Blog Archives

Aqabah, Titik Dakwah Rasulullah

jalan-490x326

Aqabah, Titik Dakwah Rasulullah

Oleh Saad Saefullah — Selasa 24 Zulhijjah 1434 / 29 October 2013 09:17

http://www.islampos.com/aqabah-titik-dakwah-rasulullah-84536/


 

Oleh: Muhammad Fajri Romadhoni, Mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UNLAM, Korda BKLDK Banjarbaru

 

“SIAPAKAH kalian ini?” tanya Rasul setelah saling bertatap muka.

“Kami orang-orang dari Khazraj,” jawab mereka.

“Sekutu orang-orang Yahudi?” tanya Rasul.

“Benar,”

“Maukah kalian duduk-duduk agar bisa berbincang-bincang dengan kalian?”

“Baiklah.”

Sehingga terdapat tujuh orang dalam perbincangan tersebut termasuk Rasulullah di Aqabah, Mina. Diantaranya ada As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harits, Rafi’ bin Malik, Quthbah bin Amir, Uqbah bin Amir, Jabir bin Abdullah. Mereka menikmati perbincangan yang cukup indah dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah. Menjelaskan hakikat Islam, dakwah dan mengajak mereka mendekat kepada Allah dan tidak menyekutukan apapun denganNya.

Langit meyaksikan mereka, bebatuan, dan bukit Aqabah jadi saksi di tengah heningnya malam. Memang keadaan ketika itu Rasulullah mengalami tekanan yang begitu kuat dari penduduk Mekkah terhadap dakwahnya sehingga beliau membuat strategi berdakwah kepada kabilah-kabilah pada malam hari. Di malam tersebut juga Rasul sempat pergi bersama Abu Bakar dan Ali untuk berdakwah ke perkampunang Dzuhl dan Syaiban.

“Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang nabi seperti apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Jangalah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!” itulah kalimat yang terucap dari mulut keenam orang yang berasal dari Yastrib setelah lama berdiskusi dengan Rasulullah.

“Kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum yang lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka dengan engkau. Kami akan menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada diri engkau,” itulah janji mereka. Menyebarkan risalah Islam kepada penduduk Madinah. Sehingga tak ada satu rumah pun di Madinah melainkan sudah menyebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Inilah titik awal peristiwa sebelum Baiat Aqabah pertama.

***

sahabatnabiEstafet dakwah berhasil dilanjutkan berkat keenam orang yang mulia tadi. Beberapa saat setelah masuk Islam, mereka sudah berjanji mendakwahkannya di tempat asalnya Madinah. Sehingga menimbulkan opini umum di tengah masyarakat madinah perihal Islam dan ke-Rasul-an Muhammad SAW.

Dari enam orang, di musim haji berikutnya setelah peristiwa pertama di bukit aqabah itu datang kembali dua belas orang yang ingin berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Lima orang di antara mereka adalah orang yang sebelumnya sudah bertemu Rasulullah. Sedangkan tujuh orang yang lain adalah orang yang berhasil dibawa oleh mereka. Diantaranya mereka adalah Mu’adz bin Al Harits, Dzakwan bin Abdul Qais, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazin bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, Abul Haritsam bin At-Taihan, Uwaim bin Sa’idah.

Mereka mengadakan pertemuan kembali di tempat yang sama yaitu di Aqabah di Mina. Dan kedua belas orang ini mengucapkan bai’at (janji setia) kepada Rasulullah. Marilah kita mendengar kalimat ba’iat yang dituturkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit yang berhasil diriwayatkan oleh Ulama’ mulia kita Al-Bukhari,

“Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurkahai dalam urusan yang baik. Barang siapa di antara kalian yang menepatinya, maka pahala ada pada Allah. Barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya.” Lalu aku (Ubadah bin Ash-Shamit) pun berba’iat kepada beliau.

Bai’at inilah sejarah mencatat dengan sebutan “Bai’at Aqabah Pertama”.

Setelah bai’at selesai dan musim haji selesai, Rasulullah mengutus salah satu sahabat terbaiknya. Yang paling baik parasnya, tajam lisannya, dan pandai membaca yaitu Mush’ab bin Umair. Beliau diutus untuk pergi ke Madinah bersama para kabilah tadi untuk menyebarkan Islam, mengajarkan syariat-syariat Islam dan pengetahuan agama kepada Muslim dan non Muslim serta beberapa penduduk yang masih musyrik di sana.

Sesampainya di Madinah, keberhasilan Mush’ab bin Umair dalam menyebarkan risalah Islam kian hari kian terlihat. Beliau di sana tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, lalu mereka menjadi rekan dakwah Islam yang begitu semangat dan bersungguh-sungguh menyampaikan risalah agung ini.

Akhirnya sebelum tiba musim haji tahun ketiga belas setelah nubuwah, Mush’ab memutuskan untuk kembali ke Mekkah guna mengabarkan keberhasilannya. Hingga saat itu seluruh kampung dari perkampungan-perkampungan Anshar di dalamnya sejumlah laki-laki dan wanita sudah masuk Islam berkat usaha Mus’ab. Terkecuali beberapa kampung yang belum dibukakan hatinya oleh Allah, yaitu perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il. Di antara mereka ada Qais bin Al-Aslat, seorang penyair yang sangat dipuja dan dihormati dikampungnya. Sehingga membuat penduduk kampung sulit menerima Islam dikarenakan halangan Qais bin Al-Aslat ini. Selain itu mayoritas penduduk Yastrib (Madinah) sudah menerima Islam, siap melindungi Islam dengan seluruh kekuatannya.

***

Estafet dakwah terus berkembang. Dari enam menjadi dua belas, dari dua belas bersama Mush’ab menjadi tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua wanita. Ke tujuh puluh lima orang ini kembali berkumpul di bukit penuh sejarah itu, Aqabah.

Sejarah mencatat kejadian besar ini, yang merupakan titik tolak dakwah Rasulullah yang cukup menyejarah, menyebutnya sebagai Bai’at Aqabah kedua.

Semua berkumpul di sana, berjanji beberapa hal kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mari kembali kita simak riwayat yang ditulis ulama’ kita yang mulia, Al-Imam Ahmad. Beliau meriwayatkan masalah ini secara rinci dari Jabir, dia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada engkau?”

Inilah Klausul baiat yang disampaikan Rasulullah :

1. Untuk mendengar dan ta’at tatkala bersemangat dan malas.

2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah.

3. Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

4. Untuk berjuang karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela.

5. Hendaklah kalian menolong jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.1

Setelah penetapan klausul-klausul ba’iat oleh Rasulullah, kemudian para sahabat segera melaksanakan ba’iat. Pertama ba’iat dilaksanakan secara khusus kepada pemuka-pemuka agama bagi orang-orang yang menyatakan bai’at tersebut. Kemudian baru ba’iat dilakukan secara umum oleh semua orang laki-laki kepada Rasulullah. Jabir menuturkan, “Lalu kami yang laki-laki bangkit menghampiri beliau secara bergiliran, lalu beliau membaiat kami dan berjanji akan meberikan surga kepada kami.” Sedangkan yang wanita cukup dengan perkataan.

Begitulah kejadian ringkas bagaimana terjadinya Baiat Aqabah Kedua yang juga dikenal dengan Baiat Aqabah Kubra.Baiat ini mencerminkan kecintaan yang begitu mendalam dari saudara-saudara sesama muslim di Madinah yang begitu perih melihat penderitaan para mukmin di Mekkah. Rasa cinta ini benar-benar merasuk dalam jiwa dan hati mereka, sehingga menimbulkan kekuatan tersembunyi, kepercayaan yang mendalam, keberanian yang kuat, dan keteguhan baja meniti jalan ini. Perasaan ini tumbuh murni karena dorongan iman kepada Allah, Rasul, dan kitabNya. Iman inilah yang tidak akan pudar meskipun cobaan dan kezholiman musuh-musuh membuat mereka tak bisa berdiri lagi. Dengan iman inilah Muslim mampu menorehkan kehebatan dalam zaman dan mencatat sejarah-sejarah penting dalam masa-masa kegemilangan muslim selanjutnya.

Baiat ini juga menunjukkan bagaimana titik tolak dakwah Rasulullah dari fase Mekkah ke fase Madinah. Dari fase Mekkah yang hanya terdiri atas kelompok-kelompok dakwah yang dipimpin Rasulullah hingga akhirnya menawarkan Islam ke penduduk Madinah yang kemudian diterima dengan baik. Hingga tercapainya tahap dimana Rasulullah dan Islamnya selalu menjadi pembicaraan di setiap orang, setiap waktu, setiap tempat hingga ke sudut-sudut perkampungan kota Madinah. Selanjutnya para pimpinan-pimpinan kabilah akhirnya menawarkan akan memberi perlindungan kepada Rasulullah SAW dengan segenap jiwa dan diri mereka. Melindungi Islam dan RasulNya. Membuktikan iman dan cintanya terhadap Islam dan dakwah. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW mendirikan daulah Islam di Madinah dengan pertolongan Allah dan perlindungan para pemimpin kabilah tadi.

Wallahu ‘alam bishawab.

Sumber : http://www.islampos.com/aqabah-titik-dakwah-rasulullah-84536/

KEPRIBADIAN MUHAMMAD SALLALLAHU `ALAIHI WASALLAM

 

317925_226229707513385_1075072249_nKEPRIBADIAN MUHAMMAD SAW, Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah nabi, Cerita Rakyat

15 Januari 2013

https://www.facebook.com/notes/motivator-ideologis/kepribadian-muhammad-saw-kisah-sukses-kisah-nyata-kisah-nabi-cerita-rakyat/226229090846780

Kisah Keagungan Muhammad SAW -1 : KEPRIBADIAN  MUHAMMAD SAW

 

Siapa di antara Kita yang membaca akhlak Muhammad saw., kemudian jiwanya tidak larut, matanya tidak berlinangan dan hatinya tidak bergetar ? Siapa di antara Kita yang mampu menahan emosinya ketika membaca biografi seorang yang sangat dermawan, mulia, lembut dan tawadhu’? Siapa yang mengkaji sirah hidup beliau yang agung, perangai yang mulia dan akhlak yang terpuji, kemudian dia tidak menagis, sembari berikrar, “Saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.”?

 

Duhai, kiranya kita mampu melaksanakan cara hidup, cinta dan akhlak yang mulia dari teladan agung dalam kehidupan. Kita bergaul dengan orang lain, lihatlah

Muhammad saw. memperlakukan musuh-musuhnya. Beliau bersabda,

 

 

“Sesungguhnya Allah menyuruhku agar menyambung orang yang memutuskanku, memberi bantuan kepada orang yang pernah menahanku, dan memaafkan terhadap orang yang mendzalimiku.”

sekiranya kita memperlakukan saudara seiman kita, minimal sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan orang-orang munafik, beliau memaafkan mereka, memintakan ampun terhadap mereka dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah swt.

 

sekiranya kita memperlakukan anak-anak kita, sebagaimana Muhamamd saw. memperlakukan pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Muhamamd saw. sedang sakit, beliau. membesuk dan duduk di dekat kepalanya seraya mengajak untuk masuk Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Muhammad gembira seraya berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api neraka.”

 

“ ketika Seorang Yahudi menagih utang kepada Muhamamd saw. dengan marah-marah, kasar, dan tidak sopan di depan banyak orang. Muhammad saw. tersenyum dan menghadapinya dengan lembut. Tak disangka si Yahudi itu masuk Islam, mengucapkan syahadat, “Saya bersaksi bahwa Engkau utusan Allah.” Karena saya baca di Taurat tentang Engkau, yaitu ketika saya tambah marah, justeru Engkau tambah lembut menghadapiku.” Begitu pengakuan si Yahudi.

 

sekiranya kita memperlakukan kerabat kita, meskipun mereka berbuat buruk kepada kita, sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan kerabat dan kaumnya. Karena kerabat dan kaum Muhamamd saw. menyakitinya, mengusirnya, mengejeknya, menolaknya, memeranginya. Namun, beliau tetap menghadapinya. Ketika beliau menaklukkan Makkah, posisi beliau sebagai pemenang, penentu kebijakan, namun beliau berdiri berpidato mengumumkan bahwa beliau memaafkan semuanya. Sejarah telah mencatat dan momentum telah menjadi saksi dengan sabda beliau,

”Allah telah mengampuni kalian, pergilah, kaliah bebas.”

 

Sewaktu Penduduk Thaif melempari Muhammad saw. sampai beliau berdarah-darah. Beliau menghapus darah segar yang mengalir dari tubuhnya sambil berdo’a, :

”Ya Allah, ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

 

luar bisa, tak ada rasa benci dan dendam sedikitpun terhadap semua orang yang telah menyakitinya, jauh sekali dengan sikap dan perilaku orang-orang yang ‘ mengaku ‘ dirinya ‘ MUJAHID ‘ dan ’ DAI ’ saat ini yang Suka mencaci, mengkafirkan, membid’ahkan, menghakimi bahkan membunuh dengan alasan yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri, pukul dibalas pukul, sakit dibalas sakit dan bunuh dibalas bunuh memang ada dan dibenarkan di dalam Al-Qur’an, tapi Allah dan Rosulullah lebih menyukai kalo kita mengedepankan kata MAAF, manakah yang harus kita dahulukan EMOSI kita atau Ridho Allah dan RosulNYA ?

 

Muhammad saw. pernah dicegat oleh seorang Arab badui di tengah jalan, beliau hanya berdiri lama berhadapan, dan tidak berpaling sampai orang badui itu berlalu dengan sendirinya.

 

Suatu hari Beliau ditanya oleh seorang nenek tua, beliau dengan tekun, hangat dan penuh perhatian menjawab pertanyaannya. Muhamamd saw. juga membawa seorang anak kecil yang berstatus hamba sahaya, beliau menggandeng tanganya mengajak berjalan-jalan.

 

Muhammad saw. senantiasa menjaga kehormatan seseorang, memuliakan seseorang, melaksanakan hak-hak seseorang. Muhammad saw. tidak pernah mengumpat, menjelekkan, melaknat, menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang.

 

Muhammad saw. ketika hendak menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum melaksanakan ini dan itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalahkan orang tersebut. Beliau bersabda, “Mukmin itu tidak mencela, tidak melaknat dan juga tidak keras perangainya. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya yang paling saya cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dengan saya kelak di hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”

 

Muhamamd saw. merapikan sandalnya, menjahit bajunya, menyapu rumahnya, memeras susu kambingnya, mendahulukan sahabatnya soal makanan. Muhammad saw  tidak suka pujian.

 

Muhamamd saw  sangat peduli terhadap fakir miskin, beliau berdiri membela orang yang terdzalimi, beliau bertandang ke orang papa, menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, mengusap kepala anak yatim, santun terhadap perempuan, memuliakan tamu, memberi makan yang lapar, bercanda dengan anak-anak, dan menyayangi binatang.

 

Suatu ketika para sahabat memberi saran kepada Muhammad saw,

“Tidakkah Engkau membunuh gembong kejahatan, seorang pendosa dan otak munafik, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul? Beliau menjawab, “Tidak, karena manusia nanti mengira bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.”

 

sahabatnabi

Sahabat, Boleh jadi kita telah membaca biografi orang-orang besar, tokoh terkenal, ilmuwan, reformis, mujaddid dan mujahid, namun ketika kita membaca sirah kehidupan Muhammad saw. seakan-akan kita tidak mengenal mereka selain diri Rosulullah SAW, kita tidak mengakui selain dirinya. Tokoh-tokoh itu rasanya kecil di mata kita, hilang dalam ingatan kita, pupus dalam pikiran kita tentu saja tanpa harus menghina mereka karena prestasi dan keberhasilan mereka juga layak kita perhitungkan dan kita contoh.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/motivator-ideologis/kepribadian-muhammad-saw-kisah-sukses-kisah-nyata-kisah-nabi-cerita-rakyat/226229090846780

Zaid bin Haritsah – Satu-satunya Shahabat yang Tercantum di Al-Qur’an

 

sahabatnabiZaid bin Haritsah – Satu-satunya Shahabat yang Tercantum di Al-Qur’an


Bapaknya bernama Abdul Uzza bin Imri’ Al-Qais, ibunya bernama Sa’di binti Tsa’laba. Ketika masih kecil, ia diajak ibunya menengok kampung. Tiba-tiba datang pasukan Bani Al-Qayn menyerang kampung tersebut. Mereka juga menawan serta membawa pergi Zaid. Kemudian ia dijual kepada Hakim bin Hizam, dengan harga 400 dirham, yang kemudian

dihadiahkan kepada bibinya, Khodijah binti Khuwailid. Ketika Khodijah menikah dengan Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.

Haritsah, bapak Zaid sedih kehilangan anaknya. Ketika beberapa orang dari Ka’ab menunaikan haji, mereka melihat dan mengenal Zaik sebagaimana Zaid mengenal mereka. Kepada mereka Zaid berkata : “Sampaikan beberapa bait syairku ini kepada keluargaku, karena sesungguhnya aku mengerti bahwa mereka sedih karena kehilanganku”. Lalu ia melantunkan beberapa bait syairnya. Setelah Haritsah mengetahui kabar anaknya, ia berangkat ke Mekkah bersama Ka’ab bin Syarahil sebagai jaminan. Di hadapan Rasulullah SAW, mengajukan permohonan agar anaknya, Zaid dibebaskan, dan ia akan memberikan Ka’ab bin Syarahil sebagai jaminannya. Oleh Rasulullah SAW dikatakan bahwa apabila Zaid memilih untuk ikut ayahnya, maka mereka tidak perlu memberikan jaminan. Tetapi seandainya Zaid memilih untuk ikut bersama Rasulullah, sungguh tidak ada paksaan untuk itu. Lalu dipanggillah Zaid. Dikatakan kepadanya : “Apakah kamu mengenal mereka?” “Ya, ini bapakku dan ini pamanku” jawabnya. Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Aku telah mengenalmu (Zaid), dan kau pun telah mengetahui kecintaanku kepadamu. Sekarang pilihlah, aku atau mereka berdua”. Dengan tegas Zaid menjawab : “Aku sekali-kali tidak akan memilih orang selain Engkau (ya Rasulullah), Engaku sudah kuanggap sebagai bapak atau pamanku sendiri”.

Setelah itu, Rasulullah SAW mengumumkan kepada khalayak, bahwa Zaid diangkat sebagai anaknya. Ia mewarisi Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW pun mewarisinya. Setelah mengetahui demikian, bapak dan paman Zaid pergi dengan hati lapang. Zaid akhirnya masuk Islam, dan dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy. Ketika Zainab dicerai Zaid, ia dipersunting oleh Rasulullah SAW. Maka tersebarlah gunjingan orang-orang Munafiq, bahwa Muhammad telah menikahi anak perempuannya. Seketika itu turun QS Al-Ahzab: 40 yang membatalkan ‘tabanni’ (mengangkat anak angkat), sekaligus penjelasan bahwa anak angkat, secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung. Anak angkat tidak bisa saling waris mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah dicerai halal untuk dinikahi bapak angkatnya. Dalam ayat tersebut tercantum langsung nama ‘Zaid’, yang dengan demikian, ia adalah satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an.

Zaid bin Haritsah r.a gugur sebagai syahid dalam perang Mu’tah, pada Jumadik Awwal 8 H. Pada waktu itu usianya 55 tahun.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia, Last Revised : Jum’at, 29 April 2100

Usamah Bin Zaid

sahabatnabi

Usamah Bin Zaid

 

Tahun ketujuh sebelum hijrah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sedang susah karena tindakan kaum Qurasy yang menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri karena gembira menyambut berita tersebut.

Siapakah bayi itu? Sehingga, kelahirannya dapat mengobati hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang duka, berubah menjadi gembira ? Itulah dia, Usamah bin Zaid.

Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka-cita dengan kelahiran bayi yang baru itu. Karena, mereka mengetahui kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yang diberkati, terkenal dengan panggilan “Ummu Aiman”. Sesungguhnya Ummu Aiman adalah bekas sahaya ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman.

Rasulullah menyayangi Ummu Aiman, sebagaimana layaknya sayangnya seorang anak kepada ibunya. Beliau sering berucap, “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.” Itulah ibu bayi yang beruntung ini.

Adapun bapaknya adalah kesayangan (Hibb) Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia menjadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yang sangat dikasihi dalam Islam.

Kaum muslimin turut bergembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan meraka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu bisa terjadi karena tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah juga mereka sukai. Bila beliau bergembira mereka pun turut bergembira. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (kesayangan anak kesayangan).

Kaum muslimin tidak berlebih-lebihan memanggil Usamah yang masih bayi itu dengan panggilan tersebut. Karena, Rasulullah memang sangat menyayangi Usamah sehingga dunia seluruhnya agaknya iri hati. Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah, Hasan bin Fatimah az-Zahra. Hasan berkulit putih tampan bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan kakeknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Usamah kulitnya hitam, hidungnya pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsyi. Namun, kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah, lalu meletakkan di salah satu pahanya. Kemudian, diambilnya pula Hasan, dan diletakkannya di paha yang satunya lagi. Kemudian, kedua anak itu dirangkul bersama-sama ke dadanya, seraya berkata, “Wahai Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka!”

Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah, pada suatu kali Usamah tersandung pintu sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh Aisyah membersihkan darah dari luka Usamah, tetapi tidak mampu melakukannya. Karena itu, beliau berdiri mendapatkan Usamah, lalu beliau isap darah yang keluar dari lukanya dan ludahkan. Sesudah itu, beliau bujuk Usamah dengan kata-kata manis yang menyenangkan hingga hatinya merasa tenteram kembali.

Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil, tatkala sudah besar beliau juga tetap menyayanginya. Hakim bin Hizam, seorang pemimpin Qurasy, pernah menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hakam membeli pakaian itu di Yaman dengan harga lima puluh dinar emas dari Yazan, seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakam, sebab ketika itu dia masih musyrik. Lalu, pakaian itu dibeli oleh beliau dan hanya dipakainya sekali ketika hari Jumat. Pakaian itu kemudian diberikan kepada Usamah. Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah-tengah para pemuda Muhajirin dan Anshar sebayanya.

Sejak Usamah meningkat remaja, sifat-sifat dan pekerti yang mulia sudah kelihatan pada dirinya, yang memang pantas menjadikannya sebagai kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela.

Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.

Ketika terjadi Perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengan kelompok kecil ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.

Dalam Perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun.

Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum.

Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syiria) dengan mengenang segala kebaikannya.

Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara untuk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yang tua-tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Usamah bin Zaid yang masih remaja menjadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum.

Ketika bala tentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sakit dan kian hari sakitnya makin keras. Karena itu, keberangkatan pasukan ditangguhkan menunggu keadaan Rasulullah membaik.

Kata Usamah, “Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak, setelah saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tidak berkata-kata karena kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku.”

Tidak berapa lama kemudian Rasulullah pulang ke rahmatullah. Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik menjadi khalifah. Khalifah Abu Bakar meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah. Tetapi, sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar.

Kata mereka, “Jika khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya, kami mengusulkan panglima pasukan (Usamah) yang masih remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.”

Mendengar ucapan Umar yang menyampaikan usul dari kaum Anshar itu, Abu Bakar bangun menghampiri Umar seraya berkata dengan marah, “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasululllah. Demi Allah, tidak ada cara begitu!”

Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan khalifah tentang usulnya. Kata Umar, “Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, belaiu menolak dan malahan saya kena marah. Saya dikatakan sok berani membatalkan keputusan Rasulullah. Maka, pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kendaraan.”

Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. “

Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”

Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.”

Usamah terus maju membawa pasukan tentara yang dipimpinnya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakan sebaik-baiknya. Tiba di Balqa’ dan Qal’atud Daarum, termasuk daerah Palestina, Usamah berhenti dan memerintahkan tentaranya berkemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskannya dari hati kaum muslimin.

Lalu, dibentangkannya jalan raya di hadapan mereka bagi penaklukan Syam (Syiria) dan Mesir.

Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga, orang mengatakan, “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”

Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena, dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dengan sempurna dan memuliakan pribadi Rasul.

Khalifah Umar bin Khattab pernah diprotes oleh putranya, Abdullah bin Umar, karena melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah sebagai putra Khalifah. Kata Abdullah bin Umar, “Wahai Bapak! Bapak menjatahkan untuk Usamah empat ribu, sedangkan kepada saya hanya tiga ribu. Padahal, jasa bapaknya agaknya tidak akan lebih banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya.” Jawab Khalifah Umar, “Wah?! jauh sekali?! Bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapak kamu. Dan, pribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya, Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lebih banyak daripada jatah yang diterimanya.

Apabila bertemu dengan Usamah, Umar menyapa dengan ucapan, “Marhaban bi amiri!” (Selamat, wahai komandanku?!). Jika ada orang yang heran dengan sapaan tersebut, Umar menjelaskan, “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya.”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para sahabat yang memiliki jiwa dan kepribadian agung seperti mereka ini. Wallahu a’lam.

Sumber : Kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
Di posting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’.

Salahuddin Al-Ayyubi

sahabatnabi

Salahuddin Ayyubi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(Dialihkan dari Shalahuddin Al-Ayyubi)

Langsung ke: navigasi, cari

Salahuddin Al-Ayyubi

SultanMesir dan Syria

caption

Lukisan artistik Shalahuddin

Memerintah

1174 M. – 4 Maret1193 M.

Dinobatkan

1174 M.

Nama lengkap

Salah al-Din Yusuf Ibn Ayyub

Lahir

1138 M. di Tikrit, Iraq

Meninggal

4 Maret1193 M. di Damaskus, Syria

Dimakamkan

Masjid Umayyah, Damaskus, Syria

Pendahulu

Nuruddin Zengi

Pengganti

Al-Aziz

Dinasti

Ayyubiyyah

Ayah

Najmuddin Ayyub

Untuk kegunaan lain dari Salahuddin, lihat Sultan Salahuddin.

Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 11384 Maret1193) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, MekkahHejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab haditsAbu Dawud

Daftar isi

[sembunyikan]

Latar belakang

Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi[1] . Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja SuriahNuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e3/Ayyubid.png/250px-Ayyubid.png

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin

Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Aun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-‘Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

Naik ke kekuasaan

Di kemudian hari Saladin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ahMesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid.

Umamah Bintu Abil ‘ash (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)

sahabatnabi

 

Umamah Bintu Abil ‘ash (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)

Bagaimana tak akan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

Zainab, putri sulung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disunting pemuda Quraisy, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan ‘Ali.

Sepanjang masa kecilnya, Umamah binti Abil ‘Ash benar-benar merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga suatu kali, para shahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku’, beliau letakkan Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan hadiah. Di antaranya berupa seuntai kalung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memungutnya. “Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku,” kata beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. “Berhiaslah dengan ini, wahai putriku!” kata beliau. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.

Ketika Abul ‘Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Tahun terus berganti. Pada masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meminang Umamah. Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu pun menikahkan ‘Ali dengan Umamah. Namun dalam pernikahan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan seorang anak pun kepada mereka.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah meminta Al-Mughirah bin Naufal Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat. ‘Ali pun berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika Umamah menikah dengan Al-Mughirah.

Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama ‘Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya.

Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Umamah pun segera mengutus seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal. “Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku” jawab Al-Mughirah. Umamah pun mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhuma yang kemudian menikahkan Al-Mughirah dengan Umamah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil ’Ash meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma.

Umamah bintu Abil ‘Ash, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya ….Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Di posting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’.

Mush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama

sahabatnabiMush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama
http://teamjabal.wordpress.com/2010/09/01/mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama/
September 1, 2010
>
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya Orang kaya dan terpandang. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagaimana dialami Mush’ab bin Umair.
Serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, riwayat yang akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona. Menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Adalah Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Ketika keberadaannya diketahui, Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka –pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar,

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah- rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; KitabSuci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. •! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masukAgama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi.

Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”. Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme•ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu…. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiadataranya,suatukeberhasilanyang memang wajar dan layak diperolehnya• Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba- hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Mlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara …

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar…. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam…. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah. Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.

Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata: Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah
seorang musuh berkuda, Ibnu ‘Umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.

Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sungguh sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak,dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera…. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada…. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya.

Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul” Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang….

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan….

Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.
Berkata Khabbah ibnul’Urrat: “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi…. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya.

Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya…. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat: Di antara orang-orang Mukmin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah..(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda: Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan- tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Salam atasmu wahai Mush’ab….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saad bin Amir al-Jumahi

Saad bin Amir al-Jumahi

http://myteam.eramuslim.com/indexx.php?view=_tokohbiografi-detail&id=3

Gambar

 

Saad bin Amir al-Jumahi memeluk Islam sebelum kejatuhan Khaibar iaitu pada bulan Safar, 7 Hijrah. Di kalangan sahabat namanya tidak terlalu menonjol. Namun begitu sejarah kehidupan Saad penuh dengan contoh teladan. Beberapa kejadian dalam kehidupan Saad dapat mengungkapkan mengenai ketinggian peribadinya. Dalam aspek kepimpinan adalah yang paling menonjol. Sebagai pemimpin umat beliau memiliki beberapa sifat yang terpuji.

 

 

Pertama, Saad tidak memandang jawatan sebagai harta perhiasan dunia yang perlu dikejar serta dibanggakan. Sewaktu Umar bin Khattab menjadi khalifah, Saad dilantik sebagai Gabenor Homs. Sejak awal lagi, dia keberatan untuk menerima perlantikan itu. Katanya kepada Amirul Mukminin, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah!”. Mendengar jawapan itu Umar berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak mahu melepaskan kamu! Apakah kamu hendak membebankan amanah dan khilafah di atas bahuku, kemudian kamu meninggalkan aku?”. Akhirnya dengan rasa berat dia menerima juga perlantikan itu.

 

 

Kedua, tanggungjawab terhadap amanah merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh Saad. Dengan itu dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin, termasuk kewangan. Dia beusaha pula mengendali serta menjelaskan sikapnya kepada isterinya. Sebaik saja perlantikan dibuat, Saad dan isterinya berangkat ke Kota Homs. Khalifah membekalkannya wang secukupnya serta keperluan hidupnya yang lain.

 

Suatu ketika apabila kedudukan Saad telah agak kukuh, isterinya mengemukakan satu permintaan. Dia ingin membeli pakaian, perabot rumah tangga menggunakan sebahagian harta yang dikumpulkan. Melihat keinginan isterinya itu, Saad berkata “Mahukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rancanganmu itu? Kita berada di satu negeri yang sangat pesat dengan urusan jual beli yang menguntungkan. Lebih baik kita serahkan harta kita sehingga keuntungan yang besar akan selalu kita perolehi!”.

 

 

Mendengar janji yang sangat menarik itu, isterinya menerima cadangan itu dan menyerahkan wang kepada Saad. Waktu terus berlalu. Setiap kali si isteri bertanya mengenai wang simpanannya, Saad menyatakan keadaannya baik dan berjalan lancar. Bahkan urusniaga dari sehari ke sehari semakin bertambah dan banyak keuntungan yang diperolehi. Kerana Saad selalu memberi jawapan demikian, pada satu hari isterinya bertanya kepada salah seorang sahabat yang mengetahui kedudukan hal yang sebenar. Setelah didesak, akhirnya sahabat itu memberitahu bahawa Saad telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah SWT.

 

 

Mendengar itu, berlinanglah air mata si isteri kerana Saad telah mengurangkan modal untuk ‘perniagaan’ tersebut dan dia tidak mungkin akan ‘mendapat semula’ wang itu. Melihatkan kekecewaan isterinya, Saad berkata, “Bukankah kamu tahu bahawa di dalam syurga itu terdapat banyak gadis cantik bermata jeli hingga seandainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi ini maka akan terang benderanglah seluruh permukaannya dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar  matahari dan bulan. Oleh itu mengorbankan dirimu demi mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka untuk mendapatkan dirimu”.

 

 

Ketiga, Saad bukanlah jenis pegawai yang menafkahkan hartanya sekadar sebagai simbolik sedangkan sebenarnya dia berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Pengorbanannya sebagai seorang pemimpin begitu besar dan harga dirinya begitu tinggi sehingga Umar sendiri pun terkejut mendengar mengenai kehidupan runah tangga Saad.

 

Suatu ketika Umar mengirim wakil ke Homs untuk meninjau keadaan pemerintahan di sana. Ketika wakil itu kembali ke Madinah, Umar meminta senarai penduduk Homs yang tergolong dalam kategori fakir miskin. Sewaktu Umar meneliti laporan itu, dia ternampak nama Saad dimasukkan sebagai orang yang perlu mendapat bantuan kerana kemiskinannya. Umar bertanya kepada wakil itu, “Betulkah gabenor kamu ini miskin?”. Jawab mereka, “Benar, ya Amirul Mukminin. Demi Allah di rumahnya selalu tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)!”.

 

 

Mendengar jawapan itu, menitislah air mata Umar. Dia menyuruh wakilnya menyerahkan uncang berisi wang untuk bekal kehidupan Saad. Sewaktu menerima kiriman daripada Umar itu, Saad mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!”. Dia terus memanggil isterinya dan mengarahkannya supaya membahagikan wang itu kepada fakir miskin.

 

 

Keempat, Saad sentiasa bersifat berlapang dada terhadap pelbagai kritikan yang datang daripada rakyatnya. Sebenarnya memang sebelum kedatangan Saad pun, penduduk Homs sudah terkenal sebagai golongan yang banyak menuntut itu dan ini. Homs pada ketika itu dikenali sebagai Kuwaifah (Kufah kecil) kerana penduduknya yang mirip dengan orang Kufah, iaitu senang melapor kepada pemerintah pusat akan kelemahan yang dianggap ada pada gabenor mereka.

 

 

Suatu ketika Umar datang ke Homs. Kesempatan itu digunakannya untuk mendapatkan pandangan rakyatnya. Dalam satu majlis dia mempersilakan rakyat menyampaikan rasa tidak puas hati terhadap pemimpin mereka. Tanpa berselindung sedikit pun mereka mengemukakan empat rungutan kepada khalifah iaitu (1) gabenor baru keluar dari rumah setelah matahari tinggi, (2) tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari, (3) dalam sebulan ada sehari tidak datang ke pejabat sehari penuh dan (4) kadangkala gabenor jatuh pengsan di hadapan umum.

 

 

Umar menerima kritikan itu dan kemudian mempersilakan Saad mengajukan pembelaannya. Saad berkata, “Mengenai tuduhan mereka bahawa saya tidak hendak keluar sebelum matahari tinggi, maka demi Allah, sebetulnya saya tidak hendak menyebutkannya…keluarga kami tidak memiliki pembantu. Oleh itu setiap pagi terpaksa saya membantu membuat adunan roti terlebih dahulu untuk keluarga saya. Sesudah adunan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudian saya berwuduk untuk solat Dhuha. Sesudah itu saya berangkat ke tempat bertugas.”

 

Mengenai kritikan kedua, saya telah membahagi waktu saya. Siang hari untuk melayani masyarakat dan malam hari untuk bertaqarrub ilallah.

 

 

Mengenai kritikan ketiga, seperti yang telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pelayan atau pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ini. Saya mencucinya sebulan sekali. Bila mencucinya saya menunggu kering terlebih dahulu. Selepas itu barulah saya dapat pergi melayani masyarakat.

 

 

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, ‘Mahukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sihat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau oleh tusukan duri sekalipun…’

 

 

“Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar kerana takut akan siksa Allah dan saya berasa berdosa kerana pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT…!”

 

 

Saad mengakhiri kata-katanya dengan titisan air mata di kedua belah pipinya. Mendengar alasan Saad itu, Umar pun tidak dapat menahan rasa terharunya. Di peluknya gabenor itu sambil berkata, “Alhamdulillah kerana dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset”.

 

 

Sumber: http://www.haluan.org.my/v3/index.php/saad-bin-amir-al-jumahi.html

 

Khansa Binti Amru Radhiallahu ‘anha

sahabatnabi

 

Khansa Binti Amru Radhiallahu ‘anha

Nama lengkapnya adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor.

Beberapa syair terlantun dari lisan beliau di saat kematian saudaranya Shakhr di masa jahiliyah, maka beliau meratap dengan ratapan yang menyedihkan, yang akhirnya syair tersebut menjadi syair yang paling terkenal dalam hal syair duka cita.

Di antara syair yang bagus yang beliau ciptakan adalah sebagai berikut.

Menangislah dengan kedua matamu atau sebelah mata
Apakah aku akan kesepian karena tiada lagi penghuni di dalam rumah

Dan di antara syair beliau yang bagus adalah :

Kedua mataku menangis dan tiada akan membeku
Bagaimana mata tidak menangis untuk Shakhr yang mulia
Bagaimana mata tidak menangis untuk sang pemberani
Bagaimana mata tidak menangis untuk seorang pemuda yang luhur

Beliau mendatangi Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut akidah tauhid, amat baik keislaman beliau sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.

Rasulullah pernah meminta kepadanya untuk bersyair, maka beliau bersyair, Rasulullah menyahut, “Wahai Khansa’ dan hari-hariku di tangan-Nya.”

Ketika Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam, dia berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam, sesungguhnya di tengah-tengah kami ada orang yang paling ahli dalam syair, ada juga orang yang paling dermawan di antara manusia dan orang yang paling ahli dalam menunggang kuda.” Kemudian Nabi Shalalahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Siapakah nama mereka?” Adi bin Hatim berkata, “Adapun orang yang paling ahli bersyair adalah al-Qais bin Hajar, sedangkan yang paling dermawan adalah Hatim bin Sa’ad (yakni bapaknya Adi), adapun yang paling ahli dalam berkuda adalah Amru bin Ma’di Karib.”

Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Tidak benar apa yang kamu katakan wahai Adi, adapun orang yang paling ahli dalam syair adalah Khansa’ binti Amru, adapun orang yang paling dermawan adalah Muhammad (yakni Muhammad Shalalahu ‘alaihi Wassalam), sedangkan orang yang paling ahli berkuda adalah Ali bin Abu Thalib.”

Di samping kelebihan tersebut -hingga karena keistimewaannya dikatakan, ‘Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau- , beliau juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Beliau turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, dengarkanlah wasiat al-Khansa’ yang mulia tersebut :

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, “Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 200).

Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.”

Sementara itu keempat putranya mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Yang paling besar bersenandung :

Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah kawanan anjing yang sedang menggonggong
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian

Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan

Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh. Lalu yang kedua bersenandung:

Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia

Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid. Lalu giliran putra al-Khansa’ yang ketiga bersenandung:

Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya

Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid. Lalu giliran putra al-Khansa’ yang terakhir bersenandung:

Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia
Maju dalam kancah yang menakutkan
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah
Ataukah mati di jalan yang paling mulia

Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga beliau terbunuh

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni :

“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.

Adalah Umar bin Khaththab mengetahui betul tentang keutamaan al-Khansa’ dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.
Kemudian, wafatlah al-Khansa’ di Badiyah pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pada tahun 24 Hijriyah.

Semoga Allah merahmati al-Khansa’ yang benar-benar beliau sebagai seorang ibu yang tidak sebagaimana layaknya ibu yang lain, kalau saja para ummahatul Islam setelahnya semisal beliau, niscaya tiada hilang mereka yang telah hilang, tak akan dapat tidur mata orang yang sedang gelisah.

Diposting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, dinukil dari, “Biografi Ahlul Hadits”, yang bersumber dari : “Kitab Nisaa’ Haular Rasuul”, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi.

Imam Manshur Al Laalikai (wafat 416 H)

sahabatnabi

 

Imam Manshur Al Laalikai (wafat 416 H)

Nama Lengkapnya

Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ar Rozi At Thobani Al Laalikai.

Negeri dan Perkembangannya

Al Khotib dan Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa asal Thobani di nisbatkan ke negeri Thobanistan. Adapun Ar Rozi dinisbatkan ke kota besar yaitu Ar Roy. Kemudian beliau singgah di Baghdad dan bermukim di Baghdad. Jadi beliau pernah singgah di 3 tempat :

– Thobanistan negeri aslinya.
– Rihlah ke Ar Roy untuk menuntut ilmu.
– Baghdad.

Penisbatan beliau hanya ke Thobanistan dan Ar Roy tidak ada penisbatan ke Baghdad karena beliau hanya bermukim sebentar di Baghdad.

Guru-guru Beliau.

– Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Isfiroyini Imam Mazhab Syafi’i pada zamannya (w. 406 h).
– Ibrohim bin Muhammad bin Ubaid Abu Mas’ud Ad Dimasyqi.
– Al Hasan bin Utsman (w. 405 h).
– Muhammad bin Abdurrohman Al Abbasi Al Mukhlish.
– Isa bin Ali bin Isa Al Wazir.
– Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Ahmad Al Farodhi (w. 406 h).
– Muhammad bin Al Hasan Al Farisi (w. 386 h)
– Abdurrohman bin Umar Abu Husain Al Mu’dil (w. 397 h)
– Abdullah bin Muslim bin Yahya (w. 397 h)
– Muhammad bin Ali bin Nadhor (w. 396 h)

Murid-murid Beliau

– Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khotib Al Baghdadi (w. 463 h)
– Abu Hasan Ali bin Al Husain Al ‘Abari (w. 468 h)
– Abu Bakar Muhammad bin Hibatullah bin Al Hasan At Thobani Al Lalikai
– Ahmad bin Ali bin Zakaria At Thoni Tsitsi Syaikh sufi di Khurasan (w. 497 h)

Karangan-karangan Beliau

– Karomatu Auliyallah
– Asmau Rijalush Shohihain
– Fawaidu fikhtiari Abi Qosim
– Syarhu kitabi ‘Umar bin Khoththob.
– Dan lain-lain.

Pujian para Ulama Terhadap Beliau

– Al Hafid Al Khotib Al Bagdadi : beliau belajar fiqh As Syafi’i kepada Abi Al Isfiroyini.
– Al Hafidz Adz Dzahabi : beliau mufidu bagdad pada zamannya.
– Ibnu Atsir : beliau mendengar dan belajar hadits kepada Abi Hamid.

Wafatnya

Beliau wafat di kota Dimur hari selasa bulan Romadhon tahun 416 h. Ali bin Al Hasan bin Jada Al ‘Akbarni berkata : “Aku bermimpi bertemu dengan Abi Qosim At Thobuni, lalu saya bertanya kepadanya: “Apa yang Allah lakukan pada mu ?”, beliau menjawab; Allah telah mengampuniku, lalu saya berkata: “Dengan apa ?”, beliau menjawab; dengan kalimat yang samar (dengan sunnah).

Di posting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, dinukil dari, “Biografi Ahlul Hadits”

Related posts:

  1. Imam Al Ajurri Rahimahullah (wafat 419 H)
  2. Imam Al Barbahari (wafat 329 H)
  3. Imam An-nasa’i (wafat 303 H)
  4. Imam Asy Syaukani (wafat 250 H)
  5. Imam Al-hafidz At-tirmidzi Rahimahullah (wafat 279 H)

Ruqayyah Binti Rasulullah (wafat 2 H)

sahabatnabi

Ruqayyah Binti Rasulullah (wafat 2 H)

Ruqayyah telah menikah dengan Utbah bin Abu lahab sebelum masa kenabian. Sebenarnya hal itu sangat tidak disukai oleh Khadijah Radhiallahu ‘anha. Karena ia telah mengenal perilaku ibu Utbah, yaitu Ummu jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk dan jahat. Ia khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari ibu mertuanya tersebut. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diangkat menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Islam.

Abu Lahab telah banyak menghasut orang-orang Mekkah agar memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Begitu pula istrinya, Ummu Jamil yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memfitnahnya. Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah telah menurunkan wahyu-Nya, ‘Maka celakalah kedua tangan Abu lahab’, (Al lahab: 1)

Setelah ayat ini turun, maka Abu lahab berkata kepada kedua orang putranya, Utbah dan Utaibah, ‘Kepalaku tidak haial bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan Putri Muhammad.’ Atas perintah bapaknya itu, maka Utbah mericeraikan istrinya tanpa alasan. Setelah bercerai dengan Utbah, kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rasulullah . dengan Utsman bin Affan.

Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini. Karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangan Quraisy. Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan dari kafirin Quraisy. Ketika semakin hari penderitaan kaum muslimin, termasuk keluarga Rasulutlah shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah berat, maka dengan berat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengijinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa muslim lainnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pergilah ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang terkenal baik budinya, tidak suka menganiaya siapapun, Di sana adalah bumi yang melindungi kebenaran. Pergilah kalian ke sana. Sehingga Allah akan membebaskan kalian dari penderitaan ini.’

Maka berangkatlah satu kafilah untuk berhijrah dengan diketuai oleh Utsman bin Affan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mereka, Mereka adalah orang yang pertama kali hijrah karena Allah setelah Nabi Luth ‘alaihis salam.’ Setibanya di Habasyah mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum muslimin di Mekkah telah aman. Mendengar berita tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman memutuskan bahwa kafilah muslimin yang dipimpimnya itu akan kembali lagi ke kampung halamannya di Mekkah. Mereka pun kembali.

Namun apa yang dijumpai adalah berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah. Pada masa itu, mereka mendapati keadaan kaum muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas kaum muslimin semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak berani memasuki Mekkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Mekkah, barulah mereka mengunjungi rumah masing-masing yang dirasa aman. Ruqayyah pun masuk ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya.

Namun ketika matanya beredar ke sekeliling rumah, ia tidak menjumpai satu sosok manusia yang sangat ia rindukan. la bertanya, ‘Mana ibu?….. mana ibu?….’ Saudara-saudaranya terdiam tidak menjawab. Maka Ruqayyah pun sadar, orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu telah tiada. Ruqayyah menangis. Hatinya sangat bergetar, bumi pun rasanya berputar atas kepergiannya. Penderitaan hatinya, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama berselang, anak lelaki satu-satunya, yaitu Abdullah yang lahir ketika hijrah pertama, telah meninggal dunia pula. Padahal nama Abdullah adalah kunyah bagi Utsman radhiallahu ‘anhu, yaitu Abu Abdullah.

Abdullah masih berusia dua tahun, ketika seekor ayam jantan mematuk mukanya sehingga mukanya bengkak, maka Allah mencabut nyawanya. Ruqayyah tidak mempunyai anak lagi setelah itu.
Dia hijrah ke Madinah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersiap-siap untuk perang Badar, Ruqayyah jatuh sakit, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Utsman bin Affan agar tetap tinggal di Madinah untuk merawatnya.

Namun maut telah menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berada di medan Badar pada bulan Ramadhan. Kemudian berita wafatnya ini dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Dan kemenangan kaum muslimin yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta pasukannya dari Badar, ketika masuk ke kota Madinah, telah disambut dengan berita penguburan Ruqayyah. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz’un.’

Para wanita menangisi kepergian Ruqayyah. Sehingga Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu datang kepada para wanita itu dan memukuli mereka dengan cambuknya agar mereka tidak keterlaluan dalam menangisi jenazah Ruqayyah. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan tangan Umar radhiallahu ‘anhu dan berkata, ‘Biarkaniah mereka menangis, ya Umar. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syaitan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syaitan.’

Ruqoyyah dan Ummu Kultsum
Lahir dua orang putri dari rahim ibunya, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza radhiallahu ‘anha. Menyandang nama Ruqayyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma, di bawah ketenangan naungan seorang ayah yang mulia, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebelum datang masa sang ayah diangkat sebagai nabi Allah, Ruqayyah disunting oleh seorang pemuda bernama ‘Utbah, putra Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, sementara Ummu Kultsum menikah dengan saudara ‘Utbah, ‘Utaibah bin Abi Lahab. Namun, pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al-Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”

Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat dicampuri suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ganti yang jauh lebih baik. Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha disunting oleh seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.
Sebagaimana kaum muslimin yang lain, mereka berdua menghadapi gelombang ujian yang sedemikian dahsyat melalui tangan kaum musyrikin Mekkah dalam menggenggam keimanan. Hingga akhirnya, pada tahun kelima setelah nubuwah, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan jalan untuk hijrah ke bumi Habasyah, menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu membawa istrinya di atas keledai, meninggalkan Mekkah, bersama sepuluh orang sahabat yang lainnya, berjalan kaki menuju pantai. Di sana mereka menyewa sebuah perahu seharga setengah dinar.

Di bumi Habasyah, Ruqayyah radhiallahu ‘anha melahirkan seorang putra yang bernama ‘Abdullah. Akan tetapi, putra ‘Utsman ini tidak berusia panjang. Suatu ketika, ada seekor ayam jantan yang mematuk matanya hingga membengkak wajahnya. Dengan sebab musibah ini, ‘Abdullah meninggal dalam usia enam tahun.
Perjalanan mereka belum berakhir. Saat kaum muslimin meninggalkan negeri Makkah untuk hijrah ke Madinah, mereka berdua pun turut berhijrah ke negeri itu. Begitu pun Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha, berhijrah bersama keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selang berapa lama mereka tinggal di Madinah, bergema seruan perang Badr. Para sahabat bersiap untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha diserang sakit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk tetap tinggal menemani istrinya.

Ternyata itulah pertemuan mereka yang terakhir. Di antara malam-malam peristiwa Badr, Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya karena sakit yang dideritanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu sendiri yang turun untuk meletakkan jasad istrinya di dalam kuburnya.
Saat diratakan tanah pekuburan Ruqayyah radhiallahu ‘anha, terdengar kabar gembira kegemilangan pasukan muslimin melibas kaum musyrikin yang diserukan oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. Kedukaan itu berlangsung bersama datangnya kemenangan, saat Ruqayyah bintu Muhammad radhiallahu ‘anha pergi untuk selama-lamanya pada tahun kedua setelah hijrah.

Sepeninggal Ruqayyah radhiallahu ‘anha, ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu ‘anhu menawarkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk menikah dengan putrinya, Hafshah bintu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang kehilangan suaminya di medan Badr. Namun saat itu ‘Utsman dengan halus menolak. Datanglah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan kekecewaannya.

Ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihkan yang lebih baik dari itu semua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Hafshah radhiallahu ‘anha untuk dirinya, dan menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu dengan putrinya, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Tercatat peristiwa ini pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga setelah hijrah.

Enam tahun berlalu. Ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya pada tahun kesembilan setelah hijrah, tanpa meninggalkan seorang putra pun bagi suaminya. Jasadnya dimandikan oleh Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib radhiallahu ‘anhuma.
Tampak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah putrinya. Setelah itu, beliau duduk di sisi kubur putrinya. Sembari kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?” Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau, “Turunlah!”

Jasad Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha dibawa turun dalam tanah pekuburannya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid serta Abu Thalhah Al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai keduanya…. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Diposting oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, di nukil dari : “Biografi Ahlul Hadits”, yang di sarikan dari beberapa sumber :
– Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854)
– Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/30-35)
– Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 110-117)
– Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal. 192)
– Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250), Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran.

Juwairiah Binti Harits Bin Abu Dhirar (istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, Wafat 56 H)

sahabatnabi

Juwairiah Binti Harits Bin Abu Dhirar (istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, Wafat 56 H)

Telah kita ketahui bahwa setiap istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu memiliki suatu kelebihan. Demikian juga halnya dengan Juwairiyah yang telah membawa berkah besar bagi kaumnya, Banil-Musthaliq. Bagaimana tidak, setelah dia memeluk Islam, Banil-Musthaliq mengikrarkan diri menjadi pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini pernah diungkapkan Aisyah, “Aku tidak mengetahui jika ada seorang wanita yang lebih banyak berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah.”

Juwairiyah adalah putri seorang pemimpin Banil-Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhiraar yang sangat memusuhi Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi mereka sehingga banyak kalangan mereka yang terbunuh dan wanita-wanitanya menjadi tawanan perang. Di antara tawanan tersebut terdapat Juwairiyah yang kemudian memeluk Islam, dan keislamannya itu merupakan awal kebaikan bagi kaumnya.
Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Juwairiyah dilahirkan empat belas tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Semula namanya adalah Burrah, yang kemudian diganti menjadi Juwairiyah. Nama lengkapnya adalah Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dhiraar bin Habib bin Aid bin Malik bin Judzaimah bin Musthaliq bin Khuzaah. Ayahnya, al-Harits, adalah pemimpin kaumnya yang masih musyrik dan menyembah berhala sehingga Juwairiyah dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti itu. Tentunya dia memiliki sifat dan kehormatan sebagai keluarga seorang pemimpin. Dia adalah gadis cantik yang paling luas ilmunya dan paling baik budi pekertinya di antara kaumnya. Kemudian dia menikah dengan seorang pemuda yang bernama Musafi’ bin Shafwan.

Berada dalam Tawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Di bawah komando al-Harits bin Abi Dhiraar, orang-orang munaflk berniat menghancurkan kaum muslimin. Al-Harits sudah mengetahui kekalahan orang-orang Quraisy yang berturut-turut oleh kaum muslimin. Al-Harits beranggapan, jika pasukannya berhasil mengalahkan kaum muslimin, mereka dapat menjadi penguasa suku-suku Arab setelah kekuasaan bangsa Quraisy. Al-Harits menghasut pengikutnya untuk memerangi Rasulullah dan kaum muslimin. Akan tetapi, kabar tentang persiapan penyerangan tersebut terdengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau berinisiatif untuk mendahului menyerang mereka.

Dalam penyerangan tersebut, Aisyah radhiallahu ‘anha turut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kemudian meriwayatkan pertemuan Rasulullah dengan Juwairiyah setelah dia menjadi tawanan. Perang antara pasukan kaum muslimin dengan Banil-Musthaliq pun pecah, dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan muslim. Pemimpin. mereka, al-Harist, melarikan diri, dan putriinya, Juwairiyah, tertawan di tangan Tsabit bin Qais al-Anshari. Juwairiyah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan kehinaan dan kemalangan yang menimpanya, terutama tentang suaminya yang terbunuh dalam peperangan.

Tentang Juwairiyah, Aisyah mengemukakan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqatnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawan wanita-wanita Bani Musthaliq, kemudian beliau menyisihkan seperlima dari antara mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas al-Anshari. Sebelumnya, Juwairiyah menikah dengan anak pamannya, yaitu Musafi bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah, yang tewas dalam pertempuran melawan kaum muslimin.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah berkumpul denganku, Juwairiyah datang menanyakan tentang penjanjian pembebasannya. Aku sangat membencinya ketika dia menemui beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Rasulullah, aku Juwairiyah binti al-Harits, pemimpin kaumnya. Sekarang ini aku tengah berada dalam kekuasaan Tsabit bin Qais. Dia membebaniku dengan sembilan keping emas, padahal aku sangat menginginkan kebebasanku.’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau menginginkan sesuatu yang lebih dari itu?’ Dia balik bertanya, ‘Apakah gerangan itu?’ Beliau menjawab, ‘Aku penuhi permintaanmu dalam membayar sembilan keping emas dan aku akan menikahimu.’ Dia menjawab, ‘Baiklah, ya Rasulullah!” Beliau bersabda, ‘Aku akan melaksanakannya.’ Lalu tersebarlah kabar itu, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Ipar-ipar Rasulullah tidak layak menjadi budak-budak.’ Mereka membebaskan tawanan Banil-Musthaliq yang jumlahnya hingga seratus keluarga karena perkawinan Juwairiyah dengan Rasulullah. Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang lebih banyak memiliki berkah daripada Juwairiyah.”

Selain itu, Aisyah sangat memperhatikan kecantikan Juwairiyah, dan itulah di antaranya yang menyebabkan Rasulullah menawarkan untuk menikahinya. Aisyah sangat cemburu dengan keadaan seperti itu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat baik kepada Juwairiyah bukan semata karena wajahnya yang cantik, melainkan karena rasa belas kasih beliau kepadanya.
Juwairiyah adalah wanita yang ditinggal mati suaminya dan saat itu dia telah menjadi tawanan rampasan perang kaum muslimin.

Mendengar putrinya berada dalam tawanan kaum muslimin, al-Harits bin Abi Dhiraar mengumpulkan puluhan unta dan dibawanya ke Madinah untuk menebus putrinya. Sebelum sampai di Madinah dia berpendapat untuk tidak membawa seluruh untanya, namun dia hanya membawa dua ekor unta yang terbaik, yang kemudian dibawa ke al-Haqiq di bawah pengawasan para pengawalnya. Lalu dia pergi ke Madinah dan menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid. Terdapat dua riwayat yang menerangkan pertemuan al-Harits dengan
Rasulullah. Dalam riwayat pertama, seperti yang diungkapkan Ibnu Saad dalam Thabaqat-nya, dikatakan bahwa
Rasulullah menyerahkan keputusan kepada Juwairiyah.

Juwairiyah berkata, “Aku telah memilih Rasulullah ..” Ayahnya berkata, “Demi Allah, kau telah menghinakan kami.” Dalam riwayat kedua seperti yang disebutkan Ibnu Hisyam bahwa al-Harits menemui Rasulullah dan berkata, “Ya Muhammad, engkau telah menawan putriku. Ini adalah tebusan untuk kebebasannya.” Rasulullah menjawab, “Di manakah kedua unta yang engkau sembunyikan di al-Haqiq? Di tempat anu dan anu?” Al-Harits menjawab, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusanNya. Tiada yang mengetahui hal itu selain Allah.” Al-Harits memeluk Islam dan diikuti sebagian kaumnya. Rasulullah meminang Juwairiyah dengan mas kawin 400 dirham.

Berada di Rumah Rasulullah

Ketika Juwairiyah menikah dengan Rasulullah, beliau mengubah namanya, yang asalnya Burrah menjadi Juwairiyah, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat-nya Ibnu Saad, “Nama Juwairiyah binti al-Harits merupakan perubahan dari Burrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggantinya menjadi Juwairiyah, karena khawatir disebut bahwa beliau keluar dan rumah burrah.”
Juwairiyah telah memeluk Islam dan keimanan di hatinya telah kuat. Semata-mata dia mengikhlaskan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Abbas banyak meriwayatkan shalat dan ibadahnya, di antaranya, “Ketika itu

Rasulullah hendak melakukan shalat fajar dan keluar dari tempatnya. Setelah shalat fajar dan duduk hingga matahari meninggi, beliau pulang, sementara Juwairiyah tetap dalam shalatnya. Juwairiah berkata, ‘Aku tetap giat shalat setelahmu, ya Rasulullah.’ Nabi bersabda, ‘Aku akan mengatakan sebuah kalimat setelahmu. Jika engkau kerjakan, niscaya akan lebih berat dalam timbangan, ‘Maha Suci Allah, sebanyak yang Dia ciptakan. Maha Suci Allah Penghias Arasy-Nya. Maha Suci Allah, unsur seluruh kalimat-Nya.”

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, Juwairiyah mengasingkan diri serta memperbanyak ibadah dan bersedekah di jalan Allah dengan harta yang diterimanya dari Baitul-Mal. Ketika terjadi fitnah besar berkaitan dengan Aisyah, dia banyak berdiam diri, tidak berpihak ke mana pun.
Saat Wafatnya

Juwairiyah wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, pada usianya yang keenam puluh. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Rasulullah yang lain. Semoga Allah rela kepadanya dan kepada semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.

Diposting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, di nukil dari “Biografi Ahlul Hadits” yang bersumber dari Buku “Dzaujatur-Rasulullah”, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh.

Related posts:
1. Fatimah Binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam
2. Ummu Kultsum Binti Ali Bin Abu Thalib (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)
3. Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (empat Hari Sebelum Wafat)
4. Ummu Kultsum Binti Ali Bin Abu Thalib (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)
5. Sebagian Dari Akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

Imam Muslim Rahimahullah (pemilik Kitab Shahih Muslim, Wafat 271 H)

sahabatnabiHABAT
Imam Muslim Rahimahullah (pemilik Kitab Shahih Muslim, Wafat 271 H)

Nama dan Pertumbuhannya
Nama Lengkapnya adalah Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi (Bani Qusyair adalah sebuah kabilah Arab yang cukup dikenal) an-Naisaburi.
Seorang imam besar dan penghapal hadits yang ternama. Ia lahir di Naisabur pada tahun 204 H. Para ulama sepakat atas keimamannya dalam hadits dan kedalaman pengetahuannya tentang periwayatan hadits.

Ia mempelajari hadits sejak kecil dan bepergian untuk mencarinya keberbagai kota besar. Di Khurasan ia mendengar hadits dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih dan lain lain. Di Ray ia mendengar dari Muhammad bin Mahran, Abu Ghassan dan lainnya, Di Hijaz ia mendengar hadits dari Sa’id bin Manshur, Abu Mash’ab dan lainnya, Di Iraq ia mendengar dari Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Muslimah dan lainnya, Di Mesir ia mendengar hadits dari Amr bin Sawad, Harmalah bin Yahyah dan beberapa lainnya.
Lantaran hubungan mempelajari hadits al-Bukhary, ia meninggalkan guru gurunya seperti: Muhammad ibn Yahya adz Dzuhaly.

Adapun yang meriwayatkan darinya diantaranya: At Tirmidzi, Abu Hatim, ar Razi, Ahmad bin Salamah, Musa bin Harun, Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Mukhallad, Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq al Isfira’ini, Muhammad bin Abdul Wahab al-Farra’, Ali bin Husain bin Muhammad bin Sufyan, yang terakhir ini adalah perawi Shahih Muslim.
Banyak sekali ulama hadits memujinya, Ahmad bin Salama berkata:” Abu Zur’ah dan Abu Hatim mendahulukan Muslim atas orang lain dalam bidang mengetahui hadits shahih.”

Karya-Karya Beliau
Imam Muslim banyak menulis kitab diantaranya :
• kitab Shahihnya (Shahih Muslim),
• kitab Al-Ilal,
• kitab Auham al-Muhadditsin,
• kitab Man Laisa lahu illa Rawin Wahid,
• kitab Thabaqat at-Tabi’in, kitab Al Mukhadlramin,
• kitab Al-Musnad al-Kabir ‘ala Asma’ ar-Rijal dan kitab Al-Jami’ al-Kabir ‘alal abwab.
Bersama Shahih Bukhari, Shahih Muslim merupakan kitab paling shahih sesudah Al-Quran. Umat menyebut kedua kitab shahih tersebut dengan baik. Namun kebanyakan berpendapat bahwa diantara kedua kitabnya, kitab Al-Bukhari lebih Shahih.

Imam Muslim sangat bangga dengan kitab shahihnya, mengingat jerih payah yang ia curahkan ketika mengumpulkannya. Ia meyusunnya dari 300.000 hadits yang ia dengar, oleh karena itu ia berkata: ” Andaikata para ahli hadits selama 200 tahun menulis hadits, maka porosnya adalah al-Musnad ini (yakni kitab shahihnya)”.
Wafat Beliau

Ia wafat di Naisabur pada tahun 271 H dalam usia 55 tahun.
Diposting oleh : Abu Thalhah Andri bdul Halim, dinukil dari “Biografi Ahlul Hadits” yang bersumber dari : Biografi Imam Muslim dalam Tadzkirat al-Huffadh 2/150, Tahdzib al-Asma’ An-Nawawi 10/126.

SYAHID SAYYIDINA UMAR AL-KHOTTAB

SYAHID SAYYIDINA UMAR AL-KHOTTAB

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ …أَمَّا بَعْدُ…..فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاتمَوُْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Wahai hamba-hamba Allah ! Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

Saya menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian agar kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala yang ditegahNya. Janganlah kita hanya tahu mendengar sahaja perkataan taqwa serta menyebutnya sedangkan ia tidak menyerap ke dalam sanubari kita . Hitunglah diri kita setiap masa samada semakin hampir kepada Allah atau sebaliknya. Adakah amalan soleh kita semakin meningkat atau pun menurun….

Sidang Jumaat yang dihormati sekalian
Firman Allah dalam ayat 78 surah an-Nisa’
أينما تكونوا يدرككم الموت ولو كنتم في بروج مشيدة وإن تصبهم حسنة يقولوا هذه من عند الله وإن تصبهم سيئة يقولوا من عندك . قل كا من عند الله فمال هؤلأ القوم لايكادون يفقهون حديثا ,

Maksudnya : Di mana jua kamu berada, kematian pasti akan datang kepadamu sekali pun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kukuh. Dan jika mereka beroleh kebaikan mereka berkata : “Ini adalah dari sisi Allah”. Dan jika mereka ditimpa bencana, mereka akan berkata :” Ini adalah dari (sesuatu yang nahas) yang ada padamu”. Katakanlah (Wahai Muhammad) :” Semuanya itu adalah dari sisi Allah”. Maka apakah yang menyebabkan kaum itu hampir-hampir tidak memahami perkataan(nasihat dan pengajaran.

Pada hari ini kita akan mengambil iktibar daripada kisah yang menyayat hati yang telah berlaku kepada Sayyina Umar al-Khottab. Sayyidina Umar al-Khattob iaitu khalifah yang kedua daripada khulafa’ ar-rashidin. Beliau juga merupakan khalifah ar-rashid yang pertama gugur syahid(akhirat) akibat pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang menjadi musuh dalam selimut kepada umat Islam. Sebagaimana kita semua maklum bahawa daripada kalangan Khalifah ar-Rasyidin yang empat itu hanya Sayyidina Abu Bakar Sahaja yang wafat kerana tua manakala mereka yang lain wafat kerana dibunuh oleh musuh. Sayyidina Umar semasa hidupnya samada sebelum memeluk Islam mahu pun selepasnya begitu terkenal dengan keberaniannya.

Keberanian beliau diketahui oleh kawan dan lawan dan sebagai contohnya bagaimana semasa mahu berhijrah ke Madinah Munawwarah, beliau secara terang-terang memberitahu tentang penghijrahannya kepada kafir Quraisy yang berada di kawasan Ka’bah pada masa itu. Dengan pedang terhunus beliau menyeru : ” Wahai kafir Quraisy! aku ingin berhijrah ke Madinah. Sesiapa yang ingin melihat isterinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim maka cubalah sekat penghijrahan Umar ini”.

Pada zaman pemerintahan Umar juga, kita dapat lihat lebih luasnya penyebaran Islam dan juga pembukaan negara-negara Islam yang baru. Antara yang paling masyhur ialah apabila tentera Islam mampu membebaskan qiblat umat Islam yang pertama iaitu Masjid Aqsa di Palestin pada zamannya. Banyak lagi jasa yang telah dilakukan oleh beliau sepanjang hayatnya dan kehilangan beliau sukar dicari ganti. Kita juga menyaksikan bagaimana pada zaman beliau menjadi khalifahlah bermulanya penggunaan taqwim Islam berdasarkan peristiwa hijraturrasul S.A.W.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah
Beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa yang menyayat hati ini, Abu Lu’luah seorang Majusi telah bertemu dengan beliau dan mengadu mengenai jumlah kharaj yang dikenakan ke atasnya untuk dijelaskan kepada tuannya iaitu Mughirah bin Syu’bah agak tinggi. Kadar jumlah yang terpaksa dibayar ialah 4 dirham setiap hari yang mana Sayyidina Umar yang mendengar pengaduan ini mengatakan bahawa jumlah itu agak bersesuaian dan tidak terlalu membebankan. Ini berdasarkan kepada pendapatnya hasil daripada beberapa kerja yang dilakukan. Sebenarnya Sayyidina Umar memang boleh mempertimbangkan rayuannya itu sebagaimana beliau berbuat demikian dengan mereka yang lain tetapi beliau tetap dengan pendiriannya bahawa kadar yang dikenakan tidak membebankan Abu Lu’luah. Apabila rayuannya itu tidak diterima oleh Sayyidina Umar maka dia terus berlalu dari situ dalam keadaan marah dan penuh perasaan dendam. Dia berniat dalam hati untuk membunuh Sayyidina Umar dan hanya menunggu masa yang sesuai untuk melaksanakan niat jahatnya itu.

Akhirnya Sayyidina Umar mendapat berita mengenai niat jahat yang ingin dilakukan oleh Abu Lu’luah terhadap beliau. Beliau meminta pandangan Sayyidina Ali mengenai perkara ini lalu Sayyidina Ali berkata : “Adakah perlu kami mengawal engkau wahai Amirul Mukminin?”. Jawab Sayyidina Umar dengan tegas : “Cukuplah Allah sebagai pengawal”. Beliau tidak melantik pengawal khas bagi mengawal beliau daripada sebarang kemungkinan yang akan berlaku kerana beliau bimbang tindakan ini akan diikuti oleh khalifah selepas beliau nanti. Jika perkara ini berlaku akan menyebabkan orang yang dizalimi tidak lagi mampu menemui khalifah bagi mengadu sebarang masalah dengan mudah dan tidak payah melepasi pengawal terlebih dahulu.
Sidang Jumaat yang dihormati sekalian

Pada suatu hari ketika Sayyidina Umar bersama para sahabat yang lain ingin mendirikan solat Subuh, Abu Lu’luah turut sama masuk ke masjid dan berada dicelah-celah para sahabat yang lain. Dia membawa pisau yang bermata dua dan terus mara menuju ke arah Sayyidina Umar. Apabila telah hampir maka dia terus meluru ke arah Sayyidina Umar lalu menikamnya sebanyak enam tikaman yang mana antara sala satunya terkena dibahagian perut Sayyidina Umar. Tikaman di bahagian perut inilah yang menyebabkan Sayyidina Umar gugur syahid. Setelah menikam Sayyidina Umar, Abu Lu’luah cuba lari tetapi ditahan oleh para sahabat yang lain.

Apabila ditahan menyebabkan dia terus menggunakan pisaunya untuk menikam mereka yang cuba menangkapnya.
Ini menyebabkan sebelas atau tiga belas orang sahabat gugur syahid dan yang lain ramai yang luka. Namun begitu para sahabat cuba juga untuk manangkap penjenayah yang kejam itu dan akhirnya Abdullah bin ‘Auf az-Zuhri berjaya memegang bajunya dan terus menariknya sehingga dia rebah di atas lantai. Melihat dirinya telah terkepong dan tertangkap maka dia terus membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan pisau ditangannya. Selepas itu Abdullah bin ‘Auf terus memenggalkan kepala penjenayah itu.

Sidang Jumaat yang dikasihi sekalian
Berbalik kepada keadaan Sayyidina Umar di mana beliau terus rebah setelah ditikam. Para muslimin yang berada di situ terus memangku beliau dalam keadaan penuh kebimbangan. Beliau menyeru :” Adalah di kalangan kamu ini Abdul Rahman bin ‘Auf?”. Para muslimin menyahut : ” Ya! ada wahai Amirul Mukminin”. Beliau berkata :”Katakanlah kepadanya agar mengimamkan para muslimin dalam menunaikan solat Subuh!. Ia merupakan solat fardhu yang diwajibkan ketika ini”. Inilah dia Sayyidina Umar yang begitu mementingkan kewajipan terhadap Allah daripada dirinya sendiri yang sedang berada dalam keadaan parah ketika itu.

Lalu Abdul Rahman bin ‘Auf mengimamkan para muslimin dalam solat Subuh pada pagi itu. Manakala Abdullah bin Abbas bersama beberapa orang muslimin yang lain sibuk menguruskan Sayyidina Umar sehinggalah beliau diusung masuk ke rumahnya dan beliau ketika itu berada dalam keadaan koma tidak sedarkan diri. Setelah pagi telah meninggi maka beliau yang telah sedar daripada koma terus bertanya kepada para muslimin dikelilingnya : Adakah para muslimin telah mendirikan solat?”. Jawab Ibnu Abbas :” Ya!”. Kata Sayyidina Umar :” Tidak Islam bagi orang yang meninggal solat”. Selepas itu beliau terus berwudhu’ dan solat.

Setelah selesai solat beliau terus berkata :” Wahai Abdullah bin Abbas! keluar dan tanya tentang siapakah yang cuba membunuhku?. Abdullah bin Abbas terus keluar dari rumah Sayyidina Umar dan bertanya mereka yang ditemuinya : ” Siapakah yang menikam Amirul Mukminin?”. Mereka memberitahu bahawa Abu Lu’luah yang telah melakukan perbuatan yang kejam itu terhadap Sayyidina Umar. Mendengar jawapan itu, lalu Abdullah bin Abbas terus kembali semula kepada Sayyidina Umar dan memberitahu beliau tentang orang yang menikamnya.

Mendengar jawapan itu maka Sayyidina Umar terus berkata : ” Alhamdulillah aku bersyukur kepada Allah yang mana tidak menjadikan orang yang menikamku sebagai orang yang akan mendakwaku di hadapan Allah nanti dengan tempat sujud yang disujudnya bagiNya sahaja”. Maksud kata-kata beliau ialah beliau berasa lega kerana orang yang menikamnya bukan daripada kalangan muslim yang tidak berpuas hati dengannya.

Beliau memanggil ahli perubatan pada masa itu yang mana ramai daripada kalangan mereka yang berada di Madinah datang untuk merawatnya. Mereka menyatakan bahawa kecederaan yang dihadapi oleh Sayyidina Umar agak parah dan tidak mampu dirawat lagi. Mendengar kata-kata ahli perubatan itu maka para muslimin berasa begitu sedih dan menangis kerana tidak lama lagi mereka akan berpisah dengan pemimpin yang adil dan tegas itu. Mendengar tangisan itu lalu Sayyidian Umar terus menegahnya. Ketika beliau meminum susu maka beliau dapat melihat bagaimana air susu yang putih itu keluar daripada kesan lukanya. Beliau merasa sudah sampai masanya untuk menemui Allah Tuhan Penciptanya. Beliau memandang kepada muslimin sekelilingnya lalu berpesan agar mereka bertaqwa kepada Allah dan mendirikan solat serta bersikap adil kepada rakyat.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,
Dalam keadaan yang sugul itu para muslimin mencadangkan agar beliau menentukan khalifah selepasnya. Beliau menjawab kepada mereka :” Aku tidak akan membuatnya maka sesungguhnya orang yang lebih mulia daripadaku telah meninggalkan urusan ini(pemilihan) kepada muslimin maka Rasulullah S.A.W sendiri meninggalkan urusan ini. Sekiranya aku membuat pemilihan maka aku akan memilih orang yang lebih baik daripadaku iaitu Sayyidina Abu Bakar. Jika Abu Ubaidah bin Jarrah masih hidup(di mana beliau telah gugur syahid dalam peperangan Mu’tah) nescaya aku akan melantiknya.Jika Salim maula Abu Huzaifah masih hidup nescaya aku akan melantiknya”. Kemudian beliau memanggil Abdul Rahman bin ‘Auf lalu berkata :”Aku mahu memberi sumpah setia kepadamu”.

Mendengar kata-kata Sayyidina Umar itu lalu Abdullah bin ‘Auf bertanya :” Adakah engkau telah bermesyuarat dalam perkara ini?. Jawab beliau :”Demi Allah aku belum lagi berbuat demikian”. Kata Abdul Rahman bin ‘Auf :”Demi Allah aku tidak masuk campur dalam masalah ini selama-lamanya”. Perintah beliau :” Carilah kata putus sehingga aku boleh melantik daripada kalangan mereka yang telah dipilih oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda redha dengan mereka”. Abdul Rahman bin ‘Auf terus memanggil Sayyidina Ali, Sayyidina Uthman, Zubair bin al-Awwam dan Sa’ad bin al-Waqas. Dia berkata:” Tunggulah kehadiran saudaramu Talhah yang mana dia sekarang berada di luar Madinah dan jika tidak maka laksanakan urusan kamu”.

Dari sini kita dapat fahami bahawa masalah kepimpinan ini merupakan perkara yang besar dan tidak boleh dipandang ringan. Ia juga menunjukkan bahawa kepimpinan ini terlibat secara langsung dengan masalah agama bukannya sebagaimana dakwaan sesat golongan sekular bahawa agama suku politik suku. Jika benar dakwaan mereka mengapa masalah ini ditekankan oleh muslimin dan juga Sayyidina Umar yang berada dalam keadaan tenat ketika itu.Kita juga dapat menyaksikan bagaimana cara pemilihan seseorang khalifah itu tidak ditetapkan oleh syarak. Oleh itu setiap cara boleh diguna selagimana tidak bercanggah dengan syarak dan tidak menggugat pelaksanaan Islam secara menyeluruh bukannya secara juzu’ tertentu sahaja dengan menafikan juzu’ yang lain

Sidang Jumaat yang dikasihi sekalian
Subuh hari pertama bulan Muharram tahun 22 hijrah menyaksikan kesyahduan suasana apabila Sayyidina Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun iaitu sama dengan umur Rasulullah S.A.W dan Sayyidina Abu Bakar ketika kewafatan keduanya. Selepas jenazah beliau selesai diurus maka Suhaib ar-Rumi telah mengimamkan para muslimin dalam menyembahyangkan jasad yang mulia ini. Beliau dikebumikan dalam bilik Sayyidatina ‘Aisyah selepas mendapat keizinannya. Maqam beliau berada berhampiran maqam Rasulullah S.A.W dan Sayyidina Abu Bakar. Pada hari itu juga para ahli majlis Syura telah bermesyuarat dan sebulat suara melantik Sayyidina Uthman bin al-‘Affan sebagai khalifah ar-rashid yang ketiga menggantikan

Sayyidina Umar al-Khattob al-Faruq sebagai pemimpin Daulah Islamiah.
Firman Allah dalam ayat 10 dan 11 surah al-Munafiqun :
وأنفقوا من ما رزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول رب لولآ أخرتني إلى أجل قريب فأصدق وأكن من الصالحين . ولن يؤخر الله نفسا إذا جاء أجلها والله خبير بما تعملون .

Maksudnya : dan belanjakanlah sebahagian daripada rezeki yang Kami anugerahkan kepada kamu sebelum sampainya ajal maut kepada seseorang daripadamu. (jika tidak) maka dia akan merayu-rayu dengan katanya :” Wahai Tuhanku! Alangkah baiknya kalau Engkau tangguhkan kedatangan ajalku ke suatu masa yang sedikit sahaja lagi supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi orang-orang yang soleh.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Disunting oleh Ibnu Atiq

Mush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama

sahabatnabi
Mush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama
http://teamjabal.wordpress.com/2010/09/01/mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama/

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya Orang kaya dan terpandang. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagaimana dialami Mush’ab bin Umair.

Serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, riwayat yang akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona. Menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Adalah Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.
Bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Ketika keberadaannya diketahui, Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka –pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar,
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah- rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; KitabSuci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. •! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masukAgama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi.

Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”. Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme•ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu…. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiadataranya,suatukeberhasilanyang memang wajar dan layak diperolehnya• Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba- hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Mlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara …

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar…. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam…. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah. Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.

Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata: Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah
seorang musuh berkuda, Ibnu ‘Umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.
Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sungguh sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak,dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera…. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada…. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya.

Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul” Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang….

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.

Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan….

Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.
Berkata Khabbah ibnul’Urrat: “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi…. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya.

Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya…. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat: Di antara orang-orang Mukmin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah..(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda: Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan- tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Salam atasmu wahai Mush’ab….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: