Blog Archives

Aqabah, Titik Dakwah Rasulullah

jalan-490x326

Aqabah, Titik Dakwah Rasulullah

Oleh Saad Saefullah — Selasa 24 Zulhijjah 1434 / 29 October 2013 09:17

http://www.islampos.com/aqabah-titik-dakwah-rasulullah-84536/


 

Oleh: Muhammad Fajri Romadhoni, Mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UNLAM, Korda BKLDK Banjarbaru

 

“SIAPAKAH kalian ini?” tanya Rasul setelah saling bertatap muka.

“Kami orang-orang dari Khazraj,” jawab mereka.

“Sekutu orang-orang Yahudi?” tanya Rasul.

“Benar,”

“Maukah kalian duduk-duduk agar bisa berbincang-bincang dengan kalian?”

“Baiklah.”

Sehingga terdapat tujuh orang dalam perbincangan tersebut termasuk Rasulullah di Aqabah, Mina. Diantaranya ada As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harits, Rafi’ bin Malik, Quthbah bin Amir, Uqbah bin Amir, Jabir bin Abdullah. Mereka menikmati perbincangan yang cukup indah dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah. Menjelaskan hakikat Islam, dakwah dan mengajak mereka mendekat kepada Allah dan tidak menyekutukan apapun denganNya.

Langit meyaksikan mereka, bebatuan, dan bukit Aqabah jadi saksi di tengah heningnya malam. Memang keadaan ketika itu Rasulullah mengalami tekanan yang begitu kuat dari penduduk Mekkah terhadap dakwahnya sehingga beliau membuat strategi berdakwah kepada kabilah-kabilah pada malam hari. Di malam tersebut juga Rasul sempat pergi bersama Abu Bakar dan Ali untuk berdakwah ke perkampunang Dzuhl dan Syaiban.

“Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang nabi seperti apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Jangalah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!” itulah kalimat yang terucap dari mulut keenam orang yang berasal dari Yastrib setelah lama berdiskusi dengan Rasulullah.

“Kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum yang lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka dengan engkau. Kami akan menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada diri engkau,” itulah janji mereka. Menyebarkan risalah Islam kepada penduduk Madinah. Sehingga tak ada satu rumah pun di Madinah melainkan sudah menyebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Inilah titik awal peristiwa sebelum Baiat Aqabah pertama.

***

sahabatnabiEstafet dakwah berhasil dilanjutkan berkat keenam orang yang mulia tadi. Beberapa saat setelah masuk Islam, mereka sudah berjanji mendakwahkannya di tempat asalnya Madinah. Sehingga menimbulkan opini umum di tengah masyarakat madinah perihal Islam dan ke-Rasul-an Muhammad SAW.

Dari enam orang, di musim haji berikutnya setelah peristiwa pertama di bukit aqabah itu datang kembali dua belas orang yang ingin berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Lima orang di antara mereka adalah orang yang sebelumnya sudah bertemu Rasulullah. Sedangkan tujuh orang yang lain adalah orang yang berhasil dibawa oleh mereka. Diantaranya mereka adalah Mu’adz bin Al Harits, Dzakwan bin Abdul Qais, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazin bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, Abul Haritsam bin At-Taihan, Uwaim bin Sa’idah.

Mereka mengadakan pertemuan kembali di tempat yang sama yaitu di Aqabah di Mina. Dan kedua belas orang ini mengucapkan bai’at (janji setia) kepada Rasulullah. Marilah kita mendengar kalimat ba’iat yang dituturkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit yang berhasil diriwayatkan oleh Ulama’ mulia kita Al-Bukhari,

“Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurkahai dalam urusan yang baik. Barang siapa di antara kalian yang menepatinya, maka pahala ada pada Allah. Barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya.” Lalu aku (Ubadah bin Ash-Shamit) pun berba’iat kepada beliau.

Bai’at inilah sejarah mencatat dengan sebutan “Bai’at Aqabah Pertama”.

Setelah bai’at selesai dan musim haji selesai, Rasulullah mengutus salah satu sahabat terbaiknya. Yang paling baik parasnya, tajam lisannya, dan pandai membaca yaitu Mush’ab bin Umair. Beliau diutus untuk pergi ke Madinah bersama para kabilah tadi untuk menyebarkan Islam, mengajarkan syariat-syariat Islam dan pengetahuan agama kepada Muslim dan non Muslim serta beberapa penduduk yang masih musyrik di sana.

Sesampainya di Madinah, keberhasilan Mush’ab bin Umair dalam menyebarkan risalah Islam kian hari kian terlihat. Beliau di sana tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, lalu mereka menjadi rekan dakwah Islam yang begitu semangat dan bersungguh-sungguh menyampaikan risalah agung ini.

Akhirnya sebelum tiba musim haji tahun ketiga belas setelah nubuwah, Mush’ab memutuskan untuk kembali ke Mekkah guna mengabarkan keberhasilannya. Hingga saat itu seluruh kampung dari perkampungan-perkampungan Anshar di dalamnya sejumlah laki-laki dan wanita sudah masuk Islam berkat usaha Mus’ab. Terkecuali beberapa kampung yang belum dibukakan hatinya oleh Allah, yaitu perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il. Di antara mereka ada Qais bin Al-Aslat, seorang penyair yang sangat dipuja dan dihormati dikampungnya. Sehingga membuat penduduk kampung sulit menerima Islam dikarenakan halangan Qais bin Al-Aslat ini. Selain itu mayoritas penduduk Yastrib (Madinah) sudah menerima Islam, siap melindungi Islam dengan seluruh kekuatannya.

***

Estafet dakwah terus berkembang. Dari enam menjadi dua belas, dari dua belas bersama Mush’ab menjadi tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua wanita. Ke tujuh puluh lima orang ini kembali berkumpul di bukit penuh sejarah itu, Aqabah.

Sejarah mencatat kejadian besar ini, yang merupakan titik tolak dakwah Rasulullah yang cukup menyejarah, menyebutnya sebagai Bai’at Aqabah kedua.

Semua berkumpul di sana, berjanji beberapa hal kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mari kembali kita simak riwayat yang ditulis ulama’ kita yang mulia, Al-Imam Ahmad. Beliau meriwayatkan masalah ini secara rinci dari Jabir, dia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada engkau?”

Inilah Klausul baiat yang disampaikan Rasulullah :

1. Untuk mendengar dan ta’at tatkala bersemangat dan malas.

2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah.

3. Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

4. Untuk berjuang karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela.

5. Hendaklah kalian menolong jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.1

Setelah penetapan klausul-klausul ba’iat oleh Rasulullah, kemudian para sahabat segera melaksanakan ba’iat. Pertama ba’iat dilaksanakan secara khusus kepada pemuka-pemuka agama bagi orang-orang yang menyatakan bai’at tersebut. Kemudian baru ba’iat dilakukan secara umum oleh semua orang laki-laki kepada Rasulullah. Jabir menuturkan, “Lalu kami yang laki-laki bangkit menghampiri beliau secara bergiliran, lalu beliau membaiat kami dan berjanji akan meberikan surga kepada kami.” Sedangkan yang wanita cukup dengan perkataan.

Begitulah kejadian ringkas bagaimana terjadinya Baiat Aqabah Kedua yang juga dikenal dengan Baiat Aqabah Kubra.Baiat ini mencerminkan kecintaan yang begitu mendalam dari saudara-saudara sesama muslim di Madinah yang begitu perih melihat penderitaan para mukmin di Mekkah. Rasa cinta ini benar-benar merasuk dalam jiwa dan hati mereka, sehingga menimbulkan kekuatan tersembunyi, kepercayaan yang mendalam, keberanian yang kuat, dan keteguhan baja meniti jalan ini. Perasaan ini tumbuh murni karena dorongan iman kepada Allah, Rasul, dan kitabNya. Iman inilah yang tidak akan pudar meskipun cobaan dan kezholiman musuh-musuh membuat mereka tak bisa berdiri lagi. Dengan iman inilah Muslim mampu menorehkan kehebatan dalam zaman dan mencatat sejarah-sejarah penting dalam masa-masa kegemilangan muslim selanjutnya.

Baiat ini juga menunjukkan bagaimana titik tolak dakwah Rasulullah dari fase Mekkah ke fase Madinah. Dari fase Mekkah yang hanya terdiri atas kelompok-kelompok dakwah yang dipimpin Rasulullah hingga akhirnya menawarkan Islam ke penduduk Madinah yang kemudian diterima dengan baik. Hingga tercapainya tahap dimana Rasulullah dan Islamnya selalu menjadi pembicaraan di setiap orang, setiap waktu, setiap tempat hingga ke sudut-sudut perkampungan kota Madinah. Selanjutnya para pimpinan-pimpinan kabilah akhirnya menawarkan akan memberi perlindungan kepada Rasulullah SAW dengan segenap jiwa dan diri mereka. Melindungi Islam dan RasulNya. Membuktikan iman dan cintanya terhadap Islam dan dakwah. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW mendirikan daulah Islam di Madinah dengan pertolongan Allah dan perlindungan para pemimpin kabilah tadi.

Wallahu ‘alam bishawab.

Sumber : http://www.islampos.com/aqabah-titik-dakwah-rasulullah-84536/

Advertisements

Usamah Bin Zaid

sahabatnabi

Usamah Bin Zaid

 

Tahun ketujuh sebelum hijrah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sedang susah karena tindakan kaum Qurasy yang menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri karena gembira menyambut berita tersebut.

Siapakah bayi itu? Sehingga, kelahirannya dapat mengobati hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang duka, berubah menjadi gembira ? Itulah dia, Usamah bin Zaid.

Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka-cita dengan kelahiran bayi yang baru itu. Karena, mereka mengetahui kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yang diberkati, terkenal dengan panggilan “Ummu Aiman”. Sesungguhnya Ummu Aiman adalah bekas sahaya ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman.

Rasulullah menyayangi Ummu Aiman, sebagaimana layaknya sayangnya seorang anak kepada ibunya. Beliau sering berucap, “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.” Itulah ibu bayi yang beruntung ini.

Adapun bapaknya adalah kesayangan (Hibb) Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia menjadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yang sangat dikasihi dalam Islam.

Kaum muslimin turut bergembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan meraka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu bisa terjadi karena tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah juga mereka sukai. Bila beliau bergembira mereka pun turut bergembira. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (kesayangan anak kesayangan).

Kaum muslimin tidak berlebih-lebihan memanggil Usamah yang masih bayi itu dengan panggilan tersebut. Karena, Rasulullah memang sangat menyayangi Usamah sehingga dunia seluruhnya agaknya iri hati. Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah, Hasan bin Fatimah az-Zahra. Hasan berkulit putih tampan bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan kakeknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Usamah kulitnya hitam, hidungnya pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsyi. Namun, kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah, lalu meletakkan di salah satu pahanya. Kemudian, diambilnya pula Hasan, dan diletakkannya di paha yang satunya lagi. Kemudian, kedua anak itu dirangkul bersama-sama ke dadanya, seraya berkata, “Wahai Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka!”

Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah, pada suatu kali Usamah tersandung pintu sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh Aisyah membersihkan darah dari luka Usamah, tetapi tidak mampu melakukannya. Karena itu, beliau berdiri mendapatkan Usamah, lalu beliau isap darah yang keluar dari lukanya dan ludahkan. Sesudah itu, beliau bujuk Usamah dengan kata-kata manis yang menyenangkan hingga hatinya merasa tenteram kembali.

Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil, tatkala sudah besar beliau juga tetap menyayanginya. Hakim bin Hizam, seorang pemimpin Qurasy, pernah menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hakam membeli pakaian itu di Yaman dengan harga lima puluh dinar emas dari Yazan, seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakam, sebab ketika itu dia masih musyrik. Lalu, pakaian itu dibeli oleh beliau dan hanya dipakainya sekali ketika hari Jumat. Pakaian itu kemudian diberikan kepada Usamah. Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah-tengah para pemuda Muhajirin dan Anshar sebayanya.

Sejak Usamah meningkat remaja, sifat-sifat dan pekerti yang mulia sudah kelihatan pada dirinya, yang memang pantas menjadikannya sebagai kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela.

Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.

Ketika terjadi Perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengan kelompok kecil ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.

Dalam Perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun.

Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum.

Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syiria) dengan mengenang segala kebaikannya.

Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara untuk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yang tua-tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Usamah bin Zaid yang masih remaja menjadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum.

Ketika bala tentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sakit dan kian hari sakitnya makin keras. Karena itu, keberangkatan pasukan ditangguhkan menunggu keadaan Rasulullah membaik.

Kata Usamah, “Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak, setelah saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tidak berkata-kata karena kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku.”

Tidak berapa lama kemudian Rasulullah pulang ke rahmatullah. Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik menjadi khalifah. Khalifah Abu Bakar meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah. Tetapi, sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar.

Kata mereka, “Jika khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya, kami mengusulkan panglima pasukan (Usamah) yang masih remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.”

Mendengar ucapan Umar yang menyampaikan usul dari kaum Anshar itu, Abu Bakar bangun menghampiri Umar seraya berkata dengan marah, “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasululllah. Demi Allah, tidak ada cara begitu!”

Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan khalifah tentang usulnya. Kata Umar, “Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, belaiu menolak dan malahan saya kena marah. Saya dikatakan sok berani membatalkan keputusan Rasulullah. Maka, pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kendaraan.”

Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. “

Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”

Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.”

Usamah terus maju membawa pasukan tentara yang dipimpinnya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakan sebaik-baiknya. Tiba di Balqa’ dan Qal’atud Daarum, termasuk daerah Palestina, Usamah berhenti dan memerintahkan tentaranya berkemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskannya dari hati kaum muslimin.

Lalu, dibentangkannya jalan raya di hadapan mereka bagi penaklukan Syam (Syiria) dan Mesir.

Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga, orang mengatakan, “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”

Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena, dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dengan sempurna dan memuliakan pribadi Rasul.

Khalifah Umar bin Khattab pernah diprotes oleh putranya, Abdullah bin Umar, karena melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah sebagai putra Khalifah. Kata Abdullah bin Umar, “Wahai Bapak! Bapak menjatahkan untuk Usamah empat ribu, sedangkan kepada saya hanya tiga ribu. Padahal, jasa bapaknya agaknya tidak akan lebih banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya.” Jawab Khalifah Umar, “Wah?! jauh sekali?! Bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapak kamu. Dan, pribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya, Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lebih banyak daripada jatah yang diterimanya.

Apabila bertemu dengan Usamah, Umar menyapa dengan ucapan, “Marhaban bi amiri!” (Selamat, wahai komandanku?!). Jika ada orang yang heran dengan sapaan tersebut, Umar menjelaskan, “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya.”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para sahabat yang memiliki jiwa dan kepribadian agung seperti mereka ini. Wallahu a’lam.

Sumber : Kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
Di posting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’.

Salahuddin Al-Ayyubi

sahabatnabi

Salahuddin Ayyubi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(Dialihkan dari Shalahuddin Al-Ayyubi)

Langsung ke: navigasi, cari

Salahuddin Al-Ayyubi

SultanMesir dan Syria

caption

Lukisan artistik Shalahuddin

Memerintah

1174 M. – 4 Maret1193 M.

Dinobatkan

1174 M.

Nama lengkap

Salah al-Din Yusuf Ibn Ayyub

Lahir

1138 M. di Tikrit, Iraq

Meninggal

4 Maret1193 M. di Damaskus, Syria

Dimakamkan

Masjid Umayyah, Damaskus, Syria

Pendahulu

Nuruddin Zengi

Pengganti

Al-Aziz

Dinasti

Ayyubiyyah

Ayah

Najmuddin Ayyub

Untuk kegunaan lain dari Salahuddin, lihat Sultan Salahuddin.

Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 11384 Maret1193) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, MekkahHejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab haditsAbu Dawud

Daftar isi

[sembunyikan]

Latar belakang

Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi[1] . Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja SuriahNuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e3/Ayyubid.png/250px-Ayyubid.png

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin

Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Aun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-‘Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

Naik ke kekuasaan

Di kemudian hari Saladin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ahMesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid.

Umamah Bintu Abil ‘ash (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)

sahabatnabi

 

Umamah Bintu Abil ‘ash (cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam)

Bagaimana tak akan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

Zainab, putri sulung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disunting pemuda Quraisy, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan ‘Ali.

Sepanjang masa kecilnya, Umamah binti Abil ‘Ash benar-benar merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga suatu kali, para shahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku’, beliau letakkan Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan hadiah. Di antaranya berupa seuntai kalung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memungutnya. “Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku,” kata beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. “Berhiaslah dengan ini, wahai putriku!” kata beliau. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.

Ketika Abul ‘Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Tahun terus berganti. Pada masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meminang Umamah. Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu pun menikahkan ‘Ali dengan Umamah. Namun dalam pernikahan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan seorang anak pun kepada mereka.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah meminta Al-Mughirah bin Naufal Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat. ‘Ali pun berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika Umamah menikah dengan Al-Mughirah.

Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama ‘Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya.

Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Umamah pun segera mengutus seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal. “Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku” jawab Al-Mughirah. Umamah pun mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhuma yang kemudian menikahkan Al-Mughirah dengan Umamah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil ’Ash meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma.

Umamah bintu Abil ‘Ash, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya ….Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Di posting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’.

Mush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama

sahabatnabiMush’ab Bin Umair, Duta Islam Yang Pertama
http://teamjabal.wordpress.com/2010/09/01/mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama/
September 1, 2010
>
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya Orang kaya dan terpandang. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagaimana dialami Mush’ab bin Umair.
Serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, riwayat yang akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona. Menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.

Adalah Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Ketika keberadaannya diketahui, Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka –pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar,

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah- rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; KitabSuci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. •! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masukAgama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi.

Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”. Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme•ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu…. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiadataranya,suatukeberhasilanyang memang wajar dan layak diperolehnya• Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba- hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Mlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara …

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar…. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam…. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah. Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.

Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata: Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah
seorang musuh berkuda, Ibnu ‘Umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.

Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sungguh sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak,dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh”

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera…. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada…. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya.

Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul” Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang….

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan….

Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.
Berkata Khabbah ibnul’Urrat: “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi…. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya.

Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya…. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat: Di antara orang-orang Mukmin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah..(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda: Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan- tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Salam atasmu wahai Mush’ab….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para Ulama Ahlul Hadits

Said Bin Zaid Satu Dari Sepuluh Shahabat Yang Di Jamin Masuk Surga

Said Bin Zaid Satu Dari Sepuluh Shahabat Yang Di Jamin Masuk Surga

sahabatnabiNama, nasab dan kelahirannya

Said bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qotha bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai. Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’ab bin Luai. Dia mempunyai nama julukan yaitu Abu A’war, dia termasuk dari orang-orang muhajirin (yang berhijrah pertama kali). Beliau di lahirkan di Makkah pada tahun 22 sebelum hijrah.

Sekelumit kisah ayahanda beliau

Ayahandanya bernama Zaid bin Amr, seorang yang berjalan diatas kelurusan fitrah yang Allah telah tetapkan atasnya. Dia menjauhkan diri dari berbagai peribadahan kepada berhala, ini terjadi sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Fitrahnya yang lurus itu mendorongnya untuk mencari agama yang benar, Diapun pergi ke Negri Syam mencari agama yang lurus tersebut. Di sana dia mendapati agama Yahudi dan Nashrani, akan tetapi ia membenci kedua agama itu, dan mengatakan: “Ya Allah sesungguhnya aku berada di atas agama Ibrahim” Namun ia tidak menemukan ajaran Ibrahim sebagaimana mestinya, dan tidak ada seorangpun yang mengajarinya tentang syariat Ibrahim.

Diriwayatkan dari Asma’ bin Abi Bakar radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku melihat Zaid bin Amr bin Nufail berdiri dan menyandarkan punggungnya ke Ka’bah dan berkata: “Wahai penduduk Quraisy, tidak ada seorangpun dari kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku,..”.

Beliau mencela sesembelihan orang-orang Quraisy, beliau berkata: “Domba itu, Allah Ta’ala yang menciptakannya, yang untuknyalah Allah menurunkan hujan, menumbuhkan (rerumputan) di bumi, kemudian kalian menyembelihnya dengan menyebut selain namaNya (Allah)”.

Allah Ta’ala telah bersaksi melalui lisan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga manusia bahwa Zaid bin Amr beriman kapada nabi yang akan di utus kepada mereka yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di riwayatkan bahwa Zaid bin Amr berkata kepada ‘Amir bin Rabi’ah: “Jika umurmu panjang, maka sampaikan salamku kepadanya (nabi yang di utus nanti -red), aku merasa bahwa aku wahai ‘Amir, tidak sempat bertemu dengannya, jika engkau mendapatinya maka sampaikan salamku kepadanya”. Maka ‘Amir bercerita: “Ketika aku masuk Islam, maka akupun menceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentangnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, dan mendoakannya, kemudian berkata: “Sungguh aku melihatnya di surga..”.

Iman Ahmad meriwayatkan bahwa Sa’id bin Zaid berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya ayahku (Zaid) seperti yang engkau lihat dan engkau dengar tentangnya, seandainya ia bertemu denganmu tentunya dia akan beriman, apakah aku boleh memohonkan ampun baginya?, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ya, mohonkan ampunan baginya, sesungguhnya dia di bangkitkan sebagai satu umat”.

Zaid bin Amr bin Nufail wafat diatas kelurusan fitrah, dengan menganut agama Ibrahim.

Masuk islamnya Sa’id bin Amr

Beliau masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Darul Arqom, yang beliau jadikan maskas dakwah waktu itu, beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang pertama masuk islam, yaitu setelah tiga belas orang shahabat mendahuluinya. Keislaman beliau dengan perantaraan dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Keutamaan beliau

Tidak di ragukan lagi bahwa Sa’id bin Zaid adalah seorang shahabat yang mempunyai banyak keutamaan, dan diantara keutamaan beliau adalah:

1. Beliau termasuk orang yang pertama masuk islam, dan keislaman beliau sebelum keislaman Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma.

2. Beliau adalah termasuk sepuluh orang yang di berikan kabar gembira masuk surga. Imam at-Tirmizi meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ustman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman binAuf di surga, sa’ad bin Abi Waqas di surga, Sa,id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah di surga”.(Bab Manaqib Abdurrahman bin Auf az-Zahiri radhiyallahu ‘anhu).

3. Beliau mempunyai doa yang di kabulkan Allah Ta’ala, diriwayatkan bahwa Arwa binti Uwais menemui Marwan bin Hakam (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Madinah), dan mengadukan permasalahannya dengan Sa’id bin Zaid, dan mengatakan: “Dia(Sa’id) telah mendhalimiku, dan dia merampas hakku, (Sa’id adalah tetangga Urwah di daerah al-‘Aqiq), maka Sa’id berkata: “Apa?!, aku mendhalimi Arwa terhadap haknya!, demi Allah aku telah memberikan kepadanya enam ratus depa dari tanah milikiku, dan ini aku lakukan karena aku mendengar hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil dengan dhalim sejengkal tanah (milik orang lain -red), maka Allah akan pikulkan baginya tujuh lapis bumi pada hari kiamat”. Berdilah engkau wahai Arwa, dan ambilah (tanah) yang engkau akui bahwa itu milikmu”. maka Arwapun berdiri, dan dia masih menutupi kebenaran terhadap hak Sa’id, maka Sa’id berkata: “Ya Allah seandainya dia seorang yang dhalim, maka butakanlah matanya, dan bunuhlah ia pada tanah tersebut, dan jadikanlah kuburannya di sumurnya”. Maka tidak lama berselang waktu dari hari itu, butalah mata Urwah, kemudian dia berjalan di tanahnya tersebut, yang mana tanah itu tidak rata, maka iapun terjatuh ke dalam sumur, yang ia mati karenanya, dan sumur di jadikan sebagai kuburan baginya”.

4. Beliau adalah seorang shahabat yang mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wafat beliau

Para ahli sejarah berkata bahwa Sa’id bin Zaid wafat di daerah al-‘Aqiq, ia di mandikan oleh Sa’ad bin Abi Waqas, dan di shalatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum.

Amr bin Ali berkata: “Bahwa Sa’id wafat pada tahun 51 H, yang nama umur beliau ketika itu tujuh puluh tahunan lebih, beliau di kebumikan di Madinah, (pada saat akan di kuburkan -red) Sa,ad bin Abi Waqas dan Abdullah bin Umar masuk kedalam kuburnya”.

[Sumber: Diterjemahkan dan diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab Siyar A’lami Nubala jilid 1/124-143, kitab Siarus Salafis Shalihin jilid 1/242-248, dan Sunan Abi Daud]

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: