Category Archives: HADITS

KHUTBAH JUMAT TAKUT JABATAN DAN KEKUASAAN

KALIGHRAFI ALLAH-MUHAMMAD

KALIGHRAFI
ALLAH-MUHAMMAD

Takut Jabatan dan Kekuasaan

Sumber: Khutbah Jumat Bebas

KHUTBAH PERTAMA

إِنّ الْحَمْدَ لِ نَحْمَدُهُ، وَ نَسْتَعِينُهُ، وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوذُ بِالِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَ مِنْ سَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الُ فَلَ مُضِلّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَ هَادِيَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلَ الُ، وَ
أَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ
قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُوا اتّقُوا الَ حَقّ تُقَاتِهِ وَ لَ تَمُوتُنّ إِلّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)
وَ قَالَ أَيْضًا: (يَا أَيّهَا النّسُ اتّقُوا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِن نّفْسٍ وّحِدَةٍ وّ خَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ
بَثّ مِنْهُمَا رِجَالً كَثِيًا وّ نِسَاءً وّ اتّقُوا الَ الّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحَامَ إِنّ الَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا)
وَ قَلَ جَلّ جَلَ لَهُ: ( يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُوا اتّقُوا الَ وَ قُولُوا قَوْلً سَدِيدًا يّصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَ
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ مَنْ يّطِعِ الَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)
أَمّا بَعْدُ: فَإِنّ أَحْسَنَ الْكَلَمِ كَلَمُ الِ، وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمّدٍ صَلّى الُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ، وَ
شّرّ اْلُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَ كُلّ مُحْدَثَتٍ بِدْعَةٌ، وَ كُلّ بِدْعَةٍ ضَلَلَةٌ، وَ كُلّ ضَلَلَةٍ فِى النّارِ

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Sudah menjadi keharusan, agar kita bertakwa kepada Allah  dengan takwa yang sebenarnya, karena takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Yaitu dunia yang penuh dengan tantangan dan godaan setan, baik yang
berwujud jin atau manusia ataupun dalam wujud godaan yang lain yang di antaranya adalah jabatan, kekuasaan atau kepemimpinan.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Menjadi pemimpin, penguasa atau pejabat, dalam skala paling kecil sekalipun, bukanlah perkara
enteng. Berat di dunia terlebih-lebih di akhirat, dikarenakan harus bertanggung jawab atas orangorang
yang dipimpin. Umar bin Khaththab  yang pernah menjabat sebagai pemimpin kaum
muslimin sedunia menyatakan bahwa andai saja kebaikan dan kesalahan beliau dalam memimpin
bisa impas, itu sudah merupakan kesuksesan yang luar biasa.

Sayangnya banyak orang yang menginginkan jabatan, kekuasaan dan kepimpinan. Apalagi bagi
orang yang tergila-gila dengannya, ia akan memperjuangkannya, berusaha meraih dan
mendapatkannya dengan cara apa pun: obral janji, uang, sedekah dan hadiah, pamer kebaikan,
pamer amal dan sosial, jabatan, prestasi, titel dan apapun yang bisa digunakan untuk meraih
angan-angan dan cita-citanya. Jabatan dan kepemimpinan yang sedemikian beratnya, kini
diperebutkan laiknya hidangan lezat di hadapan orang-orang yang kelaparan. Sangat berlawanan
dengan pola sikap ulama salaf terdahulu mengenai jabatan.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Rasulullah  telah menyampaikan akan terjadinya ketamakan dan perebutan jabatan dan kepemimpinan ini pada umat beliau. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah , Nabi  bersabda,
إِنّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اْلِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرضِعَةُ وَ بِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
“Sesungguhnya kalian akan tamak dengan kekuasaan dan kepempimpinan, dan hal itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Nikmat ketika awal mendapatkannya, namun seburukburuk keadaan ketika usai menjalaninya.” (HR. Bukhari)

Pada masa Nabi  masih hidup, tersebutlah bahwa Abu Dzar al-Ghifari  pernah meminta jabatan kepada Rasulullah . Maka Rasulullah  menepuk pundaknya kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan jabatan itu adalah amanah. Dan sesungguhnya hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, melainkan orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban di dalamnya.” (HR. Muslim)

Demikian juga ketika Abu Musa al-Asy’ari  masuk kepada Nabi  bersama dua orang dari anak-anak pamannya, salah satu di antara mereka berkata, “Wahai Rasulullah , berikanlah kami jabatan atas sebagian wilayah yang Allah  berikan kepadamu,” dan yang lain pun mengatakan demikian. Maka Rasulullah  menjawab, “Sesungguhnya -demi Allah- kami tidak akan memberikan jabatan atas amal ini kepada seorang pun yang memintanya atau seorang pun yang sangat menginginkannya.” (HR. Bukhari)

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Demikianlah Rasulullah  memperingatkan dengan sangat keras bahwa amanah ini akan menjadi penyesalan dan kehinaan di akhirat. Dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, Neraka berkata, “Adapun aku tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang sombong, keras kepala dan para pembesar, serta orang-orang yang memiliki harta kekayaan.”

Imam Ahmad mengeluarkan dari hadits Abi Said  dari Nabi , “Surga dan neraka itu saling berbangga. Neraka berkata, ‘Ya Rabb, aku dimasuki oleh orang-orang sombong, keras kepala, orang-orang mulia dan para raja.’ Surga berkata, ‘Ya Rabb, yang masuk padaku adalah orangorang lemah, fakir dan miskin’.”

Hadits Anas  menjelaskan bahwa Nabi  berkata, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni surga dan penghuni neraka? Penghuni surga adalah setiap yang lemah dan dilemahkan, memakai pakaian yang lusuh. Kalau dia bersumpah (berdoa) kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Adapun penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, berbuat kasar sesuka hati dan punya pengikut (ditaati).” (HR. Tirmidzi, ad-Dhiya’ dan al-Hakim)

Hadits-hadits di atas menyebutkan bahwa para penghuni neraka di antaranya adalah para pembesar, orang-orang mulia dan para raja serta mereka yang mempunyai pengikut dan ditaati.
Ciri-ciri ini semua lekat dengan mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan atau kepemimpinan. Ancaman tersebut juga dikarenakan jabatan, kekuasaan dan kepempimpinan adalah amanah di atas pundak seseorang. Sedangkan melalaikan amanah adalah khianat.

Dan telah disebutkan dari Iyadh bin Himar  menyatakan bahwa Nabi  dalam khotbahnya menyebutkan, “Penghuni neraka ada lima: Orang lemah yang tidak punya akal yang selalu mengikuti kamu dan tidak mempunyai harta dan keluarga, pengkhianat yang tidak menyembunyikan ketamakan (keinginannya) untuk berkhianat jika ada kesempatan, laki-laki yang selalu menipu keluarga dan
hartamu baik siang atau malam, bakhil lagi dusta dan jahat.” (HR. Muslim)

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Perhatikanlah wahai orang-orang yang berakal, bagaimana beratnya ancaman kepada mereka yang mengemban jabatan dan kekuasaan. Perhatikanlah wahai para pejabat dan para penguasa, bagaimana ancaman yang yang ditujukan kepada kalian di akhirat kelak atas jabatan dan kekuasaan yang hari ini kebanyakan kalian menginginkannya bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Tidak adakah kita takut sedikit pun terhadap ancaman neraka yang telah ditujukan kepada kita yang rakus jabatan dan kekuasaan? Apakah kita tidak pernah mendengar akan dahsyatnya siksaan di neraka?

Firman Allah ,
حَمِيِ ثَُّ فِ ٱلنَّارِ
إِذِ ٱلَْغْلَٰلُ فِ أَعْنَٰقِهِْ وَ ٱلسَّلَٰسِلُ يسُْحَبُونَ ۝ فِ ٱلْ
يسُْجَرُونَ ۝
“Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Ghafir: 71-72)
Firman Allah ,
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُْ فِ ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱلََّ وَ أَطَعْنَا ٱلرَّسُولَ “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’” (QS. al-Ahzab: 66)

Perhatikanlah ayat-ayat di atas, kemudian marilah kita merenung, apakah kita taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya dalam hal jabatan dan kekuasaan? Ataukah kita senantiasa melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya dan tetap haus jabatan serta meminta-minta jabatan?

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Bagaimanakah kita bersikap terhadap jabatan? Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah  ia berkata, Rasulullah  bersabda kepada saya, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan bukan karena engkau meminta, engkau akan diberi pertolongan atasnya, dan jika engkau diberi jabatan karena engkau memintanya niscaya jabatan itu akan diserahkan dan dibebankan atasmu. Dan jika engkau bersumpah atas sesuatu lalu engkau melihat yang lain lebih baik darinya maka lakukanlah yang lebih baik tersebut dan bayarlah kaffarah atas sumpahmu.” (HR. Bukhari)

Jabatan atau kekuasaan yang dijalankan dengan baik, penuh amanah serta adil merupakan salah satu penyebab seorang hamba mendapatkan balasan surga di akhirat kelak. Dalam Shahih Muslim dari Iyadh bin Himar  menyatakan bahwa Nabi  dalam khotbahnya berkata, “Penghuni surga itu ada tiga: orang yang mempunyai kekuasaan yang adil lagi dermawan (suka

sedekah); laki-laki yang penuh kasih sayang dan lembut hati kepada semua kerabatnya; setiap muslim yang menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mempunyai keluarga (anak).”
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الَ لِي وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرّحِيْمُ

317925_226229707513385_1075072249_nKhutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِ رَبّ الْعَالَمِيَ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلّ الُ وَلِيّ الصّالِحِيَ، وَ أَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ
اْلَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيَ، اللّهُمّ صَلّ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلَى آلِهِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلِى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
أَمّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Dengan memahami uraian pada khutbah pertama, hendaklah kita memperhatikan keadaan diri kita dalam hal kekuasaan. Tidak ambisi dalam menginginkan jabatan, tidak meminta-minta jabatan serta senantiasa memikirkan akibat bila tidak mampu mengemban amanah berupa jabatan namun tetap menginginkan jabatan. Hendaknya kita memikirkan akibat di dunia dan terlebihlebih akibat di akhirat nanti berupa ancaman siksaan api neraka.

Dan bila kita diserahi jabatan dan kita mampu, hendaknya senantiasa amanah dan adil dengan jabatan dan kekuasaan yang dimiliki, sehingga insya Allah akan mendapatkan pertolongan Allah  dalam mengemban jabatan tersebut serta mendapatkan balasan berupa surga di akhirat kelak.
Nabi  berdoa dalam sebuah sabdanya,
اللّهُمّ مَنْ وَ لِيَ مِنْ أَمْرِ أُمّتِيْ شَيْئًا فَشَقّ عَلَيْهِمْ فَاشْقِقْ عَلَيْهِ وَ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمّتِيْ شَيْئًا
فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
“Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku lalu ia mempersulitnya atas mereka, maka persulitlah dia, dan barangsiapa yang memegang urusan umatku lalu ia berlemah lembut atas mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut.” (HR. Muslim)
اللّهُمّ صَلّ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللّهُمّ بَرِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ إِنّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللّهُمّ أَصْلِحْنَا وَ أَصْلِحْ وُلَةَ أُمُورِنَا وَ أَعْطِهِمْ الِسْتِقَامَةَ فِى دِينِهِمْ وَ اهْدِهِمْ إِلَى كُلّ خَيْرٍ وَ
اجْعَلْنَا مُطِيعِيَ لِوُلَةِ أُمُورِنَا إِنّكَ مُجِيبُ الدّعْوَةِ
اللّهُمّ إِنّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التّقَى وَ الْعَفَافَ وَ الْغِنَى
اللّهُمّ لَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنّكَ أَنْتَ الْوَهّاب
رَبّنَا لَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لّلّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبّنَا إِنّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
رَبّنَآ ءَاتِنَا فِى الدّنْيَ حَسَنَةً وَ فِى اْلَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النّارِ، وَ الْحَمْدُ لِ رَبِ الْعَالَمِيَ

 

araRE POSTED BY AROZAKABUHASAN

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

Hadist Orang Mu`min Yang Paling Sempurna Imannya

GambarOrang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya’ (HR. Turmudzi)

HADIST WASIAT PERPISAHAN

Muhammad SAW

[ HADIST WASIAT PERPISAHAN ]

قَالَ الْعِرْبَاضُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَناَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْناَ فَقَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati takut, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah.

Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin ( SISTEM SUKSESI ) yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigit-lah dia dengan gigi geraham kalian.

Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat ( HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44-45), al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (I/ 205), al-Hakim (I/95-96), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi )

CARA MENGUBAH PERILAKU

muhammad1

Cara Mengubah Perilaku

https://arozakabuhasan.wordpress.com

Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Tugas utama Rasulullah SAW adalah mengubah umat manusia menjadi insan ‘abid, saleh, dan mushlih (mampu melakukan perbaikan). Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Alquran dan hadis, serta membina keterampilan umat (QS al-Jumuah 62 : 2).

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Beliau telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik sebagaimana disabdakan, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR Al Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at-Taubah 9 : 100). Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

100. orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

 

 

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup kita dalam kerangka ibadah kepada-Nya (lihat QS adz-Dariyat 51:56). Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam QS al-An’am 6 : 162.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

 

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada (HR Ahmad dan Turmudzi) dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan kita saat digoda iblis (QS al-A’raf 7 :21).

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

 

21. dan Dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,

 

Bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam QS az-Zumar ayat 39:1-2 dan al-Bayyinah ayat 98 : 5 . Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.’’(HR Bukhari).

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ.

 إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

 

1. kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

 [1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

 

Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya seraya bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kamu sekalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘apakah syirik kecil itu?’ Beliau menjawab, ‘riya’.” (HR Ahmad).

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat.
Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kelima, Rasulullah mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya.
Abu Abdurrrahman as-Sulami berkata, “Sahabat-sahabat Nabi yang membacakan Alquran kepada kami meriwayatkan bahwa mereka mempelajari 10 ayat dari Nabi dan belum mengambil 10 ayat yang lainnya sebelum memahami dan mengamalkannya. Lalu mereka berkata, “Kami mengetahui dulu ilmunya, lalu mengamalkannya.’’ ( HR Ahmad dan lainnya).

Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Ahzab 33:21 sebagai teladan beliau berada di atas akhlak yang agung (QS al-Qalam 68 : -34).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

  وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.
Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plinplan lalu berkata, bila manusia baik, maka kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut. Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila manusia baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’(HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Beliau selalu berbicara dengan setiap orang sesuai dengan kondisi mukhothob.

Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu.
Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban untuk menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun menggambar agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah.

Sumber:Republika

SEBAIK-BAIK ORANG ADALAH ORANG YANG PALING BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain

(HR. Qudha’i dari Jabir ra).

LARANGAN BERBUAT ZOLIM – Hadits Qudsi 24

 

LARANGAN BERBUAT ZOLIM

الحــديث الرابع والعشرون

HADITS QUDSI

Oleh Imam An Nawawi

HADITS KEDUAPULUH EMPAT

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ   مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ .   يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ    وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ.

[رواه مسلم]

 

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.

(Riwayat Muslim)

 

 

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:

1.     Menegakkan keadilan di antara manusia serta haramnya kezaliman di antara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.

2.     Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.

3.     Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.

4.     Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.

5.     Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan.

6.     Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat-Nya dan taufiq-Nya.

7.     Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.

8.     Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa

IKHLAS – HADITS QUDSI PERTAMA

Ikhlas

الحــديث الأول

HADITS PERTAMA

Oleh Imam An Nawawi

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

 

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatantergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

 

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

 

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.

Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bertolong-tolongan dalam kebaikan

SITUSARA situs ara

bertolong-tolongan dalam kebaikan

KHUTBAH JUMAT PILIHAN

bertolong-tolongan dalam kebaikan

SITUSARA situs ara

bertolong-tolongan dalam kebaikan

masjid alfajr "masjid tanpa warna"

Membentengi akidah sesuai Al-Quran dan Hadist

ARA-SILSILAH

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

A. ROZAK ABUHASAN

A great WordPress.com site

situs ara

bertolong-tolongan dalam kebaikan

Masjid Tanpa Warna "MASJID ALFAJR"

email: alfajrbandung@yahoo.com Jl. Cijagra Raya No.39 Bandung 40265 INDONESIA

FORUM ULAMA UMMAT INDONESIA (F U U I)

"PEMERSATU ULAMA DAN UMMAT"

Kumpulan Khutbah Jum'at

Kumpulan Khutbah Jum'at

KUMPULAN KHUTBAH JUM`AT

Group SITUSARA by A. ROZAK ABUHASAN

bertolong-tolongan dalam kebaikan

www.fuui.wordpress.com--sarana komunikasi ulama & ummat

Memurnikan Tauhid menuju Jihad Fi Sabilillah

Ulama Sunnah

Kumpulan Biografi, Artikel dan Fatwa Ulama Ahlussunnah

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.409 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: