Monthly Archives: March 2012

MASJID-MASJID DI INDONESIA

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

Advertisements

KHADIJAH binti KHUWAILID

Khadijah binti khuwailid, adalah nama yang sudah tidak asing lagi….

Sumber : http://new.drisalah.com/index.php/inspirasi/81-kisah-siti-khadijah.html

Beliau di juluki Ath-thohirah, yang berarti bersih dan suci. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena  itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Setelah bercerai dengan suami yang pertama, banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Beliau untuk dijadikan istri, tetapi, Khadijah lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang kemudian dari hasil usaha yang di kelolanya, Beliau menjadi seorang yang  kaya. Kepandaian dan kejelian Beliau, kemudian Beliau menawarkan Muhammad yang pada saat itu belumlah diangkat menjadi Nabi, untuk menjual dagangannya. Kejujuran dan sikap profesional yang di miliki Muhammad dalam berdagang, membuat kekayaan Khadijah semakin bertambah banyak.

Khadijah memiliki wajah yang cantik, berasal dari keturunan yang terhormat, memiliki martabat karena kepandaian dan kecerdasaanya, dan ia juga adalah wanita yang kaya raya. Maka tidaklah mengherankan dengan kondisi yang demikian itu semakin banyak para pemuka Quraisy yang terhormat dan kaya raya ingin menjadikan Khadijah sebagai istri. Singkat cerita, semua tawaran tersebut ditolak oleh khadijah, karena hatinya telah tertambat pada pribadi yang terpercaya, jujur, profesional dalam bekerja, dan memiliki akhlaq yang mulia, ia adalah Muhammad. Dan Allah mentakdirkan mereka untuk menikah, walaupun pada waktu itu, umur Khadijah yang telah sampai di usia 40 Tahun kecantikannya tetap mempesona Muhammad yang berumur 25 tahun.

Keutamaan Khadijah diriwayatkan sebagaimana sabda Rasulullah saw ;

“Tidaklah Allah mengganti untukku (istri) yang lebih baik darinya (khadijah). Dia beriman kepadaku saat orang-orang kufur. Dia mempercayaiku saat orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku saat orang-orang mengharamkan harta untukku. Dan dia memberikan aku anak saat Allah tidak memberikan anak dari istri-istriku yang lain”.

Khadijah adalah sosok wanita pilihan yang Allah amanahkan untuk mendampingi Muhammad dalam menjalani tugasnya sebagai Rasul Allah.

Salah satu hikmah yang bisa kita petik dari kisah hidup khadijah, adalah keuletannya, kesungguhannya, kecerdasan dan ketelitiannya dalam menjalankan usaha perdagangan. Tetapi, semua usahanya itu tidaklah ia jadikan semata-mata untuk kesenangan yang bersifat keduniawian semata. Sebagaimana sabda Rasulullah, Khadijah dengan rela memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dan hal itu, Beliau lakukan sampai ajal menjemputnya.

Apa yang dilakukan oleh khadijah sangat berkaitan erat dengan makna zakat.

Zakat….hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki kelebihan harta yang telah memenuhi syarat dan perhitungan yang telah ditetapkan. Artinya, agar jika seseorang ingin ber-zakat, maka ia harus berusaha. Dan dari apa yang Allah berikan atas hasil usahanya itulah yang wajib ia keluarkan zakatnya. Dan bagi seorang istri yang tidak bekerja, maka ia dapat berzakat apabila ia mendapatkan nafkah yang khusus diberikan oleh suaminya…

Dengan demikian, bekerja…adalah termasuk dalam ibadah yang juga bernilai pahala di sisi Allah. Islam tidak menghalangi kaum wanita untuk produktif dalam mencari karunia Allah di dunia ini dengan bekerja, bahkan Islam menganjurkan agar kaum wanita tidak kalah produktifnya dengan kaum pria.

Dan Allah memberikan pilihan bagi kaum wanita, apakah ia mau memilih sebagai pekerja, wanita karier, pengusaha, atau sebagai ibu rumah tangga.. Semua itu sama baiknya.

Selama ia menjaga kehormatannya, harga dirinya, dan taat pada aturan yang Allah tetapkan. Apapun pilihannya, Insya Allah akan bernilai pahala.

Dalam kisah Siti Khadijah, Allah telah mengabadikan teladan bagi kaum wanita…,

Khadijah, adalah wanita yang cerdas, ibu rumah tangga yang amanah, pendidik bagi anak-anaknya, pengusaha yang sukses, Istri seorang Nabi dan Rasul, dan pejuang di jalan Allah….

Dan tidaklah mungkin Allah jadikan khadijah sebagai teladan jika tidak mungkin untuk di teladani, karena pada dasarnya, kaum wanita…adalah kaum yang mampu melakukan semua itu…

Wallahu’alam..

KHUTBAH JUMAT : SYIRIK MALAPETAKA DUNIA ISLAM

Masjid Taqwa Seritanjung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia

SYIRIK MALAPETAKA DUNIA ISLAM
Rabu, 11 Februari 09

www.alsofwah.or.id  https://arozakabuhasan.wordpress.com/

Oleh: Abdurrahman Nuryaman
KHUTBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Tak ada dosa yang lebih besar daripada syirik; dosa yang tidak diampuni oleh Allah, pelakunya dihukumi keluar dari Islam, di Hari Kiamat dia kekal di dalam neraka, dan surga diharamkan baginya, bila mati dalam keadaan musyrik, dia tidak dimandikan, tidak dikafankan dan tidak dikuburkan di tengah kuburan kaum Muslimin, dan semua amal ibadahnya gugur tak ada artinya.
Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut:
Dalam Surat Al-Ma’idah: 72 Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,’ padahal al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.”

Dalam Surat al-Furqan ayat 23 Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang musyrik,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”

Dalam surat an-Nisa`: 48 Allah Ta’ala memberikan peringatan yang keras,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Dan kemudian di dalam surat az-Zumar ayat 65 Allah Ta’ala menegaskan,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’.”

Dan masih sangat banyak ayat dan hadits yang memperingatkan dari bahaya syirik.
Menyimak dan memperhatikan peringatan-peringatan di dalam ayat-ayat ini, tentu sangat mengerikan bagi seorang Muslim. Gambaran yang amat jelas, bahwa memang tidak ada dosa yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada mempersekutukan Allah. Semua ulama yang menulis kitab tentang dosa-dosa besar menempatkan syirik sebagai dosa yang paling besar. Di antaranya,
-Al-Kaba`ir, karya al-Hafizh adz-Dzahabi.
-Az-Zawajir Fi Iqtirab al-Kaba`ir, karya al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami.
-Al-Kaba`ir, karya Syaikh Muhammad at-Tamimi.
-Dan lain-lain.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Agar kita mendapatkan faidah yang lebih baik melalui khutbah ini, mari kita ulas masalah syirik ini dengan sedikit rinci.

Pertama, apa itu syirik?
Dalam Tashil al-Aqidah al-Islamiyah didefinisikan: Syirik adalah menjadikan suatu tandingan bagi Allah Ta’ala dan menyamakanNya dengannya, dalam Rububiyah, Uluhiyah, Asma` dan ShifatNya.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Agar faidah dan manfaat yang kita dapatkan dari khutbah ini lebih urut, lebih rapi dan lebih jelas, mari sejenak kita kembali melihat permulaan munculnya syirik di muka bumi ini.

Syirik pertama kali muncul pada umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Jika kita perhatikan riwayat-riwayat yang ada tentang awal mula munculnya perbuatan syirik kepada Allah pada umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam tersebut, kita dengan begitu mudah dapat menyimpulkan bahwa penyebab utama dan pertama adalah kultus individual (ghuluw) terhadap orang-orang shalih.

Kita tahu, bahwa pada mulanya umat manusia adalah umat yang satu di dalam tauhid, artinya tidak ada syirik kepada Allah Ta’ala, dan itu berlangsung selama sepuluh abad antara Nabi Adam ‘Alaihissalam dengan Nabi Nuh ‘Alaihissalam, sebagaimana riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas. Dan setelah sepuluh abad tersebut berlalu, muncullah orang-orang shalih yang nama-nama mereka disebutkan Allah dalam al-Qur`an surat Nuh. Mereka ialah, Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka ini adalah orang-orang shalih yang bertauhid, ahli ibadah dan juga berdakwah menyeru kaum mereka kepada Allah. Mereka amat dicintai oleh kaum mereka, dan lebih dari itu, mereka adalah tauladan yang penuh pesona bagi mereka. Tapi justru malapetaka kemudian muncul dari arah ini; yaitu rasa ketergantungan mereka kepada orang-orang shalih tersebut mela-hirkan sikap pengkultusan dan ghuluw pada diri mereka.

Ini kemudian dijadikan kesempatan oleh setan untuk menjerumuskan mereka dan generasi sesudah mereka. Mulanya setan membisikkan kepada mereka agar membuat patung yang serupa dengan orang-orang shalih itu tadi, dan meletakkan patung-patung tersebut pada tempat-tempat ibadah mereka, sehingga apabila mereka melihat patung-patung tersebut, mereka akan teringat dan mengenang kehebatan ibadah mereka; dan dengan demikian semangat mereka untuk beribadah pun bertambah seperti mereka.

Mereka pun kemudian mengikuti bisikan setan tersebut, dan mulanya mereka hanya menjadikan patung orang-orang shalih tersebut hanya sebagai lambang atau prasasti yang berfungsi mengingatkan mereka untuk tekun beribadah dan beramal shalih. Dan memang, mereka pun merasakan diri mereka semakin bersema-ngat dalam beramal shalih dan rajin mendatangi tempat-tempat ibadah mereka. Padahal itu semua hanya tipu daya setan, karena itu hanya akan menjerumuskan mereka kepada perbuatan syirik.

Kisah awal mula munculnya syirik ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, no. 4920.

صَارَتِ الْأَوْثَانُ الَّتِيْ كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوْحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوْثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوْقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِيْنَ مِنْ قَوْمِ نُوْحٍ فَلَمَّا هَلَكُوْا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوْا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِيْ كَانُوْا يَجْلِسُوْنَ أَنْصَابًا وَسَمُّوْهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوْا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ.

“Berhala-berhala yang dulu (disembah) pada kaum Nuh menjadi (di-sembah) oleh orang-orang Arab (jahiliyah) setelah itu.Berhala Wad menjadi milik kabilah Kalb di Daumah al-Jandal, berhala Suwa’ milik kabilah Hudzail, Yaghuts adalah milik kabilah Murad kemudian menjadi milik Bani Ghuthaif di al-Jauf di negeri Saba`, berhala Ya’uq milik kabilah Hamdan, dan berhala Nasr milik kabilah Himyar untuk keluarga Dzu al-Kala’. (Mereka sebenarnya) adalah nama-nama laki-laki yang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka setan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan patung (arca) di tempat duduk mereka yang biasa mereka duduki. Lalu me-reka menamakan patung tersebut dengan nama mereka. Mereka pun melakukannya dan tidak disembah, hingga ketika kaum tersebut telah wafat, dan ilmu telah lenyap, maka berhala-berhala itupun disembah.”

Sampai di sini, tentu timbul pertanyaan, Kenapa setan baru bisa menyesatkan dan menjerumuskan sebagian manusia ke dalam perbuatan syirik pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam? Adalah karena setan telah memiliki perjanjian dengan Allah, di mana iblis, tokoh mereka yang utama, berkata sebagaimana yang diabadikan Allah Ta’ala,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis (ikhlas dalam bertauhid) di antara mereka.” (Shad: 82-83).

Sepuluh abad antara Nabi Adam sampai Nabi Nuh, umat manusia semuanya adalah orang-orang yang murni dan ikhlas bertauhid kepada Allah; tidak ada tempat bagi syirik di hati dan ibadah mereka, sampai kemudian muncullah orang-orang yang setengah-setengah dalam ilmu tauhid, sehingga tidak jelas dalam hati mereka yang haq dengan yang batil. Ilmu mereka yang tidak jelas itu-lah yang mengantarkan mereka terlalu bergantung kepada orang-orang shalih; dan inilah yang menyebabkan mereka mengikuti bisik-an setan untuk mengkultuskan orang-orang shalih tersebut.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Syirik yang berbentuk kultus terhadap orang-orang shalih ini, kemudian menyebar ke segala penjuru dunia, dan tidak terkecuali di Indonesia. Berikut ini sekedar gambaran bagaimana syirik kultu-isme terhadap orang-orang shalih ini telah menjadi bagian sejarah

kaum Muslimin yang hitam dan menakutkan.
Di Mesir, terdapat tidak kurang dari 6000 kuburan yang tersebar di berbagai kota dan desa; yang diagungkan dan disembah oleh kaum Muslimin. Di antara kuburan yang terkenal di sana, misalnya, adalah kuburan al-Badawi di kota Thantha. Dalam satu tahun terdapat satu musim, di mana orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru Mesir bahkan dari luar Mesir dalam jumlah besar ke kuburan tersebut, mirip dengan hari Wukuf di padang Arafah.

Di sana juga terdapat kuburan yang diklaim sebagai kuburan al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, padahal sama sekali tak pernah berhasil dibuktikan bahwa itu adalah benar-benar kuburan al-Husain. Akan tetapi orang-orang berdatangan kepadanya, baik dari kalangan Sunni maupun dari golongan Syi’ah, untuk berdoa, meminta-minta, melakukan thawaf dan berbagai perbuatan syirik yang sangat mengerikan.

Kemudian di sana juga terdapat kuburan Jalaluddin ar-Rumi yang tidak kalah pamornya sebagai tempat melakukan berbagai perbuatan syirik; disembah dan diagungkan.

Di Suria, di kota Damaskus saja terdapat tidak kurang dari 194 kuburan yang juga disembah-sembah dan diagungkan, belum lagi di kota-kota dan daerah-daerah lainnya. Di antara kuburan-kuburan yang dipuja di sana terdapat kuburan seorang sufi yang dikenal sebagai seorang sufi yang sesat dan menyimpang jauh dari akidah Islam. Akan tetapi kuburnya justru menjadi tuhan yang disembah-sembah oleh orang-orang yang juga ikut tersesat seperti dia, dan tidak kalah ramai dengan apa yang terjadi di Mesir.

Di Turki, terdapat tidak kurang dari 481 masjid agung yang hampir seluruh masjid di sana, pasti ada kuburan di dalamnya, yang juga diagungkan.

Di Iraq, India, Pakistan, Yaman; di semua negara-negara Muslim terdapat ribuan kuburan yang disembah dan diagungkan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Di berbagai daerah terdapat begitu banyak kuburan-kuburan yang disembah dan diagungkan oleh banyak kaum Muslimin. Di pulau Lombok terdapat makam Ketak, makam Rembige, makam Batu Layar, lalu makam Bengkel, dan banyak lagi yang lain; yang semuanya merupakan pusat-pusat penyembahan kepada kuburan. Demi Allah, seandainya bukan karena saya (penulis) pernah melihat langsung apa yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin di sana, niscaya saya tidak akan me-nyebutnya secara khusus. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan berkendaraan, bahkan mengeluarkan biaya, dengan membawa sanak saudara, hanya untuk shalat, dan berdoa di depan kuburan. Dan di antara mereka ada yang membawa hewan ternak untuk disembelih di sana, bahkan ada pula yang melakukan thawaf di kuburan tersebut. Semua itu sungguh sangat mengerikan bagi mereka yang sedikit saja memiliki rasa ghirah di hatinya terhadap Allah. Dan hanya kepada Allah kita mengadu, semoga Dia berkenan menghancurkan kuburan syirik tersebut dan memberikan hidayah kepada semua kaum Muslimin.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Mudah-mudahan dengan ini, kita mendapat gambaran bahwa dunia Islam memang telah dikotori oleh syirik. Dan ini adalah masalah yang sesungguhnya paling besar dari sekian banyak problem dunia Islam. Para da’i, ustadz, kyai, dosen, pengajar, dan semua kaum Muslimin yang peduli kepada Agama Allah agar menyatu-kan visi dan misi, bahwa tugas utama mereka adalah memerangi syirik dan menegakkan tauhid. Kaum Muslimin harus bersatu dan mengumumkan secara terang-terangan, bahwa syirik harus dibasmi dari muka bumi ini; dan itulah tugas para rasul yang diutus Allah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah yang kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam begitu jelas mengharamkan segala hal yang da-pat mengantarkan kepada pengagungan kuburan.

Pertama, kedua, dan ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menga-puri, menduduki dan membangun kuburan.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللّٰهِ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kubur dikapuri, diduduki atasnya, dan dibuatkan bangunan di atasnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 970).

Keempat, dan kelima, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menulisi kuburan dan menginjak kuburan.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu,, beliau berkata,

نَهَى النَّبِيُّ أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا وَأَنْ تُوْطَأَ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan dikapuri, ditulisi, dibangun di atasnya dan diinjak-injak.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1052 dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih”, Abu Dawud, no. 3225; an-Nasa`i, no. 2028 dan 2029. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Keenam, menjadikan kuburan sebagai masjid, tempat beribadah, berdoa dan sebagainya.
Dari Aisyah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum,, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

“Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kubur-kubur para Nabi mereka sebagai tempat-tempat beribadah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang kaum Muslimin Shalat menghadap kuburan.

لَا تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلَا تُصَلُّوْا إِلَيْهَا.

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula kalian shalat menghadapnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 16764; Muslim, no.973; dan lainnya).

Kedelapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menghan-curkan dan meratakan semua kuburan yang menonjol dan tampak jelas lebih tinggi (dimuliakan), sebagaimana dihancurkannya patung dan berhala.
Dari Abu al-Hayyaj al-Asadi, dia berkata,

قَالَ لِيْ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِيْ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللّٰهِ a؛ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ.

“Ali bin Abu Thalib pernah berkata kepadaku, ‘Ketahuilah, aku me-ngutusmu berdasarkan sesuatu yang mana Rasulullah a mengu-tusku, yaitu hendaklah kamu tidak meninggalkan satu patung pun, kecuali engkau binasakan, dan tidak pula (engkau jumpai) kuburan yang ditinggikan (sehingga tampak mencolok) kecuali engkau meratakannya (dengan tanah).” (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 685; Muslim, no. 969, dan lainnya).

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Tidak cukup jelaskah semua ini, sehingga banyak orang yang mengagungkan dan menyembah-nyembah kuburan? Bila belum jelas, mari kita simak perkataan para ulama berikut yang menjelaskan kepada kita semua.

Imam an-Nawawi menukil perkataan Imam besar asy-Syafi’i. Kata Imam asy-Syafi’i, “Adalah dibenci (bila) kuburan dikapuri, dituliskan nama orang yang dikuburkan di atasnya dan lainnya, dan dibangun bangunan di atasnya.” (Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 4/266).

Al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami, seorang ulama bermadzhab Syafi’i yang terkenal, berkata dalam kitab az-Zawajir Fi Iqtirab al-Kaba`ir, “Dosa besar ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98: “Menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah)”, “Menyalakan lampu di atasnya”, “Menjadikannya sebagai berhala-berhala”, “Thawaf me-ngelilinginya”, “Mengusapnya”, dan “Shalat menghadapnya…” Kata beliau, “Yang enam ini dikategorikan sebagai dosa-dosa besar di kalangan madzhab asy-Syafi’i”.

Kemudian beliau berkata, “Begitu pula, shalat di atas kuburan dan mengagungkannya, dan ini adalah dosa besar, tampak jelas dari hadits-hadits yang telah disebutkan.”

As-Suyuthi dalam hasyiyahnya terhadap Sunan an-Nasa`i menukil perkataan al-Baidhawi yang mengatakan, “Manakala kaum Yahudi dan Nasrani melakukan sujud terhadap kuburan-kuburan para nabi mereka, kemudian menghadap kepadanya dengan peng-agungan karena kedudukan mereka dulu, kemudian menjadikannya sebagai kiblat ketika shalat, berdoa dan sejenisnya serta menjadikannya sebagai berhala-berhala; Allah melaknat mereka, dan kemudian melarang kaum Muslimin melakukan hal-hal seperti itu.

Dan asal mula perbuatan syirik itu terjadi karena diagungkannya kuburan dan menghadap kepadanya (dalam beribadah).”

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan syirik yang dapat menghancurkan akidah dan ibadah kita.

Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat nanti. Allah telah mengingatkan ini di dalam al-Qur`an.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).

FATWA MUI TENTANG KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

Fatwa MUI Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya

Fatwa MUI Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
Jumat, 23 Maret 12

JAKARTA – Keresahan umat sebagai dampak putusan MK RI No. 46/PUU-VIII/2010 tentang anak-anak di luar perkawinan direspon MUI dengan mengeluarkan fatwa mengenai “Kedudukan Anak Hasil Zina Dan Perlakukan Terhadapnya.”

Fatwa tersebut menepis berbagai syubuhat (kerancuan) di tengah umat Islam dan menyatakan dengan tegas kedudukan anak hasil zina dalam Islam, sehingga tak perlu ragu lagi berpegang terhadap aturan syari’at Islam yang telah ditetapkan oleh Allah dan bukan aturan yang lain yang dibuat manusia.

Agar dapat dibaca dan diakses oleh umat Islam seluas-luasnya maka redaksi voa-islam.com memuat fatwa tersebut. Berikut ini kutipan lengkap fatwa MUI berkaitan dengan anak hasil zina yang dikeluarkan Sabtu (10/3/2012).

FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor: 11 Tahun 2012

Tentang

KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah :

MENIMBANG:

a. bahwa dalam Islam, anak terlahir dalam kondisi suci dan tidak membawa dosa turunan, sekalipun ia terlahir sebagai hasil zina;

b. bahwa dalam realitas di masyarakat, anak hasil zina seringkali terlantar karena laki-laki yang menyebabkan kelahirannya tidak bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, serta seringkali anak dianggap sebagai anak haram dan terdiskriminasi karena dalam akte kelahiran hanya dinisbatkan kepada ibu;

c. bahwa terhadap masalah tersebut, Mahkamah Konsitusi dengan pertimbangan memberikan perlindungan kepada anak dan memberikan hukuman atas laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk bertanggung jawab, menetapkan putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang pada intinya mengatur kedudukan anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya;

d. bahwa terhadap putusan tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai kedudukan anak hasil zina, terutama terkait dengan hubungan nasab, waris, dan wali nikah dari anak hasil zina dengan laki-laki yang menyebabkan kelahirannya menurut hukum Islam;

e. bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang kedudukan anak hasil zina dan perlakuan terhadapnya guna dijadikan pedoman.

MENGINGAT:

1. Firman Allah SWT:

a. Firman Allah yang mengatur nasab, antara lain:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS. Al-Furqan : 54).

b. Firman Allah yang melarang perbuatan zina dan seluruh hal yang mendekatkan ke zina, antara lain:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.“ (QS. Al-Isra : 32)

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya, yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” (QS. Al-Furqan: 68 – 69)

c. Firman Allah yang menjelaskan tentang pentingnya kejelasan nasab dan asal usul kekerabatan, antara lain:


وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءكُمْ أَبْنَاءكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ ِلأَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ

“Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.”(QS. Al-Ahzab: 4 – 5).

وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ

“…. (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu).“ (QS. Al-Nisa: 23).

d. Firman Allah yang menegaskan bahwa seseorang itu tidak memikul dosa orang lain, demikian juga anak hasil zina tidak memikul dosa pezina, sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain526. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”(QS. Al-An’am : 164)

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. Al-Zumar: 7)

2. Hadis Rasulullah SAW, antara lain:

a. hadis yang menerangkan bahwa anak itu dinasabkan kepada pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy), sementara pezina harus diberi hukuman, antara lain:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ قَالَتْ فَلَمْ يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ. رواه البخارى ومسلم

“Dari ‘Aisyah ra bahwasanya ia berkata: Sa’d ibn Abi Waqqash dan Abd ibn Zam’ah berebut terhadap seorang anak lantas Sa’d berkata: Wahai Rasulallah, anak ini adalah anak saudara saya ‘Utbah ibn Abi Waqqash dia sampaikan ke saya bahwasanya ia adalah anaknya, lihatlah kemiripannya. ‘Abd ibn Zum’ah juga berkata: “Anak ini saudaraku wahai Rasulullah, ia terlahir dari pemilik kasur (firasy) ayahku dari ibunya. Lantas Rasulullah saw melihat rupa anak tersebut dan beliau melihat keserupaan yang jelas dengan ‘Utbah, lalu Rasul bersabda: “Anak ini saudaramu wahai ‘Abd ibn Zum’ah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah (dihukum) batu, dan berhijablah darinya wahai Saudah Binti Zam’ah. Aisyah berkata: ia tidak pernah melihat Saudah sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر. رواه أبو داود

“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: seseorang berkata: Ya rasulallah, sesungguhnya si fulan itu anak saya, saya menzinai ibunya ketika masih masa jahiliyyah, rasulullah saw pun bersabda: “tidak ada pengakuan anak dalam Islam, telah lewat urusan di masa jahiliyyah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah batu (dihukum. ” (HR. Abu Dawud)

b. hadis yang menerangkan bahwa anak hazil zina dinasabkan kepada ibunya, antara lain:

قال النبي صلى الله عليه وسلم في ولد الزنا ” لأهل أمه من كانوا” . رواه أبو داود

Nabi saw bersabda tentang anak hasil zina: “Bagi keluarga ibunya …” (HR. Abu Dawud)

c. hadis yang menerangkan tidak adanya hubungan kewarisan antara anak hasil zina dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya, antara lain:

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد زنا ، لا يرث ولا يورث “ رواه الترمذى – سنن الترمذى 1717

“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah saw bersabda: Setiap orang yang menzinai perempuan baik merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi dan tidak mewariskan.“ (HR. Al-Turmudzi)

d. hadis yang menerangkan larangan berzina, antara lain:

‏عن ‏أبي مرزوق رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قال ‏غزونا مع ‏‏رويفع بن ثابت الأنصاري ‏ ‏قرية من قرى ‏‏المغرب ‏يقال لها ‏ ‏جربة ‏ ‏فقام فينا خطيبا فقال أيها الناس إني لا أقول فيكم إلا ما سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول قام فينا يوم ‏ ‏حنين ‏ ‏فقال ‏ ‏لا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقي ماءه زرع غيره . أخرجه الإمام أحمد و أبو داود

Dari Abi Marzuq ra ia berkata: Kami bersama Ruwaifi’ ibn Tsabit berperang di Jarbah, sebuah desa di daerah Maghrib, lantas ia berpidato: “Wahai manusia, saya sampaikan apa yang saya dengar dari rasulullah saw pada saat perang Hunain seraya berliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya menyirampan air (mani)nya ke tanaman orang lain (berzina)’.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

e. hadis yang menerangkan bahwa anak terlahir di dunia itu dalam keadaan fitrah, tanpa dosa, antara lain:

‏عن ‏أبي هريرة ‏رضي الله عنه قال ‏‏قال النبي ‏صلى الله عليه وسلم ‏كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه . رواه البخارى ومسلم
[

“Dari Abi Hurairah ra ia berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

3. Ijma’ Ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam “al-Tamhid” (8/183) apabila ada seseorang berzina dengan perempuan yang memiliki suami, kemudian melahirkan anak, maka anak tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan ketentuan ia tidak menafikan anak tersebut.

وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها صلى الله عليه وسلم، وجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان

Umat telah ijma’ (bersepakat) tentang hal itu dengan dasar hadis nabi saw, dan rasul saw menetapkan setiap anak yang terlahir dari ibu, dan ada suaminya, dinasabkan kepada ayahnya (suami ibunya), kecuali ia menafikan anak tersebut dengan li’an, maka hukumnya hukum li’an.

Juga disampaikan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab al-Mughni (9/123) sebagai berikut:

وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه

“Para Ulama bersepakat (ijma’) atas anak yang lahir dari ibu, dan ada suaminya, kemudian orang lain mengaku (menjadi ayahnya), maka tidak dinasabkan kepadanya.”

4. Atsar Shahabat, Khalifah ‘Umar ibn al-Khattab ra berwasiat untuk senantiasa memperlakukan anak hasil zina dengan baik, sebagaimana ditulis oleh Imam al-Shan’ani dalam “al-Mushannaf” Bab ‘Itq walad al-zina” hadits nomor 13871.

5. Qaidah Sadd al-Dzari’ah, dengan menutup peluang sekecil apapun terjadinya zina serta akibat hukumnya.

6. Qaidah ushuliyyah :

الأ صل في النهي يقتضي فساد المنهي عنه

“Pada dasarnya, di dalam larangan tentang sesuatu menuntut adanya rusaknya perbuatan yang terlarang tersebut”

لا اجتهاد في مورد النص
/r]

“Tidak ada ijtihad di hadapan nash”

7. Qaidah fiqhiyyah :

لِلْوَسَائِلَ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ

“Hukum sarana adalah mengikuti hukum capaian yang akan dituju”

الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ

“Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin”.

الضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan bahaya yang lain.”

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat.

يُتَحَمَّلُ الضَّرَرُ الْخَاصُّ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْعَامِّ

“Dharar yang bersifat khusus harus ditanggung untuk menghindarkan dharar yang bersifat umum (lebih luas).”

إِذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ أَوْ ضَرَرَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“Apabila terdapat dua kerusakan atau bahaya yang saling bertentangan, maka kerusakan atau bahaya yang lebih besar dihindari dengan jalan melakukan perbuatan yang resiko bahayanya lebih kecil.”

تَصَرُّفُ اْلإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصَلَحَةِ

“Kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyatnya didasarkan pada kemaslahatan.”

MEMPERHATIKAN :

1. Pendapat Jumhur Madzhab Fikih Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah yang menyatakan bahwa prinsip penetapan nasab adalah karena adanya hubungan pernikahan yang sah. Selain karena pernikahan yang sah, maka tidak ada akibat hukum hubungan nasab, dan dengan demikian anak zina dinasabkan kepada ibunya, tidak dinasabkan pada lelaki yang menzinai, sebagaimana termaktub dalam beberapa kutipan berikut:

a. Ibn Hajar al-‘Asqalani:

نقل عن الشافعي أنه قال: لقوله “الولد للفراش” معنيان: أحدهما
هو له مالم ينفه، فإذا نفاه بما شُرع له كاللعان انتفى عنه، والثاني: إذا تنازع رب الفراش والعاهر فالولد لرب الفراش” ثم قال: “وقوله: “وللعاهر الحجر”، أي: للزاني الخيبة والحرمان، والعَهَر بفتحتين: الزنا، وقيل: يختص بالليل، ومعنى الخيبة هنا: حرمان الولد الذي يدعيه، وجرت عادة العرب أن تقول لمن خاب: له الحجر وبفيه الحجر والتراب، ونحو ذلك، وقيل: المراد بالحجر هنا أنه يرجم. قال النووي: وهو ضعيف، لأن الرجم مختصّ بالمحصن، ولأنه لا يلزم من رجمه نفي الولد، والخبر إنما سيق لنفي الولد، وقال السبكي: والأول أشبه بمساق الحديث، لتعم الخيبة كل زان”

Diriwayatkan dari Imam Syafe’i dua pengertian tentang makna dari hadist “Anak itu menjadi hak pemillik kasur/suami.”

Pertama : Anak menjadi hak pemilik kasur/suami selama ia tidak menafikan/mengingkarinya. Apabila pemilik kasur/suami menafikan anak tersebut (tidak mengakuinya) dengan prosedur yang diakui keabsahannya dalam syariah, seperti melakukan Li’an, maka anak tersebut dinyatakan bukan sebagai anaknya.

Kedua : Apabila bersengketa (terkait kepemilikan anak) antara pemilik kasur/suami dengan laki-laki yang menzinai istri/budak wanitanya, maka anak tersebut menjadi hak pemilik kasur/suami.

Adapun maksud dari “ Bagi Pezina adalah Batu “ bahwa laki-laki pezina itu keterhalangan dan keputus-asaan. Maksud dari kata Al-‘AHAR dengan menggunakan dua fathah (pada huruf ‘ain dan ha’) adalah zina. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut digunakan untuk perzinaan yang dilakukan pada malam hari.

Oleh karenanya, makna dari keptus-asaan disini adalah bahwa laki-laki pezina tersebut tidak mendapatkan hak nasab atas anak yang dilahirkan dari perzinaannya. Pemilihan kata keputus-asaan di sini sesuai dengan tradisi bangsa arab yang menyatakan “Baginya ada batu” atau : Di mulutnya ada batu” buat orang yang telah berputus asa dari harapan.

Ada yang berpendapat bahwa pengertian dari batu di sini adalah hukuman rajam. Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah lemah, karena hukuman rajam hanya diperuntukkan buat pezina yang mukhsan (sudah menikah). Di sisi yang lain, hadist ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan hokum rajam, tapi dimaksudkan untuk sekedar menafikan hak anak atas pezina tersebut. Oleh karena itu Imam Subki menyatakan bahwa pendapat yang pertama itu lebih sesuai dengan redaksi hadist tersebut, karena dapat menyatakan secara umum bahwa keputus-asaan (dari mendapatkan hak anak) mencakup seluruh kelompok pezina (mukhsan atau bukan mukhsan).

b. Pendapat Imam al-Sayyid al-Bakry dalam kitab “I’anatu al-Thalibin” juz 2 halaman 128 sebagai berikut:

ولد الزنا لا ينسب لأب وإنما ينسب لأمه

Anak zina itu tidak dinasabkan kepada ayah, ia hanya dinasabkan kepada ibunya.

c. Pendapat Imam Ibn Hazm dalam Kitab al-Muhalla juz 10 halaman 323 sebagai berikut :

والولد يلحق بالمرأة إذا زنت و حملت به ولا يلحق بالرجل

Anak itu dinasabkan kepada ibunya jika ibunya berzina dan kemudian mengandungnya, dan tidak dinasabkan kepada lelaki.

2. Pendapat Imam Ibnu Nujaim dalam kitab “al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq”:

وَيَرِثُ وَلَدُ الزِّنَا وَاللِّعَانِ مِنْ جِهَةِ الأمِّ فَقَطْ ؛ لأنَّ نَسَبَهُ مِنْ جِهَةِ الأبِ مُنْقَطِعٌ فَلا يَرِثُ بِهِ وَمِنْ جِهَةِ الأمِّ ثَابِتٌ فَيَرِثُ بِهِ أُمَّهُ وَأُخْتَه مِنْ الأمِّ بِالْفَرْضِ لا غَيْرُ وَكَذَا تَرِثُهُ أُمُّهُ وَأُخْتُهُ مِنْ أُمِّهِ فَرْضًا لا غَيْرُ

Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris dari pihak ibu saja, karena nasabnya dari pihak bapak telah terputus, maka ia tidak mendapatkan hak waris dari pihak bapak, sementara kejelasan nasabnya hanya melalui pihak ibu, maka ia memiliki hak waris dari pihak ibu, saudara perempuan seibu dengan fardh saja (bagian tertentu), demikian pula dengan ibu dan saudara perempuannya yang seibu, ia mendapatkan bagian fardh (tertentu), tidak dengan jalan lain.

3. Pendapat Imam Ibn ‘Abidin dalam Kitab “Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar” (Hasyiyah Ibn ‘Abidin) sebagai berikut :

ويرث ولد الزنا واللعان بجهة الأم فقط لما قد مناه فى العصبات أنه لا أب لهما

Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris dari pihak ibu saja, sebagaimana telah kami jelaskan di bab yang menjelaskan tentang Ashabah, karena anak hasil zina tidaklah memiliki bapak.

4. Pendapat Ibnu Taymiyah dalam kitab “al-Fatawa al-Kubra” :

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي اسْتِلْحَاقِ وَلَدِ الزِّنَا إذَا لَمْ يَكُنْ فِرَاشًا ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ .كَمَا ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ { صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَلْحَقَ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ ، وَكَانَ قَدْ أَحْبَلَهَا عُتْبَةُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ، فَاخْتَصَمَ فِيهِ سَعْدٌ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ ، فَقَالَ سَعْدٌ : ابْنُ أَخِي .عَهِدَ إلَيَّ أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ هَذَا ابْنِي . فَقَالَ عَبْدٌ : أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي ؛ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ لَك يَا عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ ؛ احْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ } لَمَّا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ الْبَيِّنِ بِعُتْبَةَ ، فَجَعَلَهُ أَخَاهَا فِي الْمِيرَاثِ دُونَ الْحُرْمَةِ

Para ulama berbeda pendapat terkait istilkhaq (penisbatan) anak hasil zina apabila si wanita tidak memiki pemilik kasur/suami atau sayyid (bagi budak wanita). Diriwatkan dalam hadist bahwa Rasulullah SAW menisbatkan anak budak wanita Zam’ah ibn Aswad kepadanya (Zam’ah), padahal yang menghamili budak wanita tersebut adalah Uthbah ibn Abi Waqqosh. Sementara itu, Sa’ad menyatakan : anak dari budak wanita tersebut adalah anak saudaraku (Uthbah), dan aku (kata sa’ad) ditugaskan untuk merawatnya seperti anakku sendiri”. Abd ibn Zam’ah membantah dengan berkata : “anak itu adalah saudaraku dan anak dari budak wanita ayahku, ia dilahirkan di atas ranjang ayahku”. Rasulullah SAW bersabda: “anak itu menjadi milikmu wahai Abd ibn Zam’ah, anak itu menjadi hak pemilik kasur dan bagi pezina adalah batu”, kemudian Rasulullah bersabda : “Berhijablah engkau wahai Saudah (Saudah binti Zam’ah – Istri Rasulullah SAW)”, karena beliau melihat kemiripan anak tersebut dengan Utbah, maka beliau menjadikan anak tersebut saudara Saudah binti Zam’ah dalam hal hak waris, dan tidak menjadikannya sebagai mahram.

5. Pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaili dengan judul “Ahkam al-Aulad al-Natijin ‘an al-Zina” yang disampaikan pada Daurah ke-20 Majma’ Fiqh Islami di Makkah pada 25 – 29 Desember 2010 yang pada intinya menerangkan bahwa, jika ada seseorang laki-laki berzina dengan perempuan yang memiliki suami dan kemudian melahirkan anak, terdapat ijma ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam “al-Tamhid” (8/183) yang menegaskan bahwa anak tersebut tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan ketentuan ia tidak menafikan anak tersebut melalui li’an. Sementara, jika ia berzina dengan perempuan yang tidak sedang terikat pernikahan dan melahirkan seorang anak, maka menurut jumhur ulama madzhab delapan, anak tersebut hanya dinasabkan ke ibunya sekalipun ada pengakuan dari laki-laki yang menzinainya. Hal ini karena penasaban anak kepada lelaki yang pezina akan mendorong terbukanya pintu zina, padahal kita diperintahkan untuk menutup pintu yang mengantarkan pada keharaman (sadd al-dzari’ah) dalam rangka menjaga kesucian nasab dari perlikau munkarat.

6. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa pada Rapat-Rapat Komisi Fatwa pada tanggal 3, 8, dan 10 Maret 2011.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN: FATWA TENTANG ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

Pertama: Ketentuan Umum

Di dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :

1. Anak hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar pernikahan yang sah menurut ketentuan agama, dan merupakan jarimah (tindak pidana kejahatan).
2. Hadd adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya telah ditetapkan oleh nash
3. Ta’zir adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang menetapkan hukuman).
4. Wasiat wajibah adalah kebijakan ulil amri (penguasa) yang mengharuskan laki-laki yang mengakibatkan lahirnya anak zina untuk berwasiat memberikan harta kepada anak hasil zina sepeninggalnya.

Kedua: Ketentuan Hukum

1. Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

2. Anak hasil zina hanya mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya.

3. Anak hasil zina tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan oleh orang yang mengakibatkan kelahirannya

4. Pezina dikenakan hukuman hadd oleh pihak yang berwenang, untuk kepentingan menjaga keturunan yang sah (hifzh al-nasl).

5. Pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir lelaki pezina yang mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya untuk:

a. mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut;

b. memberikan harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah.

6. Hukuman sebagaimana dimaksud nomor 5 bertujuan melindungi anak, bukan untuk mensahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya.

Ketiga: Rekomendasi

1. DPR-RI dan Pemerintah diminta untuk segera menyusun peraturan perundang-undangan yang mengatur:

a. hukuman berat terhadap pelaku perzinaan yang dapat berfungsi sebagai zawajir dan mawani’ (membuat pelaku menjadi jera dan orang yang belum melakukan menjadi takut untuk melakukannya);

b. memasukkan zina sebagai delik umum, bukan delik aduan karena zina merupakan kejahatan yang menodai martabat luhur manusia.

2. Pemerintah wajib mencegah terjadinya perzinaan disertai dengan penegakan hukum yang keras dan tegas.

3. Pemerintah wajib melindungi anak hasil zina dan mencegah terjadinya penelantaran, terutama dengan memberikan hukuman kepada laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

4. Pemerintah diminta untuk memberikan kemudahan layanan akte kelahiran kepada anak hasil zina, tetapi tidak menasabkannya kepada lelaki yang menngakibatkan kelahirannya.

5. Pemerintah wajib mengedukasi masyarakat untuk tidak mendiskriminasi anak hasil zina dengan memperlakukannya sebagaimana anak yang lain. Penetapan nasab anak hasil zina kepada ibu dimaksudkan untuk melindungi nasab anak dan ketentuan keagamaan lain yang terkait, bukan sebagai bentuk diskriminasi.

Keempat: Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di ke mudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal:

18 Rabi’ul Akhir1433 H

10 M a r e t 2012 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA

Ketua

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA

[Sumber: http://www.voa-islam.com%5D

http://www.alsofwah.or.id/

MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN

KH. Athian Ali M. Da`i, MA

Menyembunyikan Kebenaran

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

 “Innal ladziina yaktumuuna maa anzalallaahu minal kitaabi wa yasytaruuna bihii tsamanan qaliilan ulaa-ika maa ya’kuluuna fii buthuunihim illaan naara wa laa yukallimuhumullaahu yaumal qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum ‘adzaabun aliim”

(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah daripada Kitab dan mereka menukarnya dengan harga sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam perut mereka melainkan api, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak menyucikan mereka (dari dosa), dan bagi mereka azab yang sangat pedih)(Al Baqarah, 2:174)

Allah SWT menurunkan risalah Islam kepada manusia mulai dari Nabi Adam As. hingga Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk kitab-kitab suci dan suhuf-suhuf. Semua risalah ini diturunkan tidak lain hanya untuk kemaslahatan manusia untuk membimbing manusia agar hidupnya senantiasa dalam ridha-Nya. Allah SWT sama sekali tidak punya kepentingan apakah risalahnya itu akan ditaati atau tidak, manusia diberi hak penuh untuk memilih mentaati atau mengkufuri.

Namun demikian, di awal ayat 174 surah Al Baqarah, Allah SWT memperingatkan: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah daripada Kitab dan menukarnya dengan harga yang murah”, peringatan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pasti akan ada manusia baik pada masa lalu, kini maupun pada masa mendatang pasti akan ada manusia yang berusaha menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah. Jika ada manusia yang benar-benar mencoba menyembunyikan kebenaran tersebut, maka alangkah luar biasa besarnya dosa manusia itu.

Kata, “Yaktumuuna” (Menyembunyikan) dalam arti sesuatu itu sudah ada terlebih dulu, lalu sesuatu itu dicoba disembunyikan, tentu dengan maksud agar orang lain tidak tahu tentang sesuatu itu. Dalam konteks ayat ini sesuatu tersebut adalah “Kebenaran yang datang dari Allah”. Ada sebuah kebenaran yang datang lalu disembunyikan, tidak disampaikan sebagaimana mestinya bahkan dengan sengaja ditutup-tutupi. Konotasi “Menyembunyikan” juga bisa diartikan ada sebuah rekayasa perlawanan, seolah-seolah yang datang bukan kebenaran yang dimaksud. Misalnya, yang datang kebenaran A tapi yang dimunculkan B sebagai sebuah rekayasa.

Jika kita perhatikan, di sepanjang zaman para rasul selalu dihadapkan dengan keberadaan manusia-manusia semacam ini, sehingga akhirnya tidak ada kitab suci sebelum Al Qur’an yang bisa dipertahankan kesuciannya, bisa karena disembunyikan dalam arti dihilangkan atau tidak disampaikan, atau jika tidak dihilangkan dan tidak disampaikan lalu diubah-ubah sesuai dengan hawa nafsu mereka. Maksud mereka bertindak demikian karena tidak menginginkan orang lain melaksanakan ajaran yang diturunkan Allah. Mereka sesat tapi tidak pula ingin sesat sendirian, sehingga mereka berupaya ingin juga sesat berjamaah. Oleh karenanya, ketika Allah SWT menurunkan Al Qur’an, Allah SWT tidak lagi menyerahkan kepada manusia untuk menjaganya (Al Hijr: 9), maka Al Qur’an dari mulai turun hingga kiamat nanti tetap dijamin kesuciannya.

Realitanya, kini, kebenaran yang datang dari Allah yang ada dalam Al Qur’an masih tetap ada, tapi sengaja disembunyikan dalam arti tidak disampaikan. Semua dengan mudah dapat memahami isi Al Qur’an, permasalahannya, orang-orang yang memahami ayat-ayat Al Qur’an itu tidak semuanya menyampaikan, disimpan dan dibiarkan sehingga seolah-olah tidak ada kebenaran dalam Al Qur’an. Ayat ini tentu sangat relefan dengan kondisi yang ada di negeri kita, sebagian dari para pendakwah tidak menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang ada dalam Al Qur’an, apalagi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara nyaris kebenaran Al Qur’an tersembunyi terus.

Hal ini sebenarnya tidak ada bedanya denga orang-orang terdahulu, dalam arti mereka tidak bisa menghilangkan Al Qur’an, tapi mereka tidak mengungkap ayat-ayat Al Qur’an, mengangkat kebenaran-kenenaran yang boleh jadi bertentangan dengan kebathilan yang sedang dinikmati oleh mereka yang berkuasa. Mereka mencoba menutupi kebenaran ayat-ayat Al Qur’an lewat bahasa-bahasa ciptaan akal mereka. Mereka bungkus bahasa-bahasa verbal mereka dengan menyatakan bahwa Al Qur’an sudah tidak relefan untuk kehidupan masa kini. Hukum potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, rajam atau cambuk bagi pezina adalah bertentangan dengan Hak-Hak Azasi Manusia.

Nyaris, kita tidak mendengar lagi dakwah tentang hukum potong tangan, qishah, rajam atau cambuk, jarang kita mendengar dakwah tentang wajibnya seorang muslim menegakkan syariat Islam dalam kehidupan, seperti halnya mendakwahkan wajibnya melaksanakan shalat dalam kehidupan padahal shalat hanya merupakan bagian dari syariat Islam. Disadari atau tidak, para ulama atau para kiai, telah menyembunyikan apa yang Allah turunkan. Mungkin sudah tidak ada yang mau membahas lagi perihal ayat-ayat jihad, karena takut dituduh teroris, radikal dan lain sebagainya.

Bagi seorang mu’min sudah seharusnya memiliki keyakinan bahwa kebenaran mutlak hanya datang dari Allah, kebenaran yang sudah tidak bisa didiskusikan atau ditinjau kembali baik dimengerti atau pun tidak dimengerti oleh akal fikiran kita. Sedangkan kebenaran yang disampaikan oleh manusia masih perlu kita kritisi, sehingga kalau kita dihadapkan kebenaran dari manusia yang nyata-nyata bertentangan dengan kebenaran mutlak yang datang dari Allah, pasti salah.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan, “Dan mereka menukarnya dengan harga yang murah”. Allh SWT Mahatahu apa yang menjadi tujuan mereka menyembunyikan kebenaran tersebut, mereka menyembunyikan kebenaran untuk membeli sesuatu dengan harga yang murah, yakni kenikmatan dunia. Allah SWT menyatakan, bahwa dengan mengorbankan kenikmatan akhirat demi kepentingan dunia adalah sesuatu yang sangat murah dan hina. Padahal, kenikmatan dunia jika bisa dia miliki seluruhnya itu masih tergolong harga murah kalau dibandingkan dengan kebenaran ilahi yang tak ternilai harganya.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan, paling tidak, ada “empat” ancaman bagi orang-orang menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah dan menjualnya dengan harga yang murah. Pertama, tindakan mereka tersebut tak ubahnya dengan menyiapkan bara api neraka sepenuh perut mereka. Dengan kata lain, Allah mengancam mereka akan menjadi penghuni neraka Jahannam. Kedua, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Jika kita analogikan dengan seseorang yang tidak mau berbicara dengan orang lain, artinya yang bersangkutan dalam kondisi sedang marah atau kesal terhadap pihak lainnya. Tidak mungkin seseorang mumutuskan komunikasi dengan  tidak mau bicara kecuali dia sedang marah. Gambaran ini tentu lebih sangat terasa jika Allah SWT telah mengancam bahwa nanti di akhirat Allah tidak akan berbicara sama sekali, hal ini tentu menggambarkan kemurkaan Allah yang sangat luar biasa terhadap mereka yang menyembunyikan kebenaran Ilahi. Ketiga, Allah SWT tidak akan pernah mensucikan mereka dari kekufuran dan dosa yang mereka perbuat. Keempat, bagi mereka siksa yang teramat pedih.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, ada tiga kelompok manusia yang tidak akan pernah diajak berbicara oleh Allah di hari kiamat dan tidak akan disucikan dari kekufuran dan dosa mereka, dan Allah tidak akan pernah melihat mereka, mereka juga akan mendapat siksa yang teramat pedih. Ketiga kelompok tersebuat adalah, “Manula” yang gemar berzina, penguasa yang suka berdusta, dan keluarga yang sombong yang tidak mau minta tolong kepada yang lain.

Berbicara kondisi orang-orang kafir nanti di akhirat, Allah SWT berfirman: “Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kejahatan kami telah mengalahkan diri kami dan kami adalah kaum yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya, maka jika kami kembali (kepada kekafiran) sesungguhnya kami adalah orang yang zalim. Allah berfirman: “Terhinalah kamu di dalamnya. Dan janganlah kamu berkata-kata kepada-Ku” (QS. Al Mu’minuun, 23:106-108). Terlepas dari kalimat terakhir yang ada dalam ayat dimana Allah SWT menyatakan: “Dan janganlah kamu berkata-kata kepada-Ku”, artinya sempat terjadi dialog antara Allah dengan orang-orang kafir. Para ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dalam ayat 174 surah Al Baqarah bahwa Allah tidak akan mau berbicara dengan mereka dalam rangka menyenangkan hati mereka. Tapi jika Allah berbicara sekaligus mengecam, hal itu bahkan membuat mereka semakin menderita.

Perbedaan mencolok akan bisa kita lihat jika kita simak ayat 17-18 surah Thaahaa: “Dan apakah yang ada di tangan kananmu wahai Musa? Musa berkata: “Ini adalah tongkatku; aku bertelekan padanya dan dengannya aku menggugurkan (daun kayu) untuk kambingku, dan bagiku ada keperluan lain padanya”. Gambaran dialog pada ayat ini adalah gambaran dialog kasih sayang, karena Allah SWT pasti Mahatahu akan apa yang ada di tangan Nabi Musa As, dan untuk apa maslahat tongkat tersebut. Numun pertanyaan Allah dengan jawaban yang rinci dari Nabi Musa As hanyalah semata-mata dialog yang dibangun untuk menjalin hubungan kasih sayang antara Allah SWT sebagai Al Khalik dengan Nabi Musa As sebagai makhluk.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Dikirim oleh: Tardjono Abu Muas) http://new.drisalah.com/

KHUTBAH JUMAT DI MASJID SALMAN ITB BANDUNG

Khutbah Jumat

Athian Ali di Masjid Salman ITB

April 10, 2010 by yuamar

Masjid Salman ITB BANDUNG

Ustadz Athian Ali mengisi khutbah jumat pada tanggal 9 April 2010 di Masjid Salman. Apa yang dibawakan oleh Pa Athian Ali begitu dalam dan menyentuh. Beliau menyampaikan khutbah tentang dosa yang kita lakukan. Berikut intisari khutbah yang disampaikannya :

Setiap mukmin meyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang memiliki Kekuatan. Kita sebagai mukmin tidak memiliki daya apapun, karena semua yang kita lakukan dan usahakan melalui potensi kita adalah pemberian-Nya. Manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar, akan tetapi Allah yang menentukan segalanya. Dia yang mempunyai wewengan untuk memberikan hasilnya kepada kita. Semua terjadi karena Allah Menghendakinya.

Kun fayakun”.(Jadilah, maka terjadilah).

Selain berikhtiar, manusia juga berdoa agar usahanya itu dapat menghasilkan sesuatu seperti yag diharapkannya. Manusia berdoa kepada Allah agar dikabulkan doanya dan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tetapi kenapa, ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hambanya?

Berdoalah kepadaku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” Al-Mu’min, 40:60.

Allah tidak akan pernah ingkar kepada hamba-Nya. Setiap mukmin harus meyakini hal ini bahwa Allah tidak akan pernah lupa terhadap janji-Nya. Hanya, Allah memiliki wewenang terhadap hal ini. Pak Athian Ali mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan doa tidak dikabulkan, yaitu :

1.  Allah memang belum mengabulkan doa kita dan menundanya

Allah masih ingin menguji hamba-Nya apakah lebih mencintai Allah atau sesuatu yang dimintai dalam doanya. Allah masih ingin membuktikan keimanan hamba-Nya, sehingga menunda untuk mengabulkan doa kita.

2.  Allah telah mengabulkan doanya dengan memberi sesuatu yang lebih baik

Allah mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik dan apa yang menurut kita tidak baik, juga belum tentu itu tidak baik di sisi Allah.

Allah lebih Mengetahui apa yang sebaiknya ditetapkan bagi hamba-Nya. Allah tidak mengabulkan keinginannya, karena bisa jadi jika mengabulkannya akan membuat dia semakin jauh dari-Nya, seperti kisah Karun yang terdapat surat Al-Qasas,28 : 76-81. Karun mendapatkan harta dan kekayaan dari Allah, tapi itu justru membuatnya ingkar kepada-Nya, sehingga Allah akhirnya membenamkan Karun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi.

Pasti ada hikmah lain yang akan menjadi kebaikan bagi diri kita, karena doa kita yang tidak dikabulkan. Mungkin doa kita belum baik, ataupun niat kita belum sempurna.

3. Yang berdoa tidak baik dan tidak dalam keadaan suci kepada Allah

Jika orang yang buang angin saja tidak boleh shalat sebelum dia berwudlu kembali. Jika orang yang buang air kecil atau besar juga harus berwudlu sebelum melakukan shalat. Jika perempuan yang haid saja, diharamkan untuk shalat dan puasa sebelum perempuan itu suci dari haid, padahal haid itu adalah fitrah dari Allah. Jika pasangan suami istri yang berhubungan badan, juga tidak boleh shalat sebelum mandi junub.

Dan karena jika-jika yang tadi, maka orang yang berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dia juga tidak boleh mendekat kepada-Nya, sebelum dia suci atau baik. Rasulullah pernah berkata bahwa Allah itu baik dan suci, maka Allah tidak menerima sesuatu kecuali sesuatu itu baik dan suci pula. Jadi kita harus suci dan bersih dari segala hal terlebih dahulu dari yang dilarang-Nya jika doa-doa kita ingin dikabulkan oleh Allah.

Lebih lanjut Pak Athian Ali menyampaikan bahwa dosa itu terbagi menjadi dua, yaitu dosa yang hubungannya antara diri kita dengan Allah dan dosa yang menyangkut orang lain. Untuk yang pertama, urusannya hanya dengan Allah. Kita bertaubat langsung kepada Allah atas segala dosa-dosa kita. Misalkan kita tidak shalat, maka urusannya langsung dengan Allah dan kita bertaubat langsung kepada-Nya.

Akan tetapi untuk dosa yang berhubungan dengan orang lain, maka urusannya tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada orang yang kita zalimi itu. Kita selesaikan urusan kita dengannya, baru kita bisa bertaubat kepada Allah. Islam sangat menghargai hak-hak orang yang dizalimi. Jika kita meyakiti orang lain, maka mohon maaf dulu kepada yang orang itu, sebelum kita bertaubat kepada Allah.

Pa Athian Ali, juga menyinggung tentang para koruptor. Dosa yang dilakukan oleh para koruptor adalah terkait dengan banyak orang, karena mencuri uang negara. Dosa ini menyangkut kepada orang banyak. Jika ingin bertaubat, maka para koruptor harus menyelesaikan masalahnya dengan rakyat yang telah dikorup. Bagaimana caranya ? Bisa saja koruptor tampil di televisi melakukan jumpa pers atau membuat pernyataan di media cetak dengan mengatakan bahwa dia memohon maaf karena telah melakukan korupsi dan bersedia untuk mengembalikan seluruh uang yang dikorupsinya serta akan menyerahkan diri untuk diperiksa sesuai hukum yang berlaku.

Jika tidak demikian, maka para koruptor akan semakin banyak. Orang tinggal pergi umrah dan menangis di Multazam untuk bertaubat, tapi setelah itu melakukan korupsi lagi dan menikmati hasil korupsinya itu.

Selain itu kepada orang tua, kita juga harus terbebas dari dosa dengan kedua orang tua kita. Jangan sampai orang tua tidak membebaskan kesalahan-kesalahan kita, sehingga berkah Allah tidak dibukakan kepada kita. Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua kita dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua kita.

Begitulah isi khutbah Pa Athian Ali. Ini menjadi renungan untuk kita semua. Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam berikhtiar ? Jika sudah, apakah kita menyertai dengan doa? Sudahkah kita yakin kepada Allah, bahwa Dia tidak akan pernah ingkar akan janji-Nya?

Jika doa kita belum dikabulkan, apakah kita menyadari bahwa bisa jadi Allah sebenarnya akan lebih menguji akan keimanan kita kepada-Nya? Apakah kita sadar bahwa bisa jadi Allah telah memberikan yang lain dan itu menjadi yang terbaik bagi kita? Dan apakah kita sadar, bisa jadi doa kita belum dikabulkan karena masih banyak maksiat yang dilakukan?

Semoga, kita termasuk orang yang senantiasa membersihkan diri kita sehingga bisa semakin dekat dengan-Nya.

Liked You like this post.
sumber:  yuamar`s.wordpress.com

9 AJARAN NII YANG MENYIMPANG DARI SYARIAT ISLAM

9 Ajaran NII yang Menyimpang dari Syariat Islam
Oleh Ardiansyah    Sabtu, 30 April 2011 / 20:08:04 PDF Cetak E-mail
Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menyatakan sejak 10 tahun lalu, telah mengawasi gerak-gerik dan memerangi Negara Islam Indonesia (NII).

FUUI juga mengeluarkan fatwa soal penyimpangan gerakan NII. “Kita sudah mengeluarkan fatwa yang cukup membuat lumpuh mereka (Jaringan NII) sementara, tapi tidak bisa total karena harus ada kekuatan yang kuat melalui pemerintah untuk memutus mata rantai mereka,” kata Ketua FUUI Athian Ali Da’i usai dialog NII bersama siswa dan mahasiswa se-Kota Bandung di Masjid Al-Fajr, Jalan Cijagra Buahbatu Kota Bandung, Sabtu (30/4/2011).

Athian mengatakan, ada sembilan poin ajaran NII yang dinilai menyimpang dari syariat Islam.

Sembilan poin penyimpangan NII yang muncul sejak 28 Januari 2002 lalu tersebut, yakni:

1. Setiap muslim yang berada di luar gerakan tersebut dituduh kafir dan dinyatakan halal darahnya.
2. Dosa karena melakukan zinah dan perbuatan maksiat lainnya dapat ditebus dengan uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
3. Tidak ada kewajiban meng-qadha saum Ramadan, tetapi cukup hanya dengan membayar uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
4. Untuk membangun sarana fisik dan biaya operasional gerakan, setiap anggota diwajibkan menggalang dana dengan menghalalkan segala cara, di antaranya menipu dan mencuri harta setiap muslim di luar gerakan tersebut termasuk orangtua sendiri.
5. Taubat hanya sah jika membayar apa yang mereka sebut ‘Shodaqoh Istigfar’ dalam jumlah yang ditetapkan.
6. Ayah kandung yang belum masuk ke dalam gerakan tersebut tidak sah menikahkan putrinya.
7. Tidak wajib melaksanakan ibadah haji kecuali telah menjadi mas’ul atau pimpinan dalam jumlah yang ditetapkan.
8. Qanun asasi (aturan dasar) gerakan tersebut dianggap lebih tinggi derajatnya dibadingkan kitab suci Alquran, bahkan tidak berdosa bila menginjak Mushaf Alquran.
9. Apa yang mereka sebut salat aktivitas, dalam pengertian melaksanakan program gerakan dianggap lebih utama daripada salat fardu

(inilah/roabaca.com)

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

Khutbah Jumat Pilihan

bersama membentengi akidah ummat

masjidalfajrblog

DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-FAJR BANDUNG

ARA

Hidup adalah amanah dari Allah Swt.

WordPress.com Apps

Apps for any screen

syiah981

bersama masuk surga

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bersama membentengi akidah ummat

SITUSARA situs ara

bersama membentengi akidah ummat

"masjid tanpa warna" MASJID AL-FAJR

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

%d bloggers like this: