu Muas Tardjono

 

Suatu saat, tatkala Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang sudah masuk Islam. Digambarkan karena begitu sangat banyaknya jumlah orang dalam rombongan tersebut, jika saja orang melihat maka sangat mungkin mereka mengira yang dilihatnya adalah pasukan orang-orang musyrikin, tapi ternyata yang memimpin rombongan tersebut adalah Abu Dzar Ra.

Melihat kehadiran rombongan yang dipimpin Abu Dzar Ra, Rasul pun menyambut mereka dengan menyatakan: “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah” dan “Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah”. Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasul Saw menyatakan: “Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat  benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar”.

Jika Rasul Saw yang menyatakan hal tersebut, tentu merupakan jaminan kebenaran apa yang telah dinyatakannya. Pertanyaannya, kenapa Rasul Saw harus menyatakan demikian secara khusus kepada Abu Dzar Ra? Jawabnya, tidak lain karena Abu Dzar Ra memiliki prinsip bahwa: “Kebenaran itu tidak boleh bisu, kebenaran yang bisu bukanlah sebuah kebenaran”.

Diakui atau tidak, prinsip yang telah teguh dijadikan prinsip hidup sosok sahabat Rasul yang satu ini, kini, sudah mulai pudar, lentur dan luntur oleh sebagian para penegak kebenaran seiring kehidupan yang hedonisme yang telah mengelilinginya. Padahal, menurut Abu Dzar Ra, kebenaran harus berbicara, tampak dan dinyatakan serta tidak boleh dipendam atau disembunyikan.

Hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi kita, karena saat ini tidak sedikit mereka yang membisu untuk menyatakan kebenaran, sehingga fungsi Al Qur’an sebagai Al Furqon (pembeda) mana yang haq dan mana yang bathil, kini sudah sangat kabur karena bisunya orang-orang yang berilmu untuk menyatakan kebenaran.

Padahal, di awal ayat 185 surat Al Baqarah sangat jelas dan tegas dinyatakan: “Syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil qur-aanu hudal lin naasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaani” (Dalam bulan Ramadhan itu diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk (antara yang hak dan yang bathil).

Terkait dengan kehidupan dunia pers, diakui atau tidak, tidaklah mudah dinafikan oleh siapa pun juga, betapa besar keberpihakan media khususnya pers dalam membentuk opini publik. Kini, sejalan dengan kebebasan pers telah mengantarkannya bermunculannya pers-pers yang semakin menunjukkan keberpihakan. Betapa pun upaya tersembunyi, tapi orang awam dengan mudah membaca arah keberpihakan sebuah pers.

Hal ini tentu saja sangat tidak sejalan dengan nilai dan norma ajaran Islam. Paling tidak, ada beberapa hal yang harus diperjuangkan dan diwujudkan oleh pers dalam pandangan Islam, di antaranya:

 

Pertama, pers sebagai media social control, harus “mau” dan “berani” mengungkap dan menyatakan kebenaran dan kebathilan. Menyatakan dengan tegas yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Allah SWT berfirman: “Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wa quuluu qaulan sadiidaa” (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”(QS. Al Ahzaab, 33:70).

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim: 27)

 

Kedua, pers sudah seharusnya tidak “membisukan kebenaran”. Para awak pers hendaknya mau belajar dari salah seorang sahabat Rasul Saw, Abu Dzar Ra, yang memiliki prinsip bahwa : “Kebenaran itu tidak boleh bisu, karena kebenaran yang bisu itu bukanlah kebenaran”.

 

Ketiga, hendaknya pers tidak menyelimuti kebathilan sehingga keberadaan pers hanya berfungsi pengungkap informasi dengan memutarbalikkan fakta yang ada, sehingga nilai dan norma yang ada menjadi kabur karenanya. Garis pemisah antara yang hak dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram hilang pula dengan sendirinya.

Seperti yang pernah disinyalir Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Kelak akan tiba kepada manusia suatu masa, tahun-tahun yang penuh dengan kepalsuan. Di mana si pembohong dipercayai, sedang yang benar malah didustakan. Si pengkhianat mulai dipercaya, sedang yang tadinya dipercaya malah berkhianat. Sementara itu, orang-orang yang tidak mengerti apa-apa malah mulai berbicara urusan ummat” (HR. Ibnu Majah).

 

Keempat, sebuah pers tidak boleh terjebak menjadi media syaithani yang berupaya yuwaswisu fii shuduurinnaas (membisikkan kejahatan)) ke dalam diri manusia (QS. An Naas:5) menyebarkan isu-isu dengan kebathilan yang sesat dan menyesatkan, dengan memanfaatkan “permainan” bahasa dan sajian yang menarik sehingga kebathilan terkemas sangat rapi terkesan seperti hak.

 

Pola inilah yang senantiasa diupayakan iblis dalam upaya menyesatkan manusia, Allah SWT berfirman: “Wa idz zayyana lahumusy syaithaanu a’maalahum” (Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka” (QS. Al Anfaal, 8:48). Syaithan menampakkan kepada pihak musuh bahwa perbuatan mereka itu baik padahal sebenarnya adalah tipuan semata.

Dalam firman-Nya pula: “Syetan menjadikan ummat-ummat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk) (QS. AN Nahl, 16: 63). “Iblis berkata: “Ya Allah Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al Hijr, 15: 39)

 

Kelima, pers dalam pandangan Islam, harus menjadi “Media Profetik” berfungsi pengemban amanah pesan-pesan Ilahi, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar” (QS. Ali Imran: 104; 110) dan tawashau bilhaq (Saling berwasiat dalam kebenaran (QS. Al Ashr:9), termasuk menumbuhkan nilai-nilai kritis masyarakat pembaca terhadap informasi yang disajikan media pers.

Ditempuh dengan watawashau bis-shabrr, dalam bentuk pendekatan yang tidak distruktif, tapi dengan control social yang konstruktif. Atau dalam bahasa Islam, dengan “Hikmah” (ungkapan dan pernyataan yang tegas dan benar-benar membedakan yang hak dan yang bathil), dan al mau’izah al hasanah (nasihat) yang baik dan bijak (QS. An Nahl:125).

 

Keenam, pers dalam pandangan Islam, harus independen, tidak berpihak kecuali pada kebenaran  Ilahi yang mutlak. Berfungsi sebagai media pendidik ummat.

Tidak menjadi pers dagang, pers industry yang menjual berita untuk kepentingan pemilik modal, penguasa, partai politik tertentu atau kepentingan bisnis komersial dengan mengangkat pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh tertentu dengan tidak mempedulikan lagi betapa pernyataan-pernyataan tersebut akan membingungkan bahkan menyesatkan masyakarat.

Tapi yang terpenting laku untuk dijual. Atau mengangkat masalah-masalah yang menjurus kepada mengikisan nilai-nilai aqidah dan atau menjurus amoral dengan memanfaatkan kecenderungan manusia ke arah itu (QS. Al Imran:14), terutama remaja.

Adalah menjadi sebuah keniscayaan, salah satu tugas pers harus turut serta meluruskan ketimpangan-ketimpangan yang berkembang di masyarakat, bukan malah ikut berperan langsung atau tidak langsung memperkenalkan berbagai bentuk kemaksiatan yang sedikit banyaknya akan menjerumuskan masyarakat ke lembah kehidupan yang hina jauh dari ridha Allah SWT.

 

Kembali pada teladan yang dicontohkan Abu Dzar Ra, bagi beliau bahwa kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran, kebenaran itu harus terungkap walaupun untuk mengungkapkan kebenaran itu beliau harus menebusnya dengan nyawa sekalipun.

Wahai, para penegak kebenaran, siapkah menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil dengan siap menerima berbagai macam risikonya?

Bagi para ‘Ulama sebagai panutan ummat, apakah tidak ikut andil dalam kesesatan jika tidak sedikit ummat yang akhirnya tersesat karena diamnya atau tidak beraninya para ‘Ulama untuk menyatakan sesat dari sebuah aliran sesat yang ada?

Barakallahu lii walakum.

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: